
"Mas, aku setuju untuk berhenti melakukan itu." kata Rita pada suaminya, yang kini tengah mencari kebohongan dalam wajahnya.
"Jangan cerai, meskipun aku rela kita cerai, karna aku lelah hidup dengan lelaki yang tidak mencintai aku, tapi demi Fiora dan Farell, mari jangan cerai." sambungnya dengan wajah tertunduk, tanpa mau menatap suaminya yang sedang meneliti dirinya dari kursi kebesarannya.
"Apa aku bisa percaya, padamu?" kata Roy yang membuat Rita mendongak.
"Tentu, ak--"
"Ada syarat yang harus kamu penuhi!" tegas Roy.
"Apa itu, katakan?!"
apapun aku lakukan asalkan Fio dan Farell tidak menjauhi aku, aku sudah di jauhi anak kesayanganku, jangan sampai Fio dan Farell juga.
"Terima, Akira sebagai menantu kita, biarkan dia bahagia bersama Farid, bersikap baik padanya,dan kamu harus benar-benar berhenti melakukan itu, Rita. Dengan melakukan hal sekeji itu, kamu terlihat seperti penjahat kelas kakap." katanya yang membuat Rita semakin tertunduk, entah takut atau malu.
"Aku tidak pernah menyangka, kamu bisa sejahat dan selicik itu, entah dokter mana dan apoteker mana yang mau melakukan itu untukmu, kembalilah jadi istriku yang dulu, bisakah?!"
"... "
"Apa kamu dengar ucapanku?Jawab!" tegas Roy sampai membuat wanita itu kaget di buatnya.
Ya Tuhan, beri aku kesabaran, aku harus bisa melakukan ini demi anak-anak.
"Aku, ya baiklah aku terima syaratmu, mas bisa kamu pulang?" jawabnya dengan bibir gemetar.
Roy mengangguk, "Aku tau kamu tidak sekejam itu, kamu adalah perempuan yang paling sabar yang pernah aku kenal." berjalan menuju Rita lalu memeluk istrinya itu.
Kamu adalah perempuan terkuat yang pernah aku kenal, aku yakin kamu di sampingku bukan karena harta, bahkan harta orang tua mu tak kalah banyak dariku, tapi kamu masih setia sampai sekarang dengan aku yang masih terbayang akan Marina.
***
"Mama dan papa, ada apa kesini?" tanya Farell dengan tatapan yang tak bersahabat.
"Bisa kita bicara baik-baik?" Roy bersuara dan di balas anggukan oleh semuanya, akhirnya mereka duduk bersama di ruang tengah yang telah di bersihkan oleh pelayan sebelumnya.
"Akira, hubungi suamimu, kita semua butuh bicara." pinta Roy, Akira segera meraih ponsel yang berada di tas yang masih ada di tangannya.
Namun, "Itu tidak perlu, aku sudah di sini." celetuk Farid yang langsung mengambil posisi di sebelah sang istri.
"Mas?" menatap Farid penuh tanda tanya, sorot matanya seolah bertanya, kenapa Farid bisa tau.
Farid mengecup kening Akira, seolah ingin menujukan bahwa ia bahagia bersama sang istri. "Kamu lupa suamimu punya banyak mata, hm?" ucapnya yang membuat Akira diam karena mengerti.
"Jadi?" tegur Farid.
"Mama mau minta maaf, pada kalian semua." ucap Roy melirik sang istri di sampingnya, "Ah, aku pribadi juga minta maaf pada anak-anakku, maafkan papa, karena belum bisa membahagiakan mama kalian." ucapnya sambil menunduk, malu karena ketahuan ternyata papa mereka mencintai wanita lain yang bahkan telah tiada.
"Akira, mama Minta maaf, Farid maafkan mama, mama hanya masih sakit hati." ucap Rita namun terkesan datar, Farid menatapnya ragu.
"Mama yakin?" tanyanya.
Rita diam sejenak menatap seluruh anaknya, hingga ia menjawab, "Ya."
"Mama tulus?" tanya Farid lagi yang membuat Fiora, Akira dan Farell langsung memperhatikannya, sesekali melirik ke arah Rita dan Farid bergantian.
Rita mengangguk, "Kalau begitu katakan yang jelas pada istriku dan lakukanlah dengan benar." sontak Akira langsung menggenggam erat tangan suaminya, "Jangan kurang ajar, mas." ucapnya berbisik, sedangkan Farid tidak mengindahkan ucapan Akira, ia terus menatap mamanya dengan dingin.
Lagi-lagi, Rita menatap ke seluruh anaknya, bukan hanya Farid, bahkan Fiora dan Farell nampak ragu padanya.
Dengan terpaksa, ia mendekati Akira menggenggam tangan Akira, "Maaf, aku telah menyakitimu dan merusak rumah tangga kalian, bahkan meski aku tau Farid tidak baik-baik saja tanpamu, aku tetap menutup mata, maafkan aku." masih dengan tanpa menatap Akira, Rita mengucapkan kata-kata itu dengan susah payah, lukanya masih menganga di dalam sana dan ia seperti menyiramnya dengan garam saat mengatakan kata maaf pada anak perempuan Marina.
Akira balas menggenggam tangan mama mertuanya, "Nggak papa, ma. Mama hanya seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya." oke, cukup. Akira tidak perlu kan menjabarkan salah mama mertuanya lalu satu persatunya ia maafkan, itu akan terkesan tidak ikhlas.
Tapi, Akira tetap tulus dan ikhlas, ia paham posisi mama mertuanya karena ia pernah mengalami itu, saat Farid dengan sifat labilnya terkadang menolak Rayrin, tapi juga menerima Rayrin di hadapanya.
"Terimakasih, Akira. Farid tidak salah pilih istri, sekarang Fio, Farell ayo pulang!" ajak Roy.
"Nggak!Farrell masih sebel sama papa mama, lagian di sini enak, kak Akira asyik, sedangkan di rumah, cuma ada kak Fio yang galak, papa yang sibuk, dan mama baik sih, tapi Farell masih kesel sama mama." cerocos anak lelaki itu bergaya layaknya bocah kecil. Ia menatap sang mama tidak enak, biar bagaimana pun, mama yang selalu menemaninya belajar dulu, yang selalu membawakan susu untuknya saat belajar, yang selalu jadi orang pertama yang mengomel khawatir karena ia pulang telat atau telat makan.
"Ayo anak-anak, kalian akan mengganggu Akira dan Farid di sini, kalian mau jadi obat nyamuk apa?" seloroh Roy berusaha mencairkan suasana yang tegang sejak tadi.
"Sudah sana kalian pulang, kalian itu ganggu!" kini Farid bersuara menyetujui ucapan papanya.
"Mas! Apaan sih?! Enggak, gak ganggu aku suka main sama kak Fiora terus ngobrol sama Farell, seru jadi gak kesepian akunya." timpal Akira yang langsung di balas senyuman puas dari keduanya.
"Nggak, kalian berdua sana pulang! Ganggu, ngerti?!" tukas Farid.
"Loh, istri kamu aja gak merasa terganggu, kenapa kamu yang sewot sih, kan seharian juga kamu kerja, Far." ujar Fiora yang mendapat pandangan tak bersahabat dari adiknya.
"Pokoknya, kalian pulang." katanya datar, Akira menarik ujung jas kerjanya yang membuat ia menengok ke arah istrinya yang menatapnya dengan mata dan wajah memelas.
"Oke-oke! Ma, pa biar mereka disini dulu." putusnya dengan nada terpaksa.
***
"Sayang, kenapa kamu memaafkan, mama semudah itu?" tanya Farid sembari menyentuh rambut halus Akira yang tengah berbaring di sampingnya berbantalkan lengan kekarnya.
"Mama nggak sesalah itu kok, mas. Sebenarnya wajar, pasti sakit di posisi mama, itu mama kamu lho, masa kamu gak rasain juga?"
Farid hanya menghembuskan napas kasar, "Tapi mama berlebihan sayang, kamu tau itu. Andai mama tidak ada di pihak perempuan licik itu, masalahnya mama mendukung semua rencana jahat Rayrin sampai karena kebodohan ku aku kehilangan cinta kita yang tumbuh disini." seraya menyentuh perut rata Akira.
Akira memandang sendu pada suaminya, "Aku benci diriku sendiri saat itu, aku takut, sangat takut, apalagi saat itu kamu enggak bangun-bangun, aku takut kehilangan kamu juga."
"Mas.. "
Farid berganti posisi menyamping menghadap Akira, tangannya turun menyentuh pipi Akira, "Kamu itu bukan separuh nafasku, bukan separuh jiwaku, tapi kamu seluruh nafasku, kamu seluruh jiwaku, aku bisa mati tanpa kamu." sontak, Akira membekap mulut Farid dengan tangannya.
"Kamu ngomong apa sih mas?"
tukas Akira dengan nada memperingati, membayangkan kematian Farid saja Akira tidak berani eh Farid malah bicara tentang mati, ya walaupun itu hanya perumpamaan tapi kan Akira jadi takut.
"Aku gak bisa membayangkan, hidup aku tanpa kamu, rasanya lebih baik aku mati duluan dari pada aku hidup melihat kamu meninggalkan aku lebih dulu." lanjut lelaki itu, yang membuat Akira memeluk erat tubuh tegap itu.
"Mas, kamu pikir aku mau hidup tanpa kamu? Nggak, aku gak mau!" sentaknya dengan napas tersengal karena entah sejak kapan ia mulai menangis tersedu-sedu.
"Tadi kita ngomongin mama lho, kenapa jadi buat aku nangis sih, kamu jahat tau gak!" sentaknya masih dengan menangis, tangannya memukuli dada bidang suaminya.
Farid terkeleh geli mendengarnya, ia paham, Akira tak serius mengatai dirinya jahat, "Ketawa lagi, padahal kamu yang mancing emosi." protes Akira.
"Aku cinta kamu."
"Mas, apaan sih gak nyambung!"
"Kamu nggak cinta sama aku?"
"Cintalah, cinta banget, sayang banget, awas aja kalau kamu tinggalin aku, awas aja... aku gak akan mau ketemu kamu lagi."
"Wow, Akira ku mulai pandai mengancam ya?" ia menciumi seluruh bagian wajah Akira dengan sayang, terakhir ia mengecup bibir manis itu sedikit lama, baru ia mau melanjutkan ke yang lebih jauh,
"Kak! Aku Farell, kak Akira udah tidur?"
Kaget, Akira mendorong wajah suaminya yang masih mematung di depan wajahnya, dan bergerak turun dari ranjang bersiap membuka pintu.
"Astaga! Baru tadi di bicarakan, benar kan langsung mengganggu!" rancau Farid, mengacak rambutnya.
Hayo mana sesajennya buat Achyu
Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya
kalau suka klik jempol, ketikkan komentar
kalau suka banget di vote dan beri hadiah
kalau gak suka jangan judge ya, author baperan soalnya wkwk.
Terimakasi, salam manis dari permen kapas yang manis.