Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Ikan Asin



Kini tinggal mereka berdua, para ibu-ibu itu sudah meninggalkan kediaman Akira.


Akira melihat Farid yang sedang duduk di sampingnya dengan tatapan tak suka.


"Ngapain masih disini? Pulang sana!" katanya ketus.


"Galak banget si."


"Bodo, pulang sana di tunggu Rayrin kamu!"


"Kenapa, kamu cemburu?"


"Enggak ya, udah sana!" usirnya lagi kali ini dengan suara lebih lantang.


"Sayang, ini kan udah mau malem kamu tega biarin aku pulang, mana kayanya mau hujan lagi." keluhnya sok memelas.


"Sayang kepalamu! Bukan urusanku." Akira membuang napasnya kasar dan menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, sedangkan Farid masih setia di posisinya, "Terserahlah, setan!" umpatnya kasar lalu bergerak meninggalkan Farid dengan kaki yang menghentak ke lantai.


"Maaf, kalau aku mengganggu, aku cuma nggak mau kamu tinggalin aku." gumam Farid lirih menatap kepergian Akira.


Akira memasak makan malam dengan tenang rencananya ia akan masak oseng sambal ikan asin, sudah lama ia tidak makan makanan orang kampung sejak menikah dengan orang kaya gila itu.


Cuaca gerimis dengan angin dingin seperti ini memang cocok untuk di sandingkan dengan menu yang ia masak sore ini.


Ketika makanan sudah siap ia bingung mau mengajak Farid makan atau tidak. Ia ingin memberi pelajaran pada pria itu tapi ia juga masih punya perasaan, ia tau sejak kedatangannya kemari Farid belum makan apapun kecuali es teh yang ia siapkan untuk minum bersama ibu-ibu tadi.


Ia mengintip dari jendela dapur melihat Farid yang nampak sibuk dengan ponselnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan saat rasa cinta itu timbul kembali di dadanya.


Dengan perasaan tak menentu ia pergi untuk membersihkan diri.


Akhirnya setelah membersihkan diri,


Ia kembali dan menghampiri Farid yang masih sibuk dengan ponselnya di teras samping, "Far, aku udah masak makan malam, terus kalau mau mandi silahkan tapi setelah ini aku gak mau liat kamu disini lagi." katanya tanpa menatap Farid.


Farid merasa jengah, ia sudah menahan rasa ingin bicara pada wanitanya sejak tadi, tapi ia harus menahannya atau Akira akan semakin ragu untuk kembali padanya. Farid mencoba tersenyum seramah mungkin setidaknya sikap Akira barusan juga menunjukan kepeduliannya, "Terimakasih." katanya menatap lembut Akira yang berdiri di hadapannya.


Ia beranjak meninggalkan sejuta kebingungan untuk Akira, kenapa Farid selembut itu menatapnya, pikirnya heran.


***


"Akira, kamu makan kaya gini?" tanya Farid saat sudah duduk di meja makan dan menatap menu makan malam dengan nyeleneh. Hanya sambal ikan asin dengan potongan cabai hijau dan campuran petai.


"Iya, kamu nggak suka? Yaudah cari makan lain sana!" ketusnya.


"Bukan gitu sayang, tapi selama ini kamu makan beginian?"


"Iya, enak kok."


"Tapi itu gaj mencukupi nutrisi tubuh kamu, kamu kan baru keguguran kok makan beginian."


"Dah lah berisik aku mau makan, kalau kamu nggak mau yaudah." kesalnya lalu menciduk nasi dengan kasar mengambil lauk dan pergi ke teras belakang membawa piringnya.


Menikmati suap demi suap makanan favorite nya sembari melihat indahnya pemandangan.


Ia kembali ke dapur setelah selesai ia tidak menemukan keberadaan Farid, ia bernapas lega Farid benar pergi. Ia terkekeh melihat piring lelaki itu yang sudah kosong bersih dari sisa makanan, "Tck, tadi meremehkan eh malah keenakan." cibirnya dan segera menyaut piring bekas makan suaminya lalu membawanya untuk di cuci.


Sementara di tempat lain, Farid terus menggerutu karena waktunya untuk membujuk sang istri harus terhalang karena pekerjaan yang cukup penting ia harus pergi ke Amerika selama satu minggu.


Ia terus mencerca Gio yang tidak bisa mengatur jadwalnya, kata sekertaris itu ini sangat penting dan tidak bisa di undur, tapi ia terus menyalahkan lelaki malang itu.


"Sergio, atur bawahanmu agar mengawasi Akira, awas saja sampai aku melewatkan sesuatu, aku akan menghukummu!" ancamnya dengan wajah cemas dan gelisah.


"Baik Tuan, sekarang bisakah anda fokus pada pekerjaan anda?"


"Sialan kau Gio!" umpatnya kesal karena merasa kalah profesional dari Gio karena kalimat lelaki itu barusan.


****


"Akira sudah pergi, tapi Farid malah mengejarnya, aku tidak mau tau kau harus membantuku seperti kesepakatan kita!" Rayrin menggeram dengan tangan mengepal, menatap pria di hadapannya.


"Awalnya aku setuju, tapi kali ini tidak, tindakanku akan semakin menyakiti dirinya." sanggah lelaki yang menjadi lawan bicara Rayrin.


"Deanno! Kau itu sahabatnya bisa dengan mudah kau membuatnya berada di dekat mu dan Farid pasti segera menjauh."


katanya dengan penuh paksaan pada Deanno, lelaki yang sebelumnya pernah ia ajak bekerja sama untuk memisahkan Akira dari Farid, yang membidik dan mengedit foto kemesraan Akira dengan pria lain dan menyerahkannya pada Rayrin sebagai alat menghancurkan mereka.


Tapi setelah tau hancurnya Akira kehilangan calon bayinya yang secara tidak langsung ia juga turut andil, ia tidak mau bergerak lebih jauh lagi, baginya Akira bahagia itu sudah cukup.


"Akira sudah meninggalkan Farid kan, itu cukup." katanya dengan nada datar.


"Tidak, kita belum selesai, Farid malah balik mengejar cewek sialan itu!"


"Tutup mulutmu, wanita iblis! Kita selesai cukup sampai disini!" tukasnya tajam dan pergi meninggalkan Rayrin sendiri di kursi kafe.


Rayrin menggeram penuh dendam, karirnya hancur, Farid yang ia harap menjadi penopang hidupnya selanjutnya malah sudah tidak memperdulikan dirinya, ia benar-benar hancur.


Untungnya, mama Farid selalu mendukungnya sampai detik ini. Tapi tetap saja ia tidak akan puas hanya dengan dukungan mama saja.


Aku harus melakukan sesuatu, harus.


kata Rayrin dalam hati.


Akira bergerak gelisah di atas ranjangnya, ia masih tidak habis pikir Farid bisa menemukan dirinya. Benar kata Viara, lelaki itu akan selalu menemukan dirinya kemanapun dirinya pergi.


Berada dalam jangkauan pria itu bukan sesuatu yang baik untuknya saat ini, tapi jika ia pergi lagi percuma, bukankah Farid bilang bahwa anak buahnya selalu mengawasi pergerakan Akira.


"Dasar Farid kurang ajar! Sudah seenaknya datang seenaknya juga pergi sok ngebujuk, tapi di suruh pergi ya pergi juga kan, gak ada usahanya sama sekali!" gerutunya dengan mengacak-acak rambutnya gemas.


Part ini gak ada yang spesial


Sorry