Vampire In The City

Vampire In The City
Banyak Petunjuk




“Jungkookie…”


“Kookie…”


Jungkook mengerang pelan. Ia masih sangat mengantuk namun terbangun karena ada yang mengguncang-guncangkan bahunya. Matanya membuka dan merasa pedih karena cahaya matahari yang menyilaukan.


“Kookie…”


Jungkook menoleh dan melihat Taehyung yang duduk bangun menatapnya dengan mata membesar. Melihat ekspresi dan bahasa tubuh vampire itu, Jungkook yakin itu bukan V. Sepertinya V kembali bersembunyi lagi?


“Kita kenapa bisa ada di sini, Kook?” tanya Taehyung lugu, “Apa kita berhasil kabur dari orang-orang jahat itu?”


Jungkook menghela nafas pelan. Tentu saja Taehyung yang ini tidak akan mengingat apa yang dilakukan V. “Aku menyelamatkan kita kabur dari orang-orang itu.”


“Mulut dan lenganmu berdarah…” sahut Taehyung sedih.


“Ah, ini hanya luka biasa.” sahut Jungkook. “Kajja, kita harus pulang, Tae.”


Keduanya pun bangun berdiri dan berjalan pulang. Untungnya Jungkook masih memiliki uang di sakunya yang cukup untuk membeli karcis bis pulang dari tempat itu.


****


Jimin sedang memandang sahabatnya di hadapannya yang sedang minum Starbucks dengan anteng, seolah baru saja tidak menceritakan bagaimana dirinya dan Taehyung diculik oleh sekelompok orang tak dikenal yang dicurigai merupakan suruhan sindikat.


“Kau bisa sesantai itu?” tanya Jimin tak percaya pada Jungkook, “Kau tidak berniat lapor pada polisi?”


Jungkook mengangkat wajah dan menggeleng gontai. Untuk apa melapor polisi, bisa saja polisi malah kaki tangan sindikat juga sama seperti hunter dan pemerintahan. Lagipula Taehyung adalah vampire, jangan-jangan malah Taehyung yang dituduh telah melakukan kejahatan.


“V muncul dan menyelamatkanku, semua sudah beres.” Jungkook menyeringai sendiri ketika mengingat bagaimana gudang dan orang-orang yang di dalamnya sudah terbakar habis.


“V muncul?” tanya Jimin terkejut, “Tapi yang kulihat tadi siang itu Taehyung bukan V.”


“Dia switch lagi.” sahut Jungkook. Dia memang belum tahu kenapa V menghilang lagi tapi untuk sekarang dia akan mengikuti rencana vampire itu.


“Wae?” tanya Jimin pelan dan sedih, “Apa dia tidak mau meneruskan balas dendamnya?”


“Ini bukan dendam lagi, Jimin,” kata Jungkook serius, “Aku bahkan akan membantunya untuk menghancurkan sindikat.”


“Jungkook… tapi itu bahaya. Kau… kau hanya manusia biasa.”


Jungkook mendengus pelan. “Apa maksudmu? Orang-orang di sindikat itu pun manusia biasa.”


Jimin menggigit bibir. “Aku masih tak mengerti mengapa kau jadi ingin ikut campur. Sebelumnya… kau antipati pada vampire.”


Jungkook membalas tatapan temannya, perkataan Jimin benar adanya. “Entahlah… tapi Taehyung pun sebenarnya mengalami ketidakadilan. Aku beberapa kali bisa melihat masa lalunya, well mungkin karena dia menghisap darahku. Aku jadi mengerti, Jimin, kalau dia menjadi vampire bukan karena kehendaknya sendiri. Dia yang merupakan manusia biasa, dimanfaatkan dan diujicoba… mendapat obat-obat aneh… dan berubah menjadi vampire.” Jungkook tersenyum tipis, teringat bagaimana Taehyung sendiri mencap dirinya sebagai monster, mungkin karena apa yang sudah diperbuat orang-orang jahat itu pada tubuhnya.


“Yea, kau benar. Dia mengalami perlakuan yang mengerikan. Kurasa jika ia menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan sindikat itu bisa menjadi senjata makan tuan yang luar biasa.”


Jungkook mengangguk-angguk. “Tapi sindikat tentu saja tidak bisa dilawan tanpa strategi. Dan V sudah tahu hal itu.”


Jimin memberi senyum. “Kurasa kalian kini sudah akur?”


Jungkook memutar bola mata. “Kami selalu akur.”


“Oh yeah? Apa kalian tidak merasakan bagaimana posisiku harus melihat adu mulut dan pertengkaran kalian yang tak ada habisnya.”


“Itu bukan adu mulut, itu hanya perdebatan.” sahut Jungkook dan kembali meminum minumannya.


“Sama saja, Jeon. Kau seharusnya tahu bagaimana stresnya diriku berada di tengah-tengah.” rengek Jimin mulai drama.


“Kau berlebihan.” Jungkook mendengus namun berusaha menahan tawa. Jika mengingat bagaimana wajah Jimin setiap dirinya dan Taehyung bertengkar, membuat Jungkook merasa geli. Wajah Jimin seperti orang yang meminta tolong namun diabaikan.


“Yang penting aku senang melihat kalian sudah akur dan bahkan bisa bekerja sama seperti ini.”


Jungkook mengangguk-angguk. Ini pun masih seperti mimpi, tapi Jungkook sudah lama mengubur egonya dan memilih untuk berada di pihak vampire itu.


“Aku tidak mengerti, tapi seolah aku bisa mengerti dan merasakan emosi Taehyung. Sudah beberapa kali aku melihat memori masa lalunya.”


Jimin menatap Jungkook, menilai ekspresi temannya. Jungkook tidak terlihat keberatan ketika mengatakannya. “Mungkin kalian berdua soulmate?” ucap Jimin. Dia langsung menyesal karena sudah kelepasan bicara, apalagi Yoongi pernah mengatakan kalau hal ini mungkin taboo untuk Jungkook. Apa hal yang normal jika menjadi soulmate dari vampire? Siapapun tidak akan mau kan?


Kedua alis Jungkook terangkat. Soulmate ya… Dia kembali ingat Taehyung pun pernah mengatakannya. Apa dia dan Taehyung ini seperti soulmate juga?


“Itu mungkin saja….”


Mata Jimin terbelalak terkejut karena ucapan Jungkook.


Jungkook mengangguk-angguk, sedang berpikir sendiri. “Bisa saja sih. Itu sebabnya aku bisa mendengar telepatinya.”


Jimin tak percaya kalau Jungkook bisa setenang ini. “G-geurre! Itu masuk akal kan?”


“Ini akan semakin lebih mudah, Chim. Aku bisa lebih mudah membantu Taehyung. Bagaimana menurutmu?”


Oh God.. Jimin ingin sujud syukur karena temannya ini sudah sangat dewasa dan bisa mengatakan hal yang mengagumkan. “I’m proud of you, Kook.”


“What?” Jungkook mengernyit bingung.


“Anni.” Jimin tersenyum dengan menunjukkan barisan giginya yang rapi. Kalau respon Jungkook sudah positif seperti ini, Jimin yakin Jungkook bisa sangat membantu Taehyung.


****


Soojung langsung menuju meja kerja, mencari apapun yang bisa membantunya untuk tahu mengenai hubungan antara hunter dan sindikat penjualan vampire. Wanita itu harus membuka-buka dan melihat dokumen-dokumen pribadi milik pamannya. Dirinya sendiri sangat tegang, dia merasa saat ini seperti pencuri.


Soojung membuka laci dan matanya membola horor ketika melihat ada beberapa lembar foto. Soojung mengambilnya dan mulutnya terbuka karena terkejut melihat foto-foto mengerikan itu. Ada foto vampire yang dikurung semacam di dalam penjara. Tangan diikat menggantung ke langit-langit dan wajahnya sudah sangat memprihatinkan. Ada pula foto vampire yang terbaring di ranjang sementara ada selang tranfusi darah di lengannya.


Soojung merasa mual melihat foto-foto itu. Ini mengerikan bagaimana vampire-vampire itu diperlakukan. Apa Pamannya pun terlibat?


Wanita itu meletakkan foto-foto di meja lalu mengeluarkan ponselnya, memoto semuanya untuk bisa ia berikan pada Seokjin. Soojung pun semakin yakin kalau sindikat ini sudah terlalu keterlaluan mengeksploitasi vampire seenaknya. Soojung tak mau hal itu menimpa kekasihnya.


Ia mengembalikan foto-foto itu ke tempat semula dan kembali mencari dokumen lainnya. Ia menemukan sebuah map di dalam laci. Soojung membukanya dan melihat ada beberapa dokumen mengenai identitas seseorang :


Nama : Seunghoon


Kekuatan vampire : mengendalikan angin


Clan : Park


Soojung bingung membacanya. Kenapa ada data vampire di meja pamannya? Darimana pamannya tahu mengenai data-data ini?


Soojung membalik halaman berikutnya dan melihat ada dokumen mengenai detail waktu dan tempat buruan besar yang dilakukan beberapa bulan lalu di villa bambu. Soojung sangat terkejut, bahkan di sana sudah ada jumlah vampire yang akan datang beserta dengan detail rencana hunter untuk menangkap hidup-hidup setiap vampire.


Soojung menggeleng-geleng kecewa. Ini artinya ada vampire yang membocorkan data ini pada hunter dan membuat buruan besar bisa dilakukan? Soojung kembali melihat dokumen di halaman pertama. Bisa jadi ‘pengkhianat’ itu adalah Seunghoon.


Wanita itu memoto lagi dokumen tersebut. Ia semakin bertekad ingin membantu Seokjin menyelesaikan permasalahan ini.


****


Soojung berlatih menembak lagi di kediaman Kim Brothers. Tujuan lain kedatangannya pun sebenarnya ingin menunjukkan hal-hal yang sudah ia dapat dari meja kerja pamannya.


Setelah lelah olahraga dan berlatih, Seokjin mengajak Soojung ke ruang makan, untuk minum dan makan buah-buahan segar. Sementara vampire-vampire lain berada di ruangan yang berbeda. Hoseok dan Namjoon berada di ruang TV, Yoongi di kamarnya, sedangkan Taehyung belum pulang kuliah.


Seokjin sedang mengupas buah naga dan Soojung memandanginya terus, terpesona hanya melihat kekasihnya yang gentle itu.


“Wae?” tanya Seokjin manis dan menatap Soojung.


Soojung menggeleng sambil menahan senyum. Baginya bersama seperti ini sudah sangat romance. “Buahnya sangat merah.” ucap Soojung akhirnya memilih mengkomentari buah.


“Rasanya pasti sangat manis.” sahut Seokjin dengan memberi wink.


“Aku pun ingin melihat mata Oppa yang berwarna merah lagi,” ucap Soojung, “Sangat manis.”


Aigoo… Seokjin merasa telinganya memerah karena perkataan kekasihnya yang cheesy. “Mata merah itu menyeramkan, Darling.”


“Anni. Aku menyukai mata aslimu.”


Seokjin tersenyum. Ia mengambil potongan buah dan menyuapkannya ke mulut Soojung. “I like you more.”


Soojung menunjukkan eye smilenya sambil mengunyah buah yang manis itu semanis kekasihnya. Seokjin harus menahan ekspresinya ketika ia bisa mendengar suara kekehan Namjoon dan Hoseok melalui telinga vampirenya. Dua vampire itu pasti bisa mendengar percakapan ini karena betapa pekanya telinga vampire.


Soojung mencondongkan wajahnya pada Seokjin. Bulu matanya yang lentik itu begitu lebat namun dari jarak sedekat ini Seokjin yakin bisa menghitungnya. Seokjin bahkan tak menyangka ketika wanita itu dengan berani mendekatkan wajah dan mencium Seokjin di sini, di rumahnya sendiri!


Seokjin tak mungkin menolak, ia pun membalas ciuman itu. Memang sinting, cintanya pada Soojung semakin lama semakin membara seperti ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya untuk berhenti mencintai Soojung.


Soojung menarik kemeja Seokjin untuk mereka bisa memperdalam ciuman. Reflek, Seokjin memegang pipi wanita itu padahal tangannya sendiri merah blepotan karena buah naga. Soojung tertawa karena bisa merasakan kulit pipinya yang basah dan lengket. Ia menjauhkan wajahnya dan mengekeh malu.


“Ah mian…” sahut Seokjin buru-buru, menyadari kalau ia sudah mengotori wajah kekasihnya.


“Tidak apa-apa..” gumam Soojung. “Aku penasaran seperti apa menjadi istri vampire. Apa kita bisa menikah, Oppa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Soojung. Anggaplah ia sedang mabuk cinta sampai ia seolah meyakinkan Seokjin bahwa Soojung siap menikah dengan vampire.


Wajah Seokjin semakin memerah. Damn. Ia siap kalaupun besok Soojung ingin menikah. Tidak pernah terbayangkan kalau manusia itu sendiri yang mengatakannya. Seokjin merasa sangat dicintai.


“Seperti apa menjadi istri vampire?” tanya Soojung manja.


Seokjin bisa mendengar bagaimana Namjoon dan Hoseok yang mengikik-ngikik pelan. Sial, ini memalukan karena dua anggota clannya bisa menguping seperti ini. Percakapan yang sebenarnya private dan romantis kini rusak sudah. Harga dirinya pun rusak sudah.


“Soojung, sebaiknya aku membantumu membersihkan wajahmu.” kata Seokjin akhirnya. Ia ingin dirinya dan Soojung bisa pindah tempat. Vampire itu menarik lengan kekasihnya dan membawanya menuju kamarnya.


“Tapi buahnya…?” ucap Soojung.


Seokjin kembali lagi dan tangannya yang lain membawa piring berisi buah-buahan yang sudah dipotong. Seokjin membawa masuk kekasihnya ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Entah kenapa Seokjin jadi berdebar-debar sendiri. Ia menaruh piring di meja dan mendekati wanita itu. Ingin melanjutkan kembali pembicaraan private yang tadi dimulai kekasihnya.


Soojung memberi senyum melihat Seokjin menatapnya dengan sayu. Dan bagaimana ia ada di kamar Seokjin lagi. Ini seperti flashback bagaimana Soojung dulu pernah ke kamar ini ketika buruan besar.


Ah ngomong-ngomong mengenai buruan besar…


“Oppa, ada yang mau kutunjukkan padamu.” ujar Soojung sambil mengeluarkan ponsel. Ia terlalu bersemangat sampai tidak menyadari kalau Seokjin sebenarnya sudah akan menciumnya. Soojung menunjukkan foto-foto yang ia ambil menggunakan ponselnya ketika mengendap-endap di ruang kerja pamannya.


Seokjin mengernyitkan alis. Ia memegang ponsel kekasihnya untuk melihat lebih jelas hanya untuk terkejut. Mata terbelalak melihat foto-foto vampire. Yang mengejutkan ketika ia melihat biodata Seunghoon yang ia tahu merupakan salah satu anggota dewan vampire.


“Apa bisa jadi vampire ini yang membocorkan kejadian di villa bambu?” tanya Soojung pelan.


Seokjin sangat terguncang. Ia tak menyangka kalau penghianat selama ini yang dicari adalah Seunghoon. Vampire itu memiliki posisi tinggi di dewan vampire dan memiliki citra yang sangat baik.


Ekspresi Seokjin mengeras. Semakin banyak petunjuk-petunjuk yang muncul akhir-akhir ini untuk membantunya melawan sindikat penjualan vampire.


🎃🎃