
Diam-diam Jungkook dan Jimin bertemu. Keduanya berencana hari Minggu ini akan mencari Taehyung dimanapun, pokoknya sampai Taehyung ditemukan.
Keduanya sudah berada dalam mobil sudah siap sejak pagi untuk memulai misi pribadi. Sengaja tidak memberitahukan pada para hyung vampire karena mereka pasti akan dicegah pergi. Jungkook dan Jimin sudah tak tahan hanya menunggu tanpa kepastian, mereka ingin segera menyelamatkan teman mereka.
“Tanganmu kenapa?” tanya Jimin melirik tangan kanan Jungkook yang diperban.
“Hanya luka biasa.” ucap Jungkook tenang. Matanya dengan fokus melihat ke depan, mulai menyetir di jalanan. Luka di tangannya akibat memukul kaca bukanlah apa-apa. Dia bahkan bersedia merasakan luka lebih besar supaya bisa membunuh Dongwook.
Jimin tidak akan mengomentari apa-apa mengenai tangan Jungkook itu. “Jadi menurutmu kita akan kemana dulu?”
“Mungkin ke hutan, danau atau kawasan terpencil di kota ini…”ujar Jungkook. “Apapun. Sampai kita menemukan markas sindikat.”
Jimin mengangguk. Jungkook menoleh dan menatap temannya. “Bagaimana dengan pendapatmu?” Jungkook menanyakannya karena Jimin yang sudah mengalami sendiri saat disekap oleh sindikat. Tentunya Jimin lebih tahu ciri-ciri lokasi yang cocok dengan itu.
Jimin mengernyitkan kening. “Tempat yang gelap… dan sepi. Sepertinya lokasi-lokasi yang kau sebutkan tadi cocok.”
“Apa kau tidak sempat melihat di perjalanan saat diculik?”
“Sayangnya aku dibius, Kook. Mereka benar-benar melakukan dengan rapi tanpa cacat, kurasa itu wajar untuk sekelas mafia.”
“Kau tahu, aku ditelpon oleh Dongwook.”
Jimin langsung menoleh terkejut dengan mata terbelalak. “Apa?”
“Dia video calling menggunakan ponsel Taehyung.” Jika mengingatnya hanya membuat Jungkook kembali panas hati. Ia meremas stir kuat-kuat. “Dia menunjukkan padaku bagaimana kondisi Taehyung dan bagaimana dirinya yang sedang mendapat transfusi darah Taehyung.”
“Kurang ajar!” tukas Jimin marah seketika. Tensi darahnya langsung tinggi dan ingin sekali melabrak orang bernama Dongwook itu.
“Aku belum pernah semarah itu, Jimin. Aku belum pernah punya keinginan untuk membunuh seseorang sebesar itu.”
Gigi Jimin gemertakan. Dirinya pun merasakan hal yang sama. Jimin tidak akan pernah membiarkan orang yang menyakiti Taehyung hidup dengan tenang. Oh God, betapa ia ingin memporakporandakan markas sindikat sekarang juga.
“Kita harus segera menemukan Taehyung,” lanjut Jungkook, “Karena ini sudah lewat dua minggu dari dia terakhir menghisap darahku.”
Jimin menahan nafas, menyadari apa yang dicemaskan Jungkook itu.
“Dia tidak bisa meminum darah manusia selain darahku. Aku tidak tahu bagaimana dia akan bertahan di sana.”
Jimin mengangguk. Sekujur tubuhnya dipenuhi kecemasan, mengkuatirkan teman mereka yang merupakan vampire. Ini sangat pelik sampai Jimin ingin berteriak rasanya, ingin menuntut keadilan kepada langit.
Mereka pergi ke hutan di luar kota Seoul. Mereka bertanya pada penduduk sekitar apakah ada proyek atau bangunan mencurigakan di sana. Namun mereka tidak mendapat hasil yang berarti. Mereka juga mencari ke tempat-tempat terpencil siapa tahu lokasi markas sindikat berada di tempat terpencil, sama seperti saat dulu Taehyung diculik oleh hunter. Tapi tetap nihil. Tidak ada perkembangan berarti.
Energi, waktu dan dana sudah habis tapi hasil yang didapat zero. Keduanya malam itu berada di pinggir hutan, memasang api unggun kecil untuk menghangatkan badan. Sudah kepalang tanggung larut malam seperti ini, mereka akan pulang besok subuh saja.
Jimin meregangkan kakinya yang pegal karena baru selesai berjalan jauh menyusuri hutan ketiga di hari ini. Jimin menatap api unggun yang berpendar-pendarkan cahayanya. Apabila mengingat kondisi Taehyung di sindikat yang memprihatinkan, Jimin bahkan tak bisa tenang. Ia melirik Jungkook, di sebelahnya, yang juga sedang melamun. Pastinya Jungkook pun merasakan keresahan yang sama, apalagi jika keduanya terhubung sebagai soulmate.
“Sebenarnya apa yang membuat big bos sindikat ingin sekali menangkap Taehyung?” tanya Jimin pelan. Hutan ini begitu tenang dan damai, terdengar suara jangkrik dan burung hantu di kejauhan.
Jungkook menatap api unggun dengan melamun. “Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Taehyung bukanlah milik sindikat. Dia seharusnya bisa menuntut sindikat atas apa yang sudah ia alami, menjadi vampire mutan akibat perbuatan mereka.”
Jimin menghela nafas. “Mereka menganggap Taehyung adalah milik mereka karena sudah menjadi bahan percobaan. Setelah Taehyung sudah berubah menjadi mutan pun mereka masih berusaha mengeksploitasinya. Manusia-manusia keji.”
“Dulu aku pernah menyebut Taehyung monster. Itu pasti sangat menyakitkan untuknya…” ucap Jungkook sendu, “Dia mengatakan sambil menangis bukan dirinya yang meminta supaya lahir menjadi vampire. Dan itu benar… dia bukan monster. Manusia yang ada di sindikatlah yang monster, mengujicoba manusia untuk mencari keuntungan.”
Jimin sangat sedih mendengarnya. Taehyung bukanlah monster. Dia berubah menjadi mutan seperti itu akibat perbuatan sindikat. Hal itu pasti sangat menyakitkan dan memberi trauma besar untuk temannya. Betapa Jimin ingin memeluk vampire itu sekarang.
**
Seokjin mengacak-acak rambut dengan frustasi. Barusan Jackson menelepon dan mengatakan dewan vampire telah berusaha mencari di beberapa kota di Korea Selatan mengenai keberadaan Taehyung tapi tidak ada hasil. Sama seperti vampire yang ditangkap sebelumnya yang juga belum ditemukan.
“Apa mungkin markas sindikat berada di pegunungan atau di gua?” tanya Namjoon sama frustasinya dengan Alpha.
“Dewan vampire sudah mencari ke tempat yang kau sebutkan. Mereka bahkan menggunakan anjing pelacak,” kata Seokjin, “Sebelumnya mereka sudah mencari markas sindikat ke kota-kota di Korea Selatan karena menghilangnya beberapa vampire, tapi itu juga tidak ada hasil.”
Hoseok menggigit bibir dengan cemas. “Apa mereka dibawa ke luar negeri?”
Yoongi merasa tidak mungkin demikian. Karena ketika mereka memesan fettuccine, sindikat langsung menyiapkannya, seolah memang masih berada di Seoul. Lagipula lokasi Black Dragon pun di Seoul… begitu pula dengan kantor Dongwook. Kemungkinan besar markas seharusnya berada di Seoul supaya Dongwook sang big bos bisa leluasa bekerja. Tapi entah jika memang markas sengaja ditempatkan di luar negeri.
“Belum pernah ada laporan dari vampire yang berada di luar Korea mengenai sindikat.” ucap Seokjin lesu.
“Saat Jimin dan Soojung diculik, mereka dikurung di sindikat kan?” tanya Hoseok berpikir keras.
“Entahlah…” kata Yoongi, “Mereka dibius jadi tidak melihat perjalanan seperti apa. Tapi menurutku mereka di bawa ke markas.”
“Kalau demikian seharusnya markas ada di Seoul, atau setidaknya masih berada di kota yang tak jauh dari Seoul.” ujar Namjoon. “Masalahnya mereka dilepaskan pun dengan cepat saat Taehyung pergi malam itu.”
“Benar, kalau memang Jimin dan Soojung ditawan di sindikat, ini artinya markas masih berada di daerah Seoul.” sahut Yoongi setuju.
Seokjin menggertakkan gigi. Tapi ini aneh… markas tidak bisa ditemukan dimanapun. Dewan vampire yang merupakan organisasi hebat saja tidak dapat menemukannya. Ia tidak akan menerima jika ada anggota clannya yang ditahan oleh sindikat. Taehyung harus dapat ditemukan apapun caranya.
****
Jungkook yang berbaring di tempat tidur memutar badan ke samping. Ia terkejut saat melihat Taehyung berbaring di sebelahnya sedang menatapnya. Jungkook tahu ini pasti mimpi, bagaimana ia bisa melihat Taehyung namun tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali.
Mata Jungkook mulai berkaca-kaca, melihat baik-baik wajah vampire itu, matanya yang membalas tatapan Jungkook dengan terluka.
Taehyung berusaha memberikan senyum meski luka di matanya tidak bisa ditutupi. “Gwaenchana.”
“Apa mereka menyakitimu?” bisik Jungkook berusaha menahan suaranya untuk tidak gemetar.
Taehyung terdiam beberapa saat. “Pain tolerance-ku tinggi, Kook. Itu bukan apa-apa. Mungkin karena aku vampire maka aku bisa menahan sakit.”
Hati Jungkook sangat sakit. Sebagai soulmate ia tahu kalau Taehyung sangat menderita baik secara fisik dan psikologi ditawan di sindikat. Tidak ada seorang pun, bahkan di dunia ini ataupun di dunia yang akan datang, yang layak mendapat penderitaan seperti yang diterima soulmatenya. Manusia biasa yang akhirnya dirusak karena tipu daya dan uji coba manusia. Persetan dengan pain tolerance. Siapapun takkan tahan berada di posisi itu. Siapapun tidak boleh diperlakukan demikian.
Jungkook memejamkan mata dan air mata seketika mengalir. Raut wajah Taehyung berubah semakin sedih melihat manusia itu yang menangis. Mata Taehyung pun sudah merah, berusaha menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Jungkook.
Jungkook membuka mata. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Suasana begitu hening, hanya terdengar gemuruh nafas Jungkook saja. Tapi itu sangat menenangkan untuk Taehyung.
“Katakan kau berada di mana?” tanya Jungkook sedih, “Aku akan menjemputmu, Tae.”
Alis mata Taehyung melengkung sedih. Dirinya pun tidak tahu ditawan dimana dan kalaupun ia tahu, ia tidak akan memberitahu Jungkook karena pasti akan sangat berbahaya.
“Aku tak tahu, Kook..”
“Aku akan menghabisi mereka semua…” isak Jungkook, “Aku akan membunuh Dongwook dan orang-orang yang sudah membuatmu seperti ini.”
Taehyung menggeleng lemah. “Jungkook… sudah cukup.”
“Andwae. Tidak bisa, Tae.” isak Jungkook perih.
“I’m not dead. Aku masih hidup. Dan aku ingin kau pun tetap hidup, Jimin tetap hidup, keluarga clanku tetap hidup. Jebal…” bisik Taehyung hampir menangis.
Isakan Jungkook yang sudah ditahan akhirnya pecah juga. Ia mengisak lama dengan dada yang semakin sesak sementara Taehyung menatapnya dengan raut sedih.
“Ba-bagaimana k-kau akan h-hidup…” ucap Jungkook dengan sengguk, “K-kau tidak bisa meminum darah lain…s-selain darahku…”
Taehyung tersenyum tipis. Itu memang benar. “Sindikat akan mencari solusinya. Mereka akan mencari cara membuatku tetap hidup.”
“Tae…” isak Jungkook menjadi.
Taehyung menggeleng lemah. “Gomawo, Jeon, untuk semuanya.”
Jungkook menggeleng-geleng sambil masih menangis. Apa ini, dia tidak mau Taehyung mengucapkan perpisahan.
“Aku menyadari bahwa kalian sangat berarti untukku. Awalnya aku hidup dan balas dendam demi diriku sendiri…” kata Taehyung, air mata mulai mengalir di pipi. “Tapi kini aku berubah pikiran. Kalian sangat berarti untukku dan aku ingin kalian terus hidup. Tidak ada gunanya berusaha melawan sindikat. Tidak perlu ada korban yang jatuh lagi, Kook.”
“No.. no…”
“Setidaknya aku tidak akan menyesali apapun. Aku akan terus mengingat momen-momen saat bersama kalian.” isak Taehyung.
“Taehyung, please come back…” Rasanya hati Jungkook ingin meledak. Luapan emosi di dada begitu besar. Rasa sakit itu bahkan seperti sudah mencapai ujung tenggorokannya. Jungkook merasa lehernya tercekik, tidak bisa bernafas.
.
.
Jungkook menangis dalam tidurnya. Dia tidak pernah sesakit ini… Hatinya sangat sakit sampai mau mati rasanya.
****
Dongwook mengulum mulut sambil menyipitkan mata melihat apa yang terjadi dari CCTV. Ia memang sudah mendapat laporan dari dokter yang menangani Taehyung. Dikatakan bahwa Taehyung tidak bisa meminum darah manusia. Saat darah manusia melalui selang dimasukkan ke dalam mulut vampire itu, Taehyung langsung tersedak dan menolaknya.
Seperti sekarang Dongwook menonton dengan langsung dari CCTV. Ia menyuruh dicarikan solusi supaya Taehyung bisa mengkonsumsi darah manusia, karena memang itulah yang membuat vampire bertahan hidup. Dongwook meminta supaya disediakan berbagai jenis golongan darah, manatahu Taehyung hanya bisa minum darah golongan tertentu saja.
Tapi hasilnya tetap sama. Taehyung kembali tersedak dan tubuhnya menolak. Vampire itu dalam keadaan tak sadarkan diri tapi selalu menolak darah yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Aku tidak mengerti mengapa ProjectV22 selalu menolak darah manusia,” kata dokter yang berdiri di sebelah Dongwook, ikut melihat video CCTV, “Dalam keadaan tak sadar diri sekalipun tubuhnya tidak mau menerima darah manusia.”
“Apa artinya dia tidak menghisap darah manusia karena merupakan mutan?” tanya Dongwook sambil menaikkan sebelah alis.
“Itu tidak mungkin,” sahut dokter tersebut, “Vampire mutan lain di sindikat ini harus mengkonsumsi darah manusia untuk bertahan hidup. ProjectV22 bukan pengecualian.”
Dongwook mengernyit. “Sudah dicobakan darah hewan?”
Dokter itu memberi senyum tipis. “Nihil. Aku yakin selama ini dia bisa mengkonsumsi darah manusia, kalau tidak, mungkin dia akan mati. Sekarang saja kondisinya semakin melemah karena belum mendapat darah manusia.”
“Lalu?” tukas Dongwook, “Apapun caranya aku ingin ziti-ku tetap hidup.”
“Kami menduga sepertinya dia hanya bisa mengkonsumsi darah orang tertentu saja.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau dia masih bisa hidup sampai sekarang artinya sebelumnya dia sudah mengkonsumsi darah seseorang.” ujar dokter.
Dongwook mengerutkan kening memikirkan perkataan dokter itu. Wajahnya tiba-tiba mengeras saat menemukan sebuah nama.
Jeon Jungkook.
🎃🎃
Jangan lupa berikan jejak dan pendapatnya apa yg akan terjadi🐾🐾