Vampire In The City

Vampire In The City
Rencana Diam-Diam




Dongwook masih berada di meja kerjanya. Untuk masalah yang datang bertubi-tubi beberapa hari ini membuat Dongwook bahkan tak bisa tidur. Dirinya yang memang pegila kerja tidak akan tenang karena takut anak buahnya bekerja tidak becus lagi.


Dongwook menghembuskan nafas keras-keras. Ia memegang kening, sedang mencari cara untuk menghentikan kerugian demi kerugian yang dialami perusahaannya. Ia harus bisa kembali meraup keuntungan sebanyak-banyaknya ganti malapetaka yang kemarin ia terima.


Dongwook membuka laci dan mengeluarkan sebuah foto. Itu adalah foto Taehyung yang pernah diam-diam difoto anak buahnya saat Taehyung berada di Black Dragon, sedang mengobrol dengannya. Kadang Dongwook melihat foto ini ketika ia merindukan Taehyung… Bahkan di saat seperti ini dia ingin vampire itu kembali di sisinya.


Dongwook merasa Taehyung merupakan seseorang yang mudah diajak bicara, bold sekaligus kharismatik. Dongwook tidak akan pernah bosan ketika mengobrol dengan orang seperti Taehyung, selalu saja ada kejutan yang diberikan, entah perkataan atau rencana diam-diam yang dia lakukan untuk menjebak Dongwook. Momennya bersama Taehyung memang penuh dengan saling mencurigai tapi itu sangat menyenangkan bagi Dongwook secara pribadi. Dan bukankah saat-saat itu keberadaan Taehyung di Black Dragon sangat menghiburnya?


Beberapa hari yang lalu Dongwook sudah bertemu dengan dokter peneliti yang mengingat perihal ProjectV22. Dokter itu memberitahukan hal-hal yang dia ingat mengenai Vincent a.k.a Taehyung. Dokter itu menceritakan lima tahun lalu Vincent merupakan salah satu project yang berhasil. Vincent sudah berada di gedung rehab selama berbulan-bulan, mendapat obat-obatan khusus juga venom vampire.


Dongwook mengelus bibirnya sendiri jika berusaha mengingat apa yang terjadi lima tahun silam saat Taehyung masih menjadi ‘miliknya’. Samar-samar sepertinya ia mengingat wajah pucat itu yang terbaring di tempat tidur dengan berbagai selang di badannya. Dan saat itu Dongwook yang meneriaki para dokter untuk sang project segera digigit vampire tua supaya mendapat venom vampire.


Dongwook memberi smirk. Hatinya sangat ringan dan hangat hanya mengingat Taehyung pernah berada dalam genggaman tangannya, pernah berada di rumah kepunyaannya.


“Well…”


Dongwook bertekat dia akan membawa kembali Taehyung. Bukankah vampire itu adalah kepunyaannya? Dialah yang sudah membuat Taehyung seperti sekarang bukan?


Pria itu tertawa pelan. Dia tidak akan terburu-buru melakukannya. Ia akan rencanakan semua dengan matang supaya tidak ada kesalahan lagi.


Dengan gerakan smooth, Dongwook meraih telpon di atas meja dan menelepon anak buahnya. “Pertama, cari tahu mengenai vampire yang ditangkap Myunggyu. Yea, vampire yang akan ditukar itu…” Dongwook mengambil cerutu dan mulai menghisapnya. “Kedua, cari tahu member VIP, konsumen yang memesan fettuccine sepekan lalu. Lakukan dengan clean. Aku tidak mau lagi ada rencana yang cacat.”


Dongwook pun menutup telepon. Ia menghisap cerutunya dalam-dalam masih memandang Taehyung di dalam foto.


“Tunggu sebentar lagi, Kim Taehyung…”


****


Bel rumah berbunyi berkali-kali, ibu Jimin yang sedang memasak segera mematikan kompor dan bergegas menuju pintu. Siapa gerangan tamu yang datang di siang bolong seperti ini.


Ibu Jimin membuka pintu dan melihat ada dua pria berjas rapi. Wanita itu menyangka kalau dua orang itu hendak menawarkan produk atau apa.


“Selamat siang, Nyonya Park…” gumam salah seorang pria dengan senyum pelan. “Kami dari Delicious Pasta. Kuharap kau tidak lupa dengan nama perusahaan yang pernah bekerja sama denganmu.”


Wanita itu hanya menatap, berusaha mengendalikan ekspresinya. “Oh ya, ya..”


Delicious Pasta adalah nama sindikat penjualan vampire yang juga memang muncul di dalam jurnalnya, meski ia tidak bisa mengingatnya.


“Setengah tahun yang lalu kau pernah menerima vampire dan mengurungnya di basement rumahmu bukan?”


Yang tak disangka-sangka tiba juga saat dimana ada orang yang datang dari Delicious Pasta untuk menanyakan perihal vampire di basement. Peringatan Jimin benar adanya. Dan wanita itu diminta harus berhati-hati.


“Ya benar… tapi vampire itu sudah tidak ada lagi. Dia berhasil melarikan diri.” ujar ibu Jimin berusaha dengan ekspresi netral padahal jantung sudah berdegup keras.


Pria itu menaikkan sebelah alis. “Kabur?” Logikanya jika vampire itu bisa kabur seharusnya vampire itu menyerang pemilik rumah bukan? Tapi ibu Jimin tampak baik-baik saja dan bahkan tak pernah melaporkan kejadian itu untuk diusut oleh sindikat atau hunter.


“Kau memesan vampire supaya mendapatkan transfusi darah untuk anakmu yang sakit bukan?”


Tentu saja Delicious Pasta menyimpan data-data seperti ini dengan rapi dan baik, tak mencengangkan kalau mereka tahu dengan detail orang-orang yang sudah memesan ke web Delicious Pasta, apalagi member dengan level VIP dan VVIP.


“Oh.. ya…” Ibu Jimin mulai terbata. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan semacam itu. Anaknya memang sakit, memiliki penyakit darah tapi sepertinya Jimin sudah tidak sakit lagi karena anaknya seolah sudah mendapat ‘pertolongan’ lain.


“Setelah vampire itu kabur, aku mengobati anakku sendiri dengan bekerja sama dengan salah satu rekan di rumah sakit yang membantunya dalam proses penyembuhan.”


Dua pria itu hanya saling lirik dan mengangguk saja.


“Apa anakmu ada di rumah?” tanya salah satu pria.


“Di-dia tidak ada di rumah. Dia sedang kuliah.” Ibu Jimin memegang celemek dengan gemetar.


“Apa beberapa hari terakhir kau ada memesan di web dengan kartu member VIP yang kau punya?”


Ibu Jimin menelan ludah. Apalah maksud perkataan dua pria di depannya ini. Ia tidak bisa mengingat apapun mengenai vampire, ia tidak bisa mengingat apa yang ditampilkan di web Delicious Pasta. Ini merupakan efek dari Seokjin yang menghapus semua memorinya mengenai vampire.


“Karena ada permintaan pesanan fettuccine dengan barcode yang merupakan nomor keanggotaanmu, Nyonya.”


Ini sungguh pelik. Ibu Jimin bahkan tidak mengingat pernah memesannya. Apa Jimin yang sudah memesan dengan kartu member Delicious Pasta miliknya? Tapi kenapa? Lagipula ia sendiri tidak tahu apa maksud dari fettuccine.


Wanita itu akhirnya hanya mengangguk. Dia merasa tidak ada gunanya untuk mengelak karena sindikat pasti tahu siapa-siapa yang sudah memesan ke web.


Pria itu lantas memberi senyum sumringah pada ibu Jimin. “Bagaimana produknya? Apa kau menyukai fettuccine yang kami berikan? Kami harap kau puas dengan pelayanan kami.”


Ibu Jimin sama sekali tak mengerti mengenai apa yang dibicarakan orang itu.


“Ini merupakan kunjungan biasa yang dilakukan setelah konsumen setia kami sudah mendapat pesanan,” ucap yang lain ramah, “Trimakasih selalu percaya pada Delicious Pasta. Ke depannya kami akan terus meningkatkan kualitas produk dan pelayanan kami.”


“Er.. oh… ya…” sahut Ibu Jimin karena benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.


“Kami permisi dulu, Nyonya, trimakasih untuk waktunya.”


Dua pria itu membungkuk dengan sopan lalu pergi meninggalkan ibu Jimin yang masih melongo belum bisa mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Apa sindikat memang selalu mengirim orang untuk mengunjungi member VIP seperti ini?


Wanita itu mengedikkan bahu. Dia tidak akan peduli lagi, dia sudah tidak mau berurusan dengan sindikat penjualan vampire dan produk darah yang mereka jual. Wanita itu pun menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.


Yang ia tidak tahu bahwa dua orang dari Delicious Pasta yang datang adalah bertujuan mencari informasi mengenai pembeli fettuccine seminggu lalu… yang secara misterius membuat lokasi pengambilan produk luluh lantak akibat tornado dan bahkan tiga mafia tewas terbunuh, namun anehnya produk fettuccine nya pun hilang. Mereka akan melaporkan informasi ini ke markas.


****


Donghyuk buru-buru bergegas ke markas hunter sore itu. Ia mendapat panggilan tak terduga karena secara spesial dia diminta datang karena ada pengumuman penting mengenai siapa pengganti ketua hunter setelah Myunggyu meninggal. Dan yang mencengangkan adalah dirinya yang akan menempati posisi ketua hunter Korea Selatan itu!


Donghyuk membuka pintu ruang rapat karena katanya disitu dia sudah ditunggu oleh para dewan direksi.


Di ruangan itu ada 4 anggota dewan direksi yang familiar baginya dan yang memang sudah ia kenal namun ada pula satu orang yang tidak ia kenal, duduk di kursi utama di meja bundar ruang rapat itu. Pria itu tampak masih muda dibandingkan dewan direksi lain dan perawakannya sangat tampan dan segala yang dikenakannya expensive.


“Halo, Mr. Jeon…” sapa pria itu berdiri dan mendekati Donghyuk. “Perkenalkan aku Dongwook…”


Donghyuk tak menyangka bahwa pemilik sindikat masih muda seperti ini dan sangat tampan, jauh dari bayangannya bahwa pemilik sindikat adalah pria berwajah bengis.


“Geurre, geuree…” ucap Dongwook menyunggingkan senyum lebar, “Aku tentu tidak boleh melewatkan momen ini untuk bertemu langsung dengan partner kerja baruku, Mr. Jeon.”


“Aku justru yang sangat tersanjung,” sahut Donghyuk terharu, “Aku tak menyangka Anda akan datang ke sini menemui saya.”


“Tentu saja, kenapa tidak?” Dongwook memberi smirk, “Aku sendiri yang request supaya kau yang menduduki posisi ketua hunter menggantikan Myunggyu.”


Donghyuk sangat tercengang. Ia menoleh pada dewan direksi yang memberi anggukan bangga padanya. Ini bukan mimpi kan? Ia dipilih secara langsung oleh Big Boss Delicious Pasta???


“Aku punya firasat bahwa kita bisa bekerja sama dengan baik, Mr.Jeon,” kata Dongwook, “Itu sebabnya aku memilihmu langsung. Pastinya kita bisa bekerja sama dengan baik kan?”


“Te-tentu saja…” Donghyuk memberi senyum sumringah, sangat senang dengan penawaran ini.


“Hunter selalu akan menjadi kartu As bagi Delicious Pasta,” bisik Dongwook, “Paham kan?” Dongwook memberi tawa lebar yang membuat Donghyuk ikut tertawa juga. Atmosfer ini sungguh overwhelming, sangat bersahabat dan positif.


“Ke depannya kita akan melakukan hal-hal menakjubkan,” lanjut Dongwook, “Hal-hal pahit dan menyakitkan yang terjadi di belakang akan digantikan puluhan kali lipat dengan kemenangan.”


“Cheers for that~” sahut Donghyuk mengangguk sopan pada Big Boss sindikat itu.


****


Kediaman Kim Brothers mengadakan jamuan makan malam. Tentu saja yang diundang adalah Soojung, Jungkook dan Jimin, mereka bertiga sudah sangat diterima baik oleh clan Kim, apalagi Soojung yang ehem, mungkin akan menjadi istri vampire. Jika mengingat bagaimana percakapan Soojung dan Seokjin mengenai suami istri, hanya akan membuat Namjoon dan Hoseok kembali mengikik. Begitu domestic-nya hubungan keduanya kadang membuat vampire lain geli.


Taehyung pun malam itu sangat ceria. Meski dirinya adalah kepribadian V yang biasanya memberikan aura dingin dan mengintimidasi tapi hari ini sangat berbeda. V sangat senang karena ia mendapat kabar bahwa Lisa sudah mengundurkan diri dari perkuliahan. Ow, ini berita yang sangat bombastis yang tentu saja harus dirayakan dengan champagne.


Salah satu pengganggu dan perusak sudah lenyap…


“Kau tampak happy, Tae…” bisik Jungkook yang memang duduk di sebelah Taehyung. Ia sudah merasakan perubahan mood Taehyung sejak kemarin. Dan dia tidak bisa untuk tidak ikut senang melihat Taehyung yang sudah tampak bersemangat.


Taehyung hanya mengekeh pelan. “Bukankah ini malam yang sangat menyenangkan? Kita bisa berkumpul bersama dan tertawa seperti ini.”


Jungkook tersenyum dan mengangguk setuju. Rasanya seperti rehat sejenak dari kepelikan masalah mengenai sindikat. Ini memang ide yang baik mengadakan acara makan malam seperti ini untuk membuat semuanya rileks. Jungkook pun tak tahu sejak kapan ia mulai terbiasa dengan keberadaan vampire. Ia bahkan menganggap clan Kim sebagai bagian dari keluarganya sendiri.


Jungkook tersenyum sendu melihat kakaknya yang sedang mengobrol dengan Seokjin. Keduanya tampak sangat serasi seperti putri dan pangeran. Jungkook tidak akan kuatir merelakan kakak satu-satunya pada Seokjin. Alpha itu sangat gentle dan bisa diandalkan. Apalagi tatapan keduanya tampak sangat saling mencintai.


Di ujung meja ada Hoseok dan Jimin yang sedang bersenda gurau. Nyatanya keduanya pun sudah akrab dan tampak childish. Hoseok yang memang sebelumnya merupakan manusia, sedang asyik mengobrolkan film dengan Jimin beserta membicarakan tokoh utamanya juga. Namjoon geleng-geleng saja melihat keduanya, sementara Yoongi menyesap champagne pelan-pelan dengan senyum sambil memejamkan mata, seolah menikmati momen ini baik-baik. Perasaannya sangat rileks karena ia bisa merasakan bagaimana atmosfer di ruangan ini yang begitu positif, no sorrow, no pain, no anger.


Tak dipungkiri jika malam ini merupakan salah satu malam terbaik di kediaman Kim Brothers. Sejenak semuanya bisa melupakan ketegangan perbuatan sindikat penjualan vampire di luar sana. Bisa dibilang ini juga merayakan keberhasilan mereka dalam beberapa hal : menghancurkan salah satu titik lokasi sindikat, kematian 3 hunter dan tentu saja… kepergian Lisa.


.


.


.


Sementara itu di tempat lain, Lisa sedang duduk sendiri dan terus menenggak whiskey. Dirinya sejak tadi sudah berada di klub malam, menghabiskan waktu untuk melepas kesedihannya. Dirinya begitu stress dan depresi karena terpaksa harus mengundurkan diri dari sesuatu yang merupakan cita-citanya selama ini. Air matanya sudah habis menangis, meratapi kemalangan yang ia alami. Kenapa ia harus terlibat sengketa dengan Taehyung sampai merugikan diri sendiri seperti ini? Seandainya saat itu ia tidak perlu menerima perintah Myunggyu untuk menyelidiki Jungkook… seandainya… seandainya dan seandainya….


Lisa memegang gelas erat-erat. Sial, sial, sial. Dia ingin mengumpat keras-keras.


“Sepertinya kau tampak sedang sedih, Nona…” ucap seseorang yang baru saja mengambil duduk di sebelah Lisa.


Lisa mengangkat wajah. Dirinya memang setengah mabuk tapi dia masih memiliki kesadaran prima. Lisa melihat ada pria tampan classy yang menatap dan memberikan senyuman. Siapa gerangan pria ini?


“Klub murahan seperti ini tidak cocok untuk wanita cantik sepertimu…” lanjut pria itu, “Aku bisa membawamu ke klub yang lebih baik.”


Lisa menaikkan sebelah alis. “Apa aku mengenalmu?”


Pria itu membelai pipi Lisa dengan berani. Ia mendekatkan wajah dan bergumam, “Kau tidak mengenalku?”


Lisa menaikkan sebelah alis. Ia membiarkan saja jemari pria itu yang membelai pipinya.


“Dongwook, pemilik Delicious Pasta.” sahutnya memberi smirk panjang saat ekspresi Lisa berubah kaget. “Sekarang sudah tahu?”


Lisa sangat tercengang. Ia segera membenarkan posisi duduknya. Seorang hebat dan yang ia kagumi selama ini duduk di sebelahnya dan melihat dirinya yang memprihatinkan ini?!! Lisa tak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu dengan pemilik sindikat penjualan vampire di tempat seperti ini, saat Lisa sedang mengasihani nasibnya sendiri.


“Aku sudah mendengar banyak mengenai dirimu…” ucap Dongwook, “Kudengar kau ingin bergabung dalam kelompok peneliti di markasku?”


Lisa menahan nafas. Yes, tentu saja itu yang dia kejar selama ini.


“Meski itu masih terlalu dini untukmu karena mungkin kau kurang pengalaman.” ujar Dongwook. “Tapi aku sangat ingin membantumu, Lisa…”


Wajah Lisa memerah saat pria itu mencium pipinya dan berbisik, “Aku akan hilangkan kesedihanmu…”


Jantung Lisa berdegup kencang. Apa saat ini ada malaikat pelindung yang diutus padanya ketika dirinya mengalami stres dan depresi berat? Bahkan pria level tinggi seperti Dongwook ini? Pria pemilik sindikat penjualan vampire yang selama ini selalu menjadi cita-cita Lisa bagaimana ia ingin bisa bergabung menjadi peneliti di sana?


Dan apa ini artinya ia bisa membalikkan keadaan dan membalaskan dendam pada vampire yang sudah menghancurkan hidupnya?


.


.


.


🎃🎃



aigoo.. author kembali mengusutkan cerita yang semula sudah mulai mendingan dan happy ending 😎🔫


smoga bukan nasib buruk #plak


Jangan bosan²nya untuk memberi jejak pada novel ini dan mendukunvg author ya. love you readers🧸