Vampire In The City

Vampire In The City
My Ziti



di hari yg berbahagia ini, di ulangtahun Jeon Jungkook, author persembahkan episode... (angst)...


happy birthday Jeon!!💜



Selamat membaca


🎃🎃


4. Ziti


a.k.a “little bride”. Hanya untuk kalangan sendiri dan member VVIP.


Harga : $76,575



🎃🎃


Dongwook menunggu di penthousenya, meski saat ini sudah lewat pukul 1 pagi sekalipun. Ia dikabari oleh anak buahnya bahwa ada seseorang yang masuk menerobos gerbang kawasan elit ini. Itu pasti Taehyung. Dongwook menyuruh supaya dibiarkan saja. Toh jika melawan mungkin nyawa yang malah melayang dicincang oleh vampire mutan.


Dongwook menyesap pelan-pelan scotchnya. Ia duduk di sofa dengan rileks tidak takut sama sekali dengan kedatangan vampire ke penthousenya. Dongwook sangat optimis bahwa Taehyung akan kembali menjadi miliknya. Di penthousenya ini pun sudah hadir selusin mafia yang ia datangkan, jaga-jaga jika diperlukan untuk meringkus Kim Taehyung dengan paksa.


Pintu penthouse Dongwook sengaja dibuka otomatis ketika Taehyung sudah berada di depan pintu. Kamera pengawas telah melihat kedatangan Taehyung jadi Dongwook menyuruh supaya pintu tidak dikunci untuk vampire itu. Dongwook sangat puas dengan kedatangan vampire itu hanya seorang diri.


Taehyung masuk ke dalam penthouse, ekspresinya dingin, tangan terkepal karena bagaimana ia menahan kesabaran dan kemarahan sejak tadi. Sebelah matanya yang berwarna putih cukup mengejutkan Dongwook dan para mafia yang ada di sana. Benar-benar vampire sangat menyeramkan.


“Welcome, Taehyung…” gumam Dongwook memberi smirk, terkesan dengan penampilan vampire mutan bermata putih itu. Well, Dongwook tentu tahu kalau vampire mutan di ‘pabrik sindikat’ akan meninggalkan beberapa tanda. Untuk kasus Taehyung ternyata sebelah matanya yang berubah putih.


Taehyung menatap big bos sindikat dengan benci, bagaimana pria itu masih bisa duduk dengan santai dan rileks seolah sedang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Taehyung mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin rasanya mencekik leher big bos itu tak perduli ada selusin mafia di ruangan ini yang akan menembaknya sekalipun. Tapi mengingat ketidakpastian keselamatan Soojung, Jimin dan ibunya, Taehyung harus menahan diri.


“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tukas Taehyung. Bagaimanapun tujuan kedatangannya adalah untuk membebaskan para sandera apapun caranya.


Dongwook mendengus, menyesap kembali scotch-nya. “Yang kuinginkan? Sama seperti dulu, Taehyung. Kau berada di sindikat. Aku bahkan belum merasakan kualitas darahmu setelah kau berhasil menjadi vampire.”


Dongwook yakin dengan track record yang ia punya mengenai Taehyung di uji coba vampire, Taehyung memiliki kualitas darah yang baik, apalagi banyak sekali obat dan ramuan yang sudah masuk ke tubuh vampire itu. Dongwook ingin menyicipnya.


Taehyung ingin mengeluarkan semua kata makian pada pria itu. Dirinya adalah korban, ditipu dan menjadi manusia uji coba di sindikat. Ia bahkan kehilangan keberadaannya sebagai manusia, harus mengalami masa-masa menyakitkan saat berbagai eksperimen yang diujikan ke dalam tubuhnya. Dan Dongwook masih berani mengatakan kalau Taehyung harus kembali seolah Taehyung tengah berhutang sesuatu. Apa moral memang sudah hilang dari manusia satu ini?


“Kita bisa mengadakan kesepakatan,” ucap Taehyung berusaha menahan gelombang emosi di dada, betapa ia ingin segera menyudahi semua ini dan hidup tenang, “Lepaskan para sandera.”


“Kesepakatan?” Dongwook menaikkan sebelah alis. Ia mencondongkan badannya ke depan dan menatap Taehyung dengan tajam. “Kesepakatan dariku adalah kau kembali ke sindikat, tempat seharusnya kau berada. Dan para sandera itu akan kulepas.”


Sial, darah begitu mendidih di dalam diri Taehyung. Seharusnya ia tahu kalau Dongwook akan menyebalkan seperti ini.


Dengan cepat Taehyung menyambar salah seorang mafia yang tak jauh darinya, menackle pistol dari tangan sampai terjatuh ke lantai, lalu memelintir lengan mafia itu, bersiap mematahkan lengannya.


Mafia-mafia lain yang berada di ruangan penthouse langsung dalam posisi siaga mengarahkan pistol ke arah Taehyung, siap membunuhnya di tempat. Namun Dongwook mengangkat sebelah tangan, menahan supaya Taehyung tidak ditembak.


Taehyung tidak terkesan, meski kini pistol-pistol tidak diarahkan padanya, ia masih memelintir lengan mafia. Manusia itu menjerit kesakitan karena tulangnya yang nyeri hampir dipatahkan vampire. Kekuatan Taehyung memang tidak main-main.


“Kau mengancamku?” tukas Dongwook, “Kau pikir aku akan tergugah hanya karena kau menahan salah satu mafia dari ratusan mafia yang kupunya? Tidak lupa kan kalau aku menahan temanmu? Ah.. dan kakak perempuan Jungkook…”


Gigi Taehyung gemertakan. Dia belum bisa menyelamatkan orang-orang itu. Dia bahkan tidak tahu dimana para sandera ditawan. Yang utama bagi Taehyung adalah melepaskan sandera.


Dongwook memberi smirk. “Jika kau masih ragu, Kim Taehyung, besok pagi aku bisa menyuruh para hunter untuk menyerang kediamanmu.”


Mata Taehyung membesar. Apa maksud gertakan manusia itu?


“Kau kira aku tidak tahu kediaman clanmu?” Cengiran Dongwook penuh kemenangan semakin panjang melihat wajah Taehyung. Ia mengambil ponsel di atas meja dan lantas menelepon seseorang. Ia menelepon ketua hunter alias paman Jungkook sendiri.


“Halo… Maaf jika mengganggu malam-malam… Aku akan memberikan lokasi sarang vampire, besok kau dan timmu bisa menyerang dan menangkap buruan besar. Tidak, tidak, lokasinya tidak kuberikan sekarang. Mudah-mudahan nanti pagi… karena aku harus memastikannya terlebih dulu…”


Mata Taehyung berubah nanar. Dongwook akan memberikan alamat clannya pada markas hunter? Ia tidak mau mengirim bencana pada anggota clan yang selama ini menjaga dan menyayanginya.


Perlahan cengkeraman Taehyung pada mafia itu mengendur.


Dongwook mengekeh saat ia mengakhiri panggilan, melihat bagaimana Taehyung telah melepas mafianya. Mafia itu langsung ke sisi dan meringis karena lengannya yang sakit hampir dipatahkan.


“Apa itu sulit?” tanya Dongwook dengan mencemooh. “Kau hanya tinggal menurut padaku dan aku akan melepas para sandera. Apa perlu aku menghabisi clanmu juga?”


Hati Taehyung sangat hancur. Begitu kejamnya Dongwook untuk mencapai tujuannya. Kakinya sampai gemetar karena tidak tahu cara lain untuk menghentikan aksi gila big bos tersebut.


Dongwook mendengus. “Kau kira aku tidak tahu siapa yang sudah menghancurkan Black Dragon-ku?” Seringai jelek Dongwook terpampang dengan mengerikan. “Kau harus membayarnya berkali-kali lipat, Taehyung, kerugian yang kuperoleh…”


Lutut Taehyung goyah dan ia jatuh berlutut di lantai. Dirinya sudah menyerah, putus asa… Ketakutan besar sedang melandanya, betapa mengerikannya yang bisa dilakukan Dongwook pada clannya, pada Jungkook, pada orang-orang di sekitarnya yang tidak bersalah. Bagaimanapun Dongwook hanya berurusan dengan Taehyung… vampire itu tidak akan melibatkan orang-orang yang ia kasihi ke dalam bahaya lagi.


Matanya nanar, seperti ada yang mengoyak hatinya. Harapannya telah sirna.


“Jebal…”


Dongwook tertawa puas melihat bagaimana vampire itu sudah kena skakmat. Ini pemandangan yang ia tunggu, saat Taehyung kembali ke sisinya berdasarkan keinginan sendiri.


“So, apa keputusanmu?”


Mata vampire itu berkaca-kaca. Dadanya sangat sesak bagaimana ia harus menyeret dirinya kembali ke sindikat, ke tempat yang membuat hidupnya hancur dan memberi trauma mendalam.


“Aku akan melakukan keinginanmu.”


“Bravo!!” Dongwook bangkit berdiri dan bertepuk tangan puas. Senyumnya merekah sangat lebar. Ia mendekati Taehyung yang masih berlutut di lantai. Ini sesuai dengan ekspektasinya.


“You are my ziti, Taehyung…”


Air mata Taehyung mengalir saat mendengar ucapan itu. Ziti adalah menu VVIP di web Delicious Pasta. Jadi apakah maksudnya menu itu merupakan….


“Welcome home.” gumam Dongwook dengan seringai sambil memegang dagu Taehyung.


Air mata sudah penuh di pelupuk mata sampai pandangan vampire itu pun blur. Hatinya sangat terluka, dia merasa semua perjuangannya selama ini sia-sia jika dia hanya menyakiti orang-orang yang ia sayangi.


Taehyung tersungkur ke lantai karena salah satu mafia yang menghujamkan suntikan obat bius ke lehernya membuat seluruh tubuhnya kaku seketika tak bisa digerakkan. Taehyung masih menangis, memandang ke depan sampai semuanya semakin kabur dan seolah dunia berputar.


Tawa Dongwook adalah terakhir yang ia dengar sampai akhirnya mata Taehyung terpejam, kehilangan kesadaran sama sekali.


***


Jungkook berjalan di ruangan yang gelap. Dia bingung kenapa ia bisa berada di tempat seperti ini. Ia melihat sekeliling, hanya tembok gelap tak berjendela.


Manusia itu berjalan sampai ia melihat di ujung ada sebuah tempat tidur. Di sana Taehyung sedang berbaring. Jungkook semakin heran dan mendekati vampire itu.


“Tae?” tanyanya. Ia semakin tercengang karena Taehyung sedang berbaring dan menangis, air matanya begitu deras mengalir.


“Tae, kenapa?” tanya Jungkook lagi cemas sambil memegang lengan vampire itu. Yang baru ia sadari karena pergelangan tangan Taehyung diikat ke tempat tidur. Ada apa ini sebenarnya??


“Taehyung…please…” ucap Jungkook sangat terpukul melihat vampire itu, frustasi karena dirinya tidak bisa didengar Taehyung. Jungkook berusaha melepaskan tangan Taehyung dari ikatan tali namun tidak bisa seolah tangan Jungkook ini tembus pandang dan tak bisa menyentuh apapun.


“Taehyung…!” isaknya, berusaha memanggil vampire itu. Hati seperti ditusuk paku melihat Taehyung yang menangis menyedihkan.


Sampai akhirnya vampire itu berucap, “Jungkook..… goodbye..…”


.


.


Jungkook langsung tersentak bangun. Ia sampai duduk dengan mata membola, nafas tersengal-sengal seolah baru saja lari marathon. Mimpi laknat apa barusan yang ia alami?


Jungkook melihat ke samping, melihat ketidakberadaan Taehyung di sebelahnya. Tiba-tiba kecemasan mulai memenuhi diri Jungkook. Ia merebak selimut dan keluar dari tempat tidur.


“Taehyung?” panggilnya dan mengecek kamar mandi yang kosong. Ia menoleh ke arah balkon yang kosong meski pintunya sedikit terbuka. Jungkook pun segera keluar kamar dan turun untuk mencari dimana vampire itu berada, berharap kecemasannya tidak terjadi.


“Tae?” panggil Jungkook saat di ruang makan dan tidak mendapatkan siapapun. Ia bergegas ke pintu depan yang nyatanya masih digembok dari dalam sejak semalam, menandakan tidak ada yang keluar rumah sejak kemarin.


“Ada apa?” tanya Namjoon keluar dari kamar karena mendengar suara Jungkook.


“Taehyung tidak ada.” sahut Jungkook panik.


Yoongi pun keluar dari kamar dan mengernyit heran mendengar ucapan Jungkook itu. Semalam ia sudah mengunci pintu dengan gembok menandakan tidak boleh ada anggota clan yang keluar rumah.


“Hah?” Hoseok pun ikut muncul dan sangat kaget mendengar perkataan Jungkook. Segera ia, Yoongi dan Namjoon ke atas untuk mengecek. Dan ternyata benar tidak ada tanda-tanda kehadiran Taehyung, bahkan bau kehadirannya di rumah ini sudah menghilang.


Jungkook sangat panik apalagi mimpi buruknya cukup membuatnya takut. Ia berusaha menghubungi ponsel Taehyung pun tidak aktif. Ini bagaikan dejavu sama seperti ponsel kakaknya yang juga tak aktif saat diculik sindikat.


Seokjin keluar dari kamarnya saat mendengar ribut-ribut. Ia sudah menyadari apa yang sedang terjadi. Taehyung menghilang dari rumah ini.


Tangan Jungkook gemetar dan terus berusaha menelepon padahal ia tahu kalau semua itu hanya kesia-siaan belaka. Ini tidak mungkin terjadi kan? Sekarang Taehyung yang diculik sindikat? Tapi bagaimana sindikat bisa menculik Taehyung karena Jungkook ingat vampire itu tidur di sebelahnya semalam.


“Dia kabur dari rumah ini semalam,” gumam Yoongi kuatir, “Kurasa dia keluar melalui balkon.”


Mata Jungkook membesar. “Ka-kabur?”


“Apa yang dia lakukan?” tanya Hoseok cemas menggigit kuku, “Apa dia pergi ke sindikat?”


“Sial, ini semakin rumit saja.” tukas Namjoon. Dia tak menyangka Taehyung akan nekat dan pergi menghadapi sindikat sendirian.


Seokjin pun sangat marah karena ia mencemaskan anggota clannya. Ia sudah mengingatkan setiap anggota untuk tidak gegabah dan tidak tertipu dalam perangkap Dongwook… ia tak menyangka kalau Taehyung malah bertindak sendirian tanpa memberitahu siapapun.


“Jungkook, dia tidak memberitahumu?” tanya Namjoon.


Jungkook menggeleng resah. Wajahnya masih pucat pasca syok yang dialami. Dia merasa dirinya sangat bodoh karena bahkan tidak menyadari Taehyung yang pergi meninggalkannya. Ini benar-benar gawat.


Jungkook terkejut saat menyadari ada sesuatu yang menggantung di pergelangan tangannya. Matanya membola saat melihat gelang manik-manik berwarna biru yang dulu pernah ia buang. Gelang yang dibuat Taehyung untuknya. Ia mengerjap-ngerjap tak paham. Apa semalam Taehyung memakaikan gelang ini ke tangannya??


Jantung Jungkook berdegup kencang, pikiran negatif mulai berseliweran mengenai rencana yang dilakukan Taehyung. Apa vampire itu menyerahkan diri ke sindikat untuk bisa membebaskan sandera?


Belum semua teki-teki terpecahkan, ponsel Yoongi berdering. Dhampir itu langsung merogoh ponselnya berharap yang menelepon itu Taehyung. Namun dirinya sangat syok saat melihat nama Jimin di layar ponsel.


“Jimin menelepon.” ucap Yoongi dengan suara tercekat.


“Mwo?” Namjoon melotot tak percaya dan langsung mendekati dhampir itu, padahal beberapa hari ini nomor Jimin berusaha dihubungi namun tidak pernah diangkat.


Semua begitu tegang saat Yoongi mengangkatnya. “Halo?”


“Hyung…!” Terdengar suara Jimin di seberang. Suaranya serak seperti tidak minum berhari-hari. “Aku berusaha menelepon Taehyung namun nomornya tidak aktif.”


“Ji-Jimin…” ucap Yoongi kaget, masih tak menyangka kalau Jimin yang meneleponnya. “Kau dimana? Apa yang terjadi?”


Jimin meringis di seberang. “Semalam aku dibius dan saat sadar aku sudah berada di bawah jembatan Han bersama Soojung Noona dan ibuku. Mereka masih tak sadarkan diri.”


“Astaga!” ucap Hoseok yang mendengar ucapan Jimin itu. Ini bagaikan kabar baik yang akhirnya datang juga. Seokjin pun sangat kaget mendengar bahwa para sandera selamat tidak disekap.


“Kami akan menjemputmu.” ucap Yoongi buru-buru karena merasa perlu segera menyelamatkan mereka sebelum anak buah sindikat kembali menculik. “Berikan lokasimu, Jimin.”


“Oke, Hyung.” sahut Jimin di seberang.


Akhirnya mereka bergegas menuju tempat yang diberitahu Jimin. Mereka menggunakan dua mobil untuk menuju lokasi. Jungkook sangat was-was dan masih belum tenang. Apa Taehyung yang membebaskan para sandera? Lalu dimana Taehyung sekarang jika tidak bersama para sandera?


Setengah jam kemudian mereka sampai di jembatan Han. Seokjin yang duluan berlari keluar mobil, begitu emosional saat melihat kekasihnya ada di sana, berdiri di sebelah Jimin, sudah sadar dari pengaruh obat bius.


Soojung yang sudah melihat kekasihnya yang berlari itu lantas ikut berlari sambil menangis. Begitu menyesakkan karena Soojung hampir putus asa bahwa dirinya tidak akan selamat dan tidak bisa bertemu orang yang ia cintai lagi. Seokjin langsung merengkuhnya, memeluknya erat-erat seolah ia tidak mau Soojung dibawa pergi lagi dari genggaman tangannya.


“Oppa…” bisik Soojung menangis.


Seokjin pun ikut menangis, menenggelamkan kepalanya di leher wanita yang sangat ia cintai. “I miss you.. I miss you so much.”


Yang lain pun ikut bergegas menghampiri. Untunglah tidak ada luka berarti meski Jimin yang terlihat perlu diobati karena ada beberapa luka lebam di wajahnya. Ibu Jimin pun tampak baik-baik saja meski wajahnya masih menunjukkan trauma.


“Noona!” ucap Jungkook saat Soojung dan Seokjin sudah melepas pelukan.


“Jungkook-ah…” ucap Soojung terharu dan memeluk adik semata wayangnya. Jungkook pun menangis pelan-pelan namun lega karena kakaknya selamat dan dalam kondisi baik.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Hoseok setelah memeluk Jimin.


Jimin menggeleng bingung. “Sepertinya kami dilepaskan oleh sindikat dan dibawa ke tempat ini.”


Namjoon mengernyit. “Kukira Taehyung yang menyelamatkanmu. Kau tidak melihat Taehyung?”


“Aku tidak melihatnya.” kata Jimin heran, belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi.


“Karena dia tidak ada di rumah sejak semalam.” sahut Yoongi getir.


Namjoon dan Hoseok merasa sangat frustasi. Di saat sandera yang lain sudah bebas kini Taehyung yang menghilang?


Hati Jungkook sangat gusar. Ia melihat bagaimana Seokjin dan Soojung kembali berpelukan, lega karena bisa kembali bersama. Jimin yang merangkul ibunya dan sedang mengatakan semua akan baik-baik saja.


Mata Jungkook berkaca-kaca, hatinya sangat terluka, apa semua ini pengorbanan yang diberikan Taehyung?


Dan kini soulmatenya yang menghilang…


🎃🎃



😭😭