Vampire In The City

Vampire In The City
Sandera (2)



Baru bisa update authornya huhu..


Selamat membaca lanjutannya ya, kalo agak lupa bisa baca lagi ep Sandera (1)


🎃🎃



Jimin pulang ke rumah setelah selesai latihan dance malam itu.


“Eomma, aku pulang~” ujarnya sambil membuka pintu. Ia mengernyit heran saat melihat rumah masih gelap, tumben sekali seperti ini dan Eommanya pun tak kunjung menyahut.


“Eomma?” panggil Jimin. Ia ke ruang tengah dan terkejut saat melihat orang-orang tak dikenalnya. Ada pria-pria berpakaian hitam berjumlah 6 orang sedang berdiri dan yang membuat Jimin seperti terkena serangan jantung adalah saat melihat ibunya diikat dan pisau tajam sedang diarahkan ke lehernya.


Jimin sangat syok, mata membola menyadari apa yang tengah terjadi.


“Jika kau mencoba berteriak dan melawan, ibumu akan kugorok.” tukas seorang mafia yang sedang mengarahkan pisau ke leher ibunya.


Ibu Jimin sudah berlinang air mata. Sejak tadi ia terus berdoa bahwa anaknya tidak perlu pulang ke rumah malam ini tapi doanya tidak terkabul. Kini bukan hanya dirinya tapi juga Jimin, tengah berada dalam bahaya.


Jimin tidak melakukan apa-apa saat dua mafia mendatangi dan memegangi tangannya. Mereka mengikat kedua lengan Jimin dengan tali kuat. Mata Jimin berkaca-kaca, ia tidak bisa melawan karena tidak mau ibunya celaka. Bagaimana ini…


“Fiuh.. mudah sekali…” ujar seseorang yang sedari tadi duduk santai di sofa. Jimin sampai tidak menyadari keberadaan orang itu yang duduk di pojok ruangan karena betapa Jimin sangat fokus pada ibunya. Mata Jimin membola saat melihat seorang pria tampan dengan penampilan berkelas dan cerutu diapit di jemarinya.


Ini tidak mungkin… Apa pria itu adalah… Big Bos sindikat? Lee Dongwook?


“Aku sangat suka rumahmu, Nyonya Park,” ujar Dongwook sambil memandang sekeliling, “Mengingatkanku pada rumah orangtuaku dulu.”


“Apa yang kau mau?!” tukas Jimin tidak bisa menahan emosi, “Apa salah ibuku!”


Dongwook melirikkan mata dan memberi smirk dingin. “Well… tidak ada kok. Lucu ya… terkadang manusia yang tidak ada salah harus dipermainkan dulu supaya bisa menyadarkan seseorang. Menarik bukan?”


“Aku tidak mengenalmu! Aku tidak mengerti apa tujuanmu!” Mata Jimin sudah merah karena berang.


“Cih, kau tidak perlu mengenalku.” Dongwook bangkit berdiri, ia menyalakan music player di ruangan itu. Sebuah lagu dari Kevin Morby yang berjudul Harlem River mengalun.


Dongwook mengangguk, terkesan juga dengan lagu yang diperdengarkan.


“Aku tak menyangka ada salah satu lagu favoritku disini…” ucap Dongwook, “Melodi musik yang pas untuk kondisi ini bukan?” Dongwook mengerling pada ibu Jimin yang sedang mengisak pelan.


Dongwook berjalan perlahan sambil menatap Jimin. “Ibumu adalah salah satu peneliti di sindikat. Dulu. Dia pun menjadi member VIP Delicious Pasta karenanya.”


Jimin menahan nafas, menyadari apa yang tengah dibicarakan Dongwook ini.


“Dan aku tak menyangka kalau ada yang memesan fettuccine dengan ID-nya dan malah menghancurkan lokasi transaksi.” tukas Dongwook. “Itu sangat menyebalkan, you know. Aku seharusnya punya hak menghancurkan rumah ini dan ibumu sejak tadi, tapi kutahan.” Dongwook mengekeh pelan, “Aku kasihan karena nantinya kau akan hidup merana.”


Mata Jimin sudah berkaca-kaca. Darahnya mendidih untuk perkataan yang sudah diucapkan Dongwook. Ia tidak pernah menyangka kalau Dongwook bisa melakukan sampai sejauh ini. Apa untuk balas dendam? Atau karena ingin menangkap Taehyung?


Dongwook menyanyi-nyanyi pelan sesuai dengan lirik lagu, tak peduli bahwa Jimin tengah menatapnya dengan benci.


“And Harlem river give me wings…


put my head up in the clouds…”


Dongwook memainkan jemarinya di udara mengikuti melodi musik yang membuatnya semakin bergairah dengan rencana yang akan ia lakukan berikutnya. Jimin menatapnya dengan rasa jijik.


Ponsel Dongwook berdering. Pria itu mengangkatnya dengan nada riang, “Halo?”


Dongwook memberi smirk panjang saat anak buahnya di seberang sedang menginfokan bagaimana penyanderaan di rumah Jeon pun berhasil dengan mudah.


“Aku senang mendengarnya, bawa sandera ke tempat yang kuminta.”


Dongwook menutup komunikasi dan ia menatap Jimin, setengah tertawa. “Sandera yang satunya lagi pun sudah diringkus.”


Jimin menahan nafas saat mendengar ucapan itu. Siapakah yang dimaksud oleh Dongwook?


“Keluarga Jeon, Jimin-ssi…” kata Dongwook seolah bisa mendengar pertanyaan Jimin itu. Dongwook mendengus pelan. “Jeon Jungkook yang sangat kubenci itu… anak yang tak tahu sopan santun.”


Jimin sangat cemas, apa sekarang temannya pun disandera sama seperti dirinya?


“Tapi untuk menambah keseruan permainan ini, aku menculik kakaknya.” lanjut Dongwook dengan senyum mencemooh memandang Jimin. “Supaya semakin menegangkan~!”


Jimin sangat syok mendengarnya. Soojung yang diculik?? Oh God… Jimin tak pernah membayangkan bahwa keadaan jauh lebih buruk.


“Kau penjahat! Tidak punya hati!!” tukas Jimin kesal.


“Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginanku, Jimin-ssi.” ucap Dongwook dengan mata tajam. “Aku akan membuat Taehyung kembali padaku dan menjadi milikku. My ziti.”


Hati Jimin tertohok mendengarnya. Betapa kejinya pria itu melakukan berbagai cara kotor dan bahkan tidak ada rasa kasihan sama sekali ingin menangkap Taehyung untuk dieksploitasi dan dimanfaatkan secara barbar.


Seorang mafia di sebelah Jimin memukul punggung Jimin. Pria itu langsung jatuh berjongkok dengan darah keluar dari mulutnya. Jimin sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi saat dirinya tersungkur ke lantai tak sadarkan diri.


**


Sementara itu Jungkook tengah menginap di tempat Taehyung, tidak menyadari sama sekali dengan keadaan yang sedang dihadapi kakaknya.


Jungkook mengajari Taehyung bermain UNO. Lucu sekali karena vampire yang biasanya jenius dalam akademik kini tampak kewalahan dalam permainan remeh seperti UNO. Jungkook tak bisa henti-hentinya tergelak tawa melihat kepolosan itu.


“Aishh jinjja!!” tukas Taehyung karena kartunya semakin bertambah banyak, sebaliknya kartu Jungkook semakin sedikit.


“Permainan UNO sangat menyenangkan,” ucap Jungkook mengekeh, “Kau tidak bisa menggunakan kekuatan vampire dalam permainan ini.”


“Ughhh…” Taehyung meniup poni keras-keras.


Pintu kamar diketuk dan kepala Hoseok melongok. Ekspresinya penasaran dengan apa yang dilakukan dua insan itu. “Kalian sedang apa?”


“Kami sedang main UNO,” sahut Jungkook, “Ayo, Hyung, ikutan.”


Wajah Hoseok langsung sumringah. “UNO? Itu permainan yang kulakukan saat SMA.”


Taehyung masih memberengut karena betapa dia masih selalu ketinggalan dalam permainan ini. Hoseok melompat ke tempat tidur dan menahan tawa saat melihat tumpukan kartu yang dimiliki Taehyung.


“Kalian bermain hanya berdua tapi kenapa kartu Taehyung bisa sebanyak itu?” tanya Hoseok.


Jungkook kembali tertawa dan Taehyung memasang wajah jengkel. “Sejak bermain dia bukan membuang kartunya tapi menambah kartu baru.”


“Hahaha…” Hoseok tertawa terpingkal-pingkal.


Akhirnya Hoseok ikut bermain dan entah semacam kerja sama, Taehyung menjadi bulan-bulanan dari Jungkook dan Hoseok. Mereka kadang menskip Taehyung, memberikan kartu +2 atau +4, atau sepakat bekerja sama memberikan kartu yang tidak dimiliki vampire itu sehingga harus mengambil kartu sanksi.


Kamar dipenuhi dengan gelak tawa. Meski selalu kalah tapi Taehyung ikut tertawa juga. Dia tidak pernah tahu permainan UNO padahal dulunya dia adalah manusia. Ini sangat menyenangkan!


Setengah 12 malam akhirnya permainan dihentikan supaya mereka bisa istirahat, besok masih ada perkuliahan yang harus diikuti.


Taehyung dan Jungkook sudah berbaring, lampu sudah dimatikan, hanya sedikit penerangan dari lampu kamar mandi yang masih menyala.


“Kudengar Seokjin Hyung melamar kakakmu ya?” tanya Taehyung.


Secara spontan Jungkook langsung nyengir. “Yeah, kakakku sangat senang, entah berapa kali ia memamerkan cincin di jarinya.”


“Aku sangat senang. Aku tak pernah menyangka bahwa Hyung benar-benar akan menikah dengan manusia.”


“Yeah… Aku pun tak menyangka sama sekali. Kau harus tau, Tae, bahwa kakakku lebih membenci vampire sejak dulu. Itu sebabnya dia menekuni olahraga menembak,” tutur Jungkook, “Mungkin takdir ini sedang berusaha menengahi dunia manusia dan vampire.”


Taehyung mengekeh renyah dan mengangguk. Ah dia jadi ingat bagaimana para hyungnya mengatakan bahwa dia dan Jungkook adalah soulmate. Itu juga sepertinya rencana takdir. Dan kalau dipikir pun Taehyung mengakuinya, ia mulai menerimanya. Tidak buruk juga bukan.


“Jungkook…” ucap Taehyung. Dia ragu apa yang menjadi reaksi manusia itu kalau diberitahu bahwa dirinya merupakan soulmate dari seorang vampire.


“Ung… Bagaimana menurutmu jika kau tahu kau adalah soulmate dari seorang vampire?”


Jungkook mengerutkan kening. Jimin pernah membahasnya, hyung lain pun pernah menggodanya mengenai hal ini, mengenai dirinya adalah soulmate dari vampire.


Taehyung menjadi panik karena Jungkook yang tak menjawab, nah kan Jungkook pasti akan menolak hal ini, mungkin baginya itu adalah suatu keanehan dan kekejian.


“Ma-maksudku… Aku tahu itu sangat aneh. W-well, bukan berarti kau harus menerima atau bagaimana, ini hanya contoh dan aku hanya menanyakannya.”


Ini memalukan karena Taehyung rambling seperti ini.


Jungkook menahan senyum. “Kalau aku jadi soulmate seorang vampire? Hmm… aku tidak keberatan sih, Tae.”


Mata Taehyung seketika membesar.


“Pasti ada alasan dan tujuan jika itu terjadi,” lanjut Jungkook, “Aku tidak menyalahkanmu kalau kau berpikir aku akan menentangnya karena memang betapa perlakuanku padamu sebelumnya, Tae.”


Taehyung menenggak ludah dalam-dalam. Dia bahkan belum mengatakan bahwa Jungkook adalah soulmatenya tapi dari perkataan Jungkook itu…seolah…


“A-aku tadi tidak mengatakan kalau soulmatemu adalah–“


Jungkook mengekeh. “Apa itu tidak obvious? Semua sudah cukup jelas kurasa. Bagaimana kau hanya bisa meminum darahku dan aku yang bisa melihat memori lamamu… atau bagaimana kita bisa saling mengirim telepati.”


“K-kau tidak keberatan??” tanya Taehyung lagi berusaha meyakinkan jika saja Jungkook ingin menyesal.


“Kenapa harus keberatan?” tanya Jungkook sedikit bingung. Dia dan Taehyung sudah sangat dekat. Jungkook juga dekat dengan vampire-vampire lain, dia tidak keberatan sama sekali dengan title soulmate itu. “Atau… kau yang keberatan?”


“Anni..” sahut Taehyung berusaha menahan senyum, lega karena dia tidak penasaran lagi dengan reaksi Jungkook mengenai soulmate. “Congrats, kau adalah soulmate dari seorang vampire.”


Jungkook mendengus pelan. “Congrats juga untukmu, Tae, menjadi soulmate dari manusia biasa.”


Taehyung melempar bantal ke wajah manusia itu. “Good nite, Jungkookie.”


Jungkook tertawa pelan. “Yeah, good nite, Tae.”


****


Esok paginya Seokjin tampak uring-uringan. Dia mondar mandir di ruang keluarga sementara ponsel di tangan. Dia mencoba menghubungi Soojung namun ponsel kekasihnya tidak aktif. Ini aneh, tidak biasanya. Sebentar lagi Seokjin akan menjemput Soojung ke rumahnya tapi begitu ganjil karena Soojung tidak mengaktifkan ponsel.


Namjoon memandangi sang Alpha sambil meneguk susu. Dia tidak tahu apa yang membuat Alpha itu resah.


Jungkook dan Taehyung turun dari tangga sedang asyik bercanda mengenai kuliah nanti. Mereka langsung tertegun saat melihat Seokjin yang mondar mandir.


“Ada apa?” tanya Jungkook ingin tahu.


“Ponsel Soojung tidak aktif,” sahut Seokjin, “Tidak biasanya.”


“Mungkin ponselnya mati,” kata Namjoon, “Bukankah Hyung akan menjemputnya?”


Jungkook mengernyit. Ia pun mencoba menghubungi ponsel kakaknya yang ternyata betul tidak aktif. Adalah hal yang tidak biasa Soojung mematikan ponselnya, bahkan saat tidur biasanya ponsel masih aktif dan ditaruh di meja kecil sebelah tempat tidur.


“Aku akan pergi menjemputnya.” ujar Seokjin akhirnya, meski ini masih terlalu cepat untuk menjemput kekasihnya. Entah kenapa kepanikan Seokjin kian bertambah, tidak tenang dengan non aktifnya ponsel sang kekasih.


Jungkook memberi anggukan. Mungkin kekuatirannya bukan apa-apa, lagipula Seokjin Hyung akan menjemput ke rumah.


Jungkook dan Taehyung pun bersiap berangkat ke kampus. Semua masih berjalan normal, untuk sesaat kecemasan dan kekuatiran Jungkook hilang.


Namun saat mereka sudah tiba di kampus dan baru saja memasuki gedung jurusan, ponsel Jungkook berdering. Ia mendapat panggilan dari Seokjin.


“Ne, Hyung?” tanya Jungkook dengan mengernyit cemas.


“Jungkook, kakakmu belum keluar juga dari rumah…” ucap Seokjin dengan nada tegang, “Aku sudah sejak tadi menunggunya. Aku tidak berani memasuki rumahmu tanpa ijin. Apa Pamanmu tidak di rumah? Karena aku memencet bel pun tidak ada yang menjawab.”


Mata Jungkook membesar. “Aku akan coba telpon Pamanku, Hyung.”


“Oke, gomawo, Kook.”


Setelah komunikasi itu berakhir, Jungkook segera menelepon pamannya. Taehyung berdiri di sebelahnya dengan wajah serius, sejak tadi sudah bisa mendengar apa yang menjadi pembicaraan Seokjin. Ini pasti hal yang tak biasa karena wajah Jungkook tampak sangat kuatir.


Setelah beberapa saat akhirnya pamannya itu menjawab telpon. “Ne, Kook?”


“Paman sedang dimana? Apakah Paman ada di rumah?”


“Hmm? Oh ya Paman belum sempat memberitahukan bahwa kemarin sore Paman berangkat ke luar kota karena ada pertemuan hunter dengan kota lain.”


Wajah Jungkook semakin mengeras tegang. Ini artinya pamannya tidak ada di rumah.


“Paman sudah mengirim pesan pada kakakmu semalam. Kau menginap di tempat teman ya?”


Jungkook merasa ia harus cepat pulang untuk mencaritahu apa yang terjadi. “A-anni. Paman sudah dulu ya.”


Jungkook mengakhiri panggilan dan menoleh pada Taehyung. “Tae, aku harus pulang ke rumah. Kau kuliah saja, aku akan mengabarimu–“


“Aku ikut.” potong Taehyung. Bagaimanapun ia akan menemani Jungkook, bagaimana jika ada bahaya yang datang menghadang soulmatenya.


Jungkook membalas tatapan serius vampire itu dan akhirnya memberi anggukan. Keduanya pun segera kembali ke tempat parkir untuk pergi ke rumah Jungkook.


.


.


Mereka tiba di rumah, Seokjin berdiri di depan mobil dengan kening berkedut. Melihat ekspresinya saja sudah ketahuan bahwa Soojung masih belum bisa dihubungi.


Jungkook bergegas keluar dari mobil mendatangi Seokjin.”Hyung, Pamanku ternyata tidak ada di rumah karena urusan pekerjaan di luar kota.”


Seokjin tersenyum tipis, sudah ia duga.


Akhirnya ia, Jungkook dan Taehyung masuk ke dalam rumah. Jungkook yang membuka sandi pagar. Ia berlari masuk ke dalam rumah sambil memanggil kakaknya. “Noona?”


Rumah dalam kondisi kosong, tidak ada siapapun karena tak ada yang menyahut, tidak ada suara apapun.


Jungkook pergi ke kamar kakaknya diikuti Seokjin, berharap kakaknya masih tidur saja atau sakit. Memikirkan ada hal lain yang lebih buruk telah terjadi membuat Jungkook panas dingin.


Kamar kakaknya itu kosong. Jungkook dan Seokjin bahkan sampai mengecek kamar mandi, mengecek apa ada tanda-tanda perampokan atau bagaimana, namun semua barang tetap ada di tempatnya dengan normal.


Sementara itu Taehyung masih di ruang tengah. Ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ia melihat ada pesan masuk dari Jimin. Taehyung pun membukanya dan ia sangat kaget melihat foto yang dikirimkan, foto dimana Soojung, Jimin dan ibunya yang duduk terikat di lantai dengan mulut yang juga ditutup. Ketiganya seperti sedang disekap oleh orang jahat.


Kaki Taehyung langsung lemas, ia begitu syok sampai harus berpegangan ke dinding, menyangga badannya ketika membaca pesan di bawah foto itu :


You blocked my number so I use this phone.


Can’t wait to see you again : )


Taehyung merasa lehernya tercekat, seperti tercekik. Kini dia sadar betul kalau semua itu adalah perbuatan Dongwook… mengenai Soojung yang tidak ada di rumah… bahkan Jimin dan ibunya pun…


Ini seperti mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan. Dia tak pernah menyangka bahwa Dongwook benar-benar akan menggunakan orang-orang di sekelilingnya seperti ini.


🎃🎃



Plot twistnya disini.. bukan hanya Soojung yg diculik 🙏 tp juga Jimin dan ibunya 😭


Bagaimana kisah kelanjutannya?


Jangan lupa dukung dg memberi jejak, komentar dan vote🙂