Vampire In The City

Vampire In The City
Pendengaran Vampire




Seokjin menuju tempat parkiran menjelang malam. Tadi dia ada rapat bersama rektor, sangat melelahkan. Seokjin tak tahan jika terus menerus duduk di kursi mendengarkan omongan rektor yang tak ada habisnya, berbicara berputar-putar tanpa tujuan. Untuk apa rapat jika rektor itu hanya peduli dengan pendapat dan pemikirannya sendiri, membuat kepala Seokjin sangat penat.


Saat akan berbelok ke parkiran ia melihat Soojung sedang berdiri dengan seseorang dekat gerbang. Meski jarak mereka cukup jauh, Seokjin bisa mendengar pembicaraan dua manusia itu karena telinga vampirenya. Tidak ada tujuan menguping, namun Seokjin berhenti dan mendengarkan pembicaraan dua manusia itu.


“Aku tak bisa ikut denganmu, Kai…” ujar Soojung, “Kau tahu aku tidak suka tempat seperti itu.”


“Club tempat yang menyenangkan, Babe. Dan umur kita sudah matang.”


Mata Soojung menatap Kai tajam. Wanita ini tipe orang sangat berprinsip, sekali dia tidak suka maka dia tidak akan pernah mau melakukannya. Meski Kai adalah pacarnya tapi Soojung tidak akan mau pergi ke tempat itu. Soojung tidak pernah melarang Kai dengan dunia malamnya, by the way.


“Apa kau tidak ingin minum denganku? Menghabiskan malam bersamaku?” Mata Kai menatap kekasihnya dengan memohon.


Soojung memutar bola mata. “Kai.”


“Aku akan mengantarmu pulang sebelum jam 12 malam!”


Soojung kembali menggeleng. Inilah hal yang kurang ia sukai dari Kai. Pergaulan Kai cukup buruk, berada di sekitar dunia malam dan Kai selalu berusaha menyeret Soojung ke sana. “I’m sorry, Kai.”


Ingin rasanya Kai merutuk dan berbicara kasar namun ia melipat bibirnya menahan semua itu. Dia selalu tidak punya kesempatan untuk membawa Soojung ke club, memamerkannya pada teman-temannya bahwa pacarnya cantik.


“Okay… Kalau begitu kau bisa pulang sendiri kan? Aku tidak bisa mengantarmu pulang.”


Soojung terdiam sesaat dan memandang Kai dengan wajah datar. “Oke.” Wanita itu pun berbalik pergi dan Kai hanya mendengus keras-keras lalu pergi ke arah yang berlawanan, ke arah parkiran.


Seokjin menatap kepergian Soojung. Tidak gentle sama sekali pria bernama Kai itu. Apa ia sedang memberikan pembalasan karena Soojung menolak ajakannya? Bagaimana mungkin dua manusia itu disebut sepasang kekasih?


Seokjin berjalan ke arah jeep-nya. Hatinya tergerak ingin menawarkan tumpangan pada Soojung. Tapi ini pasti terlihat mencurigakan. Untuk apa seorang dosen mengantar mahasiswanya pulang? Seokjin geleng-geleng sambil terkekeh, dia terlalu mencampuri urusan orang lain, terutama mengenai Soojung.


Seokjin menyalakan mesin mobilnya, berusaha mengenyahkan niatnya itu.


Soojung berjalan sambil mengeluarkan earbudnya, memasang di kedua telinga. Kalau hatinya sedang pahit seperti ini Soojung akan mendengarkan musik keras-keras di telinga, supaya meredam suara amarah dalam hati.


Soojung menaikkan volume musik. Lagu Bring Me To Life dari Evanescence mengalun. Meski ini lagu lama bahkan saat dia masih SD, Soojung menyukai lagu ini karena baginya ini seperti lagu antara manusia dan vampire.


Soojung mempunyai dendamnya sendiri pada vampire bukan hanya karena orangtuanya mati dibunuh vampire. Ayah Ibunya mati saat ia masih kecil dan ia tidak menyaksikan apa yang terjadi, pamannya hanya mengatakan bahwa vampire yang membunuh mereka. Seperti dongeng, seperti cerita hisapan jempol, Soojung tidak terlalu memikirkannya sementara kebalikannya untuk Jungkook, hal itu men-trigger Jungkook untuk membenci vampire. Untuk Soojung, dia punya pengalaman lain yang lebih real… yang membuatnya ingin membunuh vampire dengan tangannya sendiri suatu hari kelak.


Saat dia masih SMP, ada 2 vampire yang menghisap darahnya. Itu kejadian tidak mengenakkan, mengerikan dan penuh trauma bagi Soojung. Dia tak akan pernah melupakannya, bagaimana salah satu vampire menggigit lehernya sementara yang lainnya menggigit lengannya. Tidak bisa melawan, hanya bisa menahan sakit. Setelah itu Soojung tidak tahu apa yang terjadi, mungkin ada polisi atau orang yang menyelamatkannya. Saat sadar, Soojung sudah berada di rumah sakit. Anehnya dia diklaim telah mengalami kecelakaan, diserempet mobil. Tidak ada yang percaya pada ucapan anak SMP bahwa ia digigit vampire! Luka di lehernya yang berwarna biru dianggap lebam akibat mengenai trotoar. Soojung sama sekali tidak mengerti mengapa para dokter dan polisi tidak mempercayainya, bahkan polisi itu mengatakan ia melihat sendiri bagaimana Soojung mengalami kecelakaan?


Katakanlah ia berhalusinasi… tapi bagaimana mungkin dia sama sekali tidak mengingat kejadian tabrakan itu sama sekali.


Sejak itu Soojung berkomitmen akan menemukan vampire. Cerita dari pamannya yang merupakan hunter membuat Soojung mempercayai bahwa vampire memang ada… dan masih ada.


***


Sore itu pulang kuliah, Taehyung dan Jungkook akan mengerjakan tugas kelompok Kimia Organik. Jungkook mengatakan sebaiknya mereka mengerjakan di kafe saja supaya mereka bisa sambil minum atau makan. Taehyung sangat excited, meski dia tidak suka dengan mata kuliah ini tapi dia cukup menanti-nantikan kerja kelompoknya dengan Jungkook. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana pergi ke kafe bersama teman manusia.


Taehyung mengikuti Jungkook dari belakang. Tadi Jungkook mengatakan mereka bisa makan tteobokki di kafe itu. Taehyung sangat senang sekali. Dia senang bisa menjadi seperti manusia normal, makan tteobokki sepulang kuliah.


Taehyung mendengar sebuah dentuman lagu di telinga vampirenya. Ia pun langsung berbelok arah karena penasaran. Suara musik itu berasal dari sebuah ruangan yang tak jauh di lorong. Tanpa berpikir panjang Taehyung membiarkan kakinya melangkah ke sana.


Untungnya Jungkook belum terlalu jauh saat menyadari Taehyung sudah berubah haluan. “Hei, Kim…” panggil Jungkook heran karena Taehyung berjalan ke arah yang salah. Taehyung tidak menyahut maka Jungkook pun mengikuti Taehyung, bingung sebenarnya ingin kemana mahasiswa itu.


Taehyung melihat dari luar jendela ke dalam ruangan. Seorang mahasiswa sedang menari sendirian. Gerakannya luwes dan lincah. Dia menari dengan sangat baik dan indah. Mahasiswa itu bahkan bisa menari melompat di udara bagaikan balerina. Mata Taehyung membesar, terpukau.


Jungkook berdecak saat sudah sampai di belakang Taehyung. “Apa kau ingin kabur dari kerja kelompok, hm?”


Jungkook ikut melihat ke arah yang ditatap Taehyung, bersamaan dengan mahasiswa yang menari itu langsung berhenti dan melihat ke arah jendela, tepat melihat ke arah Taehyung dan Jungkook.


Jimin, mahasiswa yang menari itu, awalnya bingung, namun melihat Jeon Jungkook, dia cukup tercengang. Jimin mematikan music player dan segera keluar mendekati keduanya.


Mata Taehyung terus mengikuti gerak gerik Jimin hingga akhirnya Jimin berdiri di hadapannya. Jimin memandang Taehyung dengan bingung, mungkin heran melihat ada mahasiswa memakai jumpsuit berwarna mencolok, sedang memandanginya dengan mata besarnya.


Jimin mengalihkan pandangannya kini pada Jungkook. “Huh, Jeon? Tak tahu kau akan disini.”


Jungkook membalas tatapan Jimin. Sebenarnya Jimin adalah teman SMP Jungkook, keduanya sempat akrab namun karena berbeda karakter membuat hubungan keduanya renggang. Jimin tipikal kurang sabaran dan mudah marah, sementara Jungkook sosiopath, tidak peduli dengan orang lain. Perbedaan karakter yang begitu besar di keduanya membuat pertemanan mereka hambar.


“Jimin-ssi… sudah lama…” sahut Jungkook akhirnya basa basi. Dia tahu Jimin satu kampus dengannya, Jungkook tidak pernah berniat untuk menemui Jimin seperti ini.


Taehyung menoleh ke belakang pada Jungkook, terpana karena Jungkook mengenali dancer itu.


“Lalu ini siapa?” tanya Jimin sambil melihat Taehyung yang plongo.


Jungkook mengangkat bahu saja, dia sendiri tidak tahu mengapa Taehyung ke tempat ini padahal tujuan utama mereka kerja kelompok.


Jimin tersentak lalu akhirnya tertawa renyah, geli melihat polosnya mahasiswa ini. “Jinjja? Gomawo.”


“Keren!” ucap Taehyung lagi. Jungkook hanya memutar bola mata mendengarnya. Taehyung selalu saja melebih-lebihkan sesuatu. Ini bisa membuat Jimin merasa besar kepala.


Jimin membalas senyum, ia lalu menoleh pada Jungkook. “Siapa dia? Keponakanmu?”


Jungkook mendengus. “Dia teman sekelasku.”


“Whoa…” Senyum Jimin semakin lebar diberikan untuk Taehyung. Ia pikir Taehyung lebih muda dari mereka dikarenakan penampilan serta kepolosan Taehyung. “Salam kenal, aku Jimin.”


Mata Taehyung membesar, berbinar-binar karena ada seseorang yang memperkenalkan diri padanya. Apakah ini artinya Jimin menjadi chingu nomor duanya?


“Aku Taehyung…” balasnya dengan semangat.


“Senang berkenalan denganmu, Taehyung,” ucap Jimin dengan eye smile, “Aku agak takjub karena Jungkook bersama teman sekelasnya.”


“Shut up. Kami akan kerja kelompok dan kau sudah merusaknya.” tukas Jungkook.


Jimin menaikkan sebelah alis. “Excuse me? Bukannya kau yang sudah menggangguku di tengah-tengah latihanku?”


“Aku tidak–“


“Suaramu yang membuat aku terhenti, Jeon.” Jimin menghembuskan nafas keras-keras. “Bisakah kau sedikit empati?”


Jungkook kembali memutar bola mata, tidak mengerti dengan maksud Jimin namun Jungkook juga tidak akan peduli. Ia menarik tas Taehyung. “Ayo, Kim, kita kerja kelompok.”


“Uh..oh…” Tas Taehyung ditarik membuat Taehyung terseret mundur karena Jeon Jungkook. Taehyung melambaikan tangannya pada Jimin. “Sampai jumpa lagi, Jimin Chingu~!!”


Jimin tertawa kecil mendengarnya. Ia membalas melambai. “Dah, Taehyung~~ Yang sabar ya saat bersama Jeon Jungkook.”


Jungkook menoleh karena ucapan Jimin itu. Ia meniup poni keras-keras. Jimin masih sama seperti dulu, usil dan senang mengganggunya padahal dua hal itu yang paling tidak disukai Jungkook.


Baru saat mereka sudah sampai kafe, Taehyung menanyakannya, darimana Jungkook mengenal Jimin.


“Kau mengenal Jimin Chingu?” tanya Taehyung. Daftar menu benar-benar ia abaikan karena lebih tertarik mendengar jawaban Jungkook.


“Uh yeah? Teman SMP…” jawab Jungkook singkat dan memilih menyibukkan diri membuka-buka menu.


“Kalian pasti sangat dekat!” ucap Taehyung, “Jimin Chingu memang jago menari sejak dulu?”


“Bisakah kau tidak menyebutnya Jimin Chingu? Itu terdengar aneh.” Jungkook memijat keningnya, seharusnya dia tidak kaget dengan keanehan Taehyung.


“Apa Jimin sudah jago menari sejak dulu?” tanya Taehyung lagi.


Sejak SMP Jimin memang sudah suka menari tapi setahu Jungkook tidak sehebat seperti sekarang. Progress Jimin berkembang sangat baik, sepertinya Jimin berlatih ekstra dan mengasah kemampuannya.


“Dulu dia tidak hebat menari.”


“Berarti menurutmu sekarang dia hebat ya?” Taehyung mempermainkan jawaban Jungkook.


Jungkook mengangkat bahu cuek, mata menatap menu. “Aku ingin memesan milk shake dan kentang goreng.”


Perhatian Taehyung teralihkan pada menu makanan. Ia membalik-balik menu dengan semangat, sambil membaca nama menu dengan excited. “Aku juga ingin milkshake strawberry, dengan ekstra susu. Lalu tteobokki dengan topping sosis dan mandu.”


Jungkook menatap Taehyung, agak tercengang. “Kita mau kerja kelompok atau mukbang?”


Taehyung mengangkat kepala terkejut. ”A-anni. Tentu saja kita akan kerja kelompok.”


“Bagaimana kau bisa kerja kelompok jika ada tteobokki dan mandu?” Jungkook melipat tangan di depan dada.


Taehyung hanya nyengir hambar. “Arraseo, arraseo… Aku akan memesan milk shake dan cookies saja.”


“Kita bisa memakan yang lain setelah kerja kelompok ini berjalan dengan baik.”


Wajah Taehyung kembali berubah menjadi ceria, cepatnya perubahan ekspresinya selalu membuat Jungkook terkejut. “Yep. Mari kita mulai, Jeon Jungkook Chingu.”


🎃🎃


Semoga suka dengan ceritanya, jangan lupa berikan dukungan dengan memberikan like, komen dan vote.


Tetap nantikan ya. Gomawoo