
Happy birthday Jin 🎉
🎃🎃
Setelah mereka pindah ke rumah yang baru, ada clan Kim, Jungkook, Soojung juga Jimin, mereka semakin berhati-hati bahkan saat pergi kuliah sekalipun. Jungkook dan Taehyung belum diijinkan mengikuti kuliah, bukan karena luka fisik yang dialami tapi juga mewaspadai jangan-jangan sindikat akan melakukan hal jahat lagi pada Taehyung dan Jungkook. Sementara yang lain tetap mengikuti kuliah namun akan langsung pulang bersama tanpa kemana-mana dulu. Hoseok dan Namjoon diminta untuk membantu mengawasi Jimin di kampus, untungnya gedung kuliah mereka berdekatan. Sedangkan Soojung akan diawasi langsung oleh kekasihnya yang protektif.
Tidak bisa pergi kuliah membuat Taehyung dan Jungkook harus stuck di rumah ditemani Yoongi. Sebisa mungkin Taehyung tidak mau menciptakan suasana menegangkan. Ia tidak mau terus-terusan membahas masalah sindikat jika hanya akan memberikan kepenatan untuk Jungkook.
Jadi kadang Taehyung membantu Yoongi dalam menyiapkan makanan atau membuat dessert. Taehyung berharap suasana di rumah bisa kembali normal, kembali nyaman untuk semuanya.
Seperti saat ini ia di dapur menemani Yoongi yang sedang memasak. Taehyung sebenarnya tidak bisa memasak, secara teknis dia hanya melihat saja, yah kadang membantu jika Yoongi membutuhkan diambilkan peralatan memasak.
“Lokasi sindikat sudah diketahui,” ujar Yoongi membuka pembicaraan sementara tangannya sedang mengiris-iris daging. “Tinggal kita harus menyiapkan rencana matang untuk menghancurkannya.”
Taehyung sedikit mempoutkan mulutnya. Tidak bisakah mereka membiarkan saja dan berpura-pura tidak perlu berbalas dendam dan menjalani hidup dengan normal di tempat ini? Taehyung tidak mau yang lain harus menghadang bahaya lagi ketika berhadapan dengan sindikat.
“Kau harus mengerti… jika kita hanya membiarkan sindikat kotor itu terus ada, hidup kita tidak akan pernah tenang, Tae.” ucap Yoongi sambil menoleh. “Bukankah hidupmu juga tidak akan tenang kalau orang-orang itu masih bisa bernafas?”
Yoongi memang benar tapi Taehyung tidak mau mengambil resiko.
“Karena kalau kita biarkan, cepat atau lambat sindikat akan kembali melakukan yang jahat pada kita.” tambah Yoongi. “Kita tidak bisa bersembunyi terus menerus seperti ini, Tae, tetap tidak aman. Satu-satunya jalan adalah menghancurkan mereka.”
Taehyung mere.mas-re.mas kedua tangan. “Tapi aku tidak ingin membahayakan kalian lagi.”
“Kau ini bicara apa. Ini bukan dendammu lagi, ini sudah menjadi masalah bersama, masalah genting. Organisasi kotor semacam itu sudah sepantasnya dihancurkan supaya tidak menambah korban lagi. Aku tidak ingin ada manusia yang diujicobakan lagi seperti yang kau alami. Orang-orang di sindikat itulah yang merupakan monster, Tae.”
Taehyung memandang Yoongi dengan takjub. Kini ia semakin yakin kalau sindikat memang pantas untuk dihancurkan. Kalaupun akan ada bahaya yang mereka hadapi di depan, itu adalah pengorbanan yang harus dilakukan demi perdamaian dunia.
Taehyung akhirnya mengangguk. Keduanya pun kembali fokus memasak. Tiba-tiba ada suara Jungkook di dalam kepala Taehyung. Manusia itu mengirimkan telepatinya.
“Tae, sedang apa? Bisakah kau ke kamar dan membantuku?”
Taehyung menahan senyum. Ini begitu unik karena keduanya bisa berkomunikasi di dalam pikiran. Sangat lucu.
“Oke. One minute, Sir.” ucap Taehyung di dalam kepalanya.
“Aku ke kamar dulu ya, Hyung…” kata Taehyung pada Yoongi, “Jungkook memanggilku.”
Yoongi mengernyitkan alis dengan bingung. “Aku tidak mendengar dia memanggilmu.”
“Eh, maksudku, kurasa aku harus mengeceknya… hehe.” Taehyung menahan tawa, geli melihat wajah hyungnya. Ini menyenangkan karena Taehyung dan Jungkook bisa berkomunikasi tanpa siapapun bisa mendengar atau menguping mereka.
Taehyung memberi senyum kotaknya lalu pergi meninggalkan dapur, ke atas menuju kamar. Di dalam kamar rupa-rupanya Jungkook sedang duduk di kursi belajar, sedang menggambar sesuatu di sketch booknya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Taehyung dan mendekati Jungkook.
“Menggambar.” sahut Jungkook.
“Wow, kau bisa menggambar sangat bagus, Kook.” puji Taehyung dan terpukau melihat arsiran pensil di kertas, pemandangan alam yang sangat indah sedang dilukis Jungkook.
“Gomawo.” Jungkook mengekeh sambil menunjukan gigi kelincinya. “Aku bosan tidak bisa melakukan apa-apa, jadi aku mulai menggambar.”
Taehyung masih mengamati lukisan Jungkook dan semakin yakin kalau Jungkook punya bakat dalam melukis selain bakatnya dalam fotografi dan boxing. Ternyata Jungkook multi talent.
“Oh ya, tadi kau memanggilku karena ingin meminta bantuan?” tanya Taehyung.
“Hehe. Aku hanya bosan. Mau main UNO?”
Taehyung tertawa pelan. “Kau ingin menyiksaku lagi dalam permainan konyol itu ya?”
“Itu bukan permainan konyol. Itu permainan yang butuh skill dewa.”
Taehyung memutar bola mata membiarkan lengannya ditarik Jungkook ke tempat tidur. Jungkook mengeluarkan kartu UNO dari laci dan kini mereka duduk di atas tempat tidur.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan kartu UNO?-_-“ tanya Taehyung, “Apa kau bahkan mengingatnya saat pindah ke rumah ini?”
Jungkook memberi cengiran. “Hoseok Hyung menghadiahiku kartu UNO beberapa hari yang lalu supaya aku terhibur. Dia mengajakku bermain tapi aku tidak ada mood saat itu.”
Taehyung hanya mengangguk-angguk. Tentu saja Jungkook tidak ada mood bermain saat dirinya sedang mencemaskan Taehyung yang masih ditawan di sindikat.
Maka keduanya pun bermain UNO. Tawa pecah di ruangan itu karena seperti biasa Taehyung masih belum mahir bermain dan kartunya malah semakin banyak. Yoongi yang bisa mendengar mereka dari bawah hanya geleng-geleng, tapi senang juga akhirnya atmosfer rumah ini tidak berkabung seperti sebelumnya.
Setelah berjam-jam main UNO keduanya turun ke bawah untuk makan siang karena Yoongi yang memanggil. Ketiganya makan bersama dan mengobrol dengan ringan, membicarakan lingkungan rumah, membicarakan orang-orang di sekitar yang ramah tapi tidak julid.
Setelah makan Yoongi memberikan dessert cheese cake red velvet untuk dimakan keduanya. Ini bagaikan mengurus kedua bocah sampai harus menyediakan dessert segala. Taehyung dan Jungkook penggemar dessert buatan Yoongi, jadi mereka menerimanya dengan gembira. Mereka memakannya di balkon sambil merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus.
“Jungkook, menurutmu kalau aku sembuh dari trauma, apa artinya kepribadianku yang satu lagi tidak akan bisa muncul?”
Jungkook menoleh dan memandang Taehyung.
Taehyung memberi senyum tipis. Jujur saja dia tahu apa yang pernah dipikirkan Taehyung innocent beberapa minggu lalu. Bagaimana kepribadian itu takut dan cemas kalau dirinya tidak akan bisa muncul lagi, karena dirinya yang bukan kepribadian asli, muncul hanya bergantung pada keinginan V. Dan bagaimana kepribadian itu berusaha menguatkan diri bahwa dirinya cukup penting untuk clan Kim dan teman-temannya. Bukankah memang kepribadian itu yang lebih dulu mengenal clan Kim , Jungkook dan Jimin?
“Bagaimana pun awalnya yang kalian kenal adalah Taehyung yang innocent. Kemunculanku sudah tiba-tiba dan nampaknya merusak kedamaian yang ia harapkan bukan?”
Jungkook mengernyitkan alis.
“Dia pasti takut jikalau aku akan merampas teman-teman dan orang yang ia sayangi.” Taehyung setengah menunduk dengan wajah sendu. “Kemunculanku tiba-tiba. Aku seperti pengganggu yang–“
Ucapannya terpotong karena Jungkook yang memegangi bahunya. Taehyung tercengang, mengangkat wajah melihat Jungkook. Manusia itu menatap dengan ekspresi sangat serius.
“Kalian satu, kalian sama.” kata Jungkook tegas. “Dibandingkan kau memikirkan bahwa diri kalian berbeda, kau sebaiknya berpikir bahwa kalian adalah kepribadian yang sama.”
Taehyung tersenyum getir. “Apa maksudmu, Jungkook? Kami berbeda.”
“Anni.” kata Jungkook dengan sedih. “Nyatanya Vincent sebelum berubah menjadi vampire mutan merupakan kepribadian ceria dan innocent.”
Mata Taehyung membesar.
“Apa aku salah?” tanya Jungkook. Wajahnya memelas dan sedih memandang Taehyung. Ia memegang tangan vampire itu. “Kenapa kau masih saja meremehkan dirimu sendiri? Kenapa kau selalu berpikir bahwa kau adalah monster, tidak layak, tidak pantas untuk menjalani hidup?”
Taehyung sangat tercengang mendengar perkataan Jungkook. Kata-kata itu sangat menohok namun benar adanya. Mata Taehyung berkaca-kaca, berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
“Kau berharga, Taehyung. Aku akan mengatakannya tiap hari sampai membuatmu yakin bahwa kau berharga. Kau pantas hidup, kau pantas dicintai.”
Air mata Taehyung menetes. Salahkah dia jika selama ini berpikiran kebalikan dari ucapan Jungkook? Sejak kecil dia tinggal di panti, menganggap dirinya sudah dibuang dan tidak diinginkan oleh keluarganya sendiri. Dan bahkan saat ia merasa mulai ada secercah harapan untuk masa depannya, mengiming-imingkan menjalani hidup seperti manusia kebanyakan–dicintai dan mencintai–ia malah ditipu dan dijadikan bahan percobaan sindikat. Harapannya seketika sirna dan betapa ia berhenti berharap, betapa ia membenci dirinya yang sudah bukan manusia lagi, menganggap badannya adalah sampah. Tidak ada tujuan hidup, hanya hampa dan hati yang kosong. Ia biarkan dirinya berpura-pura menjadi kepribadian baru yang innocent supaya tidak perlu dihantui dengan luka masa lalu.
Dia sendirilah yang menciptakan kepribadian lain itu. Dialah yang mengontrol dan mengendalikannya.
Taehyung tak bisa menahannya lagi, ia menangis terisak-isak. Kesedihan tidak dapat terbendungi lagi. Seolah Jungkook sudah melihat dirinya apa adanya, tahu apa yang disembunyikan di kedalaman hatinya yang tak seorang pun tahu.
Jungkook menarik Taehyung ke dalam pelukannya dan tangis vampire itu semakin keras. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan soulmatenya, menunjukkan dirinya yang selama ini memang rapuh. Taehyung berusaha menipu diri sendiri dan orang lain dengan memakai topeng. Padahal dirinya hanya takut tidak diterima orang lain sebagaimana ada dirinya sebagai vampire mutan. Dirinya tidak bisa menerima keberadaannya sebagai vampire mutan dan dia berpikir orang lain mungkin akan berpikiran hal yang sama. Itu sebabnya Taehyung membuat kepribadian lain yang innocent untuk menutupi luka dan trauma yang ia alami.
“I’ll be your medicine…” bisik Jungkook, “Keluarkan semuanya, Tae. Aku ingin kau sembuh dengan total.”
“You’re so precious, Tae.” gumam Jungkook memeluk dengan erat. Air mata mengalir lamat-lamat di pipi manusia itu. “Please… believe me.”
Taehyung menangis, perlahan-lahan beban berat yang tersisa di dadanya menguap hilang. Taehyung merasa hatinya semakin ringan. Jungkook secara ajaib benar-benar bisa menyembuhkannya seperti ini. Tidak akan ada lagi beban yang ia tanggung dan sembunyikan.
Taehyung mulai menerima dirinya… sama seperti Jungkook dan yang lain menerima keberadaan dirinya sebagai vampire mutan. Memang menyakitkan harus menerima jalan hidupnya yang seperti ini tapi Taehyung tidak bisa berjalan mundur. Tidak bisa selamanya ia hidup dalam trauma masa lalu.
Sementara itu di ruangan lain Yoongi yang bisa mendengar pembicaraan itu sangat terharu. Ia bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang selama ini ditahan oleh Taehyung, betapa pedih penderitaannya. Tapi Yoongi bersyukur dengan kehadiran Jungkook yang bisa menyembuhkan Taehyung.
Setelah beberapa saat dan Taehyung sudah berhenti menangis, Jungkook melepas pelukan. Ia menghapus sisa air mata di pipi vampire itu.
“Kajja,” ajak Jungkook, “Kau butuh udara segar.”
Taehyung menurut dan membiarkan dirinya ditarik Jungkook untuk pergi. Mereka berjalan-jalan di perkebunan, melihat pemandangan yang hijau-hijau di depan mata untuk lebih merilekskan diri.
Jungkook menunjuk ke arah pohon, ada burung kenari dengan warna bulu oranye sedang hinggap di ranting pohon. Suaranya sangat merdu.
“Aku baru melihatnya.” ucap Taehyung polos. Senyum mengembang karena terpukau dengan keindahan bulu serta suara burung tersebut.
“Itu burung kenari, Tae.”
“Suaranya merdu.” gumam vampire itu membuat Jungkook ikut tersenyum.
“Ah itu ada temannya.” Jungkook menunjuk burung kenari lain yang terbang dan hinggap di dekat burung pertama. Burung tersebut berwarna biru pekat, tak kalah cantiknya.
“Kini penyanyi solo menjadi penyanyi duet.”
Taehyung mengekeh. “Berdua memang lebih baik daripada seorang diri.”
Mata Jungkook berbinar. “Nah sekarang kau juga sudah memahaminya bukan?”
Taehyung mengangguk. Sekarang dia tidak perlu menanggung bebannya sendiri lagi. Betapa beruntungnya ia karena takdir memberikannya seorang soulmate untuk menolongnya.
Mereka berjalan-jalan lagi, menyapa orang-orang yang sedang mengolah kebun. Daerah ini kebanyakan kebun teh tapi bukan berarti tidak ada perkebunan lain. Ada juga yang mempunyai lahan untuk membudidayakan bunga-bunga.
“Bunga-bunganya indah sekali…” kata Taehyung sumringah ketika melewati taman bunga.
“Kukira vampire alergi dengan bunga.” canda Jungkook.
Taehyung memukul lengannya dengan mengekeh. “Kau pikir kami berhati dingin seperti itu?”
“Jadi vampire memiliki sisi berbunga-bunga?”
Taehyung tertawa. “Aku tidak yakin kalau Yoongi Hyung berbunga-bunga.”
Jungkook mengekeh. Ia menunjuk sekelompok bunga yang berwarna keunguan, sangat cantik dan rupawan. “Itu nama bunganya aster.”
“Aku baru melihatnya.” ucap Taehyung. Dia tidak berani menyentuhnya takut menyakiti bunga cantik itu. Selama hidup Taehyung memang menghabiskan waktu di panti, dikurung di sindikat atau menjalani aktivitas sebagai Taehyung innocent. Dia tidak pernah ada kesempatan untuk menikmati dan melihat keindahan dunia. Otaknya mungkin smart tapi dia tidak tahu apa yang benar-benar terjadi di sekelilingnya.
“Aku pernah mendengar mengenai legenda bunga aster. Ada seorang Dewi Astraea yang ditempatkan Zeus di antara bintang-bintang sebagai konstelasi Virgo. Dewi itu menangis ketika dia melihat ke bumi yang gelap dan tak berbintang. Dikatakan bahwa bunga aster mekar dimana air matanya jatuh.” tutur Jungkook.
“Hwoa..” gumam Taehyung takjub.
“Itu cerita legenda.” kata Jungkook dengan senyum lebar, “Aku mengetahui cerita ini berhubung bintangku yang adalah Virgo.”
“Ceritanya tetap sangat menggugah. Dan bunganya pun sangat cantik.”
“Mungkin di masa depan nama kita pun akan menjadi legenda.”
Taehyung menoleh dengan mata membesar.
Jungkook memberi senyum lembut. “Karena kita akan menghancurkan sindikat, Tae.”
Setelah berjalan-jalan di taman bunga dan terus mengobrol, tentu saja pembicaraan mengenai topik sindikat akan dihindari dulu untuk beberapa saat, Jungkook pun tak ada keinginan untuk memperpanjangnya. Mereka kembali berjalan-jalan sampai akhirnya menemukan toko kecil yang menjual permen kapas. Sejak kecil Taehyung sangat ingin mencobanya namun tidak pernah ada kesempatan, kali ini ia tidak ragu mengiyakan saat Jungkook menawarinya permen kapas.
“Bagaimana rasanya?” tanya Jungkook melihat Taehyung yang sedang menjilat permen kapas.
“Rasanya aneh, menggeligitik mulut.” ucap Taehyung sumringah dengan boxy smile. “Tapi manis. Saat kecil aku sangat ingin mencobanya… namun saat sudah menjadi vampire, rasanya tidak seenak yang kubayangkan.”
Jungkook mengekeh, “Well, karena kau vampire dan hanya menyukai darah saja.”
Sementara itu saat matahari sudah hampir terbenam, Namjoon, Hoseok dan Jimin sudah tiba di rumah, pulang dari kuliah. Perjalanan yang jauh membuat perut lapar dan melelahkan badan.
Yoongi menyambut mereka di depan rumah. Ia menahan senyum melihat Jimin yang keluar dengan mata mengantuk. Sepertinya selama di perjalanan manusia itu tertidur. “Bagaimana kuliahnya, Jimin?”
“Melelahkan. Aku ingin tidur dulu, Hyung.” ucap Jimin lemah.
Yoongi mengangguk. “Nanti bangun untuk makan malam ya.”
“Alright.” sahut Jimin dan segera masuk ke dalam rumah.
Hoseok yang keluar dari mobil menggeleng-geleng. Rumah baru yang berjarak sangat jauh dari kampus membuat perjalanan menjadi sangat melelahkan. Untunglah lingkungan rumah ini cukup asri dan menyejukkan. Jadi pengorbanannya setimpal.
“Mana Taehyung?” tanya Namjoon pada Yoongi.
Yoongi menunjuk ke depan dengan dagunya. Baik Namjoon dan Hoseok melihat ke arah yang ditunjuk Yoongi. Di kejauhan sudah terlihat Taehyung dan Jungkook yang sedang berjalan bersama menuju rumah. Kalau dilihat dari sinipun tampak sekali ekspresi Taehyung, wajah comical dan cerianya yang membuat siapapun gemas.
“Itu V?” tanya Namjoon tercengang, “Atau Taehyung?”
“Dia V.” sahut Yoongi dengan smirk. “Pengaruh Jungkook membuat kita sudah tidak bisa membedakan keduanya, seolah mereka memang satu kepribadian.”
“Wow.” gumam Hoseok juga tak menyangka melihat V dengan ekspresi seperti itu sedang mengobrol bersama Jungkook. Entah apa yang dibicarakan membuat Hoseok ingin bergabung.
“Kini aku sangat lega,” ujar Namjoon dengan senyum kebapakan, “Sejak awal aku selalu menyadari kalau V punya luka yang harus disembuhkan. Sepertinya dia sudah sembuh.”
Yoongi memberi anggukan. “Aku pun berpikir begitu. Dia tidak sedingin yang kita sangka. Dia polos dan ceria seperti Taehyung yang memang kita kenal.”
“Kini aku lega melihatnya, maka kita tinggal menghancurkan sindikat sampai menjadi debu.” ucap Namjoon semangat.
“Geurre. Sindikat itu tidak bisa diberi ampun lagi.” ucap Hoseok berapi-api.
Ketiganya masih memandangi Jungkook dan Taehyung yang berjalan ke arah rumah, asyik mengobrolkan sesuatu, tidak sadar bahwa sedang diperhatikan oleh para hyung mereka. Saat sudah beberapa meter aka sampai rumah, Taehyung baru tersadar dan menoleh ke arah para hyungnya. Ia melambaikan tangan dengan semangat dan senyum ceria.
“Hyung~!” sapanya.
Jungkook juga melihat ke arah rumah dan tersenyum melihat ketiga vampire yang sedang berdiri di depan rumah itu.
“Kalau seperti itu, aku jadi ingin punya soulmate juga.” gumam Hoseok pelan sambil menggigit bibir. Ucapan Hoseok itu tentu saja tidak bisa didengar oleh Jungkook namun Taehyung masih bisa mendengarnya karena betapa pekanya telinga vampire.
Senyum Taehyung semakin panjang mengembang. Itu benar. Dia sangat sangat tertolong dengan adanya kehadiran Jungkook, soulmatenya. Bukan berarti kehadiran yang lain tidak memberikan dampak… tapi entahlah… semacam ada klik yang membuatnya sembuh dan rileks seperti ini ketika bersama Jungkook. Kini ia sudah tahu mengenai tujuan takdir mempertemukannya dengan Jungkook juga ikatan soulmate di antara mereka.
🎃🎃