Vampire In The City

Vampire In The City
FRIENDS




🐻🐰🐥


Jimin meregangkan otot lehernya sambil berjalan menuju kantin. Ia mengabaikan suara-suara mahasiswa yang bisa ia dengar. Sekelompok wanita yang sedang membicarakan k-drama, beberapa pria sedang mengobrolkan sulitnya kuis mata kuliah aljabar… dan juga dua orang yang sedang berbisik-bisik menggosipkan berita kampus.


Jimin mengabaikan semua itu. Perutnya sangat lapar dan ia ingin makan. Saat hampir sampai di pintu kantin, ia melihat dari arah berlawanan ada Jeon Jungkook. Lucunya, di belakangnya Taehyung berjalan mengikuti.


Jimin memberi smirk. Hmm, sepertinya dia akan tahu makan di meja mana.


“Hoi~!!” panggil Jimin dengan semangat ke arah mereka sambil mengangkat satu tangan.


Jungkook mendongak, terkejut melihat Jimin. Taehyung yang di belakang Jungkook, mencondongkan badannya dan langsung tersenyum lebar pada Jimin.


“Kalian mau makan?” tanya Jimin lebih kepada Taehyung. Ia mengabaikan tatapan Jeon Jungkook.


Taehyung mengangguk-angguk.


“Kebetulan sekali,” lanjut Jimin, “Aku juga lapar.”


Jungkook membuang muka dan berjalan duluan masuk ke dalam kantin. Cepat-cepat Taehyung mengikuti Jungkook kembali. Jimin menahan senyum dan memutuskan mengikuti keduanya.


Jungkook duduk di meja biasa yang ia tempati bersama Taehyung. Ia mencelos saat Jimin pun ikut duduk bersama mereka, duduk di samping Taehyung.


Mereka mengambil makanan lalu kembali lagi ke meja itu. Jungkook berusaha makan dengan cuek, menganggap seolah ia sedang makan sendirian di sana.


“Oh ya, aku belum tahu, kalian jurusan apa?” tanya Jimin. Dia tahu Jungkook akan mengabaikannya, jadi dia lebih menaruh perhatiannya pada Taehyung.


“Kami jurusan kimia,” sahut Taehyung. Ia mempoutkan mulutnya sambil mengunyah nasi.


“Itu jurusan yang fantastis.” komentar Jimin tertawa pelan.


Taehyung mengangguk-angguk setuju. “Chem pelajaran yang sulit.”


“Kau hanya butuh chemistry untuk bisa bertahan di jurusan itu.” Jimin mengekeh sendiri dengan lelucon yang ia buat. Jungkook memandang Jimin skeptis, tidak terkesan sama sekali dengan lelucon itu.


Jimin berdehem. “Kalau Jungkook memang sejak dulu sudah pintar di pelajaran science.”


Taehyung mengangguk-angguk. “Aku pun banyak bertanya pada Jungkook Chingu. Dia baik karena selalu membantuku.”


Jimin menaikkan sebelah alis. “Begitukah?” Jungkook yang ia kenal sosiopath mau peduli pada orang lain?


“Dia duduk di sebelahku… menanyakan istilah atau tugas, hanya pertanyaan remeh.” sahut Jungkook kembali makan cuek.


“Kalau Jimin Chingu di jurusan apa?” tanya Taehyung.


“Aku jurusan teknik sipil, tapi minat lebih tertarik pada dance, hehe.”


“Apa Jimin Chingu juga suka mengisi acara dengan menari? Karena dancemu sangat keren, Jimin Chingu.”


Jimin mengekeh geli karena Taehyung berulang kali menyebutnya Jimin Chingu. Baginya terdengar lucu, namun dia tidak keberatan sih. “Yep. Aku masuk dalam club dance dan kami biasa mengisi acara-acara.”


“Wahhh aku ingin melihatnya…”


“Nanti kalau aku tampil di sebuah acara, aku akan memberitahumu supaya kau bisa mendukungku, Taehyung Chingu.” kata Jimin di sela tawanya.


Jungkook memutar bola mata, tampak sekali Jimin menikmati momen ini.


“Kalian selesai kuliah jam berapa?” tanya Jimin.


“Kelas kami berakhir jam 3 sore.” sahut Taehyung semangat karena hari Senin selalu menjadi hari dimana mereka bisa pulang lebih cepat.


“Wah sama…” ucap Jimin memberi eye smile, “Bagaimana kalau nanti kita pergi ke arcade dan bermain bersama?”


Taehyung langsung mengangguk-angguk antusias. Matanya berbinar menatap Jimin. “Aku sangat senang sekali! Jungkook Chingu ikut kan?” Taehyung menoleh pada Jungkook penuh harap.


Jungkook mengulum mulutnya. “Mian, aku tak tertarik.”


Jimin hanya memutar bola mata. Tentu saja ia tahu Jungkook akan mengatakannya.


Wajah Taehyung berubah cemberut. “Kalau Jungkook Chingu tidak ikut aku pun tidak akan ikut.”


“Eehh??” Jimin tercengang, “Wae? Wae??”


Taehyung hanya memandang Jimin, lesu. “Seumur hidupku aku belum pernah pergi ke tempat game.”


“Kalau begitu apa yang kau tunggu, kau bisa pergi denganku.”


Taehyung mempoutkan bibir. “Tapi aku juga ingin Jungkook Chingu ikut.”


Jungkook memandang Taehyung dan Jimin bergantian, apalagi kini Jimin memandanginya dengan penuh penghakiman, mungkin kesal karena Taehyung tidak mau ikut lantaran Jungkook tidak ikut. Ughh… Jungkook jadi merasa tidak enak, dan sebenarnya dia pun menyukai bermain game di tempat seperti itu.


“Oke, oke, aku ikut, Kim, kau puas?” tukas Jungkook menyerah dengan pout Taehyung itu.


“Yeay~!!!” seru Taehyung gembira luar biasa. Ia dan Jimin high five bersama. Sial, Jungkook merasa sedang dipermainkan kalau seperti ini.


“Sore ini kita akan bersenang-senang~~” gumam Jimin ceria dan Jungkook hanya mendengus.


.


.


Soojung memperhatikan penjelasan Seokjin dengan baik. Dia tidak melamun ataupun mencuri-curi baca novel lain. Ia menyimak dengan seksama, tidak akan mempermalukan dirinya seperti minggu lalu. Kalau dipikir-pikir Seokjin menyampaikan materi dengan sangat menarik. Meski mata kuliahnya tentang Sejarah tapi dosen itu bisa mengemasnya dengan tidak monoton.


Soojung juga mendengar bisik-bisik teman sekelasnya bahwa Seokjin sangat tampan dan komentar admire lainya.


Soojung jadi bertanya-tanya, apakah ada hal juga yang diketahui Seokjin tentang vampire yang mungkin bisa disampaikan pada Soojung?


Mata kuliah itu berakhir, terdengar gumaman tak rela di sana sini, kenapa mata kuliah cepat berakhir. Rasanya kalau pun belajar sampai malam masih rela asal dosen Seokjin yang menerangkannya.


Soojung sengaja berlama-lama di kelas, membiarkan mahasiswa lain yang keluar duluan. Soojung sedang memikirkan bagaimana caranya ia bisa menanyakan vampire pada Seokjin.


Yang tak disangka adalah justru Seokjin yang mendatanginya.


“Miss Soojung…”


Soojung mendongak terkejut. “N-ne?”


Seokjin memberi senyum. “Kulihat kau mengikuti mata kuliahku hari ini dengan baik, aku mengapresiasinya.”


Soojung mengangguk pelan.


“Aku berharap kau bisa menyelesaikan tugas makalah juga dengan baik, Miss Soojung.”


Sebelum Seokjin berbalik pergi, Soojung segera mengatakannya. “A-anu, Mr. Kim… ada hal yang ingin saya tanyakan.”


“Well, apa itu, Miss Soojung?” tanya Seokjin cukup senang karena wanita itu ingin menanyakan sesuatu.


“Apa Anda tahu banyak mengenai vampire?”


Seokjin tidak menyangka bahwa pertanyaan semacam itu yang akan dilontarkan. Apa ya yang harus ia jawab. “Aku tahu mungkin hanya beberapa hal, kenapa?”


Soojung menghela nafas. “Apa yang Anda katakan minggu lalu itu benar. Buku yang kubaca adalah buku picisan, hanya bualan belaka, tapi aku tak tahan untuk tidak membacanya karena aku sangat tertarik pada vampire.”


“Jarang ada orang yang masih tertarik dengan vampire. Vampire sudah tidak banyak spot lagi, kau tahu.”


“Itu karena aku punya kenangan pahit tentang vampire…” kata Soojung.


Seokjin terdiam dan berpandang-pandangan saja dengan Soojung. Bisa dibilang Seokjin tahu apa yang menjadi kenangan pahit wanta itu tapi untuk saat ini Seokjin memilih clueless.


“Kita bisa mengobrolkannya saat santai, Miss Soojung… Aku pun mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan penasaranmu mengenai vampire? Well, meski sebenarnya aku tak yakin yang kutahu itu hoax atau tidak.”


Soojung tersenyum tipis. “Yep. Aku akan menantikannya, Mr. Kim.”


Seokjin memberi senyum manis. “Nanti akan kuberitahukan. Untuk saat ini aku harus pergi karena aku ada kelas beberapa menit lagi.”


“O-oh… Oke, Mr.Kim.” Soojung membungkuk sopan.


Seokjin tersenyum lagi lalu akhirnya berbalik pergi meninggalkan Soojung. Wanita itu menggigit bibir memandang kepergian Seokjin yang sudah keluar melalui pintu. Ia merasa bodoh… apa yang sudah ia lakukan ini!!! Jangan-jangan ia malah disangka sedang flirting? Apa itu tampak seperti flirting? Apa itu seperti alasan yang biasa dibuat mahasiswi lain ketika berusaha mengajak Seokjin kencan?


Damn… Soojung tidak berpikir sejauh itu. Pasti akan awkward sekali jika ternyata dosen itu berpikiran demikian.


.


.


Sore itu Jimin, Jungkook dan Taehyung pergi ke arcade game. Tempat itu sudah penuh dengan pelajar yang masih menggunakan seragam mereka. Taehyung memandang sekeliling dengan takjub sampai mulutnya membuka. Dia belum pernah bermain di arcade. Bisa datang ke tempat ini bersama dengan 2 teman manusia membuatnya merasa sangat spesial.


“Kutebak kau tidak pernah datang ke tempat seperti ini.” komentar Jungkook setelah melihat ekspresi Taehyung.


Taehyung menunjukkan senyum kotaknya. “Aku sudah menyukai tempat ini sejak aku menginjakkan kaki di sini.”


“Kami akan mengajarimu~” ujar Jimin, “Jungkook-ssi, bagaimana kalau kita menunjukkan kebolehan kita pada Taehyung Chingu?”


Jungkook memutar bola mata. “Jangan rewel saat aku mengalahkanmu.”


“Huh, in your dream?” Jimin pun menunjuk mesin game dengan tulisan Street Fighter, warna dan gambar yang mencolok.


Jimin dan Jungkook sudah siap di posisi masing-masing. Jari sudah berada di tombol, siap untuk saling melawan dalam mesin game itu. Taehyung menggigit bibir, excited, dia bahkan tidak tahu harus mendukung siapa.


Sambil menunggu proses game, Jimin menjelaskan, “Tangan kiri siap dengan tombol gerakan, tombol kanan mengendalikan serangan. Dan ingat, harus fokus.”


Taehyung mengangguk-angguk serius, berusaha mengingat nasihat Jimin.


Game pun dimulai. Jeon Jungkook ternyata cukup lihai dalam permainan game semacam ini. Dia mengungguli skor karena terus menyerang.


“Kau masih gamer sejati, huh, Jeon?” tukas Jimin sambil menjilat bibir, mata menatap layar, berusaha menangkis serangan yang terus diberikan Jungkook.


“Dan kau masih cupu seperti sebelumnya.” balas Jungkook memberi smirk.


“Jangan sombong dulu, kau hanya sedang beruntung.”


Jungkook memberi seringai saat beberapa menit kemudian permainan dimenangkan oleh Jungkook. “See? Seperti inilah kau harus bermain, Taehyung.”


“Whoa, kalian keren sekali. Itu pertarungan yang sengit.” ucap Taehyung.


“Sini, sekarang kau yang bermain denganku.” ucap Jimin menarik Taehyung.


“Tapi aku belum bisa…” sahut Taehyung agak ciut.


“Tidak apa. Belajar itu harus langsung dipraktikkan.” tukas Jimin.


Permainan pun kembali dimulai. Jungkook berusaha membantu Taehyung dengan memberitahu tombol-tombol mana yang harus dipencet Taehyung. Tapi tetap saja kesenjangan kemampuan Jimin dan Taehyung cukup jauh. Taehyung baru pertama kali memainkan permainan seperti ini. Dengan mudahnya permainan dimenangkan oleh Jimin.


“Yeay, aku menang!!” seru Jimin senang. Taehyung ikut tersenyum saja dengan polosnya. Jungkook hanya memutar bola mata, sepertinya Jimin sengaja memilih Taehyung sebagai lawannya supaya bisa menang dengan mudah?


Berikutnya mereka pun mencoba game balap mobil. Taehyung merasa senang sekali hari itu. Ia mencoba banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia coba. Jimin sangat semangat mengajarinya. Saat Jimin dan Jungkook bertanding bersama, selalu Jungkook yang menang, sepertinya Jungkook memang seorang gamer sejak dulu.


Jimin merasa tersudutkan karena ia sudah kalah skor jauh dari Jungkook dalam permainan tembak menembak ini. Jimin melirik ke sebelah, melihat Jungkook yang bermain dengan anteng penuh senyum kemenangan. Taehyung di sebelahnya menyoraki Jungkook yang terus menerus melakukan double kill.


Akhirnya dengan iseng Jimin merampas senapan, alat bermain Jungkook membuat pria itu terperangah kaget. Jadi Jimin memegang dua senapan sambil tertawa-tawa, berusaha menyelesaikan permainan dengan curang.


“Ya!!” Jungkook berusaha mengambil senapan itu namun entah kenapa kekuatan Jimin begitu besar, tak membiarkan Jungkook mengambilnya. Sampai akhirnya waktu permainan pun berakhir, Jimin tertawa terpingkal-pingkal.


“Jungkookie tetap menang!!” seru Taehyung sambil menunjuk layar, berusaha mengembalikan mood Jungkook.


Jungkook mendelik Jimin yang masih tertawa dengan sebal. Jungkook sangat tak suka diganggu saat dia sedang bermain. Dan sepertinya Jimin tampak bersenang-senang meski pria itu tetap kalah dalam permainan sekalipun sudah bermain kotor?


Jimin membalas tatapan Jungkook dan memberi senyum. “Jangan terlalu serius, Jeon. Relax… Arcade untuk bersenang-senang.”


“Hmm.” Taehyung mengangguk, “Ini menyenangkan~ Jungkookie, ayo bermain denganku?”


Jungkook meniup poni keras-keras sementara Jimin masih tertawa. Setelah memberi sebutan ‘Jungkook Chingu’ kini Taehyung memberi sebutan ‘Jungkookie’ ??


Akhirnya Jungkook dan Taehyung bermain pin ball. Ini cukup menyenangkan, Taehyung selalu tertawa tiap kali bola Jungkook berhasil memasuki pertahanannya. Taehyung memang polos, dia bermain untuk bersenang-senang, tidak peduli kalah ataupun menang.


Jungkook akhirnya tertawa hari itu. Skornya sudah mencapai 10 – 0 dan Taehyung masih bisa ceria begitu.


“Kau tidak boleh lengah,” ujar Jungkook, “Harus fokus dan penuh tenaga. Seperti ini.” Jungkook menghempaskan bola dan dengan lincah bergerak zig zag sampai akhirnya masuk ke gawang.


“Whoa~” ucap Taehyung dengan senyum kotak, “Bisa seperti itu?”


“Itu sih easy…” tukas Jimin sambil geleng-geleng pada kepolosan Taehyung.


“Baiklah, fokus dan bertenaga.” ucap Taehyung. Ia mendorong pin ball, tapi entah terlalu bertenaga atau bagaimana, bola pipih itu malah mengenai pergelangan tangan Jungkook.


“Ack–“ ucap Jungkook berusaha menahan sakit.


Mata Jimin membesar dan ia malah tertawa lepas, menertawai Jungkook yang sedang kesakitan. Jimin mengajak Taehyung berhigh five, bangga karena Taehyung bisa melakukannya pada seorang Jeon Jungkook.


Taehyung menerima high five itu namun meringis pada Jungkook. “Gwaenchana?”


Jungkook memegang pergelangan tangannya yang sakit dan memandang Taehyung setengah melotot.


“Eit, tidak boleh marah~!” sahut Jimin sambil menunjuk Jungkook, “Ini hanya permainan, okey?”


Sebenarnya Jungkook tidak berniat untuk marah, ia tahu Taehyung pasti tidak sengaja. Jungkook hanya tak menyangka Taehyung bisa melempar pin ball dengan begitu kuat?


Taehyung menggigit bibir, merasa bersalah, sepertinya tadi ia menggunakan kekuatan vampirenya ya? Dia harus bisa mengendalikan kekuatannya.


Setelah bermain pin ball (yang tentu saja dimenangkan Jungkook), Taehyung ingin mencoba claw machine, permainan santai, tidak memerlukan banyak tenaga, hanya tinggal mengendalikan capit untuk mengambil boneka. Taehyung ingin sekali boneka pokemon Eevee.


“Kau harus mengendalikan capitnya.” ucap Jungkook karena Taehyung sudah dua kali gagal.


Jimin mengibaskan tangan ke udara. “Itu permainan bodoh. Hanya keberuntungan kalau kita mendapatnya.”


Taehyung mempoutkan mulutnya, dia ingin sekali mendapatkan boneka Eevee.


“Minggir.” tukas Jungkook mendorong Taehyung. “Aku akan mencobanya.”


“Aish, sudah kubilang ini mesin penipu, uang kalian hanya akan habis hanya demi sepotong boneka murahan?” tukas Jimin, “Ayolah, perutku lapar~!”


Taehyung dan Jungkook mengacuhkan Jimin. Mata Taehyung membesar mengikuti capit yang dikendalikan Jungkook.


“O! Jungkookie melakukannya dengan baik. Sepertinya akan berhasil!”


Alat pencapit berhasil mengenai boneka Eevee, mengangkatnya perlahan namun dalam sedetik langsung terlepas begitu saja. Jungkook mengerang kesal.


“Apa kubilang?” komentar Jimin.


Jungkook tidak menyerah. Ia merasa begitu tertantang dari mesin pencapit ini. Masa ia kalah dari benda mati? Oh jebal.


Jungkook mencobanya sampai empat kali namun tetap gagal. Dia menyeka sedikit keringat, berusaha fokus untuk menemukan klik dengan mesin ini. Dalam percobaan kelima akhirnya ia berhasil mendapatkan boneka Eevee. Taehyung melompat dengan girang, sementara Jimin melongo karena Jungkook berhasil melakukannya.


“Aku sudah tahu sekarang bagaimana memainkannya…” gumam Jungkook puas.


“Kau mau memainkannya lagi?” tanya Taehyung semangat, “Aku yang akan membayar koinnya.” Taehyung memasukkan uangnya ke dalam mesin dan Jungkook pun dengan senang hati memainkannya. Ia serius dengan ucapannya bahwa ia sudah bisa memainkan permainan ini dengan baik karena Jungkook kembali berhasil mendapatkan boneka pokemon, kali ini ia berhasil mendapatkan pikachu.


“Whoa.. kiyeowo~!!!” seru Taehyung sambil mengambil boneka pikachu yang keluar, membawanya ke dalam pelukan bersama dengan Eevee. “Bagaimana kalau satu lagi, Jungkookie? Kita perlu 3 boneka.”


“Call.” sahut Jungkook. Ia menaikkan dagunya pada Jimin, menunjukkan bahwa mesin ini pun tidak dapat mengelabui atau mengalahkannya.


Jimin hanya menelan ludah melihat Jungkook bermain kembali dan dengan entengnya ia mengambil boneka Jolteon. Taehyung bersorak giran, mengambil boneka itu. Ia menepuk-nepuk pundak Jungkook dengan bangga. Ia semakin yakin Jungkook itu gamer sejati.


“Nah, kita punya 3~” ucap Taehyung dengan senyum kotaknya, “Eevee untukku. Pikachu untuk Jungkook… Jolteon untuk Jimin~”


Jungkook menggeleng-geleng, “Aku tidak bermain boneka, Kim.”


Jimin mendengus tertawa. Ia menerima boneka yang diberikan Taehyung. Bonekanya lucu juga.


“Ini sebagai lambang pertemanan kita~” ucap Taehyung, “Ayolah, terima Pikachu ini, Jungkookie.”


Jimin memandang Taehyung penuh arti, dia tak menyangka masih menemukan orang polos seperti Taehyung. Mereka sudah kuliah dan masih harus menyimpan boneka pertemanan seperti ini? Tapi Jimin tidak akan keberatan, dia akan menjaga boneka ini apalagi jika ini merupakan tanda kedekatan mereka.


“Ukh…” Jungkook sedikit mengeluh namun tetap menerima boneka Pikachu, memandanginya dengan tak minat. Dia bukan penggemar Pokemon, demi Tuhan, tapi karena Taehyung lagi-lagi ia menerimanya.


Senyum Taehyung semakin lebar. “Nah, sekarang ayo kita makan~!! Aku akan mentraktir kalian!”


“Jinjja?” Mata Jimin seketika berbinar.


“Let’s go~ Kita harus makan enak setelah seharian bermain.”


“Yuhu!! Aku dengan senang hati menerimanya, Taehyung Chingu!” seru Jimin antusias.


Jungkook menahan senyum sambil geleng-geleng. Tidak buruk juga ternyata melakukan interaksi seperti ini dengan beberapa teman? Setidaknya Jungkook bisa refreshing sejenak dari padatnya perkuliahan.


Malam itu mereka bertiga makan daging panggang, hot pot dan tteobokki. Malam yang sangat menyenangkan. Itu menjadi awal kedekatan mereka bertiga. Tembok yang biasa dibangun Jungkook untuk menjaga jarak dari orang lain akhirnya luluh lantak. Jimin yang biasa mempercayakan dirinya untuk kemana-mana sendiri, kini merasa nyaman dengan kehadiran dua orang lain di hidupnya. Taehyung, sang vampire, sangat bahagia, karena untuk pertama kalinya ia merasa mendapatkan teman-teman sejati.


🎃🎃



Show your support, yeahhh. vminkook in your area~ 😄