
special chapter untuk hari ini dalam rangka AMA😗🎉
Sementara itu terjadi kekacauan di sindikat. Dongwook sangat marah besar karena zitinya berhasil meloloskan diri. Murka menyala-nyala karena betapa ia merasa anak buahnya begitu tolol sampai bisa membiarkan Taehyung lolos. Banyak juga korban berjatuhan akibat serangan Taehyung. Dongwook tak menyangka bahwa Taehyung bisa melawan, bahkan vampire itu masih dalam kendali obat bius.
Dongwook menyuruh para mafianya untuk mencari keberadaan Taehyung, bahkan kalau perlu juga menangkap clan vampire itu, menangkap Jungkook atau yang lain. Betapa dongkolnya saat ia mendapat kabar bahwa kediaman clan Kim dalam keadaan kosong. Jimin, Jungkook dan kakaknya pun tidak diketahui keberadaannya.
Rasanya Dongwook ingin menendang sesuatu. Apa semua ini sudah direncanakan? Mereka semua sudah kabur dan bersembunyi darinya?? Sial, belum pernah Dongwook merasa kesal seperti ini. Dan lagi, kerugian demi kerugian terus datang.
“Kau ingin berperang denganku, Kim Taehyung?” tukas Dongwook kesal mengepalkan tangan kuat-kuat. Dongwook menggertakan gigi. “Kau akan kutangkap… dan setelah itu aku akan membuatmu menderita untuk apa yang sudah kau lakukan pada sindikatku.”
Dongwook memukul meja dengan kepalan tangannya. Ia berjanji akan mengeksploitasi vampire itu habis-habisan dan menunjukkan videonya pada Jungkook dan clannya. Dongwook merasa hatinya sangat panas dan penuh dendam.
Pintu diketuk dan salah satu anak buahnya datang membawa berita. “Bos, Anda harus melihat ini.”
Dongwook mendelik sewot. “Apa lagi sekarang?”
Anak buahnya itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyodorkan Ipad berisi rekaman video CCTV. Dongwook menontonnya dan itu merupakan rekaman CCTV saat Taehyung berusaha kabur dari sindikat. Big bos itu mengernyitkan alis saat melihat ada dua hunter yang menyerang Taehyung namun berhasil dirobohkan dengan mudah oleh vampire itu.
“Kenapa ada hunter?” tanya Dongwook dengan mata masih menonton.
“Hari itu kebetulan ada pengiriman darah manusia dari departemen hunter.”
Dongwook tahu itu adalah hal biasa, sindikat memang melakukan pemesanan darah manusia pada dewan hunter, kerja sama yang sudah dijalin sejak lama.
Hingga pada scene berikutnya ditunjukan di depan lift, Taehyung bersama dengan ketua hunter. Alis Dongwook mengernyit hebat manakala melihat ketua hunter memberikan kartu elektronik lift pada Taehyung, membiarkan vampire itu lepas di saat terakhir.
“Sial.” desis Dongwook marah. Moodnya hanya semakin rusak saja menonton ini. Mengapa Donghyuk menyelamatkannya? Apa dia dalam posisi terancam sampai seorang ketua hunter memberikan kartu keluar pada Taehyung?
Aahh…
Dongwook mengingat bahwa Donghyuk adalah paman dari Jungkook. Bisa saja Donghyuk sudah bertemu dengan Taehyung sebelumnya karena dikenalkan sebagai teman Jungkook. Dan mungkin… ketua hunter itu memilih untuk membebaskan Taehyung? Menghianati sindikat? Menghianati Dongwook?
Dongwook mendengus pelan memberikan Ipad itu pada anak buahnya. Ia mengatupkan kedua tangannya memicingkan mata dengan tajam.
“Jadi begitu… ada penghianat.”
Dongwook tak akan pernah membiarkan penghianat begitu saja. Ia mengingat kembali bagaimana sengketa antaranya dan suami istri Jeon belasan tahun lalu. Pasangan suami istri itu pun berusaha menghianatinya, berusaha membatalkan rencana Dongwook dalam melakukan eksperimen manusia. Dan sekarang terulang lagi? Donghyuk pun mau menggagalkan rencananya juga?
Pria itu memberi senyuman licik. “Ketua hunter itu seharusnya tahu resiko yang akan ia tanggung ketika melawanku.”
****
Pagi itu Taehyung bangun dari tidurnya. Ia melihat Jungkook yang masih tidur di sebelahnya. Awalnya Taehyung terkejut namun ia teringat kembali bahwa dia sudah berada di rumah clannya, bergabung bersama orang-orang yang berarti untuknya. Bagaikan mimpi, dia sudah tidak ada di sindikat lagi!
Taehyung duduk bangun, meregangkan otot lehernya yang pegal. Luka di lengannya sudah sembuh total hanya meninggalkan bekas saja. Sepertinya selama ia ditahan di sindikat, para dokter itu sudah memberikan banyak obat-obat lagi yang membuatnya semakin cepat kebal dengan luka luar.
Taehyung baru akan keluar dari tempat tidur saat tangannya dipegang. Ia terkejut dan menoleh melihat Jungkook yang menahan tangannya. Manusia itu menatapnya dengan alis melengkung.
“K-kau mau kemana?” tanya Jungkook dengan suara serak khas bangun tidur namun nada suara penuh dengan kekuatiran.
“Aku mau ke kamar mandi.” sahut Taehyung masih terpana.
Jungkook terdiam beberapa saat lalu akhirnya melepas tangan vampire itu. Ia duduk bangun sambil menggaruk kepala. Dia begitu reflek pagi ini melihat Taehyung akan pergi, seolah akan pergi dan menghilang lagi seperti sebelumnya. Apa dirinya terlalu trauma dengan kejadian terakhir sampai bersikap paranoid seperti ini?
Jungkook duduk di pinggir tempat tidur, masih menggaruk kepala. Dia masih sangat mengantuk namun memaksa diri untuk bangun. Taehyung memandangnya. Ia sangat mengerti dengan pertanyaan Jungkook. Hal-hal yang sudah terjadi pasti memberi pukulan menyakitkan untuk Jungkook. Manusia itu bersikap demikian pasti karena masih terngiang apa yang sudah dilakukan Taehyung sebelumnya : meninggalkannya tanpa pamit dan kata.
Taehyung memutari tempat tidur dan berdiri di hadapan Jungkook. “Mianhe, Jeon.”
Jungkook berhenti menggaruk. Ia mengangkat wajah dan menatap Taehyung dengan mengernyit.
Taehyung berwajah lara, menggigit bibir kuat-kuat. “Mianhe karena aku pernah pergi tanpa memberitahumu.”
Jungkook memandang Taehyung dengan terluka. Jika dipikir dia memang menyadari kalau itu salah satu hal yang menyakitinya juga, bagaimana Taehyung pergi tanpa memberitahunya, seperti tidak percaya padanya dan memilih untuk mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain., bagaimana frustasinya Jungkook saat itu karena mencemaskan Taehyung.
“Pikiranku buntu saat itu,” ujar Taehyung sendu, “Aku hanya ingin Jimin dibebaskan.. begitu pula dengan kakakmu. Aku tak sanggup tenang-tenang saja sementara mereka ditahan sindikat. Mianhe, Jungkook.”
“Berjanjilah kau tidak akan mengulangnya lagi, Tae.” kata Jungkook dengan suara pelan.
Taehyung langsung memberi anggukan. “Aku janji.”
Jungkook menjulurkan kelingkingnya untuk mereka bisa pinky promise. Taehyung tanpa ragu menyambutnya. Ia sungguh-sungguh tidak akan mengulangnya lagi, penderitaan fisik dan mental yang ia alami… Ia tidak mau mengalaminya lagi. Ia tidak mau berpisah dengan orang-orang yang ia kasihi lagi.
Jungkook tersenyum melihat pinky promise mereka. Ia pun berjanji untuk Taehyung ia akan menghancurkan sindikat.
.
.
Jungkook menahan nafas untuk mengatasi rasa syoknya. Setelah Taehyung selesai mandi, dia kembali switch ke kepribadian innocent. Jungkook sangat bingung mengapa vampire itu switch lagi. Dan sama seperti semalam, Taehyung tampak linglung dan kebingungan karena ia tidak mengingat apa yang sudah dilakukan V.
Dada Jungkook terasa sesak karena Taehyung switch mendadak seolah terjadi sesuatu pada diri Taehyung sampai bisa switch. Biasanya tidak seperti ini. V tidak akan switch seperti ini… bukan gayanya melakukan switch mendadak dan di situasi seperti ini.
Jungkook menelan ludah saat mengingat apa yang dilakukan Dongwook pada Taehyung di sindikat.
“Kau tahu, kami menggunakan setrum bertegangan tinggi untuk membuatnya bisa switch ke kepribadian satunya lagi. Setruman itu pasti sangat mengejutkannya sampai ia bisa berpindah kepribadian.”
Apa perlakuan itu memberi efek sampai sekarang pada vampire itu?
.
.
Saat sarapan bersama, yang lain tidak banyak mempertanyakan mengapa Taehyung switch. Mereka menganggap itu natural saja karena sebelumnya Taehyung pun sering switch. Ketika Taehyung menanyakan mengapa mereka tinggal di tempat yang baru, Seokjin hanya mengatakan untuk melindungi diri dari jangakauan sindikat.
Setelah makan, Taehyung pergi berjalan-jalan di sekitar perkebunan bersama Jimin. Namjoon mengikuti dan mengawasi dari kejauhan, memastikan keduanya tidak dalam bahaya ketika sedang berada di perkebunan.
Jungkook melamun duduk di sofa. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Taehyung yang switch kepribadian itu. Dia harus menanyakan pada V apa yang terjadi di sindikat, apa saja yang orang-orang itu sudah lakukan padanya.
“Kau tampak masih cemas hari ini..” gumam Yoongi datang menghampiri sambil menawarkan segelas teh hijau.
Jungkook tersentak dari lamunannya. Ia mengambil mug pemberian dhampir itu. “Anniya…”
Yoongi tersenyum tipis dan duduk di sebelah Jungkook. “Ada yang kau pikirkan, kid? Kau bisa menceritakannya padaku.”
Jungkook menunduk menatap mug yang ia pegang. “Aku hanya sedang memikirkan Taehyung yang switch kepribadian.”
Yoongi menaikkan sebelah alis. “Bukankah itu biasa terjadi?”
“Ini bukanlah gayanya untuk switch di tengah kondisi seperti ini,” ujar Jungkook pelan, “Aku belum mendengar ceritanya apa yang terjadi dan dia alami di sindikat. Biasanya ia tidak akan switch seperti ini.”
Yoongi mengulum mulut. Jungkook ada benarnya juga. Untuk apa V switch di saat dia perlu menceritakan kejadian kemarin?
“Apa dia sedang menghindar untuk menceritakannya?”
Jungkook langsung menggeleng. Dia merasa V tidak sedang menghindar. Dia justru berpikir bahwa perubahan kepribadian tiba-tiba V ini adalah ketidaksengajaan, tanpa V bisa mengontrolnya? Selama ini memang V yang mengontrol dan menentukan kapan ia mau switch kepribadian. Tapi kejadian kemarin dan hari ini nampaknya di luar kehendak V sendiri?
“Aku merasa sindikat sudah membuatnya trauma.” Jungkook meremas mug mengingat kembali bagaimana setruman tinggi yang membuat vampire itu bisa switch kepribadian.
“Sesungguhnya sindikat sudah tahu bahwa Taehyung memiliki dua kepribadian. Dan kurasa mereka melakukan eksperimen untuk membuktikannya.”
Yoongi terkejut mendengar penuturan Jungkook. Sindikat tahu Taehyung memiliki dua kepribadian?
Sial, hati Yoongi mendadak panas hanya mendengar penjelasan Jungkook saja. Membayangkan apa yang dialami dongsaengnya di sana…
“Saat ini kaulah yang bisa memahami Taehyung. Bagaimanapun kau adalah soulmatenya.” tutur Yoongi, “Aku hanya bisa bersandar padamu, Jungkook, untuk menyembuhkan Taehyung.”
Jungkook mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Yoongi. “Aku akan melakukan apapun… Aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkan Taehyung dan menghancurkan sindikat.”
Untuk sesaat Yoongi tertegun melihat Jungkook, merasakan bagaimana aura serius manusia itu. Jungkook tidak main-main dengan perkataannya. Manusia itu punya tekad yang sangat kuat, bisa dirasakan oleh Yoongi saat ini.
.
.
Taehyung dan Jimin berjalan-jalan di sekitar perkebunan. Jimin menceritakan pada Taehyung mengenai apa yang terjadi. Ia memang tidak menceritakan dengan detail namun itu cukup membuat Taehyung yang innocent mengerti.
Mereka kembali ke rumah, Taehyung langsung berlari mendekati Jungkook saat melihatnya berdiri di halaman melihat mereka.
“Kookie…” sapa Taehyung dengan boxy smilenya seperti biasa. Dia sungguh innocent, tidak terlalu memikirkan urusan sindikat selama dirinya ada di rumah ini berkumpul dengan yang lain dengan aman dan sentosa. Dia pun tampak tidak menyadari kecemasan Jungkook saat ini.
“Lenganmu harus dibersihkan lagi dengan alkohol, Tae.” kata Jungkook.
“Tapi tanganku sudah tidak sakit kok.” ungkap Taehyung sambil mengamati luka bekas tertusuk dan tembakan.
“Tetap harus dibersihkan, supaya tidak iritasi.” sahut Jungkook, bagaimanapun bayi vampire itu harus benar-benar sembuh total. Jungkook tidak ingin ada celah sedikit pun yang bisa membahayakan keselamatan Taehyung.
Taehyung dan Jungkook kembali ke kamar. Jungkook sedang mengambil peralatan dari kotak obat saat Taehyung tiba-tiba memegang tembok karena kepalanya yang mendadak pusing.
Jungkook menoleh terkejut. “Tae?” tanyanya dan datang menghampiri.
Taehyung meringis kesakitan memegang kepala, seperti ada bunyi berdenging mengilukan di dalam kepalanya. Taehyung mengernyit hebat, berusaha mengalahkan sara sakit itu. Hingga beberapa saat kemudian ia mengangkat wajah dan memandang Jungkook. “Jeon…”
Jungkook terkejut. Ia melihat dengan jelas bahwa yang di depannya sekarang adalah V. Mata yang sedang menatapnya ini adalah mata V. Mereka switch lagi dan Jungkook tidak tahu mengapa bisa demikian.
Rasa sakit di kepala Taehyung sudah hilang. Dirinya pun menyadari apa yang sudah terjadi. Kepribadiannya switch lagi secara mendadak.
“Apa yang terjadi?” tanya Jungkook cemas sambil memegang lengannya. “K-kau switch tiba-tiba membuatku kuatir.”
Mata Taehyung mengerjap-ngerjap. Dia pun tidak tahu dan bingung. Jungkook menariknya untuk duduk bersama. Ini adalah saatnya Taehyung menceritakan apa yang sudah terjadi di sindikat.
“Ceritakan padaku semuanya…” ujar Jungkook memegang kedua bahu Taehyung.
Taehyung *******-***** kedua tangannya. Memori di sindikat bukanlah memori yang ingin ia ingat. Penderitaan, rasa sakit, kesepian… Taehyung ingin melupakannya jauh dan enyah. Tapi untuk Jungkook ia bersedia menceritakannya, ia mau disembuhkan, ia mau Jungkook membantunya.
“Dongwook mengirim pesan melalui ponsel Jimin. Ia mengancamku kalau Jimin akan ia biarkan mati karena betapa ia tahu bahwa Jimin membutuhkan darah vampire untuk penyakitnya. Ia.. ia juga mengancam akan membiarkan kakakmu dipermainkan mafia di sana.”
Mata Jungkook membesar. Begitu kotornya permainan Dongwook dengan mengancam Taehyung seperti itu. Taehyung sudah dijebak dan tidak punya pilihan lain.
“Aku tak bisa membiarkannya, Kook,” ucap Taehyung, “Jadi malam itu aku pergi tanpa memberitahukan siapapun. Aku hanya berniat untuk negosiasi dan melakukan kesepakatan supaya Jimin dan kakakmu dilepaskan… tapi Dongwook memberikan ancaman lain bahwa ia bisa membunuh clanku, dia sudah tahu kediaman clanku. A-aku sangat takut… aku tak punya pilihan lain dan akhirnya menyerahkan diri pada sindikat.”
Mata Jungkook berubah nanar. Dadanya sangat sesak bilamana membayangkan posisi Taehyung saat itu. Taehyung mengorbankan dirinya untuk tidak membahayakan yang lain. Vampire itu berjuang sendirian.
“Aku dibius dan dibawa ke sindikat. Aku tidak melawan karena ancaman yang diberikan Dongwook padaku. Dan sepertinya mereka juga tahu bahwa aku berkepribadian ganda, jadi mereka mengalirkan listrik bertegangan tinggi…” Taehyung menelan ludah, momen itu sangat menyakitkan untuk diingat. “…sampai aku switch ke kepribadian yang lain.”
Jungkook berusaha menahan diri untuk tidak menangis mendengar cerita Taehyung. Dia sedih karena ia tidak bisa melakukan apa-apa saat itu untuk membantu soulmatenya. Baginya sindikat semakin menjijikkan dan Jungkook merasa wajib untuk menghancurkan sindikat.
“Saat switch, kepribadianku yang lain dipermainkan. Ia dicobakan eksperimen-eksperimen berbahaya untuk meyakinkan sindikat bahwa dia tidak punya kekuatan vampire. Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena seperti aku terkungkung di dalam tubuh akibat sengatan listrik.”
Jungkook mengepalkan tangan, ingat kembali dengan video call Dongwook saat menunjukkan keadaan Taehyung di sindikat, bagaimana vampire itu menjerit kesakitan dan memohon supaya dilepaskan. Hati Jungkook tertoreh hanya mengingatnya kembali.
“Mereka dengan konstan menyetrumku.”
Jungkook menggeleng-geleng dan akhirnya menangis. “Para bastard itu…” isaknya, “Aku akan menghabisi mereka semua.”
Taehyung menatap Jungkook sedih. “Jungkook..”
“Aku akan melakukannya, Tae.”
Taehyung menggeleng. “Aku tidak ingin kau diperdaya lagi oleh mereka. Saat kau digigit vampire di sindikat, aku sampai terbangun, Kook. Itu sangat membuatku gila bagaimana aku ingin keluar dan menyelamatkanmu namun tak bisa.”
“I’m okay now, Tae… aku bahkan telah membunuh vampire itu.”
“Tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu dalam bahaya lagi, Jeon.” Taehyung mengusap pipi Jungkook, menghapus air mata manusia itu. Taehyung sudah tidak mau kehilangan lagi. Dia akan menjaga orang-orang yang ia sayangi untuk tidak berada dalam bahaya.
“I just want you to be safe.” kata Jungkook sendu.
“Aku mau disembuhkan, Jeon... aku mau sembuh dari traumaku.” bisik Taehyung sungguh-sungguh. “Aku bertekad untuk sembuh demi kalian… Kalian membantuku sejauh ini dan aku tak mau mengecewakan orang-orang yang kusayangi.”
“Tae… setruman listrik itu masih memberikan efek sampai sekarang membuatmu terkadang switch tiba-tiba. Benar begitu?”
Taehyung mengangguk lemah. Sepertinya demikian, mungkin masih meninggalkan semacam dejavu karena betapa mengerikannya masa-masa saat ia masih ditahan di sindikat hingga membekas meski vampire itu sudah keluar sekalipun.
“Fokus padaku, Tae… jangan biarkan dirimu lengah dan tak terkendali lagi.”
Taehyung membalas tatapan sungguh-sungguh Jungkook.
“Kita soulmate…” ujar Jungkook pelan, “Hatiku ikut sakit dengan penderitaan yang sudah kau alami akibat sindikat. Biarkan aku membantumu… Biarkan dirimu mendengar telepati yang kukirim, dan fokus pada suaraku, Tae…”
Taehyung tercengang mendengar ucapan Jungkook. Saat ini pikirannya seolah terbuka dan suara Jungkook itu menyerap dan masuk ke dalam dirinya, memenuhi batinnya. Seperti separuh jiwa Jungkook kini merasuk dan berusaha melawan trauma dan luka di dalam diri Taehyung.
Tanpa disadari air mata Taehyung pun mengalir. Dia baru tahu bahwa kekuatan soulmate sebesar ini. Entah jika bukan karena Jungkook yang merupakan soulmatenya, mungkin Taehyung benar-benar terus hopeless dan hidup dalam trauma.
“Focus only to me…” kata Jungkook lagi sambil menghapus air mata di pipi Taehyung.
Taehyung mengangguk dan memejam mata erat, membiarkan the power of soulmate itu membantu menyembuhkannya. Ia membuka dirinya, seolah Jungkook mengetuk pintu hatinya sekarang dan Taehyung membukakannya membiarkan ikatan keduanya semakin kuat sebagai soulmate.
Mereka terdiam seperti itu beberapa saat. Meski tidak mengatakan apa-apa tapi keduanya bisa berkontak batin. Taehyung mendengar suara Jungkook di dalam kepalanya, begitu pun sebaliknya, Jungkook mendengar suara Taehyung di dalam kepalanya. Keduanya kini semakin terkoneksi dan bisa bertelepati dengan lebih baik.
Taehyung membuka mata dan memberi senyum.
“I promise you… aku akan menyembuhkanmu dengan total.” kata Jungkook di dalam kepala Taehyung.
“Thank you…” sahut Taehyung. “Ini menggelikan karena kita bisa berkomunikasi tanpa perlu mengeluarkan suara.”
“Ini bagus. Kita bisa berkomunikasi dengan leluasa tanpa orang lain bisa mendengarnya.”
Taehyung mengekeh. “Hyung lain tidak bisa mendengar telepati ini.”
“Tentu saja. Itu bisa membuat kita lebih leluasa ketika bergosip.”
Taehyung mendengus. Hatinya sangat hangat dan ringan karena keduanya bisa bertukaran telepati. Ah! Tiba-tiba Taehyung teringat dengan sesuatu.
“Wae? Kau sepertinya terkejut.”
“Aku baru ingat, Kook, bahwa ada hal penting yang perlu kuceritakan padamu.”
“Hmm?”
“Di saat aku kabur dari sindikat… aku melawan banyak mafia di sana, juga ada hunter yang menyerangku. Yang mengejutkan adalah aku bertemu dengan pamanmu.”
“Mwo?” Jungkook kaget sampai mengeluarkan suara. Mata membesar panik. “Dia menyerangmu?” Jungkook teringat dulu pamannya menyimpan kebencian pada vampire yang membunuh Myunggyu dan ingin membalaskan dendam. Jungkook tidak akan terima kalau pamannya berusaha menyakiti Taehyung.
“Anni.” ucap Taehyung. “Dia justru menyelamatkanku. Aku tak bisa keluar dari sana karena lift harus diakses menggunakan kartu elektronik. Pamanmu memberikanku kartu itu dan menyuruhku cepat pergi.”
Jungkook tercengang tak menyangka pamannya justru melakukan peran besar dalam menyelamatkan Taehyung. Seorang hunter menyelamatkan vampire?
“Jika Pamanmu tidak memberikan kartu itu mungkin aku tidak akan pernah keluar dari sana.”
Jungkook harus mengucapkan terimakasih pada pamannya nanti, betapa ia berhutang budi pada Pamannya padahal Donghyuk merupakan seorang hunter.
“Dan… aku kini tahu dimana lokasi markas sindikat, Kook.”
Mata Jungkook semakin membesar. Ia menahan nafas. Benar juga ya, kenapa tidak terpikirkan olehnya. Jika Taehyung berhasil kabur itu artinya ia tahu dimana lokasi sindikat yang mengurungnya.
“Kau tidak akan menyangkanya…” ucap Taehyung serius, “Markas sindikat masih berada di Seoul… berada di bawah tanah kota Seoul.”
“Mwo?” Jungkook langsung bangkit berdiri. Kemarahannya kembali muncul ke permukaan. Dia tak menyangka kalau markas sindikat ada di kota Seoul. Selama ini dia gagal menemukannya karena memang markas berada di bawah tanah.
“Tunjukan padaku tempatnya, Tae, aku akan menghancurkan tempat itu. Aku akan membunuh Dongwook sekarang juga.”
Taehyung menarik lengan Jungkook, menyuruhnya untuk tenang dan kembali duduk. “Jangan bertindak gegabah, Jeon.”
“Tidak bisa, Tae. Aku harus menghancurkan sindikat itu.”
Mata Taehyung berubah sendu, tersentuh dengan niat soulmatenya yang begitu ingin membalaskan dendam untuknya. “Kita harus merencanakan dengan matang, Kook.”
“Kita bisa tinggal mengebomnya saja.”
“Di dalam sana ada vampire-vampire lain yang ditangkap dan dieksploitasi..” sahut Taehyung lemah. “Jika ingin menghancurkan sindikat, kita harus membuat rencana. Kau tau kan bagaimana Dongwook pun membuat rencana supaya aku ditangkap?”
Rahang Jungkook mengeras. Apabila mengingat big bos yang sudah menyandera kakaknya, menyandera Jimin, memberikan ancaman pada Taehyung akan menyerang clannya… bahkan juga menjebak Jungkook dan dijadikan ajang permainan dalam pertarungan sindikat… Jungkook benar-benar ingin membunuh big bos itu. Tapi Taehyung benar… Kini saatnya mereka perlu juga menyiapkan rencana dengan baik dan matang jika ingin benar-benar menghancurkan sindikat sampai ke akar-akarnya.
“Aku tidak akan tenang sampai sindikat hancur, Tae.” Terdengar suara Jungkook dalam kepala Taehyung.
“Arra. Kita harus memikirkan rencananya. Aku hanya… aku tidak ingin kembali lagi ditangkap.”
“Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan melindungimu.”
Taehyung memberi seulas senyum. “Gomawo, Jungkook.”
🎃🎃
unchh senangnya.. moga Taehyung disembuhkan dengan total.
author ingin novel ini bisa fokus ke hal detail.. bagaimana trauma dan kepahitan itu bisa disembuhkan😊 karena kalau mau novel ini tamat, author ingin memastikan tidak ada yg mengganjal 😭
jangan lupa berikan jejak