
Masih penasarankah dengan kelanjutan novel fantasi ini? please note bahwa cerita ini hanya fiksi saja yaa..
🎃🎃
Hari Minggu Taehyung sibuk dengan ponselnya. Dia menanyakan apa yang chingunya lakukan. Taehyung bertanya-tanya apa yang manusia lakukan di akhir pekan ya. Setelah menjadi vampire Taehyung tidak mengingat apa yang terjadi padanya sebelum berubah menjadi vampire. Dia pun bahkan tidak tahu siapa keluarganya. Tapi tidak mengapa, Taehyung tidak sensitif mengenai hal itu. Tidak ada rasa penasaran juga.
“Minum yang banyak, Tae…” ujar Namjoon saat Taehyung mengambil satu kantong darah dari kulkas.
Taehyung mengangguk. Dia baru saja mengirimkan pesan pertanyaan pada Jungkook, apa yang Jungkook lakukan di hari minggu.
“Mana Seokjin dan Yoongi Hyung?” tanyanya. Ia memasukkan sedotan ke dalam lubang kantong yang sudah dibuka, menyedotnya pelan-pelan. Setiap kantong darah yang dibeli dari website ilegal itu isinya 500 mL, cukup untuk minuman vampire dua minggu sekali.
“Yoongi di toko kuenya dan Seokjin ke sana menemaninya.” Namjoon mengambil kantong darah lain dari dalam kulkas. “Aku akan berada di kamarku untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah. Kalau kau butuh bantuan datang saja ke kamarku ya.”
“Ne..” sahut Taehyung dan Namjoon mengacak-acak rambutnya.
“Kau bisa menanyakan padaku jika mata kuliahmu sulit dipahami. Jangan malu, oke?”
“Arraseo…” Taehyung merapikan rambutnya yang berantakan. Namjoon terkekeh lalu pergi meninggalkan Taehyung dengan kantong darah di tangannya.
Ponsel Taehyung bergetar. Ia sampai terkejut dan langsung mengeceknya, ada pesan balasan dari Jungkook.
Jeon Jungkook🐰 : Aku sedang main game
Taehyung mengernyit. Game apa ya yang dimainkan Jungkook.
Kim Taehyung : game apa? Apa aku boleh ikut memainkannya?
Jeon Jungkook🐰: game online. Overwatch
Kim Taehyung : apa itu sejenis teka teki silang?
Jeon Jungkook🐰 : 🙄😑
Jeon Jungkook🐰 : lupakan
Kim Taehyung : a-aku akan menanyakannya pada hyungku
Jeon Jungkook🐰 : …
Jeon Jungkook🐰 : mungkin hyungmu juga tak kan tahu :v
Kim Taehyung : tak mungkin
Kim Taehyung : Hyungku tahu segalanya
Jeon Jungkook🐰 : terserah
Jeon Jungkook🐰 : Jangan ganggu aku, Kim
Kim Taehyung : hmm okay😔
Jeon Jungkook🐰 : jika kau tidak ada kerjaan sebaiknya kau pelajari mata kuliah besok
Jeon Jungkook🐰 : supaya kau tidak banyak bertanya padaku
Kim Taehyung : 😨😢
Kim Taehyung : arraseo
Taehyung mempoutkan bibirnya. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku dan kembali menyedot minuman. Apa ia punya kekuatan untuk mempelajari mata kuliah besok? Kepalanya penat jika memikirkannya. Ia memang tidak pernah menyukai Chemistry.
.
.
Seokjin duduk sendiri di toko kue Yoongi, menikmati kopi dan cheese cake lezat buatannya. Cheese cake Yoongi memang tidak terkalahkan. Yoongi baru membuka tokonya ini di Seoul dan respon masyarakat sudah cukup baik. Ia langsung mendapat banyak pelanggan tetap. Pelajar, mahasiswa dan pekerja.
Sejak dulu Yoongi memang hanya tertarik di bidang ini, selalu menolak jika disuruh mencoba pekerjaan manusia yang lainnya. Yoongi pandai memasak dan mendedikasikan dirinya untuk memasak.
Yoongi adalah dhampir. Ibunya manusia dan ayahnya merupakan vampire. Biasanya dhampir yang lahir akan menyebabkan keretakan rumah tangga. Itulah yang biasanya terjadi. Ayah Yoongi menolaknya dan pergi meninggalkan istrinya. Ibu Yoongi yang merupakan manusia, menua dan akhirnya meninggal. Yoongi yang luntang lantung ditemukan oleh Seokjin. Sejak itu Yoongi selalu mengikuti kemanapun Seokjin pergi, ia merasa diakui dan dihargai oleh Seokjin meski hanya merupakan setengah vampire.
Memiliki ibu seorang manusia menyebabkan Yoongi memiliki sisi melankolisnya sendiri. Itu juga yang mungkin membuatnya memiliki kekuatan empath, bisa merasakan emosi dan energi orang lain.
Seokjin memandang Yoongi yang sedang menyapa pelanggan yang memesan kuenya. Seokjin tersenyum, ia yakin Yoongi bisa menjaga diri dengan baik, bisa berbaur dengan manusia lebih baik dibandingkan vampire lain.
Sedang menyeruput kopi, mata Seokjin tak sengaja mengarah ke pintu masuk yang baru dibuka oleh tamu lain yang baru datang. Hanya saja yang datang itu Seokjin kenali sebagai Kai, kekasih Soojung. Yang anehnya, pria bernama Kai itu datang merangkul wanita lain yang bukan Soojung.
Mata Seokjin mengikuti saat keduanya berjalan menuju rak kue, sedang memilih-milih cheese cake. Kai merangkul mesra pundak wanita itu, sesekali membisikkan sesuatu ke telinga membuat wanita itu mengekeh. Dan tidak perlu mempertanyakan apakah Seokjin mendengarnya atau tidak. Tentu saja bisa ia dengar bisikan cringe yang membuat perut Seokjin mendadak mual.
Yoongi melirik ke arah Seokjin, merasakan perubahan emosi mendadak yang ada pada diri Seokjin. Yoongi heran, ia melihat ke arah yang dipandangi oleh vampire itu. Ada apa dengan couple ini? Apa Seokjin mengenal mereka? Yoongi merasakan emosi lovey dovey pada couple itu sementara emosi Seokjin saat ini seperti… marah? Tapi kenapa?
Seokjin masih memicingkan matanya melihat Kai kini menggandeng tangan wanita itu berjalan menuju mobil yang terparkir di luar. Apa lelaki bernama Kai itu sedang selingkuh di belakang Soojung? Ataukah memang keduanya sudah putus? Tapi cepat sekali langsung menggandeng wanita lain jika memang sudah putus.
“Sepertinya sekarang kau tertarik mengurusi urusan manusia?”
Seokjin bergeming. Ia menoleh dan melihat Yoongi sudah ada di hadapannya, menatapnya datar.
“Anniya, salah satu dari mereka mahasiswa di kampusku.”
“Dan kau tertarik melihat ‘urusan’ mereka?” tanya Yoongi lagi, “Emosimu bahkan sedang marah, Jin.”
Seokjin mendengus. “Aku hanya tahu bahwa lelaki itu sedang selingkuh dari mahasiswa di mata kuliahku.”
“Hmm, lalu?” Yoongi melipat tangan di dada, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Hanya itu, Yoongi. Aku tidak berniat mengurusi urusan manusia.”
Yoongi memiringkan kepalanya, merasakan emosi Seokjin yang kini berangsur-angsur tenang dan normal, entah Seokjin sengaja melakukannya supaya Yoongi tidak terus menanyainya.
“Cheese cakemu sangat lezat…” ucap Seokjin mengalihkan pembicaraan.
Yoongi memberi smirk lalu bangkit berdiri dan kembali melayani tamu yang datang.
Itu benar… Seokjin tidak berniat mencampuri urusan manusia, apalagi masalah romance. Hanya saja… jika Soojung ternyata tidak tahu bahwa Kai melakukan cheating di belakangnya seperti ini, Seokjin merasa tidak bisa tinggal diam. Seperti ada magnet yang membuat Seokjin selalu tertarik pada Soojung. Seokjin ingin mengabaikannya… namun daya tarik itu semakin kuat. Apa mungkin karena Seokjin kembali mengingat peristiwa beberapa tahun lalu saat pertama ia bertemu Soojung?
***
Soojung sedang mengetik di laptop, mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tengah. Adiknya sedang menonton TV sambil memakan camilan.
“Noona,” panggil Jungkook yang duduk di sofa, jarinya sudah berwarna kuning karena bumbu chiki yang sedang ia makan, “Dua minggu lagi Halloween, apa kau mau ke Itaewon bersamaku?”
“Aku tak pernah tertarik dengan Halloween, Kook.” sahut Soojung sambil terus fokus ke laptop.
“Saat Halloween, Itaweon akan menjadi tempat yang ramai, banyak turis, aku ingin melihatnya karena aku belum pernah ke Itaewon saat Halloween. Maukah Noona menemaniku?”
“Kau bisa ajak temanmu, Noona sepertinya akan di rumah karena banyak tugas.”
Jungkook memonyongkan bibirnya, sedikit kecewa. Dia sangat ingin ke Itaewon karena penasaran seperti apa orang-orang akan berkostum di hari Halloween. Dia sudah mendengar banyak berita bahwa Itaewon yang terbaik saat pesta kostum. Jungkook sangat ingin datang, tapi masa sendiri? Masa dia harus mengajak Taehyung bersamanya?
Jungkook meringis, membayangkan jika ia membawa Taehyung ke sana. Jangan-jangan anak itu malah menangis histeris karena ketakutan? Jungkook tertawa pelan, geli membayangkannya.
“Tidak ada tugas, Kook?” tanya Paman mengagetkan Jungkook dan mengambil duduk di sebelahnya. Pamannya ini sudah pulang dari Daegu kemarin, membawa kabar bahwa misinya tidak berhasil menemukan vampire. Berhari-hari tiada hasil membuat paman disuruh kembali ke Seoul.
“Sudah kukerjakan, Paman.”
Lelaki paruh baya itu tersenyum. “Aigoo, kalau kau kuliah dengan sangat baik, Paman ragu kau tetap ingin menjadi hunter.”
Jungkook menoleh. Dia agak tersentak mendengar kalimat terakhir pamannya. Apakah kelak dia mau bekerja sebagai seorang hunter? Tapi Jungkook juga sudah cukup nyaman dengan apa yang ia kerjakan. Dia menjadi tertarik bekerja di laboratorium.. atau menjadi apoteker, seperti almarhumah ibunya.
“Lagipula pekerjaan hunter cukup berbahaya,” lanjut Paman menyadari keragu-raguan Jungkook. “Gajinya memang lumayan, tapi bahaya yang dihadapi tidak sebanding.”
“Seperti apa rasanya saat menyerbu sarang vampire?” tanya Jungkook, kini sudah tidak tertarik dengan TV dan snacknya.
“Menggairahkan,” sahut Paman tanpa ragu, “Setiap vampire punya kemampuan yang berbeda-beda. Meski demikian hunter bisa mengalahkan mereka asal diperlengkapi dengan senjata yang memadai. Pisau lipat di balik sepatu boot, pistol dengan peluru silver, serta pendengaran yang tajam.”
Jungkook mengangguk-angguk. “Tapi jika tidak mengenai jantung vampire, percuma kan? Vampire itu tetap bisa hidup dan kabur.”
“Itu sebabnya seorang hunter harus diperlangkapi dengan tembakan jitu. Jika bidikan meleset dan tidak mengenai jantung vampire maka nyawa yang akan menjadi taruhan.”
“Apa banyak hunter yang mati terbunuh di tengah-tengah tugasnya?”
Paman memandangi Jungkook dengan cermat. “Banyak. Banyak sekali, Jungkook.” Ia tidak akan lupa bahwa ada rekan terdekatnya yang mati terbunuh oleh vampire. “Tapi kabar baiknya, jumlah vampire yang terbunuh tiap tahunnya lebih banyak.”
Jungkook menatap Paman dengan mata bulatnya. Banyak pertanyaan berseliweran di benak Jungkook mengenai vampire. Dia tidak pernah mendengar berita mengenai serangan vampire yang menghisap darah manusia… Ada beberapa berita absurd yang beredar mengenai ‘monster’ tapi tidak dikaitkan ke vampire. Jungkook jadi bertanya-tanya, apakah selama ini vampire bersembunyi… karena takut akan dihabisi hunter? Kalau seperti ini, bukankah penyerangan hanya berasal dari satu pihak saja?
“Yang jelas saat menyerang sarang vampire, kami harus mengincar Alphanya dulu. Jika ketua kelompok mati, itu akan membuat kekuatan vampire dalam clan-nya melemah dan memudahkan dalam operasi pembasmian.” tutur Paman.
“Bagaimana hunter bisa membedakan mana yang Alpha?”
“Alpha dalam sebuah clan biasanya yang terkuat… dan matanya berwarna merah menyala, selalu agresif karena ingin melindungi clannya.”
Jungkook mengangguk-angguk. Kalau dia mungkin tidak akan bisa membedakannya. Saat pemburuan, mungkin Jungkook akan menembaki apapun yang dilihatnya dengan peluru silver. Namun pamannya pernah mengatakan bahwa seorang hunter tidak boleh menyia-nyiakan peluru silver begitu saja. Peluru silver sangat mahal harganya. Peluru silver digunakan untuk membidik tepat ke jantung vampire, membunuhnya dalam sekali tembakan.
Soojung mendengarkan sejak tadi. Ia berhenti mengetik, mengistirahatkan jarinya yang kaku. Ia jadi berpikir seperti apa latar belakang lahirnya vampire? Apa malaikat neraka mengirim virusnya pada sekelompok manusia dan mengubahnya menjadi vampire? Soojung pun ingin tahu sejarah-sejarah lainnya mengenai hubungan manusia dan vampire. Apa manusia dan vampire bisa hidup berdampingan?
Soojung teringat pada dosen Sejarahnya yang pernah mengatakan kalau ia juga mengetahui hal-hal mengenai vampire. Soojung mungkin bisa menanyakan mengenai sejarah vampire? Mungkin dosennya tahu bahwa ada kaitan keikutsertaan vampire dalam sejarah manusia?
🎃🎃
Jangan lupa berikan like, comment serta vote. Trims.