
Pagi itu setelah mandi, Taehyung mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah. Ia memandang dirinya di cermin, melihat rambutnya yang agak panjang itu. Selama ini Taehyung yang innocent selalu memberi style neat pada rambutnya yang mana jauh dari seleranya. Taehyung yang asli lebih suka rambutnya urakan namun tetap charismatic.
Vampire itu mengacak-acak rambutnya. Hari ini dia akan kuliah… sudah tak sabar ingin menunjukkan kebolehan dirinya yang sebenarnya.
Taehyung membuka rak dan mencari-cari sesuatu di sana. Ia menemukan bandana hitam yang akan ia pakai untuk mengubah stylenya. Orang-orang kampus tidak akan lagi melihat Taehyung innocent dan kampungan. Ia pastikan ia akan mengubah image itu dan mengejutkan semua orang.
.
.
Tubuh Jungkook masih loyo dan tidak bersemangat untuk kuliah hari ini. Ia tidak ada gairah hidup. Ia tidak ada niatan untuk fokus belajar dan mendengarkan dosen. Dirinya sendiri lebih fokus memikirkan akan seperti apa sikap Taehyung hari ini padanya.
Saat melewati lorong menuju kelas, Jungkook sudah merasakan beberapa mahasiswa yang heboh dan kasak kusuk membicarakan sesuatu. Ia mendengar salah seorang mahasiswi yang mengatakan :
“Dia tampan sekali! Aku tak menyangka selama ini satu gedung dengannya!! Jantungku… omo.. jantungku…”
“Dia Kim Taehyung dari Chemistry kelas A kan? Astaga Eomma… kenapa aku tolol baru menyadari ada pria high quality seperti dia disini~!!”
Mata Jungkook membesar bingung. Ia pun melihat arah pandang para mahasiswi itu. Dari lorong sebelah kiri, pria yang dimaksud sedang berjalan gontai, mengabaikan sekitarnya. Yang berbeda adalah itu bukan seperti Taehyung yang biasanya memakai jumpsuit dengan warna mencolok. Taehyung yang hari ini memakai pakaian casual dengan jaket jean… rambutnya pun ditarik tinggi menggunakan headband hitam. Dan yang mencengangkan Taehyung sama sekali tidak berusaha menyembunyikan matanya yang berwarna abu-abu itu.
Jungkook sangat tercengang. Itu tidak seperti Taehyung yang ia kenal… bahkan dari ekspresi dan cara berjalannya pun berbeda dengan Taehyung. Jungkook bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi sampai Taehyung bisa berubah drastis seperti itu.
Saat sedang berjalan seperti itu, Taehyung dicegat oleh Jaewook, Bohyun dan Geunwon. Seperti biasa tiga mahasiswa itu memang akhir-akhir ini berusaha memeras Taehyung. Hari ini pun tidak menjadi pengecualian meski mereka heran dengan perubahan penampilan Taehyung itu.
Jaewook mencegat Taehyung dan mendengus. “Ingin pamer? Kau pikir ini catwalk?”
Taehyung menaikkan sebelah alis menatap tiga orang yang bagaikan tikus got itu. Memangnya ia tidak ingat bagaimana tiga orang ini memerasnya, mengambil uang dan memukul kepalanya?
Sementara Bohyun agak canggung karena merasakan aura yang berbeda di dalam diri Taehyung yang berbeda dengan sebelumnya. Taehyung yang ini tampak berani dan bold, seolah ia bisa memecahkan kepala mereka semua dengan tangan kosong.
“Uang mana uang?” tukas Geunwon.
Jungkook yang melihat dari kejauhan sudah akan mendatangi mereka untuk melindungi temannya namun terhenti karena Taehyung sudah melakukannya terlebih dulu.
Taehyung memberi smirk sinis lalu memegang pergelangan tangan Jaewook. Ia hanya menggunakan sedikit saja kekuatannya dan Jaewook sudah panik seperti itu, menahan rasa sakit.
“Wae? Sakit? Aku hanya memegangmu.” tukas Taehyung pelan.
Jaewook memandang Taehyung dengan ngeri. Pergelangan tangannya begitu sakit seolah ditekan sangat keras, menahan peredaran darahnya.
“Kau bisa membayangkan jika aku menaruh tanganku di lehermu, eoh?” bisik Taehyung sinis.
Bohyun menelan ludah, sudah menduga kalau mereka ada dalam bahaya. Orang di hadapan mereka terlalu menyeramkan. Bohyun menahan tangan Geunwon yang sudah akan melawan. Percuma saja karena suasana akan semakin buruk jika Geunwon ingin melawan Taehyung.
“Aa.. aa…” erang Jaewook, “Mianhe.. mian… Aku minta maaf Taehyung-ssi, sungguh, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Taehyung mendengus. Ingin rasanya ia membuat orang-orang ini kapok dengan memberi pelajaran tapi sepertinya jika demikian ia hanya akan menarik perhatian penghuni kampus saja.
Taehyung pun menghempaskan lengan Jaewook. Ia mendorong bahu manusia itu untuk membuka jalan baginya. Taehyung pun berjalan pergi tak peduli dengan tatapan ngeri yang diberikan 3 manusia itu.
Taehyung menolehkan kepalanya ke arah Jungkook, menyadari ada kehadiran manusia itu sejak tadi. Indra penciumannya bisa mengendus keberadaan Jungkook. Taehyung melihat dengan jelas wajah Jungkook yang tercengang menatapnya, seolah ia ini hantu. Dalam hati Taehyung meringis, tentu saja, bukankah Jungkook selama ini menganggapnya sebagai monster? Jadi… Taehyung akan memberikan pertunjukkan dan membuat Jungkook semakin yakin bahwa dirinya memang monster.
Taehyung memberi smirk pada Jungkook. Ia mengacak rambutnya sendiri lalu memalingkan wajah dan berjalan terus menuju kelas, mengabaikan pandangan orang-orang yang takjub dengan penampilannya ini.
Sementara Jungkook masih berdiri di sana, sangat-sangat terguncang dengan pemandangan tadi. Jungkook semakin yakin bahwa itu bukan Taehyung yang selama ini ia kenal.
.
.
Kejadian di kelas lebih mencengangkan lagi. Dosen menegur Taehyung karena memakai bandana di kelas, menganggapnya seperti ingin bergaya bukan untuk belajar dan dididik.
Taehyung hanya bertopang dagu, menatap datar Profesor yang sedang menegurnya itu. “Tidak ada larangan menggunakan bandana. Rambutku sudah terlalu panjang jadi aku harus menggunakan bandana.”
“Kau bisa menggunakan gel, tidak perlu menggunakan bandana, ini bukan tempat konser. Dan matamu pun memakai lensa kontak.” tukas profesor itu mengkel.
Taehyung memutar bola mata. Dia tidak menggunakan lensa kontak, mata abu-abunya ini adalah asli. Taehyung memang tidak mau menggunakan lensa kontak, baginya matanya sudah normal tak perlu ditutupi, kecuali mata putihnya yang memang harus ia kendalikan dan ia sembunyikan.
“Jika aku bisa menjawab soal yang ada di white board itu apa aku bisa diijinkan menggunakan bandana?”
Profesor menatap Taehyung merendahkan, seingatnya mahasiswanya ini sebelumnya tidak aktif dan juga tidak terlalu mendapat nilai terbaik, bagaimana mungkin menantangnya untuk menyelesaikan problem solving sulit yang ada di white board. “Jika kau bisa menyelesaikannya, kau bahkan bisa langsung angkat kaki dari mata kuliahku dan mendapat jam kosong.”
Taehyung mengangkat wajah pada sang dosen, merasa sangat tergiur dengan tawaran itu. “Call.” ucapnya dengan smirk lalu langsung bangkit berdiri.
Mahasiswa lain berbisik-bisik ribut karena soal yang ada di white board merupakan soal challenge dari buku, artinya soal ini memang merupakan soal tingkat tinggi. Jungkook duduk tegang dan terus memandang Taehyung yang berjalan gontai ke depan. Damn… apa Taehyung bisa mengerjakan soal itu? Jika tidak, maka yang ada Taehyung mendapat sanksi ganda dari dosen.
Taehyung mengambil spidol. Ia menatap soal itu seolah berpikir sejenak, beberapa saat kemudian mulai sibuk menulis penyelesaiannya. Seperti sedang menyalin dari buku, tangannya dengan lancar menulis penyelesaian. Tulisannya memang sedikit acak-acakkan karena yang bersangkutan tampak tidak terlalu berminat untuk menuliskan dengan rapi.
Taehyung selesai menulis. Ia menaruh spidol dengan slow motion lalu menoleh pada dosennya yang sedang terpana, wajah syok menatap white board.
“Bagaimana?” tanya Taehyung sambil mengangkat sebelah alis. Bandana yang dipakainya membuat alis matanya yang tebal itu menjadi lebih tampak dan.. memukau.
Dosen mengerjap-ngerjap pada Taehyung, masih tak mempercayainya. “Ba-bagaimana kau bisa…”
Jungkook pun menutup mulutnya, dia sangat tercengang. Taehyung bisa menyelesaikan soal challenge??? Sebelumnya vampir itu bahkan selalu kesulitan dalam mata kuliah Chemistry dan selalu Jungkook yang membantu mengajarinya!!
Well damn…
Apa Taehyung berkepribadian ganda? Karakter dan penampilannya yang begitu berbeda… bahkan dia juga memiliki kecerdasan cukup tinggi.
Taehyung keluar dari kelas dan memilih untuk duduk sendiri di bawah pohon. Menyenangkan juga bisa bebas dari satu kelas. Seandainya ia bisa bebas dari semua mata kuliah dan tidak perlu menghabiskan waktu di tempat ini.
Vampire itu menatap langit biru dengan awan putih yang berarak. Ia melamun memikirkan kenangan di masa lalunya. Dirinya sudah muncul setelah sekian lama bersembunyi dan membiarkan si Taehyung innocent yang mengambil langkah di hidupnya. Kini… saat kepribadiannya yang lain menolak untuk muncul dan memilih tertidur lelap… dia mau tak mau harus menjalani hidupnya seperti normal. Tidak ingin sombong, tapi otaknya tidak dangkal. Dia bahkan yakin bisa menyelesaikan perkuliahan dengan cum laude.
Jika sudah seperti ini, Taehyung merasa ia harus mulai melakukan rencananya. Ia harus memanfaatkan kecerdasan serta kekuatan vampirenya untuk membalaskan dendamnya pada para oknum yang telah merusak dirinya ini.
Taehyung memberi smirk. Ia mengusap bibirnya, mengingat-ingat kejadian dulu itu. Sangat memuakkan memang dan membuat linu… tapi ia malah tersenyum sendiri.
Taehyung mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu di pencarian. Dia akan mencari berbagai jenis cerutu dan membelinya. Mungkin ini bisa menjadi langkah awal.
Saat kelas sudah berakhir, Jungkook berusaha mencari Taehyung. Banyak pertanyaan yang berseliweran di benak Jungkook. Dan jika memungkinkan ia pun ingin meminta maaf lagi untuk apa yang sudah ia lakukan selama ini pada temannya. Rasa bersalah itu masih ada apalagi karena Taehyung sudah tidak menganggapnya lagi. Keadaan memang menjadi berbalik. Karma memang sedang mencercanya. Kini gilirannya yang harus memohon supaya Taehyung kembali menjadi temannya. Ini menyedihkan… tapi Jungkook sudah memiliki keputusan bulat. Ia ingin Taehyung kembali menjadi temannya.
Taehyung tidak ditemukan dimanapun akhirnya Jungkook nekat ke gedung perkuliahan Jimin. Ia sampai menunggu di depan kelas Jimin sampai temannya itu beres kuliah.
“Kook?” tanya Jimin heran saat melihat Jungkook sudah berdiri di luar kelasnya. Jimin mengernyit, tumbennya Jungkook sampai datang ke gedung ini menemuinya.
“Ada yang harus aku bicarakan padamu, Jimin…” ucap Jungkook. Ia percaya Jimin bisa membantunya… baginya hanya Jimin yang mendukungnya, mempercayainya bahwa ia telah menyesal dari perbuatan yang sudah ia lakukan terhadap Taehyung.
“Kau tidak bersama Taehyung?” tanya Jimin.
Jungkook menggeleng lemah. Itu juga yang ingin ia tanyakan.
Akhirnya keduanya pun pergi ke tempat yang lebih enak untuk mengobrol. Keduanya duduk bersama di taman di gedung tersebut.
“Mungkin perkataanku akan terdengar gila dan absurd…” gumam Jungkook pada Jimin, “Tapi aku merasa Taehyung sangat berbeda semenjak kejadian ia tertembak hunter.”
Mata Jimin membesar memandang temannya. Ia tak menyangka bahwa Jungkook cepat menyadari hal itu. Memang, jika orang terdekat pasti akan langsung merasakan perbedaan kepribadian yang sekarang ada di dalam diri Taehyung.
“Dia lebih….” Jungkook berhenti karena sulit memilih kata-kata yang menyimpulkan diri Taehyung saat ini.
Jimin memberi anggukan, menyuruh Jungkook untuk terus melanjutkan.
“Taehyung yang kukenal tidak seperti ini. Taehyung yang sekarang sangat percaya diri, bold, berkharisma… kau bahkan harus mendengar orang-orang yang menyebutnya sebagai idol.”
Jimin menaikkan sebelah alis, menahan senyum mendengar ucapan Jungkook itu. “Lalu bagaimana menurutmu? Apa itu salah?”
Jungkook menelan ludah. Tentu saja itu tidak salah. Hanya saja… jika Taehyung innocent mungkin dirinya akan langsung dimaafkan dan mereka bisa berteman kembali. Tapi Taehyung yang sekarang mengabaikannya dan tidak menganggapnya lagi. Jungkook tidak mau hal itu.
“Aku berpikir dia orang yang berbeda.” sahut Jungkook akhirnya.
Jimin tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Jungkook. Awalnya pasti akan sangat mengejutkan tapi Jimin pun sudah terbiasa dan masih mengganggap Taehyung adalah orang yang sama, temannya. “Sulit menjelaskannya, Kook… bisa dibilang dia berkepribadian ganda.”
“Mwo?” Jungkook terperangah mendengar pernyataan Jimin. Taehyung memiliki kepribadian ganda?
“Tapi dia tetap Taehyung, tak ada bedanya.” kata Jimin.
Jungkook memandang Jimin seolah Jimin gila. Taehyung yang ia kenal sangat berbeda jauh karakternya dengan Taehyung yang sekarang. Entah Jungkook bisa menerimanya atau tidak.
“Kalau pun kau ingin meminta maaf atas apa yang sudah kau lakukan kau bisa meminta maaf padanya sekarang,” tutur Jimin, “Pada hakikatnya dia adalah Taehyung, teman kita.”
Jungkook mendengus pelan. Bagaimana mungkin Jimin dengan semudah itu mengatakannya. Teman yang ia tahu tidak seperti itu. Taehyung yang ia kenal pasti akan mengikutinya kemanapun ia pergi dan berusaha menjaga hubungan pertemanan mereka.
“Kuharap masalah di antara kalian bisa diselesaikan, Kook.”
“Apa kau tahu kalau dia mengatakan tidak mau berteman denganku?” tukas Jungkook, “Dia mengatakannya. Dia bukan Taehyung jika mengatakan demikian.”
Jimin mengangkat sebelah alis. Vmemang cukup strict dan sedikit tak berperasaan. Mungkin selama ini V melihat bagaimana sikap Jungkook yang menyakiti Taehyung terus hingga V memutuskan sendiri hubungan pertemanan dan sudah tak mau peduli lagi pada Jungkook.
“Dia pasti butuh waktu…”
Jungkook rasanya ingin berteriak. Ini sangat mengesalkan. Hubungannya dengan Taehyung lebih parah dibanding sebelumnya. Di kelas mereka seperti tak saling kenal bahkan Taehyung mengacuhkannya dan tidak membutuhkannya lagi. Jungkook baru mengetahui seperti apa rasanya tidak dianggap teman, hal sama yang ia lakukan sebelumnya pada Taehyung.
“Jungkook, aku yakin kalian bisa dekat seperti dulu. Its about time.”
Jungkook mendesah panjang. Baiklah… ini pun merupakan bagian dari kesalahannya. Jungkook akan tetap mencoba berusaha mengembalikan hubungan mereka.
🎃🎃
author suka innocent Taehyung.. tapi author ga sabar lihat aksi V. Kalau readers bagaimana?
kira-kira apa sih dendam yang dimiliki V dan apa yang mau ia lakukan? lalu bisakah Jungkook menerima kepribadian Taehyung yang lain ino dan mereka kembali menjadi teman sejati?
jangan lupa berikan like dan comment.