Vampire In The City

Vampire In The City
Kabar Pagi Itu



Bisa dibilang novel ini cukup slow dengan berbagai macam konfliknya. Author udah ngebayangin konflik demi konflik yang akan dialami para tokoh di novel ini.


Sebagai bocoran aja tokoh asli Taehyung belum nongol disini... 😅 meski sebenarnya author udah ga sabar, tapi kalau dipaksakan langsung muncul nanti ceritanya akan aneh. Jadi yang sabar aja ya baca cerita ini... perjalanan masih panjang.. Big Bos sindikat vampire nya juga belum muncul kan.


Bodohnya memang kadang author suka mandek menuliskan cerita ini, mencari cara gimana biar feel cerita tetep dapet.


Mohon tetap setia menanti episode demi episide nya ya. Berikan dukungan pada author supaya semangat. Jika sanggup dan sempat author akan merilis lebih dari 1 episode per harinya


Oke selamat membaca



Pagi itu Jimin terbangun dengan rasa panas di kerongkongannya. Jimin tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, tapi kulitnya seperti terkena alergi, berwarna kemerah-merahan. Jimin langsung minum air dingin banyak-banyak, berusaha menyejukkan kerongkongannya yang seperti terbakar. Tapi rasa itu tidak hilang.


Ada yang aneh… ada yang salah dengan tubuhnya.


Jimin meraih ponselnya dan mencari nomor Taehyung. Ia harus menelepon sahabatnya. Jimin berharap ia tidak mengganggu Taehyung di weekend ini karena sekarang masih pukul delapan kurang.


“Jiminnie?” sapa Taehyung di seberang. Taehyung baru saja tiba di rumah setelah pulang dari rumah Jungkook. Untung para hyungnya tidak menanyakan lebih lanjut perihal kepulangan Taehyung yang sangat cepat itu.


“Tae… aku merasa kerongkonganku panas.”


“Mwo?” Nada suara Taehyung langsung panik. “Kau baik-baik saja? Kau dimana?”


“Aku di rumah, Tae. Aku baru bangun dari tidur dan aku merasa kerongkonganku panas… kulitku juga memerah.”


“Hyungie!!” seru Taehyung terdengar di seberang. Vampire itu berlari di rumah menuju kamar Yoongi. Untungnya hyungnya sudah bangun. Yoongi sudah mendengar percakapan itu dengan telinga vampirenya.


Yoongi langsung mengambil ponsel dari tangan Taehyung. “Kurasa itu efek dari ketergantungan darah vampire, Jimin-ssi. Kau harus ditransfusikan darah vampire atau kondisimu akan memburuk berkali-kali lipat sebelum kau ditransfusikan darah vampire.”


“A-apa?” Jimin begitu syok mendengarnya. Jadi dia benar-benar harus bergantung pada darah vampire?


“Aku masih berusaha mencari penangkalnya,” sahut Yoongi sambil mengacak rambut. Yoongi sedang berusaha menghubungi dokter vampire yang dulu ia kenal untuk mencari tahu bagaimana mengembalikan kondisi Jimin seperti sedia kala. “Kurasa sebaiknya kau ke sini, Jimin-ssi… aku harus mentransfusikan darah vampire ke dalam tubuhmu.”


Jimin mematung dengan mata membesar. “La-lalu apa yang terjadi jika aku tidak ditransfusikan darah vampire?”


Yoongi menghela nafas pelan. “Gagal ginjal.”


Taehyung langsung mengambil ponsel itu dan berbicara panik pada temannya. “Jiminnie, kau harus ke sini. Kalau perlu aku akan menjemputmu, Jiminnie!! Aku tidak ingin kau sakit.”


“Tae…” Jimin merasa hatinya begitu pedih. Ternyata seperti inikah penyakit kronis yang ia alami?


Terdengar suara Yoongi kembali di seberang. “Aku dan Taehyung akan menjemputmu ke rumahmu. Kau bersiap-siap saja.”


Jimin menelan ludah, terlalu speechless untuk bisa menyahut ucapan vampire itu. Jimin terduduk di tempat tidur masih cukup terpukul dengan berita yang ia dengar. Kalau sudah seperti ini ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran Yoongi. Dia harus menerima transfusi darah vampire secara berkala sampai obat penangkalnya ditemukan.


Dua puluh menit kemudian, mobil porsche sudah datang menjemputnya. Jimin minta ijin ke ibunya dengan alasan ia akan menghabiskan weekend di rumah teman.


Taehyung langsung memeluk Jimin saat mereka bertemu di luar rumah. Taehyung sangat cemas melihat Jimin, meski manusia itu menutupi badannya dengan jaket dan masker tapi sepertinya alergi yang dialami Jimin cukup parah.


Jimin mengangguk. Ia pun tak bisa menahan rasa panas di kerongkongannya ini, mungkin transfusi adalah jalan keluar terakhir yang bisa diambil.


Yoongi memberi senyum pelan pada Jimin. Dhampir berambut putih itu bisa merasakan bagaimana rasa takut dan cemas yang dimiliki Jimin. Tapi bisa dibilang sebenarnya Jimin beruntung. Jimin bisa berangsur pulih dari penyakitnya jika secara berkala mendapatkan transfusi darah vampire. Tak hanya itu, Jimin pun mendapat keuntungan lain, stamina tubuhnya semakin baik serta awet muda. Dan karena hubungan pertemanan antara Jimin dan Taehyung, para hyung Taehyung bersedia membantunya.


Sementara itu di rumah, Seokjin mendapat telpon dari salah satu dewan vampire, menginformasikan mengenai pertemuan dewan vampire yang akan dilakukan sebentar lagi.


“Dimana pertemuan ini dilakukan?” tanya Seokjin dengan ekspresi serius pada Jackson di seberang. Jackson adalah salah satu anggota dewan vampire yang berasal dari clan Hwang.


“Kami sedang mencari tempat yang pas. Alpha kami memiliki vila di pinggir hutan bambu kota Seoul,” ujar Jackson, “Dari pintu gerbang ke villa berjarak 300 meter, cukup aman. Kami sudah mengecek keamanannya.”


“Kau tahu kalau pertemuan ini lebih mencemaskanku dibanding sebelumnya karena bayi vampire dari clanku yang harus ikut. Tentu saja aku ingin memastikan keamanannya.”


Namjoon dan Hoseok duduk bersebelahan, mendengarkan percakapan itu baik-baik. Wajah Seokjin yang tegang dan serius cukup membuat keduanya tidak berani berkata apa-apa.


“Pertemuan dewan vampire selalu aman, Jin…” ucap Jackson, “Clan Cha memang akan hadir di pertemuan dewan ini, mungkin sekitar 4-5 vampire sudah termasuk Woobin dan Xiumin.”


Seokjin menggertakkan gigi. “Aku tidak ingin ada keributan di pertemuan itu, Jackson. Jika mereka masih marah karena perbuatanku 6 tahun silam, lebih baik mereka balaskan padaku. Taehyung tidak ada hubungannya dengan kasus itu, dia bahkan belum bergabung dalam clanku saat itu.”


“Aku mengerti, Jin. Semua bisa dipaparkan di pertemuan nanti. Dan kau tahu bahwa clanku berpihak pada clanmu mengenai kasus tersebut. Tapi untuk kasus baru yang terjadi masih perlu banyak diinvestigasi. Woobin dan Xiumin mengalami patah tulang tangan dan kaki dengan klaim anggota clanmu yang melakukannya.”


Seokjin meniup poni keras-keras. “Itu pembelaan diri namanya. Tapi aku tidak percaya kalau tulang tangan dan kaki mereka patah. Itu pasti bualan mereka saja. Kau harusnya melihat kondisi anggota clan-ku dan teman manusianya. Woobin dan Xiumin bahkan mencoba membunuh manusia yang tak ada hubungan apapun dengan mereka! Aku menuntut clan mereka diasingkan ke pulau yang jauh dari Korea Selatan.”


Jackson memijat kening, kasus ini memang memusingkan karena masing-masing pihak yang sama-sama menuntut dan merasa menjadi korban. “Kita akan selesaikan itu di pertemuan dewan, Jin. Aku tak bisa mengatakan apa-apa saat ini. Yang jelas pertemuan akan diadakan hari Rabu depan. Kau cukup datang dengan Taehyung saja. Manusia tidak perlu datang, kalaupun ada kesaksiannya itu bisa diwakilkan oleh Taehyung sendiri karena dia ada di sana melihat semuanya.”


“Oke, oke…” tukas Seokjin. Komunikasi pun terputus. Seokjin masih merasa kesal di dalam hatinya. Ia jadi berpikir bahwa pertemuan itu akan jauh lebih runyam dibanding sebelumnya. Seokjin tidak ingin Taehyung menjadi korban dari konflik yang ada di masa lalu. Ia ingin menyelesaikan masalah ini tanpa mengancam keselamatan Taehyung. Clan Cha bisa saja menyerang Taehyung kembali di sidang itu bukan?


Sial… memikirkannya saja membuat mata merah Seokjin berkilat marah.


“Hari Rabu ya?” ucap Namjoon akhirnya memecah keheningan. “Apa kami pun tidak bisa ikut?”


Seokjin menggeleng. “Tidak perlu. Aku pun tidak ingin clan Cha mengincar kalian apalagi mereka belum tahu kalau Hoseok bergabung di sini.”


Hoseok menelan ludah. Dia belum banyak mengetahui dengan pertemuan semacam ini tapi dia cukup excited, jika saja dia bisa hadir dia mungkin akan terpukau karena bisa melihat vampire-vampire lain yang ada di kota ini. Hoseok membayangkan seperti apa ya kekuatan supranatural vampire-vampire lain. Pasti keren sekali.


“Jika mereka berbuat macam-macam pada Taehyung di sidang itu aku tidak akan menahan diri lagi,” tukas Seokjin. Kemarahan Seokjin rupanya tak pernah surut pasca penyerangan yang dialami oleh Taehyung. Kalau bisa, Seokjin ingin membalaskannya.


Terdengar suara mobil terparkir di luar rumah. Yoongi, Taehyung dan Jimin sudah tiba.


“Kita bisa diskusikan ini nanti. Hyung, redam emosimu dulu. Kita fokus saja dulu membantu Jimin.”


Pelan-pelan Seokjin menormalkan matanya kembali dan berusaha rileks. Ucapan Namjoon benar. Dia harus berkepala dingin saat ini. Mudah-mudahan semua itu hanya prasangkanya saja. Seokjin berharap pertemuan dewan vampire berjalan dengan baik dan lancar tanpa perlu ada pertumpahan darah.



🎃🎃