Vampire In The City

Vampire In The City
Pembicaraan Malam Itu




Makan malam usai namun acara pengakraban ini tidak berakhir begitu saja. Wine dituangkan untuk membuat hati senang dan riang. Obrolan pun menjadi terasa lebih ringan.


Di ruang tengah ada Seokjin, Soojung, Yoongi dan Namjoon yang sedang mengobrol.


“Yoongi sangai pandai membuat cheesecake,” tutur Seokjin pada kekasihnya, “Lain waktu aku akan membawamu ke tokonya.”


“Wah… aku sangat suka cheesecake..” ucap Soojung dengan eye smile.


“Yang memasak makan malam tadi pun adalah Yoongi.” tambah Namjoon.


Soojung mengangguk dan menoleh pada Seokjin. “Aku jadi ingat kalau Oppa juga pernah menceritakan kalau saudaramu ada yang pandai memasak dan bersih-bersih rumah.”


Yoongi menahan malu, memegang batang hidungnya sendiri. Aish, sudah sesering apa Alpha mereka menceritakan anggota clan pada manusia seperti ini? Semoga saja hanya hal-hal yang bagus saja yang diceritakan.


Seokjin mengekeh. “Oh ya, Soojung-ah, sebentar lagi basement-ku akan segera selesai. Seperti yang pernah kuceritakan bahwa aku ingin membuat tempat latihan menembak dan gym.”


“Kudengar kau pandai menembak ya?” tanya Namjoon pada Soojung dengan sopan. Mana mungkin Namjoon lupa kalau wanita itu pandai menembak sampai diajak ke buruan besar untuk menembaki vampire saat sidang dewan beberapa minggu lalu?


“Iya.. Itu adalah hobiku sejak dulu, kemampuan menembakku jadi makin terasah.” sahut Soojung rendah hati. “Kalau Jungkook, dia menyukai olahraga dan boxing.”


Mata Namjoon membesar. “Daebak. Dia bisa menjadi partner olahragaku kalau begitu. Di rumah ini tidak ada yang suka olahraga.”


Seokjin hanya meringis. Itu memang memalukan tapi rasanya Namjoon tidak perlu mengumbar seperti itu ya.


Sementara itu di dapur, Hoseok tengah mengajak Taehyung berbicara, menanyakan dengan detail apa yang sebenarnya dilakukan Taehyung di club Black Dragon.


“Sebenarnya apa yang kau cari di Black Dragon?” tanya Hoseok pelan supaya suaranya tidak terdengar oleh vampire lain.


Taehyung meneguk winenya lalu memainkan gelas setengah bosan. “Hanya bersenang-senang.”


Hoseok tahu kalau ucapan Taehyung itu hanyalah kebohongan. “Apa ada hubungannya juga dengan sindikat penjualan vampire?”


Taehyung menatap Hoseok, menimbang apa ia harus memberitahu vampire itu atau tidak.


“Setahuku itu adalah club kalangan atas,” lanjut Hoseok, “Aku tidak kaget jika ada hubungannya dengan sindikat mafia.”


Taehyung menaikkan sebelah alisnya. “Wae?”


“Sindikat besar biasanya memiliki beberapa jenis bidang usaha. Harus punya perusahaan cangkang juga untuk pencucian uang. Yang kudengar sih seperti itu. Dan kurasa clubbing adalah tempat yang tepat untuk mengumpulkan klien pembeli serta mengadakan kesepakatan. Pastinya mereka juga menyediakan semacam anggota club VIP.”


Taehyung cukup terkejut dengan ucapan Hoseok. Kenapa ia tidak pernah kepikiran sampai sana? Yah memang masih cukup jauh untuk menyimpulkan bahwa club Black Dragon ada kaitannya dengan sindikat penjualan vampire. Tapi teori yang dikatakan Hoseok cukup masuk akal.


“Black Dragon memang memisahkan anggota VIP dan anggota biasa,” kata Taehyung, “Lantai 2 club hanya bisa dimasuki oleh anggota VIP.”


Hoseok memegang dagunya, berpikir. “Mungkin dari situlah baru ada informasi penting untuk memastikan apa club itu berkaitan dengan sindikat atau tidak. Tapi masalahnya akan sulit untuk memasuki lantai VIP.”


Taehyung memberi smirk. “Pemilik club Black Dragon memberi kartu namanya padaku dan ia mengundangku untuk datang ke event member VIP weekend ini.”


“Wah jinjja?” tanya Hoseok terbelalak, “Kau sampai menemui pemilik club?”


“Tepatnya dia yang mendatangiku. Kurasa daya pikatku sudah membuatnya tertarik?”


Hoseok mendengus. “Tapi kau harus berhati-hati. Orang kaya dan berkuasa seperti itu pasti bukan orang sembarangan.”


“Apa yang harus ditakuti?” Taehyung tertawa pelan, “Jika aku sebagai vampire bisa mematahkan tulang dan mencabik dagingnya dengan mudah?”


Hoseok hanya meringis, ucapan Taehyung itu terlalu menyeramkan. Hoseok pun meneguk kembali wine-nya. Bagaimanapun pembicaraan ini hanya sekedar pembicaraan biasa bukan, hanya semacam prasangka yang belum terbukti kebenarannya. Entah Black Dragon memang berhubungan dengan sindikat perdagangan vampire atau ternyata tidak.


Sementara itu Jimin dan Jungkook tengah berbincang di balkon, meminum wine sambil menikmati udara malam. Keduanya berdiri bersebelahan, berbicara sambil melihat indahnya pemandangan malam.


“Aku harus menceritakan ini padamu, Kook,” kata Jimin, “Aku sudah terlalu lama merasa bersalah karena tidak pernah menceritakannya.”


“Hmm??” Jungkook menenggak winenya dengan tenang.


“Alasan mengapa aku cukup familiar di rumah ini.” Jimin melirik Jungkook, berharap pembicaraan bisa berjalan dengan baik.


Jungkook menatap Jimin, ia pun memang sudah lama penasaran mengapa Jimin seolah akrab dengan para hyung Taehyung… dan alasan mengapa Jimin bisa menerima kehadiran vampire begitu saja.


“Kau tau ibuku adalah dokter kan, Kook? Ah maksudku, mantan dokter.” Jimin tersenyum tipis. “Aku terlalu sombong jika menganggap bahwa aku bisa menari dengan lincah serta memiliki energi tak terbatas adalah kekuatanku sendiri. Nyatanya tidak. Jika Taehyung saat itu tidak menemukanku aku mungkin tidak pernah mengetahui fakta ini.”


“Apa maksudmu?” tanya Jungkook bingung.


“Ibuku berusaha mentransferkan darah vampire ke dalam tubuhku, Kook. Taehyung memergokinya dan berusaha menyelamatkanku karena menyangka aku sedang dijadikan kelinci percobaan.”


“M-mwo?”


Jimin mengangguk lemah. “Ada vampire yang dikurung ibuku di basement rumah kami. Vampire itu dieksploitasi dan darahnya diambil untuk ditransfusikan ke dalam tubuhku.”


Jungkook sangat terkejut, dia belum pernah mendengar hal semacam ini bahwa vampire dikurung dan diambil darahnya begitu. “Tapi untuk apa itu dilakukan?”


“Aku punya penyakit darah. Ibuku menyembunyikannya dariku. Dia berusaha membuatku tetap bertahan hidup normal dengan menggunakan darah vampire yang ditransfusikan ke dalam tubuhku 2 minggu sekali. Seokjin Hyung dan Yoongi Hyung ikut menolongku juga saat itu dan memberitahukan bahwa darah vampire bisa membantu manusia yang punya penyakit darah.”


“Aku sama terkejutnya seperti yang kau rasakan sekarang, Kook. Aku bahkan tak mempercayainya tapi aku menyadarinya sendiri saat darah vampire tidak ditransfusikan ke dalam tubuhku aku menjadi lemah. Singkatnya aku menjadi ketergantungan dan harus tetap mendapat transfusi darah. Yoongi Hyung menolongku. Ia bersedia mentransfusikan darahnya selagi mencari obat penawar lain.”


“Jimin, kenapa kau tidak pernah menceritakannya?” bisik Jungkook lemah, merasa bersalah karena tidak berada di samping temannya di masa sulit seperti itu.


“Saat itu aku masih takut, Kook. Kau sangat membenci vampire… dan masalahmu dengan Taehyung pun membuatku untuk tak dapat menceritakannya. Aku takut itu hanya memperkeruh suasana.”


Jungkook mengerti dengan posisi Jimin saat itu. Pasti temannya bingung dan akhirnya memutuskan untuk menyembunyikannya menjadi sebuah rahasia. “Lalu apa pendapatmu tentang vampire?”


“Vampire juga berhak hidup di dunia ini,” ucap Jimin tegas, “Kita tidak bisa memutuskan untuk lahir menjadi apa, manusia atau vampire. Bagiku manusia dan vampire bisa hidup berdampingan dengan damai. Aku turut sedih untuk apa yang menimpa orangtuamu, Kook, sungguh…”


Jungkook menghela nafas. Jawaban Jimin entah kenapa menenangkannya. Jimin yang sebagai orang netral memberikan pendapatnya demikian membuat Jungkook semakin yakin dengan keputusan yang harus ia ambil. Kebencian dan dendamnya terhadap vampire yang membunuh orangtuanya tidak seharusnya ia lampiaskan pada semua vampire yang ada di dunia bukan?


Jimin memberi senyum dan memegang pundak Jungkook. “Aku melihat perubahan sikapmu, Kook. Good job. Aku tahu itu berat tapi aku sangat bangga kau bisa melaluinya. Sampai kau ada di tempat ini, di rumah vampire.”


Jungkook mendengus dan Jimin tertawa kecil. Jimin melirik ke belakang Jungkook, ada Taehyung yang berdiri memperhatikan mereka dengan gelas wine di tangannya. Jimin mengangguk pelan pada Taehyung lalu kembali menatap Jungkook. “Aku ke dalam dulu ya… aku ingin menanyakan sesuatu pada Yoongi Hyung.” ujar Jimin mencari alasan.


Jungkook mengangguk saja dan Jimin pun berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Jungkook memandang langit malam dan menarik nafas dalam-dalam, tidak menyadari bahwa Taehyung datang mendekatinya.


“Cuacanya cukup baik malam ini…” ucap Taehyung berdiri di sebelah Jungkook mengagetkan manusia itu.


Jungkook menoleh tertegun. Ia tak menyangka bahwa Taehyung menghampirinya, akankah ini menjadi pertanda baik?


Taehyung hanya melihat lurus ke depan sambil kembali meminum wine-nya. Ini sangat awkward tapi Taehyung akan dihantui rasa bersalah jika dia belum berterimakasih pada Jungkook lewat dari 24 jam.


“Gomawo..” ucapnya pelan, “Aku belum sempat mengatakannya.”


Jungkook mendengus pelan dan tersenyum. Ia melihat pemandangan malam dan meminum wine-nya juga. “Apa itu terasa sakit?”


Taehyung menoleh, tidak mengerti maksud pertanyaan manusia itu.


“Apa terasa sakit saat kau belum meminum darah?” tanya Jungkook membalas tatapan vampire itu.


“Lemas dan kehabisan energi..” jawab Taehyung jujur, “Lalu bagaimana denganmu? Apa terasa sakit saat digigit?”


Jungkook tertawa pelan. “Jinjja… Kalau pun terasa sakit setidaknya tidak akan membuatku mati.”


Taehyung memiringkan kepala dan mengernyit. Jadi tadi Jungkook merasa kesakitan saat digigit? Apa itu maksud ucapan Jungkook?


Taehyung berusaha mengenyahkan ingatan mengenai perkataan Yoongi tentang soulmates. Sangat menggelikan, sampai kapanpun Taehyung tidak akan mau mempercayainya.


“Apa kau ada rencana untuk pergi lagi ke Black Dragon?” tanya Jungkook tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


“Wae? Kenapa kau menanyakannya?”


“Well… karena terakhir kulihat kau menerima kartu nama dari seorang pria di club itu.”


Taehyung memutar bola mata dan melipat tangan di depan dada. “Lalu?”


“Kau harus berhati-hati, Kim. Kadang dunia tidak sebaik kelihatannya.”


“Jungkook, kau tidak lupa kan kalau aku adalah vampire?” Taehyung tertawa sumbang, “Aku monster!”


Jungkook mengulum mulut, ucapan Taehyung itu sama sekali tidak tulus, bahkan nadanya seperti menyindirnya. “Manusia pun memiliki sifat monster yang disembunyikan.”


“Bicaramu sangat di luar konteks.” Taehyung mengacak rambut, berusaha 100% fokus meski sudah banyak wine yang ia minum. “Aku hanya sedang menambah relasi dan kau menuduhnya merupakan monster. Apa kau lupa kalau aku monsternya?” Taehyung tertawa sendiri.


Jungkook ingin sekali menyuruh Taehyung untuk berhenti mengatakan dirinya adalah monster. Karena itu seperti mengingatkan Jungkook bahwa dirinyalah yang dulu menganggap vampire adalah monster. Jungkook kembali ingat dengan memori saat ia mengatakan pada Taehyung bahwa Taehyung adalah monster. Itu sangat menyakitkan.


“Kau sangat mengerikan. Kau monster.”


Taehyung mengisak. “A-aku bukan monster..”


“Aku selalu bertanya-tanya kenapa dunia ini harus ditempati vampire? Dunia ini tidak pantas untuk vampire.”


Jungkook memejamkan mata berusaha meredam memori pahit yang kembali ia ingat. Itu sangat mengganggunya. Kenapa ia kembali mengingat memori itu?


“Tapi kau benar,” ucap Taehyung tiba-tiba mengagetkan Jungkook, “Aku pernah melihat manusia tamak berhati monster.”


Jungkook memiringkan badannya menghadap Taehyung, berusaha menyelami maksud perkataan vampire itu.


Taehyung memberi smirk panjang. “Dan monster ini akan memburu manusia yang berhati monster. Bukankah akan menjadi pertunjukkan menarik, Jeon?”


Badan Jungkook seolah mematung dan hanya bisa menatap Taehyung yang masih menunjukkan smirk jahat. Sebenarnya apa maksud perkataan Taehyung? Kenapa Taehyung seolah menyimpan suatu dendam dan kemarahan, seolah menyimpan sisi gelap yang belum diketahui Jungkook.


🎃🎃



Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾


oh ya, stay safe ya.. tetap jaga prokes.