Vampire In The City

Vampire In The City
Rencana Baru




Malam itu Jungkook mengajak Taehyung keluar, bilangnya sih untuk jalan-jalan menghirup udara malam. Namun Taehyung tak menduga kalau ternyata Jungkook mengajaknya untuk lari malam di hutan dekat tempat tinggal. Jungkook malah mengajak Taehyung untuk kejar-kejaran, balap lari, melihat siapa yang tercepat di antara mereka. Sial, sudah jelas bahwa Jungkook unggul dalam speed tapi masih juga ingin berlomba.


“Kau sangat licik, mengajakku berlomba seperti ini!” seru Taehyung berlari di tengah hutan, berusaha mengimbangi Jungkook. Soulmatenya itu sudah sengaja memperlambat diri supaya Taehyung bisa mengimbanginya.


“Bukankah kau bilang aku bayi vampire?” kata Jungkook sambil mengekeh pelan. Mata ungunya berkilat terkena sinar purnama. “Harusnya kau mengajariku karena pastinya kau lebih unggul dariku. Kau senior~~” Jungkook mengucapkan kata ‘senior’ dengan nada mengolok.


Taehyung mendengus. Nah kan… Jungkook terus membahasnya. Apa Jungkook sebegitu tidak terimanya disebut bayi vampire? Tapi kenyataannya vampire yang baru lahir seperti Jungkook ini memang disebut sebagai bayi vampire.


“Kau sudah diajari Namjoon Hyung…” kata Taehyung, “Dia sudah cukup karena dia lebih senior dibandingkanku.”


Jungkook menaikkan sebelah alis, jelas dia sangat tidak bisa menerima perkataan Taehyung. Tadi itu dirinya hanya bercanda dengan mengatakan bayi vampire dan senior. Dia tak menyangka kalau Taehyung benar-benar menganggapnya sebagai junior. Ini hanya membuat Jungkook ingin menunjukkan kemampuannya, bahwa dia tidak bisa dianggap sebagai bayi vampire yang lemah. Dia pun bisa melindungi soulmatenya dengan kekuatan yang ia miliki.


Jadi Jungkook pun mempercepat larinya. Ia duluan meninggalkan Taehyung karena kecepatan larinya yang ditambah.


Taehyung terkejut melihat Jungkook sudah berlari jauh di depan bagaikan ninja di serial TV saja. “Jeon!” seru Taehyung berusaha mengejar. Ia sangat tercengang karena begitu cepatnya Jungkook. Damn, kenapa soulmatenya bisa berlari secepat ini seperti kesetanan.


“Aku bukan bayi, Tae.” gumam Jungkook lirih di dalam benak Taehyung.


Taehyung menelan ludah dan ia melihat bagaimana Jungkook berlari semakin cepat jauh meninggalkannya sampai hilang dari pandangan mata.


“Jungkook!!” seru Taehyung. Ia sudah kewalahan, terengah-engah karena kemampuan lari yang begitu jauh dari Jungkook. Dan kini Jungkook pun sudah hilang dari pandangan matanya.


Kecemasan itu datang begitu saja, melihat dirinya yang ditinggal seperti ini. Tiba-tiba saja Taehyung merasa dadanya sesak, ia begitu takut ditinggal sendirian. Dia begitu takut sendirian di hutan gelap ini, memori-memori kelam berseliweran, menyangka dirinya benar-benar ditinggalkan.


“Jeon…!”


Taehyung terantuk akar pohon yang tebal membuatnya terjatuh. Karena dirinya tengah berlari kencang, vampire itu sampai terpental cukup jauh. Tangan dan kakinya terkilir akibat hempasan itu.


“Akh…” erangnya. Ini semakin menyedihkan karena ia merasa tidak dipedulikan.


Baru sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba ada sekelebat yang berlari mendatanginya, begitu cepatnya membuat Taehyung sampai tak menyadari kalau itu adalah Jungkook.


Jungkook berjongkok di depannya dengan raut kuatir. “Gwaenchana?” tanyanya dan memeriksa luka terkilir yang dialami Taehyung.


Taehyung menatap Jungkook, kesal, jengkel, merasa diabaikan bercampur menjadi satu. “Kau meninggalkanku!” statement-nya. “Kau tega, Jungkook!”


Jungkook mengerutkan kening melihat bagaimana soulmatenya tengah mengomelinya. Jungkook mungkin tampak seperti meninggalkan Taehyung namun sebenarnya ia tetap waspada, itu sebabnya ia kembali seperti ini karena mengetahui apa yang sudah dialami Taehyung.


Jungkook hanya…


Dia menyadari kalau dirinya sudah berlebihan. Dia hanya ingin membuktikan pada Taehyung kalau dirinya cukup kuat untuk melindungi. Dia ingin Taehyung mengakui kalau Jungkook sepadan dengannya, bukan seperti dulu saat Jungkook hanya manusia biasa yang perlu mendapat perlindungan vampire.


“Mianhe…” gumam Jungkook dengan suara berat.


Taehyung terkejut. Ia kira Jungkook akan meledeknya seperti sebelumnya tapi ternyata merasa sangat bersalah seolah Taehyung sudah mengalami malapetaka karenanya.


“Kajja.” ucap Jungkook pendek. Ia menggendong Taehyung di punggungnya dan membawanya pergi. Taehyung begitu terkejut karena dengan digendong seperti ini ia bisa merasakan seperti apa kecepatan yang dimiliki soulmatenya.


Ini sih benar-benar gila. Jungkook sangat cepat. Dan vampire itu berlari seolah tidak ada rasa lelah sama sekali, seolah tidak mengeluarkan tenaga ketika melakukannya.


Jungkook berlari dan membawanya ke sebuah bukit, entah dimana, sepertinya sudah sangat jauh dari tempat tinggal mereka.


Jungkook mendudukkan Taehyung di atas rumput. Ia mengecek kembali luka terkilir Taehyung, untunglah Taehyung cukup cepat dalam penyembuhan. Kini luka terkilir itu tidak separah tadi.


Melihat Jungkook yang masih tampak merasa bersalah seperti itu akhirnya Taehyung berucap. “Mian aku meremehkanmu dan menganggapmu bayi vampire.”


Jungkook mengangkat wajah dan tercengang. Rupanya sebagai soulmate Taehyung sudah bisa membaca pikiran Jungkook.


Raut wajah Jungkook yang semula tegang akhirnya tampak rileks. Ia duduk di samping Taehyung, di atas rumput. “Aku memang kompetitif sejak dulu, Tae. Kurasa aku tak sadar aku melakukannya terhadapmu dan menunjukkan bahwa aku ini tidak lemah, tapi aku malah membuatmu terkilir.”


Taehyung mengangguk-angguk pelan. Itu benar. Setelah sekian lama mengenal dan bersama Jungkook, Taehyung tentu saja menyadari jiwa kompetitif yang dimiliki Jungkook : keras kepalanya ketika ia tidak mau dibantah, agresifnya Jungkook ketika marah dan merasa terusik, atau pun keinginan untuk lebih unggul dibanding yang lain.


“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa diandalkan meski aku baru menjadi vampire.” lanjut Jungkook sambil memandang bulan purnama yang memancarkan terangnya.


Taehyung mengakui kalau Jungkook tidak sama seperti bayi vampire pada umumnya. Jungkook begitu spesial karena sudah memiliki kekuatan vampire seperti ini. Dan seharusnya Taehyung tidak perlu mengkerdilkannya dan menganggapnya bukan apa-apa.


“Kau kuat, Jungkook,” ujar Taehyung, “Mian, aku meragukanmu.”


Jungkook menoleh dan berusaha menyelami mata soulmatenya. “Jinjja?”


“Em.” Taehyung mengangguk. “Dan kau bukan bayi.”


Senyum Jungkook seketika mengembang lebar. Lihat kan? Ternyata pengakuan itulah yang dibutuhkan Jungkook dari soulmatenya. Dan setelah Taehyung sudah mengatakannya, perasaan Jungkook jauh lebih ringan, dia merasa sudah sanggup diandalkan oleh soulmatenya.


“Sepertinya kekuatan vampiremu adalah speed?” kata Taehyung.


Jungkook mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi kupikir bukan hanya sekedar speed.”


“Mwo?”


“Namjoon Hyung mengatakan kalau kecepatan yang kumiliki itu adalah bawaan. Dia mengatakan kalau aku melatihnya dengan baik aku bisa setara dengan vampire yang memiliki kekuatan speed. Tapi aku perlu mengeksplor diriku terlebih dulu untuk menduga kekuatan vampire apa yang kumiliki.”


“Namjoon Hyung mengatakannya?” tanya Taehyung takjub. Namjoon memang terbilang pengalaman dalam latihan fisik seperti itu. Mungkin pengalamannya mengajarkannya bahwa yang dimiliki Jungkook saat ini bukanlah kekuatan vampirenya yang sebenarnya.


Jungkook memberi anggukan. “Dia mengatakan biasanya kekuatan vampire pertama akan muncul saat sangat terdesak, seperti ketika marah atau saat dalam bahaya.”


Taehyung menelan ludah. Ucapan Namjoon itu ada benarnya. Taehyung pertama kali menggunakan kekuatan destruction-nya saat ia mengalami kemarahan dan terpojok akibat perbuatan dokter sindikat.


“Apapun itu…” ujar Jungkook sambil memandang Taehyung, “Aku sudah cukup kuat bukan? Aku sudah siap melawan sindikat.”


“J-Jungkook…”


“Kita bisa melakukannya bersama-sama, Tae.” gumam Jungkook dengan senyum halus.


****


Siang itu Taehyung sedang bermalas-malasan menonton TV di atas karpet, mengganti-ganti channel yang tidak menarik. Jungkook duduk di sofa di belakang Taehyung, memain-mainkan rambutnya, entah memelintir rambutnya atau sekedar mengacak-acaknya lalu merapikannya kembali. Keduanya memang kurang kerjaan seperti itu terutama setelah lama tidak pernah kembali kuliah. Taehyung pun tidak keberatan dengan perlakuan Jungkook. Seharusnya ia semakin biasa.


Hoseok muncul sambil membawa camilan dari dapur. Ia melompat duduk di sofa seberang Jungkook. Ia menaikkan sebelah alis melihat keduanya. “Kalian seperti kera yang sedang mencari kutu.”


Baik Taehyung dan Jungkook sama-sama mendongak polos. Setelah mencerna ucapan Hoseok itu, Taehyung hanya memutar bola mata sementara Jungkook tetap memainkan rambut Taehyung.


“Suka-sukaku.” gumam Jungkook datar.


Hoseok seperti merasa tertohok dengan ucapan Jungkook itu. Meski sebenarnya ucapannya standar tapi entah kenapa auranya membuat Hoseok menciut. Mungkin dikarenakan sekarang Jungkook merupakan Alpha. Ucapan Alpha memang penuh otoritas dan sangat tidak bisa dibantah jika Alpha itu sedang serius bicara.


“Oh shet.” tukas Hoseok pelan. Dia seharusnya mulai berhati-hati bicara apalagi Jungkook sekarang merupakan Alpha.


Hoseok menoleh pada Taehyung. “Tae, apa kau merasakan kalau Jungkook berbeda setelah menjadi vampire?”


Taehyung memandang Hoseok sambil menaikkan sebelah alis. “Hm?”


“Dia sangat mendominasi~~” ujar Hoseok mendramatisir. Sesaat setelah Jungkook memicingkan mata padanya, Hoseok langsung menunduk.


Taehyung tidak mengerti dengan maksud perkataan Hoseok itu. “Dia sama seperti dulu, masih kompetitif jika itu maksudmu.”


Jungkook memutar bola mata dan menjawil pelan telinga Taehyung.


“Di-dia semakin…” Hoseok tak melanjutkan kata-katanya karena Jungkook meliriknya dengan tajam, seolah menunggu apa yang mau dikatakan Hoseok dan sudah siap akan menghardiknya.


“Semakin apa?” tanya Jungkook pelan namun tatapannya sinis.


Hoseok menelan ludah. Oh lord, dia menyesal sudah memulai semua ini. Seharusnya ia tahu kalau Alpha Jungkook pasti akan sensitif jika dikatai seperti ini.


“Anni.” sahut Hoseok lalu cepat-cepat angkat kaki dari sana.


“Dih…” Taehyung menatap kepergian Hoseok dengan heran.


Yoongi masuk ke dalam ruangan itu sambil geleng-geleng, sudah bisa mendengar pembicaraan itu sejak tadi dan bagaimana ketakutan Hoseok bisa ia rasakan dengan kekuatan empathnya.


Semakin lama semakin jelas bahwa Jungkook itu vampire Alpha terlihat dari bagaimana aura yang dipancarkannya tanpa sadar.


Dan kini Yoongi bertugas membicarakan hal penting pada Taehyung dan Jungkook. Mengenai rencana penyerangan ke markas sindikat.


Yoongi duduk di sofa dan Taehyung sudah memandanginya. Wajah Yoongi tampak serius begitu.


“Ada apa?” tanya Taehyung ikut serius.


“Dalam waktu dekat ini rencananya para vampire akan melakukan penyerangan ke markas sindikat.” ujar Yoongi.


Jungkook yang semula duduk santai kini langsung mengubah duduknya menjadi tegak. Ia menatap dhampir itu dengan terpana. Akhirnya tiba juga saat dimana penyerangan akan dilakukan.


Taehyung mengerjap-ngerjap memandang Yoongi. Apa ini merupakan langkah yang baik? Atau jangan-jangan hanya akan mengundang malapetaka bagi mereka?


“Para vampire siapa maksudmu, Hyung?”


“Aku dan Seokjin sudah mendiskusikan hal ini pada dewan vampire, mengenai apa yang selama ini dilakukan sindikat terhadap para vampire. Clan kita dan beberapa anggota dewan vampire akan menyerang markas sindikat.” tutur Yoongi. Ia menatap Taehyung dan Jungkook bergantian.


“Apa tidak berbahaya?” tanya Taehyung getir. Sindikat tidak bisa diremehkan, begitu banyak mafia yang dipunya dan senjata yang bisa membuat vampire terbunuh ataupun dibius. Taehyung sendiri cukup sulit keluar dari markas laknat itu kalau bukan karena kebetulan dan keberuntungan.


“Ini adalah cara yang harus ditempuh.” kata Jungkook sambil memijat leher soulmatenya. “Bagaimanapun kita tidak bisa selamanya bersembunyi seperti ini. Hanya tinggal tunggu waktu sampai sindikat menemukan kita disini.”


Taehyung menoleh ke belakang membalas tatapan Jungkook. Dia hanya berharap rencana ini tidak memakan korban. Dan dia pun tidak mau kembali diculik oleh sindikat.


“Kita perlu merencanakan dengan baik, tidak boleh ada cacat sama sekali.” kata Yoongi.


“Aku ikut kan?” tanya Jungkook.


Yoongi melirik Taehyung yang mengerutkan alis dengan kuatir. Memang sudah diputuskan Jungkook pun akan ikut, karena selain dia merupakan vampire, Jungkook pun sepertinya tidak mungkin mau tinggal diam sementara Taehyung pergi menyerang sindikat. Seokjin sudah memutuskan bahwa tak ada salahnya membawa Jungkook.


Anggukan Yoongi itu membuat kening Taehyung semakin berkerut.


“Sebelum penyerangan akan diadakan pertemuan bagi para vampire yang akan menyerang. Kita harus membuat rencana yang matang : menyerang sindikat sekaligus mengeluarkan para vampire yang ditawan.” ujar Yoongi. “Dan dewan vampire meminta supaya Taehyung yang memimpin misi ini dikarenakan Taehyung pun tahu lokasi dan pernah dikurung di markas.”


“Mwo?” Jungkook terkaget dengan perkataan Yoongi. Taehyung pun sungguh tak percaya kalau dia disuruh memimpin misi.


“Dewan vampire mengatakan jika vampire lain yang memimpin mungkin tidak akan berhasil.”


“Apa dewan vampire sebegitu lemahnya sampai meminta Taehyung untuk memimpin misi ini?” tukas Jungkook mulai naik pitam. Dia tak terima jika dewan vampire sedang berusaha menjadikan Taehyung sebagai tumbal di medan peperangan. Memimpin misi sama saja artinya harus berada di garis terdepan bahkan bisa mengorbankan nyawa sendiri.


Taehyung menggigit bibir.


“Hanya Taehyung yang tahu lokasinya dan bisa memprediksi jumlah mafia yang ada serta jenis senjata yang mereka pergunakan.” kata Yoongi tetap tenang.


“Tapi bukan berarti dewan vampire bisa menunjuknya sebagai pemimpin misi. Apa mereka tidak tahu penderitaan panjang yang sudah dialami soulmateku disana?” Jungkook begitu emosi jika membayangkan dewan vampire sengaja semena-mena seperti ini. Tidak ikhlas dalam melakukan penyerangan dan mencari aman, jadi seenaknya menumbalkan vampire lain.


“Jungkook.” ucap Taehyung sambil menepuk lutut vampire itu. “Aku tidak keberatan memimpin misi. Lagipula memang betul bahwa hanya aku yang tahu detail keadaan di sana.”


“Tapi–“


“Bukankah kau ingin membalas dendam pada sindikat?” potong Taehyung berusaha mengalihkan pembicaraan. “Bukankah kita bisa bersama-sama menghancurkan sindikat?”


Jungkook menatap Taehyung dengan terpaku. Itu memang tujuannya tapi dia tidak mau sampai kehilangan Taehyung lagi.


Taehyung mengalihkan pandangannya dan menatap Yoongi. “Aku bersedia. Jika sudah ada waktu dan lokasi untuk merundingkan rencana ini Hyung bisa infokan padaku.”


Yoongi mengangguk. Ia sendiri tidak tahu akan seperti apa perundingan ini. Dewan vampire terdiri dari para vampire senior dan berpengalaman. Dia sendiri heran mengapa dewan vampire bahkan meminta Taehyung untuk memimpin misi berbahaya.


****


Dongwook menghisap cerutunya dalam-dalam. Ia masih berada di ruang kerjanya malam ini. Ia masih belum mendapat kabar berarti mengenai keberadaan Taehyung, zitinya. Bagaimanapun Dongwook harus mendapatkan kembali zitinya apapun caranya.


Dia mendapat kabar bahwa Taehyung dan Jungkook sudah tidak pernah datang ke kampus lagi untuk berkuliah. Ini hanya semakin menambah kekesalan Dongwook. Apa dua insan itu bersembunyi darinya? Lagipula memang mau sampai kapan keduanya bisa bersembunyi dari Dongwook?


Dongwook mengepalkan tangan. Jika penyebab menghilangnya jejak Taehyung di Seoul adalah karena perbuatan Jungkook…. Dongwook tak akan sungkan lagi kalau begitu. Dia akan babat habis nama Jeon yang ada pada silsilah keluarga Jeon. Ia akan membunuh Jungkook dan kakak perempuannya.


Dongwook memutar kembali video CCTV saat Taehyung masih disekap di markas sindikat. Ia benar-benar merindukan Taehyung dan darahnya.


“Kau harus kembali padaku…” bisik Dongwook sambil menonton Taehyung yang melawan para mafia. Dirinya begitu lincah menyerang dan menghindar. Apalagi kekuatan tangan Taehyung begitu kuat saat meremukkan tulang dan daging lawannya. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ngilu. Namun tidak untuk Dongwook. Dia merasa sangat bangga. Sebagai pemilik dari vampire mutan ProjectV22, Dongwook sangat terpukau dengan kekuatan yang dimiliki zitinya. Dia tak menyangka di balik tangan indah yang dimiliki Taehyung ternyata punya kekuatan yang mengerikan.


Dongwook memberi smirk. Ia jadi teringat bahwa vampire tua yang menggigitkan venom vampire untuk Taehyung memiliki kekuatan yang sama. Vampire tua yang kuat yang telah berumur 500 tahun.


Vampire tua itu berasal dari Eropa dan secara kebetulan ketika Dongwook baru memulai penelitian mengenai mutan, para mafianya berhasil menangkap vampire tua tersebut yang tengah bersembunyi di Korea Selatan. Dan selanjutnya tim peneliti sindikat mulai mengadakan berbagai percobaan dan penelitian mengenai khasiat darah vampire. Lalu setelah itu pun Dongwook mengadakan kerja sama dengan departemen hunter, meraup keuntungan dengan menangkap dan mengeksploitasi vampire.


Hingga akhirnya Dongwook mendapat ide untuk mengujicoba manusia untuk berubah menjadi vampire. Sebenarnya Dongwook ingin dirinyalah yang diubah menjadi vampire. Bagaimana ia berpikir banyaknya keuntungan ketika menjadi vampire. Bisa awet muda dan berumur panjang. Menikmati hidup sebebasnya begitu.


Namun para ilmuwan melarangnya melakukan demikian karena betapa berbahayanya dan bisa menghilangkan nyawa. Akhirnya setelah berpikir lama, Dongwook memutuskan untuk membuat project vampire mutan. Tentu saja karena ini masih ilegal dan pasti dilarang pemerintah, Dongwook harus mencari manusia yang latar belakangnya tidak jelas, memastikan manusia itu tidak memiliki keluarga supaya tidak dicari ketika terjadi sesuatu yang fatal.


Dongwook ingat bahwa ia pun meminta mendiang Song Chanmi, ibu Jungkook, untuk mencarikannya ‘bibit’. Dongwook memang tidak mengatakan bahwa ia akan menguji coba manusia karena itu pasti akan ditentang mengingat betapa wanita itu aktif di gerakan sosial. Song Chanmi merupakan salah satu peneliti obat terbaik di sindikat. Wanita itulah yang membuat obat bius dosis tinggi yang sampai sekarang ini dipakai oleh markas dan hunter untuk melumpuhkan vampire. Obat buatan wanita itu pula yang membuat vampire tua tak bisa berkutik dikurung di markas sindikat.


Song Chanmi aktif dalam menggalakkan program bantuan pada panti-panti asuhan. Oleh sebab itu Dongwook meminta supaya Chanmi mencarikan bibit unggul untuknya dengan kedok bahwa bibit unggul itu akan bekerja menjadi salah satu karyawan Dongwook dan mendapat masa depan yang cerah. Sebenarnya Dongwook pun sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari ‘tunawisma’ di jalanan untuk dijadikan bahan uji coba sindikat, tapi Dongwook ingin rasanya mendapat suatu bibit unggul yang tidak ada di jalanan.


Song Chanmi berhasil memberikannya beberapa anak muda untuk nantinya akan menjadi uji coba. Namun belum proyek dilaksanakan, Song Chanmi sudah mengetahui maksud Dongwook. Wanita itu dan suaminya begitu menentang apa yang akan dilakukan sindikat. Mereka bahkan mengancam akan melaporkan hal ini pada FBI. Dongwook tak punya pilihan selain menghabisi keduanya dengan memasukkan mereka ke dalam ruangan vampire tua.


Ingatan itu memang masih segar di kepala Dongwook sampai sekarang. Itu merupakan history terbesar yang dimilikinya sepanjang hidupnya.


Dengan kematian Song Chanmi dan Jeon Donghwa maka sudah tidak akan ada lagi yang menghalangi project vampire mutan di sindikat. Para manusia datang silih berganti menjadi bahan uji coba. Banyak yang gugur ataupun mengalami kelumpuhan akibat penggunaan obat-obatan. Dana triliyunan won sudah terkuras habis untuk project tiada batas sindikat. Dongwook sampai mencari beberapa investor untuk mendanai project gila ini yang pada akhirnya para investor itu yang menjadi kelompok VVIP sindikat.


Dari berbagai proyek uji coba manusia hanya beberapa yang benar-benar berhasil. Taehyung adalah ziti milik Dongwook, favoritnya. Karena betapa setelah Taehyung berhasil menjadi vampire mutan, vampire tua yang menggigitkan venom pada Taehyung pun mati. Disebutkan vampire itu mati karena menusukkan jantungnya sendiri dengan jeruji silver.


Peristiwa naas itu membuat Dongwook akan selalu mengingatnya. Betapa Taehyung adalah pengganti dari vampire tua yang sudah tewas menyedihkan. Jadi jangan salahkan Dongwook jika ia seobsesi ini untuk mendapatkan kembali zitinya.


Dongwook menyunggingkan senyum seram melihat Taehyung di video CCTV sedang berlari di lorong berusaha kabur.


“Kalau aku menemukanmu kembali…” katanya sambil menggertakkan gigi, “Aku akan mengurungmu di kediamanku dengan ancaman aku akan membantai clanmu dan teman-temanmu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali di hadapanku, Kim Taehyung.”


****


Aku akan membuatmu bertekuk lutut kembali di hadapanku, Kim Taehyung.


Tae…


“Taehyung!”


Taehyung tersentak dari lamunannya. Ia menoleh pada Jungkook yang tadi memanggilnya.


Jungkook memandangnya dengan mengerutkan kening. “Kau melamun.” Keduanya berada di halaman sementara Jimin, Hoseok dan Namjoon sedang bermain voli kaki. Terdengar tawa mereka saat bermain. Yoongi berada di dapur sedang memanggang pizza, aroma makanan yang enak tercium sangat kuat. Sedangkan Seokjin dan Soojung sedang berjalan-jalan sore di perkebunan.


Taehyung tak sanggup mengatakan apapun karena yang dikatakan Jungkook itu benar. Dirinya melamun. Entah kenapa tiba-tiba saja dirinya melamun dengan pikiran melayang mengenai sindikat.


“Besok akan ada pertemuan pertama dengan dewan vampire,” ujar Jungkook semakin mengernyit, “Apa itu membuatmu takut? Jika itu membuatmu tidak nyaman, kita tidak perlu datang, Tae.”


Taehyung langsung menggeleng-geleng. Bagaimana mungkin mereka tidak datang, Taehyung sekarang ditunjuk sebagai pemimpin misi. Kehadirannya pasti sangat diharapkan.


“Anniya, Jungkook. Aku hanya melamun saja. Aku tidak takut akan esok.”


“Aku tak nyaman karena dewan vampire menunjukmu sebagai pemimpin misi. Entah kenapa itu membuatku sangat kesal seolah dewan vampire punya agenda pribadi.”


“Apa maksudmu, Kook?” tanya Taehyung bingung.


“Dewan vampire terdiri dari para vampire yang terbilang terlatih untuk melakukan penyerangan seperti ini, mengapa dewan vampire menunjukmu?”


“Jungkook, mereka mungkin melakukannya karena tahu aku pernah ditawan di sana… dan aku sudah tahu keadaan disana sementara para dewan vampire belum pernah datang ke sindikat.” jawab Taehyung. Soulmatenya ini sepertinya sedang dilanda kecemasan akut dan Taehyung harus menenangkannya atau rencana menghancurkan sindikat tidak akan berhasil.


“Mereka bisa saja menanyakan detail mengenai sindikat padamu dan tidak perlu membuatmu menjadi pemimpin misi.”


Taehyung mengernyitkan alis, memang ucapan Jungkook ada benarnya. “Mungkin karena ini ada kaitannya denganku, jadi lebih baik aku yang memimpin misi.”


“Cih. Mereka hanya tidak mau kehilangan nyawa dan lantas menumbalkanmu, membuatmu terbeban dengan misi ini untuk bisa bertempur dengan segenap kekuatan.” Jungkook mengkel sendiri jika menduganya. Lihat saja saat besok di pertemuan, Jungkook akan mengintimidasi para dewan vampire kolot tak berperasaan itu.


Jungkook terdiam. Keheningan ini sungguh membuat tidak nyaman. Keduanya pun tidak bertelepati seolah menyembunyikan perasaan masing-masing atas kondisi yang terjadi.


“Lalu? Setelah kau mendapat tujuanmu, lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Jungkook akhirnya.


Jujur saja Taehyung pun tidak tahu apa yang mau ia lakukan jika misi menghancurkan sindikat selesai.


“Aku akan terus hidup menjadi soulmatemu dan bersama clanku.” sahut Taehyung akhirnya. Sejauh ini itulah yang terbaik yang mau ia lakukan.


Jungkook memberi senyum pelan. “Banyak hal yang bisa kita lakukan setelah sindikat hancur, Tae. Kau bisa memulai lembaran hidup yang baru dan menikmati hidup.”


Taehyung mengekeh pelan. “Hidup vampire akan sangat panjang, aku bahkan tidak tahu harus menghabiskan hidupku dengan melakukan apa.”


Senyum Jungkook pun mengembang. “Banyak hal. Kau bisa mewujudkan impian-impianmu dengan umur panjang.”


Taehyung hanya memberi senyum. Jujur saja sejak kecil dia tidak pernah punya impian. Mungkin dia pernah punya harapan untuk bisa menata masa depan dengan lebih baik sebelum ia berubah menjadi vampire mutan. Namun trauma membuatnya berhenti untuk bermimpi.


****


Keesokan harinya diadakan pertemuan bersama dewan vampire. Pertemuan dilakukan di sebuah rumah yang disewa di tempat terpencil. Para vampire sangat berhati-hati dalam melakukan pertemuan dan memilih tempat, memastikan tidak ada penyusup dan tidak ada penghianat lagi seperti sebelumnya. Jangan sampai seperti sidang dewan vampire lalu dimana para hunter datang menyerbu. Seokjin sudah memastikannya. Ia pun meminta Namjoon dan Hoseok memantau di luar rumah, mengawasi sekitar.


Jadi di dalam rumah itu ada 10 vampire yang akan rapat merencanakan penyerangan ke markas sindikat. Seokjin, Taehyung, Jungkook, Yoongi serta 6 vampire dari dewan vampire. Mereka semua duduk berhadap-hadapan di meja bundar.


Seokjin sebenarnya kecewa karena hanya 6 orang vampire dari dewan vampire yang terlibat. Dari sekian banyak vampire yang ada di Korea Selatan? Dikatakan bahwa ketua vampire tidak ingin memberikan banyak vampire yang terlibat supaya tidak menimbulkan huru hara. Jangan-jangan nanti malah tersiar berita di penjuru negeri mengenai kebrutalan vampire menyerang manusia?


Seokjin sudah berusaha membujuk bahwa kekuatannya yang merupakan memory control bisa menutupi jejak para vampire dari ingatan manusia, namun ketua vampire tetap bersikukuh dengan keputusannya. Padahal misi ini merupakan penyelamatan pada para vampire yang ditawan dan dieksploitasi oleh sindikat. Belum para mafia kelas kakap yang dimiliki sindikat yang harus mereka taklukan. Dengan ini hanya akan ada 12 vampire yang melakukan penyerangan (termasuk Namjoon dan Hoseok).


Taehyung berusaha tidak terlihat tegang. Dia belum pernah melakukan misi seperti ini yang melibatkan vampire lain. Bagaimanapun dia tidak boleh gegabah karena ini pun menyangkut nyawa.


Jungkook bisa merasakan beban yang sedang dipikul soulmatenya. Dia masih merasa ini sungguh tidak adil. Bagaimana mungkin dewan vampire melimpahkan misi berbahaya ini pada Taehyung hanya karena Taehyung pernah berada di sindikat? Inginnya Jungkook berkelahi dengan para dewan vampire namun saat di perjalanan Seokjin sudah mengingatkannya untuk bisa menjaga sikap terutama karena dewan vampire pun cukup sensitif akhir-akhir ini. Seokjin meminta Jungkook untuk bisa mengendalikan diri bahkan sebisa mungkin menyembunyikan bahwa dirinya merupakan vampire Alpha. Seokjin memang tidak mengatakan dengan terang-terangan pada Jungkook bahwa Jungkook adalah Alpha. Pembicaraan seperti itu mungkin akan dilakukan setelah misi selesai.


“Tak tahu kalau ada bayi vampire yang akan ikut.” ucap Jisung datar tanpa memandang Jungkook. Jisung adalah dewan vampire yang punya kekuatan pembongkar kunci. Awalnya vampire ini tidak mau ikut dalam serangan ke sindikat tapi karena Jackson terus memohon-mohon padanya maka mau tak mau Jisung ikut juga meski terpaksa.


Jungkook tetap tenang. Dia tidak perlu merasa terpancing hanya dengan kalimat itu. Kenyataannya dia memang bayi vampire walau Jungkook sebenarnya keberatan jika disebut demikian.


“Dia manusia yang pernah kau bilang itu kan, Jin?” tanya Mark sambil menaikkan sebelah alis pada Seokjin. Mark adalah dewan vampire yang memiliki kekuatan menghipnotis. Vampire ini pula yang berusaha menenangkan Nayeon yang histeris akibat kematian Vernon, soulmatenya.


Mark mendengus. “Apa kau ingin membuat clanmu semakin besar dengan mengubah manusia menjadi vampire? Sudah dua manusia yang diubah, eh?”


Jungkook meremas tangan di bawah meja. Dia baru tahu kalau para dewan vampire bermulut besar.


Seokjin memberi senyum tenang. Para vampire ini memang seenaknya berkata-kata jika merasa penting dan dibutuhkan. Dan Seokjin tidak boleh membuat suasana menjadi buruk atau misi tidak akan dilanjutkan. “Kau tahu kalau itu tidak dalam situasi paksaan.”


“Semakin sus jika itu tanpa paksaan.” ujar Jisung kini menatap Jungkook dengan mata meremehkan, “Apa yang membuat manusia mau diubah menjadi vampire kalau bukan ada tujuan khusus?”


Jungkook sudah hampir akan menimpal ucapan itu namun Taehyung memegang tangannya di bawah meja, berusaha menyuruh Jungkook tetap tenang, bahkan sebisa mungkin tidak mengatakan apa-apa di tempat ini. “Calm, Kook.” ucap Taehyung mengirim telepati.


Jackson merasa tidak ada gunanya pembicaraan seperti ini diperpanjang. Dia perlu mengalihkannya. “Ok, guys, lets back to the real topic. Kita perlu menggunakan waktu dengan baik untuk merencanakan penyerangan.”


Tiga anggota dewan vampire lainnya masih tidak mengatakan apa-apa. Ada Suho yang merupakan vampire pengendali air, Bambam vampire yang memiliki kekuatan untuk mengubah dirinya transparan dan Lucas vampire yang memiliki kekuatan ahli pedang.


Yoongi duduk dengan tenang meski demikian dia bisa merasakan emosi di dalam masing-masing vampire. Dan menurut pendapatnya secara pribadi setiap emosi di ruangan ini tidak sehat, bisa dibilang tidak ada unity di dalam team.


“Baiklah…” kata Mark sambil melipat tangan di depan dada. “Silakan dimulai, Taehyung-ssi.”


Suho memandang Taehyung. “Kau bisa mulai dengan menjelaskan pada kami seperti apa keadaan sindikat.”


“Markas sindikat berada di bawah tanah, di rumah susun yang sudah tak terpakai,” ujar Taehyung, “Jika kulihat dari angka di liftnya terdiri dari 12 lantai.”


“Itu bisa lebih,” potong Lucas, “Mereka mungkin punya ekstra lantai yang hanya diketahui oleh petinggi mereka.”


Jackson mengangguk-angguk. Hal seperti itu memang bisa saja terjadi.


“Dan untuk bisa mengakses lift diperlukan kartu elektrik khusus.” kata Taehyung.


Jisung mendengus. “Kekuatanku adalah pembongkar kunci. Itu tidak akan menjadi masalah.”


Taehyung kembali melanjutkan berusaha tidak terpengaruh dengan gaya bicara menyebalkan beberapa vampire di ruangan ini. Mereka bicara seolah mereka adalah yang terkuat dan superior, perlu disegani.


“Markas sindikat dilapisi dengan langit-langit berbahan perak dan di beberapa ruangan dindingnya dilapisi juga dengan perak. Mafia yang dimiliki sindikat kurasa sangat banyak, sepertinya mencapai ratusan. Rata-rata mereka menggunakan pistol biasa, kapak, linggis dan pisau untuk menyerang.”


“Jika dinding dan langit-langit dilapisi dengan perak maka Bambam perlu berhati-hati saat akan transparan atau menembus ruangan.” ucap Jackson.


“Aku selalu berhati-hati, Jackson.” ucap Bambam lirih.


“Senjata pamungkas sindikat juga adalah gas bius,” ujar Taehyung, “Itu juga yang membuatku sulit keluar karena obat bius yang digunakan benar-benar bisa melumpuhkan vampire.”


“Itu artinya sindikat sudah tahu dosis yang dibutuhkan untuk vampire,” kata Bambam, “Sindikat pasti dilengkapi dengan para ilmuwan dan ahli obat.”


Hati Jungkook tergores mendengarnya. Ibunya merupakan ahli obat yang mati di tangan sindikat. Ini juga artinya dulu ibunya memang pernah menjalin kerjasama dengan sindikat dalam membuat obat-obat yang dibutuhkan.


“Kudengar dari ketua dewan vampire, Kim Taehyung adalah vampire mutan buatan sindikat?” ucap Mark.


Seokjin dan Jackson saling tatap. Seokjin sebenarnya keberatan dengan pembicaraan seperti ini dari dewan vampire terhadap salah satu anggota clannya. Pembicaraan seperti ini sangat sensitif untuk Taehyung.


“Itu artinya dia cukup lama berada di sindikat,” tukas Jisung, “Menjadi bahan percobaan, eoh?”


Badan Jungkook sudah maju dan ingin menyumpal mulut vampire itu namun lagi-lagi Taehyung menahannya. Jika mereka bertengkar misi tidak akan pernah bisa dilaksanakan.


“Itulah mengapa kita harus bersatu menghancurkan sindikat,” kata Taehyung tenang, “Sindikat tak hanya melakukan percobaan berbahaya tapi juga mengeksploitasi vampire yang ditangkap. Darah bahkan organ tubuh vampire diperjualbelikan kepada sekelompok elite untuk membuat manusia awet muda.”


“Dan kau berniat untuk berkhianat pada sindikat yang sudah membuatmu seperti sekarang?” ucap Jisung lagi. Vampire ini memang terkenal dengan vampire songong yang tak bisa mengontrol mulutnya sendiri.


Baik Yoongi dan Seokjin sudah memicingkan mata dengan tajam pada Jisung. Seandainya Jisung bukan vampire senior dan lebih tua dibandingkan mereka, Seokjin pasti sudah akan mencelanya. Jungkook pun menggertakkan gigi dengan sebal.


“Well?” Taehyung memiringkan wajahnya dan menatap Jisung. Sebelah matanya berubah menjadi putih, dengan terang-terangan menunjukkan status dirinya yang merupakan vampire mutan. “Kau bisa tanyakan pada kelompokmu mengapa memilihku sebagai pemimpin misi.”


Jisung mengulum mulut, tak bisa menjawab kata-kata Taehyung itu.


“Kita perlu merencanakan dengan baik bagaimana untuk menghancurkan sindikat dalam satu kali serangan.” ujar Jackson berusaha mengembalikan topik pembicaraan ke seharusnya.


“Aku berencana akan membagi vampire yang menyerang dalam 2 kelompok,” kata Taehyung. Matanya kembali normal menjadi warna abu-abu biasa. “Kelompok pertama yang memancing para mafia keluar dari markas, melakukan perkelahian di luar. Sementara kelompok kedua yang bertugas untuk masuk ke dalam markas dan mengeluarkan para vampire yang ditawan.”


Suho mengangguk, setuju dengan usulan Taehyung. “Jumlah kita 12 ya?”


“Mungkin kita hanya tinggal membaginya menjadi kelompok dewan vampire dan kelompok clan Kim.” kata Lucas malas-malasan.


“Aku tidak setuju.” ucap Seokjin tiba-tiba. “Kita perlu memperhitungkan kekuatan vampire masing-masing.”


“Itu benar,” sahut Jackson, “Alangkah baiknya kita membagi kelompok berdasarkan kekuatan dan target yang ingin dicapai masing-masing kelompok.”


“Yang jelas Jisung berada di kelompok yang akan masuk ke dalam markas sindikat,” kata Mark, “Kemampuannya membongkar kunci dibutuhkan di kelompok itu.”


“Bambam juga berada pada kelompok yang masuk ke markas untuk bisa mencari keberadaan vampire yang ditawan dengan lebih cepat.” tambah Suho.


“Aku sebagai pengendali besi bisa membantu dalam kelompok yang masuk ke dalam markas,” kata Jakson, “Sementara Lucas yang mahir menggunakan pedang membantu di kelompok lain.”


“Aku merupakan pengendali air,” ucap Suho, “Dan Namjoon adalah pengendali cuaca. Namjoon bisa ikut di kelompok luar sementara aku bergabung dengan kelompok yang masuk markas.”


Jisung mendengus pelan. “Bukankah pembagian seperti ini sama saja dengan pembagian dewan vampire yang masuk ke dalam markas sindikat? Taehyung-ssi sebagai ketua kelompok bukankah harusnya kau pun ikut bergabung ke dalam kelompok yang masuk ke markas? Kau sangat dibutuhkan untuk menjadi penunjuk jalan.” cemooh Jisung seolah Taehyung merupakan tuan rumah.


Taehyung tidak menginginkannya, ia tidak mau bergabung dalam kelompok yang masuk ke markas, bukan karena ia takut, tapi karena ia tidak yakin apa ia bisa menahan diri untuk tidak menyerang Jisung yang mulutnya berbisa seperti ular.


“Taehyung akan berada dalam kelompok yang di luar markas,” ucap Seokjin menyela. “Aku yakin big boss sindikat akan langsung mengerahkan semua mafianya untuk keluar jika tahu Taehyung melakukan huru hara di luar.”


“Big bos mengenal Taehyung?” tanya Lucas.


“Tentu saja, karena dia vampire mutan milik sindikat,” sahut Mark, “Yang mungkin juga sedang dicari oleh sindikat.”


Taehyung tersenyum tipis. “Aku akan bergabung dengan kelompok di luar untuk memancing para mafia.”


“Kalau begitu aku dan Yoongi akan bergabung dengan kelompok yang masuk ke markas sindikat,” gumam Seokjin. Yoongi memberi anggukan pada Alpha-nya.


“Dengan demikian kelompok yang masuk markas sindikat sudah genap 6 vampire. Sisanya akan berada di luar markas.”


“Apa itu cukup?” tanya Jisung kembali meremehkan. “Ada dua bayi vampire yang berada di luar markas. Jangan-jangan keduanya akan langsung mati sebelum bertempur.” Ucapan Jisung dimaksudkan pada Jungkook dan Hoseok yang merupakan bayi vampire.


“Jangan remehkan mereka,” kata Yoongi tenang namun nadanya memperingatkan. Dhampir itu pun sebenarnya tak tahan dengan berbagai ucapan Jisung yang selalu menghina.


“Taehyung punya kemampuan luar biasa,” ujar Seokjin, “Aku yakin mereka akan baik-baik saja.”


“Sepertinya big boss benar-benar akan mengerahkan semua mafia untuk menangkap Taehyung jika tahu vampire mutannya datang,” kata Mark, “Oleh karena itu kita semua harus bersiap-siap.”


“Itu kedengaran seperti Taehyung merupakan incaran besar big bos.” sahut Suho.


“Tentu saja. Itu sebabnya dia yang ditunjuk sebagai pemimpin misi.” gumam Lucas.


Jungkook mengulum mulut, kesal betapa para vampire itu yang berbicara seolah tidak menghargai Taehyung sama sekali. Yoongi berulang kali melirik Jungkook karena merasakan pergolakan emosi vampire itu.


“Bisa jadi big bos sindikat pun sudah sangat mengenal vampire mutannya,” tukas Jisung, “Mereka mungkin punya koneksi satu dengan yang lain. Atau bisa saja Taehyung memang ingin membantu sindikat untuk mengumpankan kita?”


Rahang Taehyung mengeras. Semua itu jelas fitnah.


“Dengan segala respect, jaga bicaramu.” ucap Seokjin.


“Wae?” lanjut Jisung. “Itu sebabnya dewan vampire berhati-hati dan hanya mengirim sedikit vampire dalam misi ini. Karena dewan vampire tidak cukup percaya pada vampire mutan!”


Mark mengerutkan alis, memikirkan perkataan itu. Memang bisa saja demikian, siapa tahu Taehyung memang berniat untuk menjebak para vampire supaya bisa ditangkap?


Emosi berkobar di dalam diri Jungkook, pertemuan seperti ini memang tidak berguna. Tidak seharusnya mereka meminta bantuan dewan vampire yang memiliki karakter seperti ini. Lihatlah betapa Taehyung tidak dihargai dan tak henti-hentinya dicurigai.


Bambam memandang Jungkook, merasakan ada energi menguat di dalam diri Jungkook. Ia heran karena merasakan aura Alpha di dalam diri Jungkook. Ataukah itu hanya aura Alpha-Alpha lain yang ada di ruangan ini? Seokjin dan Mark merupakan vampire Alpha. Tapi ia tidak yakin jika Jungkook bisa menjadi vampire Alpha jika sebelumnya adalah manusia biasa.


“Kau harus tahu kalau aku sama sekali tidak berterimakasih pada sindikat karena sudah mengubahku menjadi vampire.” gumam Taehyung menatap Jisung lurus-lurus. “Aku bahkan ingin menghancurkan mereka yang sudah membuatku seperti ini.”


“Sindikat itu pasti sudah banyak menaruh obat di dalam dirimu,” tukas Jisung, “Kau diberikan obat-obatan yang membuatmu bisa kuat dan punya kemampuan menakjubkan. Big boss itu pun pasti sudah memberikan obat supaya kau bisa dikendalikan olehnya.”


Taehyung mengekeh hambar. “Aku tidak dikendalikan oleh mereka. Mereka tidak punya obat-obatan untuk mengendalikan pikiran vampire.”


“Apa wajah tampanmu juga berasal dari percobaan sindikat?” kata Jisung mencemooh. “Big boss itu punya selera yang–“


Jisung tidak melanjutkan kata-katanya karena Jungkook sudah melesat ke arahnya. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik Jisung keluar dari kursinya dan menerjangnya ke lantai. Tangan mencekik leher vampire itu dengan marah menyala-nyala. Mata ungunya berkilat berbahaya.


Taehyung berdiri dan melotot melihat tindakan Jungkook. Yoongi pun tercengang karena betapa kemarahan Jungkook yang ia rasakan sekarang sangat besar. Yoongi takut kalau kemarahan Jungkook itu dapat membunuh Jisung. Dewan vampire lain pun sama terkejutnya, bagaimana ada bayi vampire bisa bergerak dengan cepat dan hendak menyerang vampire senior.


“Jungkook, jauhkan tanganmu darinya.” ucap Seokjin. Dia cukup tenang karena bagaimanapun Jisung memang layak diberi pelajaran. Mulutnya yang berbisa itu perlu diajari.


Jisung yang dicekik oleh Jungkook hanya bisa terbelalak, kaget dengan kekuatan tangan Jungkook di lehernya. Boleh juga kemampuan bayi vampire itu. Ia tak menyangka kalau Jungkook bisa melakukannya.


Jungkook tak bisa menahan diri saat Jisung sudah mengaitkan Taehyung dengan Dongwook, si big boss yang sangat ia benci. Perkataan Jisung itu hanya mengingatkan Jungkook pada perbuatan keji yang sudah dilakukan Dongwook terhadap soulmatenya. Dan bahkan Jisung berani menuding bahwa Taehyung ada hubungan dengan big boss sindikat? Perkataan yang begitu menjijikkan dan yang mengusik hatinya.


“Jungkook, stop.” kata Taehyung sedikit panik. “Jika seperti ini kita tidak bisa melakukan misi, Kook.” Taehyung mengirim telepati pada soulmatenya.


“Kita tidak butuh dewan vampire! Mereka vampire rendahan yang tidak tahu sopan santun!” kata Jungkook di dalam kepala Taehyung sementara ia masih mencekik Jisung di lantai.


“Tidak mungkin, Jungkook! Kita bahkan membutuhkannya untuk bisa masuk ke dalam markas sindikat. Dia pembongkar kunci yang kita butuhkan.”


Ini begitu mengesalkan karena betapa vampire seperti Jisung sangat diperlukan dalam misi ini dan jika Jungkook tidak berhenti maka Jisung mungkin akan mengundurkan diri dari misi.


Tangan Jungkook yang mencengkram leher Jisung itu pun mengendur namun matanya masih penuh dengan amarah.


Jisung masih tampak syok pasca penyerangan yang dilakukan oleh Jungkook. Hell, dia tidak pernah merasakan kengerian seperti yang dia lihat dari mata Jungkook, seolah vampire itu siap membunuhnya tanpa ragu.


“Apa yang kau lakukan?” ucap Mark. Ia sangat menentang apa yang dilakukan Jungkook di pertemuan seperti ini.


Jungkook memutar kepalanya pada Mark. Dirinya masih sangat agresif. Matanya yang ungu itu berkilat pada Mark. “Aku? Aku hanya sedang melakukan apa yang harus kulakukan.”


“Jungkook…” desis Taehyung berusaha mengingatkan soulmatenya untuk tenang.


“Apa masalahmu?” tanya Lucas, “Jisung tidak menyinggungmu sama sekali.”


Jungkook mendengus tawa. “Dia sudah keterlaluan dengan mengucapkan hal-hal yang bukan urusannya.”


“Dan kurasa itu pun bukan urusanmu.” kata Mark.


Jungkook sudah siap meladeni ucapan itu saat tiba-tiba Taehyung berucap. “Tuan-Tuan, aku minta maaf untuk apa yang terjadi.” Taehyung membungkukkan badan dengan sopan meminta maaf pada para vampire. “Jungkook adalah soulmateku. Dia melakukannya karena dia ingin membelaku.”


Para dewan vampire terkejut mendengarnya. Mereka tak menyangka kalau Jungkook dan Taehyung terkoneksi sebagai soulmate. Jisung yang masih berada di lantai pun tercengang. Tak heran jika Jungkook sampai menyerangnya seperti tadi.


Jungkook menoleh pada Taehyung, cukup terkejut karena Taehyung secara blak-blakkan memberitahukan pada dewan vampire bahwa keduanya soulmate. Yoongi pun memandang Taehyung dengan tegang sementara Seokjin tidak berniat untuk menutupi hal tersebut.


“Soulmate?” tanya Mark, “Maksudmu seperti Nayeon dan Vernon?” Mark menghadap Jackson, berusaha mengoreksi.


Jackson dan Seokjin saling tatap. Ini menjadi semakin pelik. Entah apa yang akan menjadi reaksi dewan vampire mengenai hal ini.


Suho mengangguk-angguk, mulai mengerti dengan situasi yang terjadi.


Jungkook berdiri di sebelah Taehyung, menatap para dewan vampire satu per satu dengan wajah tak ramah. Dia sudah siap akan mengayunkan tinjunya jika ada lagi-lagi yang berusaha mengatakan hal seenak jidatnya.


Seokjin menghela nafas. Dia merasa pertemuan ini cukup sampai disini dulu. “Gentleman, kurasa sebaiknya kita akhiri pertemuan ini. Kita akan mengadakan pertemuan serupa di lain waktu untuk membicarakan siasat serangan.”


Jisung mengibaskan debu di bajunya. Ekspresi wajahnya sulit ditebak. “Kuharap pertemuan berikutnya lebih menarik dari ini.” Matanya memicing pada Jungkook, betapa ia ingin memberi Jungkook pelajaran untuk apa yang bayi vampire itu lakukan.


Taehyung membungkukkan badan kembali meminta maaf pada Jisung. “Sekali lagi aku meminta maaf.”


Jungkook menatap Taehyung tak percaya, mengapa Taehyung harus meminta maaf padahal sudah jelas Jisung yang bersalah. Jisung hanya memutar bola mata dan membuang muka.


Akhirnya Seokjin, Taehyung, Jungkook dan Yoongi pun undur diri dari tempat itu. Jika berlama-lama di sana, Seokjin takut malah akan terjadi perkelahian. Mungkin sebaiknya masing-masing cooling down dulu.


Jackson melirik Jisung. Sepertinya ia perlu menjelaskan pada vampire itu lebih detail mengenai situasi yang dialami Taehyung dan Jungkook. Memang tidak sepantasnya kata-kata Jisung itu diucapkan ke sesama vampire, meski Taehyung adalah vampire mutan sekalipun. Jackson akan menjelaskan bagaimana penderitaan yang selama ini dialami Taehyung di sindikat dan bagaimana takdir yang mempersatukan Taehyung dan Jungkook sebagai soulmate adalah tak lain untuk menghancurkan sindikat bersama-sama.


Seokjin, Yoongi, Taehyung, Jungkook, Namjoon dan Hoseok sudah berada di dalam mobil jeep wrangler. Yoongi yang menyetir untuk mereka kembali ke kediaman clan. Dan selama di perjalanan Jungkook terus berbicara bagaimana ia tidak suka dengan para dewan vampire.


“Dewan vampire memang seperti itu,” ujar Yoongi tenang, “Mereka menganggap diri mereka lebih superior. Itu sebabnya beberapa di antara mereka berbicara seenaknya.”


“Mereka menuduh Taehyung yang tidak-tidak.” tukas Jungkook kesal.


“Itu karena aku vampire mutan, Kook.” gumam Taehyung.


Jungkook menaikkan sebelah alis. “Apa bedanya?”


“Mereka mungkin menganggapku sebagai vampire yang diciptakan manusia, itu sebabnya mereka berpikir aku bisa saja merupakan kaki tangan sindikat.” lanjut Taehyung.


“Tapi kau bukan…” ucap Jungkook.


“Vampire mutan memang masih dianggap rendah oleh beberapa vampire,” tutur Seokjin, “Tapi percayalah hanya beberapa saja yang beranggapan demikian di ruangan tadi.”


Taehyung tersenyum tipis. “Aku mengerti. Aku sudah melewati banyak hal yang mengajarkanku tentang itu.”


Jungkook menoleh memandang Taehyung dengan sedih. Betapa beratnya hal-hal yang dialami Taehyung selama ini. Dirinya yang manusia biasa serta merta seenaknya dijadikan bahan percobaan dan diubah menjadi vampire mutan. Tidak dalam sekejap atau magic Taehyung berubah menjadi vampire mutan. Taehyung mengalami penyiksaan dan penderitaan yang bekasnya bahkan masih ada di tubuhnya. Dan setelah melewati masa traumatis itu, Taehyung pun harus mengalami penolakan demi penolakan. Dulu Jungkook pun salah satu yang menolak eksistensinya dan menganggapnya monster.


“I’m fine, Jungkook.” ucap Taehyung mengirim telepati karena ia bisa membaca pikiran Jungkook sekarang. Taehyung tidak mau Jungkook kembali merasa bersalah atas apa yang sudah lewat terjadi.


Jungkook berjanji ia akan menyapu bersih sindikat kotor dan kejam itu. Ia sudah tidak sabar untuk membuat Taehyung benar-benar merasa aman dan nyaman tinggal di dunia ini.


🎃🎃🎃