
Malam itu di ruang tengah sudah berkumpul Seokjin, Yoongi, Namjoon dan Hoseok. Mereka sedang membicarakan mengenai perkembangan masalah sindikat penjualan vampire. Taehyung sudah tidur di kamarnya, itu sebabnya keempat vampire ini baru bisa mendiskusikannya. Mereka tetap memutuskan takkan melibatkan Taehyung yang innocent dalam masalah ini. Taehyung tidak punya kekuatan vampire dan hyungnya ingin melindungi keselamatan bayi vampire itu.
“Jadi apa sudah ada perkembangan dari dewan vampire?” tanya Namjoon serius pada Seokjin.
“Tadi siang aku mendapat kabar dari Jackson,” tutur Seokjin, “Soulmate Vernon mendapatkan mimpi mengenai keadaan Vernon. Dia bilang kondisi Vernon sangat memprihatinkan, seluruh kulit sudah gosong hitam akibat efek tereksploitasi. Sepertinya para vampire yang ditahan dikuras darahnya setiap hari.”
“Itu sangat mengerikan.” sahut Hoseok prihatin. “Lalu apa soulmatenya sudah mendapatkan lokasi keberadaan Vernon?”
Seokjin menggeleng lemah. “Kondisi Vernon tidak memungkinkan untuk memberikan telepati dan kalau pun bisa Vernon tidak dapat memberitahukan lokasinya karena sepertinya vampire itu juga tidak tahu dia masih ada di Seoul atau tidak.”
“Sial.” tukas Namjoon marah. Tangannya terkepal kuat, membayangkan apa yang menimpa vampire yang ditangkap membuat darahnya mendidih. Ingin sekali ia tahu dimana markas sindikat berada supaya Namjoon bisa mengirimkan angin ****** beliung untuk meluluhlantakkannya.
“Orang-orang itu sepertinya memiliki obat khusus untuk mengendalikan setiap vampire sehingga tidak bisa menyelamatkan diri dengan kekuatan vampire.” ucap Yoongi.
“Dewan vampire pun berpikir hal yang sama.” sahut Seokjin. “Aku juga sudah memberitahu dewan vampire mengenai keterlibatan Dongwook dalam sindikat dan kemungkinan ada permainan lain yaitu menguji coba manusia secara ilegal di markas sindikat itu.”
Hoseok duduk dengan tegang. Mereka sepakat berpikir demikian mengingat V merupakan vampire mutan yang kemungkinan besar merupakan korban dari uji coba menjijikkan semacam itu. Yoongi sudah menceritakannya perihal Jungkook yang melihat potongan masa lalu V.
“Manusia-manusia kotor.” tukas Namjoon.
“Dongwook bisa saja merupakan Big Boss dan dalang utama sindikat penjualan vampire.” kata Hoseok takut-takut. Melihat bagaimana Dongwook merupakan pemilik club Black Dragon dan bagaimana Dongwook sendiri yang mengelola ‘bisnis Delicious Pasta’, semua petunjuk membuktikan demikian bukan?
“Kita masih belum tahu,” ucap Seokjin, “Jika memang dia merupakan dalang dari semua kejahatan itu, aku yakin dewan vampire pasti akan mengijinkan jika kita membunuh pria itu bahkan di tempat terbuka sekalipun.”
“Geurre.” sahut Hoseok, “Alpha tinggal memanipulasi saja memori masyarakat jika melihat ada vampire yang membunuh Dongwook, si setan edan itu.”
Namjoon melirik Hoseok, berusaha menahan ekspresi tetap sedatar mungkin, meski dalam hati ia tak menyangka Hoseok bisa juga mengumpat.
Ponsel Yoongi bergetar. Ia mengecek ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Jimin.
Hyung, mian aku mengganggumu malam-malam. Aku sebenarnya ingin bertemu dan memberitahukan secara langsung tapi sejak kemarin waktunya selalu tidak tepat.
Aku sudah berbicara dengan ibuku mengenai sindikat vampire. Dan ini adalah kartu yang ada di lacinya yang ada hubungannya dengan sindikat.
<>
Yoongi membesarkan mata saat melihat foto yang dikirim Jimin. Foto kartu hitam sebagai tanda member VIP anggota Delicious Pasta. Well damn.
Bagaimana menurutmu, Hyung?
“Oh shit man.” tukas Yoongi tiba-tiba membuat vampire yang lain terkejut. Namjoon sudah tidak dapat menahan ekspresinya untuk tetap serius. Ini seperti pertama kalinya ia mendengar Yoongi mengumpat?
“Ada apa, Yoongi?” tanya Seokjin heran.
“Aku tak percaya…” gumam Yoongi geleng-geleng dan langsung menunjukkan pesan yang baru dikirimkan Jimin pada yang lain.
“Omo!” seru Hoseok terkejut melihatnya.
Melihat itu pun Namjoon ingin ikut mengumpat. Akhirnya ada kemajuan juga untuk permasalahan ini.
Seokjin memberi senyum puas. “Kalau seperti ini kita bisa mengakses situs dan mungkin bisa menuntun kita untuk tahu dimana lokasi markas berada.”
Yoongi cepat-cepat mengirimkan balasan pada Jimin :
Good job, Jimin! Sebaiknya besok kita bertemu secara langsung saat kau tidak sibuk.
Beberapa saat kemudian Jimin mengirimkan balasan :
Okay >< Aku akan datang ke tokomu, Hyung~
***
Pagi itu Jungkook keluar dari rumah, seperti biasa ia akan menjemput Taehyung dulu untuk mereka pergi ke kampus bersama. Saat keluar rumah, Jungkook melihat Seokjin di depan pintu mobil jeep, sedang menunggu Soojung. Pria itu pun cukup intens menjemput kakaknya untuk pergi ke kampus bersama.
Seokjin memberi senyum pada Jungkook yang menghampirinya. “Hai, Hyung…” sapa Jungkook ramah, “Noona sebentar lagi akan keluar.”
“Kau pun akan menjemput Taehyung?”
“Yep.”
“Kutitipkan dongsaengku ya, Kook,” ujar Seokjin. Vampire itu menepuk pundak Jungkook brotherly. Jungkook sangat membantu Taehyung, manusia itu pun sudah tiga kali memberikan darah untukTaehyung. “Kami berhutang banyak hal padamu, Jungkook-ah.”
Jungkook menggeleng dan tersenyum tipis. “Anni. Taehyung adalah temanku, kalian tidak berhutang apa-apa padaku.”
Seokjin memberi senyum. Entah ini merupakan takdir atau apa, dunia manusia dan dunia vampire dipertemukan seperti ini, bahkan mereka bisa bersatu menentang sindikat penjualan vampire.
Soojung keluar dari rumah sambil berlari kecil, wajahnya berbinar saat melihat kekasihnya. Seperti biasa wanita itu sangat cantik, rambutnya yang panjang indah berkibar ketika ia berlari mendekati Seokjin. Vampire itu menatap Soojung lekat-lekat seolah dia baru jatuh cinta lagi dan lagi.
Jungkook mengekeh pelan melihat dua lovey dovey itu. “Kau terlihat seperti seseorang yang mabuk kepayang.”
Seokjin nyengir pada Jungkook, hampir lupa manusia itu masih disana. “I am.”
Jungkook tertawa saja dan langsung pergi menuju mobilnya sendiri setelah mengucapkan perpisahan pada Seokjin dan Soojung.
“Oppa…” sapa Soojung setengah memeluk pinggang kekasihnya. “Sudah sarapan?”
Seokjin memberi senyum panjang dan mengecup pucuk kepala kekasihnya. “Kau tahu kalau aku tidak terbiasa sarapan.”
“Aku sudah buatkan pancake,” sahut Soojung manis, “Kita bisa memakannya bersama.”
Seokjin mengangguk dan mengelus kepala Soojung dengan sayang. (yaelah pagi-pagi udah bucin).
Donghyuk, paman Soojung, baru keluar dari rumah karena harus pergi ke kantor. Melihat keponakannya yang sudah bermesraan di pagi hari, Donghyuk berdehem, mengagetkan Seokjin dan Soojung.
“Pacarmu, Soojung?” tanya Donghyuk dan memberi senyum pada Seokjin. Ini adalah pertama kalinya Donghyuk melihat kekasih keponakannya.
Soojung menoleh terkejut, tak menyangka pamannya akan muncul di pagi seperti ini. Dan yang mencemaskan karena Donghyuk merupakan hunter. Soojung tiba-tiba berubah protektif, dia berdiri di depan Seokjin secara spontan sudah pasang badan untuk melindungi Seokjin.
Seokjin pun sebisa mungkin tidak mau terlihat awkward dan mencurigakan. Dia sudah memakai lensa kontak untuk menutupi mata vampirenya tapi kenapa Seokjin masih merasa tegang begini, seolah sedang ditelanjangi. Mungkin karena ia tahu bahwa paman Soojung merupakan hunter.
“Hmm, yah…” ucap Soojung menjawab pertanyaan Pamannya. Soojung tidak pernah mengharapkan kekasihnya bertemu dengan pamannya. Kekasihnya adalah vampire sementara pamannya adalah hunter. Soojung menggenggam tangan Seokjin kuat-kuat, dia tidak akan membiarkan pamannya tahu bahwa Seokjin adalah vampire. Soojung akan melindungi kekasihnya.
“Ne..” sahut Seokjin berusaha tampak wajar meski sesungguhnya dia tidak pernah menyukai hunter.
“Oke salam kenal. Lain waktu kau bisa datang ke rumah untuk makan malam bersama ya.” ucap Donghyuk ramah.
Soojung menahan nafas. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. “Paman, kami pergi dulu… nanti aku terlambat kuliah.” Soojung langsung menarik Seokjin untuk pergi meninggalkan Donghyuk yang memandang mereka dengan bingung. Sikap Soojung cukup aneh seperti sedang menghindar saja.
Soojung menghela nafas keras-keras saat mereka sudah masuk ke dalam mobil jeep. Ia mengawasi Donghyuk yang sedang berjalan menuju mobil sedannya.
“Tenanglah, Soojung..” gumam Seokjin menepuk punggung tangan kekasihnya.
Soojung berusaha mengendalikan dirinya. Dirinya saat ini seperti mangsa yang berusaha bersembunyi dari predator. “Aku takkan membiarkan dia tahu identitasmu, Oppa.”
“Arra…” Seokjin mengelus pipi kekasihnya, berusaha merilekskan wanita itu untuk tidak terlalu kuatir. Seokjin pun segera menstarter mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
**
Jungkook terengah-engah. Keringat deras mengucur di tubuhnya, rambutnya sudah basah, kaosnya sudah menempel lengket ke tubuhnya akibat keringat. Jungkook berlatih tinju sudah hampir sejam lamanya. Sore ini ia menghabiskan waktu di basement Kim Brothers untuk berolahraga. Tentu saja ia tidak sendirian. Ada Taehyung, Hoseok dan Namjoon.
“Bro, so excellent!” puji Namjoon juga terengah-engah sambil mengajak high five dengan Jungkook.
Jungkook hanya memberi senyum. Dirinya dan Namjoon sejak tadi sudah adu tinju, lengkap dengan menggunakan sarung tinju. Namjoon cukup terpukau dengan skill yang dimiliki manusia itu, kekuatan dan kecepatan Jungkook bahkan bisa mengalahkan kecepatan vampire.
Jungkook dan Namjoon duduk bergabung bersama Taehyung dan Hoseok. Tadinya Taehyung dan Hoseok berolahraga gym tapi tidak kuat juga jika terlalu lama karena mereka tidak biasa. lmao.
“Jungkookie sangat keren!” puji Taehyung dengan boxy smile. Ia memberikan sebotol air dingin untuk temannya. “Kau bisa jadi petinju, Kook!”
“Thanks, Tae.” Jungkook mengekeh sebentar lalu mulai meneguk air banyak-banyak. Setelah puas minum ia berkata, “Aku tidak akan jadi petinju, aku akan bekerja di bidang chemistry.”
Hoseok tertawa dan menepuk bahu Jungkook. “Tinju hanya sampingan saja?”
“Well, hanya hobi saja.” sahut Jungkook.
“Ngomong-ngomong kenapa Jimin tidak bergabung?” tanya Hoseok, “Dia pun butuh banyak berolahraga haha.”
“Dia ada janji dengan Yoongi Hyung,” gumam Taehyung langsung mempoutkan mulut, “Saat aku bilang ingin ikut dia malah melarangku.”
Namjoon tertawa sambil menepuk-nepuk kepala Taehyung. Namjoon tahu kalau hari ini Jimin mau memberikan kartu VIP Delicious Pasta juga mungkin menceritakan apa yang ia tahu dari ibunya.
“Biarkan mereka, Tae. Kau cukup disini olahraga bersama kami.”
Tiba-tiba ponsel Jungkook yang di atas meja bergetar. Jungkook meliriknya dan melihat ada panggilan masuk dari Lisa. Wanita itu memang semakin intens menghubunginya dan Jungkook belum terlalu merasa nyaman. Jadi seperti sekarang, Jungkook mengabaikannya dan tidak menjawab telpon.
“Eoh?” Taehyung melirik ponsel Jungkook juga dan melihat nama yang menelepon. Dia tidak tahu siapa Lisa. “Kenapa tidak diangkat, Kookie? Siapa Lisa?”
Hoseok menoleh dan memasang wajah menggoda pada Jungkook. “Ciyee… yeoja nih ye.”
“Oh indahnya masa muda~~” ucap Namjoon ikut-ikutan meledek.
Jungkook menggeleng-geleng saja. “Nothing special. Dia hanya teman dari jurusan lain yang tidak terlalu akrab.”
Taehyung mengangguk-angguk, dia memang tidak tahu sama sekali mengenai Lisa.
Jungkook tersenyum sendiri apabila mengingat bagaimana dulu V mengumpat pada wanita itu dengan kata yang sangat……. perlu disensor.
“Kurasa aku akan coba menembak.” ucap Jungkook dan bangkit berdiri. Ia harus mengalihkan perhatiannya untuk tidak frustasi mengingat Taehyung.
“Tapi kau baru saja bertinju.” ucap Hoseok merasa stamina Jungkook sudah keterlaluan.
Jungkook mengabaikannya dan langsung pergi ke sisi arena menembak. Sejak dulu Jungkook selalu dikenal dengan anak emas; golden student, bisa melakukan apapun, cepat mempelajari apapun jika dia sudah bertekad. Dia pernah ikut berlatih menembak sesekali dengan kakaknya namun karena Jungkook tidak tertarik, dia tidak begitu mau melakukannya.
Sekarang.. Jungkook berubah haluan. Ia bertekad untuk bisa expert dalam hal menembak, kalau bisa seperti kakaknya, menembak dengan jitu. Kini Jungkook sudah tahu apa tujuannya untuk belajar menembak dengan baik.
Jungkook mengambil pistol. Ia menutup sebelah matanya untuk mengecek bidikan bantal yang berbentuk tubuh manusia.
“Tembak kepala untuk membunuh manusia.”
Kata-kata Taehyung itu terngiang kembali. Jungkook menembakkan pistolnya ke arah bantalan manusia. Ia memang belum bisa akurat menembak bagian kepala tapi setidaknya pelurunya tidak ada yang terbuang percuma, semua mengenai bagian bantal : perut, dada, bahu dan kepala.
Jungkook terus menembakkannya membayangkan kalau yang ia tembak adalah Dongwook atau orang-orang yang dulu pernah menyiksa Taehyung dan yang mengujicobakan obat-obat aneh ke dalam tubuhnya. Wajah Jungkook semakin mengeras, seandainya yang ia tembak ini adalah orang-orang tersebut.
Taehyung, Namjoon dan Hoseok tercengang melihat Jungkook. Awalnya mereka terpukau tapi lama kelamaan melihat bagaimana bahasa tubuh Jungkook itu, mereka yakin Jungkook sedang tidak berada pada good state. Tergesa-gesa mereka mendatangi Jungkook. Taehyung pun sangat kuatir melihat Jungkook seperti ini.
Peluru sudah habis namun Jungkook terus berusaha menembak, memaksa pistolnya untuk bisa menembak ke bantalan manusia. Dia tidak tahu kenapa saat ini dia begitu marah dan agresif, kenapa dia sangat terbawa suasana.
“Jungkook, kau tidak lupa kan kalau aku adalah vampire? Aku monster!”
Terngiang kembali ucapan Taehyung padanya. (lihat ep. 75 Pembicaraan Malam Itu)
“Dan monster ini akan memburu manusia yang berhati monster. Bukankah akan menjadi pertunjukkan menarik, Jeon?”
Jungkook melempar pistol yang pelurunya sudah habis. Dia ingin berteriak kencang-kencang melampiaskan frustasinya.
“Jungkookie?” Taehyung memegang lengan manusia itu dengan cemas, bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Jungkook seperti ini.
Jungkook membalikkan badannya menghadap Taehyung. Ia menatap vampire itu dengan nanar dan mengatakan dengan sungguh-sungguh. “Kau bukan monster! Tae, kau bukan monster!” Itu adalah kata-kata yang tidak sempat Jungkook ucapkan. Betapa menyesalnya ia mengapa ia tidak meyakinkan Taehyung saat itu bahwa Taehyung bukanlah monster.
Mata Taehyung membulat, terperangah dengan reaksi tak terduga Jungkook. Hoseok dan Namjoon saling pandang. Ini sungguh di luar kendali mereka. Entah apa yang membuat Jungkook begitu emosional dan mengucapkan kalimat seperti itu pada Taehyung.
Bibir Jungkook bergetar melihat bagaimana ekspresi Taehyung sekarang yang terkejut dan bingung harus merespon apa padanya. Jungkook menanti… kalau-kalau aura Taehyung akan berubah, kalau-kalau ada suara di dalam kepalanya yang menyahutnya.
Tetap tidak ada.
Tubuh Jungkook mulai lunglai dan seperti mati rasa. Ia menghela nafas pelan. “Mi-mian…” Jungkook mengacak rambutnya sendiri, malu sudah menimbulkan kehebohan. “Kurasa aku harus pulang.” Jungkook tidak menunggu kata-kata Taehyung dan langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
“Kookie!!” seru Taehyung memanggil namun diabaikan. Jungkook butuh menyendiri untuk menenangkan dirinya saat ini.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾