Vampire In The City

Vampire In The City
Jebakan



Selamat membaca



Sebelum tidur, Jungkook menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan besok. Setelah memastikan tugasnya sudah aman dan lengkap, Jungkook iseng mengecek inbox. Ia tak menyangka ia mendapatkan pesan email dari markas hunter. Pikirnya markas hunter tidak akan menggubris pesannya.


To : jjk_jeon@mail.com


From : hunter.centre@mail.com


Subject : replied to vampire detected


Message :


Hai. Kami mengucapkan terimakasih untuk informasinya. Apa kau bisa memberitahu lebih lanjut mengenai pesan yang kau kirim sebelumnya?


Kami ingin melakukan scanning dan memastikan apa ada vampire di kampus tersebut.


Atau jika itu terlalu riskan untukmu, bisakah kau memberikan waktu dan tempat untuk kami melihat ‘vampire’ itu? 


Jungkook menelan ludah saat membacanya. Damn. Ternyata maskar hunter tidak menganggap pesannya sebagai spam, sepertinya maskar hunter berusaha melayani masyarakat dengan sangat baik ya?


Jungkook menggigit kuku. Apa yang harus ia tulis? Dia tidak ingin membuat heboh seantero kampus dengan kedatangan hunter dan menangkap Taehyung. Itu terlalu brutal, Jungkook juga tak ingin itu terjadi.


Dan… apa takdir tengah menunjukkan jawabannya? Mungkin adalah takdir Taehyung harus ditangkap hunter. Karena jika takdir tidak mengijinkan pasti Jungkook tidak akan mendapat pesan balasan.


To : hunter.centre@mail.com


From : jjk_jeon@mail.com


Subject : replied to vampire detected


Message :


Kukira cukup satu hunter saja yang dikirim untuk melakukan pengecekan. Aku merasa tidak enak jika ternyata prediksiku meleset. Aku akan buat dia datang dan hunter bisa mengeceknya langsung.


Jumat jam delapan malam di Gedung XX Jalan XX


Jungkook menahan nafasnya saat ia mengklik ‘SEND’. Ia baru melamun beberapa saat ketika ada pesan masuk lagi di inboxnya :


To : jjk_jeon@mail.com


From : hunter.centre@mail.com


Subject : replied to vampire detected


Message :


Roger that.


Mata Jungkook mengerjap-ngerjap membacanya. Secepat itu konfirmasi langsung dikirim. Jadi lusa ia harus mempertemukan Taehyung dengan hunter di tempat dan waktu yang sudah ia rencanakan. Oh gosh… apa semuanya akan berjalan dengan baik? Apa perbuatannya tidak kelewatan?


Jungkook menggeleng-geleng, menyadarkan diri. Yang ia lakukan tak salah. Ia sudah melakukan hal yang benar sebagai warga sipil. Keselamatan manusia akan terancam dengan berkeliarannya vampire. Setidaknya vampire cukup ditangkap, tak perlu dibunuh.


Jungkook membuka binder kuliahnya. Ia melihat kartu vampire yang pernah Taehyung berikan padanya. Kata-kata Taehyung itu sungguh naif saat mengatakan : “Hyungku bilang ketika orang-orang bertukaran koleksi atau barang favorit itu membuat semakin dekat dan ada rasa percaya.”


Jungkook mendengus pelan. Kalimat itu tidak ada artinya… rasa percaya apa? Jungkook tidak mungkin menaruh rasa percayanya pada vampire. Ia pun tidak mungkin berteman dengan vampire.


Jungkook meremas kartu itu. Ia akan mengembalikan kartu ini pada pemiliknya. Boneka pikachu di atas rak buku seolah menatapnya penuh intimidasi. Ia mengambil boneka itu. Boneka pikachu ini ia peroleh dari bermain di arcade. Dirinya, Taehyung dan Jimin masing-masing mendapat boneka pokemon. Masa itu sangat menyenangkan… tapi Jungkook tak bisa menyimpan boneka ini jika hanya mengingatkannya pada masa-masa itu.


Jungkook memasukkan boneka itu ke tempat sampah kering di sebelah meja belajarnya. Ia menghembuskan nafas keras-keras. Ia sudah memilih.


***


Taehyung membuka lokernya siang itu untuk mengambil buku kuliah. Saat hendak mengambil, ia melihat ada kartu di tumpukan buku paling atas. Ia mengambilnya dan terkejut saat melihat kartu familiar itu. Kartu ini adalah kartu vampire, kartu yang pernah ia berikan pada Jungkook. Kartu favorit nomor satunya!


Mata Taehyung membesar dan tangannya gemetar memegang kartu itu. Apa Jungkook mengembalikannya? Jadi Jungkook benar-benar ingin memutus hubungan mereka selamanya. Ini begitu menyedihkan. Taehyung menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca.


Ada kartu lain di atas tumpukan buku. Taehyung mengambilnya dan melihat bahwa tulisan di kartu itu adalah tulisan Jungkook sendiri. Dalam kartu itu berbunyi :


Besok jam delapan malam, datang ke Gedung XX di Jalan XX.


Taehyung tidak bisa menahannya dan air matanya menetes juga. Ia tidak berpikir masalahnya akan selesai dengan pertemuan itu. Mungkin itu adalah perjumpaan terakhir mereka, mungkin Jungkook ingin mengucapkan perpisahan untuk terakhir kalinya.


Taehyung memejamkan mata dan memukulkan kepala ke pintu loker. Ini sangat menyedihkan. Dia sangat menyedihkan.


Dari kejauhan, Jungkook memperhatikan Taehyung. Ia tak menyangka kalau vampire itu kembali menangis lagi hanya karena kartu vampirenya dikembalikan. Tapi memang Jungkook pun tidak ingin menyimpan barang Taehyung lagi. Ia harus benar-benar mengakhirinya.


Sebenarnya Jungkook mendapat pesan dari markas vampire, memintanya untuk menjebak vampire yang dimaksud supaya bisa ditangkap atau dicek kebenarannya oleh vampire. Dan Jungkook pun menyebutkan tempat dan waktu yang sama seperti yang ia tuliskan untuk Taehyung.


Besok… Taehyung akan ditangkap oleh hunter.


.


.


Jimin sangat mengkel, hari ini pun Jungkook tak dapat ia temui. Anehnya Taehyung pun sama. Taehyung hanya mengirim pesan pada Jimin bahwa Taehyung harus mengerjakan tugas kelompok. Jimin tidak tahu apa Taehyung memang benar kerja kelompok atau sedang menghindarinya, karena sebetulnya Jimin ingin menginterogasi temannya itu perihal keanehan yang terjadi antara Taehyung dan Jungkook.


Tak tahan dengan rasa penasarannya, sore itu Jimin menelepon Jungkook. Setelah berulang kali menelepon akhirnya Jungkook merespon juga.


“Halo, Chim?” sahut Jungkook dengan suara malas-malasan.


Jimin menarik nafas dalam-dalam untuk menggerutu keras pada temannya : “YA! Kau kemana saja? Kenapa beberapa hari ini sulit dihubungi dan ditemui di kampus?”


“Banyak tugas? Memang sebelumnya kau tidak banyak tugas?”


“Jimin, aku hanya harus cepat pulang, oke?”


“Sebenarnya ada apa denganmu, Jungkook?” tanya Jimin mulai melunakkan suaranya. Jika Jungkook memang memiliki masalah serius, Jimin mau menjadi pendengar dan menolongnya. Jungkook adalah temannya.


“Tidak ada, aku baik-baik saja.”


Jimin menghela nafas pelan. “Jungkook… aku tahu ada sesuatu yang terjadi antaramu dan Taehyung. Sebenarnya kalian punya masalah apa?”


Jungkook mengerucutkan hidung, seharusnya ia tidak perlu kaget jika Jimin bisa menebaknya.


“Kalian berdua temanku,” lanjut Jimin merajuk, “Jika ada masalah ayo kita selesaikan bersama-sama, pasti ada jalan keluarnya.”


Entah kenapa ada dorongan emosi di dalam diri Jungkook. Ia merasa ia sudah menemukan jalan keluar masalah ini. Ia sudah memutuskan hubungan dengan Taehyung bahkan melaporkannya pada hunter. “Masalahku sudah beres. Aku tidak bisa berteman lagi dengan Taehyung.”


“Mwo?” Jimin terkejut mendengarnya. “Tapi kenapa?”


Jungkook memutar bola mata. Dia tahu bahwa Jimin seharusnya tahu bahwa Taehyung adalah vampire, bukankah saat itu juga ada Jimin yang melihat bagaimana mengerikannya monster Taehyung? Kenapa Jimin diam saja? Kenapa Jimin masih berteman dengan Taehyung?


“Kau tahu kenapa, Jimin…”


Jimin terperangah. Jantungnya berdegup keras dan ia jadi berpikiran jangan-jangan Jungkook mengetahui identitas Taehyung. “A-apa maksudmu?”


Jungkook mengatur nafasnya untuk tetap stabil despite rasa marah dan jengkel di hatinya. “Aku membenci vampire, Jimin… Aku kehilangan orangtuaku karena vampire.”


“Apa?” Jimin sangat terkejut. Dugaannya benar, Jungkook sudah mengetahui identitas Taehyung… dan alasan Jungkook tidak mau berteman dengan Taehyung adalah karena rasa pahit yang dialami akibat orangtuanya yang terbunuh oleh vampire. Jimin tidak pernah mengetahuinya. Ia tahu orangtua Jungkook meninggal tapi Jungkook tak pernah memberitahukan kenapa. Dan sekarang ketika mendengar fakta itu Jimin sangat merasa sedih.


“Aku sangat membenci vampire…” ulang Jungkook kali ini dengan suara bergetar.


“Ta-tapi–“


“Jebal jangan menasihatiku, Jimin,” potong Jungkook, “Jika kau menyuruhku untuk tetap berteman dengan Taehyung, aku sudah tak bisa lagi. Aku akan merasa sudah mengkhianati keluargaku.”


“Jungkook-ah…” Mata Jimin menjadi berkaca-kaca. Ia tak menyangka bahwa masalah bisa sepelik ini.


“Tolong mengerti posisiku…” Jungkook menjambak rambut dengan tangan yang bebas dari memegang ponsel. Beberapa hari ini Jungkook merasa sangat depresi dan frustasi, entah apa penyebabnya, entahkah karena ia ingin segera semuanya berakhir atau dia tidak mau Taehyung tertangkap hunter… Kepalanya seperti dilempar batu, sakit tapi tidak berdarah. (ceilahh… #ehmaap)


Jimin menggigit bibir. “Aku turut prihatin dengan kehilangan yang kau alami, Kook… Aku mungkin tidak bisa mengerti karena aku tidak berada di posisimu. Aku percaya kau pun berat melakukan ini.”


Jungkook ingin sekali berteriak : SANGAT!!!


“Kau dan Taehyung adalah sahabatku,” lanjut Jimin, “Kalian berarti bagiku. Aku tidak bisa memihak pada satu orang, Kook.”


“Aku tidak menyuruhmu memihak, Chim.” kata Jungkook, “Aku tidak akan marah jika kau tetap berteman dengan Taehyung, itu bukan urusanku. Aku hanya ingin kau bisa menerima keputusanku.”


Ini begitu menyedihkan… Jimin ingin sekali berlari mendatangi Jungkook dan memeluknya. Ia merasakan begitu beratnya keputusan itu untuk Jungkook. Temannya itu pasti sangat marah, kecewa dengan kenyataan yang menimpanya. Jungkook tak bisa berteman dengan Taehyung karena temannya itu adalah vampire… sementara sejak dulu Jungkook sudah membenci vampire karena kehilangan yang dialami.


“Tetap semangat, Kook… kau bisa mengandalkanku jika kau butuh pundak untuk bersandar.”


Jungkook tersenyum tipis. “Cemaskanlah Taehyung…”


“Aku mencemaskan kalian berdua!” ucap Jimin setengah menangis. Ingin rasanya ia protes pada langit mengapa ketidakadilan menimpa kedua temannya. Bukan salah Taehyung jika dirinya adalah vampire… Dan tragedi yang menimpa orangtua Jungkook pun sangat menyayat hati.


“Gomawo…” ujar Jungkook. Mereka pun mengakhiri telpon itu.


Jimin mengusap pipinya yang sudah basah karena air mata. Dia sungguh bodoh karena tidak menyadari kejanggalan ini, entah darimana Jungkook mengetahui identitas Taehyung itu. Dan sepertinya keduanya sudah saling bicara hingga memutuskan untuk mengakhiri persahabatan. Jimin menyadari bahwa baik Taehyung ataupun Jungkook sangat dilukai karena masalah ini. Jimin tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Jungkook. Temannya itu terlalu trauma sehingga tak dapat menerima vampire sebagai temannya.


Ini masalah serius… Besok Jimin akan ke rumah Kim Brothers untuk menceritakan masalah ini pada Yoongi Hyung.


****


Keesokan malamnya Taehyung mendatangi Gedung XX di Jalan XX sesuai dengan apa yang Jungkook tulis di kartu. Dirinya masih menaruh sedikit harapan bahwa bisa saja mereka masih dapat memperbaiki masalah… bisa saja Jungkook ingin mengajak berdamai dan berteman lagi. Taehyung sangat naif dan masih berpikiran demikian.


Gedung itu adalah gedung tua yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Lokasi yang berada di area non pemukiman membuat tidak ada siapapun di sini. Benar-benar gedung yang sudah tak terpakai lagi, kaca pintu pecah di sana sini, lantai berdebu dan perabotan yang sudah reot. Lampu pun sudah tak berfungsi.


Vampire itu mulai merasa takut. Ia tidak mengerti mengapa Jungkook ingin menemuinya di tempat seperti ini. Dalam tangan Taehyung tergenggam kartu vampire curse. Ia membawanya kembali, berharap ia masih bisa memberikan kartu favoritnya ini pada Jungkook… karena Taehyung masih menyimpan sedikit harapan bahwa Jungkook masih mau menjadi temannya.


Angin berdesir ke dalam gedung sementara Taehyung menaiki tangga. Ia tidak tahu kemana tujuannya.. tapi dengan telinga vampirenya ia merasakan kehadiran seseorang di gedung ini. Taehyung berjalan ke lantai dua, suatu ruangan luas dan tinggi… ia bisa melihat lantai-lantai atas lain dari sini.


Taehyung meremas kartu vampire-nya erat-erat. Ia merasakan ada orang di lantai 4… dan itu bukan Jungkook. Orang itu bukan Jungkook.


Tiba-tiba ada kilatan cahaya blitz yang menyilaukan mata untuk beberapa detik, entah dari mana. Taehyung begitu panik, apa yang sebenarnya telah terjadi?


“Jungkookie…” Taehyung sangat ingin menangis. Hatinya sangat sakit rasanya sampai ke relung hatinya yang paling dalam, seperti tercabik-cabik. Jungkook menyuruhnya datang ke tempat ini bukan untuk menemuinya?


Ia harus meninggalkan tempat ini. Tempat ini tidak aman untuknya… Manusia di lantai 4 itu terlalu mencurigakan.


Taehyung mendengar namanya dipanggil di kejauhan, ia membalikkan badan untuk pergi meninggalkan tempat ini namun terlambat karena peluru panas tiba-tiba mengenai tubuhnya. Taehyung merasa sangat kesakitan dan tubuhnya langsung rebah ke lantai dengan air mata mengalir di pipi.



🎃🎃


Duhhh 😭😭 ingin rasanya marah pada Jungkook



tapi kalo diinget inget kan saya yang bikin story ini ya 🙈😅


Jangan lupa berikan like dan comment ya untuk episode ini.🤞🤞