
Seokjin dan Soojung berkencan malam itu. Mereka makan malam bersama dengan suasana menyenangkan. Keduanya semakin dekat dan saling tertarik satu sama lain. Mata Seokjin tak henti-hentinya berbinar memandang kekasihnya.
“Seperti apa masa kecilmu, Oppa?” tanya Soojung sambil memberi senyum manis.
Seokjin bahkan tak bisa mengingat masa kecilnya. Ia sudah terlalu lama hidup sebagai vampire. Rasanya masa kecilnya itu kurang lebih 100 tahun lalu. Seokjin lahir dari orangtua yang merupakan vampire. Saat itu vampire masih hidup di kastil-kastil tua. Kau tau seperti di film-film kuno, dulu vampire masih hidup menyendiri, tidak berbaur dengan manusia seperti sekarang.
“Aku termasuk penyendiri saat masih kecil, Soojung…” ujar Seokjin jujur, “Aku tidak punya banyak teman.”
“Ah jinjja? Tapi Oppa orang yang sangat menyenangkan.”
Seokjin memberi senyum simpul. Dirinya yang merupakan Alpha dulu dijauhi vampire anak-anak karena Alpha dianggap sok berkuasa dan kerjanya hanya menindas. Padahal tidak demikian. Semenjak kecil Seokjin memiliki hati keras seperti batu karena pengaruh lingkungan sekitarnya.
“Aku dianggap judes, Soojung.” Seokjin ingat saat orangtua dan vampire-vampire lainnya meninggal karena dibunuh hunter, Seokjin kabur dan berusaha menyelamatkan diri. Dia hidup bertahun-tahun sendirian, berusaha mengerti apa makna hidup seorang vampire. Hingga ia dipertemukan dengan Yoongi. Yoongi yang peranakan manusia-vampire, mencairkan hati Seokjin yang bagaikan es. Perlahan-lahan Seokjin mulai keluar dari cangkangnya, meski sebenarnya Seokjin bukan tipikal orang yang penyendiri.
“Tapi bersama saudara-saudaraku, aku mulai melunak. Kau tahu, menjadi Kakak tertua membuatku menjadi pribadi yang sangat perhatian.”
Soojung memberi senyum. “Kau pasti sangat mengasihi adik-adikmu, Oppa.”
“Tentu saja. Mereka yang terutama dan berharga di hidupku, Soojung-ah.”
“Bagaimana denganku?” goda Soojung menahan kekehan.
Seokjin tertawa pelan, wajahnya sedikit memerah mendengar ucapan kekasihnya. “Kau pun menjadi bagian yang berharga dalam hidupku, Soojung.”
“Jinjja?” bisik wanita itu.
“Jinjja.”
“Oppa pun menjadi seseorang yang berharga di hidupku,” ucap Soojung menatap kekasihnya, “Aku senang karena aku bisa mengenalmu, Oppa.”
“Aku juga…” ujar Seokjin tulus. Seokjin tidak bisa membayangkan seperti apa masa depannya bersama Soojung. Wanita itu bahkan tidak tahu bahwa Seokjin adalah vampire. Soojung tidak ingin masa bahagianya bersama Soojung berakhir. Seokjin tak dapat mengubah takdirnya yang merupakan seorang vampire… namun dia juga tak dapat membunuh rasa kasih yang tumbuh di hatinya terhadap wanita itu. Entah pertemuan mereka pun sebenarnya sudah digariskan sang takdir… Seokjin hanya berharap pilihannya ini tidak akan membahayakan dirinya dan clannya kelak.
.
.
Sudah lewat tengah malam, namun seperti malam sebelumnya Jungkook sulit untuk tidur. Sepertinya dia tidak bisa tidur karena pikirannya terus sibuk bekerja keras. Dia memikirkan seperti apa kehidupan vampire yang sebenarnya. Bagaimana cara vampire bisa bertahan sembunyi dari hunter? Bukankah vampire pun perlu menghisap darah manusia? Selama ini Jungkook tidak pernah melihat Taehyung menghisap darah manusia, bahkan Taehyung mempunyai nafsu makan seperti manusia normal : memakan daging, memakan jajanan dan lain-lain.
Jungkook yang sejak tadi berbaring membelakangi Taehyung, akhirnya membalikkan badannya. Ia melihat temannya yang sudah tertidur dengan lugu itu. Melihat tampang Taehyung itu Jungkook jadi bertanya-tanya apa betul temannya adalah seorang monster? Apa benar Taehyung adalah vampire yang mematahkan tangan dan kaki orang lain dengan mudahnya? Dimana sosok menyeramkan yang sebelah matanya berwarna putih seperti hantu?
Jungkook melihat Taehyung yang tertidur menghadapnya, tidak bergerak bahkan seperti tidak bernafas. Jungkook pernah mendengar dari Pamannya kalau vampire tidak perlu bernafas. Sepertinya benar demikian karena Taehyung tampak tidak menghirup atau pun menghembuskan oksigen.
Di momen terlemah Taehyung ini, Jungkook bisa langsung menghabisi vampire itu. Ia memiliki banyak benda yang terbuat dari silver. Sepertinya sangat mudah menghabisi vampire yang tertidur di sebelahmu bukan?
Jungkook berusaha mencerna dan merenungkan semua yang diperbuat Taehyung sejak mereka pertama kali bertemu. Baginya Taehyung sangat polos dan innocent, hal seperti itulah yang mengubah Jungkook si sosiopath menjadi lebih lunak. Jungkook yang biasanya tidak peduli dan acuh tak acuh dengan sekitar, namun terhadap Taehyung dan Jimin, ia tidak demikian. Tapi kalau mengetahui fakta bahwa temannya adalah vampire, bukankah Jungkook juga punya hak untuk mempertahankan pendiriannya? Memangnya mudah untuknya tetap bersikap seperti biasa sementara ia tahu orangtuanya dibunuh oleh vampie?
Rasa sakit di hatinya itu kembali muncul bercampur dengan rasa marah. Orangtuanya yang telah tiada tidak akan pernah kembali lagi. Tapi kemarahan terhadap penyebab kematian orangtuanya itu masih berbekas dalam. Seandainya Taehyung bukan vampire, mungkin Jungkook tidak akan merasa resah seperti ini.
Jungkook membalikkan badan dan kembali memunggungi Taehyung. Ia memejamkan mata dan berusaha untuk tidur, meski ia tahu ia akan bermimpi mengenai vampire lagi seperti malam sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, mata Taehyung membuka. Ia melihat Jungkook dengan tatapan kosong. Telinga vampirenya saat ini bisa mendengar suara-suara lain dalam keheningan malam. Dia juga bahkan bisa mendengar suara nafas temannya. Taehyung mendengar ada suara percakapan Paman Jungkook di kejauhan, sepertinya dari kamarnya. Donghyuk seperti sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Taehyung berusaha memejamkan mata erat-erat. Jika mengingat bahwa pekerjaan Donghyuk adalah seorang hunter, ini membuat Taehyung semakin takut. Dia takut jika percakapan itu bahkan berkaitan dengan pekerjaannya sebagai hunter. Buruan besar apa? Tentang vampire?
Kaki Taehyung gemetaran. Dia sungguh ingin pulang, berada di bawah atap rumah Jungkook ini membuatnya tak nyaman dan merasa sangat terancam. Taehyung menyadari ketidakberdayaan dirinya. Dia bahkan bisa langsung mati di tempat jika lengah.
Taehyung tak pernah menyangka bahwa tiba saatnya situasi yang dulu ia takutkan. Dia memang selalu memohon untuk mendapat teman sejati, merasakan persahabatan… tapi ia tak menyangka bahwa bahkan takdir seolah mempermainkannya seperti ini? Jungkook membenci vampire… Paman Jungkook adalah hunter… Jungkook memiliki banyak barang-barang silver…
Apa yang salah dengan dirinya jika ia hanya mengharapkan mempunyai teman? Kenapa semesta seolah melarangnya begini? Baru saja Taehyung merasakan kebahagiaan, ia tak menyangka ia langsung mendapatkan situasi sulit. Ini membuatnya bertanya-tanya apakah ini harga yang harus ia bayar ketika telah mendapatkan sahabat-sahabat sejati?
Mata Taehyung berkaca-kaca. Ia menggigit bibir keras-keras dan berpikir mengapa hidup pun masih tak adil untuknya?
.
.
Pagi itu Jungkook terbangun. Dia tertidur cukup pulas, tidak biasanya, padahal dia kira dia akan bermimpi buruk mengenai vampire yang membunuh orangtuanya… namun ternyata tidak.
Jungkook membuka mata, pikirannya masih berusaha loading di awal bangun tidur ini. Jungkook teringat bahwa Taehyung menginap di tempatnya. Ia pun langsung berbalik badan, melihat ke samping, Taehyung sudah duduk sambil memeluk lutut.
“Tae?” tanya Jungkook cukup terkejut sekaligus heran. Apa yang terjadi? Ekspresi Taehyung itu terlihat tidak baik. Dan sejak kapan Taehyung sudah bangun?
“Pa-pagi, Jungkookie…” ujar Taehyung dengan senyum.
Jungkook duduk bangun. “Wae?”
“A-anni… Ng, karena kau sudah bangun aku ingin pamit pulang, Jungkookie.”
Jungkook menaikkan sebelah alis dengan heran. Ia meraih ponsel di atas rak dan melihat jam berapa sekarang. Waktu bahkan masih menunjukkan pukul tujuh kurang!
“Kau ingin pulang? Wae? Apa ada yang terjadi?”
Taehyung langsung menggeleng-geleng. “A-aku hanya harus cepat pulang supaya para Hyungku tidak kuatir.”
Jungkook terdiam beberapa saat. Sepertinya Taehyung merasa sangat tidak nyaman di rumahnya karena banyak kejadian tak terduga yang terjadi semalam ya? Kelemahan vampire kan silver… dan di rumah ini ada begitu banyak benda berbahan silver, apalagi Paman Jungkook merupakan hunter.
“Jika itu yang kau mau, aku takkan memaksa.” gumam Jungkook akhirnya masih memandang Taehyung.
“Gomawo.” bisik Taehyung. Vampire itu langsung merapikan barang-barang dan tasnya. Ia hanya ingin cepat pulang karena ia tidak mau bertemu dengan Paman Jungkook. Taehyung tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan percakapan yang dilakukan hunter itu. Kalau kau berada di posisi vampire dan mendengar percakapan itu, wajar bukan kalau kau merasa keselamatan kaummu terancam?
“Mian, aku tak dapat mengantarmu,” ucap Jungkook datar, “Aku masih terlalu mengantuk.”
“Gwaenchana,” sahut Taehyung dengan meringis, “A-aku pulang dulu ya, Kookie.”
Jungkook hanya memberi anggukan dan membiarkan Taehyung keluar dari kamarnya. Jungkook masih blank di ranjangnya. Sebagai seorang teman sebenarnya sikapnya kelewatan, bahkan tidak mengantar Taehyung sampai ke depan pintu.
Jungkook menghembuskan nafas keras-keras. Ia melihat langit-langit kamarnya dengan sendu. Lama-lama situasi seperti ini sangat menjengkelkan hatinya.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya setelah membaca,berikan komentarmu mengenai cerita ini.