
Soojung sedang membuat kopi di dapur. Ia mengaduknya perlahan-lahan, suara TV dari ruang tengah terdengar. Wanita itu melirik ke arah ruang tengah yang memang tak jauh dari dapur, ia melihat Pamannya sedang duduk menonton TV.
Beberapa hari ini ada banyak hal yang mengganggu pikiran Soojung. Keterdekatannya dengan Seokjin membuatnya mempertanyakan apakah semua vampire perlu dibasmi atau tidak. Tentu saja Soojung tidak mau jika kekasihnya ditangkap oleh hunter, apalagi dibunuh. Soojung memang membenci vampire tapi ia mulai bisa mengendalikan kebenciannya… ia membenci vampire yang membunuh orangtuanya. Seandainya ia tahu siapa dalang di balik kematian orangtuanya, Soojung tak tanggung-tanggung akan membalaskannya.
Kemarin Soojung sempat menanyakannya kepada Seokjin, mengenai alasan serangan hunter beberapa pekan lalu. Bagaimana pemimpin hunter yang mengarahkan supaya vampire tidak tertembak di bagian jantung melainkan hanya tertembak untuk dibius yang nantinya akan ditangkap dan dikurung. Soojung menanyakan pendapat Seokjin, meski ia tahu topik pembicaraan seperti itu sangat sensitif karena Seokjin merupakan vampire dan hampir menjadi korban.
Seokjin tidak mengatakan banyak. Ia hanya mengatakan bahwa seharusnya Soojung bisa tahu penjelasannya karena pamannya yang merupakan seorang hunter.
Soojung mengambil kopinya yang sudah jadi dan membawanya ke ruang tengah. Ia duduk di sofa lain dan menatap pamannya yang sedang menonton. Donghyuk melirik keponakannya, merasakan raut Soojung yang tak biasanya.
“Wae? Kau seperti sedang memikirkan sesuatu.” ucap lelaki paruh baya tersebut.
Soojung terkesiap dan menoleh pada pamannya. “Hmm, yah sedikit.”
“Apa yang mengusikmu, Soojung? Ada yang bisa Paman bantu?”
“Anni…” Soojung menunduk sedikit dengan alis mengernyit, “Aku hanya tiba-tiba saja teringat dengan buruan besar yang kita lakukan beberapa pekan lalu.”
Donghyuk terkejut dan memutar badannya ke arah keponakannya. “Itu cukup membuatmu trauma ya?” Donghyuk tidak mungkin lupa bagaimana ia kehilangan keponakannya di sana, menyangka ada vampire yang sudah membunuh Soojung.
“Sedikit membuatku terguncang.” sahut Soojung berwajah lara.
Donghyuk menatap keponakannya dengan sungguh-sungguh. Dia sebenarnya cukup menyesal mengapa ia harus melibatkan Soojung saat itu padahal wanita itu bukan hunter, meski memiliki kemampuan menembak dengan jitu. Donghyuk hampir tak dapat memaafkan dirinya jika saat itu Soojung tidak pulang dalam keadaan hidup.
“Aku hanya penasaran apa yang dilakukan hunter pada vampire yang tertangkap jika vampire tidak dibunuh. Karena setahuku pekerjaan hunter adalah membasmi vampire?”
Donghyuk menghela nafas. “Banyak perubahan, Soojung-ah. Dunia yang modern seperti ini menuntut kita untuk melakukan perubahan bukan?”
Soojung mengernyit heran mendengar pernyataan pamannya. “Perubahan seperti apa?”
“Well… Vampire yang ditangkap akan dikurung selamanya.”
Soojung hampir tersedak mendengar jawaban pamannya. Ia sungguh tak menyangka ia akan mendengar ucapan seperti itu. “Dikurung selamanya?”
Donghyuk mengangguk enteng. “Bukankah itu yang terbaik, Soojung-ah? Pertama, vampire tidak perlu dibunuh dan mati sia-sia. Mereka tetap hidup, hanya saja dikurung di tempat khusus supaya tidak membahayakan manusia lagi.”
“Ta-tapi bukankah vampire harus hidup dengan meminum darah manusia?”
Donghyuk mengangkat bahu cuek. “Itu pun pasti dipikirkan.”
Soojung menlan ludah dalam-dalam, masih tidak mengerti dengan penjelasan pamannya. “Tapi itu akan banyak menghabiskan dana untuk mengurung vampire seperti itu?”
Donghyuk tersenyum pelan. “Itu tidak menjadi masalah jika menggunakan asas pemanfaatan.”
“Mwo?”
“Kau tahu, Soojung-ah, kenapa peternak sapi capek-capek merawat sapi dari kecil sampai besar? Merawatnya, memberinya makan, menjaganya dari hewan buas… kau tau kenapa?”
Mata Soojung membola. Tidak mungkin…
“Tentu saja peternak sapi itu memanfaatkan susu sapinya bukan?” Donghyuk memberi senyum lebar, “Dan saat waktunya tiba ketika sapi sudah siap untuk diolah dagingnya lalu dikirim ke pedagang-pedagang di pasar.”
Analogi itu membuat Soojung sangat tidak nyaman. Dia tidak menduga pamannya akan membuat perumpamaan seperti itu, entah kenapa membuat perut Soojung mulas.
“Ma-maksudnya…?”
“Ini sebenarnya rahasia, tapi aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini dengan baik karena kau adalah keponakanku yang sudah dewasa,” ujar Donghyuk, “Vampire yang ditangkap akan dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia. Singkatnya seperti itu, Soojung-ah.”
Tangan Soojung terkepal. Pikirannya sampai buntu dan ia hanya tidak bisa membayangkan apa yang diucapkan pamannya itu. Apa itu maksudnya eksploitasi vampire?
Bahkan ketika Donghyuk pergi ke luar untuk menjawab telpon, Soojung masih syok. Wanita itu langsung bergegas ke kamar mandi, wajahnya di cermin begitu pucat pasi seolah baru melihat hantu.
Perkataan pamannya begitu tidak masuk akal. Apa vampire hanya semacam hewan ternak? Ditangkap, dikurung dan dieksploitasi? Lantas apa yang dieksploitasi? Donghyuk tadi mengatakan vampire bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia. Di bagian mana? Memikirkannya lagi membuat perut Soojung semakin mulas. Dia ingin muntah, tak dapat membayangkan apa yang dilakukan orang-orang itu pada vampire yang ditangkap. Soojung tidak ingin merasa bias, tapi tak dapat dipungkiri kalau dia pun membayangkan Seokjin menjadi salah satu korban.
Dengan tangan gemetar, Soojung mengambil ponsel dari dalam saku. Ia menelepon kekasihnya sekarang juga.
“Halo, Soojung?” tanya Seokjin di seberang.
“O-Oppa…” ucap Soojung dengan suara tercekat, “Kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga.”
.
.
“Apa yang terjadi?” tanya Seokjin cemas. Tadi saat Soojung meneleponnya ia bisa mendengar nada gemetar disertai dengan ketakutan. Kekasihnya itu minta ditemui di taman dekat dengan lokasi rumah Soojung berada.
Soojung langsung memeluk kekasihnya dan menangis pelan-pelan.
“Soojung-ah, kenapa?” tanya Seokjin dan membalas pelukan itu.
“Aku sangat takut, Oppa…”
“Takut kenapa? Aku ada di sini, aku akan melindungimu dari apapun, aku janji.”
Soojung masih menangis. “Aku takut aku kehilanganmu, Oppa.”
Seokjin terkejut mendengarnya. Ia melepas pelukan dan melihat wanita itu baik-baik. “Soojung?”
“Hunter yang menyerang di villa bambu…” isak Soojung sedih, “Mereka menangkap vampire untuk mengeksploitasinya.”
“Mwo? K-kau tau darimana?”
“Aku baru saja mendengarnya dari pamanku…” ucap Soojung berusaha berhenti menangis. “Aku tak bisa membayangkan jika saat itu kau tertangkap, Oppa. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika kau tertangkap.”
Jujur saja, Seokjin juga cukup syok. Ternyata praduganya benar bahwa ada sindikat eksploitasi vampire di balik pekerjaan seorang hunter.
“Sudah jangan menangis lagi…” ucap Seokjin lembut sambil membelai kepala kekasihnya. “I’m here. Aku aman, Soojung.”
Wanita itu mengangguk, menghapus air mata dan berusaha menguatkan hati. Dia mungkin terlalu naif berpikiran bahwa dunia tidak seburuk dan sejahat kelihatannya. Namun kenyataannya… vampire yang ditangkap pun bahkan dieksploitasi layaknya hewan ternak, seolah tidak memiliki hak hidup di muka bumi.
Seokjin memandang Soojung dengan sedih. Sebenarnya ia terharu karena Soojung mengkhawatirkan nasib vampire yang ditangkap hunter. Seokjin sendiri yang merupakan vampire berusaha menghindar, tidak mau ikut campur dalam urusan itu. Tapi lihatlah kekasihnya ini…
“Aku tak tau…” kata Seokjin lemah, “Itu terlalu beresiko. Lagipula tidak banyak informasi yang didapat.”
“Aku akan membantumu, Oppa…” ucap Soojung tulus.
“Soojung-ah, ini sangat berbahaya.”
“Aku sudah memilihnya sejak awal…” kata wanita itu, “Ketika aku memilih mencintai seorang vampire, aku sudah siap dengan semua konsekuensinya.”
“So-Soojung… ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tidak sesimple itu. Aku pun tidak mau membahayakan anggota clanku.”
“Aku akan menjadi informanmu, Oppa…” ujar Soojung, “Jika ini memang merupakan sindikat eksploitasi vampire, aku ingin menghentikannya. Apa yang dilakukan orang-orang itu sangat tidak benar.”
Oh God…
Kedua tangan Seokjin memegang pipi kekasihnya. Siapakah dia sampai ia dianugrahi wanita seperti Soojung? Dia sama sekali tidak keberatan jika Soojung antipati terhadap kehidupan vampire apalagi wanita itu memiliki pengalaman pahit tentang vampire. Tapi sekarang justru Soojung yang menguatkannya dan mendukungnya. Ini seperti miracle.
“I love you so much…” bisik Seokjin yang dibalas senyum lebar oleh Soojung. Seokjin seperti mendapat kekuatan baru. Semua karena kekasihnya ini.
“Kita bisa take it slow, Oppa…” kata Soojung dengan senyum, “Yang jelas aku ingin kau tahu bahwa aku menentang eksploitasi ini.”
“Gomawo.” Seokjin memberi senyum manis untuk kekasihnya. “Kita bisa melakukannya slow. Dan yang pertama bisa dilakukan adalah aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku. Aku ingin mengenalkanmu secara resmi pada clanku.”
Soojung mengangguk, matanya berbinar membalas tatapan Seokjin. “Aku akan membawa Jungkook.”
“Tentu.. Rumahku terbuka lebar untuk kalian.”
***
Markas Hunter, Seoul. 7.15 PM.
Oh Myunggyu yang merupakan hunter senior sekaligus ketua di serikat markas hunter Korea Selatan, sedang mengecek email perusahaan. Ia biasa melakukan hal seperti ini ketika tidak banyak pekerjaan. Myunggyu selalu merasa ia perlu juga mengecek email masuk dari masyarakat, mengecek apa yang terjadi yang anak buahnya kerjakan.
Alisnya mengernyit saat ia melihat email dua minggu lalu. Yang membuatnya tertarik adalah judul subject di sana :
To : hunter.centre@mail.com
From : jjk_jeon@mail.com
Subject : vampire detected
Message :
Aku mencurigai ada vampire di Seoul University yang menyamar sebagai mahasiswa. Jika tertarik, silakan lakukan scanning kampus tersebut. Kecurigaan hanya karena alasan pribadi.
Bertahun-tahun menjadi hunter, Myunggyu tidak pernah menerima pesan semacam ini. Kalaupun ada laporan dari masyarakat mengenai vampire tapi tidak ada yang lebih menarik perhatiannya dibandingkan pesan ini.
Kata ‘menyamar’ itu tidak pernah ia dengar dari masyarakat. Walau 100% tepat bahwa vampire jaman sekarang hebat sekali dalam menyamar dan berbaur dengan manusia.
Myunggyu tersenyum kecil. Menyamar menjadi mahasiswa bahkan lebih menarik lagi. Myunggyu mempertanyakan siapakah pelapor ini sampai bisa mencurigai seorang mahasiswa adalah vampire. Myunggyu membaca si pelapor dan admin yang berbalas-balasan email dengan pesan terakhir berisi mengenai tempat untuk bertemu dengan vampire tersebut, semacam jebakan supaya hunter bisa memastikan apakah yang dimaksud benar vampire atau bukan.
Myunggyu langsung meraih telpon dan menelepon sekretarisnya. “Tolong cek siapa hunter yang pergi di tanggal 8 ke Gedung XX.”
Myunggyu menunggu beberapa saat sampai akhirnya ia diberikan nama salah satu hunter. Tidak sabaran, Myunggyu langsung memanggil hunter yang dimaksud untuk datang ke ruangannya.
Chanyeol, hunter yang dimaksud, duduk di hadapannya. Chanyeol bukan hunter yang terbaik tapi dia cukup kompeten dan mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan. Bisa dibilang kandidat untuk menjadi ketua hunter di masa yang akan datang. Jadi Myunggyu mengakui Chanyeol tidak akan salah ambil langkah dalam menangani kasus seperti ini.
“Anda memanggil saya?” tanya Chanyeol.
“Katakan…” ujar Myunggyu dengan senyum, “Apa yang terjadi saat kau datang ke Gedung XX untuk menangkap vampire mahasiswa.”
Chanyeol mengernyit. Wajahnya tampak begitu bingung dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Dia tidak bisa mengingat bahwa dirinya pernah ke Gedung XX untuk menangkap ataupun menjebak vampire mahasiswa (Seokjin sudah menghapus memorinya mengenai kejadian itu, lihat episode: Selamatkan Taehyung!)
“Saya tidak pernah ke Gedung XX.” sahut Chanyeol akhirnya.
“Mwo?” Myunggyu balik heran. Ia langsung memutar laptopnya dan menunjukkan pesan email tersebut pada Chanyeol. “Kau ingat pernah membaca ini?”
Chanyeol langsung mengangguk. “Ya, saya pernah membaca pesan itu. Tapi untuk pergi ke sana saya tidak mengingatnya.”
Myunggyu diam beberapa saat. “Jadi kau tidak menangkapnya?”
Raut Chanyeol pun semakin bingung. Dia sama sekali tidak bisa mengingat kejadiannya seolah ada yang merampas ingatannya, seolah dirinya amnesia.
Myunggyu mengamati Chanyeol dengan seksama. Akhirnya ia memberi senyum. “Oke kalau begitu, Chanyeol. Aku hanya ingin menanyakannya saja. Kau boleh pergi.”
Chanyeol membungkuk dengan sopan lalu permisi pergi dari ruangan itu. Sementara itu Myunggyu masih duduk dengan wajah serius. Entah kenapa dirinya masih penasaran. Bahkan Chanyeol tidak dapat mengingat kejadian itu seolah amnesia.
Myunggyu tidak bodoh. Tahun-tahun pengalamannya sebagai hunter membuatnya tahu bahwa ada vampire yang memiliki kekuatan menghapus memori. Bukankah dengan jalan itu pula vampire bisa bersembunyi dari hunter?
Dia merasa dia harus mengeceknya. Seoul University, seperti yang tertulis di email itu.
Myunggyu menelepon kembali sekretarisnya, menyuruhnya untuk mengecek pengguna email jjk_jeon@mail.com untuk mencari tahu apa ada mahasiswa dengan email demikian kuliah di Seoul University.
Myunggyu mengulum senyum, masih menatap pesan email tersebut. Jika memang benar di kampus itu ada vampire yang menyamar, ini akan semakin menyenangkan. Dia bisa menambah jumlah tahanan.
“Haruskah aku mengirim orang ke sana…” gumam Myunggyu dengan senyum licik, “Seoul University ya…”
🎃🎃
Apa lagi yang akan terjadi ya?
Jangan lupa berikan jejak ya 🐾🐾
tidak bermaksud merusak feel novel, tapi ini hilarious 😂