Vampire In The City

Vampire In The City
Kebencian Jungkook



Masih setiakah membaca novel ini? Tinggalkan jejak berupa like dan comment.



Jungkook bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia masih merasakan syok pasca apa yang ia lihat. Jantungnya berdegup sangat cepat dan kakinya gemetar. Ia berlari menaiki tangga dan segera masuk ke dalam kamarnya. Untunglah dia tidak berpapasan dengan Paman ataupun Kakaknya. Mereka pasti bertanya-tanya ada apa dengan Jungkook, seperti baru saja melihat hantu.


Mungkin bisa dikatakan begitu. Dia memang merasa seperti baru melihat hantu.


Jungkook mengunci kamarnya. Ia langsung jatuh terduduk bersandar ke pintu. Perutnya mual dan kepalanya berkunang-kunang. Taehyung benar-benar vampire?? Mata sebelahnya yang berwarna putih itu.. senyum jahat serta bagaimana dengan tangannya Taehyung mematahkan kaki dan tangan dua orang tersebut?


Jungkook memegang kepala dengan dua tangan, menahan histeria di dalam dada. Ia tak menyangka bahwa Taehyung yang ia kenal begitu innocent, polos dan pure ternyata merupakan seorang monster. Jadi apakah selama ini Taehyung hanya berakting di depannya supaya identitas aslinya tidak diketahui? Demi Tuhan, vampire kuliah satu universitas dengannya dan bahkan berusaha menjadi temannya?


Jungkook bahkan sudah membuka diri serta pertama kalinya menerima seseorang menjadi sahabat karibnya. Ia tak menyangka bahwa pertemanan tulus yang selama ini ia jalin ternyata bersama seorang vampire?


“Taehyung adalah vampire….” gumamnya dengan mata basah. Matanya membola seperti orang yang depresi.


Jungkook tidak akan pernah lupa bagaimana awal mula ia membenci vampire


~ Flashback saat Jungkook berumur 8 tahun ~


Saat itu Jungkook ziarah ke makam orangtuanya bersama Pamannya. Ini adalah tahun kedua semenjak orangtuanya meninggal. Kakaknya tidak ikut karena ada darmawisata dari sekolahnya. Batu nisan orangtuanya bersebalahan, terbuat dari batu pualam yang dilapisi keramik. Setangkai bunga mawar ditaruh di masing-masing nisan.


Jungkook menatap batu nisan orangtuanya dengan pilu. Ia tidak banyak menyimpan memori mengenai orangtuanya karena ia terlalu kecil saat orangtuanya masih hidup. Jungkook hanya mengingat sekilas bagaimana ibunya menyiapkan makanan. Ayah dan Ibunya adalah apoteker dan cukup sibuk bekerja.


“Kenapa Eomma dan Appa meninggal?” tanya Jungkook. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Saat dia berumur 6 tahun dia tidak mempertanyakannya karena ia masih terlalu kecil untuk mengolah kejadian dan informasi yang ada. Namun sekarang dia memiliki pemikiran mengenai mengapa orangtuanya tiada di saat yang bersamaan. Itu adalah kehilangan terbesar bagi seorang anak sepertinya bukan?


Donghyuk, Paman Jungkook itu memegang pundak keponakannya. “Mungkin sudah saatnya Paman memberitahumu, Jungkook, mengenai kenyataan ini.”


Jungkook cilik menengadahkan wajahnya dan memandang Pamannya yang bertubuh tinggi itu.


“Orangtuamu dibunuh oleh vampire.”


Donghyuk memberi anggukan. “Vampire itu nyata, Jungkook. Vampire-lah yang menghisap darah orangtuamu sampai mereka tewas.”


Wajah Jungkook berubah pucat membayangkan apa yang terjadi pada orangtuanya. Dan ia pun sebenarnya takut… begitu mengerikannya peristiwa naas yang menimpa orangtuanya.


“Tapi polisi merahasiakannya karena tidak ada tersangka yang dapat dituduhkan.” lanjut Donghyuk.


“Aku benci vampire!!” ucap Jungkook tiba-tiba dengan suara keras. Ia melampiaskan perasaan marahnya itu. Tangannya terkepal kesal.


“Tentu saja, Pamanmu ini juga benci vampire. Paman sampai bekerja menjadi hunter untuk membasmi vampire di dunia ini. Pekerjaan Paman adalah membasmi dan membunuh vampire, Jungkook-ah.”


“Hunter?”


Donghyuk memberi senyum pelan. “Paman akan membasmi vampire supaya bisa membalaskan dendam akan apa yang terjadi pada orangtuamu.”


“A-aku juga akan membalaskan dendamku pada vampire, Paman.”


“Itu bagus. Vampire sudah seharusnya dibasmi karena mereka hanya hidup untuk membunuh manusia. Dan ingat, Jungkook. Tidak ada vampire yang baik di dunia ini. Vampire adalah monster.”


Jungkook masih beku memandang Pamannya. Ia mengingat-ingat apa yang menjadi pesan Pamannya itu. Ia meneguhkan hatinya, selamanya ia akan membenci vampire.


Tidak ada vampire yang baik di dunia ini. Vampire adalah monster.


🎃🎃


Seperti apakah kelanjutannya. Nantikan saja ya. Kalau lelet updatenya mian ya karena author ada ujian