Vampire In The City

Vampire In The City
Mengenai Mutasi?



haii.. author kembali hadir dengan lanjutan episodenya. Author cukup kesulitan mengerjakan part ini, entah kenapa.


Makasih yang selalu mendukung novel ini ya. Pasti kalian masih banyak pertanyaan dan penasaran dengan beberapa hal yang belum terjawab, mengenai Taehyung yang merupakan vampir mutan, plus masa lalunya yang masih misteri; kondisi vampire yang ditangkap, sindikat vampire dan hal lainnya. Ini PR author banyak banget untuk menjawab semuanya 🤦‍♀😭


yaudah tanpa berlama-lama, selamat membaca



Pulang kuliah, Soojung langsung ke rumah Kim Brothers, tentu saja bersama Seokjin, kekasihnya. Mereka akan kembali berlatih menembak di ruang basement. Soojung dengan senang hati mau mengajarkan Seokjin untuk bisa menembak dengan profesional. Bagaimanapun Seokjin juga harus bisa menembak karena hunter yang memburu vampire pun sangat hebat dalam menembak.


Di basement itu tidak ada siapa-siapa selain mereka karena yang lain masih ada kegiatan di luar.


Seokjin menceritakan pada kekasihnya bagaimana Taehyung menemukan sedikit informasi tentang sindikat penjualan vampire. Wanita itu sangat terkejut dan syok bahwa ternyata vampire-vampire yang ditangkap akan diambil darahnya untuk diperdagangkan.


“Itu sangat barbar,” kata Soojung dengan mengerutkan kening, prihatin untuk apa yang menimpa vampire-vampire. Wanita itu tak menyangka kalau vampire benar-benar diperlakukan seperti layaknya hewan, bukankah itu juga yang dikatakan pamannya beberapa waktu lalu? Vampire ditangkap sama seperti peternak yang memelihara sapi untuk diambil susu dan dagingnya.


“Kami masih mengumpulkan informasi untuk menemukan dimana lokasi vampire-vampire itu disekap.” ujar Seokjin. Kemarin ia mendapat kabar dari Jackson kalau soulmate Vernon sedang berusaha mendapatkan telepati. Kemungkinan besar kondisi Vernon sangat lemah karena sinyal telepati yang diberikan hanya samar-samar. Taehyung pun sedang dalam proses mendapatkan kartu anggota web Delicious Pasta dan terus berusaha mendekati pemilik club untuk mendapatkan informasi.


Soojung menggigit kuku. Keduanya sudah tidak berlatih menembak lagi karena obrolan ini lebih penting. Soojung merasa ia harus melakukan sesuatu untuk menolong vampire-vampire yang ditangkap itu.


“Aku akan mencoba mencari sesuatu di meja kerja Pamanku.”


Seokjin memegang lengan kekasihnya. “Aku tidak ingin melibatkanmu, Soojung, ini sudah semakin berbahaya.”


“Gwaenchana, Oppa..” Soojung memberi senyum, “Dia adalah Pamanku. Aku akan diam-diam mencari informasi mengenai lokasi sindikat dan memberikannya padamu.”


“Pasti berat untukmu… karena dulu kau sangat mempercayai hunter.”


Soojung menghela nafas. “Lebih baik aku mengetahuinya sekarang, Oppa, daripada selamanya tertipu. Aku sangat menyesal untuk apa yang terjadi pada para vampire yang tertangkap. Bagaimanapun aku tidak setuju dengan sindikat perdagangan vampire.”


Katakanlah Soojung merasa bias karena ia memiliki kekasih yang adalah vampire, tapi tetap saja yang dilakukan oknum manusia itu untuk menangkap vampire dan menjual darahnya bukanlah sesuatu yang bisa diterima.


“Manusia dan vampire sama saja,” ucap Seokjin sambil membelai pipi kekasihnya, “Vampire pun ada yang jahat. Buktinya dulu kau pernah diserang oleh vampire.”


“Hmm…” Soojung tersenyum tipis. Ia setuju dengan perkataan Seokjin. Baik manusia dan vampire sama-sama memiliki pilihan, melakukan yang baik atau melakukan yang jahat. Dalam hal ini tidak ada perbedaan kasta hidup antara manusia dan vampire. Dunia ini bukan milik manusia sepenuhnya, masih ada makhluk lain yang tinggal dan pantas meneruskan hidup di dunia. Dan keseimbangan itu telah dirusak oleh sindikat penjualan vampire.


Seokjin mengamati wajah kekasihnya, melihat dengan jelas raut kuatir di wajah manusia itu. “Aku tak mengerti, kau membuatku jatuh cinta setiap hari dengan charm-mu, Soojung… Apa yang menjadi mantramu?”


Soojung langsung tertawa pelan. Ia melingkarkan tangannya di leher vampire itu. “Mungkin ini semua takdir?”


“Takdir…” gumam Seokjin dengan senyum, “Aku menyukainya.” Seokjin pun mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Soojung. Keduanya berciuman dengan mesra, menyalurkan rasa cinta yang masing-masing miliki.


Seokjin sangat tergila-gila, bahkan dengan harum khas yang dimiliki Soojung, seolah itu adalah mantera yang membuat hati Seokjin takkan pernah berpaling. Memang benar jika dikatakan vampire hanya bisa jatuh cinta satu kali dan akan berlangsung selamanya.


Soojung memejamkan mata dan meremas rambut kekasihnya sementara Seokjin mengecup rahang Soojung berkali-kali. Hingga bibirnya turun ke leher jenjang manusia itu, menghirup aroma peach yang dimiliki Soojung. Vampire itu seperti baru saja memasuki nirwana, leher Soojung ini sangat menggoda untuk membuatnya ingin mengecap sedikit saja darah yang dimiliki wanita itu. Taring Seokjin sudah keluar dan akan menggigit leher Soojung. Namun untung dia bisa menguasai diri di detik-detik terakhir.


Seokjin melompat mundur membuat Soojung kaget dan langsung membuka mata. Mata Seokjin membola, dia hampir saja menggigit leher Soojung! Dia hampir saja kehilangan kendalinya!


“O-Oppa…” ucap Soojung kuatir. Pipinya masih merah pasca ciuman yang mereka lakukan namun wanita itu cukup sadar akan apa yang sekarang tengah terjadi.


“Mi-mian… aku tak bermaksud…” Mata Seokjin berubah sayu dan sangat menyesal untuk apa yang hampir ia lakukan.


“Seokjin Oppa…” ucap Soojung sambil memegang telapak tangan kekasihnya. “Kau tidak perlu meminta maaf.”


Seokjin menyesal melakukannya, mengapa ia bahkan berusaha mengambil kesempatan dengan menghisap darah kekasihnya?


“A-aku… Aku tak seharusnya… Kau sudah cukup trauma dengan kejadian yang kau alami bersama vampire.”


“Oppa..” Soojung menggeleng dan memegang pipi kekasihnya. “Kau adalah kekasihku, aku tidak trauma ketika bersamamu. Aku mencintaimu, aku tidak trauma.”


Mata Seokjin semakin sayu menatap Soojung. Di hati kecilnya, ia berharap bisa terlahir menjadi manusia normal sehingga ia bisa menghabiskan waktu dengan Soojung tanpa batasan apapun, tanpa dihantui dengan perbedaan vampire dan manusia.


“Aku pernah memikirkannya juga…” gumam Soojung, “Dan aku merasa aku tidak akan keberatan kalau pun kau menghisap darahku, Oppa.”


Mata Seokjin langsung melotot, “So-Soojung…”


Wanita itu menghela nafas dan memeluk Seokjin. “Sama seperti Oppa yang percaya padaku, aku pun percaya padamu. Aku yang merupakan keponakan dari seorang hunter dan bisa menembak jantung vampire… kau telah mempercayakan nyawamu padaku untuk mencintaiku, Oppa. Aku pun ingin menunjukkan hal yang sama.”


Seokjin memeluk kekasihnya dengan erat. “Soojung-ah… Gomawo. Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku ingin aku membuatmu nyaman.”


Soojung tersenyum dan mengangguk. “Arraseo.”


Pelukan Seokjin semakin erat. Ia membenamkan wajahnya di punggung wanita itu. Ia merasa menjadi vampire yang sangat beruntung, cintanya berbalas, bahkan dia pun dicintai seseorang seperti Soojung.


.


.


Jungkook dan Lisa berada di perpustakaan sore ini. Lisa kembali ingin menanyakan beberapa hal mengenai tugas kuliah pada Jungkook. Jungkook yang memang merasa berhutang budi pada Lisa akhirnya menerima ajakan itu.


“Aku akan ada presentasi individu dan topikku berkaitan dengan jurusanmu, Jungkook-ssi. Jadi aku ingin menanyakannya serta memastikan aku bisa mempresentasikan dengan baik dari sisi pandang jurusanmu.” Lisa membuka bindernya, ipad dan pulpen.


Jungkook memberi anggukan dan melihat apa yang ditunjukkan Lisa dari ipadnya. Sebuah modul kuliah yang berjudul “Mutagen Kimia.” Mengenai hal itu, Jungkook memang cukup familiar. Dia bisa membantu Lisa.


“Kita mungkin bisa diskusi bersama dan berbagi pendapat yang kita punya.” Lisa memberi senyum kecil. “Pertama-tama, aku ingin tahu pendapatmu tentang mutasi kimia.”


“Oh, oke. Mutasi yang kita tahu bisa terjadi karena zat pembangkit mutasi, radiasi surya, radioaktif, sinar ultraviolet, sinar X atau loncatan energi listrik seperti petir,” tutur Jungkook membuat Lisa mengangguk-angguk. “Bahan kimia juga bisa menyebabkan mutasi, contohnya bisa kolkisin dan zat digitonin. Mutasi memberikan perubahan pada gen maupun kromosom. Mutasi gen ini yang menyebabkan munculnya variasi baru pada spesies.”


“Aku berada di jurusan kedokteran hewan,” kata Lisa, “Aku mempelajari hewan juga bisa mengalami mutasi. Ini menarik untukku bisa mempelajarinya. Aku berharap terus dilakukan penelitian untuk melakukan mutasi pada banyak hewan dan manusia. Bagaimana menurutmu?”


Jungkook menaikkan sebelah alis. Ia bisa membayangkan kalau rekayasa genetika seperti mutasi tidak selalu berhasil. “Tapi mutasi pada gen dapat menyebabkan kelainan jika dilakukan dengan sembarangan.”


“Itulah sebabnya perlu ada kelinci percobaan.” Lisa memberi senyum manis hanya membuat Jungkook semakin tercengang. “Dicobakan dulu pada hewan lalu pada manusia.”


“Menurutku tidak selalu struktur dan reaksi hewan dan manusia itu sama,” sahut Jungkook, “Dan kurasa melakukan mutasi buatan pada manusia masih ilegal jika tidak sesuai dengan kode etik kesehatan.”


“Well, kau benar…” Lisa mengangguk, senyumnya semakin panjang, “Tapi bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh para ahli dalam bidang ini. Kurasa jurusanmu sangat menguntungkan, Jungkook, kalian bisa melakukan hal-hal luar biasa pada peradaban manusia.”


“Entahlah.” ucap Jungkook tak yakin. Dia tidak pernah terpikir ke arah sana.


“Aku percaya mutasi dimaksudkan untuk menghadapi perubahan alam yang sewaktu-waktu akan timbul. Untuk bertahan hidup dan menjaga kelestarian spesies itu di alam maka makhluk tersebut harus selalu mengikuti perubahan sesuai dengan sifat alam sekelilingnya, yang biasa dinamakan evolusi. Aku percaya jika dibantu dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan para ilmuwan maka evolusi pada makhluk hidup bisa dibuat.” Lisa memberi eye smile saat melihat wajah serius Jungkook. “Itu yang akan kupresentasikan, hehe.” Lisa menunjukkan bahan presentasinya di Ipad lalu membacakan, “Tujuan mutasi adalah menghadapi perubahan alam yang sewaktu-waktu akan timbul. Kalau perubahan sudah muncul, ada dua kemungkinan yang bisa timbul, misalnya sifat yang bermutasi lebih mudah beradaptasi dibandingkan dengan sifat yang asli sehingga karakter asli kemungkinan hilang dari peredaran; sifat yang bermutasi tidak cocok dengan lingkungan yang baru sehingga individu suatu spesies yang memilikinya akan punah.”


“Tapi terlepas semua keuntungan dan sisi positif dari mutasi, kurasa kau pun perlu memberitahukan sisi negatifnya,” ucap Jungkook, “Apalagi mutasi tidak semudah kelihatannya.”


“Kau tahu, Jungkook-ssi, untuk apa membongkar efek negaifnya jika sisi positifnya jauh menguntungkan? Rekayasa genetika dapat membantu kita menciptakan keindahan yang jarang kita temukan di alam. Kita bisa menghasilkan warna yang luar biasa dari berbagai tanaman, tanaman yang DNA-nya dimodifikasi oleh rekayasa genetika bisa menghasilkan tanaman obat,” ujar Lisa, “Hewan yang dimodifikasi secara genetik dapat menghasilkan sifat-sifat berkualitas baik untuk penggunaan manusia.”


Jungkook terdiam beberapa saat. Wanita di sebelahnya ini memang mahasiswa cerdas apalagi bisa mengatakan pendapat-pendapat spektakuler seperti tadi. Jungkook saja bisa terpersuasi untuk setuju dengan pendapatnya. Tapi tetap baginya tidak bisa melakukan mutasi sembarangan seolah yang menjadi mutan bisa semudah itu menjadi korban kelinci percobaan.


“Aku jarang berdiskusi seperti ini dengan mahasiswa jurusan lain.” sahut Jungkook sambil menggaruk tengkuknya.


“Kita harus banyak berdiskusi seperti ini, Jungkook. Kita bisa berbagi ilmu dan opini masing-masing, bagaimana menurutmu?”


“Y-yeah, itu bagus…”


“Berada di jurusan hewani seperti ini membuatku kadang juga mempertanyakan special creature yang ada di dunia ini.” kata Lisa penuh arti sambil menggigit pulpennya.


“Special creature?”


“Yah maksudku seperti makhluk selain manusia dan hewan…” jawab Lisa, “Bisa dibilang in between, bukan manusia bukan hewan. Aku pernah mendengar bagaimana orang-orang masih percaya dengan keberadaan vampire.”


Mata Jungkook membesar saat mendengarnya. Dia seharusnya tidak perlu terkejut, vampire memang real dan ada di sekitar manusia, bahkan ada vampire yang menjadi temannya! Dan Jungkook sudah melalui proses panjang untuk mengakui dan menerima semua itu.


Lisa mengamati ekspresi Jungkook. “Jika saja aku bisa mengetahui banyak hal mengenai vampire, mungkin aku pun akan mencoba untuk meneliti tentang anatomi mereka?”


Jungkook menggertakkan gigi, terusik dengan perkataan itu. Baginya vampire sama saja seperti manusia, hanya sedikit saja yang membedakan. Dari struktur anatomi, vampire dan manusia tidak dapat dibedakan; vampire persis menyerupai manusia. Mungkin yang membedakan adalah cara bertahan hidup saja.


“Jika vampire memang ada di dunia ini bukankah mereka juga layak untuk hidup?” Jungkook balik bertanya, “Itulah kenapa mereka exist.”


Lisa memberi senyum manis mendengar ucapan Jungkook. “Begitu?”


Lisa tidak meneruskan untuk membahas lebih lanjut mengenai vampire. Ia kembali membahas topik awal yaitu mengenai mutasi kimia. Jungkook banyak memberi masukkannya untuk bahan presentasi Lisa. Ia pun mengoreksi beberapa poin yang keliru karena Lisa terlalu banyak memberikan spotlight pada kehebatan mutasi padahal darkside-nya pun banyak.


Keduanya sedang bertukar pikiran dan berdiskusi seperti itu sampai kedatangan Taehyung ke meja mereka. Entah darimana Taehyung tahu keberadaan Jungkook (mungkin dari cara indra penciuman Taehyung yang tajam).


“Jungkook.” tukas Taehyung, tak peduli ia sudah memotong perkataan Lisa mengenai mata kuliah presentasinya.


Jungkook mengangkat kepala dan terkejut melihat kedatangan Taehyung ke perpustakaan ini. Dia pikir Taehyung sudah pulang. Wajah Taehyung saat ini kelihatan tak ramah, ia tak peduli kalaupun ia menunjukkannya secara terang-terangan pada Lisa. Sementara Lisa memberi senyum pada Taehyung yang tidak dihiraukan sama sekali.


“Kukira kau sudah pulang.” ucap Jungkook akhirnya.


“Aku menunggumu.” sahut Taehyung. Ia memandang meja mereka yang penuh dengan buku-buku kuliah. Oh Taehyung pun tak peduli sama sekali.


Jungkook tercengang, seingatnya ia tidak meminta Taehyung menunggunya. “Tapi aku–“


“Saatnya pulang, Jeon.” ucap Taehyung serius dan nada yang tidak mau terbantahkan.


Lisa akhirnya ikut berkomentar. Ia memberi senyum sangat manis untuk Taehyung. “Hai.. kenalkan aku Lisa. Aku berasal dari jurusan dokter hewan dan sekarang sedang berdiskusi dengan Jungkook mengenai tugas presentasiku.”


Taehyung mendengus dan matanya memandang Lisa tak minat. Pertama, ia merasa Lisa tidak perlu memperkenalkan diri. Kedua, tugas kuliah Lisa sama sekali tidak ada kaitannya dengan Jungkook. Ketiga, Taehyung tidak menyukai wanita itu.


Jungkook masih memandang Taehyung, tak mengerti dengan sikap tiba-tiba temannya. Namun ia rasa ia pun harus menyudahi diskusi ini bersama Lisa. Ia sudah banyak membantu dan mereka sudah cukup lama di perpustakaan. Akhirnya Jungkook menoleh pada Lisa. ”Lisa, mian, kurasa aku harus pergi, aku sampai lupa waktu berada di sini.”


“Gwaenchana.” sahut Lisa namun sebenarnya sedikit kecewa. “Nanti malam aku akan meneleponmu untuk membicarakan beberapa hal lagi, Jungkook-ssi.” Lisa tersenyum pelan lalu mulai membereskan barang-barangnya.


Taehyung memutar bola mata semakin jengkel karena wanita asing ini bahkan masih punya harga diri untuk mengatakan demikian. “B*tch,” bisiknya mengkel.


Suara Taehyung itu cukup pelan namun Jungkook masih bisa mendengarnya karena Taehyung yang berdiri di dekatnya. Jungkook langsung mengangkat kepala dengan mata melotot pada vampire itu. Bagaimana mungkin Taehyung mengucapkan kata-kata seperti itu? Lisa bahkan tidak melakukan apapun.


Lisa menoleh sedikit pada Taehyung dan tersenyum tipis.


Atmosfer awkward ini membuat Jungkook langsung buru-buru membereskan barangnya di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Dia harus membawa Taehyung pergi dari sini sebelum vampire itu mengucapkan hal-hal mencengangkan lainnya.


“Lisa, aku duluan ya,” sahut Jungkook buru-buru, “Sampai jumpa lagi.”


Jungkook tidak menunggu ucapan Lisa karena ia langsung menarik Taehyung dan pergi dari situ sekarang juga.


Oh man.. oh man…


Jungkook ingin berteriak. Bagaimana mungkin Taehyung mempermalukan dirinya seperti tadi? Entah kenapa Jungkook yang merasa bersalah dan malu untuk apa yang sudah Taehyung katakan.


“Ada apa denganmu?” tukas Jungkook akhirnya setelah keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


“Wae?” tanya Taehyung sewot dan merasa tidak melakukan kesalahan.


“Bagaimana mungkin…” Jungkook bahkan tersendat dengan kata-katanya sendiri. “Bagaimana mungkin… kau mengatakan itu pada seorang wanita lugu seperti Lisa.”


Taehyung mendengus. “Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Jungkook, aku tidak menyukainya. Wanita itu datang tiba-tiba dan mengintervensi privasimu, tidakkah kau curiga padanya?”


Jungkook benar-benar tak paham dengan cara kerja otak Taehyung. Baginya tidak perlu ada yang dicurigai dari Lisa. “Tapi bukan berarti serta merta kau menyebutnya–” Jungkook menggigit bibir, ia bahkan tak bisa mengucapkannya sendiri.


“Itu umpatan, Jeon.” tukas Taehyung mendengus.


“Oh demi Tuhan…” Jungkook menghembuskan nafas keras-keras sambil memandang langit-langit mobilnya. Ia belum menyalakan mesin mobil, ia tidak akan fokus menyetir jika sedang berdebat seperti ini dengan Taehyung. “Aku tidak mengumpat saat aku mencurigai seseorang yang sedang bersamamu, Kim Taehyung. Aku pun tidak berusaha mengganggu waktumu dengan pria di club itu meski aku mencurigainya.”


Taehyung tercengang mendengarnya. Jadi Jungkook berniat menyerangnya balik?


“Bukankah pria bernama Dongwook itu 100% lebih mencurigakan?” tukas Jungkook, “Tapi kau terlalu naif sampai tertipu dengan pria sepertinya.”


“Oh ya? Sekarang kau sudah bisa mencurigai orang, Jeon Jungkook??”


Jungkook memicingkan matanya dengan tajam pada Taehyung. “Kau mencurigai teman baruku namun reaksimu berlebihan. Aku merasa bersalah padanya untuk apa yang kau lontarkan tadi.”


“Hakku untuk mencurigai seseorang.” sahut Taehyung kesal.


“Aku tidak pernah melarangmu pergi ke club meski aku tahu kau berbohong dengan mengatakan bahwa kau sedang bersiap untuk tidur.”


Mata Taehyung membesar terkejut. Jadi Jungkook mengetahuinya?


Jungkook memutar bola mata kesal. “Aku tidak ingin meneruskan perdebatan menyakitkan ini. Kita sudahi saja, Kim Taehyung, dan urusi urusan masing-masing.” Jungkook pun berusaha menenangkan diri dan akhirnya menyalakan mesin mobil. “Aku akan mengantarmu pulang supaya nanti kau bisa pergi ke club malam lagi.”


Taehyung mengulum mulutnya karena betapa perkataan Jungkook itu sedang menyindirnya.


“Aku akan buktikan padamu bahwa aku tidak akan peduli lagi.” tukas Jungkook dan mulai menyetir mobilnya. Ia merasa dirinya tidak cukup dipercaya oleh Taehyung untuk sekedar tahu mengapa Taehyung sangat sering datang ke club malam menemui Dongwook. Jungkook merasa usahanya sia-sia saja untuk berusaha peduli, jadi dia berpikir sebaiknya ia berhenti peduli sama sekali.


Taehyung membuang muka ke jendela dengan raut marah.


🎃🎃


Duh sumpeh ya tiada hari tanpa bertengkar.



Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾🐾