Vampire In The City

Vampire In The City
Sandera



hai.. yg belum baca chpater sebelumnya silakan bisa dicek dulu ya.


Jadi sebenarnya kemarin author sudah upload jam 11an siang tapi gatau kenapa malah publish jam 9an malam ya. Nyebelin NT 🙄


Oke met baca. Yap dari judulnya.. yap sudah bisa tebak apa yg akan terjadi di episode ini.


Selamat membaca


🧸🧸



Dongwook duduk di meja kerjanya sementara asistennya menunjukkan laporan dari yang pernah ia minta. Dongwook mengatupkan kedua tangan sambil melihat dokumen-dokumen yang ditunjukkan perihal member VIP yang memesan linguine beberapa waktu lalu yang dicurigai sebagai dalang hancurnya salah salah satu lokasi sindikat serta kematian ketiga mafianya.


Dongwook ditunjukkan lembaran foto mengenai seorang wanita paruh baya member VIP yang dimaksud. Dituliskan bahwa dulunya ia adalah salah satu peneliti di sindikat namun hanya bertahan setahun saja karena ada kelemahan tubuh. Dan wanita itu berakhir menjadi member VIP Delicious Pasta karena membutuhkan darah vampire untuk anaknya yang memiliki penyakit darah. Wanita itu pun dulu pernah memberikan sumbangsih dalam kemajuan penelitian sindikat.


Dongwook langsung terkekeh saat melihat foto berikutnya, foto anak dari wanita paruh baya itu. Wajahnya terlalu familiar. Dongwook pernah melihat wajah ini dari laporan yang Lisa berikan. Park Jimin, teman dari Kim Taehyung.


“Aku begitu heran karena dunia begitu sempit,” ucap Dongwook sumringah, “Universe seolah membantuku untuk mencapai keinginanku.” Dongwook memegang foto itu melihat Jimin yang sedang latihan menari. “Semuanya berkaitan satu sama lain dan ini semakin menggairahkan…”


Dongwook tertawa lagi, dia merasa seperti sudah berada di awan kemenangan. “Kita bisa mulai dari pria bernama Jimin ini. Pion yang akan kugerakkan terlebih dulu.”


****


Seokjin dan Soojung berkencan malam itu. Mereka dinner di sebuah restoran mewah. Suasana begitu romantis apalagi memang tempat yang dipilih Seokjin adalah tempat yang private.


“Bagaimana makanannya?” tanya Seokjin pada kekasihnya.


“Delicious…” ucap Soojung dengan senyum. Wanita itu sangat cantik dengan balutan busana menawan berwarna ungu. Rambutnya di-curly dan dibando dengan sangat pretty.


“Kejadian kemarin sore di kampus hampir membuat kita ketahuan.” ujar Seokjin mengingat kembali kejadian sehari yang lalu. Soojung ke ruang kerjanya karena akan pulang bersama. Keduanya hampir bergandengan tangan saat ada dosen senior yang masuk ke ruangan Seokjin. Sedikit heran melihat keduanya namun Seokjin cepat-cepat mengatakan kalau Soojung sedang bimbingan.


Soojung mengekeh pelan. “Aku tidak masalah kalaupun seantero kampus mengetahui aku berpacaran dengan seorang dosen.”


“Aku tidak suka saat orang-orang berpikiran yang tidak-tidak mengenaimu, Soojung. Para mahasiswa mungkin akan menuduhmu telah merayuku supaya mendapat nilai bagus di mata kuliah.”


Soojung mengangkat bahu tak peduli. “Aku akan menunjukkan bahwa aku tetap gadis pilihanmu.”


“Kau tahu kalau hanya kau gadis pilihanku…” gumam Seokjin menggenggam tangan kekasihnya.


Wanita itu menunjukkan barisan giginya yang rapi. “Aku sudah tak sabar ingin travelling, Oppa. Aku iri pada Jungkook, sempat-sempatnya ia berlibur ke pantai dengan Taehyung.”


Seokjin mengekeh. “Itu mendadak kurasa. Jungkook terlalu baik, dia berusaha membuat Taehyung refreshing sejenak. Kau tahu kan banyak hal yang sudah dialami dongsaengku itu.”


Soojung mengangguk. “Sangat berat ya. Tapi dia strong sejauh ini. Kita semua pasti bisa melewati semuanya, Oppa. Aku percaya tak lama lagi sindikat akan hancur.”


“Aku juga berharap begitu. Oh ya, bagaimana dengan Pamanmu?”


“Kulihat dia semakin sibuk, aku tak tahu apa yang dia kerjakan tapi kuharap hunter tidak melakukan serangan lagi.”


“Saat pertama bertemu dengannya, aku kaget karena dia langsung menyapaku, sepertinya dia menyukaiku?” Seokjin menaikturunkan alis.


“Fuhh, aku tak tahu harus lega atau bagaimana, tapi dia berulang kali memintaku untuk mengenalkanmu padanya. Dan memang benar dia menyukaimu, Oppa, dia tidak keberatan dengan hubungan kita.”


“Apa aku bisa terus menyembunyikan identitasku bahkan sampai kita menikah nanti?” tanya Seokjin serius berpikir.


Wajah Soojung memerah dan senyum mengembang panjang mendengar perkataan kekasihnya. “Oppa kan punya kekuatan manipulasi memori, jika ketahuan kau bisa saja memanipulasi memori pamanku.”


Seokjin terkekeh pelan. “Ide fantastis. Jadi ini artinya kita bisa menikah dalam waktu dekat?”


Wanita itu menutup mulut, menahan tawanya. “Kau membuatku malu, Oppa, ini seperti aku sedang dilamar saja.”


“Well, aku memang sedang melamarmu.” kata Seokjin dengan senyum manis. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak kecil elegan membuat mata Soojung membesar terkejut. Pria itu serius akan melamarnya?


Seokjin menggigit bibir, suasana ini membuatnya malu juga. Ia membuka kotak itu menunjukkan ada sebuah cincin emas putih dengan bertahtakan berlian kecil.


“Aku jarang memberimu hadiah padahal kau sangat spesial bagiku, Soojung, dan aku selalu merasa bahagia jika bersama denganmu. Aku ingin memberikan cincin ini sebagai tanda ketulusan dari kata-kataku padamu.”


Soojung menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca penuh haru, Seokjin benar-benar mengikatkan hubungan mereka ke langkah yang lebih serius.


“I love you so much, Soojung,” gumam Seokjin sungguh-sungguh, “Aku ingin melewati hari-hariku denganmu, orang yang sangat kucintai.”


“Oppa…” bisik Soojung terharu dan air mata mulai menetes.


Sebenarnya Seokjin sangat grogi. Dia tidak pernah segugup ini dalam hidupnya. Seokjin meraih tangan kiri Soojung lalu mengenakan cincin cantik itu di jari tengah kekasihnya.


“I hope you like it.”


“Oh my God…” ucap Soojung menangis, “Tentu saja aku menyukainya. I love you so much.”


Mata Seokjin berbinar dan memandang Soojung dalam-dalam. Ini momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Seokjin keluar dari tempat duduknya, mendekati kekasihnya yang masih menangis. Seokjin berjongkok di depan Soojung, mengecup punggung tangan wanita itu yang berhiaskan berlian.


“Forever…” bisik Seokjin sayu.


Soojung mengangguk. “Forever…” Ia berdiri dan menarik kekasihnya untuk berdiri. Soojung takkan biarkan kekasihnya berlutut terlalu lama seperti itu. Dan Soojung mencium kekasihnya. Keduanya berciuman dengan romantis, menunjukkan cinta dan kesungguhan masing-masing. Untungnya Seokjin memesan ruangan private khusus hanya mereka saja, tidak perlu segan akan ada yang melihat. Suasana pun sangat romantis dengan lagu background restoran yang terdengar.


“You are mine…” bisik Seokjin setelah bibir keduanya menjauh.


Wanita itu mengangguk. Ia melingkarkan kedua lengan di leher Seokjin, menyatukan kepala mereka. “I’m yours.”


“I love you so much, Darling…” kata Seokjin dan mengecup kening kekasihnya dalam-dalam.


Lagu dari Arctic Monkey yang berjudul No 1 Party Anthem mengalun membuat atmosfer sangat lovely. Seokjin mengajak Soojung berdansa bersama mengikuti irama lagu ini. Lagu yang sebenarnya merupakan lagu lawas tapi begitu pasnya untuk suasana sekarang ini, mendayu-dayu membawa keduanya hanyut dalam luapan cinta.


Soojung tersenyum dan membiarkan dirinya berdansa dengan Seokjin. Jujur saja, ini pertama kalinya Soojung berdansa dengan seseorang dan ia bersyukur ia berdansa pertama kalinya dengan kekasih yang sangat ia cintai, di momen spesial saat Seokjin melamarnya.


As all the signals are sent,


And it seems as though those lumps in your throat


that you just swallowed have got you going


Come on, come on, come on


Come on, come on, come on


Number one party anthem


****


Jimin dan Jungkook sedang berada di kafe bersama. Jungkook sengaja mengajak Jimin saja untuk mereka bisa mengobrol tanpa Taehyung. Vampire itu sudah diantar pulang ke rumah sejak tadi.


Jimin memberi smirk sambil memandang temannya yang sedang mengaduk milkshake. “I’m proud of you, Kook.”


Jungkook mengangkat wajah dan mengernyit bingung. “Hmm?”


“Yoongi Hyung mengatakan padaku bahwa kau membawa Taehyung ke pantai dan itu memberi impact sangat besar. Taehyung, anni maksudku V, menjadi lebih sering tersenyum. Kurasa dia menjadi lebih ceria semenjak kau membawanya ke pantai.”


Jungkook mengangguk-angguk, senang juga mendengar kemajuan V. “Aku merasakan bagaimana dirinya stres, Jimin. Dia berusaha menyembunyikan pada kita semua, tapi aku tahu kalau sebenarnya dia cukup stres. Kau bisa bayangkan banyak kejadian yang belakangan sudah terjadi, apalagi kejadian yang membangkitkan kembali traumanya.”


“And you did a great job.” sahut Jimin memberi jempol. “Kau menguatkannya dan selalu menjaganya sejauh ini. Aku sangat bangga padamu, Jungkook.”


“Yeah…” Jungkook memberi senyum kecil. Ia juga tak menyangka dirinya bisa seperti ini mengingat bahwa di masa lalu Jungkook tak peduli dengan orang lain dan merupakan sosiopath. Ia tak menyangka bahwa kepribadiannya yang jungkir balik dengan Taehyung itu bisa memberi warna baru yang berbeda, mereka bisa saling melengkapi dan menjadi support.


“Lalu apa yang membuatmu mengajakku mengobrol seperti ini?” tanya Jimin sambil menyedot minumannya.


“Tidak ada tujuan khusus, kita sudah lama tidak hang out bersama.” sahut Jungkook.


Jimin memutar bola mata. “Oh akhirnya kau menyadarinya?? Aku sebenarnya tidak ingin protes, tapi setelah ucapanmu barusan aku mengurungkan niatku. Aku ingin protes karena kenapa kau tidak mengajakku juga ke pantai bersamamu dan Taehyung! Aigoo, apa aku terlupakan?”


“Anni, anni,” ujar Jungkook buru-buru, “Itu mendadak, Jimin, dan di malam hari. Aku tentunya tidak mau mengajakmu tiba-tiba seperti itu. Mianhe.”


Tiba-tiba Jimin tertawa kecil. Ucapannya tadi sebetulnya hanya bercanda, tak menyangka Jungkook akan meminta maaf dengan raut serius. “Hehe, aku hanya bercanda kok. Yang terutama adalah bagaimana melepaskan stres Taehyung dan kau berhasil melakukannya, Kook. Aku mengerti kalau yang kau lakukan itu spontan dan mendadak karena mengkuatirkan Taehyung.”


Jungkook menghela nafas lega, untunglah Jimin tidak marah. “Sebetulnya aku masih punya kecemasan juga, Jimin.”


“Hmm, apa itu?”


“Beberapa hari yang lalu Dongwook selalu menghubungi Taehyung. Ia menelepon Taehyung.”


“Mwo?” Jimin sangat terkejut mendengarnya.


“Si bedebah itu meminta Taehyung kembali padanya,” Kini Jungkook kembali mengkel mengingat ucapan Dongwook di telpon, “Dia mengatakan seolah Taehyung adalah miliknya dan harus kembali ke sindikat.” Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat.


“Aishh.” Jimin memukul meja dengan kesal. “Lalu?”


“Sekarang Dongwook sudah tidak bisa menghubungi Tae lagi karena nomornya sudah diblokir. Tapi aku tetap merasakan kecemasan, pria itu sangat licik, bagaimana bisa ia mendapatkan nomor ponsel Taehyung?”


Jimin mengernyit kuatir. Benar juga. Jika demikian apa ini artinya Dongwook mendapat data diri lainnya tentang Taehyung?? Orang seperti Dongwook tentunya punya anak buah yang bisa memberikan identitas yang ia mau bukan?


“Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi pada Tae,” kata Jungkook, “Banyak yang sudah terjadi, sudah tidak terhitung banyaknya berapa kali ia diincar oleh sindikat.”


“Kita harus melindunginya, Kook.”


Jungkook memberi anggukan. “Kurasa para Hyung pun sudah semakin waspada. Aku ingin sekali menemukan markas sindikat dan mengebomnya.”


Jimin menahan tawa. Jungkook begitu polos sampai ingin mengebom markas sindikat. “Aku pun akan melakukan hal yang sama. Kuharap semua ini segera berakhir.”


“Yeah… Aku setuju, Jimin. Semoga semua ini segera berakhir.”


****


Soojung baru selesai mandi malam itu. Ia keluar dari kamar mandi dan sangat kaget saat melihat ada 3 orang tak dikenal di dalam kamarnya. Ada 3 pria memakai pakaian serba hitam dengan masker hitam untuk menutupi wajah.


Soojung sangat kaget bagaimana bisa 3 pria itu memasuki rumahnya? Dan sialnya memang kebetulan dia sedang sendirian di rumah ini. Pamannya belum pulang dan Jungkook menginap di tempat Kim Brothers.


Soojung sudah segera akan mengambil pisau yang ia sembunyikan di laci meja rias untuk melindungi diri di situasi seperti ini. Namun para pria itu lebih cepat. Mereka dengan mudah meringkus Soojung bahkan wanita itu tak sempat untuk berteriak meminta tolong. Mulutnya dibekap dan ditutup dengan kain.


Kedua tangannya pun diikat dengan kain dan ia didorong dengan kasar ke tempat tidur. Mata Soojung sudah membola horor. Siapakah para mafia ini? Apa hanya bertujuan untuk merampoknya? Ataukah… ini ada kaitannya dengan sindikat??


Soojung meronta namun tak bisa melepaskan kedua tangan yang terikat. Ia berusaha kabur dengan bangkit berdiri namun salah satu mafia menarik bahunya lalu menampar pipinya keras-keras. Sangat menyakitkan sampai Soojung merasa pipinya begitu panas. Badan Soojung jatuh ke atas tempat tidur.


“Jangan coba-coba untuk melawan atau kau akan mati!” tukas mafia itu.


Soojung sudah lemas. Pipinya yang dipukul membuat kepalanya pusing.


Salah satu mafia menelepon seseorang. Dan saat sudah dijawab ia bergumam, “Bos, sandera sudah kami ringkus.” Pria di seberang telpon sepertinya mengatakan sesuatu dan mafia itu mengangguk, memberi jawab untuk melaksanakan perintah.


Mata Soojung berkaca-kaca. Dia sedang disandera? Jadi ini ada kaitannya dengan sindikat penjualan vampire? Tapi bagaimana bisa ia tertangkap seperti ini? Apa karena Seokjin merupakan vampire? Atau ada hal lain?


Soojung tidak bisa banyak melawan saat dua mafia menarik badannya, menyeretnya keluar dari kamar. Ini bagaikan mimpi terburuk yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia hanya bisa menangis pelan-pelan berharap hal yang lebih buruk tidak terjadi.


Oppa… help me…


🎃🎃



siapa yg nyangka Jimin yg disandera tapi nyatanya malah Soojung... ?


Jangan lupa berikan jejak dan vote ya 🐾🐾


dan selamat menunggu episodnya.