Vampire In The City

Vampire In The City
Pengakuan



Jangan lupa berikan jejak ya


🎃🎃


Mata Soojung perlahan membuka. Ia merasa tubuhnya masih lemas namun tidak selemas sebelumnya. Soojung melihat langit-langit dan tembok berwarna putih. Ia berusaha mengingat apa yang terakhir terjadi saat ia pingsan.


Ah, Seokjin..!


Soojung menoleh ke samping, merasa ada seseorang di dekat tempat tidur. Dia melihat Yeobin, teman sekelasnya yang sedang menunggunya. Wanita itu memberi senyum. “Akhirnya kau sadar…”


Alis Soojung mengernyit. Kenapa bukan Seokjin yang ada bersamanya?


“Ini dimana?”


“Ini di ruang kesehatan, kita masih di kampus Soojung-ah,” ujar Yeobin, ”Mr. Kim menyuruhku menjagamu.”


“Mr. Kim?” Mata Soojung membesar. Ternyata benar, dia tidak berhalusinasi, ia melihat Seokjin sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


“Mr. Kim yang membawamu ke sini. Kau pingsan, Soojung, tapi dokter sudah menyuntikkan obat.”


Soojung langsung duduk bangun dari tempat tidur. Ia kembali teringat dengan permasalahannya. Yang membuat dia stress dan sakit seperti ini karena penyesalan atas apa yang ia lakukan terhadap Seokjin. Ia harus membereskannya. Ia harus meminta maaf pada Seokjin.


“Eh kau mau kemana?” tanya Yeobin saat melihat Soojung keluar dari tempat tidur dan mengambil tas. “Aku disuruh Mr. Kim untuk mengantarmu pulang saat kau sadar.”


“Gomawo, tapi aku bisa pulang sendiri,” gumam Soojung. Ia akan ke kantor Seokjin sekarang juga. “Aku pergi dulu.”


Yeobin begitu tercengang melihat kepergian Soojung. Ia diminta Mr. Kim untuk menjaga Soojung dan sebagai imbalannya ia bisa mendapatkan nomor dosen pujaan hatinya itu.


Badan Soojung sudah lebih segar dibanding sebelumnya. Kepalanya sudah tak sakit lagi. Soojung membawa kakinya pergi menuju ruangan dosen Sejarahnya. Ia tidak tahan mengulur waktu lebih lama. Dia merasa bersalah untuk perlakuan tak baik yang ia perbuat, apalagi yang menggendongnya ke ruang kesehatan adalah Seokjin sendiri. Soojung bisa membayangkan kalau pria itu nyatanya masih peduli padanya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di ruangan Seokjin. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam menyiapkan mentalnya untuk pertemuan ini. Langit sudah berwarna kuning oranye yang menandakan sebentar lagi matahari terbenam.


Soojung mengetuk pintu satu kali lalu perlahan membuka pintu. Seokjin sudah tahu mengenai kehadirannya, sudah mencium aroma Soojung sejak tadi.


Seokjin sedang merapikan alat tulis dan lembar kerja mahasiswa saat Soojung masuk.


“Permisi, Mr. Kim…” kata Soojung gugup. Jika sebelumnya Soojung bisa dengan leluasa memanggilnya dengan Oppa kali ini ia memanggil dengan formal karena mereka berada di kampus.


“Ya, Soojung?” ucap Seokjin kasual namun tanpa memandang mahasiswinya.


“A-aku…” Soojung menggigit bibir, jika Seokjin akan marah padanya ia terima karena ia pun menyadari bahwa semua ini adalah kesalahannya. “M-Mr. Kim… aku ingin minta maaf…”


Seokjin mengerling ke arah Soojung, mengamati wanita itu baik-baik. “Apa kau sudah baikan? Karena kau pingsan tadi.”


Lihatlah, betapa Seokjin tetap mencemaskannya di saat Soojung ingin meminta maaf.


“A-aku sudah baik-baik saja, dan aku berterimakasih karena sudah membawaku ke ruang kesehatan saat aku pingsan.”


“With pleasure.”sahut Seokjin.


Alis Soojung melengkung. “A-aku ingin minta maaf atas–“


“Kita bisa mengobrolkannya besok, Soojung…” potong Seokjin. Pria itu merasa saat ini kurang tepat membicarakan masalah mereka. Dia ingin kondisi Soojung pulih dulu. “Sebaiknya sekarang kau pulang dan beristirahat.”


“Tapi, Mr. Kim–“


“Aku akan mengantarmu, oke?” ucap Seokjin, “Jika kau tidak keberatan.”


Soojung terperangah namun melihat senyum lembut yang diberikan dosennya itu, lagi-lagi membuat Soojung semakin melting. Ia menunduk dan mengangguk pelan. “Aku tidak keberatan.”


Senyum Seokjin semakin panjang. “Yap. Nah kebetulan pekerjaanku hari ini pun sudah selesai dan aku sedang bersiap-siap pulang. Aku hanya perlu mengisi absen dulu. Kau mau menungguku di parkiran?”


Soojung mengangguk. “Baik, Mr. Kim.” Wanita itu pun membungkuk sopan lalu keluar dari ruangan itu dengan wajah merah.


.


.


Namjoon duduk di ruang tengah. Mulutnya dimonyongkan seolah ia sedang berpikir keras. Berkali-kali ia menepuk-nepuk jemari di pahanya, seolah sedang serius memikirkan suatu keputusan. Taehyung anteng di sebelahnya, sedang berusaha mengerjakan tugasnya. Namjoon di sana hadir untuk membantu sang bayi vampire yang sebentar lagi akan UTS, tapi ada hal lain yang lebih dipikirkan Namjoon rupanya.


“Apa ada yang kau cemaskan?” tanya Yoongi yang sedari tadi sedang membuat sesuatu dengan manik-manik.


Taehyung mengangkat wajahnya, menyangka Yoongi bertanya padanya.


“Manusia bernama Hoseok itu…” sahut Namjoon menjawab pertanyaan Yoongi, “Dia semakin mencurigaiku.”


“Apa ada yang terjadi setelah Halloween?” tanya Yoongi.


“Dia banyak membaca literatur mengenai vampire. Kurasa dia tahu banyak tentang vampire.”


Taehyung menaikkan sebelah alis, ia lebih tertarik mendengar pembicaraan ini dibandingkan menyelesaikan tugasnya. Kenapa dua hyungnya ini membahas seorang manusia yang sepertinya mengetahui banyak hal tentang vampire?


“Bagaimana kehidupannya?”tanya Yoongi sambil memasukkan manik-manik ke dalam benang karet.


“Dia tinggal sendiri, aku tahu setelah beberapa hari mengikutinya. Dan meski ia tahu identitasku sebagai vampire tapi sepertinya dia tidak mengumbarnya pada orang lain.”


Mata Taehyung membola, menatap Namjoon dan Yoongi bergantian, terkejut karena ada manusia yang mengetahui identitas Namjoon di kampus.


Namjoon meringis dan melirik Taehyung. “Jangan bilang-bilang pada Seokjin Hyung ya, Tae. Ini masih kurahasiakan.”


Taehyung menelan ludah. Lantas kenapa dua hyungnya ini seperti tenang-tenang saja? Bukankah biasanya mereka akan panik dan langsung pindah kota jika ada yang mengetahui identitas mereka?


“Aku tidak mencemaskan manusia itu,” kata Yoongi, “Selama manusia itu penggemar vampire, dia tidak akan menjadi ancaman bagimu.”


Namjoon mengangguk-angguk. “Aku beruntung berarti ya. Jika dia membenci vampire dan tahu identitasku maka habislah aku.”


Yoongi memberi cengiran. “Tapi kau harus tetap waspada. Aish, kau selalu saja ceroboh..”


Taehyung mendengarkan pembicaraan itu dan dirinya kembali tegang. Jungkook membenci vampire tapi mungkin bedanya Jungkook tidak tahu bahwa Taehyung adalah vampire bukan? Yang gawat adalah kalau Jungkook mengetahui identitasnya. Benar seperti kata Yoongi, manusia pembenci vampire yang mengetahui identitas mereka merupakan ancaman besar, karena bisa saja mereka melaporkannya pada hunter supaya vampire dibasmi. Taehyung merinding membayangkannya. Semoga itu tidak pernah terjadi padanya, lagipula dia masih ingin terus bersama teman-temannya.


“Ke-kenapa ada manusia yang tahu identitasmu, Hyung?” tanya Taehyung pada Namjoon.


“Huh, aku lengah, dia melihat mata asliku dan karena pengetahuannya yang luas mengenai vampire, ia pernah menuduhku tidak bernafas seperti manusia.”


Taehyung melotot takjub. “Daebak.”


“Bisa dibilang kau tidak sial,” ujar Yoongi, “Karena dia penyuka vampire jadi tidak akan membahayakanmu.”


“Yeah, tapi alangkah baiknya lagi jika dia tidak tahu apa-apa tentang identitasku. Aku jadi tegang setiap bertemu dengannya.” Namjoon melirik Taehyung. “Kalau kau bagaimana, Tae? Masih aman kan?”


“Aku masih aman kok…” sahut Taehyung terburu-buru, “Identitasku aman.”


“Kau semakin dekat dengan teman manusiamu, jangan sampai kau lengah sepertiku ya.” nasihat Namjoon.


Taehyung mengangguk-angguk. Dia pun ingin semakin menyembunyikan mengenai kejadian di belakang gedung Lab, mengenai perbuatan Woobin dan Xiumin. Jika para hyungnya tahu mungkin mereka akan pindah kota, apalagi ditambah identitas Namjoon yang juga ketahuan.


“Hyung, sedang buat apa?” tanya Taehyung pada Yoongi berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Aku sedang buat bracelet dari manik-manik…” ucap Yoongi dengan senyum, “Mengisi waktu luang, Tae.”


Namjoon mendengus. “Sepertinya kau punya banyak waktu luang.”


Yoongi mengekeh, “Siapa tahu ini bisa menjadi pekerjaanku di masa yang akan datang selain menjadi pembuat kue. Ah iya, Tae, kau juga bisa membuat bracelet seperti ini. Aku punya banyak manik-maniknya karena memesan sangat banyak.”


Taehyung mengerutkan kening. “Tapi buat apa?”


“Ah dasar bodoh. Kau bisa saja membuatkannya untuk dua temanmu… Kalian bisa memiliki gelang couple bersama sebagai tanda persahabatan.”


“Wahh…” Mata Taehyung berbinar mendengar ide itu. Benar juga.


“Aish, kau jangan menambah kesibukan Taehyung,” kata Namjoon pada Yoongi, “Dia sebentar lagi akan UTS.”


“Dia bisa melakukannya saat sedang stres dan bosan belajar. Lagipula ini menyenangkan kok, bisa melepas stres!”


“Aku mau, Hyung~!!” ucap Taehyung semangat, “Aku akan buat 3 bracelet!”


“Yes, yes…” sahut Yoongi, “Kau hanya tinggal memasukkan manik-manik ke dalam benang dan gelangmu pun jadi. Tapi tentu saja kau harus bisa mengkombinasikan warna dengan baik supaya gelangmu menarik.”


Taehyung mengangguk-angguk. Ia langsung pindah tempat duduk ke dekat Yoongi, melihat-lihat manik-manik dalam box. Manik-manik yang dimiliki Yoongi ini pun kualitasnya sangat bagus, tidak murahan, Taehyung yakin jika ia membuatnya, Jungkook dan Jimin pasti senang menerimanya. Apalagi ini gelang persahabatan. Taehyung berharap meski Jungkook membenci vampire tapi Jungkook tidak akan membenci dirinya.


.


.


Seokjin mengantar Soojung pulang ke rumahnya. Mereka tidak banyak berbicara di dalam mobil. Wanita itu pun masih merasa tak enak, dia merasa belum plong karena belum bisa meminta maaf dengan lebih proper dan menjelaskan situasinya.


“Nah sudah sampai…” ucap Seokjin pelan saat mobil jeepnya sudah tiba di depan kediaman rumah Soojung.


“Sekali lagi aku berterimakasih karena telah menolongku hari ini….” ujar Soojung. Dia bingung harus memanggil Seokjin sebagai Mr. Kim atau Oppa. Pria itu memintanya memanggilnya dengan sebutan Oppa… namun dengan situasi yang berubah ini Soojung tidak yakin apa ia masih pantas memanggilnya dengan sebutan Oppa.


“No problem, Soojung.”


“Dan aku juga ingin minta maaf untuk apa yang kulakukan.” Soojung tidak bisa keluar dari mobil begitu saja, ia ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Seokjin. “Aku terlalu kekanak-kanakkan dengan menghindarimu.”


“Yang terjadi saat Halloween itu.. apa kau menyesalinya?” tanya Seokjin, “Itu sebabnya kau menghindar?”


Soojung menggeleng. “Anni…”


Seokjin terdiam dan memandang Soojung, menunggu penuturan wanita itu.


Soojung meremas tangannya, hingga kuku pun tertancap ke kulitnya. Dia tidak tahu apa penjelasannya ini akan diterima oleh Seokjin.. Dia sendiri pun tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan baik apa yang ia rasakan ini.


“Aku tidak menyesali apa yang kulakukan saat Halloween… Mungkin aku menghindarimu karena aku tidak ingin nama baikmu tercoreng karenaku. Kau tahu perbuatan Kai padamu itu menimbulkan rumor tak sedap di kampus. Dan aku tak mau menambahnya.”


“Aku tidak menanggapi rumor, Soojung. Kau tahu aku dosen Sejarah. Rumor tanpa bukti adalah bohong.” Seokjin memberi senyum simpul, berusaha mencairkan ketegangan yang ada dalam diri wanita itu.


“Lalu apa yang mau kau lakukan setelah ini? Kita bisa kembali seperti dulu, tidak kenal sama sekali, jika itu yang kau mau.”


Soojung menelan ludah. Itu sudah ia coba namun hanya memberi rasa stres dan bersalah dalam diri wanita itu.


“Aku tidak akan marah apapun yang menjadi keputusanmu, Soojung. Aku mengerti posisimu. Tapi kau tidak perlu mencemaskan posisiku sebagai dosen.” ujar Seokjin, “Aku terlebih suka menuruti kata hatiku dibandingkan mendengar rumor yang dibuat orang lain.”


“A-aku tidak ingin menghindarimu…” gumam Soojung akhirnya, “Aku masih ingin bertemu dan mengobrol denganmu, Mr. Kim.”


Seokjin tersenyum. “Kita bisa menjadi teman bicara kalau itu maumu.”


“A-aku ingin dating.” potong Soojung. Entah keberanian datang darimana hingga ia mengatakannya.


“Ow…” Seokjin sedikit tercengang namun perlahan ia kembali tersenyum lembut, “Kalau kau masih bingung, kita bisa melakukan 1 atau 2 dating… lalu melihat seperti apa next-nya.”


Soojung menahan nafas. Benar, ini lebih baik bukan? Mereka berdua bisa mencoba dating dan jika mereka sudah memahami keinginan masing-masing maka tinggal memberi keputusan mengenai kelanjutan hubungan itu. Ini lebih baik dibandingkan apa yang dilakukan Soojung sebelumnya.


Wanita itu memberi anggukan. “Yep… Itu bisa dilakukan, Mr. Kim.”


“Kau bisa memanggilku Oppa, Soojung…”


Mata Soojung mengerjap-ngerjap lalu mengangguk.


“Untuk dating pertama aku serahkan padamu, Soojung…” gumam Seokjin lembut, “Kau bisa menentukannya… yang akan membuatmu merasa nyaman.”


“N-ne…” ucap Soojung dengan semburat malu. “A-aku akan mengabarimu, Oppa.”


Seokjin mengangguk dan tersenyum panjang. “Good nite, Soojung.”


Soojung hanya sanggup mengangguk, tak sanggup membalas sapa itu. Ia langsung permisi dan keluar dari mobil. Wanita itu merasa telinganya panas sekali dan kakinya seolah berubah menjadi jelly. Ia bergegas membuka gerbang lalu segera masuk ke rumahnya.


Untunglah… untunglah…. hari ini semua berjalan dengan baik, bahkan melebihi apa yang ia harapkan. Ia tak hanya minta maaf pada pria itu, mereka juga bahkan merencanakan akan melakukan kencan untuk melihat seperti apa keseriusan hubungan ini.


Oh God…


Jantung Soojung berdegup tak karuan. Dan wanita itu tak sadar terus-terusan tersenyum dengan ceria.


🎃🎃



Author paling suka saat rambut Yoongi warna putih. Makanya di novel ini rambut Yoongi berwarna putih.


Jangan lupa berikan like, comment dan vote ya. Dukunganmu sangat berarti. Gomawo