Vampire In The City

Vampire In The City
Ketika Semuanya Memburuk




Taehyung sedang duduk melamun sendirian di kantin sementara Jungkook sedang membeli makanan untuk mereka sambil menunggu kelas terakhir sore ini. Taehyung memang belum menceritakan pada Jungkook kalau dia sudah berkomunikasi dengan V. Taehyung merasa informasi itu tidak ada gunanya, justru mungkin menambah kegundahan temannya. Komunikasinya dengan V tidak memberikan solusi untuk permasalahan ini. Sepertinya V sudah tidak mau muncul lagi? Entah Taehyung harus gembira atau tidak. Dia gembira karena dia akan terus menikmati hidup, namun di sisi lain masih ada hal yang mengganjal. Para hyungnya, Jungkook, dan Jimin pasti tahu hal itu.


“Hello…”


Taehyung tersentak dari lamunannya dan melihat seorang wanita cantik sudah mendatangi dan menyapanya seperti ini. Vampire itu tidak mengenal manusia itu sama sekali.


Taehyung mengernyit. “Ya?”


Lisa menyunggingkan senyum, memperhatikan Taehyung baik-baik. Ia menyadari kalau Taehyung tampak berbeda, penampilannya tidak seperti sebelumnya. Dan jika dilihat baik-baik pun ekspresi Taehyung tidak sejudes sebelumnya.


“Aku Lisa, remember? Kau teman Jungkook kan?” sahut wanita itu.


Taehyung mengingat nama Lisa, ia pernah melihat nama wanita itu yang menelepon Jungkook. “Aahh… ya ya…” Taehyung memberi senyum ramah saja.


Lisa cukup tertegun. Begitu berbedanya reaksi Taehyung ini, tidak se-badass sebelumnya. Bahkan Taehyung memberinya senyum, padahal terakhir mereka bertemu di perpustakaan Taehyung mengumpat padanya.


“Mana Jungkook?” tanya Lisa, masih heran karena pria itu belum memberikan death glare atau apa seperti tempo sebelumnya.


“Dia sedang membeli makanan.” sahut Taehyung. Ia memperhatikan wanita itu baik-baik, sangat cantik dan terlihat ramah. “Apa kau mau menitipkan pesan untuk Jungkook?”


Lisa menggeleng-geleng. “Anni, anni, tidak perlu, aku hanya kebetulan lewat di sini. Salam kenal ya, Taehyung-ssi, meski kita sudah bertemu sebelumnya.”


Taehyung memberikan boxy smilenya. “Yep, salam kenal juga, Lisa.”


Lisa merasa sangat puas melihat respon positif yang ia terima dari Taehyung. Dia tak menyangka kalau bisa semudah ini? “Kapan-kapan kita bisa pergi bermain bersama, Taehyung-ssi. Teman Jungkook adalah temanku juga.”


Taehyung mengangguk antusias, sangat senang sepertinya ia mendapatkan teman baru. “Ne, ne. Tentu saja.”


Lisa tersenyum manis lalu akhirnya permisi pergi. Dia masih merasa aneh dengan perubahan sikap Taehyung itu namun Lisa cukup senang karena setidaknya rencananya bisa berjalan lebih mudah.


Beberapa saat kemudian Jungkook kembali ke mejanya dan Taehyung dengan membawa tray berisi donat, toppokki dan jus. Taehyung memberi senyum lebar menyambut makanan-makanan itu.


“Makanlah yang banyak supaya semangat kuliah jam terakhir nanti.” kata Jungkook dengan senyum.


Taehyung mengangguk semangat. “Oh ya, tadi Lisa temanmu muncul. Ia menanyakanmu.”


“Lisa?” Kedua alis Jungkook terangkat. Ia memperhatikan Taehyung baik-baik, begitu berbedanya reaksi Taehyung dan reaksi V terhadap wanita itu. Taehyung tampak lebih santai dan tidak mencurigai apa-apa, berbeda dengan V yang secara blak-blakan menunjukkan ketidaksukaannya.


“Dia menganggapku temannya karena aku adalah temanmu.” ucap Taehyung sambil membuka bungkus donat. “Aku senang mendapat teman baru, Kookie, hehe.”


Jungkook tersenyum saja dengan lega. “Okay… sekarang sebaiknya kita habiskan makanan ini sebelum kuliah yang akan mulai 30 menit lagi.”


.


.


.


Malam itu Yoongi, Hoseok, Namjoon dan Seokjin berkumpul bersama di kamar Yoongi. Mereka sudah memastikan Taehyung sudah tidur karena tidak mau melibatkan bayi vampire lugu itu. Malam ini mereka akan coba menggunakan kartu VIP Delicious Pasta yang diberikan Jimin. Yoongi sudah siap dengan laptop, ia pun telah menyiapkan barcode scanner untuk membaca barcode pada kartu tersebut. Vampire-vampire lain mengelilinginya untuk melihat apa yang ada di layar laptop.


“Here we go…” gumam Yoongi dan jemarinya dengan lincah mengklik ini itu di laptop.


Hoseok menelan ludah tegang, Seokjin memandang layar dengan wajah sangat serius dan Namjoon meremas ujung meja kuat-kuat.


Bunyi klik terakhir dari mouse yang dikendalikan Yoongi menjadi tanda bahwa barcode sudah di-scan dan secara otomatis mengalihkan website ke situs khusus member VIP Delicious Pasta. Jika web publish untuk Delicious Pasta sebelumnya plain dengan warna pucat dan tak menarik, berbeda halnya dengan website khusus member VIP ini. Siapapun yang melihatnya bisa langsung merasakan aura dark, spooky dan misterius. Warna hitam dan merah seperti warna darah menjadi dominan. Di layar muncul beberapa thumbnail video-video mengenai vampire.


“Oh God…” bisik Hoseok mendadak mual.


Seokjin mengeraskan rahang melihat thumbnail video dengan judul-judul yang tidak enak dilihat, seperti “Torturing Vampire 2.0”, “Why vampire’s blood is good for human”, “How to serve Linguine”, “Pure blood : our best deal”. Mungkin itu sebabnya dikatakan member VIP karena juga difasilitasi dengan video-video seperti ini.


“Mereka bejat.” tukas Namjoon berkomentar. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin rasanya menghancurkan sesuatu.


Yoongi tidak mengatakan apa-apa dan mengklik video yang berjudul “Torturing Vampire 2.0”. Video dengan durasi 3 menit itu menunjukkan kompilasi vampire-vampire yang dikurung oleh sindikat. Kebanyakan vampire-vampire itu sudah tidak bisa dikenali karena kulit mereka yang menghitam karena eksploitasi berlebihan. Para vampire dikurung di penjara masing-masing dengan jeruji yang terbuat dari silver. Ada juga yang kondisinya sudah mengenaskan, badan penuh luka di sana sini. Sepertinya vampire itu berusaha melakukan perlawanan namun berakhir dengan penderitaan dan siksaan.


“Ini memuakkan.” ucap Hoseok memalingkan wajah tidak tahan terus menonton tayangan itu.


Lebih memuakkan lagi karena manusia-manusia di dalam video itu sedang mengekeh, seolah menertawakan para vampire yang ditawan. Salah satu dari mereka ada yang berucap, “Ini adalah prestasi tertinggi peradaban manusia karena kami sudah mengirim setan vampire ke dalam neraka. See?”


“Kurang ajar.” geram Namjoon. Matanya sudah berubah warna menjadi hijau karena kemarahannya yang tak dapat dibendung lagi.


“Kalau dilihat, jumlah tahanan mereka bisa jadi sudah puluhan.” kata Seokjin. Dirinya prihatin untuk vampire-vampire yang ditahan dan disiksa.


“Belum termasuk vampire yang mereka ciptakan sendiri.” tukas Yoongi setelah video itu berakhir. Ia mengklik video lain yang berjudul : “Pure blood : our best deal”.


Video itu berisi mengenai mini dokumenter mengujicobakan manusia berubah menjadi vampire. Beberapa manusia yang menggunakan pakaian putih seperti pasien, tampak di atas tempat tidur dengan berbagai selang masuk ke dalam tubuhnya. Wajah sudah pucat dan ada urat nadi hitam di wajah. Beberapa dokter atau ilmuwan terlihat sedang mengaduk cairan obat-obatan yang akan diujicobakan pada manusia malang itu.


“Mereka benar-benar mengubah manusia menjadi vampire.” ucap Seokjin, matanya berkilat marah. “Kurasa manusia yang diujicobakan secara ilegal mereka dapat secara ilegal pula, entah mereka menculiknya atau mendapat dari penjualan manusia.”


“Orang-orang di balik sindikat itu sampah.” Mata Hoseok sudah berkaca-kaca. Ia sangat kecewa dengan apa yang sudah dilihatnya. Begitu bobroknya perilaku manusia jaman ini. Ia semakin yakin kalau Taehyung pun merupakan salah satu korban dari sindikat itu beberapa tahun yang lalu.


“Jadi mereka mengambil venom vampire dan memasukkannya pada manusia?” ucap Yoongi berpikir serius, “Dan mungkin juga memasukkan obat-obatan lain untuk memenuhi keinginan dan kualitas yang mereka mau.”


“Tapi mereka melakukannya dengan ilegal.” tukas Namjoon, “Manusia-manusia itu pasti tidak tahu kalau tubuh mereka akan berakhir seperti itu.”


“Belum rasa sakit dan efek yang diterima.” tambah Seokjin. “Taehyung mungkin salah satu projek uji coba yang berhasil di antara korban-korban lain yang berakhir pada kematian.”


“Mereka membuat vampire mutan.” ucap Yoongi. “Kurasa tidak banyak yang berhasil karena reaksi tubuh dan ketahanan setiap manusia berbeda-beda.”


“Kita harus mencari dimana markas sindikat itu.” ujar Seokjin.


Yoongi mengangguk. Ia pun men-scroll website itu ke bawah dan menemukan menu pemesanan untuk member VIP. Harga yang ditawarkan sangat bombastis, sama seperti harga di website publiknya.


“Kita harus memesan dulu baru akan tahu dimana lokasi sindikat?” tanya Hoseok tercengang.


“Ukh, mahal sekali.” komentar Namjoon melihat harga-harga yang tertera.


“Dan kita masih belum tahu kenapa menu ziti yang paling mahal,” sahut Yoongi, “Ziti hanya untuk VVIP. Bagaimana ini?” tanya Yoongi pada sang Alpha, “Apa kita harus memesan Fettuccine?”


“Pesan saja dan transfer uangnya,” sahut Seokjin, “Uang tidak akan seberapa dibanding dengan nyawa para vampire yang dikurung oleh mereka.”


Yoongi mengangguk dan mulai melakukan pemesanan. Namjoon menghembuskan nafas keras-keras. “Jadi setelah kita mentransfer uangnya kita akan diberi tahu dimana lokasi pengambilan pasta yang mana merupakan lokasi sindikat?”


“Seharusnya begitu.” sahut Yoongi sementara tangannya lincah mengetak-ngetik di keyboard.


Hoseok merinding melihat layar saat melihat bahwa dengan mengorder fettuccine, pemesan bisa memesan organ tubuh vampire. Ternyata prediksi Yoongi benar bahwa sindikat tak hanya menjual darah vampire saja tapi juga bagian dalam tubuh vampire. Ini sangat sadis.


Yoongi tersenyum tipis melihat pilihan pesanan : ginjal, hati, sumsum tulang belakang dan tulang rawan. Semakin memuakkan seolah ini adalah situs pejagalan. Ini menjadi pilihan sulit. Jika mereka memesan salah satu dari pilihan tersebut artinya mereka sedang membuat vampire lain dalam kesakitan.


“Kita tahu saat kita memesannya kita sedang memesan organ vampire lain.” Untuk pertama kalinya wajah Yoongi tampak stress dibandingkan sebelumnya.


“Pilih saja tulang rawan.” ucap Seokjin dengan nada getir.


“Kita tidak punya pilihan,” kata Namjoon, “Tulang rawan mungkin lebih aman dibanding organ lainnya. Vampire masih bisa bergerak meski tulang rawannya diambil.”


“Tapi membayangkan cara mereka mengambilnya….” Hoseok tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ini terlalu mengerikan.


Yoongi tidak bisa mengomentari ucapan Hoseok itu. Hati nuraninya juga sebenarnya menjerit namun jika cara ini akan membuat mereka bisa membebaskan vampire yang tertawan, mungkin pengorbanan akan setimpal.


Yoongi sudah menyelesaikan pemesanan lalu muncul nomor rekening yang diberikan beserta keterangan bahwa alamat akan diberikan H-1, sementara untuk pemesanan tulang rawan ini membutuhkan waktu seminggu untuk prosesnya.


“Sial, lama juga.” tukas Namjoon sebal.


“Jika kita sudah mendapat alamatnya, tidak perlu lama-lama untuk kita langsung menyerbu lokasi.” kata Seokjin sangat serius.


“Well, well, aku akan langsung mengirim badai ke tempat itu.” geram Namjoon.


“Apa kita akan memberitahu dewan vampire, Jin?” tanya Yoongi.


“Aku masih mempertimbangkannya.” jawab Seokjin. “Memberitahukan dewan vampire membuat kita tidak bisa bergerak bebas, mereka mungkin akan melarang kita membunuh. Sementara aku berpikir orang-orang di sindikat itu pantas untuk mati.”


Yoongi mengangguk setuju. “Kau bisa memberitahu Jackson saja, mungkin clannya bisa membantu kita untuk menyerang.”


“Yeah…” sahut Seokjin setuju pada pendapat dhampir itu.


Pintu kamar terbuka pelan, keempat vampire itu menoleh ke arah pintu dengan terkejut melihat kedatangan Taehyung. Apa diskusi mereka sudah membangunkan bayi vampire itu?


“Hyungie…?” tanya Taehyung dengan suara serak. Ia mengusap matanya karena masih sangat mengantuk. Saat ini Taehyung mengenakan piyama pokemon membuatnya tampak sangat adorable.


“Taehyung, kau bangun?” tanya Seokjin berusaha tetap biasa. Hoseok dan Namjoon pun yang semula membungkuk mengelilingi Yoongi kini berdiri dengan lebih tegak, namun berusaha tetap rileks. Bagaimanapun Taehyung tidak boleh tahu apa yang mereka lihat ini.


“Aku terbangun…” sahut Taehyung lugu, “Apa yang sedang kalian lakukan?”


Yoongi segera menutup website Delicious Pasta. “Kami hanya sedang memesan darah manusia, Tae. Persediaan di kulkas sudah semakin sedikit.”


Hoseok mengangguk-angguk, berusaha meyakinkan perkataan Yoongi tersebut.


Taehyung menatap hyungnya satu per satu. Jujur saja ia heran kenapa mereka melakukannya di malam yang larut seperti ini dan biasanya yang melakukan pemesanan selalu hanya Yoongi.


“Kajja…” Namjoon maju mendekati Taehyung dan merangkul bahu vampire itu, “Aku akan membuatkanmu cokelat panas, bagaimana? Supaya kau bisa tidur lebih nyenyak.”


Taehyung hanya mengangguk saja.


“Mian, kami membangunkanmu, Tae.” ucap Hoseok.


“Anniya, gwaenchana…” sahut Taehyung. Ia pun membiarkan dirinya dibawa pergi oleh Namjoon meninggalkan kamar Yoongi itu.


****


Malam itu sekitar jam tujuh malam, Taehyung dan Jungkook berjalan-jalan di pinggir sungai yang sepi. Saat Jungkook akan mengantarnya pulang seperti biasa, Taehyung request ingin menikmati angin malam bersama Jungkook di tempat ini.


Secara konstan akhir-akhir ini Taehyung selalu mengecek keadaan Jungkook, melihat apa Jungkook benar-benar sudah baik-baik saja. Dan malam ini Taehyung berniat untuk menanyakan segalanya pada teman manusianya itu.


“Cuacanya bagus.” ucap Jungkook sambil memandang langit malam yang cerah.


“Jungkookie…” ucap Taehyung memulai. Jungkook menoleh. “Aku tidak tahu apa ini saat yang tepat. Tapi ada yang ingin kubicarakan.”


“Hmm, mengenai apa, Tae?” tanya Jungkook masih berekspresi wajar.


“Aku tahu kalau di dalam diriku ada kepribadian lain yaitu Vincent.” tutur Taehyung. Air muka Jungkook seketika berubah. “Dan selama kami switch, aku tidak bisa mengingat apa yang sudah dilakukan V. Itu sebabnya aku tidak mengingat masa laluku.”


Jungkook menatap Taehyung sungguh-sungguh, menanti apa yang sebenarnya mau disampaikan temannya ini.


“Aku merasa bodoh, aku tidak bisa membantu apa-apa,” gumam Taehyung menahan bibir untuk tidak gemetar, “Aku merasa yang paling lemah.”


“Tae, apa yang kau bicarakan ini…” Jungkook memegang lengan vampire itu. “Kau tidak lemah.”


Mata Taehyung mulai berkaca-kaca, kenapa ia harus menangis di saat seperti ini. Dia tidak mengerti mengapa dirinya harus menjadi kepribadian yang sewaktu-waktu bisa lenyap dan hilang begitu saja. Taehyung juga ingin memiliki hidupnya sendiri, menjadi pemegang kendali atas hidupnya. Dia ingin menikmati hidup tanpa perlu dibayang-bayangi dengan masa lalu yang ia tidak tahu sama sekali. Ini begitu pelik.


“Seandainya bisa… aku pun akan switch supaya V bisa menghancurkan sindikat itu,” isak Taehyung, “Tapi aku pun tidak punya kemampuan untuk switch. Aku tahu kau ingin dia muncul, Kookie…”


“Bukan seperti itu, Taehyung…” ucap Jungkook ikut sedih.


“Aku merasa tidak bebas, tidak bisa mengontrol hidupku sendiri…” Taehyung menutup wajah dengan dua tangan dan menangis tersedu-sedu. Ia tidak mau menunjukkan dirinya yang seperti ini pada Jungkook. Ia mengajak berjalan-jalan pun sebenarnya supaya suasana rileks bukan menyedihkan begini.


“Tae, Tae!” Jungkook memegang tangan Taehyung yang menutup wajah itu. “Tidak peduli kau mengingat masa lalumu atau tidak, kau adalah temanku. Kau tetap sama untukku.” Jungkook menyeka air mata di pipi Taehyung berharap vampire itu bisa lebih tenang. “Aku menerimamu sebagaimana dirimu apa adanya. Sama halnya dengan V.”


Taehyung menatap Jungkook dan melihat kesungguhan di mata Jungkook itu. Taehyung pun mengangguk. Ia terharu karena perkataan Jungkook yang seperti magic bisa menenangkannya.


“Kita akan mencari solusi untuk masalah ini, oke?” ucap Jungkook memberi senyum dan mengusap sisa-sisa air mata vampire itu.


“Oke…” gumam Taehyung membalas dengan senyum.


“Kajja… kita sebaiknya mencari tempat makan, di tempat sepi ini tidak ada yang bisa kita makan.”


Taehyung mengekeh dan menurut. Keduanya berjalan menuju mobil mereka yang diparkir agak jauh di ujung saat tiba-tiba sebuah mobil van hitam berhenti di depan mereka.


Segalanya bagaikan hitungan detik, empat pria berbadan besar keluar dan dua orang di antaranya langsung memegangi Jungkook. Perut Jungkook ditinju dua kali membuat Jungkook tidak bisa berkutik karena nyeri hebat di livernya.


“Kookie!!” seru Taehyung panik melihat situasi ini. Ada orang lain yang juga memeganginya. “Lepaskan, lepaskan aku!!”


Kepala Taehyung dipukul oleh pria lain dengan menggunakan alat pemukul yang terbuat dari besi. Vampire itu seketika langsung lemas, kepalanya sangat kesakitan. Darah mengalir keluar dari kepala Taehyung.


“Tae!” seru Jungkook. Ia berusaha mengumpulkan segenap kekuatan dan mengabaikan rasa sakit di perutnya. Ia berusaha melepaskan diri dari dua orang yang memeganginya karena ia harus menyelamatkan Taehyung. Namun seseorang dari belakang menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Badan Jungkook menjadi semakin lemas karena kehilangan kesadaran. Ia hanya bisa menatap Taehyung yang tersungkur jatuh ke lantai dengan darah mengalir keluar dari kepalanya. Ia harus menyelamatkan Taehyung. “Andwae…”


Jungkook dibawa masuk ke dalam mobil van. Tubuhnya sudah mati rasa akibat obat bius membuatnya tidak bisa melawan bahkan untuk menggerakkan tangan pun tak mampu.


“Bawa dia juga masuk.” ucap salah seorang pria untuk menyuruh teman-temannya menggotong tubuh Taehyung yang pingsan masuk ke dalam mobil.


Mata Jungkook terpejam. Ia berharap semuanya tidak semakin memburuk..


.


.


🎃🎃



Sepertinya Dongwook mulai melakukan rencananya...


Silakan tinggalkan jejak 🐾🐾