
🎃🎃
Langit senja sore ini sangat indah berwarna oranye kemerahan. Soojung sedang berjalan pulang meninggalkan gerbang kampus. Hari-hari ia jalani semakin dengan tawar hati. Ia mengira ia bisa lebih tenang, lebih damai dengan mengabaikan Seokjin, namun malah sebaliknya. Segalanya tidak berjalan sesuai dengan prediksinya. Soojung tidak nafsu makan, ia berpikir keras, kadang menyesali diri, kadang menyalahkan diri.
Sebenarnya apa yang dia mau?
Soojung menggigit bibir. Anni, anni, dia harus fokus ke depan bukan memikirkan apa yang sudah terlampau terjadi.
Wanita itu akan menyebrang jalan namun tak jadi karena ada kendaraan yang akan lewat. Mobil jeep familiar yang Soojung tahu siapa pemiliknya. Bagaikan slow motion, Soojung berdiri di pinggir menatap ke dalam jendela mobil, melihat lelaki yang baru ia pikirkan.
Seokjin menyetir dengan tenang, tatapan lurus ke depan, tidak melihat ke arah Soojung sama sekali, lebih tepatnya mengabaikan mahasiswi itu, seolah tidak melihatnya.
Soojung berdiri beku melihat mobil itu lewat, melihat Seokjin mengacuhkannya, seolah ia ini lalat. Ekspresi pria itu begitu keras dan dingin. Apa Seokjin marah padanya? Huh, siapa yang tidak akan marah jika dipermainkan? Secara teknis Soojung memang sudah mempermainkannya.
Mata Soojung membesar melihat mobil jeep itu melewatinya begitu saja. Dia tidak mengharapkan Seokjin berhenti untuknya, menawarkan tumpangan. Tapi dia berharap setidaknya Seokjin membalas tatapannya.
Tangan Soojung terkepal. Dia teringat bahwa dirinya yang duluan memperlakukan Seokjin ketika di kelas.
Soojung menunduk. Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia mau.
Sementara itu Seokjin yang berada di dalam mobil, kedua tangannya yang memegang stir meremas kencang-kencang. Dia tidak tahu kenapa ia mengabaikan Soojung seperti tadi, apa dia ingin membalas perlakuan Soojung? Tapi sebenarnya Seokjin justru ingin memperbaiki hubungan dan miskomunikasi ini.
Kekuatan vampire Seokjin adalah mengontrol dan memanipulasi memori. Haruskah ia memanipulasi memori Soojung dan membuatnya jatuh cinta padanya? Seokjin tertawa pahit. Dia tidak menyukai cara licik. Tapi dia sungguh ingin kembali mengobrol dengan wanita itu.
Seokjin tidak pernah memikirkan urusan asmara. Tapi yang satu ini… kenapa sangat mengikatnya. Dia adalah vampire sementara Soojung adalah manusia, diberi penekanan, manusia yang membenci vampire!! Sudah jelas bagi Seokjin untuk tidak dekat-dekat dengan wanita itu, namun bagaikan ada benang merah tak terlihat yang menghubungkan dirinya dengan Soojung.
.
.
Hoseok mengulum mulut sambil berjalan di trotoar malam itu. Ia baru dari toserba membeli beberapa kebutuhan dan camilan. Ia tahu bahwa saat ini ada yang sedang mengikutinya. Hoseok mungkin hanya manusia biasa tapi dia yang biasa hanya sendirian, bisa merasakan saat di ‘space’-nya terganggu, saat ada orang lain yang sedang mengikutinya, mengamatinya meski dari kejauhan.
Hoseok hidup sendirian sudah sejak lama semenjak dia keluar dari panti asuhan beberapa tahun lalu. Ia hidup dari dana para donatur yang masih mau membantunya hidup dan kuliah asal Hoseok bisa mempertanggungjawabkan nilai perkuliahannya. Hoseok bukan smart student, tapi nilainya sudah cukup lumayan membuatnya tetap dibiayai dan diberikan dana.
Hoseok mengeluarkan ponselnya, berlagak mengecek pesan. Ia membuka kamera depan, dia akan mengecek siapa yang sedang mengikutinya ini. Hoseok berjalan dilambat-lambatkan sambil mengarahkan ponselnya untuk melihat siapa yang jauh di belakangnya yang mengikutinya sembunyi-sembunyi. Agak sulit untuk mengetahuinya karena sepertinya si penguntit mengikuti dari jauh.
Hoseok mendecakkan mulutnya. Ia berusaha mengarahkan kamera depan lebih baik lagi, me-zoom in kameranya untuk melihat ada apa di belakangnya. Mendadak ia terpaku saat sekelebat melihat bayangan seseorang di kameranya. Dan itu sangat familiar.
Hoseok menelan ludah. Ia mengingat dengan jelas rambut rapi yang tadi ia lihat di kamera itu persis seperti penampilan Namjoon biasa di kelas. Namjoon mengikutinya??
Entah kenapa Hoseok merasa sangat excited. Dia diikuti oleh Namjoon. Dia semakin yakin kalau Namjoon adalah vampire. Berdasarkan insting dan bukti-bukti yang sudah ia lihat sendiri… dan sekarang pun Namjoon mengikutinya… Apa Namjoon merasa terancam karena identitas dirinya sudah terbongkar? Tapi Hoseok tidak akan mengancam nyawa Namjoon. Hoseok seorang penggemar vampire. Ia tidak akan pernah membuat populasi vampire terancam di Seoul ini.
Hoseok memberi senyum lebar. Dia akan semakin semangat kalau begini. Jika Namjoon mengikutinya begini, perlukan Hoseok memberikan perlakuan balasan? Ia pun akan mengikuti vampire itu, mencari tahu dimana tempat tinggal dan kesehariannya… seperti yang dilakukan Namjoon saat ini.
****
Soojung merasa tidak enak badan sejak pagi. Dia mengikuti perkuliahan dengan sulit berkonsentrasi, kepalanya pusing dan perutnya mual. Dia tidak tahu ada apa dengan dirinya beberapa hari ini. Tapi begitu banyak yang mengganggu pikirannya sejak Halloween. Apa dia stress karena terlalu memikirkan hubungannya dengan Seokjin? Apa dia sedang menyesali apa yang sudah ia lakukan?
Soojung membereskan bukunya sambil memegang keningnya. Keningnya agak hangat dan kepalanya pusing. Mungkin sebaiknya dia skip perkuliahan berikutnya dan pulang ke rumah saja. Jika dia masih berpacaran dengan Kai, mungkin dia bisa meminta tolong untuk mengantarnya pulang. Tapi kalau seperti ini… dia harus pulang sendiri, meski sebenarnya sudah tak tahan, ingin segera rebahan di tempat tidur. Dan kepribadian Soojung yang agak jutek, membuatnya pun tidak mempunyai sahabat dekat. Dulu dia pernah memiliki sahabat saat SMA tapi mereka sudah beda kota dengan dirinya karena kuliah di luar kota dan di luar negeri.
Soojung berjalan keluar dari kelasnya, berusaha tetap kuat. Saat di lorong ia melihat dari kejauhan Seokjin berjalan ke arahnya. Dosennya itu melihatnya sekilas namun melihat ke arah lain kembali.
Soojung berhenti dan berdiri memandang dosennya itu. Entah apa yang membuatnya terpaku dan hanya bisa memandang Seokjin. Soojung mengerti bahwa yang ia lakukan pada Seokjin sangat tidak adil, menjauhinya dan tidak mengutarakan alasan jelas. Dia mengerti jika Seokjin kesal padanya.
Seokjin mengabaikan Soojung. Ia terus berjalan ke arah wanita itu, melihat lurus-lurus ke depan tanpa melihat wanita itu sama sekali. Seokjin tidak ingin memaksakan siapapun untuk menyukainya oke? Apalagi seorang manusia biasa yang sesungguhnya punya dendam pribadi pada vampire. Seokjin tidak akan memaksakan perasaan seseorang. Dia akan terima Soojung bersikap sepeti ini padanya, karena bagaimanapun dunia mereka sungguh berbeda.
Seperti menelan empedu pahit, begitulah wajah Soojung saat Seokjin melewatinya begitu saja tanpa menoleh, tanpa ucapan sapa seperti biasa. Soojung tersenyum suram pada dirinya sendiri. Bukankah ini yang ia mau? Membuat dirinya dan Seokjin seperti ‘asing’ sama seperti sebelumnya, seolah ciuman itu tidak pernah ada…
Soojung menoleh ke belakang, melihat Seokjin yang sudah berjalan semakin jauh meninggalkannya, lalu berbelok ke lorong lain, hilang dari pandangannya.
Soojung melihat ke atas, berusaha menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca. Pasti karena tubuhnya yang tidak fit dia menjadi lebih mellow seperti ini. Pasti karena itu bukan dia ingin menangis? Bukan karena hubungannya dan Seokjin yang menjadi hambar.
Wanita itu kembali berjalan ke tujuannya… untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat. Meski pikirannya kembali sibuk dengan penyesalan dan rasa bersalah. Ia seharusnya meminta maaf pada dosennya itu karena sudah mengabaikannya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur…
Soojung meringis. Ia merasa kepalanya semakin sakit dan bukannya membaik. Soojung berhenti berjalan dan memegang tembok, berusaha menyangga berat tubuhnya. Tapi semakin lama pandangan matanya malah berkunang-kunang, seolah tempat ini sedang berputar-putar. Wanita itu sudah tidak kuat lagi, ia pun menyerahkan tubuhnya yang lemas untuk rebah ke lantai. Namun bukan lantai keras yang menyentuh tubuhnya… ada seseorang yang merangkulnya, mencegahnya untuk jatuh pingsan.
Mata Soojung masih membuka, melihat Seokjin yang memegang pinggannya, membantunya untuk tidak jatuh. Apakah ini mimpi? Apa ia sudah berhalusinasi? Tapi sekalipun ini halusinasi, Soojung ingin mengatakan sesuatu yang menjadi penyesalannya.
“Mian…” ucapnya pelan karena tubuhnya yang semakin lemas. Ia pun sudah tak kuat dan langsung pingsan tak sadarkan diri.
🎃🎃
Silakan berikan jejak ya