
Jungkook pergi ke kamar Taehyung untuk mandi dan membersihkan diri. Dia sudah terbiasa di rumah ini sampai seperti penghuni rumah. Ia masuk ke dalam kamar saat mendengar ponsel Taehyung di atas nightstand yang berdering. Jungkook mengabaikannya dan mengambil bathrobe. Ponsel itu masih terus berdering seolah memanggil-manggil pemilik ponsel tiada henti.
Jungkook mengernyit heran. Setahunya Taehyung tidak banyak menyimpan banyak nomor orang. Siapa yang menelepon seperti itu jika orang-orang terdekat Taehyung berada di basement sedang olahraga?
Deringan itu berhenti. Jungkook penasaran dan akhirnya mendekati nighstand untuk mengecek siapa yang sudah menelepon.
Betapa terkejutnya Jungkook saat melihat nama penelepon : Dongwook.
All he sees is red.
Kemarahan sangat menguasai Jungkook saat melihat nama penelepon itu saja. Dongwook? Lee Dongwook barusan yang menelepon Taehyung? Dan bagaimana nomor itu sudah disave di ponsel Taehyung menunjukkan bahwa sebelumnya bos sindikat itu pernah menelepon sebelumnya.
Ponsel di tangannya berdering kembali dengan nama penelepon yang sama. Gigi Jungkook gemertakan sampai ia pun bisa mendengar bagaimana suara giginya beradu. Jantungnya memacu cepat karena kemarahan sudah membumbung tinggi kembali mengingat bahwa pria inilah yang sudah menghancurkan hidup Taehyung.
Dan Jungkook pun mengangkatnya…
“Finally kau mengangkatnya,” gumam Dongwook di seberang, “Tidak sulit untuk mengikuti takdirmu, Taehyung. Kita bisa bertemu, aku berjanji tidak akan membiusmu.” Dongwook mengekeh di seberang. “Kita bisa berbincang-bincang dan melakukan perjanjian.”
Seperti ada yang mencubit jantungnya, Jungkook merasa perkataan Dongwook semakin mentriggernya.
“Selama aku masih berbaik hati, aku tidak akan melakukan kekerasan,” lanjut Dongwook, “Kau tahu betapa aku senang ketika bisa berinteraksi lagi denganmu.”
Tangan Jungkook yang tidak memegang ponsel terkepal marah. “You can go and **** yourself.”
Dongwook terkejut di seberang saat mendengar suara yang bukan suara Taehyung. Dongwook menaikkan sebelah alis, sadar bahwa yang berada di seberang bukan Taehyung, tapi sepertinya suara Jungkook.
“Aku tidak tahu kalau pemilik ponsel ini sudah berubah. Setahuku pemilik nomor ini adalah–“
“Shut up! Jangan menelepon Taehyung lagi!” potong Jungkook berang.
“Memangnya kau siapa, anak kecil, bisa memerintahku begitu?” tukas Dongwook, “Tidak perlu mencampuri urusan yang bukan urusanmu jika kau tidak ingin keselamatanmu terancam.”
“Aku tidak akan berhenti memperingatkanmu. Kau adalah bedebah yang harus hilang dari muka bumi ini. Jika aku melihatmu muncul, sudah jelas mulutmu akan kutinju.”
Dongwook mendengus dan tertawa. “Tinju dari orang sepertimu tidak membuatku takut. Aku menantangmu untuk datang ke hadapanku dan tidak hanya sekedar mengoceh.”
Dongwook menahan senyum betapa ia ingin memporakporandakan emosional pria itu.
“Aku rasa kau tahu bahwa bagaimana Taehyung merupakan project favoritku sejak semula. Dia adalah milikku dan aku akan mengembalikannya ke posisi semula. Dia sudah terlalu lama bebas lepas dari jangkauanku. Kau tidak tahu berapa biaya yang sudah habis kukeluarkan untuk membuat Taehyung sampai seperti sekarang.”
Jungkook benar-benar tak percaya ada manusia seperti ini, lebih mementingkan materi dibandingkan kehidupan manusia. “Aku berharap orang sepertimu akan berkarat di neraka!”
Dengan perkataan terakhirnya Jungkook pun menutup komunikasi. Ia terlalu jengkel dan tak akan bisa berlama-lama jika terus mendengar omongan Dongwook itu. Tangan masih gemetaran karena betapa emosi masih meluap-luap di dalam dada. Ia sedang membayangkan meninju muka Dongwook dengan tangannya.
Di saat yang sama Taehyung masuk ke dalam kamar sambil mendumel. “Huh, Hoseok terlalu bangga diri, baru juga menang sekali, padahal aku bisa mengalahkannya kalau bukan adu tinju.”
Taehyung tersentak saat melihat Jungkook yang sedang berdiri di dekat tempat tidur. Vampire itu tercengang karena Jungkook sedang memegang ponselnya. “Lho? Kukira kau sedang mandi?”
Jungkook tak mengatakan apa-apa karena marah belum teredam di dalam dada. Ia membiarkan Taehyung datang mendekatinya dan merebut ponsel dari tangan Jungkook.
Mata Taehyung membesar saat melihat bahwa barusan ada panggilan masuk dari Dongwook.
“Kenapa kau memberikan nomormu pada Dongwook?” tanya Jungkook tak tahan dengan nada mengkel.
“A-aku tidak memberikannya. Dia yang tahu sendiri nomorku.”
“Lalu kenapa kau tidak menceritakan padaku kalau dia menghubungimu?” tanya Jungkook lagi.
Taehyung speechless. Dia memang tidak ingin mencemaskan siapapun dengan memberitahu bahwa Dongwook menghubunginya. Taehyung semakin panik karena tidak tahu apa yang menjadi pembicaraan Jungkook dan Dongwook tadi. Dengan melihat wajah Jungkook yang uring-uringan ini, Taehyung tahu pembicaraan itu bukanlah pembicaraan yang baik.
“Kukira dengan kehancuran Black Dragon dia sudah tidak akan mengganggumu lagi.” ucap Jungkook marah, “Dia masih berani-beraninya menelepon dan mengajakmu bertemu seolah apa yang sudah dilakukan atas hidupmu itu bukan apa-apa.”
“J-Jungkook…” Taehyung memegang lengan Jungkook, berusaha menenangkan manusia itu. Ia bisa merasakan kalau amarah Jungkook masih meluap-luap.
“Kau seharusnya langsung memblokir nomornya, bukan menyimpan nomornya dan membiarkannya meneleponmu seperti ini. Kau pun bisa mengadukannya padaku dan pada hyung yang lain.”
Jungkook sangat kesal betapa Dongwook bahkan bisa mengucapkan kata-kata seperti tadi. Takdir? Dan bahwa Taehyung adalah miliknya?
Jungkook memalingkan badan dengan kesal. Ia tidak mengerti mengapa ia harus melampiaskan kemarahannya ini pada Taehyung kalau dia sendiri sebenarnya mencemaskan vampire itu dari apa yang bisa dilakukan Dongwook.
“Sorry…” ucap Taehyung pelan. Kepalanya hanya semakin kalut dengan masalah ini, dia tahu bahwa tidak semudah itu menyingkirkan Dongwook. Dongwook bukan orang sembarangan, Taehyung tidak ingin membahayakan orang-orang di sekelilingnya seperti ini.
Jungkook menghembuskan nafas keras-keras. Begitu sulitnya untuk tetap hidup damai tanpa ancaman, tanpa kecemasan.
Jungkook tidak mengatakan apa-apa lagi dan ia pergi ke kamar mandi, mengunci dirinya di sana untuk menenangkan pikiran.
Taehyung melihat kepergian Jungkook dengan serba salah. Apa Jungkook marah padanya?
.
.
.
Setengah jam kemudian Jungkook keluar dari kamar mandi. Dia sudah selesai mandi dan menjernihkan pikirannya dengan hot water. Ia memutuskan untuk meminta maaf pada Taehyung karena tidak seharusnya ia menyentak vampire itu karena masalah telpon Dongwook. Bagaimanapun yang salah tentu saja Dongwook, Taehyung merupakan korban disini.
Jungkook melihat kamar yang kosong tidak ada keberadaan Taehyung. Baru ia akan keluar saat melihat yang dicari ternyata ada di balkon, duduk sendirian melamun melihat pemandangan sore yang semakin lama semakin gelap.
Jungkook berjalan menuju balkon, mengambil duduk di hadapan Taehyung. Ia bisa melihat bagaimana raut wajah vampire itu yang seperti stres dan berpikiran berat.
“Sorry…” ucap Jungkook akhirnya memulai pembicaraan, “Aku tidak seharusnya menyalahkanmu seperti tadi. Kemarahan terlalu menguasaiku.”
Kening Taehyung berkerut. “Apa yang sudah ia katakan padamu, Kook?”
“Dia menginginkanmu kembali ke sindikat. Itu sangat membuatku marah dan mencacinya. Dia bersikap seolah kau sudah dibeli menjadi miliknya. Itu sangat menjengkelkanku. Dia pun meremehkanku.”
Taehyung tersenyum tipis. Yah tentu saja Dongwook akan mengatakan hal-hal seperti itu pada Jungkook.
“Sejujurnya, Jungkook, aku ingin hidup normal dan tenang. Aku berpikir untuk pura-pura tidak pernah mengenal Dongwook dan menjalani hidup ini dengan biasa. Beberapa hari ini bukankah hidup kita tenang dan tentram? Tapi rasa takutku kembali mencuat saat Dongwook mulai menelepon.”
Jungkook pun sama kesalnya. Dia sudah bahagia bisa beraktivitas dengan normal tanpa perlu mengkuatirkan mengenai sindikat atau apapun… Sekarang tiba-tiba masalah datang lagi.
“Aku tidak akan membiarkannya mengganggu hidupmu lagi, Tae. Aku berjanji.” sahut Jungkook sungguh-sungguh.
Taehyung memandang Jungkook. Justru Taehyung yang tidak akan membiarkan Dongwook mengusik Jungkook ataupun hyungnya yang lain. Itulah yang membuatnya stres, membuatnya dilanda dengan beban berat. Dia tidak ingin membahayakan siapapun. Pria seperti penuh dengan tipu muslihat, dia bisa melakukan hal-hal di luar akal.
“Kau tampak masih memikirkan sesuatu…”
Taehyung menundukkan wajahnya. “Aku hanya…”
Ia memegang kepala dengan frustasi. “Aku ingin semua ini segera berakhir. Aku tidak mau melihat keselamatan anggota clan terancam. Aku tidak mau melihatmu terus terbebani dengan permasalahan ini. Bagaimanapun juga ini kesalahanku. Ini bebanku. Aku seharusnya tidak menyeret kalian semua ke dalam–“
“Hey, hey, apa yang kau katakan ini.” potong Jungkook langsung memegang lengan Taehyung menyuruhnya untuk berhenti. “Ini bukan kesalahanmu, berapa kali aku harus mengatakannya? Ini adalah akibat perbuatan kotor sindikat. Dan aku tidak akan membiarkanmu kembali ke tempat itu. Hyung yang lain pun akan melakukan hal yang sama, Tae.”
Taehyung berusaha menenangkan pikirannya meski hatinya sekarang belum benar-benar lega. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Apa yang bisa dilakukan Dongwook padanya.
Jungkook menghela nafas. Dia merasa Taehyung perlu refreshing untuk melepaskan stres dan kepenatan ini.
“Tae, kau mandi saja dulu supaya pikiranmu bisa lebih tenang.”
Taehyung hanya mengangguk. Ia pun bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi, dia harus berendam untuk merilekskan ketegangan di dalam dirinya.
Sementara Taehyung pergi mandi, Jungkook memikirkan sesuatu bagaimana cara supaya kesehatan mental vampire itu bisa kembali pulih. Ingin rasanya ia menghantam Dongwook dan menghancurkan perusahaannya tapi mungkin itu justru menambah stres bagi Taehyung, saat seperti ini belum tepat untuk melakukannya.
Ada satu cara favorit Jungkook ketika ia stres dan ingin melepas kepenatan serta beban pikirannya. Travelling. Hanya itu jawabannya.
.
.
Taehyung keluar dari kamar mandi dan melihat Jungkook tidak ada. Ia turun ke bawah dan melihat yang lain sedang menyiapkan makan malam.
“Mana Jungkook?” tanya Taehyung pada Hoseok yang sedang membantu Yoongi menyiapkan makan malam.
“Dia sudah pulang dengan Soojung,” sahut Hoseok, “Jimin juga sudah pulang saat kau masih mandi.”
Taehyung hanya mengangguk, sebenarnya sedikit kecewa karena Jungkook pulang dengan tidak mengatakan apapun. Apa Jungkook masih marah padanya? Padahal masih banyak hal yang ingin Taehyung sampaikan, masih banyak yang mengganjal dan Taehyung merasa dia belum benar-benar rileks.
Mereka pun makan malam. Taehyung tidak memberitahu anggota clan mengenai Dongwook yang menelepon dan berusaha menemuinya. Tidak ingin membuat semuanya semakin runyam, yang jelas Dongwook harus diwaspadai. Pria itu pasti punya banyak pengikut dan mafia.
Sekitar jam 9 lewat, terdengar suara mobil di luar. Itu adalah suara mobil Jungkook. Penghuni clan sangat heran, ada apa gerangan Jungkook datang malam-malam ke rumah ini?
Jungkook masuk ke dalam rumah, menyapa dengan senyum mengembang. Yang lain bertanya-tanya apa Jungkook datang untuk menginap?
“Aku minta ijin untuk membawa Taehyung pergi ke suatu tempat sampai besok.” ujar Jungkook dengan senyum sopan pada para hyung. Taehyung memandang Jungkook dengan terkejut, manusia itu tidak ada memberitahu apapun sebelumnya.
Namjoon menaikkan sebelah alis, heran. “Kalian mau kemana?”
“Apa ini ada kaitannya dengan sindikat?” tanya Seokjin.
“Anni, anni.” Jungkook langsung menggeleng dan mengekeh. “Aku hanya ingin membawa Taehyung untuk jalan-jalan, besok juga kan libur.”
“Hanya berdua?” tanya Namjoon skeptis.
“Aku ga diajak nih?” komen Hoseok memelas. Ingin juga ikut kalau diajak jalan-jalan.
“Mungkin lain kali, Hyung,” sahut Jungkook dengan senyum lebar, “Itu pun kalau Seokjin Hyung mengijinkanku membawa Taehyung hari ini.”
Taehyung masih tercengang dan speechless, Jungkook ingin membawanya kemana? Tapi tak dipungkiri Taehyung excited karena tadi Jungkook seolah akan mengajaknya ke tempat untuk refreshing dari kepenatan ini.
Seokjin mengangguk pelan, ia tidak akan mencemaskan kalaupun Taehyung dan Jungkook pergi. Mereka pasti bisa menjaga diri dengan baik.
“Well, tentu saja aku tidak akan melarang.” Seokjin pun memang merasa sejak tadi Taehyung banyak melamun, mungkin dengan jalan-jalan ini bisa memulihkan semangatnya.
“Kalian mau kemana malam-malam begini?” tanya Yoongi. Dia tidak melarang hanya saja heran kenapa harus pergi di malam seperti ini.
“Perjalanan jauh,” sahut Jungkook, “Akan tiba di lokasi besok pagi.”
“Wah sepertinya sangat jauh…” sahut Hoseok sedikit iri.
“A-apa yang harus kubawa?” tanya Taehyung, jujur saja dia belum pernah jalan-jalan atau berlibur selama hidupnya.
Jungkook mengekeh. “Mantel saja, Tae.”
“O-okay..” Taehyung bangkit berdiri dan bergegas ke kamarnya untuk mengambil mantel. Tindakan Jungkook yang tiba-tiba ini tidak pernah terbayang sebelumnya oleh Taehyung tapi vampire itu sangat menanti-nantikan seperti apa perjalanan ini.
“Ada tujuan khusus?” tanya Seokjin setelah Taehyung pergi.
Jungkook mengangkat bahu. “Aku hanya ingin membuatnya rileks, beberapa hari ini ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Dan aku ingin membuatnya jauh lebih baik.”
“Cool.” puji Hoseok. “Kalau aku pun mengalami seperti itu, maukah kau mengajakku juga, Jungkookie?”
Jungkook terbahak dan mengangkat bahu membuat Hoseok mempoutkan mulut dengan sebal.
Lima menit kemudian Taehyung muncul kembali dengan mantel di tangannya. Dia pun sudah berganti pakaian karena sebelumnya hanya memakai piyama. Keduanya berpamitan pergi pada para hyung.
“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Taehyung saat keduanya sudah di dalam mobil. Jungkook menyetir mobil keluar dari kawasan itu.
“Pantai..” sahut Jungkook.
Mata Taehyung membesar. Dia belum pernah ke pantai!! “Ta-tapi ke pantai malam-malam?”
Jungkook mengekeh untuk kepolosan Taehyung. “Perjalanannya cukup jauh, Tae, kemungkinan kita akan sampai besok subuh.”
“Hwoa…” Mulut Taehyung membuka dan perlahan-lahan ia mulai tersenyum.
Mereka pun menikmati perjalanan itu. Music player mengalun sementara mereka mengobrol ringan, sama sekali tidak membahas mengenai permasalahan sindikat. Untuk perjalanan ini keduanya sepakat untuk melupakan masalah dan merilekskan diri.
Jungkook menyuruh Taehyung untuk tidur tapi vampire itu menolak karena rasanya tidak fair membiarkan Jungkook yang terjaga sendiri dan menyetir.
Sesekali mereka mampir di kedai kopi untuk Jungkook mengisi amunisi supaya tidak mengantuk selama perjalanan. Taehyung sangat senang sekali, dia merasa seperti manusia biasa, melakukan kegiatan layaknya manusia normal.
🎃🎃
tbc..
Untuk next episode akan mengenai liburan kecil ini. Kasihan juga Taehyung karena terus²an dibebani dengan masalah aindikat yg sebenarnya penyebab dia trauma. Jadi auhtor berikan sedikit liburan... sebelum kejadian² di depan yg akan menguras emosi jiwa dan raga😔
Jangan lupa berikan jejak🐾