Vampire In The City

Vampire In The City
Hubungan Yang Luntur




Saat jam istirahat makan siang, Jungkook memilih untuk langsung pulang, bolos mata kuliah berikutnya. Ia tidak akan konsentrasi kalau pun disuruh duduk dan mendengarkan dosen. Pikirannya sangat suntuk. Ia tidak akan bisa tenang jika kakak perempuannya belum pulang.


Jungkook mengabaikan Taehyung. Ia merasa ia harus lebih tegas pada dirinya sendiri. Sudah seharusnya ia memutus hubungan dengan Taehyung semenjak ia tahu bahwa temannya itu vampire. Ia bahkan seharusnya membalaskan dendamnya selama ini. Hatinya tidak boleh lunak lagi. Sudah saatnya ia memilih.


Jungkook pulang ke rumahnya, belum ada siapa-siapa sama seperti saat dia berangkat ke kampus. Ponselnya kakaknya pun masih tidak aktif. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Soojung, selamanya Jungkook akan memburu setiap vampire dan menghabisinya.


Jungkook melempar tas ke sofa. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi pamannya, siapa tahu sudah ada kabar baik.


Baru akan menelepon, pintu rumah terbuka. Jungkook menoleh kaget melihat kakaknya berjalan masuk dengan langkah lunglai.


“Noona!!” seru Jungkook sambil bergegas mendekati Soojung. Kakaknya itu terlihatbaik-baik saja, tidak ada luka apapun di tubuhnya. Jungkook sangat bersyukur sekaligus sangat lega. “Noona, darimana? Aku sangat mencemaskanmu.”


Soojung memberi senyum sekenanya. Ia berharap mata sembabnya ini tidak terlalu mencolok. Setelah pembicaraan dengan Yoongi, Soojung menangis lagi lalu akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat pulang pun ia tidak bertemu Seokjin sama sekali. Ini aneh karena hati Soojung terasa pahit, masih ada yang mengganjal di hatinya.


“Noona, baik-baik saja?” tanya Jungkook.


“Aku baik-baik saja…” ucap Soojung akhirnya karena ia tidak mungkin menghindari pertanyaan adiknya, “Semalam aku ke tempat teman setelah lari dari kejaran vampire.” Soojung terpaksa harus mengarang cerita mengenai kepergiannya semalam.


Jungkook merasa lega mendengarnya, baguslah kalau ternyata kakaknya tidak tertangkap vampire. “Paman juga sangat mencemaskanmu, belum pulang karena masih mencari Noona.”


Soojung tersenyum tipis. Ia merasa bersalah karena tidak memberi kabar apapun pada Pamannya. Jujur saja, Soojung tak sempat memikirkan hal itu karena pikirannya sejak semalam disibukkan tentang Seokjin dan Seokjin.


“Kau bisa memberitahunya, Kook… A-aku ingin istirahat…” ucap Soojung. Ia pun berjalan pergi menuju kamarnya dengan hati yang masih terasa berat. Siapa tahu dengan tidur dia bisa meringankan beban di hatinya ini.


Jungkook memandang kepergian kakaknya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam, ia berharap kakaknya tidak diserang atau bertemu dengan vampire. Namun bukan berarti kemarahan Jungkook meredam. Dirinya masih tidak terima dengan perbuatan vampire yang telah membunuh 5 hunter.


.


.


“Mana Jungkook?” tanya Jimin heran saat melihat Taehyung duduk sendiri di kantin. Wajah Taehyung begitu kuyu dan air mukanya sangat tidak bersemangat.


“Dia pulang…”


“Mwo?” Jimin begitu heran mendengarnya, tidak biasanya Jeon Jungkook membolos kuliah. “Oh ya, apa dia sudah meminta maaf padamu mengenai kejadian semalam?”


Taehyung menggigit bibir keras-keras. Lebih parahnya Jungkook bahkan tidak mau duduk dengannya lagi. Tapi Taehyung tidak akan memberitahu Jimin.. jangan-jangan Jimin malah memarahi Jungkook tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang Jungkook alami. Dan Taehyung juga tidak ingin persahabatan mereka bertiga semakin rusak.


“Kurasa dia sedang ada masalah, Jiminnie..”


“Ada masalah? Jadi maksudmu dia berhak menyentakmu semalam kalau dia ada masalah?”


“Anni… Kurasa aku sedang membuatnya kesal.” Taehyung menundukkan kepala, dia sendiri tidak tahu apa yang ia katakan ini benar atau tidak.


“Mwo?” Jimin melipat tangan di depan dada, memandang sahabatnya dengan bingung.


“A-aku yang harus meminta maaf pada Jungkook,” ujar Taehyung dengan bibir gemetar, “Kau tahu kan kadang aku suka bercanda… mungkin di saat yang tidak tepat sehingga Jungkook kesal.”


Jimin menaikkan sebelah alis, tidak teryakinkan dengan alasan itu. Jungkook tidak pernah sekalipun marah pada Taehyung seingatnya. Dan Jungkook selalu membiarkan apapun yang dikatakan Taehyung, tidak akan tersinggung dengan bercandanya Taehyung.


Jimin jadi teringat bahwa Jungkook memang akhir-akhir ini tampak aneh, sering murung seperti banyak pikiran. Apa anak itu sedang tertimpa masalah berat ya?


“Apa kita harus ke rumahnya sekarang?” tanya Jimin berubah mencemaskan Jungkook.


Taehyung menggeleng lemah. Dia takut itu malah memperburuk suasana hati Jungkook. “Dia pulang cepat pasti karena butuh waktu sendiri, Jiminnie.”


“Oh.. okay…” kata Jimin akhirnya. “Oh ya ngomong-ngomong apa kau sudah dapat kabar mengenai pertemuan dewan vampire kemarin?”


Taehyung menggeleng sambil mempoutkan bibir. “Ponselku kan tertinggal sejak kemarin, aku belum mendengar kabar apa-apa. Aku harap semua berjalan dengan baik.”


Jimin mengangguk. “Kuharap kau tidak akan diganggu lagi oleh clan Cha, Tae.”


Taehyung mendesah panjang. “Aku juga mengharapkan hal yang sama.”


.


.


Dia bertanya-tanya pada langit mengapa ia harus jatuh cinta pada manusia? Mengapa ia tidak jatuh cinta pada sesama vampire? Atau… tidak perlu jatuh cinta sama sekali pun tidak akan merugikannya bukan? Dia pun mempertanyakan mengapa dirinya hidup sebagai seorang vampire? Di mata manusia vampire hanyalah monster, pembunuh, suka memanipulasi…


Angin berhembus mengibarkan rambut coklatnya. Ia memandang jauh-jauh ke depan. Jika Soojung memang menganggapnya sebagai vampire yang sudah memanipulasi perasaannya, Seokjin akan terima meski tidak benar adanya demikian. Seokjin sudah berjanji ia akan melindungi clannya dengan hidupnya : Yoongi, Namjoon, Taehyung, dan Hoseok. Alangkah baiknya jika ia fokus pada clannya dibandingkan mengurusi urusan asmara.


Seandainya ia bisa meluapkan apa yang ada di dalam hatinya. Tidak semua vampire adalah pembunuh. Tidak semua vampire merupakan monster.


****


Hari ini masih sama seperti kemarin. Jungkook mengabaikan Taehyung, tidak mengajaknya berbicara, tidak mengijinkannya untuk duduk di sampingnya. Ini menyedihkan… Dia tidak tahu apa kesalahannya tapi Jungkook tampak tidak mau berteman dengannya lagi.


Kelas sudah usai, Taehyung menunggu Jungkook yang masih membereskan buku dan barang-barangnya. Taehyung tidak akan menyerah… dia akan berusaha mendapatkan Jungkook kembali. Jungkook adalah teman pertama yang menerimanya, Taehyung tidak ingin kehilangan persahabatan mereka.


Kim Jaewook, Bohyun dan Geunwon mendatangi Taehyung dengan berlagak. Kelas sudah mulai sepi dan mereka sudah tidak sabar ingin memeras Taehyung.


Jaewook yang memakan permen karet mengerling ke arah Jungkook lalu melihat Taehyung. Apa kalau dia mengganggu Taehyung, si Jeon Jungkook akan meninjunya ya? Atau kebalikannya? Yang seperti ini harus dites.


“Hoy, Kim Taehyung-ssi…” ucap Jaewook dimanis-maniskan. Dua temannya memberi seringai dan mengambil posisi di kiri-kanan Taehyung, mengapit bayi vampire itu.


“A-anyyeong…” ucap Taehyung pelan namun sedikit ragu dengan sapaan 3 teman sekelasnya itu.


Jungkook yang mendengarnya, mengerling sesaat. Dia tahu kalau 3 orang itu selalu berlagak superior dan mencari mangsa untuk diperas dan dipermainkan. Tapi untuk saat ini Jungkook menyuruh dirinya untuk tidak perlu peduli. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikan Taehyung bukan.


Jaewook memberi smirk karena Jungkook tidak memberikan reaksi sama sekali, pertanda memang Jungkook tak akan peduli lagi pada Taehyung.


“Kau lapar tidak?” tanya Jaewook, “Kita makan bersama bagaimana?”


Taehyung menggeleng-geleng. Dia punya firasat tak baik jika harus menghabiskan waktu bersama orang-orang ini. “A-aku tidak lapar…” Taehyung berusaha pergi namun Geunwon menarik bajunya.


“Janganlah begitu pada teman sekelas,” tukas Bohyun, “Itu tak sopan namanya.”


Jungkook sudah selesai memasukkan semua barangnya. Ia memakai tasnya dan berjalan melewati orang-orang itu, mengabaikan Taehyung dan tidak mengatakan apa-apa untuk mencegah tiga orang itu memeras Taehyung.


“Kookie…” panggil Taehyung berusaha mengikuti namun lagi-lagi bajunya ditarik sehingga ia tidak bisa pergi kemana-mana. Taehyung melihat kepergian Jungkook dengan sangat terluka, temannya itu benar-benar mengabaikannya dan tidak berusaha menolongnya. Apa Jungkook benar-benar marah padanya?


“Ayo kita makan dulu ya…” ajak Jaewook dengan mata yang sudah tidak ramah sama sekali.


“Aku tidak lapar.” sahut Taehyung dengan suara gemetar, bagaimanapun dia tidak mau duduk bersama dengan 3 manusia ini.


“Aishh, tak sopan sekali!” Jaewook memukul kepala Taehyung dengan kesal. “Kalau tak lapar setidaknya kau beri kami uang karena kami lapar.”


Hello? Dimanakah logikanya, kenapa Taehyung harus memberikan uang pada mereka?


“Jangan banyak bertanya,” ucap Geunwon sambil menarik kerah baju Taehyung, “Beri saja uang, kok susah amat.”


Mata Taehyung sudah berkaca-kaca. Ketakutan yang ia alami sekarang ini persis rasanya seperti saat dia sebagai pelajar SMA, dibully, diperas dan dipukul.


“Aishh!” Bohyun sudah tak sabaran dan akhirnya mendorong bahu Taehyung. Ia menarik tas Taehyung dengan paksa, mengeluarkan semua isinya hingga berserakan ke lantai. Saat melihat dompet, Bohyun mengambilnya dan mengeluarkan semua uang lembaran won yang ada di situ. Banyak juga, cukup untuk ketiganya bisa bersenang-senang.


Taehyung tidak bisa berkutik. Ia berdiri menunduk, menahan tangis, membiarkan tiga orang itu mengambil uangnya.


Jaewook tersenyum puas melihat uang yang sudah diambil Bohyun. Ia mengambil dompet itu dan melemparkannya ke wajah Taehyung. “Besok bawa lagi uang seperti ini ya..!” Ia memberi cengiran pada teman-temannya lalu pergi meninggalkan Taehyung seorang diri.


Air mata menetes. Dia menangis bukan karena diperas… ada rasa sakit lain yang melebihi dari perilaku tiga orang itu… Sikap Jungkook yang tadi mengabaikannya menganggapnya seperti lalat, membuat Taehyung menyadari kalau Jungkook benar-benar tidak mau berteman dengannya lagi.


Taehyung menghapus air mata dengan tangan. Ia merogoh ponselnya dan menelepon Jimin.


🎃🎃



Jangan lupa tinggalkan like dan commentnya