
🎃 Jangan lupa like dan comment 🎃
Author update 2 chapter hari ini,
yeay↖(^ω^)↗
Lanjutan obrolan Seokjin dan Soojung di kafe...
🎃🎃
“Tapi orangtuaku meninggal karena dibunuh vampire…” ucap Soojung perlahan.
“Mati dibunuh atau mati karena dihisap darahnya?” tanya Seokjin penasaran.
“Kupikir kedua hal itu sama?”
Seokjin ingin sekali memberitahukan segalanya, bahwa dua hal itu tentu saja sangat jauh berbeda. Tapi Seokjin tidak mungkin memberitahukan banyak hal mengenai vampire, identitasnya mungkin akan terbongkar.
“Entahlah… menurutku itu hal yang berbeda, Miss Soojung, meski aku belum pernah membaca berita mengenai manusia yang mati kehabisan darah karena vampire.”
Soojung menggigit bibir, dia juga memang belum pernah mendengarnya, atau mungkin itu pernah terjadi dulu sekali dan di belahan dunia lain, entah, Soojung juga tak tahu. Tapi sepertinya dia harus menanyakannya pada pamannya, mengenai kematian orangtuanya.
“Tapi vampire pun bisa menyerang manusia, aku yakin itu.” ucap Soojung.
Seokjin menatap wanita itu. “Kau begitu yakin hingga membuatku merasa kau memiliki pengalaman bersama vampire.”
Soojung merasa tertohok dengan pertanyaan Seokjin. Dan tentu saja vampire itu tahu apa yang menjadi pengalaman Soojung tersebut.
Namun dengan berani, Soojung mengendalikan dirinya. Dia bisa mengatakannya sekarang pada Seokjin, dia pun ingin mengetes apa dosennya ini akan percaya dengan ucapannya, karena dulu tidak ada yang mempercayai ucapan seorang bocah SMP.
“Aku pernah digigit vampire, Mr. Kim… Dua vampire.”
Seokjin masih memandang Soojung, tidak tahu harus mengatakan apa. Melihat luka di mata Soojung, Seokjin tahu bahwa kebencian Soojung muncul bukan karena orangtuanya yang terbunuh, melainkan karena Soojung pernah ‘diserang’ dua vampire.
Soojung mengernyit karena dosennya masih tidak berkomentar. “Apa kau percaya?”
Seokjin memberi senyum simpul. “Kau yang mengalaminya, Miss Soojung… Untuk berani membicarakan hal yang begitu traumatis, aku percaya kau tidak berbohong.”
Soojung terperangah sendiri karena ia tak menyangka Seokjin akan langsung memercayainya, begitu berbeda dengan dokter dan polisi yang menganggapnya berhalusinasi ketika menceritakan mengenai vampire.
“Apa yang kau ingat?” tanya Seokjin lagi.
Mata Soojung membesar. Memori itu seolah kembali lagi padanya saat ini, bagaimana ia sedang berjalan sendiri di suatu malam, baru pulang dari rumah temannya. Tiba-tiba ia didorong dengan sangat cepat ke tembok, lehernya dipegang. Soojung tidak bisa melawan karena ia seperti tidak dapat menggerakkan badannya. Lalu ia merasa lehernya digigit dan lagi, Soojung tidak bisa berteriak karena pita suaranya pun seperti tidak dapat bergerak. Lalu datang makhluk kedua, menggigit lengannya, menghisap darahnya.
Soojung menelan ludah. Memori itu memang meninggalkan trauma mendalam. “Aku digigit vampire.. yah mungkin darahku dihisap saat itu. Ada yang menggigit leher, sementara yang lainnya menggigit lenganku.”
Seokjin menggertakkan gigi. Yang dilakukan dua vampire saat itu pada Soojung memang merupakan kesalahan besar. Hal itu tak seharusnya dilakukan vampire, penyerangan tiba-tiba seperti itu hanya akan membuat manusia dan hunter semakin membenci vampire.
“Aku tidak dapat berteriak dan tidak dapat menggerakkan badan untuk melawan saat itu. Aku sangat bodoh.”
Seokjin menggeleng. “Bukan kau yang bodoh, Soojung…” ucap Seokjin akhirnya. Vampire pertama yang menyerang Soojung memiliki kemampuan untuk membekukan lawan sehingga tidak dapat bergerak beberapa menit.
“Aku merasa bodoh karena tidak ada yang mempercayaiku. Aku dikatakan mengalami kecelakaan diserempet mobil saat berjalan di trotoar.”
Seokjin tersenyum tipis. Malam itu, Seokjin melihat kejadian yang menimpa Soojung dan ia menyelamatkan Soojung dengan menyerang kedua vampire. Salah satu vampire ada yang luka parah akibat perbuatan Seokjin. Dan setelahnya, Seokjin membawa Soojung ke rumah sakit dan memanipulasi memori dokter dan polisi bahwa Soojung mengalami kecelakaan.
“Jadi, apa kau akan mempercayaiku?” tanya Soojung dengan mata cemas memandang Seokjin. Entah kenapa Soojung ingin sekali ada yang mempercayainya.
Seokjin memberi senyum pada Soojung. “Aku adalah guru sejarah… Aku sangat menghargai sejarah, aku pun menghargai pengalamanmu di masa lalu. Aku mempercayaimu, Soojung.”
Soojung menghela nafas, entah kenapa ada kelegaan di dadanya. “Aku berpikir saat itu aku akan berubah menjadi vampire. Jinjja.”
Seokjin menahan tawa mendengarnya. Lama-lama Seokjin menyadari bahwa Soojung sangat cute sekali. “Nyatanya kau masih manusia kan?”
Soojung mengangguk-angguk dan tersenyum. Tanpa sadar ia sudah mendapatkan sendiri jawaban dari rasa penasarannya. Digigit vampire tidak membuatmu berubah menjadi vampire. Jadi sepertinya ada hal lain yang menyebabkan manusia bisa berubah menjadi vampire.
“Pembicaraan mengenai vampire ini cukup menarik,” ujar Seokjin, “Tapi aku harap kau pun tertarik kalau aku membahas mengenai mata kuliah sejarah.”
Soojung tertawa lirih dan mengangguk-angguk. “Kita mungkin harus berhenti membicarakan vampire supaya nafsu makan tidak hilang, Mr. Kim.”
Seokjin tidak tersinggung mendengarnya malah ia memberi senyum lebar. “Itu baru semangat.”
Akhirnya keduanya pun membicarakan mengenai kelas Sejarah yang diajarkan Seokjin sambil minum dan makan snack pesanan mereka. Soojung merasa santai dan rileks, dia merasa lega sudah menceritakan beban masa lalunya pada Seokjin dan bahkan dosennya itu mempercayainya dengan tulus. Mungkin dosen Sejarah tidak buruk juga.
Saat sedang mengobrol seperti itu, hal yang tidak disangka-sangka terjadi. Kai dan dua temannya datang ke kafe itu. Kai begitu terkejut melihat kekasihnya sedang duduk bersama pria lain.
“Soojung?” ucap Kai setelah mendatangi meja itu dan menatap Soojung lalu Seokjin bergantian.
Mata Soojung membulat, tidak menyangka bisa bertemu Kai. Dia tidak sedang cheating, dia berpikir dia bisa menjelaskan pada Kai dengan lebih tenang.
“Kai…”
Kai memelototi Seokjin dengan penuh dendam. Ia tahu bahwa pria di depan Soojung itu adalah dosen di kampusnya. Kai pernah melihatnya ketika menunggu kelas Soojung usai. Ini sangat menjengkelkan hati Kai, karena selain dosen, Seokjin juga merupakan pria tampan dan berkelas.
“Jadi kau menolak ajakanku ke club karena pria ini?” tukas Kai pada Soojung.
Soojung mengernyit kesal, tudingan Kai itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Seokjin.
Kai menatap Seokjin dengan mencemooh. Hatinya semakin panas karena Seokjin juga membalas tatapannya, seolah menantangnya. Well, Seokjin memang menantangnya. Haruskah ia mengatakan bahwa Kai yang cheating dengan menggandeng wanita lain di belakang Soojung?
“Kai!” ucap Soojung marah mendengar tuduhan kekasihnya.
Seokjin mendengus pelan, ekspresinya tetap tenang. “Ini hanya kesalahpahaman.”
Kai tidak bisa mengontrol amarahnya, entah apa yang men-triggernya, mungkin karena ia merasa kalah tersaingi dari dosen itu. Kai langsung menarik kerah baju Seokjin dan memukul pipinya hingga Seokjin terjatuh ke lantai.
“Kai!!” protes Soojung begitu kaget Seokjin dipukul seperti itu.
Keributan tiba-tiba itu membuat tamu di sekitar meja menoleh ke arah mereka, bertanya-tanya drama apa yang tengah terjadi.
Soojung langsung mendekati Seokjin dengan cemas, melihat ujung bibir Seokjin yang berdarah. Soojung membantu pria itu untuk duduk.
Kai memelototi Soojung karena tak terima kekasihnya itu malah membantu Seokjin. Kai sudah ingin memukul lagi namun dua temannya menahan tangannya, mengingatkannya untuk tidak membuat keributan.
“Kau wanita bodoh, Soojung!” ejek Kai, “Apa kau semudah itu jalan bersama pria lain?”
Seokjin sudah akan memukul Kai, dia yakin dengan kekuatan vampire, pipi Kai bisa ia buat bonyok hanya dengan satu pukulan. Namun Soojung memegang pergelangan tangan Seokjin, menahannya. Soojung tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih dari ini. Kai memang kelewatan, tapi dia akan menyelesaikan masalahnya bukan di depan umum.
“Kajja, Kai…” tukas temannya, menarik tangan Kai lebih kencang. Keduanya membawa Kai pergi dari kafe itu. Dengan masalah yang sudah dibuat Kai ini, mereka memutuskan untuk pindah ke kafe lain.
Setelah akhirnya Kai pergi, Soojung dan Seokjin bangkit berdiri. Soojung menanyakan keadaan pria itu dengan kuatir. “Anda baik-baik saja, Mr. Kim?”
Seokjin mengangguk sambil memegang ujung bibirnya. “Ini hanya luka kecil.”
Soojung menggigit bibir, masih merasa gelisah dan sangat bersalah atas tindakan main hakim sendiri yang dibuat Kai.
“Mungkin sebaiknya kita pergi meninggalkan kafe ini?” tanya Seokjin menyadari kecemasan Soojung, apalagi orang-orang masih memperhatikan mereka.
Soojung mengangguk. Seokjin menepuk lengan wanita dan memberi senyum. “Sebentar aku akan membayar dulu baru kita pergi.”
“Anu.. biar aku saja yang membayarnya, Mr. Kim.”
Seokjin tersenyum lagi. “Lain waktu saja, Soojung.” Seokjin pun bangkit berdiri dan pergi untuk membayar.
Keduanya tidak berlama-lama di kafe itu karena insiden yang sudah dibuat Kai membuat Seokjin dan Soojung sudah tak nyaman duduk di dalam kafe.
“Aku minta maaf, Mr. Kim, karena ulah pacarku…” gumam Soojung saat keduanya sudah masuk ke dalam jeep. “Dia memang orang temperamen.”
Seokjin tersenyum tipis, bertanya-tanya jika demikian mengapa Soojung masih memacarinya.
“Apa Anda tidak apa-apa?” tanya Soojung, “Pukulan Kai tadi…”
“Ah gawenchana…” sahut Seokjin, ia memegang ujung mulutnya, darah sudah mengering.
Soojung mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya dan memberikannya pada dosennya itu. “Pakailah ini, untuk membersihkan luka.”
Seokjin mengangguk dan menuruti perkataan Soojung. “Kita tidak sempat makan ya jadinya.”
Soojung menggigit bibir. Dia tentu saja merasa bersalah, meski Kai yang berulah namun Soojung tidak tega mengapa Seokjin yang dipukuli. Padahal mereka tidak sedang kencan, hanya duduk bersama membicarakan vampire dan mata kuliah sejarah.
“Bagaimana kalau kita memesan makanan, Mr. Kim? Biarkan aku yang membayarnya sebagai bentuk permintaan maaf.”
Seokjin menoleh. “Memesan makanan?”
“Ki-kita bisa memesan drive thru McDonald…” ujar Soojung berharap idenya tidak terdengar murahan.
Senyum Seokjin mengembang. “Ide yang baik. Aku akan mengikuti idemu, Soojung.”
Soojung melipat bibir, menahan senyum. Akhirnya Seokjin menyetir dan membawa mereka ke McDonald terdekat dan memesan hamburger serta milkshake. Seokjin memarkir mobilnya di pinggir jalan dan mereka berdua pun makan hamburger di dalam mobil sambil mengobrol.
“Sudah berapa lama kau dan Kai pacaran?” tanya Seokjin.
“Um.. sudah hampir setengah tahun.”
Seokjin mengangguk-angguk, sudah cukup lama juga. Seokjin tidak terkejut jika Kai bisa memperlakukan Soojung seenaknya seperti tadi, menuduh dan menudingnya sebagai wanita gampangan. Seokjin merasa ucapan Kai sudah keterlaluan dan seharusnya Soojung tidak melanjutkan hubungan tak sehat demikian.
Setelah selesai makan, Seokjin mengantar Soojung ke rumahnya. Rumah Soojung berada di perumahan ternama, hanya rumah-rumah besar dan mahal yang berada di kawasan itu.
“Trimakasih, Mr. Kim, untuk hari ini. Maaf kalau saya merepotkan Anda hari ini.”
“Tidak masalah, Soojung.”
Wanita itu memberi senyum. “Saya permisi kalau begitu, trimakasih atas tumpangannya.”
Soojung keluar dari mobil, berlari kecil menuju rumahnya. Entah kenapa hati Soojung terasa ringan, kebersamaannya dengan dosen itu cukup menyenangkan. Seokjin mudah diajak bicara dan sangat perhatian, namun tetap gentle dan sopan, tidak melakukan hal-hal yang dilakukan pria hidung belang. Soojung merasakan ketulusan dalam diri Seokjin.
Sementara itu di dalam mobil, Seokjin mengetuk-ngetuk stir mobil dengan riang. Masih terngiang wajah dan senyum wanita itu…
Seokjin tersenyum sendiri, ada apa dengannya ya, mengapa ia menyukai menghabiskan waktu seperti ini dengan Soojung?
🎃🎃
author senang sama Krystal Jung dan merasa perannya(?) akan cocok di novel ini.
Hehe ini hanya fiksi ya, mengenai hubungan Kai dan Soojung di novel ini, meski mereka itu mantan di dunia nyata 🤭 dan sepertinya kalau dilihat dari alur, keduanya juga akan menjadi mantan di novel ini🤣
Jangan lupa berikan dukungan yahh. thanks💜