
🧸🧸
Sekitar jam setengah tiga subuh, mobil telah sampai di lokasi. Suasana masih gelap jadi pantai tidak kelihatan sama sekali berhubung pantai ini pun adalah pantai lokal, bukan pantai wisata, tak ada lampu penerangan disana.
Taehyung sudah melepaskan seat belt dan ingin keluar mobil karena sudah mendengar deru ombak, sangat excited untuk lebih dekat dengan pantai, tapi Jungkook menahan lengannya.
“Kita bisa tidur dulu sebentar sampai menunggu matahari terbit,” kata Jungkook, “Keluar seperti ini terlalu dingin, Tae.”
“Ohh, oke.” Sepertinya Taehyung terlalu bersemangat di perjalanan pertamanya ini sampai tak menyadari bahwa sekarang masih subuh.
Jungkook menguap lebar. Ia memasang alarm di ponselnya di pukul setengah 6 pagi, waktu yang tepat untuk melihat matahari terbit. “Kita masih ada waktu sekitar 3 jam. Kita bisa tidur dulu.”
Taehyung mengangguk. Masing-masing dari mereka mengenakan mantel untuk bisa tidur dengan nyaman. Perjalanan ini memang sederhana karena Jungkook tidak mempersiapkan apapun. Dia langsung saja ingin pergi tanpa membawa perlengkapan. Begitu spontannya karena Jungkook merasa Taehyung perlu mendapat ‘healing’ sejenak dari kondisi beberapa bulan terakhir.
“Wah ada bintang…” gumam Taehyung polos saat bisa melihat bintang yang bertaburan di langit dari posisi bangku mobil yang sudah ditidurkan.
Jungkook menoleh dan tersenyum. Sepertinya Taehyung menyukai melihat pemandangan-pemandangan baru seperti ini ya.
Keduanya pun akhirnya tertidur karena memang sudah sangat mengantuk. Tepat jam setengah enam pagi alarm ponsel Jungkook berdering kencang. Taehyung yang terbangun lebih dulu, Jungkook belum bangun karena memang dia bukan morning person. Taehyung mengucek wajah, ia terkesima saat melihat pemandangan pagi hari di depannya, melihat matahari terbit di laut.
“Jungkook..” Taehyung mengguncang-guncangkan bahu Jungkook supaya bangun. Manusia itu akhirnya terbangun, masih setengah sadar dan mematikan alarm di ponselnya.
“Oh sudah pagi…” ucap Jungkook dengan suara serak. Taehyung mengangguk semangat sudah tak sabar untuk keluar dan menikmati pemandangan indah lebih dekat.
Keduanya keluar dari mobil, udara sebenarnya sangat dingin menyengat tapi itu tidak melunturkan semangat Taehyung. Mulutnya membuka dengan takjub melihat cakrawala yang begitu indah, melihat sinar mentari yang perlahan-lahan muncul. Jungkook sudah menggandeng kamera di tangannya, dia pun takkan melewatkan kesenangannya dalam fotografi.
“Wah indahnya…” gumam Taehyung saat mereka sudah berdiri di pinggir pantai, tidak cukup dekat dari ombak yang menjilat-jilat ke pinggir pantai karena mereka sama sekali tidak membawa baju ganti, lagipula airnya pasti dingin sekali.
Taehyung menghirup udara dalam-dalam, seolah-olah ia ini manusia yang butuh bernafas. Tapi rasanya segar sekali, jiwanya sangat ringan hanya melihat pemandangan sepele yang sebenarnya bisa ia lihat setiap pagi. Mungkin suasana yang berbeda ini membuat lain, mereka di pantai dan Taehyung merasa seperti sedang disembuhkan lewat trip kecil ini.
Jungkook tersenyum sambil memoto cakrawala. Pemandangan yang indah ini layak untuk didokumentasikan, tidak sia-sia ia menyetir semalam-malaman. Pemandangan pagi ini sudah mutlak indah, hasil foto yang ia ambil sangat bagus tanpa perlu filter sana-sini lagi.
Jungkook juga sesekali mengarahkan kameranya ke arah Taehyung, memoto vampire itu yang sedang menikmati terbitnya sang mentari. Taehyung memang sangat fotogenic, dia bagus saat difoto meski sedang tidak sadar sekalipun.
Setelah beberapa saat akhirnya Jungkook berhenti memoto, hanya menikmati tanpa kata pemandangan ini : matahari yang bersinar, langit biru, ombak yang berdebur dengan indahnya. Tak ada kata-kata yang bisa diucapkan.
Keduanya duduk di bangku kayu di pinggir pantai sementara matahari terus mulai naik dan orang-orang mulai bermunculan untuk beraktivitas.
“Jungkook, kau tahu tidak, saat aku trauma memilih menyembunyikan diriku dan membiarkan kepribadian baru yang muncul, hanya terbersit di pikiranku untuk hidup baru dengan nama baru, yaitu Taehyung.” gumam Taehyung bercerita. “Aku mengendalikan pikiranku dan memastikan kepribadianku yang baru menganggap dirinya bernama Taehyung.”
“Hmm.. Kenapa kau menamai dirimu dengan Taehyung?” tanya Jungkook pelan.
“Karena… karena yang terpikirkan olehku adalah thaeyang (\=dalam bahasa korea artinya matahari). Setelah sekian lama dikurung, akhirnya aku melihat sinar matahari yang terbiaskan dari jendela, hanya itu yang terpikir olehku. Dan kuberi namaku Taehyung.”
“Kau tau, Tae, kalau arti nama Taehyung adalah semua keinginan akan terwujud,” kata Jungkook, “Itu nama yang sangat baik.”
Taehyung memberi senyum, merasa lega mendengar penuturan Jungkook. “Saat itu aku sedang menolak diriku yang merupakan vampire mutan, aku menyangkali diriku dan membiarkan karakter baru muncul untuk menyembunyikan ketakutan dan trauma yang kualami. Aku ingin menjalani hidup yang normal, yang sederhana. Karakter Taehyung yang innocent sangat cocok untuk hal itu bukan? Selama lima tahun aku membiarkan saja dia yang menjalani hidup, tak peduli sekalipun Taehyung tidak punya teman, tak peduli saat orang-orang menyakiti dan membulinya. Karena aku sendiri merasa itulah salah satu cara untuk menyembunyikan diriku.”
Jungkook memegang bahu Taehyung, memijitnya pelan berusaha memberikan support. Pasti sangat kompleks dan berat kejadian saat itu untuk Taehyung.
“Sampai akhirnya Taehyung sangat menginginkan perubahan dalam hidupnya.” Taehyung tertawa pelan. “Dia menginginkan teman sejati. Dia terlalu naif sampai tidak menyadari penolakan-penolakan yang dia terima di sekolah lamanya karena betapa berbedanya karakternya dengan kehidupan modern ini. Dan hingga Taehyung bertemu denganmu dan Jimin.”
“Percayalah, Tae, kalau hidupku pun berubah setelah bertemu denganmu. Aku mengatakan ini dalam artian yang baik ya.”
Taehyung tersenyum penuh nostalgia. “Awalnya aku meremehkan keinginan Taehyung itu, menganggap kalau dia pasti gagal lagi dalam mendapatkan teman. Tapi aku tak sangka usaha kerasnya berbuahkan hasil, persis seperti arti nama yang kau katakan. Keinginannya terwujud. Dia benar-benar mendapatkan teman sejati, well, meski harus melewati banyak pengorbanan dan luka.”
Jungkook terkekeh, mengingat kenangan masa lalu itu sekarang membuatnya tersenyum dan tertawa. Lika-liku yang panjang tapi mengantarkan mereka untuk menjadi sehati seperti sekarang.
“Mulanya aku menolak dan merasa aku hidup untuk diriku sendiri saja, tapi setelah melalui banyak hal aku menyadari bahwa orang-orang di sekitarku yang membuatku kuat. Aku sangat beruntung.”
“Apa sekarang kau sudah rileks, Tae?” tanya Jungkook, “Aku mengajakmu pergi ke tempat ini karena aku ingin kau bisa refreshing. Begitu banyak hal terjadi menguras emosi dan mental, aku tahu itu berat bagimu meski kau adalah vampire. Aku ingin menolongmu walau dengan cara simple seperti ini. Aku berharap kau bisa melepas bebanmu dan tidak berpikir bahwa kau sedang membahayakan clan atau orang-orang yang menyayangimu.”
Taehyung tersenyum. “Gomawo, Jungkook. Aku tidak pernah travelling sebelumnya dan aku tak menyangka kalau ini memberi efek besar bagiku. Ini seperti healer, jiwaku menjadi lebih ringan, Kook.”
Jungkook membalas dengan senyum dan menepuk kepala vampire itu. “Aku senang mendengarnya, meski semua ini mendadak dan maaf karena aku tidak mempersiapkan apapun.”
“Haha it’s okay. Kau tahu kalau aku adalah vampire, aku tidak manja.”
Jungkook tertawa. Bersamaan dengan itu ponsel Taehyung berdering, keduanya langsung mendadak terdiam. Ini semacam gangguan yang tidak diinginkan apalagi entah siapa yang menelepon, berharap itu bukan manusia pengacau yang tidak diharapkan.
Taehyung mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya. Rahangnya mengeras saat melihat nama penelepon yakni big bos sindikat. Jungkook pun kembali frustasi, bisa-bisanya Dongwook menelepon di pagi seperti ini bahkan tepat mengganggu momen yang sudah baik ini.
Taehyung tidak mengatakan apa-apa. Ia mereject panggilan itu dan dengan segera ia memblokir nomor Dongwook supaya pria itu tidak bisa menghubunginya lagi. Taehyung melakukan seperti harapan Jungkook : memblokir nomor Big Bos sindikat.
“Aku sudah memblokirnya.” ucap Taehyung seolah melapor pada Jungkook yang masih tercengang. Jelas Jungkook memang melihatnya.
Keduanya masih duduk di sana menikmati pagi hari yang indah. Taehyung merasa dirinya seperti di-charge kembali, dia merasa stres di dalam dirinya sudah hilang. Ia mulai mempercayai dirinya bukanlah monster, dia percaya bahwa hidupnya bukan sebatas sebagai monster… tapi masih banyak hal lain yang bisa ia lakukan, dan banyak orang-orang yang menerima serta menyayanginya. Taehyung belajar untuk fokus memikirkan hal yang positif. Ia pun akan berusaha melindungi orang-orang di sekitarnya.
Setelah dari pantai mereka pergi ke restoran sederhana untuk sarapan. Sebenarnya hanya kedai kecil penduduk lokal. Namun tidak disangka kualitas makanannya sangat enak.
Mereka memesan bibimbap, sup sosis serta kimchi jjim. Tampaknya menu biasa tapi rasanya sangat lezat sampai mengena ke hati.
“Uhh, ini enak sekali~” gumam Taehyung tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Aku tak menyangka kita menemukan tempat ini. Padahal tadi aku pasrah saja karena jujur aku pun belum pernah datang ke daerah ini.” Jungkook tertawa kecil. Ia pun makan dengan nikmat. Kedai ini cukup ramai oleh nelayan atau pedagang yang mampir untuk sarapan sebelum atau setelah pulang bekerja.
“Apa mungkin kita saja yang terlalu lapar ya?”
Taehyung menggeleng dan tertawa. “Tapi ini memang enak. Aku menyukai semua makanannya.”
Jungkook mengangguk, bersyukur karena Taehyung tampak bersemangat. Setidaknya perjalanan ini tidak zonk, tidak gagal, untunglah… padahal Jungkook sudah cemas semalam bahwa usahanya akan sia-sia untuk membuat Taehyung rileks.
Setelah sarapan mereka berjalan-jalan di pesisir pantai, menikmati bagaimana berjalan di atas pasir tanpa alas kaki. Tak henti-hentinya Taehyung tersenyum lebar. Jungkook merasa dia sedang melihat diri Vincent yang sesungguhnya… yang sebetulnya innocent dan ceria seperti ini. Kini Jungkook tahu apa yang menjadi obat untuk membuat Taehyung rileks dan bersemangat. Semua permasalahan dan kekuatiran mengenai sindikat pun sirna.
Saat hampir tengah hari, mereka memutuskan untuk pulang meski sebenarnya berberat hati. Tapi perjalanan masih cukup jauh jadi mereka harus pulang sekarang supaya tiba sebelum malam.
“Jungkook, gomawo…” gumam Taehyung tersenyum panjang saat di perjalanan, “Thank you so much karena mengajakku ke tempat yang sangat indah. Aku merasa sangat rileks dan jiwaku ringan.”
“Syukur kalau kau menyukainya. Walau sebetulnya aku kurang persiapan, Tae, seharusnya aku bisa memberikan yang lebih baik.”
“Kau terus mengatakannya…” ucap Taehyung berdecak, “Ini sudah sangat bagus dan aku sangat menyukainya! Kau tidak boleh menentang pendapatku kali ini.”
Jungkook mengekeh. “Arraseo, arraseo.”
Mereka sempat mampir di restoran untuk makan siang. Keduanya tiba di kediaman Kim Brothers sebelum jam makan malam. Tepat sekali saat Yoongi baru saja selesai membuat makan malam.
Hoseok bisa merasakan perubahan atmosfer di dalam diri Taehyung. Vampire itu tidak lagi membawa aura yang mengintimidasi dan aura dingin. Hoseok memandang Jungkook dengan kagum, apa yang sudah dilakukan Jungkook sampai membuat Taehyung berubah seperti ini??
“Perjalanannya menyenangkan?” tanya Yoongi tersenyum menyambut kepulangan Taehyung dan Jungkook.
“Sangat.” sahut Taehyung tak ragu lagi.
“Uwaw…” ucap Namjoon terkesima. Jarang sekali ia melihat Vincent seperti ini.
“Very good.” kata Seokjin. Ia menepuk bahu Jungkook penuh terimakasih.
“Aku tidak meragukan Jeon Jungkook…” ucap Yoongi mengedip pada Jungkook.
Jungkook menggaruk tengkuk dengan malu karena dipuji seperti ini padahal dia merasa tidak melakukan sesuatu yang besar. Dia hanya punya ide untuk membawa Taehyung ke pantai.
“Kau ikut makan saja bersama kami.” kata Seokjin.
“Kurasa aku harus pulang saja karena sudah sejak kemarin aku–“
Ucapan Jungkook terpotong karena Taehyung sudah menarik lengannya untuk bergabung di meja makan. Setidaknya Jungkook harus pulang dengan perut yang sudah terisi supaya nanti saat sampai rumah Jungkook bisa tinggal mandi dan beristirahat.
Akhirnya Jungkook pun ikut makan malam di kediaman Kim Brothers sebelum Taehyung mengomelinya.
Hari itu adalah hari menyenangkan. Taehyung mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa ia mau sembuh dari traumanya. Ia tidak akan menyia-nyiakan usaha dan pengorbanan yang sudah dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Dia akan bangkit. Meski hidupnya sekarang adalah sebagai vampire tapi dia akan berusaha menjalaninya dengan bahagia. Dia tidak akan membiarkan sindikat menghancurkan hidupnya lagi.
**
Dongwook menatap layar ponselnya dengan smirk dingin, menyadari bahwa nomornya sudah diblokir oleh Taehyung. Ia sudah tidak dapat menghubungi nomor vampire itu lagi.
Dongwook menjilat bibir dengan ekspresi licik. “Jadi kau ingin aku menggunakan cara kasar?” bisiknya berkata-kata sendiri.
Dongwook melempar ponselnya ke meja. Ia berjalan menuju jendela penthousenya yang besar, melihat keindahan city light Seoul di malam hari.
Dongwook berusaha mengulur waktu, memberi kesempatan untuk Taehyung datang sendiri padanya tanpa pemaksaan, dengan cara damai. Namun kalau kondisinya sudah seperti ini, Dongwook bisa habis kesabaran juga. Sepertinya ia harus menggunakan cara khusus supaya vampire itu mengerti dan mau kembali padanya.
Dongwook memberi smirk. Saatnya baginya untuk menjalankan pion Raja. Selama ini ia menjalankan pion prajurit dan benteng yang sepertinya tidak ada gunanya. Saatnya ia memberi skakmat untuk vampire itu.
“Kita lihat saja, Kim Taehyung, apa kau masih bisa menolakku.”
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca 🐾🐾