Vampire In The City

Vampire In The City
Kobaran Kebencian (Special Chapter - V's Birthday)



Happy birthday Kim Taehyung 🥰



Selamat membaca✨


Sementara itu Hoseok dan Jimin masih berada di dalam mobil, dengan waspada mengawasi sekitar. Keduanya cukup tegang karena menyadari di tempat ini didatangi hunter yang juga ingin menyampaikan belasungkawa atas kematian Donghyuk. Hoseok dan Jimin hanya berharap semua berjalan baik-baik saja, tak perlu identitas mereka terbongkar.


“Seperti apa paman Jungkook itu, Jimin?” tanya Hoseok, “Kudengar dia merupakan hunter ya?”


Jimin mengangguk. “Yap. Aku selalu mencemaskan Taehyung takut identitasnya terbongkar oleh paman Jungkook sendiri. Tapi paman Jungkook adalah orang sangat baik meski ia merupakan hunter. Dia memperlakukanku dan Taehyung dengan sangat baik.”


Hoseok mengangguk-angguk paham. “Pasti berat untuk Jungkook dan kakaknya mengetahui paman mereka mati karena bunuh diri.”


“Yeah…” Jimin meringis merasa tak percaya hal itu bisa terjadi pada Donghyuk. “Menyayat urat nadinya sendiri di ruang kerja… itu membuat siapapun sangat syok.”


Hoseok baru akan berkomentar lagi saat matanya melihat kedatangan beberapa mobil mewah ke kawasan ini. Matanya menyipit untuk melihat lebih baik dengan mata vampirenya. Tiba-tiba mata Hoseok membesar. “The hell!!”


“Wae?” tanya Jimin heran.


“Itu pasti mobil-mobil sindikat.” tukas Hoseok dengan raut wajah 100 kali sangat serius. Matanya masih dengan waspada mengawasi mobil-mobil itu yang sedang diparkir. “Sepertinya big bos gila itu juga datang.”


Jimin sangat tercengang sekaligus takut. “Ba-bagaimana ini? Kalau dia melihat Taehyung atau yang lain.. aku takut mereka dalam bahaya.”


“Aku tidak akan kaget kalau big boss itu tahu bahwa Jungkook adalah keponakan dari Donghyuk.” tukas Hoseok. Vampire itu buru-buru memakai kaca mata hitam dan topi. “Jimin, kau tetap disini, aku harus masuk dan memberitahu mereka.”


“Tapi aku ingin ikut.”


“Andwae.” elak Hoseok tegas. “Kau sudah pernah diculik oleh mereka. Para mafia itu pasti akan langsung menyadari keberadaanmu dan kau bisa dalam bahaya.”


Jimin meringis. Hoseok memang benar dan Jimin tak dapat menentangnya, bagaimanapun dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana.


“Kunci pintu saat aku keluar, Chim.” ucap Hoseok lalu dengan segera bergegas keluar dari mobil. Ia setengah berlari menuju ke dalam. Ia tidak ingin ada pembantaian atau pertumpahan darah di tempat berkabung ini. Perasaan Soojung dan Jungkook yang berduka adalah prioritas utama.


Seokjin langsung menoleh saat menyadari kehadiran Hoseok. Ia begitu cemas mengapa Hoseok pun datang ke tempat ini padahal ada hunter yang berkeliaran.


“Darurat.” bisik Hoseok pada sang Alpha. Dan sebisa mungkin Hoseok mengabaikan tatapan intens Namjoon di sisi lain ruangan, heran mengapa Hoseok masuk ke tempat yang berbahaya ini.


“Orang-orang sindikat baru saja tiba.” lanjut Hoseok membuat wajah Seokjin berubah tegang.


Bagaimana ini… Seokjin sangat kuatir akan keselamatan Taehyung dan yang lainnya. Ia tidak mau mengambil resiko, dia tidak akan membiarkan anggota clannya diculik lagi oleh sindikat.


“Mana Taehyung dan Jungkook?” tanya Hoseok mengernyit.


“Mereka ada di halaman belakang,” kata Seokjin, “Hoseok, kau bawa mereka pergi dari tempat ini melalui pintu yang tidak akan dilalui sindikat. Aku tidak ingin Dongwook melihat Taehyung.”


Hoseok mengangguk mengerti. Tanpa diminta dua kali Hoseok langsung bergegas pergi menuju halaman belakang untuk menemui Taehyung, Jungkook dan Yoongi. Namjoon melihat kepergian Hoseok dengan semakin mengernyit. Ia belum mengerti sebenarnya apa yang terjadi.


Sementara itu di halaman belakang, beberapa saat sebelumnya, Taehyung membawa Jungkook untuk duduk di bangku taman. Soulmatenya itu butuh udara segar untuk menghilangkan kepenatannya.


“Apa kau bahkan sudah makan?” tanya Taehyung cemas.


Jungkook hanya menggeleng. Dia tidak ingat harus mengisi perutnya yang lapar.


“Aku yakin pamanku bukan bunuh diri, Tae.”


Taehyung terdiam dan memandang Jungkook. Masalahnya mereka tidak punya bukti, kepolisian saja sudah menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan bunuh diri, bagaimana Jungkook bisa menyanggahnya ke pengadilan?


“Aku yakin sindikat kotor itu ada kaitannya dengan semua ini.” Mata Jungkook basah. Sedih dan amarah sudah bercampur aduk menjadi satu.


Taehyung melihat bagaimana tekad di mata Jungkook itu. Ia bisa merasakan bahwa kebencian Jungkook hanya akan semakin besar, apalagi jika memang benar sindikat ada dalang di balik kematian pamannya. Taehyung pun sangat ingin menghancurkan sindikat menjadi bubuk sampai tak bersisa. Dia tidak ingin melihat Jungkook seperti ini. Dan Taehyung kembali teringat pada pembicaraan mereka semalam, Jungkook bersedia diubah menjadi vampire untuk bisa menghancurkan sindikat.


Beberapa saat kemudian Hoseok mendatangi mereka. Yoongi menatap Hoseok dengan heran dan sedikit marah padahal tadi ia sudah menyuruh Hoseok tetap di dalam mobil.


“Ini gawat.” ucap Hoseok menoleh pada Yoongi yang masih mengernyit padanya.


Baik Taehyung dan Jungkook pun menoleh pada Hoseok, ada apa lagi sekarang.


Hoseok menelan ludah. “Kalian harus segera pergi dari tempat ini. Rombongan sindikat baru saja datang.”


Mata Taehyung membola. Seketika bulu kuduknya langsung berdiri apabila membayangkan sindikat ada disini untuk menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Taehyung tidak mau menginjakkan kaki kembali ke sindikat. Ia pun tidak mau sindikat melakukan penyanderaan seperti sebelumnya.


Jungkook langsung bangkit berdiri. Alis mengerut marah. “Apa yang mau mereka lakukan disini! Aku tidak mengijinkan mereka datang.”


Yoongi mengeraskan rahang. Para sindikat kotor itu tidak seharusnya datang, mereka merupakan tamu yang sangat tak diundang apalagi setelah yang mereka lakukan kepada Soojung, Jimin dan Taehyung. Wajar saja kalau Jungkook marah apalagi ini merupakan hari perkabungan pamannya.


Taehyung masih duduk sambil menggigit bibir keras-keras. Bagaimana ini.


Hoseok tersenyum tipis. “Kau tahu kalau sindikat bekerja sama dengan departemen hunter. Mereka pasti datang untuk berbelasungkawa.”


“Aku sudah bilang jika aku bertemu dengan Dongwook aku akan membunuhnya!” tukas Jungkook marah.


“Saat ini bukan yang tepat,” ucap Yoongi, “Sebaiknya kalian berdua masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat ini.”


“Mwo? Apa maksud–“


“Kita tidak tahu apa yang bisa ia lakukan jika melihat Taehyung disini.” potong Yoongi tegas. “Kau pun tentunya tidak mau Taehyung dibawa kembali ke sindikat bukan?”


Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat. Sial… dia merasa ingin mengoyak sesuatu. Tidak bisakah ia menuntut sindikat atas apa yang sudah mereka lakukan pada Taehyung, pada kakaknya, dan pada Jimin? Betapa tidak adilnya dunia ini. Sangat mengerikan. Organisasi seperti sindikat itu sudah seharusnya didakwa atas berbagai tindakan kriminal.


Jungkook menoleh melihat Taehyung yang berekspresi serba salah. Yoongi benar, entah apa yang bisa dilakukan sindikat jika melihat Taehyung berada di tempat ini. Taehyung dianggap sebagai tawanan yang melarikan diri, hell, Taehyung merupakan korban disini!


“Ayolah…” gumam Hoseok memelas karena sudah tak ada banyak waktu, “Kalian harus pergi dari sini lewat pintu lain yang tidak dilewati sindikat.”


Jungkook harus menahan kemarahan dan kebenciannya sekarang. Dia yang merupakan anggota keluarga yang berduka bahkan harus angkat kaki dari sini demi menghindari orang-orang menjijikkan dari sindikat.


Taehyung mengangkat wajah dan menatap Jungkook. Alisnya mengernyit cemas. Meski vampire memiliki kekuatan sekalipun namun jelas mereka akan kalah jumlah. Di tempat ini ada para hunter dan para mafia. Apalagi tempat ini pun merupakan tempat umum.


“Kajja, Tae…” ujar Jungkook akhirnya. Ia memegang tangan Taehyung dan membawanya segera pergi melalui pintu belakang. Jungkook berharap dengan sangat, kakak perempuannya yang masih di dalam baik-baik saja. Ia percaya Seokjin akan melakukan apapun untuk menjadi kekasihnya.


Yoongi dan Hoseok pun mengikuti Jungkook dan Taehyung kembali ke tempat parkir melalui pintu belakang.


Jungkook tidak akan biarkan soulmatenya ditemukan oleh Dongwook dan para mafia lagi. Ia akan menunggu sampai saatnya nanti ia siap melawan orang-orang itu dengan tangannya sendiri.


Taehyung yang ditarik pergi oleh Jungkook, menurut saja. Ia tidak ingin ada yang tersakiti lagi apalagi dalam suasana duka seperti ini.


Jimin yang berada di dalam mobil langsung membuka kunci saat melihat kedatangan Jungkook, Taehyung, Yoongi dan Hoseok. Jimin sedikit lega karena mereka tidak perlu berpapasan dengan rombongan Dongwook dan mafianya yang masuk melalui pintu utama.


Jimin menoleh ke seat belakang melihat Jungkook dan Taehyung yang baru saja masuk. Yoongi juga langsung masuk dan duduk di depan bersama Jimin, bersiap menstarter mobil.


“Mereka sudah masuk?” tanya Yoongi tenang. Hoseok masih di luar mobil. Ia memutuskan akan menunggu Seokjin, Namjoon dan Soojung.


Jimin mengangguk. “Dongwook dikelilingi bodyguard mafianya masuk ke dalam.”


Jungkook mengepalkan tangan kuat-kuat. Ada rasa ingin meludah ke wajah Dongwook atas apa yang sudah pernah dilakukannya pada Taehyung. Taehyung memegang lengan Jungkook, berusaha menenangkan. Saat ini bukan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.


“Kita akan pulang.” sahut Yoongi. Dhampir itu menoleh pada Hoseok. “Kau akan menunggu mereka?”


Hoseok mengangguk.


“Berhati-hati, oke?” ujar Yoongi serius pada Hoseok, tidak menginginkan terjadi sesuatu pada Hoseok di tempat ini.


“Tenang saja, aku akan menjaga diriku. Mungkin hanya aku yang identitasnya belum diketahui sindikat.” sahut Hoseok dengan senyum.


“Segera kabari jika terjadi sesuatu.” sahut Jimin pada vampire itu. “Telepon kami ya~!”


Hoseok mengangguk dan melambaikan tangan pada mobil yang mulai bergerak melaju meninggalkan lokasi.


“I’m sorry, Kook…” gumam Taehyung beberapa saat kemudian. Ia merasa bersalah dengan kondisi yang terjadi. Seharusnya Jungkook masih di tempat duka, seharusnya ini menjadi hari perkabungan yang tenang. Tapi semuanya rusak karena kedatangan sindikat.


Jungkook menoleh. “It’s okay, Tae…” ucapnya. “Ini yang terbaik. Kalau aku masih di sana dan melihat Dongwook mungkin aku tak bisa mengendalikan diriku lagi.”


Taehyung tersenyum getir. Ia bisa merasakan bagaimana soulmatenya masih terbakar dengan api emosi dan dendam. Saat ini Jungkook merasa seperti orang lemah yang tak dapat berbuat apa-apa, tak punya kekuatan melawan.


Taehyung menggigit bibir, teringat kembali dengan pembicaraan semalam, bagaimana tekad Jungkook ingin diubah menjadi vampire supaya bisa melawan Dongwook dan mafianya.


Jungkook melihat ke luar jendela. Bagaimanapun Jungkook merasa hidupnya takkan pernah tenang jika Dongwook dan sindikat masih berkeliaran. Jungkook sangat berharap suatu saat nanti takdir memihaknya untuk ketidakadilan yang selama ini ia dan Taehyung alami.


“Aku berharap Seokjin Hyung tidak dalam bahaya.” ujar Jimin. Ia tak dapat membayangkan apa yang sedang terjadi di sana, menurutmu apa sang Alpha masih bisa mengendalikan diri saat bertemu Dongwook? Bagaimana Dongwook merupakan dalang atas penculikan Soojung dan Taehyung.


“Dia Alpha. Dia tahu apa yang harus ia perbuat.” ujar Yoongi. Namun kedua tangan meremas setir kuat-kuat, mencemaskan apa yang terjadi di tempat duka.


.


.


Dongwook masuk ke dalam ruang duka tempat mendiang Donghyuk dikremasi. Seperti biasa ia berpenampilan classy dan expensive, coat bulu hitamnya menjuntai megah di bahunya, beserta dengan kacamata hitam Gucci yang dipakai. Ada 8 orang mafia yang mengawalnya.


Dongwook berjalan dengan smirk terpampang di wajahnya seolah ia tidak sedang datang ke tempat perkabungan. Ia sudah menanti-nanti ingin bertemu dengan kakak beradik Jeon. Ia juga ingin bertemu dengan Taehyung, berharap vampire itu ada juga disini. Jika beruntung, Dongwook akan menangkap ziti-nya kembali, takkan peduli jika harus meluluhlantakkan tempat ini.


Pria itu menjilat bibir saat hanya melihat Soojung yang berdiri di samping pria bertubuh jangkung. Dongwook memiringkan kepala, merasa figur itu begitu familiar. Bukankah dia merupakan vampire gila yang mengacak-acak kantornya?


Semua seperti puzzle yang kini mulai lengkap. Dongwook memikir-mikirkan bahwa nyatanya Soojung punya hubungan khusus dengan vampire? Cih, sama seperti Jungkook yang memihak pada vampire?


Rahang Seokjin mengeras saat ia merasakan Dongwook mendekati mereka. Seokjin berjanji jika Dongwook berbuat macam-macam di tempat duka ini, Seokjin tidak akan segan-segan lagi.


Dongwook membuka kacamatanya, smirk semakin panjang. “Aku tak menyangka ketua hunter yang hebat akan mati seperti ini.”


Soojung memicingkan mata melirik Dongwook. Melihat pria itu saja, Soojung sudah ingin mencakar.


Di kejauhan Namjoon memantau mereka, mengawasi juga gerak gerik mafia dan hunter yang ada di dalam ruangan ini. Damn, ia berharap tidak terjadi serangan. Meski sebagai vampire ia punya kekuatan sekalipun, tapi tetap saja situasi mereka bagaikan domba yang masuk ke dalam kawanan serigala.


“Lebih terhormat mati karena vampire bukan, dibandingkan bunuh diri?” tukas Dongwook setengah meledek. Ia melirik ekspresi lawannya. Oh betapa Dongwook memang ingin memancing peperangan.


Karena tidak ada sahutan, Dongwook menambahkan dengan suara pelan. “Sama seperti orangtuamu. Bukankah mati terhormat karena dibunuh vampire?”


Soojung hanya menunduk. Ia pun sebisa mungkin tidak ingin terpancing kemarahan. Dongwook datang ke tempat ini dengan selusin mafia. Soojung tidak ingin kekasihnya berada dalam bahaya, ia juga tidak ingin merusak peristirahatan pamannya.


Perkataan Dongwook tentu saja membuat Soojung sangat sakit hati. Memang Dongwook siapa sampai mengungkit kematian orangtuanya? Mengatakannya begitu saja seolah tidak menghormati mereka sama sekali.


Dongwook terkekeh pelan, menikmati pergolakan emosi vampire dan manusia di depannya. Ia melihat ke sekeliling. “Mana Jungkook? Aku tak melihatnya.”


Baik Soojung dan Seokjin tidak mengatakan apa-apa. Heck, mereka akan menganggap Dongwook adalah lalat, tamu tak diundang!


Dongwook mengulum mulut, semakin yakin bahwa Jungkook tidak ada disini. Ini aneh, apa Jungkook tidak datang? Padahal Dongwook ingin mengatakan nistaan untuk Jungkook mengenai pertarungan di kandang sindikat. Dongwook ingin juga mengolok dan memancing amarah manusia itu.


Di sini pun tidak ada tanda-tanda kemunculan Taehyung. Dongwook sangat kecewa sekali. Padahal kalau saja ia melihat kehadiran ziti-nya sedikit saja, Dongwook akan langsung mengerahkan semua mafianya menangkap Taehyung. Dongwook sudah habis kesabaran, dia ingin kembali meminum darah ziti-nya untuk mendapatkan energi awet muda.


Dongwook mendengus pelan. “Apa si Jungkook itu masih sekarat? Menyedihkan, ternyata dia selemah itu.”


Tangan Seokjin sudah akan bergerak untuk meninju, namun lagi-lagi Soojung menahannya. Soojung tidak akan membiarkan Seokjin melakukannya, lihatlah, mafia-mafia di dekat Dongwook yang memicingkan mata pada Seokjin. Sepertinya mereka siap akan langsung menembak mati Seokjin jika Seokjin berani mengangkat tangan untuk memukul bos mereka.


“You can go and **** yourself!” tukas Soojung berani. Ia tak bisa menahan diri lagi. Suaranya yang keras dan sarat kemarahan bahkan terdengar oleh tamu lain di dalam ruangan itu. Nona cantik ini bisa juga bermulut pedas.


Dongwook tersenyum mencela. Tidak menyangka bahwa wanita itu berani juga mengatainya, sangat mirip sekali dengan Jungkook.


“Kukira pengalaman akan membuatmu belajar, Nona.” tukas Dongwook pelan mengingatkan Soojung bagaimana wanita itu pernah menjadi sandera sindikat.


Soojung sudah tidak tahan dengan keberadaan Dongwook. Ia mengambil air minum di atas meja dan langsung menyiramkannya ke wajah Big Bos sindikat. Dia melakukannya dengan cepat hingga bahkan para mafia yang mengawal Dongwook tak sempat untuk mencegah.


Dongwook tercengang parah saat dirinya disiram. Ini menginjak-injak harga dirinya di depan publik. Seokjin pun sama tercengangnya, padahal tadi Soojung yang paling tenang dan berusaha tak terpancing… Seokjin merasa kekasihnya 100 kali lebih hot ketika agresif seperti ini. Di sisi ruangan lain pun Namjoon terbelalak dan berbisik, “Daebak.”


“Aku sudah bilang kau sebaiknya pergi!!” sentak Soojung. Suara menggelegar, membiarkan setiap orang mendengar ucapannya. “Aku tidak ingin orang sepertimu ada di tempat ini. Kau hanya akan membuat suasana menjadi rusak! Pergi!!”


Para mafia sudah akan maju untuk memberi pelajaran pada wanita tak tahu diuntung itu. Namun Dongwook mengangkat tangan menyuruh anak buahnya untuk tidak perlu melakukan apapun. Dongwook tidak ingin citra dirinya rusak dengan melakukan serangan pada keponakan ketua hunter. Di tempat ini beberapa hunter datang. Ucapan Soojung itu sudah pasti akan membuat orang-orang penasaran mengapa keponakan Donghyuk sampai mengusir big bos sindikat yang notabene merupakan sponsor departemen hunter?


Walau sebenarnya Dongwook merasa citra dirinya sudah rusak karena ucapan Soojung itu, untuk kali ini ia akan menahan diri. Tujuan utamanya adalah mendapatkan zitinya kembali. Dendamnya sudah terbalas dengan menghabisi Donghyuk, si pengkhianat yang sudah membantu zitinya lepas, entah karena alasan apa. Dongwook hanya curiga kalau Donghyuk memang sudah mengenal Taehyung sebagai teman dari Jungkook sehingga akhirnya memilih untuk membantu Taehyung kabur dari markas sindikat.


Cih, setidaknya pria itu sudah dibereskan.


Dongwook menyeka baju mahalnya yang basah terkena air. “Kau sangat galak seperti hyena. Mungkin kau terlalu banyak salah bergaul, Nona.” Dongwook mengerlingkan mata pada Seokjin.


Seokjin tahu maksud perkataan Dongwook itu. Jika saja bisa, Seokjin ingin menyentuh Dongwook dan memanipulasi pikirannya, membuatnya menjadi idiot dan tidak mengingat apapun mengenai sindikat maupun tentang Taehyung. Seokjin ingin memanipulasi pikiran Dongwook dan membuatnya hanya mengingat makan, tidur dan pup, seperti hewan. Tapi Seokjin tak dapat melakukannya dengan banyaknya pengawalan yang diterima Dongwook. Seokjin mungkin akan langsung diserang saat baru menyentuh big bos itu sedikit saja.


Dongwook pun berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak mengatakan salam perpisahan pada mendiang Donghyuk karena big bos itu memang tidak merasa tergugah sama sekali dengan kematian Donghyuk.


Dongwook pergi keluar diikuti oleh para mafia yang mengawalnya. Mendadak ruangan itu seolah menjadi sangat sepi. Mungkin kedatangan orang-orang itulah yang membuat suasana menjadi sesak.


Namjoon bisa lega sekarang melihat kepergian mereka.


“Oh my God, Soojung…” ucap Seokjin masih terpesona dengan apa yang sudah dilakukan kekasihnya. Ia tidak tahu kalau kekasihnya bisa seperti hyena saat diusik?


Mata Soojung masih sarat akan kemarahan, mata setengah berkaca-kaca. “Para penjahat itu akan hancur. Jika bukan karena sedang perkabungan, aku mungkin sudah mencakarnya.”


“Oh baby…” ucap Seokjin menahan senyum dan memeluk wanita itu dengan erat. Tadi Seokjin pun menahan diri. Mungkin akan tiba saatnya nanti mereka bisa melawan sindikat dan menghancurkannya sampai bubuk. Seokjin berharap langit mengabulkan permintaannya ini.


**


Jungkook akhirnya tertidur. Manusia itu pasti kelelahan dan kurang tidur, tak hanya lelah secara fisik tapi juga secara emosional. Kedatangan Dongwook ke rumah duka bukanlah yang diharapkan malahan itu sangat merusak suasana hati Jeon Jungkook.


Taehyung mengusap rambut Jungkook yang sudah tertidur di pangkuannya. Dalam moment of silence ini Taehyung mengingat kembali tekat Jungkook ingin menghancurkan sindikat. Taehyung tidak ingin hidup Jungkook rusak karena benci dan dendam, namun sindikat memang sangat mengesalkan sampai ubun-ubun. Bukankah mereka juga sudah melakukan hal jahat pada Jungkook, memaksa Jungkook bertarung dengan vampire di kandang? Taehyung tidak mau Jungkook merasa dirinya adalah manusia lemah sampai meminta untuk diubah menjadi vampire. Taehyung akan mencari cara lain untuk menghancurkan sindikat tanpa perlu mengubah Jungkook menjadi vampire.


Dengan perlahan Taehyung memindahkan kepala Jungkook ke atas bantal, memastikannya tidur dan berbaring dengan nyaman.


Taehyung pun berjalan ke luar kamar menuju ruang tengah. Beberapa saat yang lalu ia mendengar kedatangan Seokjin, Soojung, Namjoon serta Hoseok. Taehyung sangat lega karena mereka berempat baik-baik saja. Sepertinya tidak terjadi hal menegangkan bersama Dongwook?


Jimin dan Yoongi sudah berada di ruang tengah, sudah menanti kedatangan rombongan Seokjin. Seokjin, Soojung, Namjoon dan Hoseok masuk ke dalam rumah. Mereka tampak baik-baik saja. Hoseok bahkan memberikan cengiran pada Jimin dan Yoongi.


Taehyung duduk di sofa menatap Alpha. Ia berharap sang Alpha tidak berinteraksi dengan Dongwook karena betapa pria itu penuh dengan tipu muslihat.


“Kalian bertemu Dongwook?” tanya Yoongi lugas.


Seokjin mengangguk. “Kurasa kedatangannya ke rumah duka bukan untuk berbelasungkawa. Mulutnya sangat lihai untuk menyakiti orang.”


Soojung menghela nafas. Dirinya sudah lelah dan tidak ada minat mengingat kejadian tadi siang. Wanita itu menyenderkan kepala ke bahu Seokjin.


“Apa yang dikatakannya?” tanya Jimin mengernyit cemas.


“Well, perkataan yang tak pantas diucapkan ketika sedang berkabung.” sahut Seokjin.


“Tapi Soojung keren sekali membuat Dongwook sampai tak berkutik.” sahut Namjoon semangat.


“Apa yang dilakukannya?” tanya Yoongi ingin tahu.


Namjoon berdiri dan mulai memperagakan kembali adegan tadi siang. Dia berkata, “You can go and **** yourself!! Begitu katanya.”


Hoseok bertepuk tangan dan tertawa. Meski ia sudah mendengar cerita ini di mobil tapi masih membuatnya sangat excited jika membayangkan realnya.


“Daebak!” sahut Jimin memberi jempol pada Soojung.


Soojung memutar bola mata. “Pria itu tidak tahu malu, benar-benar kriminal.”


Yoongi memberi senyum dan Taehyung pun sangat tercengang dengan keberanian Soojung. Sepertinya sifat Soojung dan Jungkook sangat mirip ya jika bereaksi terhadap musuh.


“Bukan hanya itu,” lanjut Namjoon, “Soojung menyiram air ke wajah big bos itu dan memaki : Aku tidak ingin orang sepertimu ada di tempat ini. Pergi! Aku bilang pergi!!”


Jimin tercengang dramatis sampai menutup dengan tangan mulutnya yang terbuka takjub. “Savage..”


“Aku sudah bersiap akan memanggil petir jika para mafia itu berusaha menyerang..” kata Namjoon, “Tapi sepertinya Dongwook tidak ingin memperpanjang karena berada di tempat umum. Mereka pun pergi.”


“Untung Jungkook tidak melihatnya, adikku mungkin akan menghajarnya di sana kalau mendengar ucapan pria itu.” tukas Soojung. Ah ngomong-ngomong mengenai Jungkook, ia belum melihat adiknya. Soojung melihat ke arah Taehyung. “Mana Jungkook?”


“Dia tidur…” sahut Taehyung.


Soojung mengangguk. “Dia butuh banyak istirahat.”


“Kau juga…” kata Seokjin sambil memegang bahu kekasihnya. Soojung memberi senyum simpul.


“Kalian bisa beristirahat dulu, aku akan menyiapkan makan malam.” kata Yoongi sambil bangkit berdiri.


“Aku bantu.” ucap Jimin dan Hoseok berbarengan.


Yoongi tersenyum dan mengangguk pada keduanya. Mereka bertiga pergi ke dapur, Seokjin dan Soojung pun sudah pergi ke kamarnya, tersisa Namjoon dan Taehyung disitu.


“Kalian tidak diikuti ke sini kan?” tanya Taehyung masih sedikit cemas. Dia masih sedikit paranoid, takut sindikat melakukan penculikan lagi pada anggota clan dan temannya.


Namjoon tersenyum sambil menggeleng. “Kami sudah pastikan tidak ada yang mengikuti kami. Untunglah kau dan Jungkook tadi langsung pergi. Kurasa Dongwook mencari kemunculanmu di rumah duka.”


Taehyung tersenyum tipis. “Sepertinya Dongwook tahu kalau paman Jungkook yang menyelamatkanku.”


Namjoon menaikkan sebelah alis bingung. “Apa maksudmu, Tae?”


“Saat aku berusaha kabur dari markas sindikat, aku berpapasan dengan paman Jungkook. Dan ia memberikan kartu elektronik untuk aku bisa keluar dari markas.”


Mata Namjoon membola terkejut. Dia baru mendengarnya. “Jinjja? Dia menyelamatkanmu? Kau memberitahu Jungkook?”


Taehyung memberi anggukan. “Itu sebabnya aku dan Jungkook sangat sedih dengan berita kematian ini. Masing-masing kami belum sempat berterimakasih padanya.”


Itu pasti sangat menyesakkan dada, pikir Namjoon. “Jadi menurutmu Dongwook tahu kalau yang melepaskanmu adalah paman Jungkook?”


“Markas sindikat pasti dilengkapi dengan kamera pengawas. Mereka tentu melihat bahwa Donghyuk lah yang melepasku.”


Namjoon menelan ludah. Dia menghubungkan setiap dot demi dot di benaknya. Kalau begitu apa jangan-jangan kematian Donghyuk bukan karena bunuh diri? Bisa saja sindikat yang menghabisinya setelah tahu Donghyuk melepas Taehyung dari markas sindikat.


Namjoon dan Taehyung saling bertatap-tatapan. Pikiran keduanya sama namun tidak berani mengungkapkannya karena betapa sensitifnya masalah ini bagi keluarga Jeon. Jika memang benar Jeon Donghyuk dibunuh oleh sindikat maka ini hanya akan menambah kebencian Jungkook dan Soojung.


Tiba-tiba Taehyung merasakan sesuatu. Perasaannya saat ini tidak enak, seolah tiba-tiba diliputi rasa marah dan sedih. Taehyung menyadari kalau yang ia rasakan ini merupakan emosi dari soulmatenya. Taehyung harus mengecek Jungkook apa soulmatenya itu sudah bangun dan mengapa emosinya sudah terasa seperti ini.


“Hyung, aku harus mengecek Jungkook dulu…” ujar Taehyung. Namjoon memberi anggukan dan Taehyung langsung bergegas ke kamarnya untuk melihat apa Jungkook sudah bangun atau hanya sedang bermimpi buruk.


Taehyung masuk ke dalam kamar. Ia tercengang saat melihat Jungkook sudah duduk bangun di tempat tidur, tengah menatap ponsel. Wajahnya mengeras dan lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya, menunjukkan Jungkook saat ini benar-benar terbakar api kemarahan.


“Bastard…” tukas Jungkook pelan masih melihat sesuatu di ponsel. Matanya merah dan basah akibat tak dapat menahan amarah.


“Jungkook, wae?” tanya Taehyung cemas dan cepat-cepat mendekati Jungkook. Apa soulmatenya tengah mendapat pesan ancaman dari Dongwook?


Jungkook tidak mengatakan apa-apa karena ia langsung menangis marah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis terisak-isak. Ponsel ia lempar di atas kasur.


Taehyung sangat panik melihat Jungkook yang seperti ini. Dengan penasaran Taehyung langsung meraih ponsel itu dan melihat apa yang sebenarnya barusan Jungkook baca. Taehyung tercengang saat melihat kiriman email dari almarhum Donghyuk pada Jungkook. Isi email itu mengenai fakta kematian orangtua Jungkook dan Soojung. Yang walau memang mati dibunuh vampire tapi semua itu kesengajaan. Sindikat sendiri yang merencanakannya supaya sepasang suami istri itu tewas mengenaskan di ruang vampire yang dikurung.


“Aku akan membunuh mereka.” isak Jungkook. Giginya gemertakan karena marah. “Aku akan membunuh mereka tak peduli nyawa taruhannya.”


“Jungkook…” ucap Taehyung pedih. Dia sangat prihatin untuk apa yang sudah menimpa soulmatenya. Kenyataan ini pasti sangat berat untuk diterima Jungkook.


“Pamanku bukan mati bunuh diri, Tae!” tukas Jungkook berderai air mata. “Aku yakin ia pun dibunuh! Sama seperti orangtuaku yang dibunuh!”


Jungkook keluar dari tempat tidur. Dirinya seperti kerasukan sesuatu dan ingin membunuh Dongwook sekarang juga. “Seharusnya tadi aku tetap di ruang duka dan bertemu bajingan itu. Seharusnya aku membunuhnya.”


Taehyung langsung menahan badan Jungkook yang sudah akan pergi. Dengan setengah menangis Taehyung memohon, “Andwae, Kook. Jebal..”


“Aku harus membunuhnya!”


🎃🎃


tekat Jungkook hanya semakin kuat dan kuat untuk menghancurkan sindikat