Vampire In The City

Vampire In The City
Jadilah temanku!




Pagi itu Seokjin mengendarai jeep wrangler-nya, membawanya menuju kampus tempat ia akan bekerja. Ia juga mengantar Taehyung dan Namjoon karena mereka berada di kampus yang sama. Selama di perjalanan, Seokjin berceloteh bahwa semuanya sudah tersiapkan dengan baik. Seokjin sudah memanipulasi memori teman sekelas Namjoon dan Taehyung. Para manusia tidak akan ingat kapan Taehyung dan Namjoon bergabung menjadi mahasiswa disitu. Demikian pula para dosen. Taehyung ada di tahun pertama, sementara Namjoon di tahun ketiga. Keduanya berbeda jurusan.


Sedangkan Seokjin akan menjadi dosen mata kuliah Sejarah. Baik identitas dan semua materi sudah ia siapkan dengan baik. Vampire satu ini sangat pintar dan jeli, mungkin karena sudah merasakan perjalanan hidup dari masa ke masa.


Mereka bertiga sudah menggunakan lensa kontak yang disiapkan Yoongi. Lensa kontak dengan warna mata manusia normal untuk menutupi mata vampire mereka. Masing-masing pun sudah menyiapkan topi, jaga-jaga jika mereka tidak kuat berlama-lama di bawah terpaan sinar matahari.


“Aku berharap hidup kita disini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” tutur Seokjin sambil memutar stirnya untuk parkir, “Kita diijinkan untuk berteman tapi tetap berhati-hati menjaga identitas diri kita. Kita tidak tahu jangan-jangan ada hunter di sekitar kita.”


“Apa di kampus ini ada vampire juga selain kita?” tanya Namjoon.


Jeep sudah terparkir dengan mulus, mesin pun sudah mati, namun ketiganya masih berada di dalam.


“Ada beberapa…” sahut Seokjin, “Tapi lebih baik kita tidak perlu mendekatkan diri pada vampire di kampus ini. Pengalaman selalu membuktikan bahwa itu hanya akan mengundang hunter menemukan kita.”


“Taehyung, apa kau gugup?” tanya Seokjin dengan senyum lembut, memandang Taehyung yang sejak tadi memandang ke luar dengan mata membesar.


Taehyung hanya menggigit bibir dan Namjoon yang duduk di sebelahnya, merangkul pundaknya. “Dunia mahasiswa lebih menyenangkan daripada sekolah. Kau pasti akan menyukainya, Tae.”


“Sebagai vampire kita mempunyai indra pendengaran yang sangat tajam,” kata Seokjin, “Kita harus berpura-pura bahwa kita tidak memilikinya. Dan jangan lupa bernafaslah seperti manusia.”


Namjoon menarik nafas dan membuangnya. Ia harus biasa melakukan ini atau orang-orang akan menganggapnya zombie.


“Besok aku akan ke kampus menggunakan motor,” ucap Namjoon, “Taehyung, apa besok kau mau pergi bersamaku atau dengan Seokjin Hyung?”


Taehyung memberikan senyum masam. Dia tidak suka menaiki motor apalagi Namjoon mengendarainya seperti kesetanan. “Aku akan bersama Seokjin Hyung.”


“Oke kalau begitu.” sahut Namjoon sambil mengedikkan bahu.


Ketiganya pun keluar dari jeep. Taehyung mengeratkan tas di punggungnya. Dia masih berdebar-debar bagaimana perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa di kampus ini. Taehyung hanya berharap dia bisa mendapatkan teman di hari pertamanya ini, untuk membuatnya tidak terlalu awkward.


Seokjin mencium bau vampire di udara. Ia membalikkan badannya dan melihat ada 2 vampire berjalan mendekati mereka. Rahang Seokjin mengeras saat melihat Woobin dan Xiumin. Mereka dari clan Cha.


“Ohoho, lihat siapa yang datang…” ucap Woobin memberi smirk dan memandang Seokjin dengan mata berkilat.


“Seokjin sang alpha…” tukas Xiumin membungkukkan badan dengan mencemooh, “Sudah lama.”


Reflek Namjoon langsung berdiri di depan Taehyung, berusaha melindungi anggota termuda di clan mereka. Namjoon tahu Woobin dan Xiumin, bisa dibilang mereka vampire pembuat onar, kadang juga berani mengganggu manusia.


“Tak kusangka kalian pun disini sebagai mahasiswa?” tanya Seokjin berusaha berbicara dengan tenang. Mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang mencolok di sini, itu hanya akan membangkitkan kecurigaan pada masyarakat awam.


“Kulihat kau punya anggota baru?” tukas Woobin sambil melirik seseorang di balik badan Namjoon, “Bayi vampire? Cih.”


Seokjin menggeram. Nyaris taringnya akan keluar dengan reflek karena ucapan Woobin itu. “Urusi urusanmu.”


Taehyung yang berada di belakang Namjoon hanya bisa menggigit bibir. Dia tidak suka situasi seperti ini. Dia berharap clan-nya bisa hidup dengan tenang di Seoul.


“Tidak usah repot-repot, kami akan mengurusi urusan kami.” ujar Woobin. Ia mengangkat salah satu tangan ke udara dan berbalik pergi bersama Xiumin.


“Aish, kenapa Woobin dan Xiumin ada di kampus ini.” tukas Namjoon sebal.


“Aku sudah memastikan teman sekelas kalian tidak ada yang vampire.” ujar Seokjin, “Mungkin ada vampire di jurusan yang sama dengan kalian tapi kecil kemungkinannya untuk kalian sekelas.”


“Arraseo,” sahut Namjoon, “Tae, kajja, aku akan mengantarmu ke kelas pertamamu.”


Taehyung menggeleng. “Tidak perlu. A-aku akan mencari kelasku sendiri.”


“Tapi ini pertama kalinya kau sebagai mahasiswa, aku takut kau akan bingung.”


Taehyung menggeleng lebih tegas pada Namjoon. Kedua hyungnya ini selalu menganggapnya sebagai bayi. Dia mungkin memang bayi vampire, tapi di ukuran manusia dia adalah pria dewasa. Namjoon yang ingin mengantarnya ke kelas pertamanya seperti orangtua yang mengantar anaknya ke kelas playgroup. Dan Taehyung tidak mau terlalu mencolok. Dia dan Namjoon berada di jurusan yang berbeda, ia tidak mau orang-orang bertanya-tanya hubungan di antara mereka.


Seokjin memberi anggukan pada Namjoon, menyuruhnya untuk tidak memaksa Taehyung. “Jadwal mata kuliahnya dibawa kan?”


Taehyung merogoh saku celananya dan menunjukkan sebuah kertas yang merupakan jadwalnya. “Aku pergi dulu, Hyung~!!”


“Semoga kau mendapatkan teman pertamamu, Taetae!” ucap Namjoon memberi senyum dengan lesung pipi.


Taehyung menghembuskan nafas keras-keras. Ia tidak tahu apa ia bisa langsung mendapatkan teman di hari pertama. Taehyung pun berjalan meninggalkan kedua hyungnya. Matanya menunduk menatap jadwal itu, melihat kelas pertamanya adalah Chemistry berada di gedung sayap barat lantai 3.


Taehyung berusaha menyemangati dirinya sendiri. Dia belum pernah menjadi mahasiswa dan berjalan di kampus seperti ini membuatnya cemas. Sebenarnya dia excited karena para hyungnya mengatakan bahwa dunia kampus lebih baik dibandingkan sekolah. Tapi tidak dipungkiri ketakutan Taehyung bahwa mungkin tidak akan ada manusia yang tertarik berteman dengannya.


.


.


.


Jeon Jungkook duduk di bangkunya. Headphone wireless bertengger di telinganya dengan playlist kesukaannya sebelum memulai kelas pertama pagi ini. Ia sedang doodling di buku catatan, menggambar sketsa monster vampire yang menyeramkan.


Bosannya menunggu dosen yang belum datang juga. Jungkook meletakkan pensilnya di meja, sudah tak minat lagi menggambar. Matanya tak sengaja melihat seseorang yang baru saja memasuki ruangan kelas. Rambutnya coklat dan garis wajahnya sempurna.


Jungkook sedikit mengerucutkan hidungnya saat melihat pria itu memakai pakaian jumpsuit cream seperti anak-anak dengan inner shirt berwarna hijau. Ugh, warna dan penampilan yang sangat mencolok untuk ukuran seorang mahasiswa.


Jungkook memiringkan wajahnya. Apa dia baru pertama kali melihat mahasiswa itu? Tapi seperti ada memori tersembunyi di benaknya yang mengatakan bahwa pria itu memang sudah menjadi teman sekelasnya sejak semula.


Taehyung masuk ke dalam kelas dengan mata membola, penuh kekaguman melihat ruangan kelas yang jauh lebih luas dibandingkan saat ia masih menjadi pelajar, melihat orang-orang yang sedang mengobrol, baginya tampak begitu keren. Para manusia di ruangan ini tampak lebih dewasa dibandingkan dengan anak-anak sekolahan.


Taehyung mulai tersenyum sendiri. Sepertinya situasi akan jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang ia datangi sebelumnya?


Tiba-tiba ada yang menyandung kaki Taehyung membuatnya terkejut dan langsung terjatuh ke lantai. Untuk vampire ini tidak akan sakit, namun tetap saja Taehyung merasakan rasa sakit yang lain saat ia mendengar tawa beberapa manusia.


Taehyung mengangkat wajahnya dan melihat dua pria yang tadi menyandung kakinya itu memberi senyum mencemooh pada Taehyung. Seokjin sudah memanipulasi memori orang-orang yang sekelas dengan Taehyung sehingga berpikiran Taehyung telah bergabung di perkuliahan sejak awal.


Taehyung bangkit berdiri dan hanya menunduk, cepat-cepat menghindar sebelum ia dikerjai seperti di sekolah sebelumnya. Ternyata manusia di ruangan ini sama saja dengan teman-teman sekolahnya.


Jungkook melihat kejadian itu. Teman-teman sekelasnya itu lagi-lagi mempraktikkan diri seolah mereka lebih superior sehingga bisa melakukan hal-hal demikian pada orang lain yang dianggap lebih lemah.


Mata Taehyung menangkap tatapan Jungkook. Ia berjalan mendekati orang itu sambil berusaha lebih tegar. “Apa aku boleh duduk di situ?” Taehyung menunjuk bangku di sebelah Jungkook yang kosong.


Sebetulnya Jungkook tidak pernah mengijinkan orang lain duduk di sampingnya. Tasnya lebih berharga untuk menduduki bangku itu. Namun melihat puppy eyes yang ditunjukkan Taehyung, Jungkook tak bisa menolaknya. Ia akan merasa menjadi pendosa jika ia menolak permintaan itu.


Jungkook mengangguk pelan membuat Taehyung tersenyum lebar sambil berkata ‘yes’ kecil.


Taehyung pun duduk di sebelah Jungkook. Wajahnya tampak bersemangat seperti itu hanya karena bisa duduk di sebelah teman sekelasnya.


Dosen akhirnya masuk kelas dan mata kuliah Chemistry pun dimulai. Jungkook berusaha fokus mendengar dosen meski sesekali pria di sebelahnya banyak bertanya perihal mata kuliah ini. Jungkook jadi heran sendiri kenapa seolah pria di sebelahnya ini seorang mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa? Tapi di memori Jungkook tersimpan bahwa pria itu memang teman sekelasnya sejak awal.


“Oh iya, kita belum berkenalan, siapa namamu?” tanya Taehyung pelan setelah ia menanyakan beberapa istilah yang diucapkan dosen pada Jungkook.


Jungkook memandang Taehyung skeptis. Oh, dia tidak berniat untuk berteman dengan siapapun di ruangan ini. Jika Taehyung menanyakannya mengenai mata kuliah, Jungkook mau menjawabnya tapi untuk pertemanan.. tentu saja tidak.


Jungkook hanya membuang muka dan menggeser jauh badannya dari Taehyung, menunjukkan secara terang-terangan apa yang menjadi jawaban pertanyaan Taehyung itu.


Taehyung mempoutkan bibir. Sepertinya dia gagal kembali untuk mendapatkan teman. Di sisa mata kuliah itu pun Taehyung memilih untuk terdiam, tidak ingin mengganggu Jungkook lagi.


Mata kuliah pertama selesai. Taehyung melihat kertas jadwalnya dan ternyata mata kuliah berikutnya masih dua jam lagi. Ugh sial, masih cukup lama. Sekarang bagaimana, dia harus melakukan apa sambil menunggu?


Di sebelahnya, Jungkook tampak sedang membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa berkata apa-apa Jungkook langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Taehyung.


Melihat kepergiannya, Taehyung pun buru-buru memasukkan buku dan alat tulisnya. Dia tidak tahu akan kemana, tapi dia memutuskan akan mengikuti teman sebangkunya itu.


Taehyung mengikuti Jungkook sambil tetap menjaga jarak, supaya tidak ketahuan sudah mengikuti. Dunia perkuliahan sangat baru bagi Taehyung. Di hari pertamanya seperti ini dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa seperti mahasiswa pada umumnya. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti Jungkook sambil menggigit kuku, antara bingung dan cemas.


Jungkook menghela nafas. Ia bertanya-tanya kenapa murid aneh itu mengikutinya begini. Jungkook dengan jelas menyadari bahwa mahasiswa yang memakai jumpsuit itu mengikutinya. Tentu saja dari ujung mata Jungkook bisa menyadarinya, bagaimana warna hijau mencolok yang dikenakan Taehyung itu tertangkap matanya.


Tapi Jungkook tidak mau ambil pusing. Ia meneruskan langkahnya memasuki ruang gymnasium. Salah satu hal yang ia lakukan ketika menunggu kelas berikutnya adalah berolahraga. Di gymnasium ini banyak peralatan yang bisa membantu mahasiswa berolahraga, bahkan ada peralatan gym juga.


Taehyung kembali terpukau saat memasuki ruang gymnasium. Ruangan ini sangat besar dan banyak mahasiswa berolahraga di sini, ada yang berlari mengelilingi gymnasium, ada yang lompat tali, ada yang bersepeda, atau sekedar duduk bersantai di bangku-bangku kosong yang disediakan.


Jika Yoongi dan Namjoon mengatakan bahwa dunia perkuliahan jauh berbeda dengan sekolah, Taehyung rasanya sangat setuju. Ini di luar dari ekspektasinya. Atau mungkin karena ia biasa sekolah di pinggir kota, melihat penampakan yang berbeda ini membuat mulutnya membuka.


Jungkook menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Taehyung sedang memandangi sekeliling seperti orang kampungan. Jungkook jadi bertanya-tanya apa orang itu bahkan belum pernah memasuki gymnasium. Jungkook tidak peduli, dan ia memilih duduk menyendiri, menaruh tasnya, menimang apa yang akan ia lakukan disini. Dia ingin berolahraga tapi tidak mau terlalu berkeringat karena masih ada kelas yang harus ia ikuti. Apa ia push up saja ya.


Mata Jungkook kembali melihat ke arah Taehyung. Seorang mahasiswa melempar kaleng softdrink ke depan Taehyung.


“Hey, anak kecil, tolong buangkan sampah itu.” tukasnya semena-mena.


Jungkook memandang mereka. Lagi-lagi perilaku tak terpuji seperti ini. Jungkook mencelos karena Taehyung bahkan memberi anggukan sopan dan menuruti perkataan orang yang menindasnya.


“Dia mahasiswa dari kampung mana,” tukas yang lain mengejek, “Penampilannya kuno sekali.”


“Dia mungkin bisa kita jadikan pembantu di kampus ini. Kita suruh ini itu.”


Suara mereka itu terdengar sampai ke telinga Jungkook. Betapa tidak tahu malunya orang-orang itu menunjukkan diri mereka yang sangat menjijikkan dalam memperlakukan sesama manusia. Jungkook berusaha mengingatkan dirinya untuk tidak perlu peduli, tidak perlu mengurusi hidup orang lain. Namun matanya masih belum bisa berpaling. Dan ia langsung berdiri kesal saat melihat mahasiswa yang lain melempar kaleng sofdrink ke kepala Taehyung, sisa air di dalam kaleng itu membasahi sebagian wajah dan pakaiannya.


Taehyung berdiri membeku di sana, tidak berani menatap siapapun. Dia sedang di-bully, bahkan di hari pertama di kampus ini yang ia harap semua berjalan lebih baik dibandingkan sebelumnya?


“Buangkan sampah itu,” tukas lelaki yang tadi melempar kaleng, “Lalu pergi ke kantin dan belikan kami 5 kaleng minuman yang sama.”


Jungkook menggeram kesal. Dia tak tahan sudah. Ia mengambil tasnya dan langsung mendatangi orang-orang itu. Ia berdiri di depan Taehyung dan memelototi para pembully itu.


Para mahasiswa yang tadi mengerjai Taehyung langsung ciut saat melihat Jeon Jungkook. Mereka seangkatan dan tidak ada yang berani mengganggu Jungkook karena mahasiswa itu hebat dalam boxing. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa karena menyangka orang yang mereka ganggu adalah teman dari Jeon Jungkook.


Taehyung berdiri bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sampai Jungkook akhirnya berjalan pergi namun beberapa langkah langsung berhenti dan menoleh pada Taehyung. “Kajja!”


Meski bingung, Taehyung mendapatkan tanda bahwa Jungkook minta dia mengikutinya. Taehyung pun buru-buru mengekori Jungkook kembali. Mereka keluar meninggalkan gymnasium.


Jungkook berjalan menuju kantin, membiarkan Taehyung mengikutinya di belakang. Jungkook berjalan menuju meja yang agak jauh dari keramaian. Ia menaruh tasnya disitu dan duduk sambil menghela nafas keras. Sial, sejak kapan dia berlagak menjadi superhero seperti ini.


Taehyung berdiri di dekat meja, menggigit bibir dan hanya bisa menunduk. Tidak berani ikut duduk karena teman sekelasnya itu belum tentu menginginkan kehadirannya.


“Ya, duduklah.” tukas Jungkook pelan.


Wajah Taehyung seketika berubah berbinar. Wajah mendungnya tadi sudah berubah 180 derajat. Ia pun duduk di hadapan Jungkook, memberi senyum sebaik mungkin. Dia bahkan ditawari langsung, dia tidak perlu menawari dirinya seperti di sekolah sebelumnya.


Jungkook memandang Taehyung dari atas sampai bawah, menatapnya sambil menaikkan sebelah alis. Tentu saja penampilan Taehyung itu akan membuat siapapun ingin membulinya. Maksudku, di jaman modern ini apalagi di antara mahasiswa Seoul, sudah tidak ada yang berpenampilan seperti itu. Jujur saja, pakaian Taehyung itu seperti dari era 90-an, sangat ketinggalan jaman.


“Apa kita akan makan?” tanya Taehyung hati-hati, seolah tidak ingin suaranya membuat Jungkook menyesali keberadaannya disini.


“Yeah, yeah…” ucap Jungkook malas-malasan, tidak tahu harus bagaimana lagi. Jungkook pun bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat makanan. Taehyung mengikutinya.


“Aku yang akan menraktirmu…” bisik Taehyung pelan di belakang Jungkook saat mereka sedang mengambil makanan.


Jungkook mendengus, meragukan kalau mahasiswa seperti Taehyung bisa melakukannya.


Taehyung mengambil daging, sosis serta seafood. Ia bergumam-gumam riang sambil menyendokkan banyak daging ke piringnya. Dalam hati Jungkook geleng-geleng, sepertinya Taehyung penyuka daging, lihatlah banyaknya daging yang ia ambil.


Saat di kasir, Taehyung menghentikan Jungkook yang akan mengeluarkan dompet. “Biar aku saja yang bayar, Chi-Chingu…” ucapnya lebih hati-hati saat mengatakan chingu.


Jungkook berhenti mengeluarkan dompetnya dan berdiri menghadap Taehyung, seolah menantangnya apa mahasiswa berpenampilan kuno ini sungguh-sungguh bisa mentraktirnya.


Taehyung mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada pihak kasir. Mata Jungkook membesar, Taehyung menggunakan kartu untuk membayar! For your information, kartu itu bukan kartu kredit, itu kartu yang memang berisi uang elektronik di dalamnya.


Setelah mengucapkan terimakasih, Taehyung memasukkan kembali kartunya. Ia mengerling pada Jungkook yang masih terbengong. “Kajja…”


Saat kembali di meja dan mereka mulai makan, Jungkook masih penasaran dengan apa yang terjadi. Dia berasal dari keluarga yang sangat mampu, namun Jungkook belum diijinkan memiliki kartu seperti itu. Kakaknya sudah memilikinya namun Jungkook sendiri belum memilikinya. Dia masih mendapatkan uang cash dari pamannya.


“Orangtuamu memberikanmu kartu sebagai uang jajan?” ucap Jungkook pada akhirnya.


Wajah Taehyung mendongak dan ia sangat excited karena sudah mendapatkan pertanyaan. “Hyung pertamaku yang memberikannya. Aku tinggal dengan para hyungku.”


“Oh wow…” komentar Jungkook. Sepertinya penampilan bisa menipu. Mahasiswa di depannya ini ternyata cukup tajir kalau begitu, yah meski penampilannya sedikit kampungan.


“Apa kau tadi mengenal orang-orang yang di gymnasium?” tanya Taehyung. Dia selalu mempoutkan mulutnya kalau sedang makan. “Tadi aku bingung apa aku harus membelikan minuman untuk teman-temanmu atau tidak.”


“Mereka bukan temanku.” sahut Jungkook datar. Bagaimana mungkin orang ini begitu polosnya dan kalau Jungkook tidak di sana mungkin Taehyung benar-benar akan menjadi suruhan para mahasiswa tidak bertanggungjawab itu.


“Ohh…” sahut Taehyung. Ia menggigit bibir, memikirkan apa yang lagi yang harus ia katakan supaya obrolan mereka tidak berhenti begitu saja.


“Kau tidak tinggal dengan orangtuamu?” tanya Jungkook membuat Taehyung terkejut dari lamunannya.


“Oh, aku tidak memiliki orangtua, aku tinggal dengan 3 hyungku.” jawab Taehyung polos.


Jungkook berhenti makan. Sepertinya dirinya sama dengan Taehyung, sudah tidak memiliki orangtua lagi. Jungkook bertanya-tanya apakah orangtua Taehyung juga mati karena…


Jungkook menepis pemikirannya. Bodoh sekali jika ia menanyakan hal itu.


“Aku juga hanya tinggal dengan paman dan kakak perempuanku…” ucap Jungkook akhirnya.


“Yeay, kita sama…”


Jungkook tersenyum tipis, bagaimana mungkin Taehyung mengucapkannya dengan ceria, seolah itu bukan sesuatu yang pahit.


Mereka selesai makan dan masih duduk di sana untuk menunggu kelas berikutnya. Jungkook tidak tertarik untuk banyak berbicara karena dia selalu berpikir tidak mau bergaul dengan orang lain. Taehyung pun hanya bisa duduk dengan kikuk, tidak berani membuka obrolan takut malah membuat Jungkook menyuruhnya pergi.


Jungkook mengeluarkan ponsel dan membuka apa yang bisa dilihatnya, twitter, naver atau beberapa pesan di line. Jungkook jarang chat di ponselnya namun ada beberapa grup obrolan yang ia miliki, seperti grup boxing dan grup olahraga. Jungkook hanya membukanya, membaca obrolan di dalamnya dengan tak minat.


Taehyung melihat Jungkook yang sedang asyik dengan ponselnya itu. Tiba-tiba terbersit suatu ide di benaknya. “Kau juga punya ponsel?”


Jungkook mengangkat wajah. “Uh, iya?”


Taehyung memberi senyum lebar. Ia mengeluarkan juga ponsel miliknya. “Bagaimana kalau kita bertukar nomor?”


Jungkook tersenyum hambar. Ingin sekali ia mengatakan untuk apa ia mau melakukannya. Namun lagi-lagi ia tidak tega, wajah Taehyung itu seperti anjing yang baru diusir pemiliknya.


Okayyyy, hanya bertukar nomor mungkin tidak masalah, lagipula ia tidak akan membalas pesan jika Taehyung melakukannya.


Taehyung sangat senang ketika akhirnya keduanya bertukaran nomor. Jungkook dengan jelas bisa melihat bahwa hanya ada 3 kontak di phone book Taehyung. Anehnya setiap kontak itu diberi nama : Hyung 1, Hyung 2, Hyung 3. Aneh sekali bukan.


Jungkook menaikkan sebelah alis, penasaran nama apa yang akan disave Taehyung untuk nomornya ini.


Jungkook menelan ludah saat ia membaca Taehyung mengetikkan : Chingu 1.


Oh Tuhan. Apa dia satu-satunya teman di dunia ini?


Ingin rasanya Jungkook memukul jidat.


“Save nomorku dengan Jeon Jungkook.”


“Eoh?” Taehyung menoleh terkejut.


“Itu namaku. Jeon Jungkook.”


Taehyung menatap Jungkook dengan berbinar. Ini seperti perkenalan di antara teman yang sangat baik. Taehyung pun mengetikkan nama itu, bahkan ia memberi emoticon kelinci sesudah nama.


“Kenapa kau menambahkan emot kelinci?” tanya Jungkook mengernyit.


“Kurasa itu cocok denganmu.” jawab Taehyung lugas.


“Ya!” Jungkook rasanya ingin mengomel namun ia harus menahannya. Ia tidak terima bahwa dirinya disamakan dengan kelinci yang imut dan lemah. Tapi terserahlah, Jungkook tidak akan ambil pusing, toh bukan berarti dia akan mengontak Taehyung.


“Namaku Kim Taehyung..” ucap Taehyung hati-hati.


Jungkook hanya memutar bola mata. Ugh. Dia pun hanya mengetikkan Kim.


“Anni, jangan Kim.” kata Taehyung. Baginya Kim itu nama clan vampirenya. Dia tidak mau manusia menyimpan namanya dengan hanya Kim.


Wajah Jungkook semakin hambar. Dengan malas ia pun mengetikkan Taehyung setelah kata Kim.


“Aku sangat senang, Jeon Jungkook Chingu…” gumam Taehyung dengan senyum lebar.


Jungkook agak geli mendengar dia disebut dengan Jeon Jungkook Chingu. Astaga aneh sekali.


“Kau adalah teman pertamaku. Aku senang sekali.” lanjut Taehyung.


Ucapan Taehyung itu membuat Jungkook terkejut. What? Dia teman pertamanya? Jungkook hanya membuang muka, sudah tidak tahu harus mengatakan apa.


🎃🎃



Jangan lupa favorit, like dan comment ya. Kalau suka bisa share ke temen temen.


🎃🎃