Vampire In The City

Vampire In The City
Tertarik Pada Vampire?




ahem, penampilan Seokjin saat jadi dosen 🥴


🎃🎃


Seokjin menaikkan kacamatanya sambil membaca buku tebal, materi mata kuliah hari ini. Salah satu mahasiswanya sedang menyiapkan proyektor untuk Seokjin bisa mengajar. Ia mengabaikan bisik beberapa mahasiswi yang bisa didengar oleh telinga vampirenya. Seolah dia tidak bisa mendengar mereka, oh God.


“Dia tampan sekali…” bisik seorang wanita yang duduk di ujung kelas, bisa didengar dengan jelas oleh tuan vampire.


“Ini akan selamanya menjadi matkul favoritku.”


“Aku ingin memberi kesan baik… mana tahu dia akan melirikku.”


Seokjin mendengus pelan sambil menahan senyum. Obrolan yang cukup menarik.


“Apa dia sudah punya pacar?”


“Kumohon semoga dia masih single.”


“Memangnya kau berani mengajaknya kencan?”


“Cih, aku akan melunturkan harga diriku untuk mengajaknya kencan.”


“Aku pun demikian. Dia tampan sekali… world wide handsome.”


“Bagaimana kalau kita menyebutnya world wide handsome saja? Sebagai inisialnya di obrolan kita ini.”


“Hihihi… hatiku berdebar-debar. Eh, dia melihat ke arahku….!!”


Seokjin berusaha untuk tidak tertawa. Obrolan para manusia ini hampir menghilangkan konsentrasinya. Sebelumnya Seokjin bekerja sebagai pebisnis, merasakan kembali menjadi guru membuatnya excited. Coba apa yang terjadi kalau para manusia itu tau dirinya adalah vampire?


“Kita akan mulai mata kuliah hari ini… Dinasti Joseon…” Seokjin mengarahkan pointernya ke proyektor dan mulai menampilkan materi yang ia siapkan untuk mengajar. Sambil berkata-kata seperti itu, mata Seokjin mengarah pada seorang wanita yang duduk agak di belakang, wajahnya tampak begitu dingin dan memandang buku sedikit melamun.


Seokjin merasakan sesuatu saat ia melihat mahasiswi itu. Dia pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Bertemu lagi di dalam satu kelas seperti ini membuat Seokjin terkesan. Seokjin tersenyum dalam hati, mungkin ia harus berinteraksi dengan wanita itu, membiarkan rasa penasarannya terjawab.


“Miss yang di sebelah sana…” ujar Seokjin tiba-tiba.


Soojung yang sejak tadi melamun, mendongakkan kepala. Beberapa mahasiswa yang duduk di depannya menoleh ke arahnya. Mata Soojung membesar, ia membalas tatapan dosen, menunjuk dirinya dengan telunjuknya sendiri.


Seokjin mengulum senyum, “Iya, betul, Miss yang menunjuk dirinya sendiri.”


Soojung menelan ludah. Ia berdiri kikuk sambil menunggu apa yang menjadi pertanyaan dosennya. Demi Tuhan, dosen baru mengajar 5 menit dan Soojung dilontarkan pertanyaan saat ia melamun?


“Apa pendapatmu mengenai latar belakang serangan tahun 1636 yang hampir menyerbu Semenanjung Korea?” Itu pertanyaan yang dilontarkan Seokjin. Sebenarnya itu pertanyaan gampang karena baru saja Seokjin menjelaskannya jika saja Soojung mendengarkan.


“Ng…” Soojung tampak tidak mengetahui jawabannya. Ia pun asal saja menjawab. “Se-serangan vampire besar-besaran yang terjadi di dunia saat itu mempengaruhi Korea…?”


Beberapa mahasiswa tertawa mendengar jawaban Soojung. Mereka tak menyangka Soojung bahkan mengaitkannya dengan vampire. Jika saja Soojung tidak tahu jawabannya, tidak perlu menghubungkannya dengan vampire karena akan membuatnya tampak semakin bodoh. Begitulah yang dipikirkan mahasiswa lain.


Alih-alih marah, Seokjin justru memberi senyum lembut. Sekitar tahun 1600-an memang terjadi perang besar-besaran antara vampire dan manusia. Seokjin tidak tahu seperti apa karena dia memang belum hidup saat itu, tapi ia telah mendengar cerita ini dari para vampire tua. Saat itu vampire masih terang-terangan menyerang dan menghisap darah manusia. Tidak ada perdamaian di antara kedua pihak.


“Cara pandang yang unik, Miss… umm, siapa namamu?” tanya Seokjin.


“Soojung…” sahut wanita itu masih dengan tatapan dingin.


“Miss Soojung…” Senyum Seokjin semakin panjang saat menyebut nama itu, “Invasi Qing ke Joseon terjadi pada musim dingin tahun 1636 dengan tujuan untuk memutus hubungan Joseon dengan Dinasti Ming dan menetapkan status Qing sebagai pusat dalam sistem upeti Kekaisaran Tiongkok.”


Seoojung terkesima mendengar penuturan dosennya. Kalimat itu dengan mulusnya keluar dari mulut Seokjin, entah kenapa malah membuat Soojung tiba-tiba merinding.


“Kuharap ketertarikanmu pada vampire tidak membuatmu mengabaikan mata kuliah ini,” lanjut Seokjin, “Meski dengan jujur kukatakan aku pun tertarik dengan apa yang kau katakan, Miss Soojung.”


Beberapa mahasiswa kembali tertawa. Soojung memberi senyum sekenanya dan akhirnya duduk setelah Seokjin memberinya tanda. Untuk pertama kalinya Soojung merasa sangat malu di hadapan seorang dosen. Ia menyalahkan dirinya yang begitu stupid mengatakan kalimat yang tak berbobot. Vampire? Aishh, teman-temannya tak akan melupakan kejadian ini begitu saja.


.


.


Perkuliahan selesai dan kelas dibubarkan. Seokjin berusaha mengabaikan suara-suara yang ia dengar dari beberapa gadis. Mereka merencanakan akan menunggu di luar untuk akhirnya mengajak Seokjin bicara dan memintanya kencan.


Seokjin memiringkan kepalanya saat mendengarnya. Well, dia tidak yakin bahwa dirinya akan mengiyakan undangan itu.


Mata Seokjin melihat ke arah Soojung yang masih membereskan bukunya dengan lambat. Wanita itu tampaknya sangat tidak berminat saat mahasiswa lain berhamburan keluar untuk makan siang. Dan tampaknya Soojung pun tidak keberatan ketika tidak ada orang yang mengajaknya.


Seokjin akhirnya memilih mengambil kesempatan ini. Ia mendatangi Soojung yang sedang memasukkan alat tulisnya. Seokjin bisa melihat ada buku lain yang tergeletak di meja, judulnya “Vampire di Masa Lalu.”


Seokjin menaikkan sebelah alis. “Kurasa jawabanmu tadi itu terpengaruh dari buku yang kau baca, Miss Soojung?”


Soojung sangat terkejut, tidak menyadari kalau Seokjin mendatanginya. Hell, Seokjin bahkan tidak mengerluarkan suara saat berjalan ke arahnya.


“Maaf, Seongsaenim…” Soojung sudah akan mengambil bukunya karena malu namun tangan Seokjin terlampau cepat dan mengambil buku itu terlebih dahulu.


Wajah Seokjin tampak datar saat ia melihat-lihat isi buku itu. “Ini picisan, kau tau itu.”


“Bukan…” Seokjin memberi senyum riang, “Tapi kisah yang ditulis dalam buku itu.”


Seokjin tentu saja tahu bahwa Paja Tomic, Vampire Jerman Wollschlager, Vampire Kastil Anantis ataupun kisah lainnya di buku itu tidak terbukti nyata. Itu hanya karangan yang dibuat-buat masyarakat sekitar mengenai vampire.


Soojung mengernyitkan alisnya dan senyum Seokjin semakin panjang. “Kau boleh percaya vampire ada sampai sekarang tapi kisah dalam buku itu hanya picisan, tidak nyata.” lanjut Seokjin.


“Apa sebagai dosen Sejarah, Mr. Kim lebih tahu daripada apa yang buku ini tulis?”


Seokjin tertawa pelan karena Soojung seolah menantangnya begitu. “Well… banyak…. Mungkin?”


“Setidaknya kisah tentang Johannes Cuntinus sudah pasti nyata.”


Seokjin memberi smirk. “Johannes Cuntinus bukan vampire. Dia jatuh sakit karena diserang hewan liar. Dan ia tidak berubah menjadi hantu setelah meninggal.”


Mata Soojung membola, terkejut karena Seokjin bahkan membeberkan semuanya. Sudah jelas Seokjin mengetahui sejarah dan fakta yang terjadi sampai bisa tahu detail kisah Johannes Cuntinus.


“Kau sepertinya sangat tertarik dengan vampire?”


Soojung berusaha menguasai diri. Ia kembali membereskan sisa bukunya. “Tidak juga. Aku hanya membenci vampire.”


Seokjin tersenyum tipis. Ia ingin sekali mengatakan apakah Soojung masih mengingat pertemuan pertama mereka beberapa tahun lalu. Itu bukan pertemuan yang pantas diingat sebenarnya.


Seokjin menyayangkan kalau kaumnya dibenci seperti itu… mungkin karena suatu alasan… tapi meng-generalisasi para vampire untuk dibenci tampaknya pun tak adil. Di jaman sekarang, banyak vampire yang memilih perdamaian, tidak menyerang manusia. Memilih bertahan hidup dan berbaur dengan normal dengan para manusia.


Seperti apa yang sedang dilakukannya ini.


Ia pun tahu saat-saat yang dialami Taehyung pastinya sangat berat, apalagi Taehyung masih bayi vampire. Berat untuknya berbaur dengan para manusia terutama jika manusia itu memandang vampire sebagai monster.


Namjoon pun harus terus menerus menambah kesabarannya, melihat orang-orang mengatai vampire seolah mereka adalah sesuatu yang tak pantas hidup.


“Kuharap di pertemuan selanjutnya kau bisa menjawab pertanyaanku, Miss Soojung…” ucap Seokjin sebelum Soojung berbalik pergi.


Soojung hanya mengangguk sekenanya. “Aku permisi, Mr. Kim.”


Seokjin masih memandang wanita itu yang berjalan pergi ke pintu kelas. Wangi Soojung masih sama seperti dulu pertama Seokjin melihatnya. Setiap manusia memiliki baunya masing-masing yang bisa dicium oleh vampire. Dan Seokjin tak dapat mengelak, itu adalah bau yang disukainya.


.


.


Soojung berjalan menuju taman kampus tanpa memedulikan sekitar. Ia masih memikirkan percakapannya dengan Seokjin. Dia jadi bertanya-tanya, apa dosennya itu juga tertarik banyak hal mengenai vampire? Jika iya, Soojung ingin juga menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran apalagi Seokjin adalah dosen Sejarah.


Soojung menepis pemikirannya. Ia melihat ke depan dan melihat Kai serta teman-temannya yang sedang duduk di bangku taman.


“Hei, Baby~~” sapa Kai saat matanya menangkap sosok Soojung yang berjalan ke arahnya.


Soojung memberi senyum saja dan mengambil duduk di sebelah kekasihnya.


Kai merangkul bahu Soojung. “Nanti malam bisa ikut party di rumahku?”


Soojung menggeleng pendek. Ia mengeluarkan buku vampire dari dalam tasnya, sudah tidak sabar ingin melanjutkan membaca buku favoritnya. “Aku harus di rumah karena Paman sedang pergi ke luar kota.”


“Ayolah, Baby… Jungkook sudah besar, dia bisa sendiri di rumah.”


Mata Soojung yang sinis menatap Kai. “Aku tidak akan pernah melakukannya. Bagaimana mungkin aku berpesta sementara Jungkook sendirian?”


Kai mendengus pelan namun tidak akan membantah. Soojung sulit sekali diajak keluar saat malam hari, kadang membuat Kai sebal.


“Baca buku itu lagi?”


Soojung hanya bergumam pelan dan mulai membaca buku “Vampire di Masa Lalu”.


Kai memutar bola mata, jenuh. Teman-teman Kai memberi seringai karena lagi-lagi Kai diacuhkan demi sebuah buku vampire. Ingin sekali Kai membakar buku yang ia anggap sebagai dongeng belaka itu. Ia sendiri tak habis pikir mengapa wanita cantik seperti Soojung punya pemikiran mendalam mengenai vampire.


***


Namjoon hanya bertopang dagu, menatap tak minat dosen yang sedang mengajar kalkulus. Bukan bermaksud sombong, Namjoon sudah puluhan kali mengikuti mata kuliah ini. Dia sudah sangat menguasainya dan yakin nilainya akan A saat ujian. Namjoon percaya diri bahkan dirinya ‘lebih berpengalaman’ dibandingkan dosen yang sedang menerangkan kalkulus itu.


Fiuh, dunia perkuliahan selalu menjadi favoritnya dibandingkan jika ia disuruh bekerja seperti Seokjin. Tapi mendengarkan pemaparan yang sama berulang-ulang pun sedikit membosankan. Dia ingin juga sesuatu yang baru.


Namjoon mengerling ke samping, melihat seorang mahasiswa yang duduk di sebelahnya. Namjoon tidak begitu memperhatikan sebelumnya, namun ternyata pernak pernik yang dimiliki manusia itu serba vampire.


Tempat pensilnya bergambar vampire meski itu kartun. Cover jurnalnya pun dipenuhi dengan stiker vampire, hingga pulpen yang sedang dipegangnya pun ada hiasan muka vampire. Para manusia masih mempercayai bahwa vampire bertaring (itu benar), dan mata merah menyala, serta dengan jubah berwarna hitam-merah yang dipakainya.


Namjoon memberi smirk, terkesan. Vampire yang sesungguhnya tidak menggunakan jubah nyentrik seperti itu, apalagi Namjoon sangat menghargai fashion. Dan vampire sudah bisa menyembunyikan taring dan warna mata mereka.


Namjoon melihat stiker nama yang tertempel di buku mahasiswa itu: “Jung Hoseok”, tertulis demikian. Sepertinya mahasiswa yang bernama Jung Hoseok ini pecinta vampire? Jarang sekali Namjoon menemukan manusia yang tertarik pada vampire dari sisi positif.


🎃🎃


Jangan lupa berikan dukungan dengan memberikan favorit, like dan comment