Vampire In The City

Vampire In The City
Kemana Jimin?




Haiii... mian author baru bisa update, dikarenakan banyak pekerjaan jadi tidak sempat menulis walau sangat ingin 😢


Mianhe... semoga masih tetap setia menunggu.


Mari kita lanjutkan novelnya ya.


🎃🎃


Esok paginya, kesibukan Namjoon pun dimulai. Dia harus bersama Hoseok, apalagi mereka sekelas, membuat Namjoon harus selalu bersama Hoseok. Dia harus memantau dan mengajari vampire yang baru lahir itu. Pastinya banyak ketidaknormalan yang dialami Hoseok yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya yang merupakan manusia. Hoseok harus diajarkan bagaimana menyembunyikan identitas : pura-pura bernafas, menyembunyikan mata vampire dan kekuatan indera lainnya.


Mereka berdua berjalan bersama memasuki gedung perkuliahan. Wajah Namjoon tampak kelelahan (mungkin karena semalam ia mengalirkan energi venomnya pada Hoseok), sementara Hoseok tampak sangat cerah dan bersemangat. Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, Hoseok akan bergabung dengan clan Kim, ia diberi kebebasan untuk tinggal bersama atau tetap tinggal sendiri di apartemennya. Dan tanpa ragu, Hoseok memilih untuk tinggal bersama di rumah Kim Brothers. Usai kuliah, Namjoon diminta untuk membantu Hoseok mengemas barang-barang di apartemen.


“Ini hebat sekali…” ucap Hoseok setengah berbisik pada Namjoon saat mereka menaiki anak tangga menuju lantai 2. “Telingaku sangat peka mendengar suara yang jauh sekalipun. Jadi ini yang kau rasakan setiap hari?”


Namjoon hanya berwajah masam dan terus berjalan.


“Aku sebenarnya suka dengan mata vampirku lho, sayangnya aku harus menyembunyikan mata cantikku?” lanjut Hoseok panjang lebar.


Namjoon hanya bergumam tak jelas. Tidak ada vampire yang mau menyembunyikan mata vampirenya, kau tahu, menggunakan lensa kontak membuat mata setiap vampire gatal dan iritasi.


“Wahh ini masih terasa mimpi… aku tak menyangka.” Hoseok tersenyum lebar. “Apa yang terjadi ya jika grup komunitas tahu bahwa aku menjadi vampire?”


“Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak membongkar–“


“Arra, arra…” potong Hoseok memberi cengiran, “Aku tidak akan ceroboh kok.”


“Ugh…” Namjoon memutar bola mata merasa Hoseok tengah menyindirnya sekarang. Namjoon langsung berjalan cepat duluan membuat Hoseok mengekeh dan bergegas mengikuti Masternya.


Baiklah… kehidupan baru Hoseok akan dimulai.


.


.


Soojung dan Seokjin berpapasan di lorong. Soojung menuju ruang perkuliahannya sementara Seokjin baru selesai mengajar dan akan kembali ke kantornya. Tidak seperti sebelumnya ketika mereka pura-pura tidak saling mengenal, kali ini Soojung yang pertama memberi senyum tersipu pada dosennya. Seokjin pun terang-terangan membalas senyum wanita itu.


Seokjin selalu menyukai aroma Soojung, entah kenapa, itu seperti membuatnya ketagihan. Ini aneh, karena sebelumnya Seokjin tidak pernah merasakan seperti ini. Aroma manis Soojung ini pula yang membuat Seokjin dulu menyelamatkan Soojung saat wanita itu diserang oleh vampire.


Soojung pun semakin berbunga-bunga dan semakin terpikat dengan charm yang dimiliki Seokjin. Ia merasa dirinya selalu merasa bahagia dan terlindungi saat bersama Seokjin. Entah kenapa.


***


Xiumin dan Woobin sedang berdiri di balik tembok, mengawasi Taehyung dari kejauhan. Bayi vampire itu sedang makan di kantin bersama teman manusianya. Xiumin menggeram saat melihat Jungkook yang duduk bersama Taehyung. Memangnya ia tak ingat bagaimana Jungkook meninju wajahnya saat di belakang gedung lab? Keras juga pukulan manusia itu.


“Dia selalu bersama teman manusianya,” tukas Xiumin, “Seperti orang bodoh, masa vampire butuh perlindungan manusia.”


Woobin mendengus. “Aku heran kenapa sebagai vampire dia memilih untuk berteman sangat dekat dengan manusia. Apa dia tidak takut identitasnya terbongkar?”


“Kalau aku bisa, aku bongkar identitasnya supaya ia tidak punya teman.”


“Kita tidak boleh melakukannya. Itu melanggar etik sesama vampire… dan clan kita pun bisa terancam karena sudah melanggar aturan membongkar identitas vampire lain.”


Xiumin mengangguk. “Kita akan cari kesempatan untuk mengganggu bayi vampire itu.”


“Tentu saja, pasti ada kesempatan lain.” Woobin memberi smirk dan memandang Taehyung yang wajahnya begitu comical ketika mengobrol dengan Jungkook


.


.


“Aku sangat menyukai melon~” ucap Taehyung dengan eye smile sambil melahap melon di atas meja yang tadi dibeli Jungkook, “Melon buah kesukaanku.”


Jungkook mengekeh. “Aku bisa memakan buah apapun, tidak ada yang lebih favorit.”


“Strawbery aku juga suka~!! Apa kau suka strawbery, Kookie?”


Jungkook hanya mengangguk-angguk, “Strawberry juga bisa aku makan. Pada dasarnya semua buah bisa kumakan, tidak ada yang lebih spesial.”


Taehyung menunjukkan senyum kotaknya. “Cheese cake buatan Hyungku sangat enak dengan topping buah-buahan. Nanti akan kuajak ke toko Hyungku.”


Jungkook memberi senyum. “Kita bisa melakukannya setelah kita PTS.”


Taehyung mengerang pelan, teringat kembali dengan ujian yang dimulai esok hari. Dia harus mempersiapkan diri dengan belajar keras. Karena ini season pertamanya sebagai mahasiswa, dia tidak boleh gagal atau dia harus mengulang mata kuliah kembali di semester yang akan datang… dan artinya itu membuat jadwalnya dan Jungkook akan berbeda. Taehyung tidak ingin ia berpisah kelas dari Jungkook.


“Tadi aku sudah mengirim pesan padanya tapi tidak dibalas.” sahut Jungkook.


“Apa mungkin dia sedang sibuk persiapan ujian juga?”


“Mungkin. Kau pun harus benar-benar mempersiapkan diri untuk ujian besok, Tae.”


“Ughh… Aku akan minta bantuan Hyungku saat belajar nanti malam.”


Jungkook mengamati Taehyung dengan seksama. “Hyungmu sepertinya sangat pintar ya. Kau selalu bisa mengandalkan para Hyungmu.”


Taehyung mengangguk dengan semangat. “Mereka sangat pintar dan berpengalaman, berbeda denganku yang masih bay–“ Taehyung langsung menahan kata-katanya, hampir saja ia mengucapkan ‘bayi vampire’.


Jungkook masih memandang Taehyung, menunggu penuturan Taehyung yang masih sepotong.


“B-berbeda denganku yang masih banyak main-mainnya… hehe.” Taehyung berharap ucapannya tidak mencurigakan.


“Nanti malam kalau kau begadang untuk belajar kau bisa meneleponku, supaya kita saling mengingatkan untuk belajar dan tidak ketiduran.”


“Wahhh!! Gomawo, Jungkookie!”seru Taehyung senang, “Yap, nanti malam aku pasti meneleponmu!”


Jungkook membalas senyum dan kembali memakan melon. Ia menyadari bahwa di masa perkuliahan ini perlahan-lahan karakternya berubah. Sekarang dia lebih peduli dengan kehidupan sosial, membuka diri begitu saja pada teman-temannya, tidak keberatan dengan persahabatan ini. Mungkin karena Taehyung sendiri tampak sangat innocent, membuat Jungkook tak pernah tega untuk menyakitinya.


.


.


Pulang kuliah itu, dalam perjalanan menuju rumah dan Taehyung sudah berpisah dari Jungkook… Taehyung masih berusaha menelepon Jimin dan masih tidak diangkat. Sejak tadi siang Taehyung dan Jungkook memang menelepon Jimin namun tidak pernah diangkat oleh Jimin.


Taehyung menggigit bibir. Kenapa mendadak ia mencemaskan Jimin? Taehyung melihat jam di ponselnya yang menunjukkan hampir jam tujuh malam, seharusnya Taehyung pulang dan mempersiapkan diri untuk ujian besok, tapi pikirannya sejak tadi mengkhawatirkan Jimin. Apalagi dia terus mengingat bagaimana ia merasakan hawa keberadaan vampire di dalam rumah Jimin. Itu sangat aneh bukan??? Sebenarnya apa yang terjadi di dalam rumah itu? Taehyung tidak sempat mengecek keberadaan vampire saat kunjungannya ke rumah Jimin.


Taehyung meremas ponsel. Ia memantapkan diri akan ke rumah Jimin sekarang juga.


Sementara itu, Jimin sedang tak sadarkan diri. Sudah sejak semalam ia jatuh pingsan saat ia meminum jus pisang buatan ibunya. Tubuhnya terbaring di ranjang di dalam basement rumahnya. Seorang wanita bertubuh mungil yang merupakan ibu Jimin, sedang menyiapkan beberapa alat kesehatan. Ruangan itu merupakan basement di rumah Jimin, seperti tidak terurus dengan banyak debu disana sini. Hanya di sisi ini saja yang lebih rapi dan bersih… tempat tidur, rak dan meja dengan alat-alat kesehatan.


Tak jauh dari sana ada ruangan lain dengan pintu tertutup. Temboknya dikelilingi dengan lapisan perak, tidak ada jendelasehingga tidak bisa melihat apa yang ada di dalam. Terdengar suara erangan lemah dari sana disertai dengan decit suara lantai.


Nafas Jimin terdengar di ruangan sunyi itu. Dia sudah dua kali diberikan obat bius karena sampai malam ini pun ibunya belum sempat mentransfusikan darah ke dalam tubuhnya.


Perlahan Jimin membuka matanya, merasa kepala sangat sakit seperti dipukul godam. Jimin melihat langit-langit yang begitu asing baginya, matanya berusaha beradaptasi dengan pencahayaan remang-remang. Ia melihat ke samping dan melihat badan ibunya membelakanginya, seperti sedang menyiapkan alat-alat suntik.


Jimin mengernyit bingung. Ia kembali melihat sekeliling dan heran dimana ia berada. Apakah dia di rumah sakit? Kenapa tiba-tiba terbaring seperti ini dengan selang infus di pergelangan tangannya?


Ia semakin heran saat melihat ada kantung darah di meja yang disiapkan ibunya. Ibunya itu seperti akan mentransfusikan darah tersebut padahal Jimin merasa dia tidak kekurangan darah.


“Eomma?” panggil Jimin dengan suara serak.


Wanita paruh baya itu terlihat terkejut saat dipanggil. Bahunya tegang. Perlahan wanita itu menaruh kembali alat suntik yang ia pegang dan menolehkan kepala pada anaknya. Mata membesar kaget. “Jimin, kau sudah bangun?”


Jimin mengangguk. Jujur saja sebenarnya dia masih merasa badannya sangat lemas dan belum kuat bahkan untuk mendudukkan diri di atas ranjang.


“Apa yang terjadi padaku?” tanya Jimin lugu. Keduanya berpandang-pandangan dalam keheningan.


Di saat yang bersamaan, Taehyung masuk ke dalam rumah Jimin. Ia langsung masuk saat tahu rumah itu tidak dikunci pemiliknya. Ketegangan kembali menghampiri saat ia merasakan lagi hawa keberadaan vampire di rumah itu.


“Jimin?” panggilnya sedikit panik. Tidak ada suara dan pergerakan di dalam ruangan besar ini, kemanakah chingunya itu.


Taehyung berhenti berjalan saat ia mendengar suara Jimin di kejauhan. Telinga vampire membuatnya bisa mendengar suara yang bahkan tidak bisa didengar telinga normal. Taehyung menelan ludah saat ia merasakan suara Jimin itu berasal dari bawah lantai yang ia pijak. Chingunya itu tengah berada di basement.


Tanpa berpikir panjang, Taehyung menuju dapur, ia akan memasuki pintu yang pernah ia lihat sebelumnya yang ia yakini merupakan pintu menuju basement. Dan kali ini pintu itu tidak terkunci, bahkan setengah membuka.


Perlahan Taehyung pun mulai menuruni anak tangga menuju basement tempat Jimin berada. Dirinya merinding merasakan hawa vampire yang semakin dekat. Ia bertekad akan melawan rasa takutnya. Jika chingunya tengah berada dalam bahaya, Taehyung akan menyelamatkannya, dari sesama vampire sekalipun.


Semakin ia menuruni anak tangga, Taehyung mendengar suara-suara lain. Ada semacam pergerakan suara erangan kecil.. lalu suara wanita yang Taehyung kenal sebagai suara ibu Jimin.


🎃🎃



Episode lanjutannya tunggu saja, ppyong~~


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaa