Vampire In The City

Vampire In The City
Buruan Besar (2)



Taehyung memonyongkan mulutnya sejak tadi. Ia berbaring di ranjang, meremas boneka pokemon Jeolton sambil menaikturunkan kaki setengah bosan.


“Taehyungie, bonekaku kesakitan kalau terus diperlakukan seperti itu.” omel Jimin. Ia mengambil boneka pokemon itu dari tangan sahabatnya. “Aigoo, boneka ini adalah kesayanganku karena ini kita peroleh saat bermain di arcade. Tidakkah kau menghargainya?” Jimin membalas dengan pout yang lebih maju lagi.


Taehyung menghembuskan nafas keras-keras. Ia membalikkan badannya memunggungi Jimin.


“Pokemon Jeolton sudah seperti miniaturku, Tae. Pokemon ini sangat cepat hehe dan kau tahu kan bahwa aku pun memiliki sedikit kekuatan vampire dalam hal speed.”


“Jiminnie, aku sedang tidak mood untuk bercanda.”


Jimin menghela nafas. Ia menaruh bonekanya kembali di rak. Malam ini Taehyung menginap di rumah Jimin atas permintaan hyungnya sendiri. Malam ini seharusnya menjadi pertemuan dewan vampire yang dihadiri Taehyung namun dengan mendadak Seokjin membatalkannya, berpikir bahwa lebih aman kalau Taehyung tidak ikut dan menyuruh Jimin membawa Taehyung ke rumahnya supaya Taehyung tidak terlalu kecewa. Tapi lihatlah… bayi vampire itu bahkan sangat rewel sampai Jimin kewalahan menanganinya.


“Tae, ini untuk kebaikanmu.” ucap Jimin duduk di pinggir tempat tidur. “Serahkan saja pada hyungmu untuk membereskannya.”


“Anni. Seokjin Hyung hanya tidak mempercayaiku bahkan hanya untuk hadir di pertemuan dewan. Dia selalu menganggapku sebagai bayi vampire, bayi lemah tak berdaya.”


“Tae…” Jimin ingin sekali mengatakan kalau Taehyung tidak lemah. Dia sudah pernah menyaksikan sendiri bagaimana Taehyung meremukkan tulang orang lain. Bagaimana mungkin para hyungnya tak tahu?


Mata Taehyung sudah berkaca-kaca. Ia sudah melepas lensa kontaknya dan mata silvernya nampak sejak tadi. Jimin sudah tahu mengenai warna asli mata Taehyung itu. Itu pun menjawab kebingungan Jimin dulu mengapa mata Taehyung berwarna silver saat difoto dengan blitz.


“Kenapa aku selalu dianggap lemah, Jiminnie? Aku tidak lemah, aku pun seharusnya diperhitungkan hadir untuk memberi kesaksian. Bagaimana kalau Hyungku yang akan mendapat sanksi?”


“Taehyung… Alpha-mu tahu apa yang terbaik.” Jimin tak bisa melanjutkan perkataannya karena ponselnya di atas meja bergetar. Siapa gerangan yang meneleponnya di saat seperti ini?


Jimin berdiri dan mendatangi meja. Ia melihat ada nama Jungkook di layar ponselnya. Jika saat ini Jungkook ingin mengajaknya minum soju sepertinya Jimin harus langsung menolaknya. Ada big baby lain yang harus ia urus sekarang. Urgent.


“Ne, Jeon?”


“Ji-Jimin…” ucap Jungkook tercekat di seberang, “Ada hal yang sangat penting.”


“Hmm?” kata Jimin santai sambil masih mengamati Taehyung.


“Apa kau tahu dimana Taehyung sekarang? Dia tak menjawab teleponku.”


Taehyung membalikkan badannya dan melihat ke arah Jimin. Dia sudah mendengar suara Jungkook dengan telinga vampirenya.


“Taehyung? Dia sedang bersamaku sekarang, wae?”


Rasanya Jungkook sudah ingin berteriak. Dia sejak tadi panik dan cemas setengah mati berusaha menelpon Taehyung namun ternyata vampire itu sedang enak-enakkan di rumah Jimin?


“Aku ingin bicara dengannya, Jimin.”


Jimin begitu heran. “Tae, ini Jungkook ingin berbicara denganmu.”


Taehyung langsung duduk bangun dan mengambil ponsel dari tangan Jimin. Ia langsung excited karena Jungkook ingin bicara dengannya, seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekor.


“Jungkookie~!!”


“Kau kemana saja! Kenapa tidak menjawab telponku!” bentak Jungkook di seberang dengan kesal.


Taehyung kaget karena Jungkook langsung membentaknya seperti ini. Taehyung tidak sempat membawa ponselnya ke rumah Jimin karena situasi yang tiba-tiba dimana Taehyung tidak diajak ke pertemuan dewan vampire. “J-Jungkook–“


“Kau selalu saja merepotkan seperti ini! Kau bisa peka tidak?”


Mata Taehyung sudah basah mendengar ocehan Jungkook yang tiba-tiba itu. Dia salah apa sampai Jungkook memarahinya begini? Seingatnya mereka tidak saling berbicara sebelumnya.


Jimin tak bisa membiarkannya. Ia tak terima Jungkook menelepon hanya untuk membuat Taehyung terluka seperti ini. Jimin merampas ponsel dan balik memarahi Jungkook, “Ada apa denganmu, Jeon? Kenapa kau menelepon hanya untuk memarahi Taehyung? Apa salahnya?”


Jungkook mendengus keras-keras sambil memegang kepala dengan tangan yang tidak memegang ponsel. Kepalanya akan pecah sebentar lagi dan tidak akan ada yang mengerti dengan kondisinya.


“Mianhe, Jimin.” Jungkook pun menekan end call.


“Aishh, ada apa dengan si Jeon Jungkook itu.” Jimin begitu kesal dan tak mengerti dengan sikap temannya. Jimin menoleh pada Taehyung yang sedang menangis tanpa suara. Vampire itu semakin terpuruk dengan ucapan Jungkook barusan. Mood Taehyung sudah cukup menyedihkan dan sikap Jungkook yang tiba-tiba membuatnya semakin parah.


“Aku tidak mengerti… apa salahku…” isak Taehyung. Ia berusaha menghapus air matanya sendiri. Seolah sikap Jungkook sebelumnya sudah tidak menyedihkan hatinya, kali ini pun Jungkook memarahinya seperti tadi. Itu pertama kalinya bagi Taehyung disentak oleh Jungkook dan rasanya sangat sangat menyakitkan.


“Tae…” Jimin memeluk bahu sahabatnya dengan prihatin. “Jangan menangis ya… mungkin dia mencemaskanmu.”


Taehyung menggeleng. Mencemaskan apa masa marah-marah seeperti itu, para hyungnya saja saat mencemaskannya melakukan kebalikan dari apa yang Jungkook perbuat barusan. Taehyung jadi bertanya-tanya apa Jungkook tidak mau berteman dengannya lagi?


Mood Taehyung sebenarnya sudah suram karena dia tidak diajak ke dewan vampire. Sekarang pun kondisi hatinya kian memburuk.


.


.


Ini pertama kalinya Soojung melihat hunter-hunter (tentunya selain Pamannya). Soojung mengikuti brieffing para hunter terlebih dulu sebelum serbuan besar dilakukan. Mereka berkumpul di sebuah bangunan seperti ruko. Setiap orang memakai pakaian hunter serba hitam, bahkan beberapa ada juga yang menambahkan dengan aksesori silver di jari dan leher mereka. Soojung bernar-benar terpana, ternyata seperti inilah para hunter yang akan membasmi dan melawan vampire. Dan tampaknya hanya Soojung satu-satunya wanita di situ. Sangat sulit menemukan hunter wanita penembak jitu.


Total hunter yang ada di ruangan itu sekitar 20 orang, terdiri dari berbagai jenis usia, ada yang muda dan ada pula yang senior dan tua. Para hunter ini dikumpulkan dari semua kota yang ada di Korea Selatan. Jumlah hunter tiap negara memang tidak banyak, dibarengi juga dengan sedikitnya vampire yang bisa ditemukan. Untuk buruan besar ini, seluruh hunter dikerahkan supaya misi bisa sukses berhasil.


“Masing-masing akan mendapatkan jam tangan penghitung mundur waktu dimana kita akan menembaki vampire bersamaan.” ujar seorang hunter senior yang cukup tua yang tadi memperkenalkan diri sebagai Oh Myunggyu. Salah satu anak buahnya pun membagikan jam tangan ke setiap hunter. Jam tangan digital itu bukan penunjuk waktu, bahkan Soojung tidak melihat apa-apa di layarnya. Sepertinya nanti akan muncul hitungan waktu menundur sebagai penanda para hunter mulai menembaki vampire.


“Lokasi yang menjadi tempat perburuan ini ada di sebuah villa mewah dan besar yang berada di pinggir hutan bambu,” lanjut Myunggyu. Dengan layar proyektor ia menunjukkan peta lokasi yang dimaksud. “Kita tidak tahu dimana para vampire itu berkumpul tapi kemungkinan di ruang tengah karena itu adalah ruangan yang paling besar yang berada di villa. Kita akan membaginya menjadi 4 bagian sesuai arah mata angin. Lima hunter di Utara, lima di Timur, lima di Selatan dan lima di Barat. Untuk pembagiannya aku melakukan secara acak, kalian bisa lihat kode arah mata angin di setiap jam tangan yang sudah dibagikan.”


Soojung mengamati jam tangannya dan ia melihat di tali jam tangan itu ada kode kecil berwarna merah bertuliskan S. Artinya Soojung akan berada di bagian ‘South’ alias Selatan.


Donghyuk memberi senyum dan menunjukkan bahwa dirinya mendapat kode N yang artinya di ‘North’ atau di Utara. Soojung tidak ingin panik kalaupun ia berpisah lokasi dengan Pamannya. Masih ada hunter lain di dekatnya yang akan membantunya bukan?


“Kita tidak akan berada dalam jarak dekat dengan vila. Kita bersembunyi di balik pohon bambu dengan jarak 30 meter dari villa. Kurasa itu jarak yang paling aman untuk kita membidik. Dan jarak aman bagi kita untuk segera kabur jika ada vampire yang lolos dalam perburuan.” Myunggyu memandang setiap hunter satu per satu. “Tentu kita mengharapkan tidak ada vampire yang lolos bukan? Aku ingin misi ini tidak gagal. Target kita adalah menangkap setidaknya 10 vampire.”


Soojung menelan ludah. Mungkin maksud perkataannya adalah jika sekiranya ada vampire yang bisa menghindar dari tembakan. Tapi Soojung berharap tidak ada vampire yang lolos hidup dari buruan ini.


“Aku tekankan bahwa kita tidak menembak jantung vampire,” kata Myunggyu lagi membuat Soojung terhenyak. “Kita hanya mengincar bahu atau kaki mereka saja. Jika memang ada vampire agresif baru kita bisa membidik jantung mereka.”


Soojung terkejut, ia menoleh pada Pamannya. Wanita itu tak mengerti mengapa mereka tidak langsung menghabisi para vampire saja?


Donghyuk memberi senyum tipis dan mengedikkan dagu ke arah Myunggyu, meminta Soojung untuk tetap memperhatikan instruksi.


“Nanti akan ada team yang meringkus para vampire. Bagi hunter baru yang belum tahu, ini adalah kebijakan baru. Vampire tersebut akan diserahkan ke team lain untuk mencari tahu posisi clannya supaya kita bisa membasmi lebih banyak vampire.”


Soojung bingung dengan penuturan ketua hunter itu. Kenapa vampire tidak langsung dibunuh saja, untuk apa menambah resiko dengan menangkap vampire hanya untuk diinterogasi? Apa gunanya semua itu?


“Aku sudah menambah team lain yang akan meringkus para vampire. Setiap peluru silver yang ada di pistol kalian sudah dilapisi dengan racun yang membuat vampire pingsan.”


Mata Soojung masih membesar. Ia baru tahu kalau prosedur yang dilakukan para hunter adalah seperti ini. Lantas bagaimana cara dia bisa membalaskan dendam jika dia tidak diijinkan untuk membunuh para vampire seperti harapannya?


Donghyuk menepuk lutut keponakannya. “Lakukan seperti yang diinstruksikan, Soojung-ah. Ini demi keamanan semua.”


Alis mata wanita itu masih mengernyit tak mengerti.


Seperti apa jadinya perburuan ini?


🎃🎃



Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, comment, favorit dan vote yaa🐥