
hay guys.. mian author butuh waktu untuk akhirnya bisa update. Di samping sibuk dengan pekerjaan real life, author juga memang kesulitan ya. Mengerjakan novel ini berasa lagi ngerjain ujian sulit.. Author harus menyelesaikan semua teka teki dan permasalahan yang author buat sendiri... 😫 tapi author senang kok.
anyways author berharap reader puas dengan chapternya dan makin suka sama novelnya.. haha pret.
jangan bosen nunggu kalo author lelet updatenya ya. gomawo. Jangan lupa berikan jejaknya 🐾🐾
🎃🎃
“Tae… mianhe… mianhe…” gumam Jungkook dan berusaha kembali membawa Taehyung ke dalam pelukannya. Taehyung hanya bisa menangis dan membiarkan Jungkook memeluknya karena kekuatan Taehyung pun sudah semakin melemah.
“Mian, aku terlambat menyelamatkanmu…” isak Jungkook. Taehyung di dalam pelukannya sudah tidak mengeluarkan isak tangis lagi. Badannya terkulai lemas di bahu Jungkook karena vampire itu sudah tak sadarkan diri.
Jungkook membeku. Ia bertanya-tanya kenapa Taehyung di dalam pelukannya tidak bergerak sama sekali. Temannya ini tidak mati kan? Melihat darah yang menggenang di lantai itu membuat Jungkook sangat ngeri jika ada hal mengerikan yang baru terjadi pada Taehyung…
“Tae?” panggil Jungkook dengan suara gemetar. Jungkook melepas pelukan dan melihat dengan kuatir wajah vampire itu, begitu putih pucat seperti mayat.
No, no…
“Taehyung!!” seru Jungkook panik berharap ketakutannya tidak terjadi.
Tiba-tiba pintu terbuka. Yoongi dan Hoseok berlari masuk ke dalam ruangan dan sangat tercengang melihat kondisi yang ada. Hoseok menelan ludah melihat genangan darah dengan dua dokter yang tergeletak di lantai. Ia begitu ngeri jika membayangkan Taehyung yang membantai dua manusia itu sampai darahnya berceceran? Tapi mencium bau darah itu di udara, Hoseok yakin darah di lantai itu bukan darah dari manusia yang terkapar di lantai. Itu adalah darah Taehyung sendiri. Mata Hoseok membola horor, apa Taehyung mati??
“Dia belum mati…” ucap Yoongi menepuk pundak Jungkook. Yoongi bisa merasakan dengan kekuatan empathnya kalau Taehyung belum mati dan ia juga bisa merasakan rasa takut dan kesedihan yang dialami Jungkook karena menyangka Taehyung sudah mati.
Jungkook hanya bisa menangis tanpa suara, benar-benar lega karena Taehyung belum mati.
Yoongi mengeraskan rahang dan memandang lantai yang tergenang darah beserta ada kantong darah robek tergeletak di sana. “Sepertinya dua dokter itu sudah mengambil darah Taehyung namun kantungnya jatuh dan semua darahnya tumpah.”
“Gosh!” Hoseok sangat tercengang. Taehyung bahkan sudah diambil darahnya untuk sindikat penjualan vampire. Betapa mengerikannya manusia-manusia ini.
“Dua manusia itu hanya pingsan,” lanjut Yoongi, “Jungkook, kita harus segera membawa Taehyung pulang.”
Jungkook mengangguk. Ia segera menghapus air mata di pipi dan langsung menggendong Taehyung keluar dari tempat itu.
.
.
.
Taehyung dibawa pulang dengan mobil Yoongi, sementara Namjoon, Seokjin dan Hoseok masihdi villa untuk ‘membereskan’ kekacauan di sana. Seokjin masih harus memanipulasi memori penjaga dan dokter di villa itu, bagaimanapun Seokjin harus memastikan keselamatan clannya tetap aman. Jangan sampai semua ini hanya mengundang malapateka yang lebih besar untuk clannya.
Setelah sampai di rumah Kim Brothers, Jungkook membawa Taehyung ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Wajah vampire itu semakin pucat dan mulai muncul urat nadi hitam di sekitar pipi Taehyung. Ini mengingatkan Jungkook pada kondisi ketika Taehyung sakit karena belum meminum darah manusia.
Yoongi menghela nafas, melihat Jungkook membaringkan Taehyung yang tak sadarkan diri. “Badannya lemas karena belum meminum darah. Jungkook, jika kau tak keberatan–“
“Aku akan melakukannya.” sahut Jungkook cepat tanpa melihat Yoongi. Tanpa disuruh pun ia akan memberikan darahnya lagi untuk Taehyung.
“Thank you, Jungkook,” ucap Yoongi, “Aku akan pergi kembali ke villa untuk membantu yang lain membereskan urusan di sana.”
Sebelum Yoongi pergi, Jungkook memanggilnya. “Yoongi Hyung…”
Jungkook membalikkan badannya pada dhampir itu, menatapnya dengan mata berkilat penuh dendam. “Jika kau melihat ada pemilik Black Dragon datang ke villa itu, saranku kau langsung saja membunuhnya.”
Yoongi mengerti maksud perkataan Jungkook. Perbuatan Dongwook memang sudah jelas-jelas menunjukkan kalau pria itu adalah salah satu dalang dari sindikat penjualan vampire, pria itu bahkan berusaha mengeksploitasi Taehyung.
“Arraseo…” sahut Yoongi singkat. Jika ada kesempatan emas Yoongi pun berniat akan langsung membunuh Dongwook.
Setelah Yoongi sudah pergi, Jungkook melihat Taehyung yang berbaring di tempat tidur. Vampire itu tampak sangat lemah dan rapuh, pemandangan itu hanya membuat hati Jungkook semakin sakit. Yang membuat hatinya semakin sakit adalah bagaimana di hari sebelumnya ia dan Taehyung bertengkar dan saling mencaci. Jungkook menyesal karena ia selalu menjadi orang pertama yang memancing pertengkaran. Dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik dan normal pada Taehyung. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak pernah ia filter seolah ia tidak memikirkan perasaan Taehyung sama sekali.
Jungkook duduk setengah berbaring di samping vampire itu. Saat ini yang harus menjadi fokusnya adalah bagaimana membuat Taehyung kembali pulih. Jungkook tidak akan ragu memberikan darahnya untuk Taehyung.
“Tae…” ucap Jungkook menepuk pelan lengan vampire itu.
Taehyung tidak menyahut dan tak bergerak. Sepertinya vampire itu benar-benar tak sadarkan diri, Jungkook tak dapat membangunkannya.
Jungkook menarik nafas dalam-dalam. Ia mendekatkan lengannya ke depan mulut Taehyung. Apa cara ini bahkan bisa berhasil? Apa Taehyung bisa serta merta langsung menggigitnya dengan posisi pingsan seperti ini? Ataukah Jungkook harus menyayat tangannya dulu?
Tidak ada pergerakan dari Taehyung membuat Jungkook agak frustasi. Tangannya di depan mulut Taehyung tidak bisa membuat vampire itu langsung menggigitnya. Jungkook belum pernah begitu menuntut vampire untuk meminum darahnya seperti ini.
“Taehyung, suck my blood…” ucapnya akhirnya ke telinga Taehyung. Jungkook merasa begitu konyol karena ia bahkan berinisiatif sendiri menawarkan dirinya pada vampire.
Ucapan Jungkook itu seolah mantra dan sampai ke otak Taehyung karena vampire itu tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit lengan Jungkook yang ada di depannya. Meski mata masih terpejam rapat tapi Taehyung sedang menghisap darah Jungkook dalam-dalam.
Jungkook langsung memejamkan mata, merasakan bagaimana taring Taehyung menggigit kulitnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah ketiga kali Jungkook memberikan darah untuk Taehyung dan ia sudah tidak merasa ngeri lagi, tidak merasa ngilu meski darahnya sedang dihisap vampire. Jungkook mengernyitkan alis. Setiap darahnya dihisap seperti ini oleh Taehyung, dia merasa dia melihat potongan-potongan memori vampire itu… seperti sekarang… Atau ini hanya halusinasi semata akibat vampire yang menggigitnya?
Taehyung menghisap darah Jungkook, kerongkongannya bergerak manakala menelan setiap tetesan darah Jungkook di rongga mulutnya. Kekuatan tubuh vampire itu perlahan datang kembali lagi. Darah Jungkook sangat manis dan menyegarkan ke setiap tulang-tulang Taehyung. Darah itu seperti darah terenak dan termanis yang pernah ia rasakan.
Meski Taehyung bisa meminum darah itu seharian tapi secara reflek ia masih bisa mengendalikan diri dan meminum darah manusia itu secukup yang ia butuhkan. Taehyung berhenti menggigit dan taringnya lenyap. Ia melepas lengan Jungkook dari mulutnya meski mata vampire itu masih terpejam.
Jungkook membuka mata ketika ritual sudah selesai dilakukan. Ia memandang Taehyung dengan nanar. Yang ia lihat barusan itu… apa benar memori Kim Taehyung?
Pria itu mengusap rambut Taehyung dengan perlahan, lega melihat wajah vampire itu yang sudah tidak pucat lagi. Urat-urat nadi hitam di pipi Taehyung pun telah lenyap. Ini menandakan tubuh Taehyung sudah tidak lemas lagi meski masih belum sadarkan diri.
Jika memori yang dilihatnya memang memori Taehyung maka masih banyak hal yang disembunyikan Taehyung selama ini. Dan Jungkook merasa ada luka yang begitu dalam di balik memori-memori itu. Jungkook menyesal karena ia sudah banyak menghakimi dan berpikiran negatif mengenai Taehyung, tanpa tahu apa yang sudah dialami dan dilaluinya.
I’ll be your best support system, Tae…
Itu adalah komitmennya. Ia akan menebus kesalahan yang telah ia lakukan pada Taehyung.
Jungkook mengelus kepala vampire itu, melihat kalau kulit Taehyung sudah normal, tidak pucat lagi. Ia melihat bagaimana noda darah di tangan dan baju Taehyung sudah mengering. Jadi Jungkook memutuskan akan berinisiatif membersihkannya. Ia pergi ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Ia pun melap tangan Taenyung, membersihkan noda darah di tangan vampire itu.
Jungkook menatap Taehyung sedih, teringat dengan potongan memori yang ia lihat saat Taehyung menghisap darahnya.
Saat itu Taehyung memakai baju serba putih seperti pasien rumah sakit. Ia diseret oleh dua petugas keluar dari bangsalnya. Badannya sangat lemas, kepala benar-benar sakit seperti dipukul godam. Jalannya oleng, ia hanya mampu membiarkan dirinya dibawa melewati lorong.
Tubuhnya menggigil karena efek obat kemarin. Kerongkongannya sangat kering seperti belum minum berhari-hari lamanya.
“Please… lepaskan aku…” ucapnya serak memohon pada dua petugas yang memeganginya. “Aku sudah berminggu-minggu di sini dan diperlakukan seperti binatang. Kumohon…”
Ia terperangah saat diseret ke tempat tidur, ada lima orang berpakaian seperti dokter sudah siap disana menatapnya dengan datar.
“Halo, ProjectV22,” sapa seorang dokter dengan nada tenang, tidak terusik sama sekali dengan kepanikan dan ketakutan yang dirasakan Taehyung. Wajahnya ditutupi masker medis. “Aku tahu kemarin kau baru saja mendapat uji perlakuan, tapi hari ini terpaksa kami harus melakukannya lagi karena sepertinya reaksi tubuhmu yang berbeda dibanding reaksi tubuh project yang lain.”
Taehyung menggeleng-geleng dan mata sudah menahan air mata. Apa orang-orang ini sungguh tidak ada belas kasihan sama sekali? Tidak ada rasa manusiawi?
Taehyung hanya bisa menjerit dan menangis saat dua petugas menariknya berbaring ke tempat tidur. Tangan dan kakinya yang meronta-ronta dipegang. Dokter yang lain menggeser meja besi penuh dengan botol obat. Di botol-botol obat itu terpampang tanda silang merah besar membuat siapapun yang melihatnya tahu obat macam apa yang ada di dalam situ.
Ada dokter lain memegang alat suntik. Ia menyuntikkan jarum ke salah satu botol, menyerap cairan kuning pucat dalam botol itu sampai memenuhi alat suntikan. Taehyung menggeleng-geleng dan memohon… namun ia hanya dianggap angin lalu karena dokter menyuntikkan cairan itu ke lengannya.
“This is good…” gumam dokter yang lain mengekeh pada temannya, “Jika ProjectV22 berhasil kita bisa menjadikannya sebagai tubuh inang obat penelitian kita.”
“Big Boss pasti akan senang. Dia sudah bosan menunggu project-project yang gagal dan berakhir mati.”
Tangan dan kaki Taehyung sudah berhenti meronta akibat pengaruh obat yang disuntikkan ke dalam tubuhnya.
“Aku mohon…” Hanya itu kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya sebelum akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri.
.
.
Jungkook membasahi wajah di westafel, ingin rasanya membenamkan kepala di air dingin. Pikirannya sangat penat, memori Taehyung yang ia lihat itu membuatnya sangat stres, memikirkan apa itu nyata atau tidak.
Jungkook memandang bayangan diri di cermin, melihat tetesan air yang mengalir di keningnya. Penglihatan masa lalu yang ia lihat tentang Taehyung belum juga hilang dari pikirannya. Ia tak mengerti mengapa ia melihat hal-hal seperti itu? Atau itu hanya halusinasinya saja? Tapi mengapa hatinya sangat sakit dan tidak bisa terima melihat memori itu. Jika dia berada di sana dia akan langsung menghajar orang-orang yang sudah memperlakukan Taehyung demikian. Jungkook benar-benar bingung… kenapa Taehyung diperlakukan demikian… dan nampaknya pun saat itu Taehyung masih manusia biasa? Bukan vampire?
Mata Jungkook membesar. Ia baru sadar kalau ia pun tidak tahu seperti apa latar belakang kehidupan Taehyung sebelumnya. Ia harus menanyakannya nanti setelah temannya itu sadar. Ada dorongan besar di dalam diri Jungkook saat ia melihat memori pahit itu, yang ingin ia lakukan adalah menolong Taehyung, melepaskan Taehyung dari orang-orang jahat di ruang medis.
Jungkook kembali membasahi wajah. Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Hidupnya sudah tak sama lagi sejak ia mengenal Taehyung. Banyak pola pikirnya yang berubah… dan Jungkook pun mulai berubah lebih mature bahwa ternyata dunia ini lebih jahat dari yang ia sangka. Perdagangan vampire…. Itu sangat menggoncangkan jiwanya.
Jungkook mengambil tisu lalu melap wajahnya dengan asal. Ia keluar dari kamar mandi hanya untuk terkejut saat melihat Taehyung sudah sadarkan diri. Vampire itu sedang duduk sambil memegangi kepala, seolah kepalanya sangat kesakitan.
“Tae!!” seru Jungkook. Ada kelegaan luar biasa melihat vampire itu sudah sadar. Ia bergegas mendekati ranjang.
Taehyung masih memegang kepalanya yang nyeri dengan mengernyit hebat. Rasanya seperti baru dipukul godam.
“Akhirnya kau sudah bangun.” ucap Jungkook duduk di pinggir tempat tidur.
Taehyung mengangkat kepala memandang Jungkook. Matanya membesar melihat Jungkook seolah kaget dan heran. “Jungkookie?”
Jungkook tercengang mendengar namanya dipanggil demikian. Ia melihat bola mata vampire itu, melihat bagaimana mata itu membola dengan polosnya lalu berubah berbinar memandang Jungkook. “T-Taehyung?”
“Kookie…” gumam Taehyung dan memberi senyum, “Kau disini untuk menemuiku?”
Jungkook terkejut melihat senyum itu, senyum yang dulu biasa diberikan Taehyung. Senyum yang innocent dan penuh ketulusan. Taehyung-nya yang dulu telah kembali? Untuk beberapa saat Jungkook sangat speechless, ia tak menyangka kalau Taehyung sudah kembali.
Jungkook langsung merengkuh Taehyung ke dalam pelukannya. “Oh my God, Tae… Taehyung…” ucapnya sangat terharu. Kim Taehyung, temannya yang innocent benar-benar kembali.
Kau pasti senang karena akhirnya aku pergi, Jeon…
Jungkook tersentak saat ia mendengar ada sebuah suara di kepalanya. Itu adalah suara Taehyung. Tapi bukankah Taehyung sedang memeluknya juga seperti ini. Taehyung tidak mungkin mengatakan kata-kata demikian… karena Taehyung tidak pergi, dia justru kembali.
Ini menyedihkan.
Aku menyedihkan…
Deg!
Jantung Jungkook seperti tertohok mendengar suara itu lagi di kepalanya. Ia melepas pelukan dan melihat Taehyung yang masih tersenyum penuh haru padanya. Kalau dilihat-lihat pun ini memang Taehyung yang dulu, semuanya tampak familiar, bagaimana cara Taehyung memberi boxy smile atau bagaimana matanya yang berbinar itu ketika memandang Jungkook. Taehyung yang kemarin tidak pernah senyum selebar itu padanya, sorot matanya pun dingin tidak sehangat yang di hadapannya sekarang.
Tapi kenapa… kenapa Jungkook mendengar suara Taehyung ketika Taehyung yang asli bahkan sedang tersenyum di hadapannya? Apa itu suara Taehyung yang kepribadian lain? Jungkook berusaha mendengar apa suara di dalam kepalanya kembali muncul. Namun nihil… Kepalanya saat ini hanya dipenuhi dengan pemikiran-pemikirannya sendiri.
Taehyung memiringkan kepala, sedikit bingung. “Kenapa kau ada di rumahku, Jungkookie? Apa aku tidur sangat lama?”
Jungkook tersentak dari lamunannya. Ia jadi berpikir apa jangan-jangan Taehyung yang ini pun tidak mengingat apa-apa?
“T-Tae… Apa yang terakhir kau ingat?”
Taehyung mengernyitkan kening, heran dengan pertanyaan Jungkook. “Yang terakhir kuingat…” Taehyung menggigit bibir berusaha mengingat-ingat sesuatu seolah sudah terjadi sangat lama. “Kau memintaku datang ke Gedung XX… dan… ada hunter yang menembakku membuat aku jatuh pingsan.”
Jungkook sangat syok. Itu adalah kejadian terakhir sebelum akhirnya kepribadian lain Taehyung yang muncul. Jadi bahkan Taehyung di depannya ini tidak mengingat apapun tentang kejadian beberapa minggu terakhir?
“Apa aku tidur selama itu, Kookie?” tanya Taehyung takut-takut karena Jungkook terus terdiam.
“K-kau tidak mengingat Black Dragon? Lee Dongwook?”
Taehyung sangat bingung mendengar pertanyaan Jungkook. Wajahnya begitu comical karena sulit memahami maksud pertanyaan temannya. “Black Dragon? Lee Dongwook? Aku tidak mengerti maksudmu…”
Jungkook semakin tercengang. Dia begitu heran kenapa Taehyung tidak bisa mengingat tentang kejadian-kejadian setelah tertembak hunter, sementara kepribadian lain dari Taehyung bisa mengingat semuan kejadian sebelumnya termasuk kejadian saat Jungkook masih bersama dengan Taehyung yang innocent.
Kau pasti senang karena akhirnya aku pergi, Jeon…
Ini menyedihkan.
Aku menyedihkan…
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan kepribadian lain Kim Taehyung pada Jungkook.
🎃🎃
Judul chapter ini adalah duality :
The intuitive and psychological confusing nature of mankind to be twofold. The state of being in two qualities..
Author serahkan pada reader untuk menebak plot cerita ini.