
Taehyung menghindar dari tembakan yang diarahkan mafia padanya. Kekuatannya lebih cepat dan gesit, dia menendang para mafia itu, menghancurkan kepala mereka atau mencabik daging yang ada pada tubuh mereka. Apapun akan dilakukan Taehyung supaya ia bisa keluar dari tempat laknat ini.
Taehyung mengambil pistol dari mafia yang sudah terkapar di lantai, langsung menambak ke mafia lain yang berusaha menyerangnya. Mafia-mafia lain berdatangan seolah tak ada habisnya. Sial, ada berapakah mafia di lantai ini saja? Mengapa begitu banyak?
Salah seorang mafia berhasil menembak lengannya karena Taehyung yang lengah harus melawan orang lain. Dengan cepat Taehyung mengambil kampak yang berada di tangan mafia dan melemparkannya pada orang yang sudah menembaknya.
Taehyung berusaha kuat. Hanya tembakan seperti ini tidak boleh membuatnya lengah. Asalkan bukan peluru silver, ia masih bisa menahan sakitnya. Apapun caranya dia harus berhasil keluar dari tempat ini meski setengah mati sekalipun.
Salah satu mafia berhasil menusukkan pisau ke bahunya. Taehyung langsung memukul punggung manusia itu, meremukkan tulangnya dengan seketika.
Ia segera mengambil pisau dan melemparkannya pada seorang manusia yang berusaha menembaknya. Dilihat dari pakaiannya yang berbeda sepertinya bukan mafia, bisa saja orang itu hunter. Seungki langsung jatuh rebah karena perutnya yang tertusuk pisau.
Saito, hunter lain yang datang pun menembakkan peluru silver namun Taehyung berhasil menghindar. Matanya membola saat melihat bahwa peluru yang ditembakkan merupakan silver. Dia harus berhati-hati. Jika terkena sedikit saja itu dapat melumpuhkannya dan membuatnya kembali dikurung di sindikat.
Saito menembak lagi namun Taehyung langsung menarik badan mafia di lantai dan menjadikannya sebagai perisai. Tubuh manusia itu yang tertembak sementara Taehyung aman di belakangnya. Taehyung mengambil pistol mafia di lantai lantas menembakkannya ke hunter itu. Saito pun seketika rebah di lantai.
Taehyung tidak mau berlama-lama lagi. Dengan cepat ia berlari sebelum mafia dari lantai lain berdatangan. Sampai di ujung ia hanya melihat pintu lift, tidak ada tangga atau apapun untuk akses keluar. Taehyung memencet-mencet tombol namun tak bisa. Sial, bagaimana dia bisa keluar kalau begini.
“Taehyung…”
Vampire itu menoleh kaget dan hanya semakin kaget saat melihat Donghyuk, Paman Jungkook. Mata membola karena tak menyangka bisa melihat hunter itu di tempat sindikat. Jadi apa manusia itu akan berusaha menumbangkannya juga sama seperti hunter lain?
Donghyuk menatap Taehyung, tidak ada keinginan untuk menyakiti teman Jungkook itu. Sindikat sudah melakukan kesalahan dengan menjadikan Taehyung korban. Bukankah itu juga yang menimpa orangtua Jungkook? Menjadi korban kebejatan sindikat?
Pria paruh baya itu memberikan kartu elektronik pada Taehyung. Kartu Itu merupakan alat pengakses lift gedung sindikat.
“Untuk menggunakan liftnya…” ucapnya, “Jangan gunakan lift ini, gunakan lift yang di sebelah sana.” Donghyuk menunjuk lift lain yang tak jauh. “Lift ini bukan digunakan untuk keluar dari gedung.”
Taehyung menerima kartu elektronik yang diberikan Donghyuk. Cukup tercengang karena hunter itu sedang berusaha menyelamatkannya? Apa karena tahu dia adalah teman dari Jungkook?
“Cepatlah pergi…” kata Donghyuk, “Selamatkan dirimu dari sindikat kotor ini.”
Taehyung tercengang. Ia tidak mengatakan apa-apa lantas bergegas ke lift yang ditunjuk Donghyuk, percaya saja pada perkataan hunter itu. Dengan kartu elektronik itu Taehyung membuka pintu lift dan segera masuk. Ia segera memencet tombol 0 untuk menuju pintu keluar dari sindikat.
Taehyung dan Donghyuk berpandang-pandangan sampai akhirnya pintu lift yang menutup.
Beberapa detik setelahnya pintu lift lain terbuka dan sekitar 6 orang mafia keluar dengan tergesa-gesa mencari vampire yang kabur karena sudah mendapat laporan.
Donghyuk berakting seolah ikut panik dan mengatakan ia melihat vampire yang kabur pergi bersembunyi di salah satu ruangan setelah ditembak oleh hunter.
Taehyung begitu berdebar-debar di dalam lift. Ia sampai di lantai 0 dan dengan waspada, keluar sambil melihat sekitar. Bahu dan lengannya masih mengeluarkan darah tidak ia pedulikan. Menahan rasa sakit semacam itu tidak seberapa dengan penderitaan yang sudah ia rasakan selama berada di sindikat.
Taehyung melihat di luar sini semacam merupakan lantai basement gedung tua. Ia mengendap-ngendap melihat hanya dua penjaga berdiri di depan pintu. Dengan cekatan Taehyung memukul kepala mereka membuat keduanya jatuh rebah tak sadarkan diri. Dengan itu Taehyung segera melesat keluar meninggalkan wilayah sindikat.
Daerah ini memang merupakan daerah terpencil. Taehyung memilih akan menggunakan jalan hutan dibandingkan jalan raya biasa, takut malah kepergok oleh pasukan sindikat atau bahkan oleh Dongwook sendiri. Sial memang Taehyung tidak berpapasan dengan Dongwook.. karena kalau iya dia akan mencincang manusia itu karena bagaimana perbuatan Dongwook pada clannya, pada Soojung, Jimin dan terakhir pada Jungkook.
Berjam-jam lamanya Taehyung berlari di hutan. Tak peduli dengan kakinya yang lecet sampai berdarah terkena ranting dan duri. Ia hanya menggunakan instingnya untuk mencari jalan pulang.
Hari semakin gelap saat Taehyung sudah berhasil keluar dari hutan. Ia mengingat jalan ini dan dengan segera berlari kembali menuju kediaman Kim Brothers. Dirinya sangat tegang dan berharap dia tak perlu berpapasan dengan salah satu anak buah sindikat. Melihat dari waktu yang sudah terlewati, bos sindikat pasti sudah tahu mengenai dirinya yang kabur. Dan para mafia pasti sedang dikerahkan untuk mencarinya.
Kaki sudah lemas karena berjam-jam berjalan. Tubuhnya pun melemah karena kehausan… bukan sekedar haus minum… tapi juga haus akan darah.
Ia sedang berlari menyebrangi jalan sebentar lagi sampai ke kediaman clan Kim saat tiba-tiba mobil melaju ke arahnya, langsung merem mendadak karena hampir menabrak.
Mata Taehyung merasa silau dengan lampu mobil itu. Lututnya pun agak goyah dan dia hanya sanggup berjongkook di tengah jalan. Apa dia tampak seperti pembunuh ya karena bajunya yang berdarah akibat luka tembak dan tusuk yang ia alami.
Taehyung sudah pasrah saat si pengendara mobil keluar. Dia hanya berharap itu bukanlah salah satu anak buah sindikat.
“Taehyung!!”
Taehyung menoleh dan merasakan aroma kehadiran hyungnya. Mata langsung berkaca-kaca saat melihat Namjoon mendatanginya dengan mata membesar.
“Astaga, Taehyung!” seru Namjoon dan kini merangkul dongsaengnya. Mata Namjoon sudah basah karena betapa terharunya bisa menemukan Taehyung lagi.
“Ya, Tuhan, kau baik-baik saja?” tanya Namjoon melepas pelukan dan melihat wajah Taehyung baik-baik.
Akhirnya Taehyung merasa lega dan aman. Akhirnya ia bertemu dengan keluarganya lagi.
“Kajja, aku akan membawamu pulang.” ucap Namjoon. Vampire itu bersyukur karena menemukan Taehyung saat ia tengah patroli di sekitar rumah kediaman Kim. Jadi ia bisa membawa Taehyung ke rumah baru clan Kim dan mereka bisa berkumpul dengan lengkap lagi.
Namjoon membantu Taehyung berjalan memasuki mobil. Taehyung duduk bersandar mengendalikan nafasnya yang masih terengah-engah. Namjoon segera menancap mobilnya untuk pulang. Tangannya dengan lincah menyetir sementara tangannya yang lain melakukan panggilan pada Hoseok dan Yoongi yang juga sedang patroli.
“Aku menemukannya! Aku menemukan Taehyung!”
.
.
Taehyung melihat pemandangan selama di perjalanan, melihat perkebunan dan pepohonan di sana-sini. Namjoon sudah menjelaskan bahwa Seokjin memutuskan untuk membeli rumah baru untuk keamanan semuanya dan terhindar dari sindikat. Taehyung meringis apabila mengingat sindikat memang telah mengetahui alamat rumah clan Kim, rumah Jimin dan rumah Jungkook. Keputusan Seokjin memang yang terbaik demi keselamatan mereka semua.
Hoseok dan Yoongi sudah sampai di rumah terlebih dulu. Mereka baru saja memberitahu orang-orang yang ada di ruang tengah bahwa Namjoon menemukan Taehyung saat terdengar suara mobil Namjoon yang datang.
Yang lain langsung keluar rumah untuk menyambut, kecuali Jungkook yang tidak tahu dengan kabar ini, masih di dalam kamarnya melamun sejak tadi sore.
Taehyung sangat terharu saat melihat orang-orang yang ia sayangi. Ia baru keluar dari mobil dan Jimin sudah berhambur memeluknya dengan erat dan penuh rindu.
“Taetae!” ucap Jimin setengah menangis, “Akhirnya kau kembali.”
“Jimin…” gumam Taehyung yang juga hampir menangis. Ia bersyukur karena temannya baik-baik saja.
“Oh, Taehyung..” ucap Hoseok dan merangkul bahu vampire itu. “Aku sangat bersyukur kau ditemukan.”
Taehyung memberi senyum. Yoongi menepuk-nepuk kepala Taehyung dengan sayang. Seokjin pun memeluk Taehyung setelah Jimin melepas pelukan. Sebagai Alpha, Seokjin akhirnya baru bisa merasa lega anggota clannya sudah ditemukan. Soojung juga memberi senyum pada Taehyung, senang karena vampire itu sudah lepas dari sindikat.
“Tanganmu terluka?” tanya Seokjin kuatir sambil memegang perlahan lengan adiknya.
Taehyung menggeleng. “Ini hanya luka ringan, sudah tidak apa-apa kok.”
“Apa kau tertembak dengan peluru silver?” tanya Yoongi cemas.
Taehyung kembali menggeleng. “Peluru biasa, itu sebabnya lukaku tidak bertahan lama.” Taehyung melihat sekeliling merasa ada yang kurang. Dia agak kuatir saat menanyakannya, “Mana Jungkook?”
“Dia di kamar, Tae.” ucap Jimin sendu. Temannya itu memang jadi sering melamun dan banyak menghabiskan waktu sendirian, seperti menyalahkan diri karena tidak berhasil menyelamatkan Taehyung.
“Dimana kamarnya?” tanya Taehyung tidak mau menunda untuk menemui Jungkook.
“Di lantai dua, kamar yang paling ujung.” kata Hoseok, “Kau mau kuantar?”
Taehyung menggeleng. “Anni. Aku ingin datang sendiri menemuinya.”
Seokjin mengangguk, memahami kalau Taehyung membutuhkan waktu privasi untuk bertemu Jungkook, keduanya perlu membicarakan hal-hal yang sudah terjadi.
Taehyung membuka pintu perlahan. Ia berjalan masuk… hatinya tertoreh saat melihat Jungkook yang sedang duduk melamun dengan wajah lara. Ada perban di lengan Jungkook menandakan manusia itu sudah terluka akibat perbuatan sindikat dan entah luka lain yang tidak nampak dari luar.
“Jungkook…”
Jungkook langsung menoleh cepat saat mendengar suara Taehyung itu. Mata membesar kaget. Dia melihat Taehyung berdiri di sana, pakaiannya kotor dan banyak noda darah, rambut berantakan ke segala arah. Katakan ini bukan mimpi atau halusinasi kan?
Taehyung berusaha menahan haru, memasang senyum meski sebenarnya ia sudah ingin menangis. Jungkook berdiri masih tercengang.
“Tae?”
Tidak salah lagi, yang di hadapannya itu memang Taehyung. Jungkook segera mendekat dan memeluk vampire itu merasakan kalau semua ini bukanlah mimpi.
Taehyung membalas memeluk, membenamkan kepala di punggung Jungkook serta menangis pelan-pelan. Ia menarik kata-katanya dulu kalau ia rela berpisah dengan clan dan orang-orang yang ia kasihi. Ia tidak bisa berpisah dengan mereka. Ia tidak mau berpisah lagi.
Jungkook juga menangis. Oh God… akhirnya… hari-hari kabungnya kini sudah tidak ada lagi karena Taehyung telah kembali. Jungkook mendapat kelegaan besar. Ia tidak akan cemas karena Taehyung sudah pulang.
Mereka melepas pelukan. “Are you okay?” tanya Jungkook berbarengan dengan Taehyung yang juga menanyakan hal yang sama.
Taehyung memberi senyum meski matanya sudah basah. “Aku sangat mencemaskanmu, Jungkook.”
Jungkook menarik nafas dalam-dalam. Dia pun mencemaskan Taehyung. “Kau terluka…” gumam Jungkok mengamati luka di lengan vampire itu. Ia menarik lengan Taehyung dan mendudukkannya di tempat tidur. Ia pun segera mengambil obat pembersih di kotak obat di kamarnya. Obat semacam itu ada di kamarnya karena memang juga disediakan untuk mengobati luka Jungkook.
Jungkook meringis melihat luka toreh di lengan vampire itu bahkan juga ada luka tembak. Darahnya sudah mengering tapi tetap membuat Jungkook ngilu.
“Aku baik-baik saja..” ujar Taehyung berusaha menenangkan. Dirinya sendiri tidak merasakan sakit akan lukanya. Mungkin karena dia sudah terbiasa… atau dia pernah merasakan sakit yang lebih dari ini sampai vampire itu kebal tak merasakan apa-apa.
Entah Jungkook harus bersyukur karena Taehyung adalah vampire kuat atau apa. Tapi Jungkook tetap sedih melihatnya. Perjuangan Taehyung untuk bisa keluar dari sindikat sampai seperti ini, untung tidak sampai meregang nyawa.
Jungkook tidak mengatakan apa-apa, masih dengan hati-hati membersihkan dan mengobati luka Taehyung. Ia harus menahan kemarahan di dalam diri, kemarahan dan dendam hanya akan terus bertambah pada sindikat dan big bos bernama Dongwook itu. Jungkook tidak akan tenang sampai ia melihat sindikat itu hancur.
Taehyung memandang Jungkook yang terus konsentrasi mengobati. Taehyung melihat lengan Jungkook yang diperban, masih ada luka lebam di wajah… belum luka lainnya. Manusia itu pasti sangat disakiti demi menyelamatkannya… sampai rela dipermainkan oleh sindikat.
“Mianhe, Jungkook…” bisik Taehyung. Jungkook mengangkat wajah dan membalas tatapannya. “Saat itu aku bahkan tak bisa menyelamatkanmu. K-kau bahkan memberi darahmu untukku… tapi Dongwook… dia…” Suara Taehyung tercekat tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang sudah dilakukan Dongwook pada Jungkook sampai Jungkook terluka. Instingnya saat itu adalah merasakan kalau Jungkook tengah berada dalam bahaya, hampir dibunuh vampire sindikat.
Yang dialami Jungkook memang bisa membuat siapapun traumatis. Jungkook pun sampai tak sadarkan diri beberapa hari. Namun Jungkook berusaha menguatkan hati, dia tidak boleh membiarkan dirinya dilemahkan karena masih ada tujuannya yang belum tercapai.
“Kau yang membangunkanku dari masa kritisku, Tae..” ujar Jungkook, “Apapun… apapun akan kulakukan untuk melepaskanmu dari sindikat.”
Taehyung sedikit menunduk. Layakkah ia mendapat pengorbanan besar dari Jungkook seperti ini? Dirinya yang merupakan monster… dirinya yang sudah banyak melakukan kesalahan…
“Aku sudah bilang kau bukan monster.” ucap Jungkook seolah mendengar pikiran Taehyung. “Merekalah yang monster, Tae.”
“Kook…” Taehyung mengangkat wajah dan sangat tersentuh.
Jungkook menghela nafas. Kalau dia tidak bisa menahan kesabaran dia pasti sudah mengeluarkan semua kata umpatan untuk sindikat dan big boss itu.
Jungkook masih ingin mendengar apa yang terjadi di sindikat, apa yang dialami Taehyung selama di sindikat… bagaimana Taehyung bisa kabur dari sana. Tapi mungkin tidak malam ini. Dia tidak mau mem-push Taehyung. Vampire itu butuh istirahat dan merilekskan diri.
.
.
Taehyung sudah tertidur. Setelah Taehyung menghisap darah Jungkook, vampire itu berbaring dan tak lama ia langsung tertidur. Sepertinya Taehyung memang sangat kelelahan atas apa yang terjadi seharian ini.
Jungkook mengusap kepala Taehyung. Dia benar-benar serius ketika mengatakan akan melakukan apapun untuk menghancurkan sindikat. Ya, apapun.
Jungkook bangkit dari tempat tidur dan keluar. Ia perlu mengisi perutnya yang lapar karena belum diisi, apalagi Taehyung yang barusan menghisap darahnya membuat Jungkook harus mengisi amunisi.
Sudah lewat tengah malam, penghuni rumah sudah berada di kamar masing-masing beristirahat. Jungkook sedang membuat sereal ketika Hoseok muncul di dapur. Vampire muda itu sedang menaruh gelas kopi saat melihat Jungkook dari belakang.
“Oh, Kook…” ucapnya. “Membuat makanan untuk Taehyung?”
“Anni, ini untukku.” sahut Jungkook sambil membalikkan badan.
Mata Hoseok seketika membesar saat melihat Jungkook. “Lehermu…” ucapnya terpana sambil menunjuk leher Jungkook.
Manusia itu tersentak dan memegang lehernya. “W-wae?”
“Lehermu digigit?” tanya Hoseok lambat ekstra hati-hati memperhatikan leher Jungkook yang ungu kebiruan.
“O-oh… Taehyung menghisap darahku.” Jungkook menunjuk lengannya yang diperban. “Lenganku masih sakit jadi aku menyuruhnya untuk menggigit di leher.”
“Ohhh…” Hoseok memberi anggukan dan tidak mengatakan apa-apa lagi meski ekspresi wajahnya berkata lain. Jungkook merasa awkward. Ia langsung mengambil mangkuk yang sudah diisi dan segera pergi setelah mengucapkan selamat malam untuk vampire itu.
Jungkook memegang kembali lehernya, dia tidak sadar kalau di lehernya akan memberi bekas setelah digigit vampire. Sepertinya mulai besok dia harus pakai turtle neck untuk menutupinya.
Jungkook masuk kembali ke dalam kamar hanya untuk terkejut saat melihat Taehyung sudah duduk bangun. Ekspresinya sangat linglung dan agak panik. Ia seperti terkejut saat melihat Jungkook berdiri di sana.
“Kookie?” tanya Taehyung bingung. Mata membola besar.
Jungkook menahan nafas. Ia tahu kalau yang sekarang ia lihat ini adalah Taehyung yang innocent, bukan V. Kenapa keduanya mendadak switch?
“Tae..” ucap Jungkook buru-buru meletakkan mangkuknya dan mendekat.
“Ini dimana?” tanya Taehyung, “Kita dimana?”
Jungkook menelan ludah. Padahal tadi Taehyung tertidur lelap kenapa bisa tiba-tiba switch kepribadian?
Alis Taehyung mengernyit takut. “I-ini bukan di sindikat kan?”
Oh Tuhan…
Hati Jungkook perih melihat ekspresi Taehyung yang sangat takut menyangka mereka berada di dalam sindikat.
“Anni… anni…” ujar Jungkook dan memeluk vampire itu, berusaha menenangkannya. “Kita di tempat aman, Tae. Kita jauh dari sindikat.”
Taehyung melepas pelukan dan menatap Jungkook masih dengan mata membola. Namun ia mengangguk memberi kepercayaan penuh untuk kata-kata manusia itu.
Taehyung membaringkan dirinya kembali di tempat tidur. Dia benar-benar seperti kelihatan linglung. Jujur saja justru Taehyung merasa dia sedang bermimpi. Ia kembali memejamkan mata seperti tidak terjadi apa-apa, seolah barusan ia tidak membuat Jungkook sangat cemas.
Jungkook melihat ke langit-langit menahan diri untuk tidak menangis. Lihat bahkan Taehyung sangat takut karena menyangka dirinya masih berada di sindikat. Entah apa yang sudah dilakukan para oknum jahat itu padanya sampai Taehyung tampak sangat trauma.
🎃🎃🎃
Special update today 201121 yeorobun 😍💜🎉🎉 karena bts 🎉
jangan lupa tinggalkan jejak