
Sementara itu Seokjin memperhatikan Soojung yang sedang sendirian berjalan di tengah keramaian Itaewon. Wanita itu berdandan seperti Harley Quinn. Rambut diikat dua tinggi dengan warna pirang dan perpaduan warna pink dan biru di kiri-kanan. Eyeliner hitam yang pekat, lipstik merah serta tanda hati di bawah mata kanan. Seokjin tetap merasa terpukau dengan penampilan ekstrim itu. Soojung selalu menyimpan kesan spesial dalam hati Seokjin, seperti apapun wanita itu, saat dulu SMP atau saat sekarang ini.
Soojung berjalan sendirian tanpa ekspresi, melihat orang-orang yang bersenang-senang di Halloween ini. Sejujurnya Soojung tidak ada niatan untuk ke tempat ini, dia sendiri menolak ajakan adiknya minggu lalu. Tapi saat sore tadi Soojung melihat instagram dan postingan Kai, memakai kostum Halloween bersama wanita yang katanya pacarnya… hati Soojung merasa panas. Berada di rumah akan membuatnya semakin uring-uringan. Jadi dia memutuskan datang ke Itaewon untuk merilekskan diri dengan berdandan seperti Harley Quinn.
Soojung juga ingin bersenang-senang, memangnya hanya Kai yang bisa melakukannya? Setelah insiden di club dengan mudahnya Kai mencampakkannya seperti ini seolah dia bukan apa-apa. Sial, seharusnya sejak awal Soojung tidak menerima Kai menjadi kekasihnya.
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Soojung menoleh. Ia terkejut saat melihat Seokjin, meski dosennya itu tengah memakai kacamata dan berkostum seperti Detektif Conan.
“Mr. Kim?”
Seokjin menahan senyum. “Aku tak sangka melihatmu disini.”
Itu bohong. Ini bukan tidak sengaja. Seokjin menghampiri Soojung karena mencium aroma wanita itu di Itaewon.
Soojung mengembangkan senyum. “Aku berusaha menikmati Halloween. Kata adikku disini yang paling keren untuk Halloween.”
“Sendiri?”
“Yeah. Kalau Mr. Kim?”
Seokjin mengangguk-angguk dan tersenyum. “Kita mungkin bisa menjadi couple Halloween malam ini, Quinn.”
Soojung tertawa renyah. “Okey, Detektif Cilik.”
“Aku tidak Cilik. Aku dosenmu.”
“Di Halloween semua sama rata, yang ada hanya karakter kostum.”
“Kalau begitu kau bisa memanggilku Seokjin malam ini, aku mengijinkanmu.”
Soojung menahan senyum. Well, very smooth, Seokjin-ah.
Keduanya pun berjalan bersama-sama mengitari Itaewon.
“Kalau dosen lain mendengarnya, aku mungkin langsung di-DO.”
Seokjin tertawa. “Tidak ada kewajiban jika kita berada di luar kampus. Kau bisa memanggilku Seokjin di luar kampus.”
Soojung mengangguk-angguk. “Hmm, okay.”
“Cobalah.. panggil namaku.”
Soojung menggeleng. “Itu tidak sopan jika aku memanggilmu demikian. Anda lebih tua dariku.”
Seokjin menahan nafas, yap benar sekali, dia jauuuhhh lebih tua dari Soojung, bahkan lebih tua dari buyut Soojung. lmao.
“Aku akan memanggilmu Oppa…” Soojung mengekeh karena betapa cringenya situasi ini, tapi entah kenapa Soojung senang ketika ia harus memanggil Seokjin dengan Oppa.
“Not bad.” kata Seokjin. Kapan ya terakhir kali ada yang memanggilnya Oppa? Rasanya sudah lama sekali.
“Apa Oppa lapar? Bagaimana kalau kita jajan corndog dan tteobokki?”
Pipi Seokjin bersemu merah saat Soojung menyebutnya Oppa. “Kajja, kita cari makan… Detektif Cilik ini sudah lapar.”
“Dan Harley Quinn pun butuh asupan untuk bersemangat sampai tengah malam.” tambah Soojung.
“Apa kau akan melihat pesta kembang api nanti tengah malam?”
Soojung menoleh. Sebenarnya ia tidak merencanakan sampai tengah malam di Itaewon, tapi jika Seokjin menemaninya… sepertinya Soojung berniat untuk melihat kembang api.
“Aku akan mengantarmu pulang, Soojung, kalau kau ingin melihat kembang api.”
Soojung mengulum senyum. “Hmm, sure~”
.
.
Namjoon terpisah dari Yoongi. Dhampir itu memang tidak terlalu suka berjalan terlalu lama atau jalan-jalan. Yoongi memilih untuk menunggu di dalam mobil saja sambil tiduran. Namjoon yang memang masih ingin menikmati malam Halloween akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan sendiri, sambil menunggu Taehyung selesai menghabiskan waktu dengan 2 teman manusianya.
Namjoon bertemu dengan beberapa vampire dari clan lain, bahkan ada juga vampire dari luar Korea. Mereka tidak banyak interaksi, hanya sama-sama memandang penuh arti karena mengetahui identitas masing-masing yang merupakan vampire.
Di jaman seperti ini vampire tidak akan berani menyerang manusia, karena yang ada hanya akan menjadi buah simalakama… seluruh anggota clan akan menjadi korban juga, diincar dan dibasmi oleh hunter. Vampire lain pun tidak akan ada yang simpati untuk membantu vampire lain yang mengundang petaka. Tapi bukan berarti vampire tidak menghisap darah manusia. Masih ada juga yang diam-diam melakukannya, menggigit lengan manusia dan menghisap darah, biasanya dilakukan oleh vampire yang juga punya kekuatan menghapus ingatan atau yang bisa menghipnotis. Atau ada juga vampire yang sengaja mencari kekasih lawan jenis dari manusia lalu menghisap darah di lehernya dengan dalih melakukan hubungan romantis. Tapi ya memang kenyataannya, jika ‘keinginan’ itu mutual, manusia yang dihisap darahnya tidak akan merasakan sakit, karena manusia itu pun menginginkannya.
Namjoon terlalu asyik melamun sampai mengabaikan sekitarnya. Ia tidak sadar saat seseorang memblocking jalannya. Namjoon melihat orang tersebut dan kaget saat melihat Hoseok!!
Baik Hoseok ataupun Namjoon, sama-sama menatap dengan mata membesar.
Hoseok seperti seseorang yang baru saja melihat hantu. Tapi memang demikian yang ada di pikiran Hoseok sekarang. Lihatlah Namjoon memakai baju serba hitam yang sebenarnya standar… namun mata hijaunya itu sangat asli… taring di giginya pun…
Namjoon ingin menghilang saat ini juga. Oh Lord, apakah dosanya sampai dia selalu bertemu dengan Hoseok?!
“O-oh…” ucapnya awkward, entah harus menyapa atau langsung lari saja.
Hoseok menelan ludah. Saat ini sebenarnya Hoseok pun berdandan seperti vampire : rambut licin dengan gel, mata merah, serta taring palsu di giginya… Tapi dia menyadari penampilan Namjoon jauuuhhh dari kata ‘dandan’ ataupun fake. Namjoon seperti vampire sesungguhnya… semua tampak real. Hoseok tidak mungkin salah lagi.
Namjoon meringis. Dia memutuskan untuk kabur saja. “A-aku permisi ya, teman-temanku sedang menungguku.. di-di…di sana~!” ucapnya asal menunjuk arah.
Hoseok berhasil menguasai dirinya, bagaimanapun rasanya tidak sopan jika memandang orang lain dengan caranya tadi. Hoseok juga sudah berjanji, bahwa saat ia bertemu dengan vampire asli, ia tidak akan membuat vampire itu merasa tidak nyaman.
“Ko-kostummu bagus, Namjoon-ssi…”
“Ha ha ha… kostum kita sama lho?” sahut Namjoon pahit.
“Y-yeah… kau vampire kan?”
Namjoon tertohok. Apalah maksud ucapan Hoseok itu. “Huh?”
“Ma-maksudku.. kostummu vampire, sama seperti kostumku, ha ha ha…” kata Hoseok berusaha meralat dan membuang kecanggungan.
“Y-yeah?” Namjoon tidak tahu harus mengatakan apa lagi, “Kalau begitu, aku permisi…” Namjoon buru-buru meninggalkan Hoseok sebelum manusia itu mengucapkan kalimat menohok lainnya. Vampire itu masih bertanya-tanya, apa Hoseok memang mencurigainya sebagai vampire atau memang Hoseok selalu bersikap aneh pada orang lain? Dunno… Namjoon merasa baiknya ia selalu menghindar dulu dari manusia bernama Hoseok.
Hoseok menatap kepergian Namjoon. Beberapa saat pun dia tersenyum sendiri. “Yes, aku menemukannya.” Hoseok memegang jantungnya yang berdegup tak karuan. Ini semacam pengalaman bertemu dengan seseorang yang sudah lama ia idolakan. Dan tadi itu dia melihat mata hijau Namjoon… mata yang sama yang ia lihat saat di toilet. Sudah jelas itu mata asli.
Hoseok berjanji dia tidak akan mengganggu Namjoon. Tapi tetap saja ada rasa penasaran dalam dirinya… dia harus mendekati Namjoon saat di kampus! demi keingintahuannya akan vampire.
.
.
Tengah malam itu kembang api meletup-letup di langit, menghiasi langit Itaewon di acara puncak Halloween. Orang-orang yang berada di sana bersorak riuh dengan kepala menengadah ke langit, melihat warna warni yang indah sekali.
Soojung tersenyum lebar melihat kembang api. Hatinya mulai tenang… dia tidak uring-uringan lagi karena Kai. Dia akan melupakan dan meninggalkan semua itu di belakang.
“Seperti tahun baru saja.” ujar Seokjin menatap langit dan tersenyum.
“Ternyata benar, Itaewon menyimpan sesuatu yang menakjubkan saat Halloween.”
“Apa bukannya karena aku menemanimu?” goda Seokjin, “Aku yang membuat suasana menakjubkan.”
Soojung mendengus tertawa.
“Kalau aku tidak ada, mungkin kau tidak akan disini melihat kembang api, bukan?”
Soojung menatap Seokjin. Yah itu benar… Kalau tidak ada Seokjin, Soojung mungkin sudah pulang dari tadi masih dengan beban berat akibat perbuatan Kai.
“Kau penyelematku hari ini…” bisik Soojung.
“Mwo?” tanya Seokjin pura-pura tidak mendengar, tertawa pelan. Meski kembang api masih meledak-ledak di langit, bukan berarti telinga vampirenya tidak dapat mendengar bisikan Soojung.
Yang tidak ia sangka-sangka adalah saat Soojung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Seokjin. Wanita itu memejamkan matanya dan mengecup bibir dosennya yang masih setengah tertawa.
Seokjin sangat syok. Kecupan itu tidak bertahan lama namun ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya. Ia merasa seperti dihidupkan kembali.
Soojung membuka mata dan memandang Seokjin dengan sayu. Wanita itu menyalahkan suasana.. sepertinya ia terbawa suasana sampai ada dorongan untuk mencium Seokjin.
Mereka bertatap-tatapan. Soojung bisa melihat ada warna-warna kembang api yang terefleksikan di mata hitam Seokjin. Dan Seokjin juga bisa menghitung bulu mata lentik wanita di hadapannya.
Soojung mendekatkan wajahnya kembali. Dari dulu dia memang selalu berharap bisa mencium seseorang saat ada kembang api di langit. Dan malam ini semuanya terwujud, tanpa direncanakan.
Soojung mencium bibir Seokjin kembali, kali ini lebih berani. Seokjin pun membalas ciuman itu. Ia memegang leher wanita itu dengan hati-hati, memperdalam ciuman mereka sementara ledakan kembang api terus terdengar di langit. Suasana hati Soojung pun sama seperti kembang api di langit.. meletup-letup.
Untuk saat ini Seokjin melupakan dirinya yang merupakan vampire. Dia tidak menggigit Soojung… karena saat ini yang ada di benaknya adalah mencium wanita itu seolah ia sudah merindukannya sejak lama.
🎃🎃
Nah lho,, nah lho,, ada benih benih cintrong
Jangan lupa beri like dan comment yaa😊