Vampire In The City

Vampire In The City
Mencari Kebenaran




“Tembak jantung untuk membunuh vampire.” Taehyung menembak ke arah bantalan manusia dan tepat mengenai jantung. Ia menembak dua kali dan tidak ada yang meleset.


Dorr! Dorr!


Jungkook berhenti meninju samsak. Ia mengarahkan pandangan ke sisi kiri, melihat Taehyung tengah menembak tepat ke sasaran bantalan manusia.


“Wow…” gumam Jimin terkejut sambil memandang Taehyung.


Jungkook membuka sarung tinjunya, ia bergegas ke sana mendekati Taehyung, Soojung, Seokjin dan Yoongi. Jimin pun mengikutinya di belakang. Hoseok yang sedang berbaring angkat beban pun menolehkan kepala, Namjoon pun teralihkan perhatiannya padahal tadi dia sedang menceramahi Hoseok mengenai kiat membentuk otot.


Taehyung memberi smirk dan matanya membola. “Tembak kepala untuk membunuh manusia.” Ia pun menembaki kepala manusia berkali-kali sampai bantalan itu robek di bagian kepala, busanya sedikit keluar akibat kerusakan yang dibuat Taehyung.


“Tae….” ucap Yoongi sedih. Seokjin pun hanya menatap anggota clannya sementara Soojung membesarkan mata, bukan karena skill atau ucapan Taehyung barusan, namun karena sebelah mata vampire itu yang berwarna putih. Ini pertama kalinya ia melihat vampire bermata menyeramkan seperti itu.


Jungkook merasa sebelah kepalanya sakit. Dan untuk beberapa saat ia melihat bayang-bayang pria wanita berpakaian putih, seperti tenaga medis, sedang memegang alat suntik. Mereka mengobrolkan sesuatu lalu mengekeh sambil memindahkan meja besi yang berisi botol-botol obat dengan tanda silang di kemasannya.


“Tae!” Ucapan Jimin itu mengagetkan Jungkook kembali ke dunia nyata. Dilihatnya Jimin sedang memegang lengan Taehyung, Yoongi memegangi Taehyung juga sementara sang Alpha mengambil pistol dari tangan Taehyung.


Jungkook menatap Taehyung dengan mata terbelalak. Sebenarnya apa yang barusan dilihatnya? Itu bukan memorinya sama sekali. Lagipula ia bisa merasakan dendam dan kebencian dari sorot mata Taehyung itu.


Taehyung mendongak dan melihat Jungkook yang sedang menatapnya. Alis Jungkook itu melengkung ke bawah, seolah sedang memikirkan sesuatu yang menyedihkan. Taehyung tidak akan menyalahkan Jungkook jika pria itu kembali menganggapnya sebagai monster. Well, dia akui… dia memang monster.


****


Sudah beberapa minggu ini Jungkook mengikuti mata kuliah tambahan di kampusnya. Ia mengambil mata kuliah fotografi karena hobinya akan menjepret objek. Kelas ini hanya diikuti oleh belasan mahasiswa, mungkin karena ini mata kuliah tambahan yang tidak wajib makanya tidak banyak yang berminat. Tentunya yang mengikuti kelas ini adalah mereka yang memang concern di bidang fotografi. Kelas in terdiri dari mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus.


Dosen baru saja menjelaskan mengenai teknik mengambil objek gambar dengan menggunakan teknik panning. Dan dalam sisa waktu ke depan, setiap mahasiswa diminta mengambil gambar dengan teknik tersebut menggunakan kamera masing-masing.


Jungkook mengeluarkan kamera dari tasnya. Jujur saja beberapa waktu ini passionnya sempat hilang dalam fotografi. Banyak hal yang terjadi yang membuatnya tak punya waktu untuk kameranya ini.


Jungkook mendesah. Dia akan mencobanya kembali, mengasah hobi ini.


Jungkook mengecek memory cardnya yang ternyata sudah full. Dia berdecak kesal, dia bahkan belum memindahkan foto-foto di kameranya dan mengosongkan memori.


“Aishh…” gumamnya kesal sendiri. Sekarang apa dia bisa memotret kalau seperti ini.


“Sepertinya kau ada masalah?” ujar seseorang mengagetkan Jungkook. Dilihatnya seorang mahasiswi yang sejak tadi duduk tak jauh dari mejanya. Jungkook memang tak terlalu memperhatikan sekitar, siapa yang duduk di dekatnya di mata kuliah tambahan, ia pun tidak mengenali wanita itu.


“Umm, yah…” sahut Jungkook kaku. Percakapan pertama dengan orang asing memang tidak selalu mulus untuk Jungkook.


“Memorimu penuh?” tanya wanita berparas cantik itu sambil menaikkan sebelah alis dan melongok ke kamera Jungkook.


“Well.. itulah yang terjadi…” Jungkook menghembuskan nafas panjang.


“I can help.” ucap wanita itu dengan senyum. Ia membuka puch kecil yang sepertinya berisi perlengkapan fotografi. Wanita itu memberikan SDXC (semacam kartu memori kamera) pada Jungkook.


Mata Jungkook membesar menyadari apa yang terjadi. “A-anni.. tidak perlu repot-repot, aku–“


“Terima saja, nanti bisa kau kembalikan lagi. It’s ok.”


Jungkook pun mengangguk dan menerima memory card tersebut. Ia menggumamkan terimakasih. Dan rasanya dia akan seperti pria berhati dingin jika tidak memperkenalkan diri. “Namaku Jeon Jungkook, aku dari Teknik Kimia.”


Wanita itu menyunggingkan senyum. “Namaku Lalisa, orang-orang biasa memanggilku Lisa. Aku dari jurusan kedokteran hewan. Senang berkenalan denganmu, Jungkook-ssi.”


Well damn. Wanita itu bahkan tidak nampak dari jurusan dokter hewan. Jungkook sebenarnya cuek pada sekelilingnya namun ia masih tak menyangka bahwa wanita yang berpenampilan modis ini berasal dari jurusan dokter hewan.


“Kaget ya?” Lisa terkekeh pelan, “Aku lebih memilih masuk jurusan ini dibandingkan kedokteran biasa.”


“Wae?” Mau tak mau Jungkook cukup tertarik dengan obrolan ini.


“Struktur anatomi manusia tampak membosankan. Aku ingin tahu struktur anatomi makhluk lain dan aku bercita-cita kelak bisa menyembuhkan hewan yang sakit.”


Jungkook mengangguk-angguk. Cita-cita yang sangat mulia.


“Jadi kau akan memotret apa?” tanya Lisa karena mahasiswa yang lain sudah menyebar untuk mencari objek foto.


“Aku akan memotret di kantin,” sahut Jungkook, “Teknik panning akan cocok untuk tempat ramai seperti kantin.”


“Pilihan bagus,” ujar Lisa, “Aku pun sepertinya akan memoto di kantin.”


Keduanya pun bersama-sama ke kantin sambil mengobrol.


“Apa teknik kimia merupakan jurusan seru?” tanya Lisa sambil berjalan di sebelah Jungkook.


“Well… sama seperti jurusan lain kurasa. Mahasiswanya heterogen.”


“Kukira mahasiswa teknik kimia serius semua karena kau kelihatan begitu, Jungkook-ssi.”


Jungkook tertawa pelan. “Orang-orang pun mengatakan demikian. Yah memang aku pun hanya punya beberapa teman saja.”


Lisa mengangguk-angguk. “Kalau temanmu sedikit pasti kau sangat dekat sekali dengan mereka ya?”


Jungkook tersenyum sendiri, entah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Lisa itu. “Bisa dibilang begitu.”


Keduanya sudah sampai di kantin dan Jungkook pun permisi untuk berpisah jalan. Ini supaya keduanya punya space masing-masing dalam memotret objek. Tidak buruk juga, Jungkook merasa ia sudah memiliki seorang teman baru.


***


Malam ini Jimin kembali ke rumah kediaman Kim Brothers untuk melakukan ritual. Jimin perlu melakukan hal ini dua minggu sekali yaitu menerima transfusi darah vampire. Seperti biasa darah yang akan ditransfusikan adalah darah milik Yoongi. Dhampir itu pun masih berusaha mencari obat untuk men-stop ketergantungan Jimin ini.


“Bagaimana kabar ibumu, Jimin?” tanya Yoongi pelan sementara ia sedang menyiapkan selang transfusi. Jimin sudah berbaring di tempat tidur di ruangan yang dijadikan sebagai ruang medis oleh clan Kim.


“Dia sehat…” ujarnya. Jimin sudah tidak merasakan takut lagi dengan ritual ini, mungkin dia pun sudah sangat percaya pada Yoongi dan yang lainnya.


“Apa Ibumu pernah menerima tamu?” tanya Yoongi.


“Aku berpikir tentu saja akan ada orang yang datang menemui ibumu dan mungkin menanyakan mengenai vampire yang pernah ada di basement.”


Mata Jimin membesar. “Begitukah?”


“Ibumu sudah kehilangan memori mengenai vampire. Jika ada orang yang datang seperti itu dan memberitahunya pasti akan membuat Ibumu sangat bingung. Dan jika demikian ibumu bisa dilaporkan ke organisasi yang sudah menyediakan vampire untuk ibumu itu.”


Jimin menelan ludah. Dia merinding sendiri membayangkan betapa bahayanya hal tersebut. “Apa yang harus kulakukan, Hyung?”


“Kau bisa memberitahuku jika ada orang semacam itu datang ke rumahmu.”


“Tapi bagaimana kalau orang tersebut datang di saat aku sedang kuliah?” Mendadak Jimin panik sendiri. Kalau seperti ini tensi darahnya akan naik dan Yoongi belum bisa mentransfusikan darah sampai tekanan darah Jimin normal kembali.


Itu pertanyaan yang sulit dijawab oleh Yoongi. “Kalau begitu… apa kau siap untuk memberitahu ibumu tentang apa yang terjadi? Tidak perlu kau menyebut clan kami, mungkin cukup menceritakan secara umum saja.”


Ini dia. Inilah yang selalu ditakutkan Jimin, saat dimana ia harus mengajak ibunya berbicara mengenai vampire. “Aku akan coba, Hyung.”


.


.


Setelah ritual selesai dilakukan, mereka bergabung bersama yang lain yang berada di ruang tengah. Namjoon dan Hoseok sedang berkutat di depan laptop menyelesaikan tugas makalah, Taehyung rebahan di sofa sambil memakan es krim dalam cup besar, Seokjin sibuk dengan ponselnya.


Jimin langsung saja bergabung dengan Taehyung, menjarah es krim vampire itu membuat Taehyung hanya bisa mendelik sebal.


“Apa sudah ada perkembangan dari dewan vampire?” tanya Yoongi pada Seokjin. Ia sedang menanyakan perihal kasus serangan hunter di villa bambu.


Seokjin mengangkat wajah. “Ah, aku lupa memberitahunya ya. Beberapa hari yang lalu aku mengobrol dengan Jackson. Dia mengatakan bahwa Vernon, salah satu dewan vampire yang tertangkap merupakan vampire soulmate. Jadi dewan vampire sedang berusaha melacak keberadaan Vernon melalui telepati dari soulmatenya.”


Tiba-tiba Taehyung langsung terbatuk saat mendengar kembali kata soulmate. Jimin sampai kebingungan melihat reaksi temannya.


Yoongi melirik Taehyung sekilas. Namjoon pun langsung berhenti mengetik dan memandang Seokjin.


“Soulmate?” tanya Hoseok heran.


“Aku pun tidak tahu mengenai vampire soulmate,” ucap Seokjin jujur, “Tapi sepertinya tidak banyak kejadian seperti itu.”


“Taehyung pun adalah vampire soulmate…” ucap Namjoon polos.


“Mwo?” tanya Seokjin dan Jimin berbarengan.


Taehyung belum sempat mencegah mulut ember Namjoon yang langsung mengatakan, “Jungkook adalah soulmatenya.”


Hening. Seokjin mengernyit, Hoseok mengerjap-ngerjap lalu membalikkan badan pada Taehyung, sangat syok. Taehyung rasanya ingin berteriak marah, mengamuk, tapi entah harus pada siapa.


“Tapi Jungkook bukan vampire…” gumam Jimin. Ia menoleh pada Taehyung, mencermati wajah temannya baik-baik seolah ada jawaban di wajah vampire itu.


“Taehyung hanya bisa meminum darah Jungkook saja, jika meminum darah lain dia akan muntah.” lanjut Namjoon panjang lebar tanpa peduli dengan pergolakan emosi Taehyung sekarang.


Yoongi mendesah. Ia bisa merasakan bagaimana emosi Taehyung saat ini seperti gunung berapi yang meletus. Kalau tidak hati-hati Taehyung bisa mengamuk dan mendiamkan semua penghuni rumah.


“Begitukah?” Seokjin mengernyit pada Yoongi, bertanya-tanya mengapa dhampir itu belum memberitahunya.


“Aku pun tidak tahu banyak mengenai soulmate,” ucap Yoongi akhirnya, “Tapi itu kesimpulan pertama yang kuambil untuk kasus Taehyung.”


“Kalau seperti itu… apa artinya Vernon sudah mati?” tanya Seokjin, “Karena ia sudah ditangkap berminggu-minggu lamanya. Dia akan mati jika tidak meminum darah soulmatenya.”


“Lah…” Namjoon jadi melongo. Ucapan Alpha itu tidak sinkron dengan teori soulmate yang ia dengar, terutama pada kasus Taehyung. Taehyung memang hanya bisa meminum darah Jungkook saja… sementara untuk kasus Vernon yang memiliki soulmate juga dari sesama vampire. Jika benar vampire soulmate hanya bisa meminum darah dari soulmatenya saja sudah bisa dipastikan Vernon telah mati karena ia diculik berminggu-minggu lamanya.


“Kasus yang berbeda karena Vernon bertemu soulmatenya yang juga vampire.” ujar Yoongi. “Kalau kasus Vernon dia masih bisa meminum darah manusia, well dia bisa juga meminum darah soulmatenya tapi bukan berarti dia tidak bisa meminum darah manusia lagi. Sedangkan Jungkook adalah manusia. Pertama kali Taehyung menggigit dan menghisap darah pun adalah dari Jungkook. Kurasa itu yang membuat–“


“Hentikan omong kosong ini!” potong Taehyung sudah tak tahan menjadi topik pembicaraan. “Aku akui aku hanya bisa meminum darah Jungkook saja, tapi tidak perlu mengaitkannya pada soulmate. Itu membuatku sangat tidak nyaman!”


Taehyung langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya. Moodnya berubah drastis karena teori picisan tentang soulmate.


“Taehyung hanya bisa meminum darah Jungkook?” ulang Jimin masih tercengang. Dirinya yang merupakan manusia biasa perlu ekstra berpikir dalam kasus vampire seperti ini.


“Kita anggap itu saja faktanya,” sahut Yoongi menghela nafas, “Kurasa Jungkook pun akan merasa tak nyaman kalau mendengar dia adalah soulmate dari seorang vampire. Bukankah begitu, Jimin?”


Mulut Jimin masih membuka karena syok yang dialami. Ia pun mengangguk setuju. Ia tahu kalau sejak kecil Jungkook sudah membenci vampire akibat kematian yang dialami orangtuanya. Jika Jungkook tahu bahwa dirinya merupakan soulmate dari vampire, mungkin Jungkook merasa sedang mendapat kutukan. Dirinya ingin membalas dendam pada vampire namun malah diberikan sebaliknya.


“Setidaknya aku sedikit lega, ada kemungkinan Vernon masih hidup.” kata Seokjin sambil memijit kepalanya.


“Vampire yang ditangkap pasti masih hidup namun kondisinya sudah tereksploitasi.” sahut Yoongi.


“Kita harus segera menemukan vampire-vampire itu,” ujar Hoseok sambil menggigit kuku, “Dan mungkin ada juga vampire-vampire lain yang menjadi korbannya.”


“Memang banyak vampire yang hilang,” tutur Namjoon, “Hanya saja kita selalu menyangka vampire itu hilang karena dibunuh oleh hunter, entah dibakar atau apa sampai kita tidak bisa menemukan mayatnya.”


“Itulah yang kita pikirkan,” tukas Seokjin, “Tapi sekarang kita tahu sebenarnya apa yang para hunter itu lakukan.”


Hoseok menggigit bibir, teringat kembali dengan web Delicious Pasta. Ia jadi bertanya-tanya apa ada perkembangan yang sudah didapatkan Taehyung dari club Black Dragon ya? Apa Delicious Pasta memang web sindikat penjualan vampire?


Wajah Jimin sekarang begitu pucat. Dia masih terguncang dengan apa yang dibicarakan para vampire. Ini semakin membuktikan bahwa manusia pun bisa berlaku lebih biadab dan tak berperasaan, mengeksploitasi vampire untuk meraup keuntungan.


🎃🎃


shout out tokoh baru (lagi) di novel ini... LISA



pada hakekatnya semua yang ada di novel ini hanyalah fiktif belaka 😔 kira-kira Lisa mau ngapain ya


jangan lupa berikan jejak 🐾🐾 like comment vote😅