
Hoseok duduk di belakang Namjoon saat perkuliahan hari itu. Hoseok sedang mencoret-coret buku catatannya, setengah bosan karena dosen belum datang. Di depannya Namjoon tampak sedang mengobrol dengan Suho. Hoseok mendengar mereka sedang membicarakan film terbaru Marvel.
Hoseok menerawang menatap jendela. Langit tampak sangat cerah. Hoseok bertanya-tanya, akankah ia bisa bertemu dengan vampire? Ingin sekali bisa melihat seperti apa keseharian vampire. Apa vampire takut matahari?
Mr. Choi, dosen Matriks, akhirnya masuk dan menyapa mahasiswanya. Ia sudah terlambat 15 menit. Belum perkuliahan dimulai, ponsel sang dosen berdering, menyela perkuliahan yang akan dimulai. Mr. Choi mengangkat telpon dan sedikit menyingkir ke pintu, bergumam pelan dengan lawan bicaranya.
“Apa kita akan dapat jam kosong?” tanya Suho sambil menaik turunkan alis, memandangi Mr. Choi.
Namjoon mendengus pelan. “Kita tetap kuliah, tapi mungkin hanya bisa setengah jam saja.”
“Wae?” tanya Suho heran.
Namjoon angkat bahu. Telinga vampirenya sudah mendengar apa yang menjadi obrolan Mr. Choi, bahwa sejam lagi Mr. Choi ditunggu untuk mengikuti seminar penting. Namjoon mendengar bahwa Mr. Choi mengatakan dia akan mengajar 30 menit saja untuk mahasiswanya.
Beberapa saat kemudian setelah Mr. Choi menyudahi panggilan, beliau pun mengumumkan bahwa ia hanya bisa mengajar setengah jam dan dilanjutkan penugasan yang harus dikerjakan oleh mahasiswanya.
Suho mengekeh-ngekeh pada Namjoon. “Apa kau ini cenayang?”
Namjoon memberi smirk. “Kebetulan tebakanku jitu. Jarang-jarang lho.”
Hoseok mendengar semua pembicaraan itu. Ia menatap Namjoon dari belakang dengan penasaran. Bagaimana bisa Namjoon menebaknya dengan detail seperti itu? Apa benar memang kebetulan?
Hoseok membuka-buka jurnal pribadinya. Disitu ia menuliskan informasi-informasi penting mengenai vampire yang ia kumpulkan. Ia bahkan juga menempelkan berita-berita ‘aneh’ yang sepertinya ada kaitannya dengan kehadiran vampire. Hoseok memang mengumpulkan banyak hal mengenai vampire. Ia mencetak berita dari internet, menggunting berita yang ada di koran/ majalah yang sekiranya mirip dengan aktivitas vampire, dan menempelkannya di jurnalnya ini.
Jemari Hoseok menelusuri kalimat yang pernah ia tulis mengenai fakta vampire :
Vampire memiliki indra pendengaran yang sangat kuat. Dia bisa mendengar suara dari kejauhan, bahkan bisa mendengar detak jantungmu jika vampire berniat berkonsentrasi melakukannya.
Hoseok mengerjap-ngerjap dan kembali memandang Namjoon dari belakang. Pria itu kini sedang menyimak penuturan dosen selayaknya mahasiswa normal.
Hoseok menggeleng-geleng. Aih, tidak mungkin kan Namjoon vampire. Masa hanya karena satu kejadian barusan saja, yang mungkin hanya kebetulan, tidak mungkin Namjoon merupakan vampire.
Eh, tapi… Hoseok kembali teringat bahwa ia pernah melihat Namjoon tidak bernafas?
Hoseok menggaruk-garuk rambutnya. Tidak mungkin. Saat itu juga mungkin hanya perasaannya saja. Mana mungkin Namjoon tidak bernafas. Pria itu mungkin bernafas sangat pelan, saking pelannya sampai dadanya tidak bergerak. Ya, mungkin begitu.
Hoseok berusaha mengabaikan kecurigaannya. Hanya dua evidence bukan berarti dia bisa menyimpulkan seseorang merupakan vampire kan. Hoseok tertawa sendiri sambil membalik-balik buku jurnalnya… ada banyak informasi lain tentang fakta vampire. Jika teman sekelasnya itu memiliki semua fakta tersebut barulah Hoseok bisa beranggapan Namjoon adalah vampire.
***
Para mahasiswa masih anteng di kelas, menyelesaikan tugas portofolio Biokimia, sementara dosen sudah sejak tadi meninggalkan kelas dan menyuruh perwakilan kelas yang nanti mengumpulkannya ke ruangan dosen.
Taehyung sedang anteng menyelesaikan tugasnya yang tinggal sedikit lagi itu. Tadi dia juga sempat meminta bantuan Jungkook dalam mengerjakan beberapa masalah. Jungkook sendiri sudah menyelesaikannya, masih duduk melihat-lihat ponselnya.
Hyunjun dan Sunwoo yang duduk di belakang Jungkook, masih berkutat mengerjakan portofolio mereka. Hyunjung yang tadi diminta dosen untuk mengumpulkan tugas para mahasiswa dan membawanya ke ruangan dosen.
“Aishh, cepatlah kerjakan…” tukas Hyunjun pada Sunwoo yang masih sibuk menyalin, “Aku harus cepat-cepat karena aku ingin menonton pertandingan bola.”
Sunwoo mengangguk-angguk. “Sama, aku juga harus segera ke tempat pertandingan bola untuk menonton.”
“Apa kita suruh orang lain saja yang mengumpulkan tugas?” usul Hyunjun.
“Tapi siapa?” sahut Sunwoo dengan asal menulis sisa jawaban.
Hyunjun mendecakkan mulutnya. Matanya tiba-tiba tertuju pada Taehyung yang duduk di depannya, baru menyelesaikan tugasnya, sedang membereskan alat tulis.
“Kita suruh saja anak kampung itu…” ujar Hyunjun sambil menunjuk Taehyung dengan dagunya.
Sunwoo mengangguk sambil memberi smirk. “Oh yes, tentu dia bisa dimanfaatkan.”
Jungkook mendengar pembicaraan itu dan ia tahu siapa yang mereka maksud. Jungkook menolehkan kepalanya kepada dua orang itu, memicingkan matanya dengan dingin. Taehyung yang meskipun memiliki telinga vampire, tapi dia sama sekali tidak berpikiran bahwa yang dua orang itu obrolkan adalah mengenai dirinya.
Hyunjun dan Sunwoo merasa sangat terintimidasi dengan tatapan Jungkook, seolah sedang mengancam tanpa suara jika Hyunjun dan Sunwoo berani melakukannya pada Taehyung.
Jungkook membuang muka dan berbalik pada Taehyung yang duduk di sebelahnya. “Taehyung, tugasnya sudah?”
Taehyung memberi senyum lebar. “Sudah beres~~”
Jungkook langsung berjalan pergi menuju pintu. Taehyung memberi senyum sopan pada Hyunjun dan Sunwoo, sambil menggumamkan terimakasih. Ia langsung bergegas pergi mengikuti Jungkook.
Jungkook menghembuskan nafas keras-keras, berusaha menahan kesabaran. Masih saja ada orang yang berani melakukan ketidakadilan di kampus ini. Jika Jungkook tidak ada di samping Taehyung, entah mungkin Taehyung sudah menjadi bulan-bulanan orang itu, dimanfaatkan semena-mena.
“Jimin~!” panggil Taehyung ceria sambil mengangkat satu tangan. Jungkook tersadar dari lamunannya dan melihat ada Jimin yang berdiri bersandar ke loker.
“Kalian lama sekali…” gerutu Jimin, “Aku sudah menunggu 10 menit.”
Jungkook hanya memutar bola mata sementara Taehyung dengan polosnya meminta maaf karena tadi dia harus mengerjakan tugas.
“Kita ke Starbucks bagaimana?” usul Jimin sambil merangkul pundak Taehyung, “Aku butuh kafein untuk menyelesaikan tugas nanti malam.”
Taehyung mempoutkan bibirnya. “Aku tidak suka kopi.”
“Aahh jinja?” tanya Jimin tercengang. Dia tak menyangka masih ada mahasiswa yang tidak butuh kafein.
“Tenang, di sana ada minuman selain kopi.” timpal Jungkook.
Jimin mengangguk-angguk. “Ada minuman Unicorn Frappuccino.”
“Itu tetap saja kopi.” tukas Jungkook memutar bola mata. “Ada minuman cokelat, Tae, kau bisa memesannya.”
Taehyung mengangguk. Dirinya semakin terbiasa menghabiskan waktu pulang kuliah bersama Jimin dan Jungkook. Ini masih merupakan sesuatu yang baru dan spesial untuknya. Taehyung sangat senang dia bisa bersama manusia yang baik seperti Jungkook dan Jimin.
“Oh ya, nanti hari Sabtu aku ada tampil menari..” ucap Jimin semangat.
“Wahh dimana?” Taehyung tak kalah semangat.
“Di mal, kalian datang yaaa…”
Taehyung menangkup dua tangan dengan antusias, mengangguk-angguk. “Tentu saja, Jimin Chingu~”
“Hari Sabtu adalah hari dimana aku bermain game.” sahut Jungkook datar.
“Ayolah, Jungkookie…” pinta Taehyung memelas sambil menarik lengan Jungkook, “Ayo kita datang menonton Jimin yang menari.”
“Ughh…”
“Kita bisa langsung bermain game favoritmu itu, Jeon, setelah danceku selesai.” ujar Jimin.
“Huh, okey, okey…” sahut Jungkook menyerah.
Taehyung bersorak girang dan Jimin rasanya ingin meremas badan Taehyung saking gemasnya, dan tampak squishy.
“Kita bisa menginap di tempatku atau di rumah Jungkook.” kata Jimin mengusulkan, “Besoknya kan Minggu.”
Mulut Taehyung membuka takjub. Dia belum pernah menginap di rumah teman. Ini bagaikan mimpi. Tapi dia sendiri tidak tahu apakah hyungline akan mengijinkannya atau tidak.
Jungkook mengangguk-angguk saja, tidak keberatan dengan usulan Jimin.
Dari kejauhan tampak dua vampire mengawasi mereka : Woobin dan Xiumin. Mereka berbeda jurusan dengan Taehyung namun entah kenapa sejak kemarin sudah mengamati bayi vampire itu dari kejauhan.
“Cih, dia benar-benar bayi vampire…” gumam Woobin mencemooh, melihat bagaimana ekspresifnya Taehyung di antara dua teman manusianya.
“Dia berbaur dengan baik, bahkan sudah punya teman manusia.” tukas Xiumin.
“Bagaimana kalau kita ‘rusak’ bayi vampire itu? Kita buat Seokjin kebakaran jenggot.”
Xiumin memberi smirk. “Aku masih belum bisa memaafkan apa yang alpha itu lakukan pada hyung kita. Mengganggu si bayi vampire mungkin akan membuatnya menjadi impas.”
“That’s right. Mata ganti mata, nyawa ganti nyawa.” Woobin memberi senyum seram sambil terus memandangi Taehyung yang berjalan semakin jauh, tersenyum lebar di antara Jungkook dan Jimin.
🎃🎃
Jangan lupa berikan dukungan untuk novel ini yaa🐰