Vampire In The City

Vampire In The City
Menyusun Strategi





Linguine


a.k.a “little tongues”. Pasta favorit kami dengan cita rasa tinggi membuatmu seperti hidup kembali hanya dari suapan pertama. Disajikan ‘langsung’ oleh Chef terpercaya kami.


Harga : $37,500




Fettuccine


a.k.a “little ribbons”. Untuk mereka yang ingin mengolah sendiri pastanya. Kami sediakan fresh dan pelanggan bisa memilih langsung yang diinginkan. Hanya untuk member VIP.


Harga : $25,250




Capellini


a.k.a “little hairs”. Disediakan dengan porsi medium yang bisa dipesan secara berkala. Dapatkan potongan harga jika memesan selama setahun.


Harga : $3,000




Ziti


a.k.a “little bride”. Hanya untuk kalangan sendiri dan member VVIP.


Harga : $76,575





🎃🎃


“This is so f*ing disgusting!” tukas Namjoon mengerang kesal. Ingin juga menggebrak meja. Malam ini semua penghuni Kim Brothers berkumpul di ruang tengah setelah Taehyung pulang dengan membawa cairan botol yang merupakan darah vampire. Tentu saja itu mencengangkan semuanya. Semacam berita yang membuat jantung siapa saja copot.


Ketika botol dibuka itu sudah memberikan kesan pada mereka bahwa bau itu adalah bau darah vampire. Dan Yoongi langsung mengkonfirmasinya setelah mengecek setetes cairan itu di ruang kesehatannya.


Taehyung sudah menceritakan pada para anggota clan mengenai alasan ia pergi ke club Black Dragon, mengenai hadiah spesial yang diperoleh Jungkook di lantai VIP, bahkan ia menceritakan juga mengapa ia menghisap cerutu adalah tak lain untuk menemukan Big Boss sindikat, walau ia melewat bagian alasan ia bisa tahu Big Boss sindikat adalah pengguna cerutu Gurkha.


Taehyung duduk dengan ekspresi blank. Dia sudah kenyang dengan rasa syok dan terkejut yang ia alami sejak di hotel. Untungnya ia berhasil meyakinkan Jungkook bahwa semua baik-baik saja, manusia itu sempat bersikeras untuk ikut masuk ke dalam rumah.


Seokjin, sang Alpha terus mondar mandir di dalam ruangan, panik dan sedang memikirkan sesuatu. Yoongi hanya menatap botol sambil menggertakkan gigi, sementara Hoseok tak berhenti menjambaki rambut, frustasi dengan informasi mengejutkan ini. Terlalu mengejutkan.


“Jadi…” gumam Yoongi, “Maksudmu ada web perdagangan vampire yang beredar namun dengan berkedok nama-nama pasta?”


Taehyung mengangguk dan Hoseok langsung mengeluarkan ponsel, membuka situs yang dimaksud serta memberikannya pada Yoongi untuk dicek.


“Mereka menyusunnya dengan rapi,” ujar Yoongi sambil melihat-lihat isi web, “Orang biasa tidak bisa memesan pasta yang ada di web ini sembarangan.”


“Kalau sudah seperti ini bisa dipastikan pemilik club itu adalah dalang di balik perdagangan vampire,” tukas Namjoon sambil memukul pahanya sendiri, “Hadiah spesial yang menjadi signature bisnis makanannya adalah darah vampire. Bukankah kita langsung saja porakporandakan clubnya itu?”


Taehyung mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia siap melakukannya detik ini. Dia akan hancurkan club itu dan membunuh dalang dalam penjualan vampire. Itu mudah ia lakukan… Tapi tujuan utama dendamnya tak sesimple itu. Dia ingin menemukan markas utama sindikat… Club Black Dragon hanya club biasa, bukan markas sindikat. Taehyung harus mencari tahu dimana para vampire dikurung, dimana mereka menyekap manusia yang dijadikan sebagai bahan percobaan seperti dirinya dulu.


“Tidak semudah itu.” ucap Seokjin. Wajahnya mengeras serius. “Kita masih harus tahu dimana sebenarnya lokasi sindikat penjualan vampire. Itu adalah sarang utama mereka.”


“Aku setuju dengan Alpha,” kata Yoongi, “Menghancurkan club sama saja kita membunuh orang awam yang tidak tahu apa-apa. Pada dasarnya yang harus kita hancurkan adalah otak dari bisnis ini. Menghancurkan Black Dragon tidak membuat operasi sindikat berhenti.”


“Bagaimana ini? Apa kita perlu memberitahu dewan vampire?” tanya Hoseok cemas.


“Aku akan memberitahu Jackson,” sahut Seokjin, “Kita tidak mungkin bertindak sendiri, sudah pasti kita kalah jumlah.”


“Jadi kita diam saja saat sudah tahu faktanya?” tanya Namjoon sedikit marah. Amarah meluap dalam dada, emosinya ini mempengaruhi cuaca di luar yang tiba-tiba langsung mendung dan berpetir. Kekuatan vampire Namjoon memang weather control.


“Kita tidak boleh bertindak gegabah, Joon,” tutur Seokjin berusaha menenangkan anggota clannya. “Kita harus merencanakan semua ini matang-matang.” Seokjin menatap Taehyung, “Taehyung, kurasa kau harus tetap melanjutkan aksimu mendekati pemilik club itu. Dan kau perlu memutar otak bagaimana caranya supaya bisa menjadi member di Delicious Pasta.”


Taehyung membalas tatapan Alpha-nya. Itu bukanlah pekerjaan sulit, apalagi ia mengingat terakhir kali Dongwook flirting padanya dan menawarkan pasta itu dengan cuma-cuma. Hanya saja Taehyung sudah tidak bisa cool saat bertemu pria itu jika mengingat pria itu adalah salah satu dalang di balik sindikat penjualan vampire. Tangannya terkepal semakin kuat jika membayangkan bisa saja Dongwook merupakan big boss sindikat yang selama ini ia cari. Menarik bukan? Dia tidak perlu jauh-jauh mencari kalau begitu.


“Semua yang diperjualbelikan tentu saja darah.” ucap Namjoon mendengus.


“Tapi harganya berbeda-beda,” sahut Hoseok pada Masternya, “Linguine cukup mahal.”


“Kurasa tidak semuanya merupakan darah,” ucap Yoongi tenang namun sebenarnya ia berusaha menahan rasa marah yang meledak di dalam dada. “Capellini merupakan menu yang paling murah, itu adalah darah vampire biasa, seperti ritual yang harus dilakukan Jimin. Jadi pada hakekatnya, orang yang memesan Capellini harus memesannya secara berkala, dua minggu sekali. Itu sebabnya ditulis akan mendapat potongan harga jika memesan paket setahun.”


Mata Hoseok membola dan menatap Yoongi. Penuturan dhampir itu sangat masuk akal.


“Sedangkan Linguine yang didapat Jungkook,” lanjut Yoongi dengan senyum tipis, “Itu adalah darah kental yang kaya akan zat besi dan sel darah merah. Tadi aku mengeceknya di ruang kesehatan. Darah seperti ini merupakan darah terbaik yang bisa membuat seseorang awet muda dan lebih berstamina dibanding manusia biasa.”


“Itu sangat mengerikan,” gumam Hoseok, “Aku tak bisa membayangkan perlakuan yang dialami para vampire yang diambil darahnya untuk mendapatkan darah kental seperti itu.”


“Sementara fettuccine..” lanjut Yoongi, “Jika dikatakan hanya untuk member VIP, sepertinya bukan hanya sekedar darah. Tapi bisa juga memesan liver atau organ lain karena juga tertulis konsumen bisa mengolahnya sendiri.”


Namjoon merasa perutnya sangat mual. Sindikat ini lebih menjijikkan dari semua hal menjijikkan yang ia tahu ada di muka bumi. Rahang Taehyung semakin mengeras mendengar penjelasan Yoongi, tentu saja, harusnya ia sudah mengetahuinya, sindikat kotor ini tentu tidak menjual darah saja.


Seokjin memegang dagu, melihat menu zitti. “Zitti adalah yang termahal dan tidak ada keterangan apapun. Bagaimana menurutmu, Yoongi?”


“Benar,” kata Yoongi, “Zitti yang paling mahal dan menurutku yang paling misterius. Harganya jauh dibanding yang lain dan hanya bisa dipesan oleh anggota VVIP, yang kutebak pasti hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja.”


“Zitti, little bride alias pengantin kecil,” baca Hoseok dan merinding sendiri, “Membayangkannya saja membuatku takut.” Entah apa makna di balik pengantin kecil itu.


“Itulah sebabnya kita harus bertindak dengan strategi,” ucap Seokjin, “Taehyung, kuserahkan padamu untuk mengorek informasi lebih lanjut dari Black Dragon.”


Tanpa disuruh, Taehyung pasti melakukannya. Dia pun punya agendanya sendiri untuk membalaskan dendamnya pada sindikat perdagangan vampire. Kalau sudah tahu seperti ini, Taehyung tidak akan segan-segan lagi pada pria bernama Lee Dongwook itu.


****


Jimin sedang menceritakan dengan comical-nya film action terbaru yang ada di bioskop. Dia sedang menceritakan plot cerita film favoritnya.


Dia, Jungkook dan Taehyung sedang makan siang bersama di kantin. Meski Jimin sedang bercerita begitu, Taehyung hanya melamun dan menatap meja dengan tatapan datar. Jungkook menyimak perkataan Jimin namun sesekali ia mengecek vampire di sebelahnya. Ia tahu ada yang mengganggu pikiran Taehyung dan sepertinya sejak mereka mendapat pasta Linguine. Jungkook jadi bertanya-tanya apa sebenarnya minuman pencuci mulut yang diberikan sampai reaksi Taehyung seperti itu. Masa darah manusia?? Jungkook belum sempat menanyakannya, mungkin ia akan menanyakan nanti pada Taehyung.


Taehyung merasa pikirannya buntu. Ia ingin langsung melampiaskan kemarahan dan menghancurkan seisi Black Dragon… tapi itu tidak akan mengakhiri aktivitas sindikat. Taehyung ingin segera menyelesaikan semuanya, dia tidak suka harus memikirkan strategi. Dia ingin instan.


Sedang seperti itu tiba-tiba ada yang datang menghampiri meja mereka dan menyapa Jungkook. ”Jungkook-ssi…” Yang menghampiri itu adalah Lisa. Penampilannya bak model karena tubuhnya yang semampai, beberapa pria dari meja lain pun tertarik mengamati wanita cantik itu dengan intens.


“Oh hai, Lisa…” sapa Jungkook memberi senyum. Jimin yang walaupun tidak mengenal namun memberi senyum ramah sedangkan Taehyung mengangkat wajah, melihat wanita itu entah kenapa dia tidak suka. Taehyung kembali menatap meja.


“Sedang makan bersama teman-teman ya?” tanya Lisa ramah sambil melirik Jimin dan Taehyung dengan senyum.


“Well, seperti itulah. Kau sendiri?”


Taehyung mendengus pelan. Ia merasa percakapan keduanya begitu bodoh, memang untuk apa ke kantin kalau tidak untuk makan?


“Aku baru selesai makan, sebenarnya ada hal yang mau kubicarakan juga denganmu Jungkook-ssi, mungkin nanti saat pulang kuliah?”


“Oh?” Jungkook agak terkejut, “Bo-boleh… Kuliahku selesai pukul 04.30.”


“Perfect.” Lisa memberikan eye smile, “Aku akan menemuimu di depan gedung fakultas teknik.”


“O-oh, okay…” sahut Jungkook.


“See ya~” wanita itu melambai manis dan pergi meninggalkan meja, berjalan menuju pintu keluar kantin.


“Dia temanmu?” tanya Jimin penasaran, “Aku tak menyangka kalau kau sudah punya teman wanita secantik itu, Jeon.”


“Aku mengenalnya dari kelas tambahan fotografi,” jawab Jungkook, “Dia membantuku.”


Taehyung memutar bola mata.


“Dia sepertinya wanita baik, kau beruntung karena sepertinya dia tertarik denganmu, Jeon.” sahut Jimin memberi senyum menggoda.


“Begitukah?” tanya Jungkook sambil menggaruk kepala.


“Aku tidak menyukainya,” tukas Taehyung tiba-tiba, “Parfumnya terlalu menyengat.”


Jimin terbahak. “Itu mungkin karena hidungmu sangat peka. Bagiku dan Jungkook tidak kok.”


Taehyung memutar bola mata kembali. “Aku tetap tidak menyukainya. Dia mencurigakan.”


Jungkook terkekeh saja. “Tidak ada yang perlu dicurigai, Tuan Vampire. Habiskan saja waffle-mu.”


Taehyung membuang wajah dengan kesal dan memakan kembali waffle-nya. Jimin tersenyum penuh arti memperhatikan Taehyung, dia jadi ingat dengan perkataan Yoongi bahwa Taehyung dan Jungkook adalah soulmate. Jimin menahan senyum geli, kalau dilihat sekarang pun Jimin setuju bahwa Taehyung dan Jungkook adalah soulmate.


🎃🎃