
ayo kita lanjut episodenya? Berikan dukungan pada author ya
Malam itu Jimin datang ke kediaman clan Kim. Dan sepertinya ia pun harus menginap di sana lantaran serentetan prosedur yang harus ia lakukan. Yoongi akan mengecek kesehatannya. Vampire itu bahkan sengaja membeli alat-alat kesehatan manusia dan mengubah kantor Seokjin di rumah itu yang tidak dipakai menjadi sebuah ruang pasien. Namjoon dan Hoseok begitu takjub karena Yoongi masih menyimpan memori dan ilmu kesehatan yang dulu dia pelajari.
Jimin menelan ludah saat Yoongi mengajaknya masuk ke ‘ruang pasien’ tersebut. Dirinya bahkan sudah berganti pakaian menjadi jubah pasien pada umumnya di rumah sakit. Dan damn, ini membuat Jimin semakin tegang karena ia merasa seperti akan dioperasi tanpa dibius, ya kira-kira tegangnya seperti itu.
Taehyung meremas bahu sahabatnya. “Tenanglah, Jiminnie, jangan takut, percaya saja pada Yoongi Hyung.”
Yoongi memberi cengiran pendek pada Taehyung. “Ini hanya pemeriksaan saja, Jimin. Dan aku pun sudah menyiapkan darahku yang akan kudonorkan padamu.”
Jimin terkejut mendengarnya. “M-mwo??”
“Cepat atau lambat kau akan membutuhkan darah vampire, Jimin-ssi.” ujar Seokjin. Alpha itu memandang Jimin dengan ramah. Meskipun dirinya vampire tapi ia percaya serta peduli pada Jimin. Ia percaya hubungan persahabatan tulus yang diberikan Jimin untuk Taehyung tidak akan pernah membahayakan bayi vampire itu.
“A-aku tidak–“
“Kita bisa menundanya kalau kau mau.” ucap Yoongi memotong Jimin. Ia tidak ingin membuat Jimin semakin stres. Pastinya masih sulit diterima oleh akal sehat manusia, menerima transfusi darah vampire.
Hoseok mengangguk-angguk. “Lagipula Yoongi Hyung sudah menyiapkan darahnya. Sudah ada di freezer.”
Jimin meringis. Perutnya mendadak mual. Ia tidak mungkin meminumnya kan?
Yoongi mengekeh, tentu saja ia bisa merasakan kebingungan dan ketakutan dalam diri manusia itu. “Tenang saja, kau tidak akan meminum darahku. Nanti kau akan kubius dan darahnya ditransfusikan melalui suntikan atau selang infus. Persis seperti yang dilakukan ibumu.”
“O-ohh…” kata Jimin sedikit merasa lega.
“Bagaimana kabar ibumu, Jiminnie?” tanya Taehyung.
“Dia baik dan sehat. Semenjak dia tidak ingat apapun mengenai vampire, ibuku mengisi waktu luangnya dengan membaca buku.”
Seokjin mengangguk puas. “Itu bagus.”
“Baiklah kalau begitu, mari kita masuk, Jimin?” ajak Yoongi sambil membuka pintu ruangan yang sudah disulap menjadi ‘ruang pasien’.
Jimin menelan ludah lalu mengikuti Yoongi masuk ke dalam ruangan. Yoongi kemudian menutup pintu itu. Vampire lain tidak diijinkan masuk supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Yoongi akan melakukan pemeriksaan kesehatan Jimin, untuk mengecek apa manusia itu mengidap penyakit darah sesuai prediksinya.
Taehyung menggigit kuku dengan cemas. “Semoga semua berjalan dengan lancar.”
“Tentu saja akan berjalan lancar,” sahut Namjoon, “Kemampuan Yoongi Hyung tidak perlu diragukan.”
“Oh ya, kapan pertemuan dewan vampire?” tanya Hoseok tiba-tiba pada Seokjin.
“Diperkirakan minggu depan,” jawab Seokjin, “Tapi tempatnya belum ditentukan.”
“Apa kami akan ikut?” tanya Namjoon tertarik. Dia senang juga melihat sidang semacam itu, maklum dia anaknya kepoan.
“Sepertinya aku dan Taehyung saja.” Seokjin melirik Taehyung. Seokjin sebenarnya belum yakin apa akan membawa Taehyung atau tidak. Jujur saja, Seokjin cukup paranoid jika itu berhubungan dengan Taehyung. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan Taehyung. Pertemuan dewan vampire itu dihadiri oleh para vampire senior termasuk di dalamnya ada clan Cha. Seokjin tidak ingin Taehyung menjadi bulan-bulanan clan Cha di sidang itu. Tentunya di sidang dewan akan saling mengajukan pertanyaan dan menuntut bukti, layaknya sidang yang dilakukan oleh manusia.
Taehyung menatap Seokjin dengan mata besarnya. Ia akan siap kalaupun dia disuruh menjadi saksi walau sebenarnya ia belum pernah sekalipun mengikuti pertemuan dewan vampire.
“Tae, tanganmu kenapa?” tanya Hoseok melirik telapak tangan bayi vampire itu. Hoseok baru menyadari bahwa telapak tangan kanan Taehyung sedikit diperban dan diplester.
Taehyung terkesiap, terkejut dengan pertanyaan itu. “A-ah.. ini luka kecil…” Taehyung meringis saat melihat ekspresi Seokjin yang serius mencemaskannya, mungkin menyangka Taehyung diserang oleh clan Cha lagi. “Anniya, Hyungie… Ini hanya luka biasa. Aku dan Jungkook bermain bola dan aku terjatuh…”
Taehyung terpaksa berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa luka ini disebabkan oleh cincin perak yang dipakai temannya. Taehyung takut para hyungnya malah melarangnya untuk bergaul dengan Jungkook lagi. Ia pun tak mau temannya dicurigai macam-macam. Untunglah tidak ada Yoongi, atau vampire itu bisa saja mengetahui bahwa saat ini Taehyung tengah berbohong.
“Lain kali hati-hati, Taetae…” gumam Namjoon sambil menepuk pelan kepala Taehyung. Ekspresi Seokjin pun sudah lebih rileks, tidak seperti sebelumnya.
“Arraseo, Hyung~” kata Taehyung dengan boxy smile.
.
.
Sekitar jam 11 malam lewat barulah Yoongi dan Jimin keluar dari ruangan itu. Taehyung langsung bergegas mendatangi temannya, memegangi tangan Jimin dengan kuatir karena betapa wajah Jimin saat ini pucat pasi.
Yoongi menghela nafas. Ia melirik Jimin lalu melirik vampire lain. “Aku sudah mengecek kesehatannya dan aku mengambil sebuah kesimpulan. Tadi aku sudah memberitahu Jimin juga mengenai penyakitnya ini.”
“Dia sakit?” bisik Hoseok iba.
Yoongi mengangguk. “Dia mengidap limfoma, kanker darah yang menyebabkan sel-sel darah putih berkembang biak abnormal dalam kelenjar getah bening.”
Taehyung langsung memeluk Jimin, berusaha memberi penghiburan. Jimin terharu karena Taehyung menaruh perhatian seperti ini padanya. Ia sangat berterimakasih.
Seokjin menghela nafas. “Jadi benar itulah alasan mengapa ibunya berusaha mentransfusikan darah vampire.”
“Benar, kalau itu tidak dilakukan mungkin Jimin saat ini sudah dirawat di rumah sakit.”
Mata Jimin berkaca-kaca. Ia membalas pelukan Taehyung semakin erat. Dia benar-benar membutuhkan support saat ini. Dan Taehyung hadir di saat yang tepat.
Tadi Yoongi sudah menjelaskan mengenai penyakitnya itu, jujur saja Jimin cukup syok dan terpukul. Kalau pun ibunya menjelaskan mengenai penyakitnya ini, JImin akan berusaha tegar. Tapi ibunya itu sepertinya tidak mau kehilangan Jimin hingga mencari cara lain untuk menyembuhkan dan memulihkan anaknya. Walau bisa dibilang Jimin memperoleh stamina berlipat ganda dari darah vampire. Jimin bisa menari berjam-jam, ia pun tidak merasa sakit meski ia mengidap limfoma.
***
“Jungkook, kau baik-baik saja?” tanya Taehyung kuatir. Saat ini ia dan Jungkook sudah berada di kelas menunggu mata kuliah berikutnya namun Taehyung masih cemas karena Jungkook masih seperti kemarin, banyak diam dan cenderung mengabaikannya.
Jungkook hanya bergumam saja dan memilih menyibukkan diri dengan bermain game di ponselnya. Sebetulnya Jungkook pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Taehyung. Bagaimana cara supaya ia bisa menghentikan hubungan pertemanan ini?
Taehyung memainkan jemarinya dengan gugup. Semoga ini bukan pertanda buruk apapun, mungkin Jungkook masih tidak enak badan jadi bersikap seperti ini.
“A-apa yang bisa kulakukan, Kookie, supaya kau bisa semangat lagi?”
Jungkook berhenti bermain game. Tokoh yang ia mainkan langsung game over karena Jungkook saat ini tertarik dengan apa yang dikatakan Taehyung. Apa yang bisa Taehyung lakukan untuknya?
“Wae?” tanya Jungkook sambil menoleh.
“Aku ingin membuatmu senang, Kookie. Kalau kau menyuruhku untuk membelikanmu makanan enak maka aku akan melakukannya! Kalau kau ingin nanti sore kita pergi ke suatu tempat, aku akan melakukannya.”
Jungkook memandang Taehyung, sedikit tercengang karena vampire itu berusaha keras untuk membuatnya senang, padahal yang diinginkan oleh Jungkook adalah membalaskan dendam kepada vampire. Jungkook tidak mengerti mengapa sikap Taehyung masih polos seperti ini padahal kenyataannya Taehyung adalah vampire. Tidak ada vampire yang jinak bukan? Apa Taehyung melakukan semua kepura-puraan ini supaya bisa menghisap darah Jungkook? Begitu banyak pikiran negatif dan spekulasi di benak Jungkook.
Tapi kalaupun Taehyung berusaha berteman dengannya hanya untuk menghisap darahnya, Jungkook akan membalikkan keadaan itu.
“Kau akan melakukan yang kumau?” tanya Jungkook.
Taehyung mengangguk-angguk semangat.
Jungkook berpikir sebentar. Ia rasa ia tahu apa yang harus ia minta dari Taehyung. “Besok menginaplah di rumahku, Tae.”
“Hwoa…” Mulut Taehyung membuka. Itu adalah kemauannya juga, tentu tidak sulit melakukannya asal Alpha mengijinkannya.
Melihat Taehyung yang masih berekspresi takjub itu, Jungkook segera menambahkan, “Akhir-akhir ini aku banyak pikiran mungkin karena stres dengan perkuliahan. Aku pun sulit tidur. Mungkin dengan kau menginap di tempatku, aku akan lebih tenang.”
“Whoa…” Taehyung bergumam lagi. Dia sangat terharu karena kehadirannya dibutuhkan Jungkook untuk menyelesaikan masalahnya itu. Taehyung tentu saja senang karena dirinya bisa diandalkan dalam hidup Jungkook. “Tentu saja, Kookie, aku sangat mau~ Aku belum pernah menginap di rumahmu. Aku akan minta ijin ke hyungku dulu ya.”
“Apa kau akan diijinkan?” tanya Jungkook sambil menaikkan sebelah alis.
“Hyungku tidak secemas dulu kok, apalagi aku sering menceritakan mengenai kebaikanmu dan Jimin.”
Jungkook meringis mendengarnya. “Hmm… Kurasa Jimin tidak perlu ikut, aku sebenarnya tidak sedang ingin bermain game. Anggap saja besok kita berdua belajar bersama di rumahku, Tae, sambil menginap.”
“Choa…” ujar Taehyung dengan mata berbinar. Dia senang sekali dengan ajakan Jungkook ini.
Jungkook tersenyum tipis memandang vampire itu. “Aku pun akan mengenalkanmu pada Kakak dan Pamanku.”
Taehyung mengangguk-angguk antusias. Taehyung sudah tak sabar dengan menginap besok di rumah Jungkook. Ia membayangkan ia akan menghabiskan waktu berkualitas bersama Jungkook dengan menginap bersama. Pasti sangat menyenangkan.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan like dan comment