
Kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Xiumin dan Woobin tentu saja tidak boleh dibiarkan. Seokjin melaporkannya kepada dewan vampire yang ada di Seoul. Vampire juga memiliki hukum dan aturan yang mengikat mereka. Dewan vampire bertugas untuk membantu menyelesaikan permasalahan vampire, melindungi identitas vampire serta bisa memberikan sanksi bagi vampire yang melanggar batas dan aturan. Salah satunya adalah larangan untuk tidak menyerang vampire lain jika bukan untuk melindungi diri atau jika vampire tersebut telah melakukan tindakan melanggar hukum. Seokjin melaporkan apa yang terjadi pada Taehyung terhadap dewan vampire. Dia bahkan ingin clan Cha diasingkan ke tempat lain, jauh dari clannya. Seokjin sangat yakin kalau Woobin dan Xiumin melakukannya karena masih dendam akan apa yang terjadi beberapa tahun silam saat Seokjin menyerang dua vampire mereka yang berusaha menghisap darah Soojung.
Atas laporan ini, akan dilakukan pertemuan tertutup bagi beberapa vampire untuk menyelesaikan masalah dan mencari jalan tengahnya.
Sementara itu Jimin pun sangat diterima baik di rumah Kim Brothers. Meski mereka berbeda dunia namun Jimin menunjukkan bahwa pertemanannya dengan Taehyung tulus, tidak mengenal apapun latar belakangnya.
***
Pagi ini saat Jungkook memasuki gedung perkuliahan, ia melihat Taehyung dan Jimin yang sedang berjalan sambil tertawa bersama. Pagi ini pun Jimin dan Taehyung datang bersama-sama ke kampus. Setahu Jungkook rumah mereka tidak searah.
Jungkook tidak mengerti, apa Jimin tidak tahu bahwa teman mereka itu merupakan vampire? Kenapa Jimin tampak tidak terganggu sama sekali dengan fakta bahwa Taehyung bukanlah manusia! Alis mata Jungkook mengernyit, berusaha memikirkan kemelut yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Atau… jangan-jangan Jimin sudah dipengaruhi oleh kekuatan vampire? Apa dia dihipnotis?
Jungkook memandang Taehyung yang sedang tertawa, entah apa yang dibicarakan Jimin hingga membuat Taehyung tertawa comical seperti itu. Wajah Taehyung itu tampak innocent dan pure… berbanding terbalik dengan vampire Taehyung yang Jungkook lihat kemarin. Ini pun membuat Jungkook berpikir bahwa Taehyung bisa saja membodohinya dengan pura-pura menjadi innocent? Tapi apa tujuan Taehyung melakukannya? Apa Taehyung ingin menghisap darahnya dan Jimin? Ini mengerikan!
Perut Jungkook kembali mual jika membayangkannya. Dan ia pun tak semudah itu melupakan bahwa alasan kematian orangtuanya adalah karena vampire! Jika membayangkan orangtuanya mati menjerit karena vampire menghisap darah mereka sampai habis, hanya membuat Jungkook sangat trauma… sekaligus jijik.
Jungkook berbalik badan dan memutuskan untuk mengambil jalan lain menuju kelasnya.
.
.
Selama perkuliahan Jungkook pun lebih memilih diam. Ia banyak melamun dan tidak memperhatikan dosen ataupun presentasi mahasiswa lain. Taehyung duduk seperti biasa di sampingnya tidak ia hiraukan semenjak ia menginjakkan kaki di kelas ini. Jika vampire itu mengajak bicara, Jungkook hanya bergumam saja dan memilih melihat ke arah yang lain. Dia tidak bisa bersikap normal lagi dengan Taehyung setelah ia tahu apa temannya itu. Dia sendiri pun masih mengalami pergumulan hebat di dalam hati, apa yang harus ia putuskan setelah ia tahu Taehyung adalah vampire. Memutuskan hubungan persahabatan tidak bisa semudah itu bagi Jungkook, namun melupakan dendam kesumatnya pada vampire pun tidak bisa ia lakukan. Jungkook merasa ia seperti berada di antara dua pilihan sulit dalam hidupnya.
Taehyung yang sedang mencatat poin-poin penting di perkuliahan, berhenti. Ia menggigit bibir dan menoleh pada Jungkook yang melamun. Apa ini perasaannya saja? Tapi Jungkook terlihat sangat berbeda.
“Jungkookie…” bisik Taehyung. Jungkook tak bergeming karena masih melamun. Tangan Taehyung meraih ujung jaket Jungkook dan meremasnya. Ia memanggil kembali. “Jungkookie…”
Terkesiap seolah kaget, Jungkook menoleh. Matanya membesar membalas tatapan Taehyung. “M-mwo?”
Alis Taehyung mengernyit cemas.”Kau melamun sejak tadi, Kookie.”
Jungkook melihat mata Taehyung itu, berusaha menyelaminya. Mata Taehyung saat ini sangat innocent dan tulus, Jungkook pun akan terenyuh dirinya dicemaskan oleh Taehyung. Namun Jungkook berusaha menyadarkan dirinya. Mata Taehyung itu sebenarnya hanya kepura-puraan kan? Ia bisa saja tidak tahu bahwa perawakan asli temannya ini adalah seperti monster, dan mungkinkah setiap malam Taehyung memburu manusia lemah untuk ia hisap darahnya?
“Aku baik-baik saja…” sahut Jungkook lirih dan memalingkan wajah.
“Apa kau sakit?” tanya Taehyung lagi tidak berhenti sampai disitu. Taehyung memang tidak tahu apa-apa ketika manusia jatuh sakit. Namun yang ia tahu, manusia yang sakit, tubuhnya lemah yang membuatnya tidak ada semangat dan malas bicara. Ya seperti Jungkook sekarang ini.
“Sedikit tidak enak badan.” sahut Jungkook kembali dan pura-pura fokus menatap buku.
Taehyung menatap Jungkook dengan sedih. Ia tidak ingin melihat Jungkook seperti ini. Taehyung ingin berusaha mengembalikan semangat Jungkook tersebut.
Jadi saat makan siang di kantin, Taehyung membeli tambahan menu lain, spesial untuk Jungkook : jus strawberry, buah apel, minuman bervitamin C dan puding. Awalnya Jungkook mengira Taehyung sedang memiliki nafsu makan yang besar. Ia tak menyangka bahwa Taehyung membeli semua itu untuknya.
“Kau harus memakan semuanya supaya kau kembali sehat, Jungkookie.” ujar Taehyung sambil menyodorkan semua makanan itu ke arah Jungkook. Ia menunjukkan senyum kotaknya pada Jungkook.
Jimin yang juga bergabung dengan mereka, langsung menoleh pada Jungkook.”Kau sakit, Jeon?”
Jungkook tersedak. Ia terbatuk pelan dan Taehyung cepat-cepat memberi air mineral. “A-aku hanya sedikit tidak enak badan.”
“Supaya kau bisa semangat lagi, Kookie…” tambah Taehyung. Ia ingin Jungkook semangat seperti sedia kala. Hari ini Jungkook terlihat sangat aneh.
“Kau perhatian sekali, Taetae.” puji Jimin sambil mengelus rambut Taehyung. Jimin dan Taehyung sama-sama mengekeh sementara Jungkook merasa lidahnya semakin pahit. Dia tidak boleh terlena dengan perhatian dan kebaikan Taehyung itu. Bagaimanapun juga Taehyung adalah vampire, bukan manusia.
****
Malam itu Soojung sedang tiduran di sofa, sejak tadi dirinya dan Seokjin chatting. Biasalah kalau orang pacaran seperti apa. Bermula menanyakan apa yang sedang dilakukan lalu mulai mengobrolkan hal-hal konyol. Soojung tak menyangka kalau dosennya itu punya banyak lelucon dan teka teki aneh. Nyatanya Seokjin sangat unik dan membuat wanita itu semakin nyaman. Berbeda dengan pacar-pacar Soojung sebelumnya yang membicarakan hal-hal romance yang kadang membuat Soojung tak nyaman.
Seokjin baru saja mengirim pesan bahwa besok ia mau menjemput Soojung untuk mereka bisa bersama pergi ke kampus. Soojung tak dapat menahan senyum. Ia memberikan pesan ‘Ok’ disertai dengan emoji hati.
“Paman lihat kau sedang asik pacaran, Soojung-ah?”
Soojung terkejut saat mendengar suara Pamannya. Ia langsung duduk di sofa dan memberi cengiran malu karena sudah dipergoki.
Donghyuk memberi senyum. “Paman senang melihat kau banyak tersenyum, Soojung-ah.”
Soojung melihat Pamannya yang sudah memakai pakaian seragam hunter. Seragam hunter sebenarnya hanya seragam biasa berwarna hitam metalic, modelnya mirip seperti seragam pemadam kebakaran atau teknisi lapangan.
Jungkook yang baru selesai mandi dan kebetulan lewat akhirnya berhenti di ruang tengah. Ia memperhatikan Pamannya sambil mengeringkan rambut yang masih basah.
Soojung memberi senyum lebar. “Lumayan, Paman.. aku sudah naik level.”
“Kau bisa menjadi penembak jitu kalau begitu. Dan nanti kalau ada buruan besar, aku akan membawamu, Soojung.”
“Buruan besar?” tanya Jungkook sambil mengernyit.
Soojung menoleh pada adiknya lalu menjawab. “Buruan besar itu istilah di antara para hunter ketika akan menyerang sarang vampire.”
Mata Jungkook membesar. Ia masih tercengang. “Sa-sarang vampire?”
“Bisa dibilang kediaman clan vampire, Jungkook-ah…” sahut Donghyuk, “Tapi itu jarang karena sulit menemukannya. Para hunter pun harus punya bukti konkret sebelum menyerang, jangan sampai rumah penduduk lokal yang diserang. Biasanya saat buruan besar kami butuh banyak hunter dan penembak jitu.”
Jungkook menelan ludah. Dia sudah sering mendengar Pamannya menceritakan bahwa seorang hunter harus memiliki skill menembak dengan jitu, tapi mendengarnya lagi sekarang mengapa membuat Jungkook sangat terguncang, udara seperti menipis di sekitarnya membuatnya tidak dapat bernafas normal. Ia tidak tahu kenapa semenjak ia mengetahui Taehyung adalah vampire, banyak hal yang mengganggu pikiran Jungkook.
“Karena kalau terlibat perkelahian dengan vampire secara langsung, hunter tentu akan sulit menang,” tutur Donghyuk, “Mereka lebih cepat, lebih kuat dan punya kekuatan khusus. Dalam buruan besar, lebih aman jika hunter menjaga jarak dan membidik jantung vampire dari kejauhan. Semakin banyak vampire yang harus dibunuh semakin banyak penembak jitu yang dibutuhkan.”
Soojung mengangguk-angguk. “Aku bersedia, Paman. Kalau ada buruan besar kau bisa mengajakku, hehe.” Soojung sangat antusias, tujuan utamanya berlatih menembak dan memanah adalah supaya bisa membunuh vampire dengan tangannya.
“Bagus sekali, Soojung-ah.” kata Donghyuk sambil menepuk bahu keponakannya.
Jungkook menatap kakak dan pamannya. Di dalam rumah ini sudah sejak dulu mereka sangat mengharapkan bisa membunuh dan membasmi vampire dengan tangan mereka sendiri. Kenapa? Karena dendam yang berakar sejak lama… kematian dua orang yang sangat berarti disebabkan oleh vampire.
“Paman akan bekerja ya? Apa ada buruan?” tanya Soojung. Jungkook menoleh ke arah Pamannya, matanya sejak tadi entah kenapa selalu membesar, semacam kena shock attack.
Donghyuk menghela nafas. “Hanya patroli rutin.”
Sudah jarang sekali hunter mendapatkan tugas untuk berburu. Dari waktu ke waktu vampire semakin pintar menyembunyikan diri dan menghilangkan jejak. Sepertinya vampire pun berpindah-pindah kota untuk tidak dicurigai. Hunter hanya bisa patroli atau mengintai jika ada sesuatu yang mencurigakan.
“Paman biasa patroli kemana?” tanya Jungkook akhirnya tak tahan.
“Club malam… tempat-tempat sepi dan terpencil… Dari pengalaman, para hunter menemukan vampire di tempat seperti itu.”
“Club malam?” Soojung mendengus pelan. Ia benci dengan club malam apalagi mengingat kenangan terakhirnya di tempat itu saat mantan kekasihnya mengkhianatinya.
“Aneh? Tapi vampire juga tahu cara bersenang-senang. Kupikir mereka juga mencari kesempatan untuk menghisap darah manusia yang mabuk.” kata Donghyuk.
“Wahh daebak…” ucap Soojung, “Itu masuk akal juga karena orang mabuk tidak akan merasa sakit. Tapi bagaimana dengan bekas gigitan?” Rahang Soojung mengeras, teringat kembali dengan pengalaman pribadi saat ia pun digigit vampire. Bekas itu sudah hilang dari leher Soojung, tidak membekas lama, hanya seminggu untuk kasusnya.
“Dianggap hickey biasa…” Donghyuk tertawa suram. “Vampire tidak menghisap darah korban sampai tewas. Mereka menghisap tidak banyak supaya tidak menimbulkan keributan.”
Jungkook menelan ludah. Betapa memalukannya apa yang dilakukan oleh para vampire. Jungkook tidak bisa membayangkan jika Taehyung pun melakukan hal yang sama?
“Itu sebabnya aku tidak suka club malam.” komentar Soojung sambil melipat tangan di depan dada.
Donghyuk mengekeh. “Tapi tidak banyak insiden seperti itu terjadi, Soojung, mungkin juga dikarenakan tidak banyak korban yang melapor karena mereka pun mabuk.”
“Sepertinya vampire juga cukup manipulatif ya.” sahut Soojung.
“Yeah… Kudengar ada vampire yang mempunyai kemampuan untuk menghipnotis dan mengubah memorimu.” Donghyuk menjelaskan sambil memasang cincin-cincin perak di jemarinya.
Jungkook dengan intens memperhatikan cincin di tangan pamannya. Pamannya itu memang pernah mengatakan kalau saat bekerja, hunter pun akan memperlengkapi diri dengan segala sesuatu yang terbuat dari perak. Jadi jika ada kemungkinan menghadapi vampire satu lawan satu, hunter bisa membuat vampire melemah dengan benda berbahan perak. Cincin perak yang dipakai itu pasti akan menyakiti vampire berkali lipat dibandingkan ketika memukul dengan tangan kosong.
Malamnya sebelum tidur, Jungkook membuka laci lemarinya. Ia melihat beberapa cincin perak yang dulu pernah dihadiahkan pamannya saat ulangtahunnya. Jungkook mengambil salah satu cincin yang cukup tebal dan murni berbahan perak.
Terukir bahasa latin di cincin perak itu : Memento Mori.
Jantungnya berdegup kencang apabila mengingat kembali bagaimana ia menemukan lempengan berbahan perak di belakang gedung Lab saat Taehyung diserang oleh dua senior.
Perlahan-lahan Jungkook pun memakai cincin perak itu di jari tengahnya. Ia akan mengecek sesuatu dengan cincin ini.
Memento mori... itu adalah kata yang sejak dulu ingin ia ucapkan saat ia bertemu vampire.
🎃🎃
Bagaimana ya kelanjutannya?
Author mengharapkan para reader yg membaca mau memberikan like dan comment. Author sangat senang jika novel author diberikan komentar mengenai story nya kah, kesan para reader setelah membaca, atau masukan dan saran yg membangun untuk author🙏