
Rumah itu cukup besar dengan bangunan gaya Amerika. As always, Yoongi selalu ingin menempati rumah dengan gaya Amerika, katanya mengingatkannya dengan kampung halaman. Yang lain tidak keberatan, tidak peduli dimana mereka tinggal. Bentuk bangunan tidak akan mempengaruhi suasana hati.
Mereka berempat duduk di ruang makan. Yoongi sudah menyiapkan makan malam yang seperti biasa tampak menggiurkan. Dan ia sengaja membuatkan steak, kesukaan Taehyung. Juga ada daging ayam, bahkan ada jjajjangmyeon segala. Namjoon menaikkan bibir ke atas, terkesan dengan persiapan Yoongi ini. Bahkan jjajangmyeon itu ditaburi dengan sedikit darah.
Seokjin memakan steaknya dengan tenang. Hanya terdengar bunyi pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Namun Taehyung sama sekali tidak menyentuh makanannya.
Inilah Kim Brothers + Min Yoongi. Well, secara teknis mereka sudah menjadi satu clan, satu keluarga.
Yang duduk di meja paling ujung adalah Kim Seokjin. Wajahnya sangat tampan, bersih. Kalau sedang di rumah seperti ini ia menunjukkan mata aslinya yang berwarna merah maroon. Dia adalah vampire… vampire Alpha di rumah ini. Dia sudah menjadi vampire selama hampir 100 tahun, sudah melewati masa dan jaman, berbaur dengan manusia modern meski terkadang Seokjin masih selalu stuck di kenangan masa lalu yang tidak bisa ia lupakan.
Setiap vampire mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Kekuatan Seokjin adalah mind control; bisa menghapus ingatan orang lain. Ia sering melakukannya ketika mereka harus berpindah kota. Ia pun bisa memanipulasi memori orang lain sesuka hatinya.
Sementara yang sedang menyesap anggur merah itu adalah Min Yoongi. Ia merupakan dhampire, setengah vampire setengah manusia. Min Yoongi sudah ikut bersama Seokjin sejak lama, bahkan sebelum Namjoon. Yoongi ditemukan oleh Seokjin dan sejak itu Yoongi berjanji akan menunjukkan kesetiaannya pada Seokjin. Yoongi mahir dalam memasak. Ia pun memiliki toko kue yang membantunya menghabiskan waktu. Kekuatan Yoongi adalah bisa empath; bisa merasakan emosi orang lain.
Rambut Min Yoongi berwarna abu-abu dan kulitnya yang putih bak susu tidak kontras dengan matanya yang sepenuhnya hitam legam. Meski dia merupakan setengah vampire tapi matanya yang paling menyeramkan. Bisa berubah hitam sepenuhnya bahkan hingga tidak ada warna putih sedikit pun di matanya.
Yoongi mengedikkan dagunya pada Namjoon yang duduk di hadapannya. Namjoon hanya memberi senyum masam pada Yoongi dan kembali melirik Taehyung yang masih tidak menyentuh steak-nya sama sekali. Namjoon memperhatikan wajah Taehyung yang muram itu.
Namjoon pun merupakan vampire di rumah ini. Dia merupakan vampire yang hampir berumur 70 tahun. Kekuatannya adalah weather control; mengendalikan cuaca. Seperti sekarang ini, di luar hujan gerimis mulai turun karena terpengaruh juga dengan suasana hati Namjoon yang mendung karena tak tega melihat wajah Taehyung yang seperti itu. Mata asli Namjoon berwarna hijau.
Pria itu menggunakan gel di rambut cokelatnya. Namjoon terbilang pria yang sangat menjaga penampilannya terutama rambut. Kadang Yoongi mengoloknya karena bahkan rambut Namjoon tidak pernah berantakan meski mereka sedang melesat cepat melintasi kota.
Dan yang terakhir… vampire termuda di rumah itu : Kim Taehyung. Secara teknis dia masih bayi vampire, menjadi vampire baru 5 tahun. Dia tidak ingat bagaimana ia bisa berubah menjadi vampire atau bagaimana masa lalunya. Dia merasa yang paling lemah karena tidak tahu apa yang menjadi kekuatannya. Seokjin mengatakan bahwa itu karena Taehyung masih bayi vampire, jadi wajar belum memiliki kekuatan. Rambut Taehyung berwarna cokelat pirang dan matanya berwarna abu-abu, sangat indah. Namjoon hampir tiap hari menyuruhnya untuk tidak menyembunyikan mata silvernya itu.
“Taehyung, kenapa tidak dimakan?” tanya Namjoon cemas.
Taehyung hanya menunduk menatap meja. Bibirnya melengkung ke bawah. Kalau suasana sedang tidak serius, Namjoon pasti akan menyebutnya sangat cute.
“Kenapa kita haru pindah kota?” tanya Taehyung. “Lagi?”
Ya, ini juga pertanyaan yang ia lontarkan setiap kali Seokjin memutuskan mereka untuk pindah kota.
Yoongi melirik pada Seokjin, merasa pria itu yang harus menjawab.
“Daegu sudah cukup untuk kita.” ujar Seokjin sambil memotong steak dengan tenang.
Taehyung memang tidak pernah bisa bersosialisasi dengan baik di sekolahnya. Ia bahkan lebih sering di-bully dan menjadi bulan-bulanan manusia yang merasa diri superior. Tapi bukan berarti Taehyung senang berpindah kota seperti ini. Dia harus menyiapkan diri dan mental untuk kembali beradaptasi, memperkenalkan dirinya di tempat baru dan berusaha mencari teman.
Dari semua kota di Korea, mungkin Daegu lebih baik bagi Taehyung. Dia mungkin masih dianggap nerd dan tidak punya banyak teman. Tapi paling tidak dia sudah mulai akrab dengan Jihoon, meski sedikit. Taehyung tidak perlu makan sendiri lagi saat di kantin, ada Jihoon yang mau menemaninya. Mungkin karena Jihoon merasa senasib sepenanggungan. Namun Taehyung tidak peduli, setidaknya dia sudah ada teman bicara di sekolah itu.
Mereka belum terlalu dekat dan Taehyung tentu saja selalu menjaga identitas dirinya sebagai vampire. Ia tak menduga kalau Seokjin mengumumkan bahwa mereka akan pindah ke Seoul.
Taehyung belum pernah tinggal di Seoul. Seokjin dan yang lain sudah pernah tinggal di Seoul, ibu kota Korea Selatan itu. Dan Taehyung harus mempersiapkan mentalnya kembali untuk mencari teman di kota itu.
Di masa ini vampire sudah dianggap kuno. Banyak orang yang sudah tidak mempercayai akan keberadaan vampire, dan menganggapnya sebagai legenda urban saja. Di masa modern ini, vampire sudah mulai belajar berbaur dengan manusia, menyamar dan menutupi keberadaan mereka yang adalah manusia. Mereka belajar untuk bernafas dengan hidung, walau sebetulnya vampire tidak perlu bernafas.
Kalau di legenda urban dikatakan bahwa vampire tidak bisa terkena cahaya matahari? Tidak sepenuhnya benar. Mereka masih bisa berjalan di siang hari asal tidak terlalu lama. Dan jika menggunakan topi akan membuat mereka bisa berjalan di siang hari lebih lama.
Vampire takut pada bawang putih? Ini tidak benar. Vampire akan menertawakan manusia yang masih mempercayai hal itu.
Vampire masih meminum darah manusia namun tidak dengan cara terang-terangan menggigit leher manusia di tengah keramaian, itu mungkin terjadi dulu sekali. Sekarang vampire belajar bagaimana betahan hidup. Mereka menghisap darah manusia yang sudah hampir mati di rumah sakit. Atau mereka meminum darah kemasan. Ada perdagangan darah manusia untuk vampire di situs rahasia.
Di rumah ini, Yoongi yang biasa menyediakan darah manusia. Terkadang ia membelinya dari situs. Mereka bisa tahan tidak minum darah manusia selama dua minggu. Namun bukan berarti mereka tidak bisa makan makanan manusia. Vampire bisa makan makanan manusia walau darah tetap yang menjadi favorit dan asupan energi utama.
Vampire menyamar dan berbaur bersama manusia, menyembunyikan mata mereka dengan menggunakan lensa kontak. Ada yang bekerja di perusahaan, ada yang menjadi artis, atau belajar di sekolah layaknya manusia biasa. Dan wajah mereka selalu sama… tidak akan berubah menjadi tua.
Meski ini jaman modern, masih ada sekelompok manusia yang mempercayai keberadaan vampire dan bahkan di antara mereka ada ‘hunter’ yakni pemburu vampire. Kelemahan utama vampire adalah perak. Para hunter selalu menggunakan senjata seperti pisau silver atau senapan dengan peluru perak saat berburu vampire. Dengan menancapkan pisau perak tepat ke jantung vampire, maka vampire akan mati selamanya.
Sayangnya sudah sulit melakukan hal seperti itu di jaman modern ini. Namun bukan berarti hunter tidak ada. Mereka masih ada dan melakukan pekerjaan mereka dengan sangat hati-hati. Tiap tahunnya vampire yang mati akibat dibunuh hunter semakin banyak.
Seokjin berusaha menjaga keselamatan clan-nya dengan cara berpindah kota, menghindari kecurigaan serta menutup bukti bahwa mereka adalah vampire. Tugas utamanyasebagai alpha adalah menjaga keselamatan anggotanya, terutama Taehyung. Seokjin selalu merasa bahwa Taehyung bisa saja tidak hati-hati dan menguak identitas sendiri. Terkadang Seokjin harus menggunakan kekuatannya dalam menghapus memori orang-orang yang mengenal Taehyung ketika dirasa mulai timbul masalah.
“Kau sudah ada teman ya?” tanya Yoongi lunak. Sedikit kecewa karena Taehyung tidak terpikat dengan makanan yang sudah ia siapkan.
Taehyung menahan bibirnya untuk tidak membuka. Ia memilih untuk menggeleng namun masih menunduk muram.
“Seoul akan lebih menyenangkan,” ujar Seokjin tiba-tiba, “Manusia di Seoul lebih modern dan kau pasti menyukainya.”
Taehyung memegang garpu erat-erat. Jujur saja dia tidak pernah punya teman, seingatnya begitu. Dan Jihoon satu-satunya yang mau duduk dengannya saat di kantin. Taehyung tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya di Seoul nanti.
“Berita baiknya kau akan menjadi mahasiswa di Seoul, bukan seorang pelajar.” lanjut Seokjin. Ia mengeluarkan kartu identitas mahasiswa dan menaruhnya di depan Taehyung. Seokjin bahkan sudah menyiapkan semuanya sampai sudah mencarikan kampus untuk Taehyung.
“Hebat, sekarang kau menjadi mahasiswa~” ucap Namjoon dengan mata berbinar. Hujan gerimis di luar pun berhenti.
Taehyung menatap kartu identitas itu. Dirinya di kartu itu berumur 20 tahun, meski sebenarnya tidak. Sebelumnya dia selalu menjadi pelajar namun sekarang ia akan berbaur menjadi mahasiswa.
Yoongi menyeruput kembali anggurnya. “Ah sudah berapa lama ya saat terakhir aku menjadi mahasiswa. Itu adalah masa kejayaan. Masa menyenangkan.”
Seokjin memberi senyum halus pada Taehyung. “Semangatlah, Tae. Aku punya firasat Seoul akan memberi kesan tak pernah terlupakan. Itu selalu kualami setiap kembali ke Seoul.”
“Dan aku akan menjadi mahasiswa senior kan?” tanya Namjoon excited.
Seokjin melempar kartu lain dengan kekuatannya sehingga kartu itu terjatuh di depan Namjoon. Seperti biasa Namjoon kembali menjadi mahasiswa senior.
“Aku akan menjadi profesor,” kata Seokjin, “Sudah kupastikan bahwa aku tidak akan mengajar kalian berdua.”
“Kali ini profesor ya,” ujar Yoongi memberi senyum. Sebelumnya di Daegu Seokjin menyamar menjadi pebisnis.
Taehyung hanya mempoutkan bibirnya. Ia mengambil kartu identitasnya dan memandanginya dengan penuh harap. Menjadi mahasiswa sepertinya akan lebih baik ketimbang menjadi pelajar. Mungkin dia tidak akan dibully lagi. Dan mungkin akhirnya ia akan mendapat teman sejati?
“Aku sudah menyiapkan banyak lensa kontak untuk kalian semua,” ucap Yoongi, “Untuk menutupi mata vampire kita.”
“Semangatlah, Tae~” kata Namjoon sambil menepuk bahu Taehyung, “Kau pasti akan betah di Seoul, percayalah.”
Seokjin tersenyum tipis. Jika demikian, ia berharap mereka tidak perlu pindah kota lagi.
***
Sementara itu di Seoul…
Di sebuah rumah cukup mewah, di ruang makan duduk tiga orang. Makan dengan normanya. Pria tertua di rumah itu terus membicarakan mengenai pekerjaannya sebagai hunter. Meski kedua keponakannya sudah mendengarnya berkali-kali, pria bernama Donghyuk itu takkan bosan mengatakannya bahkan di saat makan malam.
Jungkook makan sambil mendengarkan pamannya dengan penuh minat. Dia anak yang paling penurut dan sopan, selalu memperhatikan apa yang disampaikan pamannya, terutama jika menceritakan mengenai vampire.
Soojung, kakak perempuan Jungkook, yang berbeda 2 tahun dari Jungkook itu hanya mendengarkan sesekali. Namun ia lebih fokus pada makanannya daripada pembicaraan ini.
“Jadi Paman besok akan ke Daegu?” tanya Jungkook.
Donghyuk mengangguk. “Beberapa hunter memberitahuku bahwa di sana terdeteksi keberadaan vampire.”
“Apa ada korban jiwa?” tanya Jungkook setengah memajukan badannya pada Donghyuk yang duduk di depannya.
Donghyuk menggeleng. “Tidak ada yang mati digigit vampire. Hanya ada laporan aneh dari seseorang yang mengalami kecelakaan dan dia tidak bisa mengingat apapun. Tapi korban itu terus menyebut kata monster.”
Jungkook mengangguk-angguk. Dia pun setuju kalau vampire adalah monster. Dia selalu percaya bahwa vampire harus dibasmi karena mereka hanya berusaha membunuh manusia. Ayah dan Ibu Jungkook mati akibat dibunuh vampire saat Jungkook dan Soojung masih sangat kecil. Ini membuat Jungkook sangat ingin menjadi hunter seperti pamannya untuk membalaskan dendam pada vampire.
Namun yang paling membenci vampire sepertinya adalah kakaknya. Soojung memiliki dendamnya sendiri, entah seperti apa Jungkook tidak tahu detailnya. Namun kakaknya itu bahkan sampai berlatih melempar panah. Dia ingin suatu saat nanti bisa membunuh vampire tepat di jantungnya.
“Aku mungkin tidak akan pulang beberapa hari,” tutur Donghyuk, “Kuharap kalian bisa mandiri saat ditinggal.”
Jungkook mengangguk. Dia sudah merupakan pria dewasa, tentu saja ia bisa menjaga diri. Pamannya selalu mengajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri seandainya bertemu dengan vampire. Vampire dan hunter seolah dianggap legenda di kota ini sehingga membuat mereka tidak banyak memberitahu orang lain bahwa paman mereka adalah seorang hunter. Bahkan tidak ada yang percaya kalau orangtua mereka meninggal dibunuh vampire. Donghyuk sudah berkali-kali menceritakan detail kematian orangtua Jungkook… bagaimana vampire itu menghisap darah orangtuanya sampai mati.
Setelah makan malam, ketiganya di ruang tengah untuk menghabiskan waktu sebelum tidur. Jungkook berada di depan laptop mengerjakan tugas kuliahnya. Pamannya duduk di sofa sedang melap senapan hunter. Jungkook tahu bahwa peluru yang digunakan hunter untuk membasmi vampire bukanlah peluru biasa. Peluru yang harus digunakan adalah silver dan diarahkan tepat ke jantung vampire untuk membunuhnya langsung seketika.
Soojung sedang melempar dart yang memang ada di ruangan itu. Wanita itu cantik dengan tubuh tinggi semampai. Rambut panjangnya tergerai halus sepunggung. Ia semakin mahir dalam melempar dart tepat di pusat lingkaran. Ia bahkan juga mengambil kursus memanah yang sangat didukung Donghyuk. Pria itu selalu memotivasi kedua keponakannya untuk kelak menjadi hunter, membalaskan dendam pada vampire.
Soojung melemparkan dart kembali yang lagi-lagi tepat sasaran. Ia membayangkan kapan tiba waktunya ia bisa bertemu dengan vampire berhadapan muka. Tanpa berpikir panjang Soojung akan menancapkan pisau silver tepat ke jantung sang vampire, membunuhnya dalam sekejap, ingin menyaksikan bagaimana makhluk itu mati di hadapannya.
Di Seoul tentu saja ada vampire. Namun begitu hebatnya mereka berkamuflase sehingga sulit diketahui. Soojung berharap dia memiliki kesempatan untuk menemukan vampire di masa mudanya. Bahkan jika ia bisa menemukan vampire di antara mahasiswa kampusnya… itu akan sangat meningkatkan semangat adrenalinnya.
.
.
.
“Aku pulang…” ucap Jimin. Ia melepas sepatunya dan ibunya sudah menyambutnya dengan senyum lebar. Ibunya sudah tua dan merupakan mantan dokter. Karena sakit yang dialaminya, ibunya tidak bisa bisa bekerja di rumah sakit.
“Jimin-ah, sudah pulang…” ujar ibunya, “Bagaimana latihan dancemu?”
Jimin memberi cengiran, “AKu dipuji pelatih karena gerakanku semakin luwes.”
“Bagus sekali.” sahut ibunya dengan mata berbinar, “Ibu senang mendengarnya. Kajja, ibu sudah menyiapkanmu makanan.”
Wanita itu memegang lengan Jimin dan membawanya ke dapur.
“Aku tidak lapar, Eomma…” kata Jimin sopan. Ia mengecup cepat pipi ibunya. “Sehabis latihan aku makan dengan teman-teman.”
“Uhh kau selalu saja… setidaknya kau harus meminum jus yang kubuat Jimin-ah.”
“Arraseo, arraseo… Jus mangga spesial buatan Eomma.” Jimin melihat gelas jus di meja. Ia mengambilnya dan meneguknya sampai habis. Ibunya selalu menyediakan makanan dan minuman seperti ini, seolah masih menganggap Jimin seperti kanak-kanak, bahkan minum jus mangga di malam hari. Jimin yakin pencernaannya akan sangat lancar esok pagi. Ia tertawa sendiri dalam hati.
“Bagaimana harimu, Eomma?” tanya Jimin.
“Seperti biasa, Eomma melanjutkan jurnal penelitian Eomma yang masih belum selesai.”
“Eomma selalu bersemangat. Kebanggaanku.”
“Jurnal itu segalanya untuk Eomma…” ujar wanita itu sambil memandang wajah anaknya baik-baik.
Jimin bergumam pelan dan memberi senyum. “Eomma sangat bekerja keras… bahkan setelah…” Jimin tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba kepalanya pusing seolah rumah ini sedang berputar.
“Jimin?” tanya Eommanya kaget sambil memegang lengan anaknya.
Jimin sudah tidak kuat. Matanya dipaksa terpejam dan tubuhnya pun mendadak lemas. Jimin pun terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.
“Jimin-ah!!!” pekik ibunya.
****
Jika suka, silakan di favorit, dilike dan berikan komentarnya