
Sore itu Seokjin dan Jackson bertemu di sebuah kafe. Jackson merupakan salah satu anggota dewan vampire yang cukup dekat dengan Seokjin.
“Bagaimana pekerjaanmu sebagai dosen?” tanya Jackson sambil menyeruput kopi. Jackson adalah vampire yang sudah berumur 70 tahun, kekuatan vampirenya adalah control metal, bisa mengendalikan besi di sekitarnya sesuka hati. Itu pula yang dilakukannya saat penyerangan hunter di villa bambu. Ia membuat vampire kabur dengan mudah karena ia pun menyerang hunter dengan kekuatannya itu.
“Apa kau yakin punya waktu bersamaku seperti ini?”
Seokjin mendengus pelan. “Aku tidak sesibuk itu. Ada hal-hal yang mau kutanyakan padamu.”
“Tanyakan saja…” sahut Jackson tenang.
“Apa sudah ada perkembangan mengenai 4 vampire yang ditangkap hunter saat di villa bambu?”
Jackson mendesah. Ini pula yang memang menyusahkan hati semua dewan vampire. “Belum ada perkembangan berarti.”
“Apa kau berpikir ada pengkhianat di dewan vampire?” ucap Seokjin serius, “Maksudku… 20 hunter diturunkan untuk menyerbu kita. Bukankah artinya itu sudah direncanakan?”
Jackson mengangguk pelan. “Aku berpikir hal yang sama denganmu. Tapi kami belum menemukan bukti apa-apa. Aku berusaha mencurigai sesama anggota dewan, tapi tak bisa. Membayangkan ada pengkhianat di antara kami itu sangat mengerikan. Kau tahu kan banyak info-info di dalam dewan vampire yang sangat rahasia.”
“Aku berpikir bahwa ada sindikat penjualan vampire di negri ini, Jackson. Vampire tidak dibunuh tapi ditangkap untuk dieksplotasi.”
Jackson menghembus nafas keras-keras. “Itu juga yang kami diskusikan beberapa pekan ini. Mengenai eksploitasi vampire. Jika memang benar maka sindikat ini sudah sangat terkoordinir dengan baik dan rapi sampai kita tidak mendengar berita apapun.”
“Mungkin saja baru berkembang beberapa tahun. Apa dewan vampire tidak akan melakukan sesuatu?”
“Pertama, yang menjadi fokus kami adalah posisi para vampire yang sudah ditangkap. Vernon salah satu dewan vampire yang tertangkap, kami sedang berusaha melacaknya. Vernon memiliki seorang soulmate… mungkin kau belum pernah mendengarnya, tapi sesama soulmate bisa mengirimkan telepati.”
“Soulmate?” Seokjin mengernyit heran. Baru pertama ini mendengar ada soulmate di dunia vampire.
“Yeah, one in a million I could say… Banyak alasan dan latar belakang yang membuat dua orang ditakdirkan menjadi soulmate. Tapi aku tidak akan membahasnya sekarang, aku bukan expert.” ujar Jackson, “Soulmate Vernon juga adalah vampire dari clan Yeon. Dulu tetua di dewan vampire pernah mengatakan kalau vampire soulmate bisa mengirimkan telepati, jadi kami berusaha menanyakan pada soulmatenya namun dia belum mendapat telepati apapun. Kurasa bisa jadi karena jarak, atau…” Gigi Jackson gemertak, “Atau kondisi Vernon sudah terlalu lemah sampai tidak bisa mengirimkan telepati.”
“Aku berharap dia baik-baik saja.” Seokjin tak dapat membayangkan apa yang sudah dilakukan manusia tidak beradat yang menangkap vampire dan mengeksploitasinya. Pastinya mereka tidak akan tanggung-tanggung menyiksa dan mengeksploitasi. Ibu Jimin mungkin pernah melakukannya demi keselamatan anaknya namun wanita itu masih berperasaan rasanya. Lagipula darah itu hanya digunakan untuk satu manusia saja dua minggu sekali. Bayangkan kekejian apa yang bisa dilakukan sindikat penjualan vampire? Pastinya lebih tidak berperasaan, mengeksploitasi darah dan tubuh vampire habis-habisan untuk perdagangan ilegal.
“Aku akan mengabarimu jika sudah ada perkembangan.” Jackson kembali menyeruput kopinya perlahan. “Jika ini memang sindikat besar, kami butuh bantuanmu, Jin, juga beberapa vampire lainnya. Karena dewan vampire sudah pasti kalah jumlah.”
“Arraseo…” gumam Jin mengangguk. “Oh ya, ada hal yang ingin kutanyakan juga…” Seokjin harus menanyakan perihal peristiwa yang menimpa orangtua Soojung, kekasihnya.
“Kejadiannya lebih dari 10 tahun yang lalu… ada kasus sepasang suami istri mati terbunuh oleh vampire, apa kalian memiliki datanya?”
Jackson mengernyitkan dahi, terdiam beberapa saat mencoba untuk mengingat. “Aku sudah belasan tahun bergabung di dalam dewan vampire, aku tidak pernah mendengar kasus semacam itu. Jika ada vampire yang ketahuan membunuh manusia pasti sudah dijatuhi hukuman tahanan oleh dewan vampire.”
“Apa mungkin kasus ini bukan disembunyikan?”
“Tidak mungkin… Bahkan hunter yang mati terbunuh oleh vampire pun kita punya datanya. Apalagi jika kau menyebutkan yang meninggal adalah manusia awam, manusia biasa.”
“Apa mungkin keduanya tewas karena kehabisan darah dihisap oleh vampire?”
Jackson tertawa sumbang. “Kau tidak bercanda kan? Kau pun tahu kalau kita tidak menghisap darah seperti itu. Mungkin kasusnya pure mati dibunuh, bukan karena mati dihisap darahnya.”
“Dan dewan vampire tidak pernah punya datanya?”
“Mungkin kasus itu tidak pernah mencuat ke permukaan. Lantas dari mana kau tahu kalau dua manusia itu tewas oleh vampire? Apa ada beritanya?”
Seokjin mengulum mulut. “Keluarga korban meyakininya namun tidak melaporkan pada media.”
“Jinjja?” Jackson merasa kasus itu sangat ganjil. “Banyak spekulasi untuk kasus seperti ini, Jin, entah kematiannya dimanipulasi.. atau.. jika memang ada vampire yang membunuhnya, vampire itu dilindungi oleh semacam organisasi sampai dewan vampire pun tak bisa mendeteksi peristiwa ini.”
“Aku setuju dengan pendapatmu.” Seokjin meminum kopinya dalam-dalam.
****
Soojung duduk termenung di meja belajarnya. Jemarinya mengelus sebuah figura foto berukuran kecil. Disitu ada foto orangtuanya yang masih sangat muda. Ibunya sangat cantik dan tengah menggendong seorang bayi. Bayi tersebut adalah Soojung sendiri.
Orangtuanya meninggal saat Soojung berumur delapan tahun. Ibunya adalah seorang apoteker terkenal pada jamannya. Ibunya bahkan kerap mendapat banyak perhargaan dan masuk berita televisi. Ayahnya adalah seorang pengusaha alat medis dan membantu juga dalam usaha obat yang dilakukan istrinya.
Hari itu… hari dimana ia kehilangan orangtuanya untuk selamanya… Hujan lebat terus turun sejak siang. Soojung di rumah menjaga Jungkook karena orangtuanya yang pergi sejak pagi lantaran ada urusan pekerjaan.
Soojung bahkan masih mendapat telpon dari ibunya sore itu. Ibunya menelepon menanyakan apakah Soojung dan Jungkook baik-baik saja, apakah Soojung sudah menghangatkan sup ayam untuk makan siang, ataukah apa Soojung sudah mengunci pintu rapat-rapat dan memastikan penghangat ruangan menyala.
Soojung tidak pernah tahu bahwa itu menjadi terakhir kalinya ia mendengar suara ibunya. Karena malamnya ia mendapat kabar bahwa orangtuanya sudah tiada. Pamannya yang datang ke rumah dan mengabarkan hal itu sambil menangis.
Malam itu sangat menyesakkan sampai air mata Soojung tidak bisa mengalir. Baru saat peti kedua orangtuanya akan dimasukkan ke dalam liang kubur, tangisan itu pecah juga. Seorang anak berusia 8 tahun yang menyangka kejadian di depan matanya adalah mimpi… menyangka semua akan baik-baik saja saat ia membuka mata kembali dan terbangun dari tidur…
Dia terlalu naif sampai berpikir kemalangan itu hanya mimpi semata.
Sangat menyedihkan…
Sampai seminggu setelahnya, pamannya memberitahunya bahwa kematian orangtuanya disebabkan karena dibunuh vampire. Saat itu Soojung mengira vampire adalah manusia jahat yang penuh dengan teror dan psiko… semacam pembunuh berdarah dingin atau apa. Namun beberapa tahun setelahnya ia baru tahu kalau vampire dan manusia adalah dua hal yang berbeda. Ia bahkan mengalami trauma karena saat SMP ada dua vampire yang menghisap darahnya. Itu hanya membuat kebenciannya pada vampire kian bertambah.
Soojung masih menyimpan dendam itu. Ia masih menunggu saat dimana ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuanya… dan siapa yang telah membunuh orangtuanya.
Wanita itu memandang foto orangtuanya dengan tatapan sedih. Orangtuanya terlalu muda… masih terlalu muda untuk mati mengenaskan seperti itu.
Pintu kamarnya diketuk. Soojung tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang masuk.
“Noona…” ucap Jungkook. Adiknya itu sudah memakai pakaian serba hitam sama seperti dirinya. Sore ini mereka memang berencana akan ziarah ke tempat istirahat orangtua mereka karena hari ini adalah wedding anniversary orangtua mereka yang ke-24.
Soojung mengangguk dan menaruh kembali figura foto itu ke tempatnya semula, di meja belajarnya. “Kajja… Paman akan menyusul dari tempat kerjanya.”
Soojung sudah berjalan duluan namun karena melihat Jungkook masih mematung, wanita itu pun menghentikan langkah dan melihat wajah Jungkook yang terkejut memandang sesuatu di meja belajarnya. “Kook, wae?”
“Bo-boneka itu…” ucap Jungkook menatap boneka pikachu di rak, sebelah meja belajar kakaknya.
“Ah…” Soojung pun ikut tersadar. “Itu punyamu ya? Saat Ahjumma yang membersihkan rumah membawa keluar keranjang sampah berisi boneka pikachu, aku langsung mengambilnya. Karena kurasa masih terlalu bagus untuk dibuang, bahannya pun sangat soft.”
Jungkook mengerjap-ngerjap. Memang di hari itu Jungkook sudah membuangnya, dia membuang boneka persahabatan pemberian Taehyung. Saat itu Jungkook terlalu marah dan dendam menguasainya sehingga ia tidak mau lagi menyimpan barang pemberian vampire.
“Kau bisa mengambilnya kembali, Kook…” gumam Soojung mengerti sambil menepuk pundak adiknya. Soojung mengambil boneka pikachu dan memberikannya pada Jungkook. “Anggaplah kau mendapatkan kesempatan lagi setelah membuang apa yang berarti untukmu.”
Jungkook menggigit bibir kuat-kuat. Ia tidak akan pernah melupakan kata-kata kakaknya itu.
“Kajja…” ucap Soojung lalu berjalan duluan keluar dari kamar.
🎃🎃
jiahh storynya makin panjang dan complicated.
readers be like :
wkwkwk.
Jangan lupa berikan jejak🐾🐾