Vampire In The City

Vampire In The City
Sebuah Misteri




Jimin diberi obat bius dan hari itu ia mendapat transfusi darah vampire untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Yoongi melakukan persis seperti yang sebelumnya dilakukan Ibu Jimin, hanya saja bedanya ini berdasarkan persetujuan Jimin sendiri, tidak ada pemaksaan. Masih menjadi sebuah misteri darimana ibu Jimin mendapatkan vampire dan menjadikannya sebagai tahanan. Meski Yoongi ingin melacak kasus itu namun Seokjin melarangnya. Alpha itu berpikir lebih baik mereka tidak berusaha ikut campur dalam masalah itu. Ada dewan vampire yang nanti akan berusaha mencari tahu. Seokjin tidak ingin clannya malah terancam dengan melibatkan diri dalam kasus ilegal itu, yang ada mungkin nyawa mereka yang juga terancam.


Setelah mendapat transfusi darah dan sadar kembali, Jimin merasa lebih baikkan. Kerongkongannya sudah tak terasa panas lagi, kulitnya pun sudah normal tidak kemerahan seperti sebelumnya. Jimin akan menginap semalam di sana supaya Yoongi bisa terus memantau perkembangan kondisi Jimin.


Jimin duduk di kursi makan mengobrol bersama Taehyung, sementara Yoongi tengah menyiapkan cheese cake sebagai hadiah karena Jimin telah berhasil mengikuti saran Yoongi dengan baik.


“Bagaimana? Apa yang sekarang kau rasakan?” tanya Taehyung, “Apa ada yang sakit?”


Jimin memberi senyum. “Demi Tuhan, kau sudah menanyakannya berkali-kali tadi. Aku baik-baik saja, Tae. Ini semua berkat Yoongi Hyung.”


Dhampir itu menoleh dan hanya memberi senyum lalu melanjutkan pekerjaannya. Taehyung mengekeh dan merangkul bahu temannya. “Aku hanya ingin memastikan semua berjalan dengan baik untukmu, Jiminnie.”


“You are the best, Tae! Oh ya, aku jadi ingat, bukannya kemarin kau menginap di tempat Jungkook ya? Kalau dipikir-pikir tadi pagi itu kau langsung pulang ke rumah?”


Taehyung tertegun. Dia kembali teringat dengan hal-hal yang terjadi di rumah Jungkook. Dia hampir-hampir melupakan kecemasannya namun pertanyaan Jimin membuatnya ingat kembali. Taehyung tidak tahu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, yang jelas dia pun tidak ingin masalah ini menjadi panjang. “Tadi pagi aku langsung pulang karena aku tidak ingin mengganggu Jungkook. Dia ada urusan.”


Yoongi menoleh ke arah bayi vampire itu. Ia merasakan kalau Taehyung sedang berbohong dan kondisi emosi Taehyung saat ini sangat aneh, seperti takut. Apalagi saat ini Taehyung meremas tangannya sendiri dengan gugup. Sebenarnya Yoongi ingin tahu mengapa reaksi Taehyung seperti itu tapi bisa saja itu urusan pribadi Taehyung dan Jungkook.


“Oh begitu…” sahut Jimin, “Aku sebenarnya ingin menceritakan kondisiku pada Jungkook, Tae. Aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu yang penting seperti ini darinya.”


Taehyung menelan ludah. Ia pun ingin mengungkapkan segalanya pada Jungkook namun Taehyung tak dapat melakukannya. Jungkook membenci vampire… Pamannya juga seorang hunter. Memberitahu Jungkook tidak akan berakhir baik.


“Tapi kalau aku memberitahunya,” lanjut Jimin, “Dengan kata lain identitasmu pun akan ketahuan. Aku berpikir Jungkook mungkin belum siap.”


Taehyung tersenyum miris. “Mungkin nanti, Jiminnie. Yang jelas aku masih ingin berteman normal dengan Jungkookie.”


“Aku baru sadar, Tae, kalau ternyata indera pendengaranku semakin tajam semenjak aku ditransfusikan darah vampire. Kau tahu, aku bisa mendengar suara-suara di kejauhan. Dan sebenarnya saat pertama kali kita bertemu, aku bisa mendengar obrolanmu dengan Jungkook. Suara Jungkook yang pernah kukenal membuatku mendatangi kalian. Maka seperti itulah awal kita bertemu dan berkenalan, Tae.”


“Ah yaaa…” ujar Taehyung mengingatnya.


“Itu benar, Jimin-ssi…” kata Yoongi menimpali, “Indera pendengaranmu semakin kuat seperti vampire. Dan sebenarnya aku pun merasakan energi vampire dalam tubuhmu saat kau pertama kali ke toko cheese cake-ku.”


“Ah jinjja?” Mata Jimin membesar menatap Yoongi, “Jadi kau sudah mengetahuinya sejak melihatku?”


“Saat itu aku masih bingung karena kau adalah manusia. Lalu apa kau tidak merasakan ada kekuatan lebih di dalam dirimu? Kau sudah mendapat transfusi darah berkali-kali.”


“Aku memang merasa kalau stamina tubuhku lebih tinggi… dan aku bisa menari dengan cepat tanpa lelah.”


Taehyung mengangguk-angguk setuju. “Jiminnie juga sangat lincah, gerakannya cepat kalau menari, Hyung.”


Yoongi memberi smirk. “Speed ya… Mungkin itu kekuatan yang kau dapat dari vampire sebelumnya. Vampire yang ada di basement rumahmu itu pun memiliki kekuatan speed.”


“Hwoa… Jiminnie sudah punya kekuatan vampire?” Taehyung sangat terkejut. Dirinya saja sudah lima tahun menjadi vampire belum punya kekuatan apa-apa. Ini tragis.


“Bisa dibilang begitu,” sahut Yoongi, “Kurasa manusia yang mendapat transfusi darah vampire secara berkala juga akan mendapat kekuatan dari vampire itu, tak hanya sekedar membuat awet muda saja.”


Jimin menelan ludah. Jadi dia pun memiliki kekuatan vampire?


“Tapi kurasa tidak akan banyak karena sekarang Jiminnie mendapat transfusi darah vampire yang berbeda.”


“Oh jadi manusia yang mendapat darah vampire juga mendapat kekuatannya ya?” celetuk Hoseok masuk ke ruang makan. Namjoon berjalan di belakangnya. Kedua vampire itu sebelumnya sedang latihan bela diri namun sekarang lebih tertarik dengan pembicaraan ini.


Yoongi mengangguk serius. Dia dan Namjoon berpandang-pandangan, ketakutan mereka sama. Jika sindikat penjualan vampire ini sudah ada sejak lama maka artinya ada oknum manusia yang memiliki kekuatan vampire. Tapi jika darah vampire yang ditransfusikan berbeda-beda mungkin persentase kekuatan yang diterima pun tidak banyak. Semoga saja para dalang penjualan vampire tidak mengetahui hal ini.


“Kalau seperti ini Jimin bisa kita masukkan dalam clan Kim~” ucap Hoseok ceria. Namjoon langsung menjitak kepala Hoseok. Sebagai Masternya, Namjoon merasa malu karena Hoseok mengucapkan kalimat seperti itu.


“Kau ini apa-apaan. Jimin masih manusia.”


Taehyung mengekeh dan tersenyum lebar pada Jimin. “Jiminnie, ini artinya kau sangat diterima di rumah ini.”


Jimin membalas senyum itu. Sesungguhnya ia pun berterimakasih. Jimin sudah mendengar banyak hal mengenai fakta vampire,yang tentunya ia dengar dari vampire itu sendiri. Meski ia manusia ternyata vampire jaman sekarang bisa menahan diri untuk tidak menggigit manusia. Taehyung pun menceritakan dengan lugas bahwa dirinya bahkan belum pernah menghisap darah manusia secara langsung selain meminum darah kemasan yang dibeli Yoongi. Ini membuat Jimin tidak takut datang ke rumah ini meski semua penghuninya merupakan vampire. Jimin bahkan sudah terbiasa melihat mata asli mereka dan tak takut lagi. Banyak hal yang tidak ia ketahui di dunia ini. Jika vampire ada, bukankah vampire juga pantas mempertahankan hidup? Ya asalkan tidak menyerang manusia. Tidak ada seorang pun yang bisa menentukan takdirnya sendiri bukan? Kalau begitu bukankah yang tersisa tinggal mempertahankan hidup?


***


Pagi itu Seokjin menjemput Soojung untuk pergi ke kampus bersama. Hubungan keduanya semakin dalam dan cinta tumbuh di antara mereka.


“Apakah Oppa sudah sarapan?” tanya Soojung manis sementara Seokjin tengah menyetir mobil jeepnya di jalan raya.


“Aku tidak biasa sarapan pagi, Soojung-ah.” sahut Seokjin lembut.


“Kau harus biasa sarapan, Oppa..” ujar Soojung. Ia mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya, “Aku membuatkanmu sandwich karena kupikir Oppa belum sarapan.”


Seokjin menoleh dan memberi senyum. “Kau perhatian sekali, aku terharu lho.”


Soojung mengekeh. Wanita itu pun mengeluarkan sandwich dan menyuapi langsung kekasihnya itu. Seokjin menerimanya dengan senang hati. “Aku sebenarnya ingin mengenalkan Oppa pada adikku.”


“Aahhh…” Seokjin mengangguk-angguk. Lantas apa dia juga perlu mengenalkan clannya pada Soojung? Tentu saja tetap menyamar sebagai manusia.


“Lain kali kita bisa makan siang bersama di luar bagaimana?” usul Soojung.


“Ide bagus, Soojung-ah. Aku ingin melihat adikmu, kurasa mirip denganmu?”


“Umm, sifat kami mirip, tapi untuk wajah kami tidak mirip. Dia mirip Appa sementara aku mirip Eomma. Dan dia pintar di jurusannya, Oppa.”


“Wow, aku tak sabar ingin diskusi dengan adik kecilmu, Soojung.”


“Dia tidak kecil…” Soojung mengekeh sambil menyuapi kekasihnya lagi, “Di waktu luang dia bisa menghabiskan waktu dengan boxing di kamarnya. Bagiku ototnya sudah mulai membentuk.”


“Uh wow itu sedikit membuatku terintimidasi karena aku jarang olahraga.”


Soojung tertawa lagi dan langsung mengecup cepat pipi Seokjin dengan gemas. “Kau sempurna untukku.”


Seokjin menoleh dan menunjukkan senyum lebar. “Aku senang mendengarnya kalau begitu. Apa kau sudah memberitahu adikmu bahwa kau berpacaran dengan dosen?”


Soojung menggeleng. “Aku belum sempat menceritakannya. Akhir-akhir ini kulihat dia banyak murung, sepertinya karena tugas kuliah yang semakin banyak, entahlah.”


“Kehidupan mahasiswa selalu naik turun, itu biasa bukan? Atau mungkin dia sedang ada masalah dengan temannya.”


“Yah bisa jadi…”


🎃🎃


Jangan lupa berikan like, comment, vote serta favorit😊 please please