Vampire In The City

Vampire In The City
Yang Terjadi Di Rumah Jimin (2)



Yeay episode berikutnya langsung hadir di hari yang samaa. Selamat membaca


🎃🎃



Sejam kemudian Jimin sudah bisa bangun. Anggota badannya masih sedikit mati rasa tapi ia sudah tidak bisa tertidur terus, entah berapa lama ia telah tertidur. Jimin menatap langit-langit berusaha mengingat apa yang terakhir terjadi pada dirinya.


“Jiminnie…”


Jimin menoleh dan melihat Taehyung duduk di samping tempat tidur, memandangnya dengan cemas. Ahh, dia ingat… Taehyung membawanya dari basement sesaat sebelum ibunya berusaha mentransfusikan darah padanya.


“Tae…?”


“Minumlah dulu…” kata Yoongi memberikan segelas air pada Jimin.


Jimin heran melihat hyung Taehyung itu ada di kamarnya. Ia juga melihat ada orang lain, bertubuh tinggi dan berwajah tampan, sedang berdiri memandanginya. Apa orang itu juga hyung Taehyung yang lain? Sepetinya temannya itu memanggil kedua hyungnya untuk minta bantuan?


Jimin menerima gelas dan meneguk air dalam-dalam. Dia merasa lebih baik ketika sudah meminum segelas air mineral itu. Taehyung membantunya untuk duduk bangun di tempat tidur.


“Tae, mana ibuku?” tanya Jimin. Ingatan terakhirnya adalah ibunya pingsan disuntikkan obat bius oleh Taehyung. Dan meski Jimin masih mempertanyakan apa yang berusaha ibunya lakukan padanya, Jimin tetap mencemaskan kondisi wanita itu.


“Ibumu sudah ada di kamarnya, tidur…” sahut Taehyung setengah gugup. Seokjin sudah ke basement dan mengontrol memori wanita itu, menghilangkan memori yang berhubungan dengan eksploitasi vampire, membuat wanita itu tidak akan pernah mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Jimin yang berkaitan dengan vampire.


Jimin menatap Taehyung lalu menatap Yoongi dan pria lain di kamarnya. Ia masih bingung sebenarnya apa yang terjadi. “A-aku tak mengerti, Tae… kenapa ibuku melakukan i-itu padaku…”


Yoongi tersenyum tipis. Manusia seperti Jimin mungkin tidak akan pernah mengerti karena tidak mengetahui apa-apa tentang vampire. Tapi Ibu Jimin sepertinya sudah cukup tahu banyak mengenai vampire dan entah bagaimana bisa mengurung vampire dalam rumahnya, mengambil darahnya dan mentransfusikan darah vampire pada Jimin secara berkala. Yoongi memprediksi wanita itu mungkin dulunya salah satu kelompok ilmuwan di Seoul yang mengeksploitasi vampire. Mereka adalah kelompok eksklusif yang bahkan para vampire di dunia berusaha mengejar dan menghancurkan sindikat ini. Belum diketahui siapa dalang/ big bos dalam sindikat ini. Dari tahun ke tahun memang ada berita dari clan lain mengenai vampire yang hilang. Itu bisa saja ‘pekerjaan’ yang dilakukan para ilmuwan sinting.


Tapi kalau dicermati, sepertinya ibu Jimin melakukannya hanya untuk kebaikan Jimin, tidak bermaksud melakukannya untuk kelompok sindikat. Yoongi masih harus mencari tahu mengapa mantan dokter itu berkali-kali mentransfusikan darah vampire pada anaknya. Jika ingin awet muda mengapa tidak mentransfusikan darah vampire itu pada dirinya sendiri? Jimin masih muda, hidupnya masih panjang…


Taehyung tidak bisa menjawab pertanyaan temannya. Ia membiarkan hyungnya saja yang menjawab pertanyaan Jimin.


Seokjin maju beberapa langkah mendekati tempat tidur. Ia menatap Jimin, percaya bahwa manusia itu merupakan teman Taehyung yang bisa dipercaya, yang mem-value Taehyung sebagai teman, bukan monster.


“Ibumu berusaha mentransfusikan darah vampire ke dalam tubuhmu..” ujar Seokjin tenang namun waspada.


“Mwo?” Jimin terkejut mendengarnya, “Vampire?” Katakanlah dia tidak pernah terbayang bahwa makhluk semacam vampire itu sungguh nyata di dunia ini.


Taehyung memandang Seokjin dengan cemas. Apakah aman jika memberitahukan hal sebanyak itu pada Jimin? Apa identitas clan mereka akan aman?


“Itu dipercaya bisa membuat tubuh seseorang lebih kuat dan berstamina tinggi…” lanjut Seokjin. Ia tidak ingin memperpanjang penjelasan ini, ia akan biarkan Jimin yang menduga-duga sendiri apa perkataannya benar atau tidak.


Jimin menatap Seokjin dengan syok. Apa itu juga yang menyebabkan kadang dirinya sangat berenergi tinggi, tidak kelelahan meski sudah berjam-jam latihan dance? Apa itu juga ada hubungannya yang membuatnya kadang bisa bergerak cepat dan salto di udara?


Yoongi memberi senyum, merasakan pergolakan emosi di dalam diri Jimin.


“Kita bisa memikirkan hal itu nanti,” tutur Seokjin, “Untuk sekarang ada hal yang perlu kau lakukan, Jimin-ssi.”


Jimin menatap Taehyung dengan bingung. Taehyung memberi anggukan sambil meremas bahu chingunya.


Mereka semua pergi ke basement. Jimin merasa energinya sudah kembali normal, sudah tidak lemas lagi. Ia berjalan mengikuti mereka ke dalam basement menggunakan pintu yang ada di dapur. Selama ini Jimin tidak pernah tahu ada basement di rumahnya. Ia tahu pintu itu tapi selalu dikunci dan ibunya mengatakan kalau itu hanya gudang biasa. Ia tak menyangka kalau ternyata pintu itu menghubungkan ke basement, tempat dimana ibunya mungkin bekerja dan menghabiskan waktu.


Jimin merinding kembali saat mendengar suara-suara erangan dari ruangan lain di dalam basement. Apa jangan-jangan yang ada di sana adalah vampire? Apa betul ibunya mengurung vampire dan mengambil darah vampire untuk ditransfusikan ke dalam tubuhnya?


Suara-suara itu berhenti saat mereka berempat sampai di dekat pintu yang terbuat dari silver.


“Kita harus mengeluarkan apapun yang ada di dalam sana…” gumam Seokjin menoleh pada Jimin, “Apa kau bisa membukakan pintu itu untuk kami?”


Mata Jimin membelalak menatap Seokjin. Apalah maksud perkataannya, kenapa harus dia yang membuka pintu itu? Kenapa bukan mereka saja? Bagaimana kalau ada vampire yang keluar langsung menyerang dan menghisap darahnya. Jangan-jangan dia sedang ditumbalkan.


“Percayalah pada kami…” ujar Yoongi menepuk pundak Jimin.


Jimin menelan ludah. Bagaimana pun ini adalah rumahnya… dan yang ada di dalam sana adalah salah satu perbuatan ibunya sendiri. Jika ia memang ditumbalkan ia harus menerimanya kan.


Jimin pun berjalan maju mendekati pintu. Ia menoleh ke belakang, melihat Taehyung yang memberi anggukan padanya. Jimin pun membuka kunci pintu yang menggantung di sana. Begitu lambat seperti slow motion… Jimin membuka pintu silver tersebut. Matanya hanya bisa terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam sana.


“KYAAA…” pekiknya. Ia membelalak horor melihat di dalam sana ada sosok vampire… kulitnya sudah setengah menghitam, berbaring di lantai, menatapnya dengan mata vampirenya yang berwarna merah menyala di ruangan remang-remang itu.


Yoongi langsung melesat, menarik badan Jimin dari depan pintu. Seokjin bergerak cepat ke depan pintu tanpa menyentuhnya. Ia melihat sendiri vampire yang di dalam sana, sudah jelas tereksploitasi. Jika dilihat dari kondisinya, vampire itu dikurung sudah cukup lama… mungkin sebulan atau dua bulan.


“Taehyung, ajak temanmu ke atas…” ujar Yoongi pada bayi vampire yang juga sedang ketakutan. Taehyung tak pernah mengira bahwa manusia bisa melakukan hal sebejad itu terhadap vampire? Apa salah vampire sampai harus ditangkap dan darahnya diambil untuk dieksploitasi sebagai bahan penelitian?


Jimin masih terlihat terguncang dengan apa yang dilihatnya sementara Taehyung langsung memegang lengan Jimin yang sudah sangat dingin. Taehyung menarik Jimin, membawanya keluar dari basement. Ia akan membiarkan para hyungnya yang menyelesaikan sisanya.


.


.


.


Jungkook kembali melirik jam dinding di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 pagi. Sejak tadi Jungkook memang terus belajar untuk persiapan ujian besok. Beberapa kali ia sudah menelepon Taehyung semenjak pukul 11 tapi temannya itu tidak pernah mengangkatnya. Jungkook jadi bertanya-tanya, apa Taehyung ketiduran? Bukankah Taehyung berjanji akan begadang dan meneleponnya?


Jungkook memandang ponsel di atas meja, menimang-nimang apa ia harus menelepon Taehyung lagi. Ia jadi cemas, sebenarnya apa yang dilakukan Taehyung sampai belum meneleponnya?


Jungkook pun mengambil ponsel itu dan mencoba menelepon Taehyung kembali. Lama tidak diangkat sampai akhirnya terdengar suara Taehyung di seberang menyapanya. Jungkook lega saat mendengar suara Taehyung itu.


“Halo, Kookie?” Suara Taehyung itu terdengar kelelahan dan ada suara jalan raya juga, seolah Taehyung tidak berada di rumahnya.


“Tae? Kau dimana? Di luar?” tanya Jungkook heran.


“Iya, aku sedang di jalan pulang ke rumah…”


“Mwo? Kau darimana? Ini sudah sangat malam.”


“Ta-tadi aku dari rumah Jimin…” sahut Taehyung hati-hati. Ia tidak sanggup jika harus berbohong pada Jungkook dengan mengatakan alasan palsu. “Ini aku sedang diantar pulang oleh hyungku, Kookie.”


Jungkook tak habis pikir apa yang dilakukan Taehyung di rumah Jimin sampai selarut ini?


“Tae, besok ada ujian… Untuk apa kau ke rumah Jimin?”


“Ta-tadi aku mengunjungi Jiminnie…” ujar Taehyung gugup, “A-aku sampai lupa waktu, hehe. Tapi sekarang aku sudah akan sampai rumah dan akan langsung belajar, aku janji.”


Jungkook menghela nafas pelan. Ia mengacak rambutnya sendiri. Bagaimana mungkin kedua temannya malah asik-asikkan bermain padahal besok ada ujian?


“Mi-mian, Jungkookie, sejak tadi kau sudah menelepon ya? Kalau kau sudah selesai belajar dan akan tidur, tidak apa-apa, aku tetap akan begadang dan belajar, hehe.”


“Anniya, gwenchana, aku masih belum selesai belajar. Aku masih akan belajar beberapa jam lagi.”


“Yeay!” sahut Taehyung di seberang. “Nah, aku sudah sampai depan rumah. Aku akan langsung belajar kok.”


“Arra.. arra…” ucap Jungkook pelan. Ia menaruh ponselnya di atas standee dan mengaktifkan mode loud speaker, membiarkan Taehyung berbicara di seberang memberitahukan bahwa Taehyung sedang siap-siap akan mulai belajar.


🎃🎃


Jangan lupa tinggalkan jejakmu yaaa. Makasihh