Vampire In The City

Vampire In The City
Vampire Expert




Seokjin berjalan sore itu keluar dari kantornya. Jam mengajarnya sudah selesai, rasanya ingin segera pulang. Matanya selalu terasa gatal jika berlama-lama memakai lensa kontak, ingin rasanya membebaskan mata vampirenya. Seokjin bertanya-tanya, apa Taehyung sudah pulang ya, jika belum mungkin mereka bisa pulang bersama.


Seokjin mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Taehyung. Sedang mengetik seperti itu matanya tak sengaja tertuju ke lapangan berumput yang kampus ini miliki. Beberapa manusia sedang latihan memanah.


Vampire itu tidak jadi mengirim pesan pada Taehyung karena pikirannya sudah teralihkan. Ia menelan ludah saat melihat orang-orang sedang mengasah kemampuan dalam memanah busur. Seperti ada sugesti, jantungnya terasa sakit membayangkan panah itu terhujam langsung ke jantungnya. Dulu ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana vampire mati terbunuh dengan panah yang dihujamkan oleh hunter. Bisa dibilang, panah adalah hal yang membuat vampire sangat cemas.


Seokjin melihat bahwa salah satu dari orang-orang yang sedang latihan itu ada Soojung. Mata vampire Seokjin memampukannya melihat dengan jelas meski dari jarak yang cukup jauh ini.


Akhirnya Seokjin berdiri di pinggir lapangan melihat yang mereka lakukan. Soojung berdiri dengan tubuh tegak semampai, tangan kanan memegang string, tangan kiri memegang bow. Mata wanita itu dengan tajam melihat target di depannya yang berjarak 18 meter.


Seokjin menatap Soojung, sepertinya mahasiswinya itu cukup berbakat di panahan? Hal yang tidak disangka oleh Seokjin sebelumnya. Apa jangan-jangan Soojung berlatih memanah untuk bisa membidik jantung vampire?


Mata Soojung semakin fokus ke target, menarik string sampai menyentuh hidungnya, menahan beberapa saat sambil memikirkan apa posisinya sudah cukup baik. Soojung mentransferkan energi dari otot lengan ke string lalu ia pun melepas busurnya. Rambut sedikit berkibar manakala busur itu melesat cepat menuju face bidikan.


Seokjin melihatnya bagaimana busur itu mengenai target, tidak pas di center tapi masih di area gold (lingkaran lapis kedua dari tengah). Nilainya 8,5 dari skala 10, sudah sangat baik bagi wanita muda seperti Soojung.


Soojung masih berwajah datar saat melihat hasil yang ia peroleh. Coach memberi komentar bahwa Soojung sudah semakin baik. Namun Soojung bukan orang yang cepat puas. Ia membayangkan center bidikan adalah jantung vampire dan ia harus bisa mengenainya dengan tepat. Soojung pernah sesekali membidik tepat di senter tapi tidak sering.


Seokjin memasukkan dua tangan ke dalam kantong celananya, memandang Soojung yang tak banyak bicara dan kembali fokus dengan busur dan panahannya. Seokjin berpikir bahwa wanita itu punya keinginan kuat dalam memanah. Dan sepertinya Soojung cepat atau lambat bisa menjadi pemanah profesional. Kau tahu, bahwa jaman dulu para hunter biasanya menyerang vampire dengan menggunakan busur panah silver. Di jaman modern ini mereka sudah menggunakan senapan peluru silver, tapi bukan berarti panahan sudah tidak dipakai lagi.


Seokjin tahu bahwa ketertarikan Soojung pada vampire bukanlah ketertarikan dari sisi positif, malahan kebalikannya.


***


Yoongi menggigit bibir, menahan senyum di makan malam hari ini. Mood Taehyung tampaknya sangat baik. Ia makan tidak loyo atau memberenggut. Yoongi dan Namjoon bertukar pandang, menahan tawa.


“Apa harimu menyenangkan, Taetae?” tanya Namjoon.


Taehyung mengangkat wajah. Sudah 3 hari ia melalui perkuliahan dan ia cukup merasa lebih baik dibandingkan saat masih menjadi pelajar. Meski ia belum bisa terlalu akrab dengan manusia, namun setidaknya dia sudah bisa mengajak bicara salah satu teman sekelasnya.


“Kurasa kau sudah punya chingu?” tanya Yoongi. Seokjin ikut tersenyum melirik Taehyung.


“Sudah ada 1 orang…” ucap Taehyung sedikit bangga, “Kami bertukar nomor ponsel.”


“Itu keren sekali…” kata Namjoon lagi, lesung pipinya yang indah nampak.


Taehyung hanya tersenyum. Ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan teman pertamanya. Ia akan mengusahakan menjadi teman yang menyenangkan dan siap menolong.


Secara teknis Taehyung hanya mengikuti kemana Jungkook selama perkuliahan, hanya saja Jungkook tidak keberatan, meski mereka tidak banyak mengobrol. Tapi mengikuti kemanapun Jungkook pergi membuat Taehyung terhindar dari pembulian. Mungkin aura Jeon Jungkook membuat orang-orang tidak berani melakukan pembulian.


“Kau seharusnya memberikan temanmu itu mainan berhargamu, Tae…” goda Yoongi.


Mata Taehyung langsung berbinar. Ah benar juga. Dan mungkin siapa tahu melalui hal itu dia bisa juga semakin akrab dengan teman manusianya.


“Dunia perkuliahan lebih menyenangkan kan?” tanya Seokjin.


Taehyung mengangguk lugu. Dia tidak menyesal jika pindah ke Seoul dan ia harap dia bisa lama di kota ini, mendapatkan teman yang lebih banyak lagi.


Malam itu, Taehyung berkutat di kamarnya, mengeluarkan koleksi berharganya : kartu digimon. Ia menimang-nimang akan membawa yang mana besok untuk ia tunjukkan pada Jungkook. Ia berharap temannya itu bisa terkesan dan mereka bisa saling membagikan item favorit.


***


Namjoon sedang fokus menyelesaikan laporan di laptop. Jarinya dengan lincah mengetik di keyboard, dengan lancar mengetikkan kalimat-kalimah ilmiah. Baginya tugas seperti ini sih gampang. Otaknya dengan cepat bisa memikirkan kerangka ilmiah.


Namjoon terlalu asyik dengan pekerjaannya, tak sadar bahwa teman sekelasnya sejak tadi memperhatikannya. Sampai ia mendengar mahasiswa itu bergumam pelan, “Chogiyo…” (artinya permisi).


Namjoon menoleh dan memandang Hoseok yang berbicara padanya. “Ye?”


Hoseok masih memandangi Namjoon, seolah sedang menginspeksinya. Matanya menatap Namjoon dari atas sampai bawah, menatap ke hidung lalu ke dada Namjoon.


Merasa tidak enak terus diperhatikan, akhirnya Namjoon berbicara lagi, “Wae?”


Hoseok menelan ludah. “K-kau tidak bernafas?”


Seketika mata Namjoon membesar. Sial, dia lupa bernafas seperti manusia saking terlalu fokus mengerjakan tugas. Pria di sampingnya ini mungkin memperhatikan dadanya yang tidak naik turun seperti manusia pada umumnya.


Namjoon pura-pura bernafas. Ia tertawa sumbang. “Ha ha ha… tentu saja aku bernafas.” Namjoon berharap ucapannya cukup meyakinkan.


Hoseok mengernyit dan kembali memandang dada Namjoon yang kini sudah naik turun, bernafas, dan agaknya terlalu dilebih-lebihkan… karena bahunya bahkan ikut naik turun.


“O-oh…”


Namjoon tertawa, lebih sumbang. “Ha ha mana mungkin aku tidak bernafas. Aku cukup hebat bernafas dengan sangat pelan. Aku juga bisa menahan nafas dalam air cukup lama.”


“Mu-mungkin aku salah lihat.”


“Oh tentu saja kau salah lihat. Kalau aku tidak bernafas berarti aku mati? Ha ha.”


“Vampire tidak bernafas.” bisik Hoseok seolah yang ia ucapkan merupakan big secret.


Namjoon tercengang, darimana ia tahu bahwa vampire tidak bernafas? Sepertinya Hoseok mencari tahu banyak hal mengenai vampire. Namjoon harus berhati-hati terutama ketika Hoseok berada di sampingnya.


“Ah jinjja? Vampire tidak bernafas? Tapi vampire punya hidung kan?” Namjoon berusaha mengalihkan fakta itu dan mengacaukan pengetahuan yang Hoseok miliki mengenai vampire.


“Mereka pura-pura bernafas,” bisik Hoseok dengan lebih pelan. Jika telinga Namjoon bukan telinga vampire mungkin Namjoon takkan bisa mendengarnya. “Vampire pura-pura bernafas supaya tidak ketahuan ketika menyamar.”


“Oh ya? Dari mana kau tahu?”


“Aku banyak mencari tahu, jurnal internasional tentang vampire pun kubaca.”


“Kupikir semua itu belum terbukti kebenarannya?”


“Mungkin. Tapi aku sangat ingin bisa menemukan vampire.”


Namjoon menelan ludah. Sial, vampire itu sudah di hadapan Hoseok sekarang.


“Mi-mian, aku jadi mengganggumu yang sedang mengerjakan tugas. Kau bisa melanjutkannya lagi.” Hoseok pun memalingkan wajahnya dan kembali fokus ke laptopnya sendiri.


Namjoon harus ekstra hati-hati dari sekarang. Ketertarikan Hoseok pada vampire sepertinya di level cukup tinggi. Apalagi mahasiswa itu sepertinya bisa membedakan dengan baik mana fakta vampire yang sesungguhnya dan mana yang hoaks.


***


Taehyung kembali bersama Jungkook hari ini, atau secara spesifik, Taehyung mengikuti kemanapun Jungkook pergi.


Seperti saat ini mereka di kantin, sudah selesai makan siang dan menunggu mata kuliah berikutnya yang masih setengah jam lagi. Taehyung cukup puas karena ia dan Jungkook pun satu kelompok di mata kuliah sebelumnya. Di sekolah sebelumnya, Taehyung selalu murid tersisa yang tidak punya teman kelompok, karena tidak ada yang mau sekelompok dengannya. Dia dianggap aneh karena penampilan dan juga kadang cara bicaranya.


Taehyung tersenyum dan mengambil sesuatu dari tasnya. Mungkin ini saatnya untuknya berbagi koleksi favoritnya, siapa tahu Jungkook akan tertarik.


“Sebenarnya…” tutur Taehyung memulai pembicaraan. Ia menggenggam setumpuk karton digimon di tangannya.


Jungkook yang tadinya sedang melamun, menoleh ke arah Taehyung. Selama ini dia tidak keberatan Taehyung mengikutinya selama mahasiswa aneh itu tidak mengganggu atau mengusik kehidupannya, lagipula dengan hal ini Taehyung terhindari dari pembulian. Jungkook sangat tidak suka dengan sistem masyarakat superior vs masyarakat yang tidak superior. Baginya setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjalani hidup.


“Aku mengoleksi kartu digimon ini…” lanjut Taehyung dan menunjukkan kartu-kartunya, “Bagaimana menurutmu, Chingu?”


Jungkook memandang Taehyung dengan datar. Ternyata selain Taehyung berpenampilan old fashion, koleksinya pun sama. Di jaman ini sudah tidak ada mahasiswa yang masih mengumpulkan kartu digimon. Ugh. Jungkook tidak tahu bagaimana Taehyung masih bisa menyimpannya.


Taehyung menunjukkan kartu-kartunya sambil mengatakan bahwa ia sudah mengoleksinya sejak lama dan beberapa pun merupakan koleksi hyungnya yang dihibahkan pada Taehyung.


“Ini favoritku nomor dua…” ujar Taehyung sambil menunjukkan kartu War Greymon. Jungkook jadi bertanya-tanya apa Taehyung memang mempunyai kebiasaan memberi nomor urut pada apapun di sekelilingnya… Hyung 1, Hyung 2, Chingu 1 dan sekarang favorit 2.


“Aku akan memberikannya padamu.” ucap Taehyung dengan senyum lebar dan meletakkannya di depan Jungkook.


Jungkook sedikit menganga, tercengang. Dia bahkan tidak tertarik dengan digimon. Tapi orang di hadapannya memberikan salah satu koleksi terbaiknya?


“Untuk apa?” tanya Jungkook.


“Hyungku bilang ketika orang-orang betukaran koleksi atau barang favorit itu membuat semakin dekat dan ada rasa percaya.”


Lagi, Jungkook tercengang. Begitukah? Dia baru mendengarnya, namun jika dicerna ada benarnya.


Taehyung masih tersenyum, menunggu Jungkook menerima kartu itu. Jungkook melihat kartu-kartu lain yang berada di tangan Taehyung. Entah dari mana ide itu, Jungkook menunjuk kartu lain yang ada di tangan Taehyung, kartu vampire yang cukup mencolok, berbeda dengan kartu lainnya yang merupakan digimon.


“Jika kau ingin memberiku koleksimu, aku ingin kartu vampire itu.” ujar Jungkook lugas.


Mata Taehyung membola. Ia melihat apa yang ditunjuk Jungkook. Kartu vampire ini adalah favoritnya dan satu-satunya yang ia punya, edisi terbatas.


“Vampire Curse…” gumam Jungkook membaca tulisan di kartu, “Aku ingin kartu itu.”


“Ini favorit pertamaku..!!”


Well, Jungkook tak menyangkanya, tapi dia pun tidak akan mundur dari perkataannya.


“Kupikir kau ingin memberikan barang favorit–“


“Baiklah…” potong Taehyung. Ia mempoutkan bibirnya dramatis dan akhirnya dengan lambat menyodorkan kartu itu pada Jungkook.


Jungkook ingin tertawa. “Kalau kau tidak ikhlas, sebaiknya–“


“Anniya. Aku..aku ikhlas, Jeon Jungkook Chingu.”


Jungkook tertawa lirih. “Jinjja?”


Taehyung memonyongkan bibirnya. “Asal kau berjanji akan menjaga kartu itu dengan baik. Tidak boleh lecek.”


“Tidak masalah.” Jungkook mengeluarkan bindernya. Ia menyisipkan kartu itu di dalam kantong binder.


“Jangan sampai terlipat. Jangan sampai basah.”


Jungkook melipat tangan di depan dada, menatap Taehyung dengan ekspresi mengomel. “Kau serius ikhlas memberikannya atau tidak? Apa kau hanya sedang menitipkannya padaku?”


“A-anni… aku hanya memberikan saran.”


Jungkook tertawa dalam hati. “Cukup dengan obrolan mengenai kartu ini, sebaiknya kita juga harus membicarakan tugas mata kuliah Kimia Organik.”


“Uh, oh… okay…” Taehyung sedikit lesu mendengarnya. Dia tidak cukup pintar dalam jurusan ini, entah kenapa Seokjin memilihkannya jurusan kimia. Taehyung memasukkan kembali kartu digimonnya.



🎃🎃