
Hoseok menunggu agak jauh dari mini market. Sejak tadi diam-diam ia mengikuti Namjoon usai pulang kuliah. Hoseok sudah memutuskan ia pun akan mencari tahu mengenai kehidupan Namjoon. Beberapa hari ini Hoseok sadar bahwa Namjoon mengikutinya… dan mungkin sudah tahu mengenai kehidupan dan kesehariannya. Hoseok ingin melakukan hal yang sama… hanya saja tujuannya adalah karena memang ia tertarik dengan vampire. Ia tidak akan mengusik atau berusaha mengacaukan kehidupan vampire. Ia hanya ingin tahu apakah Namjoon hidup sendiri atau berkelompok dengan clannya. Hoseok sangat excited jika membayangakan Namjoon tinggal dengan vampire-vampire lain. Astaga… ia bahkan berharap ia bisa menjalin komunikasi dan hubungan pertemanan dengan para vampire.
Namjoon tampak sudah keluar dari mini market. Pria itu tiba-tiba mempercepat langkahnya dan bergegas pergi, seolah mengetahui bahwa ada orang yang sedang mengikutinya. Hoseok yang tidak ingin ketinggalan, ikut berlari berusaha tidak kehilangan jejak. Sial kalau begini… Namjoon rupanya sudah menyadari dirinya diikuti dan berniat akan kabur. Sudah sejauh ini, Hoseok tidak akan menyerah begitu saja.
Hoseok tersenyum excited. Oh ya, dia teringat kalau kemampuan lari vampire memang jauh lebih cepat dibanding manusia biasa. Fakta lainnya yang sesuai dengan diri Namjoon. Hoseok semakin excited apakah yang menjadi superpower Namjoon sebagai vampire? Apa bisa terbang? Bisa menghasilkan api? Jantung Hoseok berdebar kencang, semakin semangat dalam pengejaran ini.
Namjoon berlari menyebrangi jalan dengan cepat. Hoseok pun melakukan hal sama hingga tidak menyadari bahwa ia sedang menyebrangi jalan yang lalu lintasnya sangat ramai. Mata Hoseok terlalu fokus pada sosok Namjoon hingga ia tidak menyadari ada truk yang sedang melaju ke arahnya.
Tabrakan tidak terhindarkan. Tubuh Hoseok terhantam truk. Tubuhnya terpelanting beberapa meter ke aspal. Detik-detik mencekam itu bagaikan slow motion. Hoseok merasakan kepalanya terbentur sesuatu yang keras… tangan dan lehernya pun mengalami benturan sama kerasnya. Matanya masih terbuka beberapa saat, berusaha memahami apa yang sudah terjadi. Cairan merah segar mengucur dari kepala hingga ke kening dan hidungnya.
“Arrghh…” erangnya. Hoseok tidak dapat menggerakkan anggota badannya… dan ia merasa tubuhnya sangat lemas. Ini bagaikan mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.. Matanya pun terpejam dan ia sudah tak sadarkan diri.
Supir keluar dari dalam mobil dan menjambak rambut dengan panik melihat orang yang tak sengaja ia tabrak. “Aku sungguh tak melihatnya berlari menyebrang di jalan raya seperti tadi,” ujar supir paruh baya yang malang, “Seharusnya ia menyebrang di zebra cross bukan di tengah jalan raya.”
Namjoon yang kembali ke jalan raya saat mendengar terjadi kecelakaan dan apalagi darah Hoseok yang ia cium di udara, membuat Namjoon sangat syok. Matanya masih terbelalak. Hoseok pasti tengah mengejarnya dan menyebrang jalan raya tanpa melihat ada truk yang sedang melaju kencang. Hoseok mengalami kecelakaan tragis ketika berusaha mengejar sang vampire. Apakah dengan kejadian ini Namjoon tidak akan lagi dicurigai dan identitasnya tidak akan terbongkar oleh teman sekelasnya sendiri?
Suasana riuh ramai yang menyemut mengelilingi Hoseok seperti di-mute. Ada yang menyuruh memanggil ambulans, namun tidak ada seorang pun yang berusaha mengecek keadaan Hoseok. Namjoon tidak mendengar apapun. Telinganya fokus mendengar suara detak jantung Hoseok yang bisa ia dengar. Detak jantung itu tidak seperti manusia pada umumnya. Detak jantung Hoseok semakin melemah.
Tangan Namjoon terkepal. Di saat seperti ini apa yang harus ia lakukan? Membawa Hoseok ke rumah sakit, dokter tidak akan sanggup menyelamatkannya dengan kondisi parah yang dialami Hoseok. Manusia itu tidak akan terselematkan oleh dokter biasa, kecuali….
Shit.
Namjoon bergerak, menyeruak kerumunan. “Permisi, dia temanku. Dia temanku!!” serunya supaya ia bisa menyingkirkan orang-orang yang sedang berkerumun. Dan tanpa berpikir panjang, Namjoon mengangkat tubuh Hoseok yang bercucuran darah. Ia akan membawanya ke rumahnya.
Vampire itu bergegas membawa tubuh Hoseok yang kritis ke kediaman clan Kim. Ia berharap Seokjin sudah ada di rumah… untuk bisa menyelamatkan nyawa Hoseok yang berada di ujung tanduk ini. Namjoon tidak tahu apa yang ia lakukan ini benar atau tidak. Hanya saja, ia merasa ia harus menyelamatkan manusia ini. Karena ingin mengejarnya maka Hoseok seperti ini. Namjoon merasa ia juga ada andil salah karena sudah berlari cepat menyebrangi jalan raya.
Orang-orang heran campur ngeri melihat Namjoon berlari sambil menggendong manusia berlumuran darah. Namjoon tidak memedulikannya. Ia akan membawa Hoseok ke rumah Kim Brothers.
Yoongi yang terlebih dulu membuka pintu rumah tanpa Namjoon perlu memanggil atau memencet bel. Bau darah yang sangat kuat memenuhi udara, begitu pula dengan pergolakan emosi Namjoon yang bisa dirasakan Yoongi.
“Apa yang terjadi?” tanya Yoongi kaget melihat Namjoon berlari masuk ke rumah sambil membawa manusia yang berlumuran darah.
Taehyung yang ada di ruang tengah juga memekik saat melihat kedatangan Namjoon. Seingatnya ia meminta dibelikan es krim, bukan darah manusia, apalagi kondisinya sungguh memprihatinkan.
Namjoon membawa tubuh Hoseok ke kamar tamu, kamar terdekat yang bisa ia capai. Ia membaringkan badan Hoseok di tempat tidur. Ia bisa merasakan nafas Hoseok yang perlahan-lahan memudar.
“Dia sekarat…” ucap Yoongi yang ikut masuk ke dalam kamar. Taehyung hanya sanggup berdiri di dekat pintu, takut dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Dia adalah Hoseok..” kata Namjoon sambil dengan cepat menerima kotak obat yang dibawakan Yoongi, “Dia manusia yang pernah kukatakan yang mengetahui identitasku.”
Yoongi mengangguk pelan namun serius fokus membantu Namjoon yang membersihkan luka kepala Hoseok. “Kau tahu bahwa dengan obat seperti ini tidak akan sanggup menyelamatkannya.”
“Aku punya rencana lain. Mana Jin Hyung?”
Taehyung yang berada di pintu hanya membesarkan mata. Apa hyungnya itu berusaha ingin menyembuhkan Hoseok dengan cara khusus?
“Sayangnya dia belum pulang.” sahut Yoongi.
“Yoongi, aku harus menyelamatkannya…” ujar Namjoon, “Dia sedang berusaha mengikutiku dan aku melesat menyebrangi jalan raya. Seharusnya aku menyebrang di penyebrangan jalan.”
Yoongi memandang Namjoon dengan kening berkedut. “Kau tahu ini masalah serius. Bahkan jika ia sembuh dan sadar, ia mungkin akan membenci keputusanmu.”
Namjoon menelan ludah. “Kita tidak tahu kalau kita tidak mencobanya.”
“Namjoon, Alpha belum pulang, kau tidak bisa mengambil keputusan sendiri.”
Namjoon menoleh pada Yoongi. “Mian… aku tidak punya pilihan lain.”
Vampire itu langsung merobek pakaian yang dikenakan Hoseok. Dengan baju yang sudah terbuka, tampak semakin jelas posisi tangan Hoseok yang janggal. Selain mengalami pendarahan di kepala, Hoseok juga mengalami patah tulang di tangannya.
Yoongi tahu apa yang akan dilakukan Namjoon ini. Namjoon akan menyelamatkan Hoseok dengan cara vampire. Tapi masalahnya Namjoon saja belum pernah melakukannya… Yoongi bisa merasakan bagaimana ketegangan yang sekarang dirasakan Namjoon.
“Namjoon, kau tidak punya banyak waktu…” ujar Yoongi yang kini mendukung keputusan Namjoon, “Nafasnya sudah hampir pudar.”
Mata Namjoon berubah hijau. Mata vampirenya muncul, taring giginya pun nampak. Ia fokus mengalirkan energi vampire di dalam tubuhnya.. yang nantinya akan ia transferkan pada Hoseok yang sedang sekarat.
Taehyung sampai menutup mulut dan mata melotot saat ia melihat apa yang selanjutnya Namjoon lakukan. Hyungnya itu menggigit lengan Hoseok namun bukan untuk menghisap darah manusia itu… sebaliknya… Namjoon sedang mengeluarkan racun vampire dan memasukkannya ke dalam aliran darah Hoseok.
“Gosh…” tukas Yoongi. Jika ini gagal, Yoongi tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan.
Tubuh Hoseok seperti dikejutkan dengan sengatan listrik saat venom vampire mengalir di aliran darahnya, bergerak dengan cepat menuju jantungnya. Namjoon menggigit kembali di area yang lain, mengalirkan venom ke tubuh Hoseok.
Di luar petir tiba-tiba menyambar bersahut-sahutan, mewakili emosi Namjoon sekarang. Kekuatan Namjoon memang mengendalikan cuaca dan kondisi hatinya terkadang mempengaruhi cuaca, seperti sekarang ini. Petir yang menyambar di luar namun tanpa hujan tanpa angin, menunjukkan bagaimana tekad dan seriusnya Namjoon sekarang.
“Enough…” tukas Yoongi sambil memegang lengan Namjoon, menyuruhnya untuk berhenti, “Itu sudah cukup, Joon, kau akan membunuhnya jika terlalu lama.”
Badan Taehyung gemetar melihat kejadian itu. Namjoon… berusaha menyelamatkan nyawa Hoseok… dengan mengubah manusia itu menjadi vampire, sama seperti mereka.
Vampire memang bisa melakukannya. Ada venom dalam tubuh vampire yang jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam dosis tertentu dan mencapai jantung maka akan mengubah manusia tersebut menjadi vampire. Namun tentu saja hal ini bisa gagal, tergantung reaksi dari tubuh manusia itu sendiri. Gagal yang dimaksud berarti kematian.
“Oh God…” Yoongi menghela nafas. Ia bisa merasakan bahwa luka di kepala Hoseok berangsur pulih. Ini keajaiban sebetulnya. Namjoon yang belum pernah melakukannya, berhasil menggunakan venomnya untuk menghidupkan Hoseok kembali…mengubah Hoseok menjadi vampire.
Petir di luar pun sudah tidak terdengar lagi. Namjoon memegang tembok, seperti kelelahan. Dia tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini. Belum tentu Hoseok akan senang saat ia sadar, ia melihat dirinya merupakan vampire itu sendiri.
“Beberapa jam lagi saat ia sadar, kita harus menyiapkan darah untuknya…” ujar Yoongi, “Itu yang pertama akan dibutuhkannya.”
Namjoon tahu ucapan Yoongi itu terlalu manis. Arti sebenarnya adalah Hoseok akan haus darah manusia saat pertama kali sadar. Seperti itulah awal ketika manusia berubah menjadi vampire, akan sangat posesif pada darah manusia.
“Seokjin sudah datang…” gumam Yoongi tiba-tiba. Namjoon langsung berdiri tegak, tegang apa Alpha akan marah dengan keputusan yang dilakukannya ini.
Terdengar pintu terbuka dengan keras. Seokjin masuk dengan panik. Saat keluar dari dalam mobil, ia panik saat mencium bau darah di udara. Ia takut jangan-jangan salah satu anggota clan ada yang cedera parah.
“Taehyung? Yoongi?” panggil Seokjin memasuki rumah.
Taehyung bergegas menyambut Seokjin. “Hyung..!”
“Astaga, kau baik-baik saja?” tanya Seokjin kuatir sambil memegang bahu bayi vampire itu, “Bau darah siapa ini?”
Taehyung menarik sang Alpha untuk masuk ke kamar yang ditempati Hoseok. Mata Seokjin membesar terkejut saat melihat ada sosok lain di tempat tidur, sosok yang bukan anggota clannya. Yoongi sedang membereskan kotak P3K sementara Namjoon sedang menutup wajah dengan salah satu tangan, bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini pada sang Alpha.
“I-ini…” ucap Seokjin syok sambil berjalan mendekati tempat tidur. Ia memandang tubuh yang terbaring di sana lalu menatap Namjoon, masih ada nadi biru yang nampak di permukaan kulit Namjoon, begitu pula dengan taring dan matanya. Seokjin bisa menduga apa yang terjadi di sini.
“Kau mengubahnya menjadi vampire?”
“Hyung…” ujar Namjoon merasa bersalah, “Aku tidak punya pilihan lain. Dia sekarat.”
“Lalu apa yang mau kau lakukan saat dia bangun? Bagaimana kau akan menjelaskannya?” tukas Seokjin, “Kita bukan tabib yang sembarangan mengubah manusia menjadi vampire semau kita, Joon! Kau tahu saat dia berubah menjadi vampire dia akan menjadi anggota clan kita.”
Namjoon menelan ludah. Dia memang tidak berpikir sejauh itu saat mengambil keputusan ini. Dia hanya tidak ingin Hoseok mati sia-sia. Bagaimanapun juga dia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Hoseok.
“Dia teman sekelas Namjoon…” ujar Yoongi. Ia berusaha melunakkan suasana hati Seokjin. Bagaimanapun yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi. “Manusia ini sudah mengetahui identitas Namjoon yang merupakan vampire.”
“Mwo?” Seokjin makin syok.
“Tapi dia pecinta vampire, itu sebabnya dia bisa mengetahui identitas Namjoon.” lanjut Yoongi. Ia menutupi fakta bahwa sesungguhnya Namjoon pun ada andil membongkar identitasnya sendiri.
“Mianhe, Hyung…” ucap Namjoon, “Dia tertabrak saat berusaha mengikutiku. Ini salahku karena aku menyebrangi jalan raya… Aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja, Hyung. Itu akan membuatku merasa bersalah.”
Seokjin mendengus keras-keras. “Lalu apa yang akan dilakukannya saat tau dirinya adalah vampire? Apa kau tidak berpikir keluarganya akan syok?”
Namjoon menggigit bibir dan menggeleng. “Dia hidup seorang diri, Hyung. Dia tidak punya keluarga.”
“Mwo?” Seokjin setengah tak percaya.
“Percayalah, aku sudah mengikutinya beberapa hari kemarin dan mengetahui kesehariannya.” sahut Namjoon.
Yoongi berdecak. “Perdebatan ini tidak ada gunanya. Dia sudah berubah menjadi vampire dan beberapa jam lagi akan tersadar. Aku akan menyiapkan kantong darah untuknya.”
Yoongi keluar dari ruangan itu untuk pergi mengambil darah dari freezer. Untunglah di rumah itu masih ada persediaan darah, jika tidak entah dengan cara apa memberi minum si vampire baru itu.
“Kau bertanggung jawab menjelaskan padanya saat ia bangun nanti.” ucap Seokjin pada Namjoon.
Namjoon mengangguk. “Tentu saja.”
Taehyung berdiri di belakang Seokjin, takut-takut melihat ke arah tempat tidur. Taehyung meremas coat yang dipakai hyungnya. “Apa ini artinya aku tidak akan menjadi yang bungsu lagi di rumah ini?”
Seokjin menoleh kaget. Ia tertawa pelan dan merangkul bayi vampire itu. “Kau tetap akan menjadi bayi kami di rumah ini.”
Taehyung mempoutkan mulutnya. “Hyung!! Secara teknis dia adikku!”
Namjoon mengekeh sambil geleng-geleng. “Benar kata Jin Hyung, kau tidak akan tergantikan menjadi baby di rumah ini, Tae.”
Taehyung memonyongkan bibirnya. “Aku akan pergi membantu Yoongi Hyung saja daripada di sini.”
Seokjin tertawa lagi saat melihat Taehyung langsung pergi keluar, tak tahan karena terus digoda.
🎃🎃
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Lalu bagaimanakah saat Hoseok bangun nanti?