
Hoseok bertopang dagu di depan laptop dengan wajah sangat serius. Malam ini ia belum tidur, masih berusaha memecahkan sesuatu. Ia mengamati judul besar yang mencolok di dalam situs : DELICIOUS PASTA
Sudah sejak tadi Hoseok mencermatinya dan ia tidak bisa mengendalikan pikirannya yang melayang-layang, memikirkan makna dari setiap makanan. Entah pikirannya sedang mengada-ada atau bisa saja yang ia pikirkan ini mendekati fakta.
1. Linguine
a.k.a “little tongues”. Pasta favorit kami dengan cita rasa tinggi membuatmu seperti hidup kembali hanya dari suapan pertama. Disajikan ‘langsung’ oleh Chef terpercaya kami.
Harga : $37,500
Menu ini ‘disajikan langsung oleh Chef terpercaya’ dan jika dilihat harganya pun cukup fantastis. Apa kira-kira yang dijual di dalam menu ini? Darah vampire? Tapi darah vampire yang seperti apa? Karena sepertinya sindikat ini menjual berbagai ‘varian’ darah vampire.
2. Fettuccine
a.k.a “little ribbons”. Untuk mereka yang ingin mengolah sendiri pastanya. Kami sediakan fresh dan pelanggan bisa memilih langsung yang diinginkan. Hanya untuk member VIP.
Harga : $25,250
Hoseok merasa untuk menu kedua ini karena dikatakan bisa mengolah sendiri, mungkin diperuntukkan untuk orang-orang seperti ‘ilmuwan’, ‘dokter’ dan peneliti yang ingin bereksperimen sendiri dengan darah vampire yang dijual. Mungkin itu pula ditulis hanya untuk member VIP, sepertinya menjadi member VIP memiliki kriteria tertentu.
3. Capellini
a.k.a “little hairs”. Disediakan dengan porsi medium yang bisa dipesan secara berkala. Dapatkan potongan harga jika memesan selama setahun.
Harga : $3,000
Hoseok menggigit bibir. Menu ketiga mengingatkannya pada kejadian yang menimpa Jimin. Manusia itu harus ditransfusikan darah vampire secara berkala untuk membuatnya bisa tetap hidup dan sehat. Ibu Jimin yang merupakan mantan dokter melakukan transfusi darah vampire pada anaknya secara berkala, sebelum akhirnya perbuatan itu diketahui oleh Taehyung. Apa mungkin menu ketiga ini menjual darah vampire dengan volume medium dan bisa dipesan secara berkala untuk mereka yang punya penyakit kronis?
4. Ziti
a.k.a “little bride”. Hanya untuk kalangan sendiri dan member VVIP.
Harga : $250,575
Sementara menu keempat adalah menu termahal dan tak ada penjelasan berarti selain “little bride” artinya pengantin kecil. Setahu Hoseok, Ziti memang dikenal dengan pasta pengantin karena biasa disajikan di acara pernikahan. Tapi harganya begitu jauh dibanding yang lain, bahkan enam kali lipat dibanding harga Linguine. Sebenarnya apa yang dijual di menu Ziti?
Hoseok bertanya-tanya apa Taehyung menemukan jawaban dengan melihat situs ini. Semua tampak misterius, orang sembarangan tidak dapat mengakses lebih jauh karena dibutuhkan log in menggunakan kornea mata dan sidik jari. Di situs pun tidak disebutkan bagaimana cara menjadi anggota. Tidak ada alamat atau nomor kontak yang bisa dihubungi.
Hoseok sudah berusaha mencari tahu di komunitas online tapi belum ada yang pernah membahas hal ini. Admin pun tidak pernah menyebutkannya di grup seolah informasi ini merupakan info yang berbahaya. Hoseok cukup sulit untuk membuat admin memberitahukannya mengenai sindikat perdagangan vampire. Admin itu mengingatkan Hoseok untuk tidak perlu mencari tahu lebih lanjut mengenai sindikat ini karena sudah pernah ada yang melakukannya dan malah menghilang seolah ditelan bumi.
Hoseok menelan ludah. Apa vampire yang ditangkap di buruan besar beberapa minggu lalu akan diperjualbelikan seperti ini? Hoseok tak dapat membayangkan jika darah vampire diambil untuk diperdagangkan…hanya tinggal menunggu waktu sampai vampire itu sekarat dan mati. Ya kecuali kalau sindikat itu memberi makan vampire dengan darah manusia.
Tiba-tiba Hoseok merinding ngeri. Membayangkannya saja sudah membuatnya muak.
Dan keinginan Taehyung yang urgent untuk mengetahui sindikat ini cukup mencurigakan. Hoseok merasa itu bukan sekedar rasa penasaran Taehyung, bisa saja vampire itu ingin menghancurkan sindikat… atau… apa Taehyung ada kaitannya dengan sindikat itu?
Mata Hoseok menyipit, otaknya terkuras hebat ketika memikirkan masalah ini.
Jika Taehyung merupakan vampire mutan, apa jangan-jangan penyebab utamanya adalah sindikat ini? Bisa saja sindikat itu bukan hanya perdagangan vampire… tapi juga penelitian vampire… mengujicoba secara ilegal pada tubuh manusia untuk mengetahui khasiatnya?
Damn…
Wajah Hoseok berubah pucat. Ia tidak tahu bagaimana latar belakang kehidupan Taehyung sebelum berubah menjadi vampire. Tapi ia merasa prihatin jika memang Taehyung merupakan korban dari sindikat penjualan vampire. Pikiran Hoseok semakin melayang, membayangkan jika Taehyung yang dulunya manusia lalu secara ilegal diperlakukan sebagai kelinci percobaan yang akhirnya mengubahnya menjadi mutan vampire.
Hoseok memegang dagu, berpikir. Tapi seorang manusia hanya bisa menjadi vampire seutuhnya ketika digigitkan venom vampire bukan, sama seperti yang terjadi pada dirinya ketika Namjoon menggigitkan venom ke tubuhnya. Kalau seperti itu, berarti ada vampire lain yang telah menggigit Taehyung, vampire Master yang mentransferkan venom tersebut ke dalam tubuh Taehyung.
Sedang berpikir seperti itu, Hoseok kaget saat ponsel di atas meja bergetar. Ada pesan masuk. Ia mengernyit dan melihat pesan masuk dari Taehyung, tepat sekali sedang ia pikirkan.
Bisakah kau mencarikan nama club di Korea Selatan yang biasa didatangi vampire? Atau club yang dicurigai pernah menjadi tempat vampire menggigit manusia.
Hoseok mengernyit membacanya. Lagi-lagi Taehyung meminta bantuannya. Belum Hoseok mengetik, Taehyung kembali mengirimkan pesan kedua yang berbunyi :
Di luar Seoul pun tak masalah.
Hoseok mengingat nama club yang pernah disebutkan di komunitas online ketika admin menceritakan kisah nyata yang terjadi yang berhubungan dengan vampire. Hoseok tak dapat melupakannya karena sebetulnya tempat itu merupakan tempat terkenal dan besar di kota Seoul. Orang-orang di komunitas online pun berkomentar bahwa mereka tak menyangka bahwa vampire mendatangi tempat populer seperti itu.
Hoseok mengetikkan pesan :
Moon Gate, lalu Black Dragon. Dua club itu pernah kudengar di komunitas online. Dan keduanya di Seoul.
Balasan Taehyung itu datang beberapa detik kemudian, begitu penasarannya vampire itu.
Black Dragon?
Hoseok menaikkan sebelah alis. Black Dragon memang club populer di Seoul, cukup berkelas, banyak orang-orang kaya kelas atas yang bersenang-senang di sana.
Black Dragon salah satu club terkenal dan berkelas. Ngomong-ngomong untuk apa kau menanyakan club malam?
Sekitar semenit kemudian Taehyung membalas :
Ingin bersenang-senang :D Mau ikut?
Hoseok memutar bola mata, itu adalah jawaban yang sama ketika ia memergoki Taehyung menghisap cerutu. Dengan lincah, Hoseok mengetikkan pesan balasan pada Taehyung:
Alpha tak akan mengijinkan kau pergi.
Hoseok yakin sekali. Seokjin tidak akan begitu saja percaya bahwa Taehyung datang ke club itu untuk bersenang-senang. Pasti ada agenda tertentu yang sedang ia rencanakan bukan?
Lama Hoseok menunggu pesan balasan tapi Taehyung tak kunjung membalasnya. Aishh…
Sebelum berubah menjadi vampire dia sudah mendedikasikan dirinya sebagai penggemar vampire, berada di kubu vampire. Ia bahkan geram saat pertama membaca mengenai eksploitasi vampire. Dan sekarang karena dia pun sudah menjadi vampire… Hoseok akan tetap mendedikasikan dirinya. Ia pun bertekad untuk menghancurkan sindikat penjualan vampire.
****
Sore itu Jimin mengajak Taehyung mengobrol di kafe. Jimin ingin merilekskan diri dari kepadatan kuliah. Kebetulan Taehyung juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajak Jimin ke club, dengan demikian ia bisa beralasan pada Hyungnya bahwa ia menginap di rumah Jimin.
“Bagaimana perkuliahanmu, Tae?” tanya Jimin sambil menyeruput sodanya.
“Easy.” sahut Taehyung pendek.
“Ulala… Aku memang mendengar dari Jungkook bahwa kau berubah menjadi mahasiswa jenius.”
Taehyung memutar bola mata, entah apa yang diceritakan Jungkook pada Jimin. Apa keduanya selalu membicarakannya seperti itu?
“For your information, aku memang jenius.”
Jimin mengekeh. “Pasti menyenangkan menjadi jenius. Segala sesuatu tampak mudah.”
Taehyung hanya tersenyum tipis. Benar, mudah, tapi orang lain yang tidak memiliki cara pandang yang sama dengannya membuat hidupnya lebih sulit.
“Dengan otak jenius kau bisa jadi apa saja, Tae.”
Taehyung mendengus. Dia bisa menjadi apa saja kecuali kembali menjadi manusia. Dia jauh kurang beruntung dibandingkan Jimin. Menjadi vampire membuat orang-orang bersikap takut padanya, menganggapnya monster, mengganggap ia adalah mesin penghisap darah saja.
Taehyung merasakan aroma familiar di udara. Ia tahu pemilik aroma ini. Taehyung memicingkan mata pada Jimin yang duduk di depannya.
Jimin hanya pura-pura tak menyadari mata laser Taehyung itu, ia mengangkat tangannya dan menyapa seseorang yang berjalan mendekati meja mereka. “Oi, Kook~!”
Jungkook mengangkat tangan balas menyapa. Ia mengambil duduk di sebelah Taehyung yang kosong dan hati Taehyung langsung dongkol. Kesialan apa lagi yang harus ia hadapi? Tidak cukupkah dengan pertengkaran mereka kemarin?
Jimin tersenyum getir melihat Taehyung hanya menatap meja dan menyedot milkshake dan tak menyapa Jungkook. Mau tak mau Jimin harus menjelaskan sebelum Taehyung menganggap dirinya sudah dijebak. “Aku lupa tadi mengatakan padamu kalau aku pun mengajak Jungkook kesini.”
“Aku terlambat karena tadi harus mengembalikan buku ke perpustakaan,” ujar Jungkook.
Jimin memberi senyum lebar, ia berharap suasana sore ini tidak akan memburuk. “Ayo pesan minuman dulu, Kook.”
Jungkook mengangguk. Ia mengerling pada Taehyung yang di sebelahnya sedang menyedot milkshake strawberry dengan ekstra susu. Jungkook agak tercengang karena Taehyung yang dulu pun selalu memesan milkshake strawberry. Jungkook mengamati wajah Taehyung, apa jangan-jangan Taehyung yang innocent sudah kembali? Tapi kalau diamati sepertinya tidak. Karena Taehyung yang sekarang masih menggunakan headband, wajah ketus dan aura yang dingin.
Taehyung menoleh pada Jungkook dengan jengkel. “Wae?”
Jungkook hanya mengangkat bahu dan kembali memandang Jimin. “Aku mau pesan milkshake banana.”
“Oke.” Jimin mengangkat tangan ke arah pelayan untuk memesan.
Taehyung mendengus pelan. “Milkshake banana. Sama sekali tidak berubah.”
Jungkook mendengar ucapan vampire itu dan dirinya kembali heran. Ucapan Taehyung itu seolah sudah mengenal Jungkook karena memang Jungkook menyukai rasa pisang. Tapi ia tak menyangka kalau kepribadian evil ini pun mengatakannya.
Jimin meringis dan menatap Taehyung memohon. Please dia tidak mau ada keributan di sini. Jimin tahu betul bagaimana atmosfer keduanya yang tidak pernah baik, selalu tolak menolak.
“Yep.” Hanya itu jawaban Jungkook. Singkat dan tenang, tidak terpancing dengan ucapan nista Kim Taehyung.
Sebisa mungkin Jungkook berusaha untuk tidak menimbulkan pertengkaran, setidaknya tidak di hadapan Jimin. Dia tidak mau diceramahi oleh Jimin berjam-jam dengan segala bentuk nasihat, motivasi ataupun himbauan.
Jimin bersyukur karena sepertinya Jungkook jauh lebih tenang dan memilih untuk tidak memicu api. Jimin memberi senyum. “Aku sudah dengar dari Seokjin Hyung kalau sedang dibuat tempat latihan dan gym di basement rumahmu, Tae. Seokjin Hyung mengajakku dan Jungkook untuk sering datang nanti.”
Taehyung tersenyum tipis. “Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.”
“Aku pun akan sering datang,” sahut Jungkook seolah tidak mendengarkanucapan Taehyung. “Lumayan juga untukku yang senang ke gym.”
“Yeay!”ucap Jimin gembira, “Nanti kau pun akan semakin mengenal hyung lain di rumah itu. Semuanya baik dan care. Tae, nanti kau harus mengajari kami ya.”
Taehyung baru akan menjawab namun Jungkook langsung memotong. “Tak mungkin. Harusnya kau memintaku, Chim. Aku lebih jago olahraga di antara kita bertiga.”
Taehyung mendelik sebal. Apa Jungkook sedang memancing kemarahannya?
“Excuse me? Kau cukup percaya diri ya, Tuan Sombong Olahraga.”
Jungkook ingin tertawa mendengar makian itu. “Jika kita berada di arena tinju satu lawan satu, kau sudah langsung KO kubuat, Kim-Evil-Taehyung.”
Taehyung mengeraskan rahang. “Kau terlalu membual, kau tahu itu, Jeon-Tukang Bohong-Jungkook.”
Wajah Jimin semakin meringis, dia merasa sedang melihat perdebatan sengit, berasa World War 2.
Jungkook mendengus dengan tertawa, “Tentu saja kau tidak boleh menggunakan kekuatan vampiremu. Lakukan dengan kekuatan sendiri, dan kupastikan kau KO.”
“Oh yeah?” tukas Taehyung membuang muka. Sebal sekali karena berbagai intrik yang Jungkook lakukan. Ya memang setidaknya Jungkook tidak membahas mengenai kepribadian lagi tapi tetap sepertinya mereka berdua tidak akan pernah akur.
“Oh yeah.” ucap Jungkook.
“Guys…” gumam Jimin sambil mengangkat kedua tangan, seolah wasit yang minta pertandingan untuk dihentikan. “Bagaimana kalau kita bahas yang lain? Game! Kita bahas game yuk.”
Taehyung hanya memutar bola mata sementara Jungkook memberi anggukan saja. Untungnya pelayan datang membawa minuman pesanan Jungkook. Untuk sesaat perdebatan itu terhenti.
Untuk sesaat. ^^;;;;
🎃🎃
Jangan lupa berikan like dan comment..